Posts Tagged ‘TV Series’

Sumber: Wikipedia

Sebenernya saya sudah lama banget ingin menulis tulisan tentang Game of Thrones ini. Saya rasa ini sudah jadi hal lumrah bagi para para penggemar Game of Thrones yang hobi ngeblog. Tiap blogger fans GoT pasti punya salah satu postingan blognya tentang Game of Thrones. Sudah harap dimaklum.

Berhubung semakin mendekati season terakhir jadi saya tergoda kembali untuk membahas serial TV paling paripurna ini. Sebelumnya saya emang suka banget sama serial luar kaya gini sejak masih kecil. Saat SD saya suka nonton, Conan, Hercules sama Xena. Beranjak SMP saya mulai demen banget serial Lost, True Calling dan Sex and The City ( Gile masih SMP tontonannya Sex and The City! Haha). Saat SMA saya suka banget nonton Heroes, Angel, Glee sama Gossip Girl (Ehmm… gak apa-apa dong laki suka Gossip Girl, habis gaya penceritaannya lumayan unik buat saya di waktu itu hehe). Setelah gede saya sempet suka Spartacus, tapi ceritanya makin geje dan mulai ngebosenin.  Saya pertama kali nonton Game of Thrones baru tahun 2015 lalu. Padahal serial ini sudah tayang dari tahun 2011 lho! Kudet ya gue hehe. Jadi boleh dibilang saya ini masih newbie. Saya maraton nonton serial ini dari season 1-5 hingga membuat saya ketagihan sampe akhirnya terjebak di season 6. Dan harus saya akui, gak pernah ada serial TV sebelumnya yang bikin saya bener-bener excited tingkat dewa Neptunus selain Game of Thrones. Nagih terus bos!

Game of Thrones adalah sebuah serial TV kreasi om David Benioff dan om D. B. Weiss yang diangkat dari novel seri A Song of Ice and Fire karya eyang George R. R. Martin. Berlatarbelakang abad pertengahan dengan setting dunia fantasi di benua fiksi Westeros dan Essos. Sama seperti judulnya, inti cerita Game of Thrones itu adalah tentang perebutan tahta kekuasaan di sebuah kerajaan yang bernama Seven Kingdoms. Perebutan kekuasaan? Sesederhana itukah? Tentu saja tidak.

Serial ini begitu populer dan berhasil memikat jutaan pemirsa di seluruh dunia termasuk saya yang sudah overdosis dengan sinetron yang selalu ditonton emak-babeh saya. Come on Mak, Tukang Bubur is dead but Jon Snow is alive!

Penggemar Game of Thrones memiliki komunitas tersendiri yang tersebar di seantero planet bumi. Salah satu ciri fans GoT fanatik adalah super ngeselin. Soalnya kalo lagi ngebahas GoT, postingan GoT akan langsung memenuhi akun social media fans tersebut yang terkadang bikin kesel temennya yang lain. Dan inilah salah satu alasan saya menulis artikel ini. Ya itung-itung sebagai bentuk klarifikasi dan penjelasan untuk teman-teman saya yang sering merasa terganggu akibat postingan saya tentang GoT yang bejibun di media sosial hehe. 

Why do I fucking love Game of Thrones? Kenapa saya suka Game of Thrones? Kayanya tiap fans GoT bakal kebingungan kalau ditanya begitu, bingung mau ngejelasinnya gimana karena takut dibilang terlalu lebay atau berlebihan sehingga terkadang perlu tulisan panjang seperti yang saya tulis ini. Lebay? Yup. Mungkin sih, tapi enggak juga. Habis Game of Thrones itu rumit untuk dijelasinnya. Serumit kenapa jutaan manusia masih suka stalking Instagram mantan padahal tahu kalau hal itu rasanya sungguh nyesek dan menyakitkan. Please Men, don’t be motherfuckin alay! Ok, maaf gak perlu dipikirin hehe. So kenapa saya suka Game of Thrones? Berikut telah saya simpulkan beberapa alasannya;


1. Jalan cerita yang kompleks

Sumber: Google

Ketika kamu ngomongin cerita Game of Thrones, maka kamu akan cukup bingung karena Game of Thrones terdiri dari beberapa cerita yang mungkin terkesan gak nyambung satu sama lain. Kisah perebutan kekuasaan dikemas sedemikian ngejelimet tapi elegan. Tiap cerita berlatar tempat yang berbeda. Ada cerita tentang intrik internal kerajaan di ibukota, King’s Landing, ada tentang perjuangan pasukan Night’s Watch menjaga tembok perbatasan di utara yang dingin, ada tentang perjalanan seorang ratu outlander dengan naga-naga dan pasukan barbarnya di bagian benua timur, dan masih banyak sub cerita lainnya yang mungkin terkesan gak nyambung tapi lama kelamaan benang merah cerita-cerita tersebut akan muncul seiring berjalannya waktu.
Game of Thrones bukan hanya sekedar kisah perebutan tahta di abad pertengahan. Game of Thrones penuh dengan unsur politik, moralitas, darah, perang, kekerasan, konflik fanatisme agama, filosofi, legenda mistik dan sihir, skandal, seks dan masih banyak lagi. Rasanya cukup bisa mewakili semua aspek kehidupan.

Emang lumayan rumit sih, tapi justru itu asyiknya. Sang kreator selalu sukses menyajikan cerita yang unpredictable dan gak tanggung-tanggung. Di season pertama aja, sang tokoh utama malah dipenggal boss! (spoiler!), terus beberapa jagoan yang kita elu-elukan malah dibantai gitu aja tanpa ampun. Mau yang jahat mau yang baik, semua bisa mati kapan saja. Di Game of Thrones menyadarkan kita kalau yang baik itu gak selalu menang. Terkadang kita harus nerima kalau yang jahat justru yang berhasil memenangkan pertarungan. Ngehe sih, tapi justru itulah kerennya game of thrones. Siap-siap sakit hati aja ya! Cerita khas sinetron “Anak Jalanan Naik Haji Balik Lagi Naik Moge Buatan Italy” sama sekali gak berlaku di GoT!

2. Karakter yang beragam dan manusiawi

Sumber: Google

Saat pertama nonton serial ini, kita bakalan dibingungan sama karakter yang buju busyet banyak banget bos! Apalagi dengan nama-nama karakternya yang mungkin masih asing di telinga. Di Game of Thrones gak ada yang namanya tokoh utama. Cukup membingungkan memang. Tiap karakter seperti punya cerita tersendiri. Salah satu yang saya sukai dari tokoh serial ini adalah para karakternya yang manusiawi, baik itu protagonis atau antagonis semua punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Seperti tokoh Tyrion Lannister yang mungkin secara moral bejad banget ternyata punya skill politik yang luar biasa. Jon Snow mungkin sosok leader berjiwa ksatria yang menjadi panutan, tapi terkadang dia ceroboh dan kurang berhati-hati dalam membuat keputusan sehingga sering kali ia sendiri yang malah dirugikan. Daenarys Targaryen yang mungkin dikenal sebagai ratu yang adil ternyata punya sifat yang sedikit temperamen. Atau mungkin si ratu licik Cersei Lannister yang dibalik segala sikap licik manipulatifnya ternyata hanyalah seorang ibu yang selalu berusaha melindungi anak-anaknya.

Ada juga karakter rumit macam Petyr Baelish dan Varys, dua orang cerdas yang mungkin paling manipulatif dalam dunia perpolitikan Game of Thrones dikarenakan sikap mereka yang terkesan netral ambigu tapi punya motif masing-masing yang misterius. 

Selain itu, salah satu hal keren lainnya dalam Game of Thrones adalah pengembangan karakternya yang ciamik. Tiap karakter berevolusi secara perlahan. Seperti tokoh Jaime Lannister yang dulunya adalah ksatria arogan tapi setelah melewati berbagai fase hidupnya perlahan menjadi orang yang lebih baik, Theon Greyjoy yang dulu tengil dan culas tapi setelah melewati berbagai peristiwa dan penyiksaan yang panjang berubah menjadi lebih dewasa meski masih dihantui oleh trauma penyiksaan psychotic yang dideritanya, atau ada pula Sansa Stark yang dulunya hanya seorang gadis manja nan naif mirip puteri-puteri Disney, perlahan berubah jadi wanita tangguh dan mulai lihai bersiasat, dan masih banyak lagi karakter lainnya yang berkembang secara elegan tapi manusiawi. Gak kaya sinetron indonesia dimana tokoh utama digambarkan sempurna luar biasa, cantik/ganteng, sholeh/sholeha dan berhati malaikat sedangkan tokoh jahat digambarkan jahat sejahat-jahatnya tapi gak masuk akal.

Emang ada tokoh-tokoh Game of Thrones yang jahatnya kebangetan. Kaya King Joffrey Baratheon yang egois, narsistik dan kejam abis atau Ramsay Bolton yang psycho tapi jenius dan manipulatif. Tapi semua tokoh jahat itu lebih kepada gangguan kejiwaan dan tidak terjadi begitu saja, semua ada penyebabnya. Joffrey yang dimanja sejak kecil oleh ibunya sehingga tumbuh jadi raja yang zholim, sedangkan Ramsay seorang anak haram yang tumbuh atas didikan keras ayahnya yang seorang panglima perang yang kejam. Tiap orang bisa jadi baik atau jahat tergantung dari pengaruh orang-orang di sekitar mereka. That’s logic! And I will never forget you, Hodor!

3. Relevan dengan kehidupan zaman sekarang

Meski bertema fantasi dan bersetting abad pertengahan, cerita GoT penuh dengan kritikan dan sindiran yang relevan dengan kehidupan sekarang. Game of Thrones hidup dalam ranah ambigu moralitas seperti apa yang kita alami saat ini. Tiap orang penuh dengan kebohongan dan kepalsuan demi sebuah pencitraan. Banyak hal yang disindir serial ini tentang dunia kita sekarang.

Intrik politik kerajaaan bisa merefleksikan kehidupan politik kita di zaman yang sudah serba instan. Tiap house & klan ibarat partai politik yang saling bersekutu atau berkhianat demi kepentingan masing-masing dalam suatu koalisi pemerintahan. Kesenjangan status sosial antara orang kaya dan miskin. Konflik pemerintah dengan doktrinasi lembaga agama. Realita manusia dengan berbagai ketabuan seksualitas, seperti homoseksualitas, biseksualitas dan praktik incest. Skeptisme tentang keadilan dan kebijaksanaan yang semu. Kehampaan arti pernikahan dan kehidupan berkeluarga di tengah dunia yang penuh konspirasi dan materialisme (ehmm… berat bos).

Game of Thrones sukses menyajikan kisah kompleksitas tingkah polah manusia dari berbagai sudut pandang. Dan sampai sekarang, baru serial ini saja yang kompleksitasnya bener-benar kebangetan. Rasanya serial lain sulit nyaingin deh!

4. Dialog yang cerdas tapi apa adanya

Kata-kata kasar dan vulgar sudah menjadi sajian normal Game of Thrones. Meski begitu kita juga sering dihibur oleh dialog sarkatis dan humor cerdas yang menjadi daya tarik tersendiri. Terpujilah Tyrion Lannister dengan mulut sarkatisnya yang sering mengeluarkan kutipan satir yang elegan nan badass. Ada juga si nenek cerewet Lady Olenna Tyrell yang kata-katanya pedes banget sepedes cabe rawit 5 kilo. Jangan lupakan pula si bengis The Hound yang selalu straight to the point dengan ungkapan kasarnya. Fuck the king! Meski kadang2 suka aneh sendiri ngedenger Neng Dany ngomong bahasa Dothraki dan High Valyrian yang menurut saya kaya nonton cewek cantik ngomong bahasa Thailand.

Dialog dalam GoT emang selalu menarik untuk disimak. Kalo menurut saya sendiri lebih afdol kalo pake subtitel bahasa Inggris, lebih berasa aja “feel” -nya. Meski sepertinya bukan saran yang kurang bagus untuk yang lagi belajar bahasa Inggris, habis vulgar banget boss! Haha..

5. Visualisasi yang super keren

Sumber: Google

Salah satu point plus Game of Thrones adalah selalu menyajikan visualisasi yang mumpuni. Naga-naga, zombie, dan pertempuran dengan special effect yang gak bisa dipandang sebelah mata. Detail yang disajikan juga gak tanggung-tanggung, seperti detail kostum dan akaesoris yang dipakai karakternya. Tiap House punya patern sendiri di tiap pakaian yang dipakainya.

Kadang di beberapa episode berasa kaya nonton film blockbuster Hollywood berbudget ratusan juta dollar. Coba nonton aja episode “Hardhome” di season 5 atau “Battle of The Bastards” di season 6. Keren banget boss! Adegan perangnya bener gila dan bahkan kadang terlalu sadis karena gak segan-segan nampilin kebrutalan dengan penuh darah tanpa sensor. Mungkin KPI cuma bisa geleng-geleng kepala menyaksikan serial ini. Mustahil bisa lulus sensor haha.

Kayanya sulit nyari serial TV sejenis yang berani jor-joran kaya GoT. Terpujilah HBO yang mau memvisualisasikan kemegahan serial ini untuk kita. Tambang uang juga sih buat HBO!

6. Musik yang super epik

Theme song Game of Thrones mungkin jadi salah satu hal yang memorable dalam sejarah dunia pertelevisian. Semua fans GoT pasti mengamininya. Hayo ngaku siapa yang suka gak sadar humming opening theme song GoT? Salah satunya saya.

Ramin Djawadi emang jadi pilihan yang tepat dalam menangani musikalitas Game of Thrones. Tiap musik latar GoT selalu memberi nuansa tersendiri di hati penggemarnya. Coba dengerin aja “Light of The Seven” yang super epic atau “The Rains of Castamere” yang selalu bikin gregetan karena keinget tragedi The Red Wedding.

Bahkan karena saking tingginya antusiasme terhadap musik Game of Thrones, sang komposer pun sempet ngadain tur konser di beberapa kota di Amerika Utara. Untuk kelas TV series, rasanya cuma musik Game of Thrones yang bisa begini.

7. Theories and spoilers are everywhere!

Cerita Game of Thrones selalu menjadi bahan perbincangan yang asyik di kalangan penggemarnya, entah itu bagi yang sudah baca bukunya atau enggak. Berbagai forum internet selalu dijadikan media diskusi tentang apa saja yang bakal terjadi di serial ini. Semua punya teori masing-masing yang kadang jadi bikin perdebatan. Tapi justru itulah serunya bro! Suka senyum sendiri kalo para fans lagi serius ngomongin teori-teori dan konspirasi di Game of Thrones, berasa kaya ngomongin konflik politik Timur Tengah yang musingin dan gak abis-abis. Kok serial TV sampe gini-gini amat ya? Haha.

Beberapa fan-site yang wajib diikuti penggemar serial ini diantaranya  watchersonthewall.com dan winteriscoming.net  Semua hal tentang Game of Thrones dibahas lengkap di situs-situs ini. Siap-siap aja kena godaan spoiller. 

8. Ehmm.. sex dan nudity-nya berlimpah!

Untuk kaum adam, ini bisa jadi point pertama hehe. Kayanya cuma sedikit episode Game of Thrones yang gak nayangin adegan seks dan ketelanjangan. Adegan telanjang dalam GoT bukan cuma fan-service doang, adegan telanjang dalam GoT bener-bener 100% telanjang. Ada suatu ungkapan kalo GoT itu seperti campuran antara game online RPG, film porno, The Lord of The Rings, serial House of Cards-nya Netflix, Saw dan The Walking Dead series. Semuanya ada! Dan GoT sepertinya gak malu buat nayangin adegan seks apa adanya.

Adegan seks orgy dan ketelanjangan para pelacur Petyr Baelish yang sering nongol memamerkan kemolekan tubuh mereka sudah jadi hal biasa. Beberapa bintang porno beneran bahkan pernah mampir jadi beberapa pemain pendukung demi dapet totalitas cerita. Tapi adegan telanjang paling favorit kalo menurut saya sejauh ini ada 3. Pertama pas Neng Dany keluar dari api dengan naga-naganya di season 1, Walk of Shame-nya Queen Cersei di season 5 dan adegan Tante Melissandre nunjukin wujud aslinya di Season 6. So epic and sexy as fuck!

Itulah beberapa alasan kenapa saya tergila-gila Game of Thrones sehingga saya tak bosan-bosannya menyebarkan virus GoT ini ke teman-teman saya yang lain. Mungkin belum bisa mewakili semuanya sih tapi minimal bisa jadi sedikit gambaran. Sayang sekali serial ini cuma menyisakan 1 musim lagi di musim ke-8. Entah apa jadinya bila dunia tanpa Game of Thrones? Hiks.. (lebay…). Tapi bagaimana pun juga Game of Thrones akan selalu menjadi serial TV terbaik sepanjang masa yang tak akan pernah bisa tergantikan di hati para penggemarnya.

When you play game of Thrones, you win or die.

Valar morghulis.

Valar dohaeris 


Sumber: IMDB


Pernahkah diantara kamu yang pernah kepikiran buat bunuh diri?

Pertanyaan yang cukup ekstrim memang. Tunggu dulu bentar bro, kok ini tiba-tiba malah ngomongin bunuh diri ya? Hehe maaf. Semua ini gara-gara saya habis nonton serial TV yang lagi happening beberapa belakangan ini. Yup, 13 Reasons Why! Awalnya saya gak terlalu tertarik dengan serial ini. Saya pikir saya ini terlalu tua buat nonton serial remaja kayak gini. Tapi berkat pemberitaan tentang serial ini di sosmed serta atas dasar rekomendasi teman-teman di forum Fans-Game of Thrones, saya akhirnya tertarik buat nonton serial ini. Ya, itung-itung sebagai selingan sambil nunggu Game of Thrones season 7 yang bakal tayang pertengahan Juli 2017 nanti. Selain karena beberapa hal yang telah saya sebutkan tadi, sebenarnya subject yang menjadi inti cerita serial 13 Reasons Why ini cukup membuat saya tertarik, meski mengundang kontroversi, yakni fenomena bunuh diri di kalangan remaja. Tema yang cukup suram untuk ukuran serial TV remaja memang.

Serial 13 Reasons Why diangkat dari sebuah buku best seller berjudul sama karya Jay Asher (sayangnya saya belum baca versi bukunya hmm..), menceritakan tentang seorang gadis SMA bernama Hannah Baker yang memutuskan untuk mengakhiri nyawanya sendiri. Setelah melakukan bunuh diri, neng Hannah ini meninggalkan “warisan” berupa 7 buah kaset berisi 13 rekaman alasan mengapa ia melakukan bunuh diri. Kaset tersebut disebarkan secara estafet kepada beberapa temannya yang namanya ia sebut dalam rekaman, yang ia anggap sebagai “penyebab” ia melakukan bunuh diri. 

Tersebutlah Clay Jensen, salah seorang teman Hannah yang juga menerima rekaman kaset tersebut. Berbeda dengan beberapa temannya yang tidak terlalu serius menanggapi kaset-kaset tersebut,  Clay yang emang belum move on suka sama Hannah ini malah secara tak sadar mendengarkan kaset-kaset itu terlalu sentimentil. Dari sosok Clay Jensen inilah misteri kehidupan Hannah sebelum mengakhiri nyawanya akan terungkap satu per satu mulai dari intimidasi, cyber-bullying, intrik pergaulan remaja, body shaming, stalking, sampai pelecehan seksual dan pemerkosaan. Di lain pihak, orangtua Hannah tetap bersikukuh membawa kasus bunuh diri puterinya melalui jalur hukum sehingga menimbulkan konflik dengan pihak sekolah.

Untuk ukuran serial remaja, mungkin tema 13 Reasons Why memang cukup kelam dan berat. Di serial ini akan ditampilkan secara eksplisit detik-detik bagaimana seorang Hannah Baker mengakhiri hidupnya dengan silet yang menyayat kedua lengannya (spoiler alert!). Menurut saya, scene ini sangat WTF banget!! Selain itu, adegan pemerkosaan dalam serial ini juga cukup disturbing untuk ukuran young adults. Ini serial remaja lho bro! Hadeuuhh… tapi karena adegan-adegan WTF itulah, Netflix terpaksa memberi rating 18+ untuk serial ini. Wajar memang.

Sumber: IMDB

Sejak tayang akhir Maret lalu, serial yang juga diproduseri neng Selena Gomez ini langsung jadi bahan pembicaraan dimana-mana. Banyak yang memuji serial ini sebagai suatu bentuk awareness bunuh diri di kalangan remaja, tapi banyak juga yang mengkritisi karena ditakutkan bakal menjadi suatu model glorifikasi bunuh diri di kalangan anak muda. Serial ini pun kini semakin disorot ketika sebuah permainan online yang bernama Blue Whale Challenge menyeruak karena dikabarkan sama-sama mendorong pemainnya untuk bunuh diri. Dikabarkan banyak pemain game tersebut yang bunuh diri karena terinspirasi serial 13 Reasons Why. Meski memang sampai sekarang berita ini belum dikonfirmasi.

Bunuh diri memang masih menjadi obrolan tabu di masyarakat. Bukan cuma di negeri kita, tapi juga di negara-negara lain kayak di US dan Europe sono yang notabenenya lebih liberal. Meski begitu, bunuh diri juga telah menjadi suatu budaya di beberapa negara seperti di Jepang dan Korea Selatan. Sebagian kalangan berpendapat bahwa mengakhiri nyawa sendiri adalah hak pribadi. Maka gak salah kalau di Eropa sana, tepatnya di Swiss muncul sebuah klinik yang bernama klinik Dignitas yang menawarkan bantuan untuk mengakhiri nyawa secara legal bagi orang-orang yang sudah putus asa dalam hidupnya. Sangat gila memang! Well, tapi presepsi tiap orang toh pasti beda-beda. Bagi orang religius, jelas bunuh diri itu dilarang oleh agama. Sedangkan sebagian lagi menganggap bunuh diri sebagai suatu tindakan yang egois. Dan terlepas dari semua itu, kita pasti setuju kalau bunuh diri itu adalah suatu tindakan yang salah.

Saya teringat dengan salah satu scene di 13 Reasons Why di episode terakhir sesaat setelah Hannah mengakhiri nyawanya (Spoiler alert lagi ya..). Reaksi orangtua Hannah, terutama ibunya begitu melihat anaknya sudah tak bernyawa menurut saya sangat heartbreaking sekaleee! Sesungguhnya yang paling menderita itu adalah orang-orang terdekat yang ditinggalkan. Jadi, benarkah bila bunuh diri itu termasuk tindakan egois? Saya kira, kita jangan dulu buru-buru mengambil kesimpulan. Orang-orang yang menyayangi kamu akan menderita, ya itu pasti. Malah tak menutup kemungkinan kalau orang-orang yang menyayangi kamu tersebut juga akan masuk ke dalam kubangan defresif berkepanjangan yang juga bahkan dapat mengarah kepada tindakan bunuh diri berikutnya bila ia juga punya kecenderungan depresi. Meski begitu, saya juga ingin menggarisbawahi tentang sikap masyarakat terhadap “korban atau pelaku bunuh” diri ini. Saya sungguh menyayangkan tentang judgement masyarakat kita tentang korban bunuh diri ini. Mereka mengganggap korban bunuh diri ini sebagai seseorang yang telah dilaknat. Oke, mungkin dari sisi religi bisa dibenarkan. Tapi menurut saya ini kurang tepat. Mungkin tindakan mereka untuk bunuh diri memang salah. Tapi menghakimi individu yang melakukan bunuh diri tersebut tidaklah tepat. Seharusnya korban pelaku bunuh diri bisa dijadikan sebagai bentuk awareness bagi kita kalau masih banyak orang yang membutuhkan pertolongan. Faktor bunuh diri memang macam-macam, mulai dari faktor ekonomi, tekanan sosial, psikologis atau kejiwaan. Faktor psikologis dan kejiwaan memang banyak menyumbang peranan yang cukup besar dalam perilaku bunuh diri.

Tiap orang menanggapi suatu masalah secara berbeda. Mungkin suatu masalah bisa dianggap kecil oleh seorang individu tapi bagi individu lain bisa saja masalah itu berdampak besar. Seperti yang pernah neng Hannah Baker katakan dalam episode pertama 13 Reasons Why, “masalah besar dan kecil itu sama pentingnya”. Kondisi kesehatan mental seseorang yang melalukan bunuh diri harus diperhitungkan sebelum kamu menghakimi tindakannya. Bagi seseorang yang mengalami gangguan mental seperti depresi, tentu itu bukanlah hal yang sepele untuk diatasi. Jadi kita tidak bisa menilai tindakan bunuh diri sebagai bentuk keegoisan semata.

Apalagi jika ditambah dengan faktor-faktor lain seperti ekonomi, sosial, lingkungan dan sebagainya, kecenderungan seseorang yang depresi untuk melakukan bunuh diri akan semakin besar karena depresi sendiri bukanlah rasa sedih biasa.

Menurut Dean Burnett, seorang pakar neurologi dari Cardiff University menyatakan, tidaklah tepat membandingkan pengalaman seseorang yang menderita depresi karena gangguan mental dengan orang mengalami kesedihan lalu bisa melaluinya (Kompas.com, September 2014). “Jika Anda tak memiliki gangguan jiwa, maka Anda tak berhak mengabaikan mereka yang memilikinya,” kata Burnett dalam tulisannya di The Guardian.

Jangan pernah menganggap orang yang bunuh diri atau yang pernah melakukan percobaan bunuh diri sebagai orang yang lemah. Kita tidak akan pernah mengerti keadaaan seseorang  kecuali jika kita menjadi orang tersebut. Seorang penderita gangguan mental atau mereka yang mengalami depresi tidak akan mampu berpikir logis ketika dihadapkan suatu keruwetan karena mereka tidak bisa berpikir secara normal. Jadi bila kita mengatakan bahwa aksi bunuh sebagai bentuk keegoisan, sebenarnya pernyataan kita itu merupakan bentuk keegoisan itu sendiri. Kita egois karena tidak mau mencoba untuk mengerti mereka.

“Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya… hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.” – Harper Lee dalam buku To Kill a Mockingbird

Don’t ever judge people if we don’t know who they are! 

Menangkal perilaku bunuh diri bukanlah tindakan yang mudah karena bersifat subjektif. Penyebab seseorang bunuh diri tidak dapat disebut hanya satu penyebab karena merupakan interaksi kompleks dari berbagai faktor (Nationalgeographic.co.id edisi November 2015). Bagi orang-orang religius, mungkin bisa melalui pendekatan agama. Hampir semua agama pasti melarang yang namanya bunuh diri. Tapi saya pikir ini tidaklah cukup, seperti yang saya bilang tadi, orang-orang yang mempunyai kecenderungan depresi tidak akan mampu berpikir rasional sehingga pendekatan psikologis akan terasa lebih tepat. Kita tidak akan tahu bagaimana memberi pertolongan pada mereka, kecuali kita faham dengan kondisi psikologis mereka. Semua masalah pasti ada solusinya dan jangan biarkan bunuh diri menjadi solusi yang akan mereka pilih.

Berawal dari 13 Reasons Why, saya jadi antusias ngomongin tentang permasalahan bunuh diri. Saya pribadi menganggap serial ini cukup positif sebagai pemecah ketabuan masalah bunuh diri, khususnya di kalangan generasi muda. Bunuh diri memang tindakan yang salah, tapi itu bukanlah alasan untuk menyalakan pelaku bunuh diri tersebut. Serial ini juga bisa dijadikan sebagai momentum untuk menyadarkan kita akan pentingnya kesehatan mental dan spiritual serta interaksi sosial yang sehat. 

Berdasarkan data WHO, 39 persen dari total kasus bunuh diri di dunia disumbang oleh negara-negara Asia Tenggara. Di Indonesia sendiri kasus bunuh diri mencapai 3,7 persen per 100.000 penduduk. Memang presentase tersebut masih rendah dibanding negara-negara Asia lain. Tapi dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 258 juta penduduk, berarti ada 10.000 bunuh diri di Indonesia tiap tahun atau satu orang per jam. Angka yang cukup fantastis memang.

Sumber: Google

Mungkin kita tidak bisa berbuat banyak untuk mengatasi bunuh diri. Tapi setidaknya hal ini bisa dijadikan renungan bagi kita khususnya dalam hal berinteraksi dengan sesama. Terutama dengan maraknya social media di zaman sekarang. Komentar kebencian, intimidasi dan cyber-bullying sering kita saksikan di berbagai laman sosial media. Kita tidak akan pernah tau perasaan orang yang terintimidasi tersebut. Sudah saatnya kita lebih peka. Jangan sampai itu menjadi salah satu faktor orang lain untuk mengakhiri nyawanya. Tokoh Hannah Baker mungkin hanya sekedar fiksi, tapi ia bisa dijadikan gambaran korban intimidasi yang berujung bunuh diri.

Mungkin kamu punya berjuta alasan untuk bunuh diri, tapi ingatlah kamu selalu punya alasan untuk hidup. Serapuh apapun jiwamu, ingatlah dengan hidup yang akan menguatkanmu. Hidup ini cuma sekali guys! Jangan sia-siakan hidupmu. Masih banyak miliaran kemungkinan di luar sana. Suicide is not an answer. 
It’s not even an option. Ok, sometimes we feel so damn weak but it’s not a reason to cut our neck. Just love your life. 

Sumber: Google

Suicide can be prevented!