Posts Tagged ‘Men’s Life’

"PAPERMAN"

(sumber gambar: Google, Disney’s Paperman edited by @rosmensucks)

Setelah sekian lama berhibernasi, akhirnya saya dapat hidayah buat ngeblog lagi. Well, it’s not bad. Sebenarnya tulisan ini bukanlah sebuah tulisan istimewa. Mungkin bisa dibilang sebagai curhatan kali ya. Yang jelas sih masih seputar dunia pria, khususnya bagi pria-pria muda usia 20an kaya saya gitu deh. So, yang merasa pria dengan kategori tersebut, saya sarankan untuk baca tulisan saya ini.

Gimana sih rasanya jadi pria di usia 20an? We’re happy, free, confused, and lonely at the same time. It’s miserable and magical. Oh yeah!! –mengutip lirik lagu 22 yang dinyanyikan Taylor Swift, sungguh referensi yang agak feminim memang. Well everyman loves Taylor Swift, right? Hehe. Ketika seorang pria menginjak usia 20an, maka ia bisa dibilang telah cukup dewasa dalam soal angka. Usia 20an bisa disebut sebagai fase paling produktif seorang manusia. Pada fase ini, manusia dalam kondisi lagi bagus-bagusnya. Fisik masih oke, kesehatan masih belum bermasalah, semangat masih on fire tapi pikiran dituntut untuk berpikir lebih kompleks. Ibaratnya otak kita sedang dalam ujian kenaikan kelas. Lulus enggaknya itu tergantung kita. Mau berjalan dinamis atau tetep konstan? We’re not fucking teenager anymore, Dudes! We gotta make up our mind! Yup, kita bukan remaja usia belasan lagi. Kita sudah dalam perjalanan menjadi pria yang seutuhnya. Jadi pria sejati! Ciyeee gayanya sok maskulin hehe. Well, saya tidak hanya sedang membicarakan soal seksualias pria dewasa. Maksud pria sejati di sini adalah dalam arti luas. Jadi, bukan cuma soal durasi ereksi atau ketahanan ejakulasi. Everyman knows it!

Seperti yang sudah saya bilang di atas, fase 20an adalah fase paling kompleks bagi seorang pria. Isi otak pria di usia ini mulai kompleks sekompleks luasnya alam semesta. Hihihi lebay.. so are you curious? Sebenernya apa aja sih isi pikiran pria usia 20an itu? Okay, mari saya jabarkan satu per satu. Yang akan saya sebutkan di sini cuma garis besarnya saja ya. Saya pikir, isi kepala pria usia 20an akan berkutat pada 5 poin berikut: carrier, love, sex, spiritual, financial. Kok cuma 5 poin sih? Katanya kompleks! Hey, 5 poin ini mencakup hal yang lebih kompleks lho! Let me explain them…

  1. CARRIER

Sebagian besar pria sudah menuntaskan pendidikannya di usia 20an, entah itu sampai jenjang kuliah atau SMA. Otomatis sesudah itu kita butuh kerja. Emang mau disuplai terus sama orang tua? Kalau ortu kamu kaya sih ya ra popo. Tapi kalau ortu kamu bukan orang berada, emang gak kasihan minta dikelonin mulu sama mereka. Mandiri dong bro! Yang pasti usia 20an adalah gerbang pertama kita dalam memasuki dunia kerja. Dan hal pertama yang harus kamu lakukan adalah kamu harus tentuin dulu pekerjaan impian kamu. Mau jadi apakah kamu? Mau jadi bos, dokter, seniman, pengusaha atau jadi pembantu? Hehe. Oke mungkin terkadang pekerjaanmu  gak sesuai dengan yang kamu impikan. But it’s alright, terkadang pengalaman itu memang pahit. Anggap saja itu sebagai test drive yang akan menuntun kamu ke jenjang berikutnya. Mungkin kalau ada kesempatan, kamu bisa mewujudkan karir impianmu suatu hari nanti. Terlebih kalau kamu memang sudah punya bakat, skill atau basic pendidikan yang sesuai dengan karir impianmu. Yakinlah kalau sudah berusaha, Tuhan pun akan memberikan jalan.

Dunia kerja bagaikan dunia rimba. Ini bukan omong kosong lho! Ini berdasarkan pengalaman saya pribadi. Saat kamu memasuki dunia kerja, kamu tidak hanya berhubungan dengan pekerjaan kamu, tapi kamu juga otomatis berhubungan dengan orang-orang yang ada dalam pekerjaanmu itu. Ada atasan, rekan kerja, klien, konsumen dan sebagainya. Setiap profesi tentu berhubungan dengan masing-masing orang yang berbeda. Misalnya saya ini, yang notabenenya hanya karyawan swasta biasa. Saya tentunya akan selalu berhubungan dengan atasan atau rekan-rekan kerja saya. Dan tentunya atasan atau rekan-rekan kerja saya itu memiliki karakter yang berbeda-beda. Semua orang itu tentu gak akan selalu baik semua. Mungkin kamu akan ketemu sama atasan yang galak, rekan kerja yang mau enak sendiri atau rekan kerja yang suka cari muka. Sadarlah orang-orang seperti itu memang benar-benar ada. Kalau kamu tidak mempersiapkan diri sebelum memasuki dunia kerja, mungkin kamu akan langsung mental duluan. Kamu harus memiliki semacam antibody dalam menghadapi orang-orang seperti ini.  Jangan biarkan dunia kerja membutakan dirimu sehingga kamu menjadi orang yang sama sekali bukan dirimu. Well, niat kita bekerja bukanlah buat cari musuh, tapi buat cari uang. Kalau mau cari musuh mah tinggal gebukin tetangga sebelah aja. Oke, setiap orang mungkin punya ambisi. Tapi ambisi juga gak harus sampe segitunya juga kali! Masa cuma mau naik jabatan aja sampe gontok-gontokan sama rekan kerja, emang kamu gak yakin sama kualitas kerja kamu sendiri. Kalau kamu sudah berusaha bekerja sebaik yang kamu bisa, saya rasa kamu akan mendapat imbalan yang setimpal. Gak perlu cari muka di depan atasan atau berkompetisi secara gila-gilaan dengan rekan kerja. Dunia kerja memang seperti rimba, tapi ingat kamu ini manusia, bukan singa. Bekerjalah secara manusiawi dan tidak perlu saling memangsa. Pahami tujuanmu kenapa kamu harus kerja. Tentu kamu gak mau kehilangan pekerjaanmu hanya gara-gara pola pikirmu yang terlalu buas. Nyari kerja itu susah lho, gak sesusah nyari dosa hehe. Jadi, siapkanlah dirimu secara matang. Bekerja tidaklah selalu dengan otak atau tenaga, tapi juga dengan nurani, bukan dengan Nuraeni yah aha! Cuma kamu yang bisa menentukan karirmu. Ini demi masa depan kamu juga lho. Ingat, karir merupakan modal dasar utama seorang pria. Kalau kamu cuma berleha-leha, dijamin kamu gak akan bisa hidup lama.

“A carrier with a venereal disease can have many partners, but only those whose mental and physical immune systems are weak will be susceptible to it.” — Louise L. Hay

  1. LOVE

Well, everyone knows about this? Cinta. Yup. We need love. Ketika menginjak usia dua puluhan, tentunya kita harus lebih dewasa dalam membina suatu hubungan. Bagi yang single, tentu harus lebih selektif dalam mencari pasangan yang tepat. Kita sudah bukan anak remaja lagi. Gak ada lagi yang namanya cinta monyet. Seperti apa yang dikatakan Kakek Charles Darwin, monyet (atau kera) telah berevolusi jadi manusia hahaha. Begitu pun dengan cinta. Cinta merupakan sesuatu yang sangat ilmiah. Setiap otak kita perlu apa yang disebut sebagai hormon oksitosin, semacam hormon kebahagian yang akan disekresi ketika kita sedang jatuh cinta. Meski sama-sama melepas oksitosin, jatuh cinta dan orgasme jelas berbeda. Jatuh cinta dan hubungan percintaan tentu bukan hanya soal urusan fisikal. Dan saya akui, memiliki pasangan merupakan suatu cara untuk bahagia. Siapa sih yang gak ingin dicinta dan mencintai. Ini sangat alamiah sekali. Dan tujuan utama kita memiliki pasangan adalah untuk bahagia. Tapi tentu kita tahu, 100% bahagia dalam asmara itu sangat mustahil sekali.

 “We accept the love we think we deserve.” ― The Perks of Being a Wallflower

Ok, saat kita jatuh cinta, kita berpikir kita berhak mendapatkan cinta tersebut. Tapi seperti yang sudah saya katakan tadi, cinta merupakan suatu hal yang ilmiah, tapi cinta juga bukanlah suatu hal yang bisa dinilai secara eksakta. Hukum aksi reaksi seperti yang dikemukakan oleh Isaac Newton tidak berlaku dalam sebuah hubungan asmara. Gak semua rasa cinta kamu bakal dibalas dengan cinta juga. Isn’t it fair? Yup, we know it. Dan di umur yang sudah makin dewasa ini, kamu harus semakin faham akan segala konsekuensinya. Well, relationship is a beautiful bullshit. Menjalani sebuah hubungan adalah satu-satunya cara untuk memahami arti hubungan itu sendiri. Saya pikir proses pendewasaan hubungan percintaan itu bisa dilakukan hanya dengan menjalani proses hubungan percintaan itu sendiri. Jadi, jalani saja bro!

Dibutuhkan keseriusan lebih dalam membina suatu hubungan percintaan. Gak cuma asal nembak terus putus, broken heart and then galau. Sudah cukup untuk bereksperimen dengan hati wanita. Hati wanita itu bukan ati empela! Dan sepertinya kita pun dituntut untuk lebih mengerti akan mereka.

Wanita, ya wanita. Bagaimana pun memang sangat sulit untuk memahami makhuk penghasil estrogen itu. All the girls  always have a mystery, and sometimes the boys don’t understand about them. Wanita itu memang istimewa, tapi terkadang kita tak tahu banyak tentang dunia mereka.

Beberapa diantara kita banyak yang membina hubungan lebih baik saat menginjak usia 20an daripada saat remaja. Beberapa di antaranya bahkan sudah berani membuat keputusan untuk menikah, membina rumah tangga dan menjadi ayah. Oke, saya gak akan bicara soal pernikahan sekarang. Pernikahan merupakan sesuatu yang rumit dan saya belum seratus persen faham tentang hal itu. Saya rasa, wanita pada usia ini juga akan berpikir kompleks sama seperti kita. Mereka mengharapkan suatu hubungan yang lebih dari sekedar cinta-cintaan atau sayang-sayangan. Mereka butuh komitmen yang jelas. Dan pertanyaannya adalah, apa kita mampu memenuhi komitmen itu? Hmm.. is it hard? Maybe yes, maybe not. Or maybe we don’t know about that shit. Kebanyakan pria lebih memilih bersikap santai mengenai hal ini. Mereka lebih memilih menjalani suatu hubungan tanpa beban. Well, sebenarnya ini bagus. Tapi suatu hubungan memerlukan tujuan. That’s right.

Berpasangan adalah suatu hal yang naluriah. Setiap manusia dikodratkan untuk jauh dari kata sempurana. Setiap manusia diciptakan untuk saling melengkapi, dan inilah fungsi utama pasangan. Ada suatu kaidah yang berbeda antara istilah pacar dan pasangan, girlfriend or partner. Saya pribadi lebih nyaman dengan istilah pasangan. Menurut saya istilah itu terkesan lebih dewasa. Ini cuma pendapat saya pribadi lho. So, buat para pria single seperti saya, mari kita mencari pasangan yang tepat untuk kita.  We need a partner to share our heart and our life. Someone who can understand who the hell we are, someone special. Can we find her?

“In my opinion the best thing you can you do is find a person who loves you for exactly what you are. Good mood, bad mood, ugly, pretty, handsome, what have you, the right person will still think the sun shines out of your ass. That’s the kind of person that’s worth sticking with.” — Juno

Sebuah kutipan kocak dari salah satu film favorit saya, Juno. Tapi kutipan itu bener banget. Someone who you love must know anything you hate. Seseorang yang akan selalu mencintaimu bahkan saat saat kamu sedang bad mood atau saat kamu sedang kena bisul di pantat. So sudahkah kamu bertemu dengan pasangan hatimu? Let us find love!

  1. SEX

Yup sex! Oh come on, tidak perlu munafik! Kita tahu seks akan selalu ada dalam kepala pria muda seperti kita-kita ini. Menginjak umur 20an merupakan suatu tolak ukur kalau kita telah matang secara seksual. And we need sex! Yeah everybody knows, but it’s just in our mind. Sex bukanlah hal yang tabu selama kita membicarakannya dalam koridor ilmiah. Sex is a scientific thing. And we need to educate ourself about it.

Seks bagai semacam doping di otak kita. Tidaklah heran kalau banyak pria di usia ini yang ngebet pengen nikah muda. Kalau sudah siap, ya gak apa-apa sih. Tapi gimana dengan pria single atau pria yang sudah berpasangan tapi belum hendak menikah. Well, saya tidak menganjurkan free sex untuk kamu-kamu semua. Sebagai bangsa yang berbudaya timur, saya rasa free sex bukanlah solusi yang tepat untuk kita. So what about masturbating, fetish, jerking off or wanking? Hahaha those are so funny! Saya tidak menganjurkan ataupun menolak. Itu terserah kamu. Yang pasti seks harus dilakukan secara bertanggung jawab.  Bagaimanapun seks itu merupakan salah satu anugerah terindah yang diberikan Tuhan untuk manusia. Ya, manusia. Dan manusia beda dengan hewan. Camkan itu!

So, terus kita harus bagaimana? Sebenarnya ini merupakan sesuatu yang sangat mendasar. Kita harus melakukan apa yang disebut sebagai manajemen hormonal. Oh come on, our life is not only about sex right? Selain kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual, kamu juga harus memiliki kecerdasan seksual. Kamu harus mengenal dan bertanggung jawab terhadap tubuh kamu sendiri. Kamu harus bisa menaklukan naluri birahi kamu sendiri. Salah satu alasan kenapa banyaknya fenomena kehamilan di luar nikah di usia muda adalah karena mereka menganggap seks hanya sebagai insting dan spontanitas. Mereka tidak berpikir kalau seks adalah sesuatu yang sangat ilmiah. Ingat gak sama pelajaran Matematika tentang peluang dan kemungkinan? Dari sekian juta sel sperma yang meluncur menuju ovarium, kemungkinan besar beberapa diantaranya berhasil berpapasan dengan ovum. Besar kemungkinan kehamilan dalam setiap hubungan seks itu sangat tinggi sekali. Apalagi di masa-masa usia produktif seperti kita-kita ini. Fahami resikonya dong bro, jangan cuma asal enak aja. Remember! We’re not fucking animal! Kita ini bukan hewan yang bisa melakukan have sex sesukanya saat musim kawin tiba. Educate your self and educate your penis! LOL! Jangan cuma asal tembak saja. Setiap akibat pasti ada pula sebabnya. Kalau kamu gak mau acara kencan kamu menjurus ke arah hubungan seksual, ya jangan ngelakuin hal-hal yang bisa menjuruskanmu ke arah sana. Pacaran sewajarnya saja. Cukup pegangan tangan, jangan pegangan pangkal paha. Boleh ciuman sesekali, asal jangan ciuman sambil menggerayami. Boleh duduk berdekatan, asal jangan kebablasan. Berkencanlah secara bijak. Jangan biarkan otakmu dibajak. Dan bila kamu masih terus berpikir tentang seks? Just take some activities! Lakukanlah kegiatan posistif daripada sekedar berimajinasi soal Miyabi, Sasha Grey atau Asa Akira. Lho mereka itu siapa ya? Hehe. Lakukan kegiatan berguna seperti manjat pohon kelapa atau mengembala domba misalnya. Enggak deng bercanda hehe. Pada dasarnya sisi erotis dalam diri kita itu tergantung kitanya juga. Oke, kamu mungkin boleh bergaul dengan pornografi sesekali. Well it’s not really bad. Tapi jangan keseringan! Bergaul dengan pornografi itu sungguh sangat tidak keren bro! Inget efek sampingnya! Seorang pria sejati bukan hanya sekedar makhluk penghasil sperma. Seorang pria sejati adalah seorang pria yang nyaman dengan seksualitasnya dan tahu cara menggunakan serta mengontrolnya. Sadarlah, hormon testosteron akan selalu ada dalam tubuh kita sampai kita mati. Dan libido akan selalu datang bagai tukang bakso yang selalu berdagang keliling kampung setiap hari. Berdamailah dengan seksualitas yang ada dalam diri kamu. Jangan anggap hal itu sebagai sebuah beban utama. You don’t have to get an orgasm to lift your life up. Just take it easy! Sex isn’t terrible, so just thinking simple.

“Sex is a part of nature. I go along with nature.” — Marilyn Monroe

  1. SPIRITUALITAS

Sebenarnya poin ini harusnya ada di posisi utama. Tapi saya sadar materi adalah hal yang paling banyak memenuhi otak pria. Bahkan terkadang menyisihkan apa yang disebut sebagai sisi spiritual yang seharusnya mendapat porsi lebih di otak kita. Spiritualitas yang saya bicarakan di sini bukanlah hanya soal agama. Saya tidak menyuruh kamu buat jadi orang religius. Toh saya juga bukan orang religius kok. Saya bicara spiritualitas dalam arti universal. Spiritualitas adalah sebuah tatanan pikiran, sebuah pedoman hidup yang akan menuntunmu ke arah yang lebih baik. Semacam lampu pijar yang ada di kepala kamu yang akan menuntun jalan hidupmu. Oleh karena itu kita perlu spiritualitas sebagai pegangan hidup kita. Seseorang yang dewasa adalah seseorang yang tahu akan sisi spiritual dalam dirinya. Dia tahu apa arti eksistensi dirinya saat hidup di dunia. Dia sadar akan tujuan hidupnya, apa yang harus ia lakukan, bagaimana cara berinteraksi dengan sesama, membedakan mana yang baik dan yang buruk dan definisi kaidah-kaidah hidup lainnya. Jadi, inilah yang harus kita cari! Spiritualitas! Inilah saatnya kamu menggunakan kecerdasan spiritualmu. Untuk kamu yang religius mungkin bisa mencarinya dalam agama yang kamu anut, untuk yang merasa tidak religius, kamu bisa mencarinya secara bebas dalam kaidah kehidupanmu sehari-hari. Sepertinya terdengar abstrak, tapi memang itulah spiritualitas. Spiritualitas bukan hanya sekedar hubungan kita dengan Sang Pencipta. Spiritualitas bukanlah sesuatu yang mistis. Spritualitas bukan hanya membicarakan keimanan atau kehidupan di akhirat kelak. Spiritualitas bukan hanya soal ritual peribadatan.

Seperti yang saya bilang, saya bukanlah sosok yang terlalu religius. Jadi orang religius emang oke, tapi gak semua orang religius bisa bersikap kece. Mentang-mentang religius lalu kamu bisa menjudge orang sesukamu. Mencampuri urusan orang yang tentu saja bukan urusanmu. Berlagak kalau kepercayaan yang kamu anutlah yang paling benar dan semua orang yang “berbeda” menurut kriteriamu lalu dijudge salah. Hmm… sebenarnya kamu ini manusia bukan sih? Gak nyadar kalau setiap manusia itu berbeda? Mentang-mentang kamu merasa benar lalu kamu bisa dengan mudahnya menyalahkan orang lain. Hey, hidup ini bukan cuma untuk kamu doang! Semua orang di sekitarmu juga hidup dan mereka memiliki isi pikiran yang berbeda-beda. Jangan diseragamkan! Oke, setiap orang tua mungkin menginginkan anaknya supaya jadi orang sholeh. Orang sholeh diibaratkan sebagai orang sempurna yang punya kecerdasan spiritual tinggi. Terus kalau gak sholeh bagaimana? Apa jadi orang yang “tidak sholeh” itu salah? (mohon maaf bila ada pembaca yang bernama Sholeh, saya sama sekali tidak berniat menyinggung anda hehe). Hey, hidup ini gak selalu harus mainstream kali! Ada banyak sekali orang baik di dunia ini dan mereka tidak memenuhi kriteria sebagai orang sholeh. Tapi anehnya mereka mampu bersikap sama bijaksana atau bahkan lebih bijaksana dari orang sholeh. Alright, mungkin orang yang sholeh atau religius akan selalu dianggap memiliki kehidupan spiritual yang mapan, tapi jangan anggap kalau orang-orang yang tidak memenuhi kriteria sholeh tidak memiliki kehidupan spiritual yang sama mapan. Everyone can take the lead of their soul.

“Enlightened leadership is spiritual if we understand spirituality not as some kind of religious dogma or ideology but as the domain of awareness where we experience values like truth, goodness, beauty, love and compassion, and also intuition, creativity, insight and focused attention.” — Deepak Chopra

Seseorang yang punya kehidupan spiritual yang mapan tentu akan memiliki pola pikir yang lebih dewasa. Ia tentu akan bisa menghadapi setiap masalah hidupnya dengan lebih bijaksana. Setiap masalah gak bisa diselesaikan hanya dengan adu bacot atau adu otot. Mentang-mentang mau dibilang perkasa, terus kamu bisa adu otot sesukanya. Emang kamu ini Mike Tyson? Ayolah, kamu punya otak kan? Kamu bisa berpikir dengan kepala dingin. Sikap emosinal atau temperamental bukanlah hal yang patut kamu pamerkan. Ingatlah kalau setiap orang akan selalu menilai sikapmu. Tapi bukan berarti pula kamu harus jaga image melulu. Kamu hanya perlu mengontrol diri. Hidup gak akan selalu lurus. Kita tahu itu. Ada kalanya kita hepi, ada kalanya kita marah, sedih atau bahkan galau. Kalau kamu bisa mengontrol diri dan sudah faham dengan sisi spiritual kamu, saya rasa kamu akan tahu cara yang tentunya lebih baik dalam menghadapi naik-turunnya hidup kamu. Well, life is a timeless learning. Ketika kita menyadari arti diri secara batiniah, maka kita sudah menaikan kualitas dunia spiritual kita. Merenungi diri secara kritis dan memahaminya sebagai suatu kesatuan individual yang kompleks akan membuatmu lebih tenang dalam menentukan haluan hidupmu. Berusahalah untuk selalu bersikap bijak. Benar-benar bijak bukan hanya sok bijak atau berlagak bijak lewat meng-copy paste kutipan bijak di social media.

“Happiness cannot be traveled to, owned, earned, worn or consumed. Happiness is the spiritual experience of living every minute with love, grace, and gratitude.” — Denis Waitley

  1. FINANCIAL

Ngomongin financial, pastinya ngomongin duit. Tiap manusia butuh duit, termasuk pria-pria muda kayak kita ini. Saat kita sudah memasuki dunia kerja, tentu kita sudah punya penghasilan sendiri. Yup kita sudah bisa menghasilkan uang a.k.a, duit. Makin nambah usia, makin nambah pula kebutuhan hidup. Sebagai pria lajang yang masih belum nikah, tentu kamu belum punya tanggungan sebesar pria-pria yang sudah menikah. Tapi anehnya, entah kenapa justru pria-pria lajang yang cenderung lebih boros. Oke mungkin untuk pria yang sudah menikah, mereka punya isteri yang sekaligus bisa jadi manajer keuangan pribadi. Tapi tetap saja bro, kebutuhan mereka itu lebih gede. Beli kebutuhan sembako, bayar tagihan listrik, beli susu dan lain-lain. Sedangkan kita, apa coba? Mungkin ada sebagian pria lajang yang juga menjadi tulang punggung keluarganya. Mungkin kita bisa kesampingkan hal itu. Tapi banyak pula pria lajang yang hidup mandiri tanpa tanggungan, tapi boros dalam soal keuangan. Apakah kamu termasuk salah satunya? Hmm.. tidak tahu kenapa, hal macam ini memang selalu ada. Pria-pria usia 20an cenderung belum bisa mengatur keuangannya secara bijaksana. Saya akui itu. Ok, di usia 20an seperti kita ini adalah masa yang tepat untuk memuaskan diri. Ingin beli itulah, beli inilah. Ingin main ke sana ke mari. Pokonya puas-puasin diri sepuasnya. Saya akui hal ini sebagai gejolak kawula muda. Tapi kita gak akan selamanya muda lho! Emangnya kita ini vampir? (langsung berlaga sok cool ala Edward Culen hehe).

Jangan Cuma bisa ngabisin uang sesukamu. Ingat masa depanmu bro! Emangnya kamu ingin nelangsa di hari nanti. Kamu harus bisa mengatur keuanganmu pribadi. Tapi bukan berarti pelit lho. Cowok pelit kelaut aja masbro! Ingatlah, kamu telah bekerja keras untuk mendapatkan uangmu itu. Terus apa kamu gak sayang ngabisin uangmu sampe kerak-keraknya. Kamu gak perlu berkonsultasi sama ahli keuangan profesional. Menurut saya, setiap manusia sudah berevolusi sejak zaman purba menjadi ahli keuangan secara naluriah. Tak ada satupun manusia modern di dunia ini yang tidak pernah bersentuhan dengan uang. Maka kita dituntut harus bisa mengaturnya. Dan kita bisa mengaturnya sendiri tanpa perlu bantuan orang lain.

Dari sekian banyak kebutuhan kita, pasti ada beberapa kebutuhan yang menjadi prioritas. Kalau bisa, ya emang seharusnya bisa sih. Kalau bisa sisihkan penghasilanmu untuk ditabung. Atau kalau kamu emang bener-bener serius sama finansial masa depanmu, kamu bisa mulai belajar berinvestasi secara kecil-kecilan. Yang pasti kamu harus menyisihkan sebagian penghasilanmu. Kamu punya impian masa depan kan? Ada yang pengen nikah, beli rumah, ngelanjutin kuliah atau mungkin pengen buka usaha. Kamu juga gak selamanya dalam keadaan sehat. Adakalanya kamu sakit atau kena musibah, seperti kecelakaan misalnya. Well, semua itu bisa terjadi secara tak terduga dan semua itu membutuhkan biaya. Minta sama orang tua aja! Emang gak malu? Kamu itu sudah gede masbro. Gak malu sama buah jakun segede bola pingpong di lehermu? Masa apa-apa langsung ngibarin bendera putih sama ortu. Kamu juga gak mau kan pinjam sana-sini demi menutupi biaya-biaya tak terduga ini. Bisa-bisa kamu bangkrut. Inilah gunanya kalau kamu bisa menyisihkan penghasilan. Meskipun mungkin gak sebesar seperti yang diharapkan, tapi minimal bisa menutupi sebagian dari biaya kondisi-kondisi ungent seperti di atas.

Jangan mau diperbudak uang. Kamu yang menghasilkan uang, maka kamu sendiri yang mempunyai otoritas penuh atas uangmu (silakan cek postingan lama blog saya yang menjelaskan hal ini). Kita ini masih muda bro. Hidup kita masih panjang –anggap aja memang begitu. Jangan sia-siakan begitu saja rupiah yang kamu hasilkan dari jeri payahmu. Kamu harus bisa menaklukan isi dompetmu. Otakmu adalah sebuah kalkulator alamiah. Gunakanlah otakmu untuk mengatur kehidupan finansialmu.

“Greed is not a financial issue. It’s a heart issue.” — Andy Stanley

 

Okay, that’s all! Itulah 5 poin penting yang selalu ada dalam kehidupan pria-pria umur 20an seperti kita. Carrier, love, sex, spiritual and financial. Kompleks dan penuh lika-liku memang, tapi ya emang beginilah adanya. There’s a lot of thing inside of our head. Ada banyak hal yang harus kita jalani dan pelajari. Ada jutaan ekspektasi, ribuan mimpi dan miliaran masalah yang akan datang silih berganti. Ada suka, duka, canda, tawa tapi saya harap kamu tidak cengeng karena kamu ini seorang pria. Jadi sekarang tergantung kamu masbro! Bisakah kamu memenuhi poin-poin di atas itu? Well, gak usah terlalu terburu-buru juga sih. Enjoy aja, jangan merasa terbebani. Enjoy tapi terarah ya! Nikmati masa mudamu dengan bijaksana. Hidup Cuma sekali, muda juga sekali. Kamu gak akan ketemu sama masa mudamu lagi. Marilah mulai belajar menjadi pria dewasa, bukannya malah jadi pria yang hobi nonton film dewasa. Berumur dua puluhan bukanlah soal nilai angka. Twenties is not about 20s. We’re always growing up. And all grown up absolutely! So grow your brain and your heart too, young gentlemen! You are 20 young gun!! You’re not 20 young dumb! 🙂

Iklan