Posts Tagged ‘Opini’

(Sumber Gambar : Google)

Sepertinya kali ini saya ingin membicarakan sesuatu yang cukup serius, bahkan boleh dibilang sangat serius. Tiba-tiba saya teringat sebuah trailer film hasil karya anak negeri yang saya lihat tahun lalu. Sebuah trailer dari film yang berjudul Bulan Terbelah di Langit Amerika. Saya langsung tergelitik begitu mendengar salah satu kutipan film tersebut.

“Apakah dunia akan lebih baik tanpa Islam?”

Dan sontak saja saya langsung menjawab TIDAK. Dunia BUTUH Islam, sama halnya dengan dunia butuh Kristen, Buddha, Yahudi, Hindu, Ateisme, Agnostisme, Sekularisme dan agama serta faham ideologi lainnya.

Dunia butuh keberagaman akan agama, ideologi, budaya dan pola pikir yg membuat manusia hidup dalam hakikat indahnya keberagamaan peradaban. Dunia tentu akan berbeda dengan apa yang kita lihat sekarang jika tanpa Islam atau agama lainnya. Gak kebayang jika dunia hanya ada satu agama, maka peradaban manusia tentu akan sangat membosankan. Manusia bakal hidup dalam satu kebudayaan yang monoton dan pola pikir yang seragam. Mendadak saya jadi teringat dengan film The Giver yang dibintangi Merryl Streep yang sempat saya tonton tahun lalu. Filmnya gak terlalu bagus sih. Film itu menggambarkan kalau manusia hidup dalam satu peradaban yang monoton. Kalau menurut saya hal itu cukup mengerikan. Itu sangat bertentangan dengan kodrat manusia. Tiap individu manusia itu berbeda satu dan lainnya. Isi kepala kita berbeda begitu pula dengan masing-masing jalan hidup kita. Menyeragamkan pola pikir manusia sama saja dengan menentang hakikat alamiah manusia sebagai makhluk individual dengan kepribadian yang sangat beragam. Dan ini bisa jadi malapetaka.

Saya dilahirkan sebagai seorang Muslim. Orang tua, keluarga dan lingkungan tempat tinggal saya juga muslim. Saya diajarkan sholat, mengaji dan mengikuti peribadatan dengan tata cara muslim. Saya bersyukur dengan hal itu meski sejak beberapa tahun ke belakang, saya memutuskan untuk meninggalkan semua kehidupan religius saya itu. Semua teman dan rekan-rekan saya menganggap saya gila tapi itu benar adanya. Keputusan saya untuk hidup tanpa dilabeli agama adalah keputusan yang sudah saya pikirkan sejak jauh-jauh hari, bahkan sejak saya duduk di bangku SMP dan SMA. Saya rasa teman-teman sekolah saya tahu akan hal itu.

Ada sejuta pertanyaan esensial yang selalu menggelitk hati saya sejak saya kecil. Dan itu semakin membuncah saat saya beranjak dewasa. Hingga akhirnya saya tidak mau membohongi diri saya lagi dan membuka diri pada orang lain kalau saya hidup tanpa agama. Dan saya sangat lega dengan hal itu. Saya tidak mau menyebut saya Atheis atau Agnostik. Saya tidak mau melabeli diri saya dengan faham-faham itu. Saya tidak mau ikut agama atau faham terentu karena saya ingin terbuka dengan pemikiran baru yang akan selalu datang setiap waktu. Lalu apa saya percaya Tuhan? Mungkin iya. Saya percaya akan suatu kekuatan besar di luar batas pikiran kita yang menyebabkan semua kehidupan di alam semesta. Mungkin saja itu Tuhan, atau mungkin saja itu sesuatu yang berbeda. Apa saya percaya sesuatu yang ghaib? Bisa ya bisa tidak. Segala kemungkinan bisa saja terjadi dan seperti yang saya bilang, saya sangat terbuka dengan segala kemungkinan tersebut.
Saya merasa tidak nyaman jika saya disangkutpautkan dengan identitas faham ideologis, spiritual atau agama tertentu. Saya ingin bebas secara spiritual dari segala doktrin dan menyerap serta mempelajari ide spiritual apapun. Saya tidak tahu akan segala kemungkinan yang bakal terjadi. Bisa saja ada pemikiran baru yang membuat saya tertarik dan saya tidak mau menutup kemungkinan itu. Tapi bukan berarti saya tidak punya pendirian tetap. Open minded punya pengertian yang luas dan inilah prinsip pemikiran hidup saya.

Saya akui saya hidup dalam lingkungan budaya dan negara yang religius. Saya tidak bisa mengosongkan status agama saya di KTP. Kita selalu butuh identitas agama dalam keseharian kita. Saat kita sekolah, kita harus mengisi identitas agama begitu pun dalam dunia kerja dan sosial masyarakat. Dan oleh karena itu secara hukum dan budaya saya masihlah seorang Muslim. Terkadang saya juga membutuhkan waktu untuk beradaptasi di lingkungan baru dimana saya harus menunjukkan sisi religius saya sebagai salah satu syarat agar dapat diterima di lingkungan baru saya itu. Ini memang cukup melelahkan dan terkadang cukup menyiksa batin saya, tetapi bagaimana pun saya harus melakukan itu agar tidak mau dijauhi yang lain. Sungguh miris memang.

Saya hanya segelintir dari miliaran manusia lainnya di dunia. Ada banyak miliaran manusia lain yang mungkin bahkan punya pandangan yang jauh berbeda. Kehidupan spiritual manusia teramat kompleks. Bersyukurlah karena manusia dikarunia kenikmatan spiritual yang tidak dimiliki makhluk hidup lain. Pernahkan kalian melihat kucing menyembah duri ikan? Atau para semut yang mengerumuni berhala gula?  Ataupun anjing yang berdoa untuk dewa tulang belulang? Tak ada satupun makhluk di planet ini yang memiliki kehidupan spiritual seperti manusia. Saya tidak tahu dengan makhluk planet lain. Mungkin mereka punya kehidupan spiritual tersendiri yang jauh berbeda. Lihatlah Piramida-piramida Mesir atau piramida-piramida suku Inca, Kuil-kuil Yunani, Ka’bah, Masjidil Haram, Biara-biara para biksu Buddha, Kuil Dewa Dewi di China, Kathedral Vatikan, Candi-candi megah di negeri kita atau pun batu-batu besar megalitik peninggalan zaman prasejarah. Semua maha karya megah tersebut tercipta karena adanya kehidupan spiritual manusia. Spiritualitas dan norma religius merupakan salah satu penggerak peradaban kita. Tanpa kehidupan spiritual dan norma religius dari nenek moyang kita, mungkin sejarah akan jauh berbeda. Tapi terkadang kehidupan religius bisa bersifat destruktif. Well, sesuatu yang berlebihan akan selalu berdampak tidak baik, bukan? Begitu pun dengan sikap religius yang berlebihan.

Sungguh prihatin dengan isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan) yang tengah berkembang dalam kehidupan bermasyarakat kita akhir-akhir ini. Sekelompok agama yang dalam hal ini ormas-ormas Islam melaporkan seorang pejabat negara karena dituduh melakukan penistaan agama Islam sehingga menimbulkan aksi massa besar-besaran. Dan sekarang, tengah terjadi pula pelaporan sebaliknya tentang seorang petinggi agama Islam yang dituduh menistakan agama Kristen dan Katholik dalam dakwahnya. Agama satu melaporkan agama lainnya, begitu pula sebaliknya. Sungguh mengerikan. Apa yang terjadi pada bangsa ini? Seakan semua pihak mengaggungkan egonya masing-masing. Entah apa yang terjadi dengan pola pikir masyarakat kita. Tidakkah semua gesekan ini bisa diselesaikan dengan cara damai?

Isu-isu SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar golongan) yang tersebar di media masa dan media sosial seakan mudah berkembang menjadi virus-virus kebencian yang mengkhawatirkan. Bisa kita ambil salah satu contohya, jika anda membaca sebuah postingan berbau SARA ( bahkah terkadang yang tidak ada sangkut pautnya dengan SARA), lihatlah komentar-komentar dibawahnya. Maka yang ada lihat adalah adu argumen tentang SARA yang sering membuat saya tersenyum miris melihatnya. Semua orang merasa paling benar. Semua orang merasa menjadi malaikat paling sempurna. Gila! Sudah separah itukah egoisme dalam masyarakat kita? Sudah sekronis itukah virus kebencian dalam generasi kita? Di saat bangsa lain sudah berpikir tentang ekspedisi ilmiah ke planet Mars, bangsa kita masih berkutat pada konflik sempit agama. Tidak heran kalau bangsa ini masih kalah bersaing dengan bangsa lain.

Saya juga ingin menyoroti istilah “kafir” yang sepertinya menjadi “tren” saat ini. Begitu mudahnya orang menyebut kafir pada orang lain. Bahkan anak-anak usia belia dengan ringannya menyebut kafir pada teman sebaya mereka yang berbeda agama. Kafir menurut Islam berarti orang yang bukan Islam. Saya jadi teringat dengan sebuah tulisan blog yang saya baca di MojokDotCom yang membahas kontroversi penyebutan kafir. Berdasarkan pengertian kafir tersebut, menyebut orang yang beda agama dengan sebutan kafir memang tidaklah salah. Tapi jika anda menyebut kafir dengan begitu mudahnya kepada orang lain tentu ada sesuatu yang salah dengan nurani anda. Ibarat anda menyebut “orang cacat” secara frontal kepada orang cacat yang kehilangan salah satu bagian tubuhnya. (Ini hanya analogi semata tidak ada maksud untuk menyamakan orang kafir dengan orang cacat).  Orang cacat memang adalah orang cacat. Pernyebutan orang cacat untuk orang yang telah kehilangan salah satu bagian tubuhnya memang  sebuah pernyataan yang benar. Tapi sebegitu tegakah kita mengatakan hal tersebut secara vulgar. Bagaimana kalau orang yang cacat itu sakit hati. Bukankah menyakiti hati orang lain termasuk salah satu dosa dalam agama? Hal demikian juga terjadi bila anda secara frontal menyebut kafir kepada orang yang beda agama. Apakah anda tahu kalau orang yang anda sebut kafir itu sakit hati atau tidak? Bagaimana kalau sakit hati? Malah dalam beberapa kasus bisa berkembang ke arah pem-bully-an. Dimanakah nurani anda? Anda tentu juga punya hati? Anda tentu manusia? Kejujuran memang terkadang menyakitkan tapi agama apapun tentunya tidak akan membenarkan bila anda menyakiti hati orang lain. Memprihatinkan memang. Nurani seakan tertutup oleh egoisme buta.

Saya akui saya hanya seorang warga biasa yang tidak mempunyai kontribusi berarti bagi negara. Saya hanya sedang menggunakan hak saya untuk bebas berpendapat sebagai warga negara.
Apa yang terjadi dengan konflik horizontal yang terjadi dalam masyarakat belakangan ini membuat saya menjadi semakin skeptis dengan agama dan segala kehidupan religius di dalamnya. Tapi di balik semua itu, saya merasa sangat bersyukur dengan prinsip hidup saya yang tidak mau dilabeli agama. Harus saya akui, saya merasa lebih bahagia daripada tahun-tahun sebelumnya. Sampai di titik ini, saya merasa mantap kalau saya tidak perlu norma agama untuk bisa menjadi manusia beradab. Saya tidak terlalu memperdulikan judgement dari orang lain tentang saya. Saya melakukan segala sesuatu berdasarkan nurani saya. Berbuat baik pada siapa saja tanpa perlu memikirkan pahala. Menjauhi segala sesuatu yang buruk dengan akal sehat saya. Saya merasa menjadi manusia sebenarnya dan berada pada titik nyaman kehidupan batiniah saya.

Zero Spiritual Identity, mungkin itulah istilah yang tepat untuk menggambarkan konsep kehidupan spiritual saya. Istilah ini memang istilah baru yang saya buat sendiri tapi makna yang terkandung di dalamnya bisa mewakili konsep kehidupan spiritual saya saat ini. Zero berarti nol atau tidak ada, Spiritual berarti kehidupan spiritual atau spiritualitas, dan Identity berarti  identitas. Jadi, Zero Spiritual Identity  bisa diartikan sebagai ketiadaan identitas spiritual dalam diri seseorang. Yup, itulah saya. Dan saya merasa bahagia dengan pilihan hidup saya ini.

Agama merupakan suatu konsep kehidupan spiritual. Sebagian besar orang mungkin masih butuh agama sebagai pedoman hidup mereka. Tiap agama mengajarkan kebaikan, setidaknya itulah yang saya yakini. Jangan sampai segala kebaikan ini tertutupi oleh sikap egoisme kepentingan golongan. Jangan sampai konsep pedoman hidup ke arah yang lebih baik dalam agama malah berubah menjadi sesuatu yang destruktif karena anda menganggap agama anda yang paling benar, dan yang lain salah. Anda mungkin benar, tapi yang lain belum tentu salah. Anda hanya belum melihat sisi lain dari kehidupan yang dilihat orang lain. Kebenaran tergantung dari perspektif masing-masing. Tapi kebenaran yang paling hakiki ada dalam nurani anda masing-masing. Jangan bohongi nurani anda hanya ingin dianggap paling benar.

Bagaimanapun tulisan ini hanya sekedar pandangan pribadi saya tanpa keinginan untuk menyinggung siapapun. Semoga dunia ini akan mencapai kedamaian paling hakiki. Semoga..  ya semoga saja itu terjadi. Semoga kita menjadi manusia yang lebih baik lagi…

Iklan
"PAPERMAN"

(sumber gambar: Google, Disney’s Paperman edited by @rosmensucks)

Setelah sekian lama berhibernasi, akhirnya saya dapat hidayah buat ngeblog lagi. Well, it’s not bad. Sebenarnya tulisan ini bukanlah sebuah tulisan istimewa. Mungkin bisa dibilang sebagai curhatan kali ya. Yang jelas sih masih seputar dunia pria, khususnya bagi pria-pria muda usia 20an kaya saya gitu deh. So, yang merasa pria dengan kategori tersebut, saya sarankan untuk baca tulisan saya ini.

Gimana sih rasanya jadi pria di usia 20an? We’re happy, free, confused, and lonely at the same time. It’s miserable and magical. Oh yeah!! –mengutip lirik lagu 22 yang dinyanyikan Taylor Swift, sungguh referensi yang agak feminim memang. Well everyman loves Taylor Swift, right? Hehe. Ketika seorang pria menginjak usia 20an, maka ia bisa dibilang telah cukup dewasa dalam soal angka. Usia 20an bisa disebut sebagai fase paling produktif seorang manusia. Pada fase ini, manusia dalam kondisi lagi bagus-bagusnya. Fisik masih oke, kesehatan masih belum bermasalah, semangat masih on fire tapi pikiran dituntut untuk berpikir lebih kompleks. Ibaratnya otak kita sedang dalam ujian kenaikan kelas. Lulus enggaknya itu tergantung kita. Mau berjalan dinamis atau tetep konstan? We’re not fucking teenager anymore, Dudes! We gotta make up our mind! Yup, kita bukan remaja usia belasan lagi. Kita sudah dalam perjalanan menjadi pria yang seutuhnya. Jadi pria sejati! Ciyeee gayanya sok maskulin hehe. Well, saya tidak hanya sedang membicarakan soal seksualias pria dewasa. Maksud pria sejati di sini adalah dalam arti luas. Jadi, bukan cuma soal durasi ereksi atau ketahanan ejakulasi. Everyman knows it!

Seperti yang sudah saya bilang di atas, fase 20an adalah fase paling kompleks bagi seorang pria. Isi otak pria di usia ini mulai kompleks sekompleks luasnya alam semesta. Hihihi lebay.. so are you curious? Sebenernya apa aja sih isi pikiran pria usia 20an itu? Okay, mari saya jabarkan satu per satu. Yang akan saya sebutkan di sini cuma garis besarnya saja ya. Saya pikir, isi kepala pria usia 20an akan berkutat pada 5 poin berikut: carrier, love, sex, spiritual, financial. Kok cuma 5 poin sih? Katanya kompleks! Hey, 5 poin ini mencakup hal yang lebih kompleks lho! Let me explain them…

  1. CARRIER

Sebagian besar pria sudah menuntaskan pendidikannya di usia 20an, entah itu sampai jenjang kuliah atau SMA. Otomatis sesudah itu kita butuh kerja. Emang mau disuplai terus sama orang tua? Kalau ortu kamu kaya sih ya ra popo. Tapi kalau ortu kamu bukan orang berada, emang gak kasihan minta dikelonin mulu sama mereka. Mandiri dong bro! Yang pasti usia 20an adalah gerbang pertama kita dalam memasuki dunia kerja. Dan hal pertama yang harus kamu lakukan adalah kamu harus tentuin dulu pekerjaan impian kamu. Mau jadi apakah kamu? Mau jadi bos, dokter, seniman, pengusaha atau jadi pembantu? Hehe. Oke mungkin terkadang pekerjaanmu  gak sesuai dengan yang kamu impikan. But it’s alright, terkadang pengalaman itu memang pahit. Anggap saja itu sebagai test drive yang akan menuntun kamu ke jenjang berikutnya. Mungkin kalau ada kesempatan, kamu bisa mewujudkan karir impianmu suatu hari nanti. Terlebih kalau kamu memang sudah punya bakat, skill atau basic pendidikan yang sesuai dengan karir impianmu. Yakinlah kalau sudah berusaha, Tuhan pun akan memberikan jalan.

Dunia kerja bagaikan dunia rimba. Ini bukan omong kosong lho! Ini berdasarkan pengalaman saya pribadi. Saat kamu memasuki dunia kerja, kamu tidak hanya berhubungan dengan pekerjaan kamu, tapi kamu juga otomatis berhubungan dengan orang-orang yang ada dalam pekerjaanmu itu. Ada atasan, rekan kerja, klien, konsumen dan sebagainya. Setiap profesi tentu berhubungan dengan masing-masing orang yang berbeda. Misalnya saya ini, yang notabenenya hanya karyawan swasta biasa. Saya tentunya akan selalu berhubungan dengan atasan atau rekan-rekan kerja saya. Dan tentunya atasan atau rekan-rekan kerja saya itu memiliki karakter yang berbeda-beda. Semua orang itu tentu gak akan selalu baik semua. Mungkin kamu akan ketemu sama atasan yang galak, rekan kerja yang mau enak sendiri atau rekan kerja yang suka cari muka. Sadarlah orang-orang seperti itu memang benar-benar ada. Kalau kamu tidak mempersiapkan diri sebelum memasuki dunia kerja, mungkin kamu akan langsung mental duluan. Kamu harus memiliki semacam antibody dalam menghadapi orang-orang seperti ini.  Jangan biarkan dunia kerja membutakan dirimu sehingga kamu menjadi orang yang sama sekali bukan dirimu. Well, niat kita bekerja bukanlah buat cari musuh, tapi buat cari uang. Kalau mau cari musuh mah tinggal gebukin tetangga sebelah aja. Oke, setiap orang mungkin punya ambisi. Tapi ambisi juga gak harus sampe segitunya juga kali! Masa cuma mau naik jabatan aja sampe gontok-gontokan sama rekan kerja, emang kamu gak yakin sama kualitas kerja kamu sendiri. Kalau kamu sudah berusaha bekerja sebaik yang kamu bisa, saya rasa kamu akan mendapat imbalan yang setimpal. Gak perlu cari muka di depan atasan atau berkompetisi secara gila-gilaan dengan rekan kerja. Dunia kerja memang seperti rimba, tapi ingat kamu ini manusia, bukan singa. Bekerjalah secara manusiawi dan tidak perlu saling memangsa. Pahami tujuanmu kenapa kamu harus kerja. Tentu kamu gak mau kehilangan pekerjaanmu hanya gara-gara pola pikirmu yang terlalu buas. Nyari kerja itu susah lho, gak sesusah nyari dosa hehe. Jadi, siapkanlah dirimu secara matang. Bekerja tidaklah selalu dengan otak atau tenaga, tapi juga dengan nurani, bukan dengan Nuraeni yah aha! Cuma kamu yang bisa menentukan karirmu. Ini demi masa depan kamu juga lho. Ingat, karir merupakan modal dasar utama seorang pria. Kalau kamu cuma berleha-leha, dijamin kamu gak akan bisa hidup lama.

“A carrier with a venereal disease can have many partners, but only those whose mental and physical immune systems are weak will be susceptible to it.” — Louise L. Hay

  1. LOVE

Well, everyone knows about this? Cinta. Yup. We need love. Ketika menginjak usia dua puluhan, tentunya kita harus lebih dewasa dalam membina suatu hubungan. Bagi yang single, tentu harus lebih selektif dalam mencari pasangan yang tepat. Kita sudah bukan anak remaja lagi. Gak ada lagi yang namanya cinta monyet. Seperti apa yang dikatakan Kakek Charles Darwin, monyet (atau kera) telah berevolusi jadi manusia hahaha. Begitu pun dengan cinta. Cinta merupakan sesuatu yang sangat ilmiah. Setiap otak kita perlu apa yang disebut sebagai hormon oksitosin, semacam hormon kebahagian yang akan disekresi ketika kita sedang jatuh cinta. Meski sama-sama melepas oksitosin, jatuh cinta dan orgasme jelas berbeda. Jatuh cinta dan hubungan percintaan tentu bukan hanya soal urusan fisikal. Dan saya akui, memiliki pasangan merupakan suatu cara untuk bahagia. Siapa sih yang gak ingin dicinta dan mencintai. Ini sangat alamiah sekali. Dan tujuan utama kita memiliki pasangan adalah untuk bahagia. Tapi tentu kita tahu, 100% bahagia dalam asmara itu sangat mustahil sekali.

 “We accept the love we think we deserve.” ― The Perks of Being a Wallflower

Ok, saat kita jatuh cinta, kita berpikir kita berhak mendapatkan cinta tersebut. Tapi seperti yang sudah saya katakan tadi, cinta merupakan suatu hal yang ilmiah, tapi cinta juga bukanlah suatu hal yang bisa dinilai secara eksakta. Hukum aksi reaksi seperti yang dikemukakan oleh Isaac Newton tidak berlaku dalam sebuah hubungan asmara. Gak semua rasa cinta kamu bakal dibalas dengan cinta juga. Isn’t it fair? Yup, we know it. Dan di umur yang sudah makin dewasa ini, kamu harus semakin faham akan segala konsekuensinya. Well, relationship is a beautiful bullshit. Menjalani sebuah hubungan adalah satu-satunya cara untuk memahami arti hubungan itu sendiri. Saya pikir proses pendewasaan hubungan percintaan itu bisa dilakukan hanya dengan menjalani proses hubungan percintaan itu sendiri. Jadi, jalani saja bro!

Dibutuhkan keseriusan lebih dalam membina suatu hubungan percintaan. Gak cuma asal nembak terus putus, broken heart and then galau. Sudah cukup untuk bereksperimen dengan hati wanita. Hati wanita itu bukan ati empela! Dan sepertinya kita pun dituntut untuk lebih mengerti akan mereka.

Wanita, ya wanita. Bagaimana pun memang sangat sulit untuk memahami makhuk penghasil estrogen itu. All the girls  always have a mystery, and sometimes the boys don’t understand about them. Wanita itu memang istimewa, tapi terkadang kita tak tahu banyak tentang dunia mereka.

Beberapa diantara kita banyak yang membina hubungan lebih baik saat menginjak usia 20an daripada saat remaja. Beberapa di antaranya bahkan sudah berani membuat keputusan untuk menikah, membina rumah tangga dan menjadi ayah. Oke, saya gak akan bicara soal pernikahan sekarang. Pernikahan merupakan sesuatu yang rumit dan saya belum seratus persen faham tentang hal itu. Saya rasa, wanita pada usia ini juga akan berpikir kompleks sama seperti kita. Mereka mengharapkan suatu hubungan yang lebih dari sekedar cinta-cintaan atau sayang-sayangan. Mereka butuh komitmen yang jelas. Dan pertanyaannya adalah, apa kita mampu memenuhi komitmen itu? Hmm.. is it hard? Maybe yes, maybe not. Or maybe we don’t know about that shit. Kebanyakan pria lebih memilih bersikap santai mengenai hal ini. Mereka lebih memilih menjalani suatu hubungan tanpa beban. Well, sebenarnya ini bagus. Tapi suatu hubungan memerlukan tujuan. That’s right.

Berpasangan adalah suatu hal yang naluriah. Setiap manusia dikodratkan untuk jauh dari kata sempurana. Setiap manusia diciptakan untuk saling melengkapi, dan inilah fungsi utama pasangan. Ada suatu kaidah yang berbeda antara istilah pacar dan pasangan, girlfriend or partner. Saya pribadi lebih nyaman dengan istilah pasangan. Menurut saya istilah itu terkesan lebih dewasa. Ini cuma pendapat saya pribadi lho. So, buat para pria single seperti saya, mari kita mencari pasangan yang tepat untuk kita.  We need a partner to share our heart and our life. Someone who can understand who the hell we are, someone special. Can we find her?

“In my opinion the best thing you can you do is find a person who loves you for exactly what you are. Good mood, bad mood, ugly, pretty, handsome, what have you, the right person will still think the sun shines out of your ass. That’s the kind of person that’s worth sticking with.” — Juno

Sebuah kutipan kocak dari salah satu film favorit saya, Juno. Tapi kutipan itu bener banget. Someone who you love must know anything you hate. Seseorang yang akan selalu mencintaimu bahkan saat saat kamu sedang bad mood atau saat kamu sedang kena bisul di pantat. So sudahkah kamu bertemu dengan pasangan hatimu? Let us find love!

  1. SEX

Yup sex! Oh come on, tidak perlu munafik! Kita tahu seks akan selalu ada dalam kepala pria muda seperti kita-kita ini. Menginjak umur 20an merupakan suatu tolak ukur kalau kita telah matang secara seksual. And we need sex! Yeah everybody knows, but it’s just in our mind. Sex bukanlah hal yang tabu selama kita membicarakannya dalam koridor ilmiah. Sex is a scientific thing. And we need to educate ourself about it.

Seks bagai semacam doping di otak kita. Tidaklah heran kalau banyak pria di usia ini yang ngebet pengen nikah muda. Kalau sudah siap, ya gak apa-apa sih. Tapi gimana dengan pria single atau pria yang sudah berpasangan tapi belum hendak menikah. Well, saya tidak menganjurkan free sex untuk kamu-kamu semua. Sebagai bangsa yang berbudaya timur, saya rasa free sex bukanlah solusi yang tepat untuk kita. So what about masturbating, fetish, jerking off or wanking? Hahaha those are so funny! Saya tidak menganjurkan ataupun menolak. Itu terserah kamu. Yang pasti seks harus dilakukan secara bertanggung jawab.  Bagaimanapun seks itu merupakan salah satu anugerah terindah yang diberikan Tuhan untuk manusia. Ya, manusia. Dan manusia beda dengan hewan. Camkan itu!

So, terus kita harus bagaimana? Sebenarnya ini merupakan sesuatu yang sangat mendasar. Kita harus melakukan apa yang disebut sebagai manajemen hormonal. Oh come on, our life is not only about sex right? Selain kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual, kamu juga harus memiliki kecerdasan seksual. Kamu harus mengenal dan bertanggung jawab terhadap tubuh kamu sendiri. Kamu harus bisa menaklukan naluri birahi kamu sendiri. Salah satu alasan kenapa banyaknya fenomena kehamilan di luar nikah di usia muda adalah karena mereka menganggap seks hanya sebagai insting dan spontanitas. Mereka tidak berpikir kalau seks adalah sesuatu yang sangat ilmiah. Ingat gak sama pelajaran Matematika tentang peluang dan kemungkinan? Dari sekian juta sel sperma yang meluncur menuju ovarium, kemungkinan besar beberapa diantaranya berhasil berpapasan dengan ovum. Besar kemungkinan kehamilan dalam setiap hubungan seks itu sangat tinggi sekali. Apalagi di masa-masa usia produktif seperti kita-kita ini. Fahami resikonya dong bro, jangan cuma asal enak aja. Remember! We’re not fucking animal! Kita ini bukan hewan yang bisa melakukan have sex sesukanya saat musim kawin tiba. Educate your self and educate your penis! LOL! Jangan cuma asal tembak saja. Setiap akibat pasti ada pula sebabnya. Kalau kamu gak mau acara kencan kamu menjurus ke arah hubungan seksual, ya jangan ngelakuin hal-hal yang bisa menjuruskanmu ke arah sana. Pacaran sewajarnya saja. Cukup pegangan tangan, jangan pegangan pangkal paha. Boleh ciuman sesekali, asal jangan ciuman sambil menggerayami. Boleh duduk berdekatan, asal jangan kebablasan. Berkencanlah secara bijak. Jangan biarkan otakmu dibajak. Dan bila kamu masih terus berpikir tentang seks? Just take some activities! Lakukanlah kegiatan posistif daripada sekedar berimajinasi soal Miyabi, Sasha Grey atau Asa Akira. Lho mereka itu siapa ya? Hehe. Lakukan kegiatan berguna seperti manjat pohon kelapa atau mengembala domba misalnya. Enggak deng bercanda hehe. Pada dasarnya sisi erotis dalam diri kita itu tergantung kitanya juga. Oke, kamu mungkin boleh bergaul dengan pornografi sesekali. Well it’s not really bad. Tapi jangan keseringan! Bergaul dengan pornografi itu sungguh sangat tidak keren bro! Inget efek sampingnya! Seorang pria sejati bukan hanya sekedar makhluk penghasil sperma. Seorang pria sejati adalah seorang pria yang nyaman dengan seksualitasnya dan tahu cara menggunakan serta mengontrolnya. Sadarlah, hormon testosteron akan selalu ada dalam tubuh kita sampai kita mati. Dan libido akan selalu datang bagai tukang bakso yang selalu berdagang keliling kampung setiap hari. Berdamailah dengan seksualitas yang ada dalam diri kamu. Jangan anggap hal itu sebagai sebuah beban utama. You don’t have to get an orgasm to lift your life up. Just take it easy! Sex isn’t terrible, so just thinking simple.

“Sex is a part of nature. I go along with nature.” — Marilyn Monroe

  1. SPIRITUALITAS

Sebenarnya poin ini harusnya ada di posisi utama. Tapi saya sadar materi adalah hal yang paling banyak memenuhi otak pria. Bahkan terkadang menyisihkan apa yang disebut sebagai sisi spiritual yang seharusnya mendapat porsi lebih di otak kita. Spiritualitas yang saya bicarakan di sini bukanlah hanya soal agama. Saya tidak menyuruh kamu buat jadi orang religius. Toh saya juga bukan orang religius kok. Saya bicara spiritualitas dalam arti universal. Spiritualitas adalah sebuah tatanan pikiran, sebuah pedoman hidup yang akan menuntunmu ke arah yang lebih baik. Semacam lampu pijar yang ada di kepala kamu yang akan menuntun jalan hidupmu. Oleh karena itu kita perlu spiritualitas sebagai pegangan hidup kita. Seseorang yang dewasa adalah seseorang yang tahu akan sisi spiritual dalam dirinya. Dia tahu apa arti eksistensi dirinya saat hidup di dunia. Dia sadar akan tujuan hidupnya, apa yang harus ia lakukan, bagaimana cara berinteraksi dengan sesama, membedakan mana yang baik dan yang buruk dan definisi kaidah-kaidah hidup lainnya. Jadi, inilah yang harus kita cari! Spiritualitas! Inilah saatnya kamu menggunakan kecerdasan spiritualmu. Untuk kamu yang religius mungkin bisa mencarinya dalam agama yang kamu anut, untuk yang merasa tidak religius, kamu bisa mencarinya secara bebas dalam kaidah kehidupanmu sehari-hari. Sepertinya terdengar abstrak, tapi memang itulah spiritualitas. Spiritualitas bukan hanya sekedar hubungan kita dengan Sang Pencipta. Spiritualitas bukanlah sesuatu yang mistis. Spritualitas bukan hanya membicarakan keimanan atau kehidupan di akhirat kelak. Spiritualitas bukan hanya soal ritual peribadatan.

Seperti yang saya bilang, saya bukanlah sosok yang terlalu religius. Jadi orang religius emang oke, tapi gak semua orang religius bisa bersikap kece. Mentang-mentang religius lalu kamu bisa menjudge orang sesukamu. Mencampuri urusan orang yang tentu saja bukan urusanmu. Berlagak kalau kepercayaan yang kamu anutlah yang paling benar dan semua orang yang “berbeda” menurut kriteriamu lalu dijudge salah. Hmm… sebenarnya kamu ini manusia bukan sih? Gak nyadar kalau setiap manusia itu berbeda? Mentang-mentang kamu merasa benar lalu kamu bisa dengan mudahnya menyalahkan orang lain. Hey, hidup ini bukan cuma untuk kamu doang! Semua orang di sekitarmu juga hidup dan mereka memiliki isi pikiran yang berbeda-beda. Jangan diseragamkan! Oke, setiap orang tua mungkin menginginkan anaknya supaya jadi orang sholeh. Orang sholeh diibaratkan sebagai orang sempurna yang punya kecerdasan spiritual tinggi. Terus kalau gak sholeh bagaimana? Apa jadi orang yang “tidak sholeh” itu salah? (mohon maaf bila ada pembaca yang bernama Sholeh, saya sama sekali tidak berniat menyinggung anda hehe). Hey, hidup ini gak selalu harus mainstream kali! Ada banyak sekali orang baik di dunia ini dan mereka tidak memenuhi kriteria sebagai orang sholeh. Tapi anehnya mereka mampu bersikap sama bijaksana atau bahkan lebih bijaksana dari orang sholeh. Alright, mungkin orang yang sholeh atau religius akan selalu dianggap memiliki kehidupan spiritual yang mapan, tapi jangan anggap kalau orang-orang yang tidak memenuhi kriteria sholeh tidak memiliki kehidupan spiritual yang sama mapan. Everyone can take the lead of their soul.

“Enlightened leadership is spiritual if we understand spirituality not as some kind of religious dogma or ideology but as the domain of awareness where we experience values like truth, goodness, beauty, love and compassion, and also intuition, creativity, insight and focused attention.” — Deepak Chopra

Seseorang yang punya kehidupan spiritual yang mapan tentu akan memiliki pola pikir yang lebih dewasa. Ia tentu akan bisa menghadapi setiap masalah hidupnya dengan lebih bijaksana. Setiap masalah gak bisa diselesaikan hanya dengan adu bacot atau adu otot. Mentang-mentang mau dibilang perkasa, terus kamu bisa adu otot sesukanya. Emang kamu ini Mike Tyson? Ayolah, kamu punya otak kan? Kamu bisa berpikir dengan kepala dingin. Sikap emosinal atau temperamental bukanlah hal yang patut kamu pamerkan. Ingatlah kalau setiap orang akan selalu menilai sikapmu. Tapi bukan berarti pula kamu harus jaga image melulu. Kamu hanya perlu mengontrol diri. Hidup gak akan selalu lurus. Kita tahu itu. Ada kalanya kita hepi, ada kalanya kita marah, sedih atau bahkan galau. Kalau kamu bisa mengontrol diri dan sudah faham dengan sisi spiritual kamu, saya rasa kamu akan tahu cara yang tentunya lebih baik dalam menghadapi naik-turunnya hidup kamu. Well, life is a timeless learning. Ketika kita menyadari arti diri secara batiniah, maka kita sudah menaikan kualitas dunia spiritual kita. Merenungi diri secara kritis dan memahaminya sebagai suatu kesatuan individual yang kompleks akan membuatmu lebih tenang dalam menentukan haluan hidupmu. Berusahalah untuk selalu bersikap bijak. Benar-benar bijak bukan hanya sok bijak atau berlagak bijak lewat meng-copy paste kutipan bijak di social media.

“Happiness cannot be traveled to, owned, earned, worn or consumed. Happiness is the spiritual experience of living every minute with love, grace, and gratitude.” — Denis Waitley

  1. FINANCIAL

Ngomongin financial, pastinya ngomongin duit. Tiap manusia butuh duit, termasuk pria-pria muda kayak kita ini. Saat kita sudah memasuki dunia kerja, tentu kita sudah punya penghasilan sendiri. Yup kita sudah bisa menghasilkan uang a.k.a, duit. Makin nambah usia, makin nambah pula kebutuhan hidup. Sebagai pria lajang yang masih belum nikah, tentu kamu belum punya tanggungan sebesar pria-pria yang sudah menikah. Tapi anehnya, entah kenapa justru pria-pria lajang yang cenderung lebih boros. Oke mungkin untuk pria yang sudah menikah, mereka punya isteri yang sekaligus bisa jadi manajer keuangan pribadi. Tapi tetap saja bro, kebutuhan mereka itu lebih gede. Beli kebutuhan sembako, bayar tagihan listrik, beli susu dan lain-lain. Sedangkan kita, apa coba? Mungkin ada sebagian pria lajang yang juga menjadi tulang punggung keluarganya. Mungkin kita bisa kesampingkan hal itu. Tapi banyak pula pria lajang yang hidup mandiri tanpa tanggungan, tapi boros dalam soal keuangan. Apakah kamu termasuk salah satunya? Hmm.. tidak tahu kenapa, hal macam ini memang selalu ada. Pria-pria usia 20an cenderung belum bisa mengatur keuangannya secara bijaksana. Saya akui itu. Ok, di usia 20an seperti kita ini adalah masa yang tepat untuk memuaskan diri. Ingin beli itulah, beli inilah. Ingin main ke sana ke mari. Pokonya puas-puasin diri sepuasnya. Saya akui hal ini sebagai gejolak kawula muda. Tapi kita gak akan selamanya muda lho! Emangnya kita ini vampir? (langsung berlaga sok cool ala Edward Culen hehe).

Jangan Cuma bisa ngabisin uang sesukamu. Ingat masa depanmu bro! Emangnya kamu ingin nelangsa di hari nanti. Kamu harus bisa mengatur keuanganmu pribadi. Tapi bukan berarti pelit lho. Cowok pelit kelaut aja masbro! Ingatlah, kamu telah bekerja keras untuk mendapatkan uangmu itu. Terus apa kamu gak sayang ngabisin uangmu sampe kerak-keraknya. Kamu gak perlu berkonsultasi sama ahli keuangan profesional. Menurut saya, setiap manusia sudah berevolusi sejak zaman purba menjadi ahli keuangan secara naluriah. Tak ada satupun manusia modern di dunia ini yang tidak pernah bersentuhan dengan uang. Maka kita dituntut harus bisa mengaturnya. Dan kita bisa mengaturnya sendiri tanpa perlu bantuan orang lain.

Dari sekian banyak kebutuhan kita, pasti ada beberapa kebutuhan yang menjadi prioritas. Kalau bisa, ya emang seharusnya bisa sih. Kalau bisa sisihkan penghasilanmu untuk ditabung. Atau kalau kamu emang bener-bener serius sama finansial masa depanmu, kamu bisa mulai belajar berinvestasi secara kecil-kecilan. Yang pasti kamu harus menyisihkan sebagian penghasilanmu. Kamu punya impian masa depan kan? Ada yang pengen nikah, beli rumah, ngelanjutin kuliah atau mungkin pengen buka usaha. Kamu juga gak selamanya dalam keadaan sehat. Adakalanya kamu sakit atau kena musibah, seperti kecelakaan misalnya. Well, semua itu bisa terjadi secara tak terduga dan semua itu membutuhkan biaya. Minta sama orang tua aja! Emang gak malu? Kamu itu sudah gede masbro. Gak malu sama buah jakun segede bola pingpong di lehermu? Masa apa-apa langsung ngibarin bendera putih sama ortu. Kamu juga gak mau kan pinjam sana-sini demi menutupi biaya-biaya tak terduga ini. Bisa-bisa kamu bangkrut. Inilah gunanya kalau kamu bisa menyisihkan penghasilan. Meskipun mungkin gak sebesar seperti yang diharapkan, tapi minimal bisa menutupi sebagian dari biaya kondisi-kondisi ungent seperti di atas.

Jangan mau diperbudak uang. Kamu yang menghasilkan uang, maka kamu sendiri yang mempunyai otoritas penuh atas uangmu (silakan cek postingan lama blog saya yang menjelaskan hal ini). Kita ini masih muda bro. Hidup kita masih panjang –anggap aja memang begitu. Jangan sia-siakan begitu saja rupiah yang kamu hasilkan dari jeri payahmu. Kamu harus bisa menaklukan isi dompetmu. Otakmu adalah sebuah kalkulator alamiah. Gunakanlah otakmu untuk mengatur kehidupan finansialmu.

“Greed is not a financial issue. It’s a heart issue.” — Andy Stanley

 

Okay, that’s all! Itulah 5 poin penting yang selalu ada dalam kehidupan pria-pria umur 20an seperti kita. Carrier, love, sex, spiritual and financial. Kompleks dan penuh lika-liku memang, tapi ya emang beginilah adanya. There’s a lot of thing inside of our head. Ada banyak hal yang harus kita jalani dan pelajari. Ada jutaan ekspektasi, ribuan mimpi dan miliaran masalah yang akan datang silih berganti. Ada suka, duka, canda, tawa tapi saya harap kamu tidak cengeng karena kamu ini seorang pria. Jadi sekarang tergantung kamu masbro! Bisakah kamu memenuhi poin-poin di atas itu? Well, gak usah terlalu terburu-buru juga sih. Enjoy aja, jangan merasa terbebani. Enjoy tapi terarah ya! Nikmati masa mudamu dengan bijaksana. Hidup Cuma sekali, muda juga sekali. Kamu gak akan ketemu sama masa mudamu lagi. Marilah mulai belajar menjadi pria dewasa, bukannya malah jadi pria yang hobi nonton film dewasa. Berumur dua puluhan bukanlah soal nilai angka. Twenties is not about 20s. We’re always growing up. And all grown up absolutely! So grow your brain and your heart too, young gentlemen! You are 20 young gun!! You’re not 20 young dumb! 🙂

image

Absurd dan absurditas, apa yang ada di benak kamu begitu mendengar dua kata ajaib itu? Absurditas bisa diartikan sebagai keanehan, keganjilan atau ketidaknormalan yang berbeda dari pandangan kebanyakan orang. Absurditas adalah padanan lain dari abnormalitas. Banyak orang yang menganggap keabsurditasan sebagai suatu bentuk penentangan terhadap norma yang berlaku di masyarakat. Maka jangan salah bila banyak pemikiran absurd dianggap sebagai suatu bentuk pemberontakan yang mengganggu stabilitas fatwa “kenormalan”. Padahal keabsurditasan adalah sebuah identitas. Absurd itu beda. Dan setiap orang itu beda.

Banyak tokoh dunia yang dikenal karena pemikiran absurd mereka. Siapa yang tak mengenal Albert Einstein yang menggemparkan dunia dengan teori relatifitasnya. Nicolaus Corpenicus sempat dianggap aneh oleh gereja Katholik Roma karena pandangan Heliosentrisnya. Gusdur, Abraham Lincoln dan Mahatma Gandhi pun tak luput dari label miring masyarakat yang menganggap mereka gila dengan pendapat pendapatnya. Charlie Chaplin dan Mr. Bean mungkin tak akan dikenal kalau penampilan mereka di depan publik biasa-biasa saja. Lady Gaga dan Madonna mungkin cuma wanita biasa kalau tanpa embel-embel kontroversi penampilan nyentrik mereka. So, what the shit is absurdity?

Bagi mereka yang bangga dengan kenormalan, mereka akan dengan mudah menjudge siapa saja yang berbeda faham dengan mereka. Apakah kenormalan itu layak diagungkan? Apakah Tuhan benar-benar menciptakan kenormalan dengan yang senormal-normal hingga menyangsikan keabsurditasan? Saya kira tidak. Jika kita menengok cerita para nabi, maka kita pun tak akan bisa terhindar dari keabsurditasan. Ajakan mereka untuk mengarahkan manusia pada jalan kebaikan sering dianggap absurd oleh masyarakat yang hidup di zamannya. Nabi Ibrahim As. sempat dianggap pemberontak oleh kaumnya karena menghancurkan berhala. Nabi Isa As. dianggap aneh karena bisa dilahirkan ke dunia tanpa kehadiran seorang bapak. Begitu pun dengan Nabi Muhammad Saw. Beliau sempat dianggap gila karena melakukan Isra Mi’raj yang menurut sebagian besar orang sebagai suatu kemustahilan. Bukankah semua itu absurd? Bukankah semua itu bukti keabsurditasan Tuhan yang telah dilimpahkan pada umat-Nya. Semua keabsurditasan itu hanya bisa dijawab dengan keimanan. Semua absurditas itu akan menimbulkan konflik yang berkepanjangan bila tidak dicerna dengan hati lapang. Dan apabila kita masih dengan sombongnya menghakimi pemikiran absurd seseorang, apakah kita tak sadar kalau kita juga berasal dari keabsurditasan?

Tak akan ada kenormalan bila tak ada keabsurditasan. Normal bermula dari absurd dan absurd adalah cikal bakal kenormalan. Keabsurditasan adalah suatu komoditas yang ada dalam diri setiap orang. Absurditas adalah komoditas individu untuk berkarya secara berbeda. Manusia itu sungguhlah absurd karena Tuhan juga menciptakan mereka dalam keadaan absurd. So, are you still thinking that you so absolutely normal? Please don’t intimidate me cause God makes us absurd, baby!

Jarum jam hampir menunjukkan pukul 6 sore, tapi adzan Magrib belum kunjung berkumandang. Boro-boro mau adzan, wong pengeras suara di masjidnya aja gak hidup karena listrik mati.

Akhir-akhir ini, PLN emang lagi rajin-rajinnya matiin listrik di kampung kami. Sebenernya udah dari dulu sih. Tapi entah kenapa kok di bulan puasa malah makin menjadi-jadi. Dalam seminggu, bisa 4 sampe 6 kali. Durasinya pun bisa berjam-jam, bahkan bisa sampe seharian atau semaleman. Nggak asyik banget deh! Mentang-mentang puasa lalu layanan istrik pun bisa puasa seenaknya. Kalo kita yang puasa sih, imsak sama bukanya jelas. Kalo PLN yang puasa, imsak sama bukanya gak tau waktu. Keseringan lagi! Ngebetein!

Kepada Bapak Ibu petinggi PLN, tolong berikan pelayanan yang mumpuni. Kami selalu bayar tagihan listrik tepat waktu kok. Dan kami rasa, kami pun sudah cukup berhemat memakai listrik selama ini. Kami gak punya AC, pemanas air atau televisi LCD 32 inchi. Kami cuma pake angin sepoi-sepoi, tungku kayu bakar buat manasin air sama televisi jadul yang dibeli pas zaman presiden Pak BJ Habibie. Nggak ada peralatan elektronik keren di rumah kami. Nyuci baju masih sering di batu kali. Kadang-kadang nyetrika pun masih suka pake setrika arang peninggalan aki nini.

Saya harap PLN masih menjadi Perusahaan Listrik Negara, bukan Perusahaan Listrik Nelangsa. PLN tidaklah kami benci. Kami cuma ingin PLN mengerti. Kami butuh listrik. Listrik membuat ibu bisa menanak nasi. Listrik membuat bapa bisa nonton sinetron lagi (lho kok?)

Saya berharap di bulan puasa ini PLN mau berbesar hati. Jangan keseringan puasanya. Jangan pula bolong-bolong pelayanannya. Cepatlah berbenah diri. Agar di malam takbiran nanti, kami gak perlu obor buat keliling kampung mengumandangkan takbir Ilahi.

Mulai was-was hati ini. Lampu kamar mulai meredup kembali. Saya harus cepat-cepat mengakhiri tulisan ini sebelum koneksi internet keburu oleng karena listrik mati (lagi).