Posts Tagged ‘Kreatifitas’

image

Gak terasa tahun 2016 udah nongol aja. Melihat postingan saya yang terakhir, rasanya sudah berabad-abad lamanya saya tidak menggauli dashboard blog ini. Setelah menonton sebuah TV series keren yang berjudul Mr. Robot, tiba-tiba saya dapet ilham buat nulis postingan ini. Bukan karena saya mau mereview TV series atau ngebahas dunia hacking yang jadi jalan cerita utama serial itu. Saya gak bisa hacking, saya bisanya cuma wanking alias masturbasi masbro hehe. Ups.. bukan maksud saya buat ngomongin jorok ya! Just kidding. Well, saya jadi terinspirasi nulis tulisan ini karena si tokoh utamanya mempunyai kemiripan psikologis seperti saya. Eliot, sang tokoh utama, ternyata dia seorang introvert yang sering terjebak dalam kecemasan sosial. Ia punya semacam alter ego dalam dirinya yang sering ia ajak bicara. Ia punya semacam teman atau tokoh khalayan yang selalu ada dalam kepalanya. Damn! That’s me bitch! Haha

Apakah kamu punya sesosok lain dalam diri kamu yang sering kamu ajak bicara meski cuman dalam hati. Atau paling tidak kamu suka ngomong sendiri sama pikiran kamu? Itulah yang saya alami sepanjang hidup saya. Saya punya semacam kebiasaan aneh yang selalu menemani keseharian saya. Kepala saya selalu ramai oleh suara-suara geje yang saling bersahutan. Mungkin ada dari kamu yang juga punya kebiasaan yang sama seperti saya. Manusia selalu bicara dengan dirinya sendiri, cuma bedanya ada yang cuma sesekali, ada juga yang tingkatnya udah paripurna kaya saya. Tapi bukan gila ya! Amit-amit bro hihi..

Tiap manusia sudah ditakdirkan untuk bisa berdialog dengan dirinya sendiri. Bolehlah kita sebut sebagai anugerah. Saya tidak tahu gimana dengan makhluk hidup lain. Bagi saya, bicara pada diri sendiri sudah jadi tradisi pribadi. Ketika susah, senang, bosan, I always talk with my self. Sepertinya orang-orang yang ada di rumah sudah akrab dengan habits saya yang ganjil ini. Sudah sering ibu saya memergoki saat saya sedang bicara sendiri sambil jalan bolak-balik di kamar meskipun kebanyakan saya cuma bicara dalam hati. Pun begitu dengan bapak saya. Sepertinya ia sudah tahu kalau anaknya emang sedikit gila hehe. Mereka sudah tahu kebiasaan saya ini sejak lahir. Saya suka ngomong sendiri hao hakeng sewaktu masih bayi. Ya iyalah… semua orang juga gitu keles!! Di saat anak lain sibuk main dengan teman-teman sebaya, saya suka asyik bermain sendiri di halaman belakang dengan segudang imajinasi absurd di kepala saya. Halaman belakang ibarat panggung teater bagi saya. Aciye.. teater! Lebay banget bos! Hehe tapi emang bener sih, saya bisa bermain seharian berbagai macam peran seorang diri. Ketika saya tidak puas dengan jalan cerita sebuah film atau kartun yang sudah saya tonton, saya akan membuat jalan cerita lain dan memerankannya seorang diri di halaman belakang saya yang sempit. Terkadang saya sampai lupa waktu untuk main dengan teman-teman saya yang lain. Bermain ngomong sendiri dengan berbagai macam kepribadian memang sangat menyenangkan waktu itu. Mungkin seharusnya saya jadi aktor Hollywood. Bisa nyaingin Johnny Depp nih! Wuihhh.. mantap! But well, ada kalanya saya berpikir kalau saya mungkin saja beneran gila. Saya takut mengidap salah satu gejala skizofreinia. Amit-amit ya ahli kubur. Saya bersumpah masih waras. Saya masih bisa membedakan mana jus stroberi, mana sambel terasi. Saya masih punya rasa malu buat telanjang bulat jalan santai kaya model catwalk sambil ketawa-ketiwi mekimeki hihihi. Saya pastikan otak saya masih normal, meski kadang geser dikit sesekali. Saya juga sempat khawatir kalau saya punya semacam bipolar disorder karena saya sering kali mendapati diri saya terbagi dalam dua emosi yang cukup signifikan sewaktu lagi ngomong sendiri. Tapi saya akui saya sangat menyukai kebiasaan saya ini. Saya jadi gak pernah ngerasa kesepian. Cukup ngefek buat saya. Apalagi buat para single yang sudah terbiasa hidup sendiri menahun selama beratus-ratus tahun seperti saya ini (Ehm.. gak usah curhat kali ya!).

Well, ibarat cowok single yang kadang butuh masturbasi untuk memuaskan diri, bicara pada diri sendiri juga punya efek yang sama. Bukannya saya ngeles karena gak mau dibilang gila, tapi ini emang bener adanya. Karena saya tertarik untuk ngebahas soal ngomong sendiri, saya jadi tertarik buat nyari berbagai informasi mengenai #SelfTalk ini. Menurut beberapa sumber yang saya baca, telaah dan saya telanjangi, ternyata ngomong sendiri itu cukup bermanfaat juga lho. Berikut adalah beberapa sisi positif dari Self Talk.

1. Self talk bisa membuat otak bekerja lebih efisien.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam Quarterly Journal of Experimental Psychology menunjukkan bahwa orang yang mengulang nama benda yang sedang mereka cari bisa membuat apa yang dicari lebih cepat ditemukan daripada yang diam saja. OMG bener banget! Meski kadang benda itu ketemunya belakangan hehe. Studi tersebut menjelaskan kalau mengulangi kata-kata dengan suara keras memercikan memori mengenai benda yang dikenal, membuat mereka lebih mudah terlihat dan ditemukan. Cukup logis juga sih. Meski nyari barang yang hilang itu bener-bener menyebalkan. Apalagi nyari cinta yang hilang? Fuck men… udah deh 😦

2. Pembelajaran anak-anak.
Ok, mungkin saya bukan anak kecil lagi tapi saat masa anak-anak, khususnya balita adalah masa di mana mereka lagi asyik-asyiknya bicara. Mereka suka niru orang dewasa bicara. Meski nggak selamanya bagus, seperti saya yang sudah tahu kata-kata kotor sejak berumur 5 tahun (Ironis ya bro!), namun dari aktivitas tersebut mereka bisa belajar infeksi vokal, kosakata, dan sintaks dengan mendengarkan dan mengulangi apa yang orang katakan. Hmm ok juga…

3. Mengorganisir pikiran.
Terkadang dalam keadaan tertentu atau dalam mobilitas tinggi, membuat pikiran kita dipaksa pula untuk kerja cepat. Jika dibiarkan, isi pikiran yang campur aduk di dalam kepala bisa menjadi nasi goreng campur nasi uduk di tambah mi tek tek sambel terasi cabe busuk. Yaik! Tapi dengan bicara pada diri sendiri diyakini bisa membantu kita memprioritaskan “big things” yang berpengaruh dalam setiap permasalahan yang sering kita temui dalam hidup. Hal ini juga membantumu menyadari hal-hal kecil namun signifikan bagi hidup kamu. Kamu bisa dengan leluasa membicarakan pemikiran-pemikiran yang ada di kepala kamu sehingga kamu bisa lebih memahami dunia sekitar dan bisa berpikir lebih bijak.

4. Membuatmu mencapai tujuan.
Bicara sendiri terkadang membuatmu berpikir kritis terhadap apa yang akan kamu lakukan. Terkadang sebelum melakukan sesuatu, saya bicara pada sendiri dulu dan menaksir apa maksud dan tujuan dari apa yang saya lakukan itu. Mungkin bisa dibilang banyak mikir hehe. Tapi itu cukup membantu. Saya jadi faham apa yang harus saya lakukan serta memahami tujuannya sehingga saya bisa berusaha semaksimal mungkin agar tujuan itu tercapai. Meski sering ujung-ujungnya gagal sih. Huff….

5. Meringankan stres.
Oh yes, stress! Ketika lagi stress, saya cenderung lebih banyak bicara pada diri sendiri. Dan ini ada sisi positifnya. Dengan self talk bisa memungkinkan kamu untuk mengatur pikiran dan memprioritaskan kewajiban yang harus kamu kerjakan, sehingga pikiranmu nggak menumpuk, dan berusaha menaksir apakah waktu yang kamu punya cukup untuk menyelesaikan semua stresmu itu. Kamu bisa jadi lebih rileks dan mampu mengikuti arus hidup yang terus berjalan. Selain itu, berbicara kepada diri sendiri akan membantumu mempersiapkan diri untuk masa-masa sulit dalam hidup dengan keberanian dan kepercayaan diri. Cuma kamu yang tahu gimana caranya menghilangkan stressmu. Ingat itu!

6. Membangun kemandirian.
Bicara pada diri sendiri membuatmu lebih bijak dalam pemecahan masalah. Yeap! Saya harap ini benar! Jika orang lain saat ada masalah pergi ke teman untuk bercerita, orang-orang yang suka bicara sendiri dianggap mampu menganalisis situasi dan memiliki kesimpulan tanpa arahan dari orang lain. Berbicara kepada diri kita sendiri, membuat kita mendengarkan suara hati, dan menemukan apa yang benar-benar inginkan. Hmmm bener gak ya? Tapi bener juga sih. Saya ini termasuk orang yang tertutup sehingga sangat mustahil bagi saya untuk mengeluarkan uneg-uneg saya kepada orang lain. So #selftalk works for me 🙂

7. Menjadi motivator pribadi
Yes, ini bener banget. Terutama jika kamu menggunakan kata ‘kamu’ kepada diri sendiri, misalnya ‘Kamu pasti bisa bitch! Hehe’. Dr. Sanda Dolcos, peneliti dari University of Illinois di Urbana-Champaign mengatakan, “Bicara dengan diri sendiri menggunakan kata kamu membuka pikiran seseorang terhadap perspektif yang lebih luas, seolah-olah ada orang lain yang ikut bicara menyemangati Anda.” We are the great motivators of our self!! Sorry ya Om Mario Teguh.

8. Imajinatif
Yep, salah satu faktor kenapa saya suka self talk adalah imajinasi yang ada di kepala saya. Menurut beberapa sumber. imajinasi memang sangat penting bagi otak. Meskipun terkadang imajinasi saya absurd, tapi karena imajinasi saya jadi merasa tidak sendiri. Saya suka bercakap dalam hati ketika dihadapkan pada segala sesuatu di depan saya dan terkadang hal itu bisa menjadi imajinatif. Dunia terasa sangat menyenangkan ketika kita melihat segala sesuatu secara berbeda. Saya juga harus berterimakasih terhadap imajinasi saya itu. Karena imajinasilah saya jadi suka lama nongkrong di kamar mandi. Ngapain aja hayoh di kamar mandi? Hehehe….

9. Mengeksplorasi Kreativitas
Bisa jadi! Imajinasi dan kreativitas tak bisa dipisahkan. Harus diakui ketika saya punya suatu ide, saya selalu bicara pada diri dan mengolah ide tersebut agar bisa diaplikasikan secara sempurna. Terkadang saya harus berdebat dulu untuk mengaplikasikannya. Suara-suara di kepala saya ini sangat membantu ketika saya dihadapkan pada suatu masalah yang menuntut kreativitas sebagai penyelesaiannya.

10. Indikasi kecerdasan
Mmm kalau yang ini kayanya kurang tepat buat saya… meski katanya bicara sendiri merupakan indikasi IQ tinggi. Saya pikir IQ saya biasa-biasa aja sih. Gak bodo-bodo amat, gak printer-pinter amat. Mungkin bodonya lebih dikit sih hehe. Tapi gak apa-apa sih. Yang penting masih bisa ngitung 12 tambah 5 dan masih bisa berpikir cemerlang ngitung defisit gajian di akhir bulan yang kadang menyesakan hati dan kepala. Huff…

Well, itulah sebagian point-point positif dari self talk yang saya ambil dari berbagai sumber. Cukup keren kan? Lumayan juga sih.

Ketika kamu tak punya orang lain yang bisa dijadikan teman untuk bersandar, kamu masih punya diri kamu sendiri. Teringat akan dongeng Puteri Salju dengan si Ratu Jahat yang suka bicara sendiri dengan cermin ajaib. Persetan dengan cermin ajaib! Kamu punya cermin dalam diri kamu sendiri. Hidup ini seperti masturbasi (Masturbasi lagi.. masturbasi lagi… gak ada analogi lain apa?) hanya kamu yang bisa memuaskan dirimu sendiri ketika orang lain hanya bisa meremehkanmu, menjudge dan mencaci maki. Aciye.. bener banget mekimeki!

So buat kamu yang suka ngomong sendiri, kamu gak sendiri. Kamu bebas bicara apa aja dengan diri sendiri. Isi kepala kita lebih luas dari alam semesta dan kamu bisa mengeksplornya sesukamu. Dan buat kamu yang jarang ngomong sama diri kamu sendiri, tak ada salahnya mencoba sesekali. Anggap saja itu sebagai terapi. Menelaah diri sendiri, mencoba menanyakan secara personal sambil bertanya, “sebenarnya kamu ini siapa sih?”. Bertanya pada diri sendiri mempunyai efek spiritual, psikologis dan filosofis. Filsuf legendaris seperti Plato, Aristoteles, Friedrich Nietzsche, Jean Paul Sartre dan sebagainya sering bicara pada diri sendiri dulu ketika membuat materi filsafat mereka. Begitu pun dengan para ilmuan handal seperti Albert Einstein, Sir Isaac Newton, Thomas Alva Edison, Stephen Hawking dan sebagainya. Mereka menghabiskan banyak waktu untuk berdialog dengan pikiran mereka demi menciptakan temuan dan teori sains terbaru. Saya pikir orang-orang yang sukses adalah orang-orang yang bisa berdialog dengan pemikirannya sendiri. Kita pun bisa mencobanya.

Seperti yang sudah saya bicarakan di atas, #SelfTalk bisa dijadikan sarana introspeksi diri. Menanyakan apa saja kekurangan dan kelebihanmu, berusaha lebih giat lagi supaya dirimu lebih berarti minimal bagi diri kamu sendiri. Cuma kamu yang tahu siapa kamu sebenarnya. Cuma kamu yang bisa menginterogasi dirimu sendiri secara gamblang. Sampai kapanpun kamu gak akan pernah bisa berbohong dengan dirimu sendiri. Oh yes we are pretty liars, we can lie to anyone else but we can’t lie to our self. That’s a fact! Just don’t be stupid because of your self 🙂

So let’s self talk and take a great walk! Jangan pernah takut untuk bicara pada dirimu sendiri. Ingat kamu tidaklah benar-benar sendiri dalam tubuh kamu sendiri. Tiap orang pasti punya sisi bijak dalam diri mereka. Talk whatever you want to talk. Keep talking and be who you are 😉

Iklan
image

Who me? Alien baby?

Am I an alien?
A strange creature or unidentified fuckin human?

Pertanyaan absurd itu selalu muncul dalam benak saya ketika masih kecil. Saya anak yang pendiam. Saya kurang bisa membaur dengan lingkungan sekitar. Saya gak suka banyak bicara. Ketika kumpul dengan keluarga besar, saya lebih senang berdiam diri di kamar. Di tengah keriuhan kelas, saya lebih sering duduk mengasingkan diri hanya dengan krayon dan kertas gambar. Saya ini sebuah paradoks. Teman-teman banyak yang menganggap saya sombong dan arogan karena dinilai tak mau bergaul dengan sesama. Tapi kenyataannya saya tidak begitu. Ini sungguh membuat saya tertekan dan membuat saya semakin terasingkan. Ini sungguh menyakitkan. Kenapa saya berbeda dari mereka? Siapakah saya? Apa saya ini makhluk asing yang turun dari planet antah berantah? Mungkinkah saya ini alien seperti yang sering saya tonton dalam film-film fiksi ilmiah?

Pertanyaan konyol itu terus berlanjut hingga saya remaja dan kini beranjak dewasa. Saya masih mengasingkan diri dari dunia luar. Saya masih begitu nyaman dengan dunia saya sendiri. Dan saya masih belum tahu siapa diri saya sampai suatu hari saya membaca sebuah artikel yang bisa menjelaskan kepribadian saya. Ya, kepribadian yang dibahas dalam artikel itu benar-benar sangat cocok dengan kepribadian saya. Introvert, itulah saya. Dan mungkin juga untuk kamu-kamu yang punya kepribadian seperti saya. Ternyata saya tidak sendiri. Ternyata saya ini bukan makhluk asing yang berasal dari planet Pandora. Ternyata saya ini memang manusia. Tapi jenis manusia langka yang konon katanya hanya ada 20% dari populasi manusia yang ada di dunia.

Kepribadian introvert adalah kebalikan dari extrovert. Satu sama lain memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Orang extrovert cenderung membuka diri sedangkan orang introvert sebaliknya. Ibarat bumi dan langit, kedua kepribadian itu membuat karakter manusia menjadi semakin berwarna. Semua saling mengisi. Semua istimewa,. Tapi kali ini saya cuma ingin membahas kepribadian yang kedua, yakni introvert. Kepribadian saya, dan mungkin kepribadian kamu juga.  

Menurut beberapa artikel studi ilmiah yang sempat saya baca, orang introvert itu cenderung mudah depresi. Sebagian diantara mereka gak bisa menerima diri sendiri. Kesendirian mereka bisa menjadi boomerang pribadi. Mereka tak tahu bagaimana cara berbagi. Mereka cenderung menyalahkan diri dan bahkan bisa berakhir dengan menghilangkan nyawa sendiri. Wuihh… serem! Jujur, saya juga sempet yang namanya depresi. Ini gila. Kita seakan ingin mengutuk diri sendiri. Kenapa sih saya dilahirkan ke dunia ini? Lebih baik saya diaborsi. Saya takut hidup sendiri. Terisolasi dari planet bumi. Bahkan saya berharap untuk diculik oleh alien ke planet lain dan tinggal di dunia yang tidak menuntut saya untuk bersosialisasi. Cuma saya yang mengerti saya sendiri. Eksistensi saya seperti sudah ditelan bumi.

Introvert itu menyebalkan? Entahlah.  Setelah saya coba googling dengan kata kunci introvert, saya banyak menemukan tulisan menakjubkan yang membahas tentang kepribadian unik itu. Banyak orang-orang keren di dunia ini yang ternyata seorang introvert. Yay, that is true!!! Bill Gates, Mahatma Gandhi, JK Rowling dan Steve Jobs adalah contohnya. Sebagian besar orang-orang introvert adalah orang-orang yang penuh kreatifitas tinggi. Pemikiran mereka adalah sebuah manifestasi. Karena mereka cenderung menutup diri, maka ide-ide yang meluncur dari pemikiran mereka cenderung lebih tereksplorasi. Meskipun mereka minim dalam berinteraksi tapi mereka sangat pandai dalam memaksimalkan bakat dan potensi yang mereka miliki. Introversi adalah sebuah investasi. Ini terbukti.

Introversion is “the state of or tendency toward being wholly or predominantly concerned with and interested in one’s own mental life”. Some popular writers have characterized introverts as people whose energy tends to expand through reflection and dwindle during interaction. (sumber : wikipedia)

Menjadi introvert bukan suatu pilihan. Jujur, saya sempat tidak mau memilih introvert sebagai jati diri saya. Tapi mau gimana lagi, wong ini udah dari sononya begitu. Biarkan orang-orang menjudge saya, saya memang begini apa adanya. Do we suck? No! Like what I said, we’re just different. Menjadi pendiam itu bukan kutukan. Kita tidak selamanya terasingkan. Ada kalanya kita cerewet dan tertawa terbahak-bahak dengan teman-teman dekat kita. Orang introvert memang cenderung memiliki sedikit teman. Meskipun sedikit, tapi berkualitas karena teman mereka adalah teman-teman dekat atau sahabat yang bisa dipercaya. Dan saya akui itu. Saya punya beberapa teman SMA yang masih eksis sampai sekarang. Ketika bersama mereka, saya benar-benar merasa jadi diri saya. Mereka tahu baik buruknya saya. Saya bisa bercanda dan tertawa lepas bersama mereka. Ini sungguh kontras bila saya berada di tengah orang-orang yang berbeda. Saya merasa normal seperti anak muda pada umumnya.

Orang introvert itu mungkin terlihat cuek. Tapi di balik kecuekannya itu mereka memiliki “kekepoan” yang luar biasa. Dalam kesendirian, mereka senang membaca. Poin ini kembali saya akui. Ketika waktu senggang, saya lebih suka menyibukkan diri dengan googling atau browsing. Mulai dari membaca informasi gak penting sampai informasi yang benar-benar penting. Mungkin mereka sering terlihat bego kalau berinteraksi dengan lingkungan sekitar, tapi sebenarnya mereka memiliki wawasan yang sangat luas! (Wuih, mulai sombong nih hehe!). Cuman sayangnya mereka kurang bisa mengungkapkan kepandaian mereka. Semua itu karena terbatasnya kemampuan lisan mereka. Eits, tapi jangan salah lho! Mereka bisa jadi pembicara yang luar biasa ketika dihadapkan dalam sebuah forum resmi. Ketika masih sekolah, saya suka sekali mengikuti lomba pidato atau debat. Saya senang berbicara di depan kelas, terutama saat saya menguasai materinya. Sampai sekarang pun masih begitu. Saya sangat senang berbicara dalam seminar, beradu argumen dalam forum biasa atau di dunia maya dan berbicara dalam sebuah wawancara kerja. Saya bisa bersuara. Ya, tapi bukan buat basa basi semata. Dan satu hal lagi, orang introvert juga cenderung lebih aktif di dunia maya. Jangan heran kalau mereka lebih cerewet di jejaring sosial. Mereka memang lebih nyaman mengungkapkan segala sesuatu dengan tulisan. Buktinya saya hehe… Saya senang sekali menulis seperti tulisan yang sedang kamu baca ini. Saya suka sekali ngeblog, nulis artikel atau cerita fiksi. Saya lebih senang mengungkapkan pemikiran dalam ketikan kata-kata. Makannya jangan heran kalau banyak orang introvert yang jadi penulis atau ahli filsafat. Penulis dan filsuf seperti Plato, Jean-Paul Sartre, Friedrich Nietzsche atau Milan Kundera adalah contohnya. Mereka besar dengan tulisan mereka yang fenomenal, bahkan kontroversial.

Ya, begitulah introvert. Terkadang pemikiran mereka agak berbeda dari pemikiran kebanyakan orang. Mereka orang yang sangat prinsipal dan memandang hidup secara esensial. Pemikiran mereka cenderung masuk ke dalam. Terkadang, mereka tak mau mengikuti alur hidup orang kebanyakan. Pemikiran mereka jauh dari kata mainstream. Mereka adalah para pemikir abstrak yang tak mudah dijebak. Mereka tidak mudah terpengaruh oleh orang lain. Tapi mereka juga tak akan berusaha untuk mempengaruhi orang lain. Orang lain akan terpengaruh dengan sendirinya tanpa orasi basa-basi. And it’s naturally! Not artificial or officially. Just go flow and simply.

Ternyata karakter introvert gak seburuk yang kita duga. Di balik kelemahannya, seseorang yang introvert ternyata bisa mengubah dunia. Memang semua itu tidak bisa terjadi secara radikal, tapi jangan remehkan kemampuan mereka. Mereka bisa sangat mengejutkan dalam sebuah kesempatan. Buat kamu yang merasa introvert, berikut ini berapa alasan kenapa kamu harus berbesar hati (tapi jangan untuk menyombongkan diri tentunya) menjadi seorang introvert :

1. Orang introvert itu mandiri
We’re not an individualist! Kita cuma senang menyendiri. Orang introvert lebih senang mengerjakan segala sesuatu sendiri. Mereka tak akan meminta bantuan orang lain selama masih bisa mengerjakannya sendiri. Mereka tak ingin terikat oleh apapun. Bantuan orang lain adalah sesuatu yang sangat mahal bagi mereka. Mereka tak ingin menyusahkan orang lain untuk alasan yang sepele.

2. Orang introvert itu mempunyai toleransi yang tinggi
Siapa bilang mereka cuek dan arogan? Justru dibalik sifat diam mereka ada suatu empati. Mereka lebih baik mengalah daripada harus terjadi konflik. Mereka sangat menghargai kehadiran orang-orang yang ada di sekitar mereka. Mereka akan membiarkan orang lain bicara terlebih dahulu dalam berargumentasi. Tapi jangan harapkan mereka kalah dalam beradu argumentasi. Mereka cuma tak ingin mengacau. Sangat pantang bagi mereka untuk membuat seseorang sakit hati. Karena mereka akan sangat merasa bersalah bila itu terjadi.

3. Orang introvert itu punya idealis tinggi
Seperti yang saya bilang tadi, introvert itu prinsipal sekali. Mereka akan melakukan apapun untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Mereka cenderung obsesif dan tidak mudah digoyahkan oleh pemikiran sekilas.

4. Orang introvert itu kreatif
Karena mereka lebih senang memikirkan segala sesuatu sendiri, maka ide-ide yang keluar dari pikiran mereka pun cenderung orisinil. Kebanyakan mereka cocok bekerja dalam bidang kreatif seperti seni atau sains yang memiliki tingkat orisinalitas yang tinggi.

5. Orang introvert itu loyalis
Yap, mereka akan selalu berpegang  teguh dengan apa yang mereka yakini. Mereka adalah sahabat yang setia. Mereka akan menjadi karyawan yang loyal bila mereka dipercaya dan dihargai.

6. Orang introvert itu peduli
Tidak banyak yang tahu akan hal ini. Mereka itu sebenarnya peduli. Mereka akan melakukan apapun untuk orang yang mereka sayangi. Mereka akan selalu siap membantu siapa pun juga. Hanya saja mereka tak ingin bantuan atau pertolongan mereka diketahui orang lain. Mereka tidak mau semua orang tahu karena mereka tidak ingin menonjolkan diri. Menonjolkan diri membuat mereka tak nyaman. Menjadi pusat perhatian adalah sebuah beban. Mereka hanya ingin mengulurkan tangan. Tak ada niat lain selain untuk memberi pertolongan. 

Itulah beberapa kelebihan orang introvert yang saya ketahui. Kita memang punya banyak kekurangan, tapi kita juga punya kelebihan yang sangat berpotensi. Saya cuma ingin mensyukuri apa yang telah Tuhan beri. Saya tidak ingin meninggikan hati. Ini cuma sebuah bentuk motivasi diri. Saya bukan alien atau makhluk asing lagi. Well, anggap saja itu hanya sebagai buah pemikiran imajinatif semata. Tapi alien juga makhluk Tuhan kan? Saya gak peduli dengan para pemikir materialis yang memperdebatkan hal ini. Alien atau bukan, yang penting kita mencintai diri kita sendiri

Okay, I’m not an alien. Nor an alien in human body. No matter what they say, people will always judge. So I just have to smile and relax, I’m just an introvert and now, I’m really proud of it. Excactly!! 🙂

(Sumber gambar : google)