Posts Tagged ‘Indonesia’

(Sumber Gambar : Google)

Sepertinya kali ini saya ingin membicarakan sesuatu yang cukup serius, bahkan boleh dibilang sangat serius. Tiba-tiba saya teringat sebuah trailer film hasil karya anak negeri yang saya lihat tahun lalu. Sebuah trailer dari film yang berjudul Bulan Terbelah di Langit Amerika. Saya langsung tergelitik begitu mendengar salah satu kutipan film tersebut.

“Apakah dunia akan lebih baik tanpa Islam?”

Dan sontak saja saya langsung menjawab TIDAK. Dunia BUTUH Islam, sama halnya dengan dunia butuh Kristen, Buddha, Yahudi, Hindu, Ateisme, Agnostisme, Sekularisme dan agama serta faham ideologi lainnya.

Dunia butuh keberagaman akan agama, ideologi, budaya dan pola pikir yg membuat manusia hidup dalam hakikat indahnya keberagamaan peradaban. Dunia tentu akan berbeda dengan apa yang kita lihat sekarang jika tanpa Islam atau agama lainnya. Gak kebayang jika dunia hanya ada satu agama, maka peradaban manusia tentu akan sangat membosankan. Manusia bakal hidup dalam satu kebudayaan yang monoton dan pola pikir yang seragam. Mendadak saya jadi teringat dengan film The Giver yang dibintangi Merryl Streep yang sempat saya tonton tahun lalu. Filmnya gak terlalu bagus sih. Film itu menggambarkan kalau manusia hidup dalam satu peradaban yang monoton. Kalau menurut saya hal itu cukup mengerikan. Itu sangat bertentangan dengan kodrat manusia. Tiap individu manusia itu berbeda satu dan lainnya. Isi kepala kita berbeda begitu pula dengan masing-masing jalan hidup kita. Menyeragamkan pola pikir manusia sama saja dengan menentang hakikat alamiah manusia sebagai makhluk individual dengan kepribadian yang sangat beragam. Dan ini bisa jadi malapetaka.

Saya dilahirkan sebagai seorang Muslim. Orang tua, keluarga dan lingkungan tempat tinggal saya juga muslim. Saya diajarkan sholat, mengaji dan mengikuti peribadatan dengan tata cara muslim. Saya bersyukur dengan hal itu meski sejak beberapa tahun ke belakang, saya memutuskan untuk meninggalkan semua kehidupan religius saya itu. Semua teman dan rekan-rekan saya menganggap saya gila tapi itu benar adanya. Keputusan saya untuk hidup tanpa dilabeli agama adalah keputusan yang sudah saya pikirkan sejak jauh-jauh hari, bahkan sejak saya duduk di bangku SMP dan SMA. Saya rasa teman-teman sekolah saya tahu akan hal itu.

Ada sejuta pertanyaan esensial yang selalu menggelitk hati saya sejak saya kecil. Dan itu semakin membuncah saat saya beranjak dewasa. Hingga akhirnya saya tidak mau membohongi diri saya lagi dan membuka diri pada orang lain kalau saya hidup tanpa agama. Dan saya sangat lega dengan hal itu. Saya tidak mau menyebut saya Atheis atau Agnostik. Saya tidak mau melabeli diri saya dengan faham-faham itu. Saya tidak mau ikut agama atau faham terentu karena saya ingin terbuka dengan pemikiran baru yang akan selalu datang setiap waktu. Lalu apa saya percaya Tuhan? Mungkin iya. Saya percaya akan suatu kekuatan besar di luar batas pikiran kita yang menyebabkan semua kehidupan di alam semesta. Mungkin saja itu Tuhan, atau mungkin saja itu sesuatu yang berbeda. Apa saya percaya sesuatu yang ghaib? Bisa ya bisa tidak. Segala kemungkinan bisa saja terjadi dan seperti yang saya bilang, saya sangat terbuka dengan segala kemungkinan tersebut.
Saya merasa tidak nyaman jika saya disangkutpautkan dengan identitas faham ideologis, spiritual atau agama tertentu. Saya ingin bebas secara spiritual dari segala doktrin dan menyerap serta mempelajari ide spiritual apapun. Saya tidak tahu akan segala kemungkinan yang bakal terjadi. Bisa saja ada pemikiran baru yang membuat saya tertarik dan saya tidak mau menutup kemungkinan itu. Tapi bukan berarti saya tidak punya pendirian tetap. Open minded punya pengertian yang luas dan inilah prinsip pemikiran hidup saya.

Saya akui saya hidup dalam lingkungan budaya dan negara yang religius. Saya tidak bisa mengosongkan status agama saya di KTP. Kita selalu butuh identitas agama dalam keseharian kita. Saat kita sekolah, kita harus mengisi identitas agama begitu pun dalam dunia kerja dan sosial masyarakat. Dan oleh karena itu secara hukum dan budaya saya masihlah seorang Muslim. Terkadang saya juga membutuhkan waktu untuk beradaptasi di lingkungan baru dimana saya harus menunjukkan sisi religius saya sebagai salah satu syarat agar dapat diterima di lingkungan baru saya itu. Ini memang cukup melelahkan dan terkadang cukup menyiksa batin saya, tetapi bagaimana pun saya harus melakukan itu agar tidak mau dijauhi yang lain. Sungguh miris memang.

Saya hanya segelintir dari miliaran manusia lainnya di dunia. Ada banyak miliaran manusia lain yang mungkin bahkan punya pandangan yang jauh berbeda. Kehidupan spiritual manusia teramat kompleks. Bersyukurlah karena manusia dikarunia kenikmatan spiritual yang tidak dimiliki makhluk hidup lain. Pernahkan kalian melihat kucing menyembah duri ikan? Atau para semut yang mengerumuni berhala gula?  Ataupun anjing yang berdoa untuk dewa tulang belulang? Tak ada satupun makhluk di planet ini yang memiliki kehidupan spiritual seperti manusia. Saya tidak tahu dengan makhluk planet lain. Mungkin mereka punya kehidupan spiritual tersendiri yang jauh berbeda. Lihatlah Piramida-piramida Mesir atau piramida-piramida suku Inca, Kuil-kuil Yunani, Ka’bah, Masjidil Haram, Biara-biara para biksu Buddha, Kuil Dewa Dewi di China, Kathedral Vatikan, Candi-candi megah di negeri kita atau pun batu-batu besar megalitik peninggalan zaman prasejarah. Semua maha karya megah tersebut tercipta karena adanya kehidupan spiritual manusia. Spiritualitas dan norma religius merupakan salah satu penggerak peradaban kita. Tanpa kehidupan spiritual dan norma religius dari nenek moyang kita, mungkin sejarah akan jauh berbeda. Tapi terkadang kehidupan religius bisa bersifat destruktif. Well, sesuatu yang berlebihan akan selalu berdampak tidak baik, bukan? Begitu pun dengan sikap religius yang berlebihan.

Sungguh prihatin dengan isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan) yang tengah berkembang dalam kehidupan bermasyarakat kita akhir-akhir ini. Sekelompok agama yang dalam hal ini ormas-ormas Islam melaporkan seorang pejabat negara karena dituduh melakukan penistaan agama Islam sehingga menimbulkan aksi massa besar-besaran. Dan sekarang, tengah terjadi pula pelaporan sebaliknya tentang seorang petinggi agama Islam yang dituduh menistakan agama Kristen dan Katholik dalam dakwahnya. Agama satu melaporkan agama lainnya, begitu pula sebaliknya. Sungguh mengerikan. Apa yang terjadi pada bangsa ini? Seakan semua pihak mengaggungkan egonya masing-masing. Entah apa yang terjadi dengan pola pikir masyarakat kita. Tidakkah semua gesekan ini bisa diselesaikan dengan cara damai?

Isu-isu SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar golongan) yang tersebar di media masa dan media sosial seakan mudah berkembang menjadi virus-virus kebencian yang mengkhawatirkan. Bisa kita ambil salah satu contohya, jika anda membaca sebuah postingan berbau SARA ( bahkah terkadang yang tidak ada sangkut pautnya dengan SARA), lihatlah komentar-komentar dibawahnya. Maka yang ada lihat adalah adu argumen tentang SARA yang sering membuat saya tersenyum miris melihatnya. Semua orang merasa paling benar. Semua orang merasa menjadi malaikat paling sempurna. Gila! Sudah separah itukah egoisme dalam masyarakat kita? Sudah sekronis itukah virus kebencian dalam generasi kita? Di saat bangsa lain sudah berpikir tentang ekspedisi ilmiah ke planet Mars, bangsa kita masih berkutat pada konflik sempit agama. Tidak heran kalau bangsa ini masih kalah bersaing dengan bangsa lain.

Saya juga ingin menyoroti istilah “kafir” yang sepertinya menjadi “tren” saat ini. Begitu mudahnya orang menyebut kafir pada orang lain. Bahkan anak-anak usia belia dengan ringannya menyebut kafir pada teman sebaya mereka yang berbeda agama. Kafir menurut Islam berarti orang yang bukan Islam. Saya jadi teringat dengan sebuah tulisan blog yang saya baca di MojokDotCom yang membahas kontroversi penyebutan kafir. Berdasarkan pengertian kafir tersebut, menyebut orang yang beda agama dengan sebutan kafir memang tidaklah salah. Tapi jika anda menyebut kafir dengan begitu mudahnya kepada orang lain tentu ada sesuatu yang salah dengan nurani anda. Ibarat anda menyebut “orang cacat” secara frontal kepada orang cacat yang kehilangan salah satu bagian tubuhnya. (Ini hanya analogi semata tidak ada maksud untuk menyamakan orang kafir dengan orang cacat).  Orang cacat memang adalah orang cacat. Pernyebutan orang cacat untuk orang yang telah kehilangan salah satu bagian tubuhnya memang  sebuah pernyataan yang benar. Tapi sebegitu tegakah kita mengatakan hal tersebut secara vulgar. Bagaimana kalau orang yang cacat itu sakit hati. Bukankah menyakiti hati orang lain termasuk salah satu dosa dalam agama? Hal demikian juga terjadi bila anda secara frontal menyebut kafir kepada orang yang beda agama. Apakah anda tahu kalau orang yang anda sebut kafir itu sakit hati atau tidak? Bagaimana kalau sakit hati? Malah dalam beberapa kasus bisa berkembang ke arah pem-bully-an. Dimanakah nurani anda? Anda tentu juga punya hati? Anda tentu manusia? Kejujuran memang terkadang menyakitkan tapi agama apapun tentunya tidak akan membenarkan bila anda menyakiti hati orang lain. Memprihatinkan memang. Nurani seakan tertutup oleh egoisme buta.

Saya akui saya hanya seorang warga biasa yang tidak mempunyai kontribusi berarti bagi negara. Saya hanya sedang menggunakan hak saya untuk bebas berpendapat sebagai warga negara.
Apa yang terjadi dengan konflik horizontal yang terjadi dalam masyarakat belakangan ini membuat saya menjadi semakin skeptis dengan agama dan segala kehidupan religius di dalamnya. Tapi di balik semua itu, saya merasa sangat bersyukur dengan prinsip hidup saya yang tidak mau dilabeli agama. Harus saya akui, saya merasa lebih bahagia daripada tahun-tahun sebelumnya. Sampai di titik ini, saya merasa mantap kalau saya tidak perlu norma agama untuk bisa menjadi manusia beradab. Saya tidak terlalu memperdulikan judgement dari orang lain tentang saya. Saya melakukan segala sesuatu berdasarkan nurani saya. Berbuat baik pada siapa saja tanpa perlu memikirkan pahala. Menjauhi segala sesuatu yang buruk dengan akal sehat saya. Saya merasa menjadi manusia sebenarnya dan berada pada titik nyaman kehidupan batiniah saya.

Zero Spiritual Identity, mungkin itulah istilah yang tepat untuk menggambarkan konsep kehidupan spiritual saya. Istilah ini memang istilah baru yang saya buat sendiri tapi makna yang terkandung di dalamnya bisa mewakili konsep kehidupan spiritual saya saat ini. Zero berarti nol atau tidak ada, Spiritual berarti kehidupan spiritual atau spiritualitas, dan Identity berarti  identitas. Jadi, Zero Spiritual Identity  bisa diartikan sebagai ketiadaan identitas spiritual dalam diri seseorang. Yup, itulah saya. Dan saya merasa bahagia dengan pilihan hidup saya ini.

Agama merupakan suatu konsep kehidupan spiritual. Sebagian besar orang mungkin masih butuh agama sebagai pedoman hidup mereka. Tiap agama mengajarkan kebaikan, setidaknya itulah yang saya yakini. Jangan sampai segala kebaikan ini tertutupi oleh sikap egoisme kepentingan golongan. Jangan sampai konsep pedoman hidup ke arah yang lebih baik dalam agama malah berubah menjadi sesuatu yang destruktif karena anda menganggap agama anda yang paling benar, dan yang lain salah. Anda mungkin benar, tapi yang lain belum tentu salah. Anda hanya belum melihat sisi lain dari kehidupan yang dilihat orang lain. Kebenaran tergantung dari perspektif masing-masing. Tapi kebenaran yang paling hakiki ada dalam nurani anda masing-masing. Jangan bohongi nurani anda hanya ingin dianggap paling benar.

Bagaimanapun tulisan ini hanya sekedar pandangan pribadi saya tanpa keinginan untuk menyinggung siapapun. Semoga dunia ini akan mencapai kedamaian paling hakiki. Semoga..  ya semoga saja itu terjadi. Semoga kita menjadi manusia yang lebih baik lagi…

Iklan
image

The world has changed. We're still alive, everyone! We're standing here for revolution.

Jakarta, 07.30 PM, 05 Mei 2028

Senayan bergelora. Merah putih berkibar dimana-mana. Gerbang utama stadion Gelora Bung Karno padat luar biasa. Tak ada pertandingan sepak bola. Timnas kebanggaan kita sudah lama pensiun berlaga. Sejak sepuluh tahun lalu, dunia sudah tidak mengenal lagi olahraga. Maka keramaian seperti sekarang ini adalah sesuatu yang langka.

Peringatan seratus dua puluh tahun hari kebangkitan nasional akan berlangsung malam ini. Sebuah perubahan besar akan berlangsung sebentar lagi.

“Masuklah sekarang, Dan!” seru Erik dari earphone mini yang tersembunyi dalam telingaku. Dari basecamp, ia memantau keberadaanku. Kubayangkan dirinya sedang duduk was-was di depan komputer bersama teman-teman lainnya.

“Aku masih belum yakin dengan ini, Rik,” kataku ragu.

“Kau ini bicara apa? Musa sudah ada di dalam stadion. Dia akan membantumu.”

“Ya, aku sudah di sini.” Suara Musa muncul tiba-tiba. “Semuanya akan baik-baik saja. Inilah saatnya, Dan.”

Aku buka tanganku. Sebuah kapsul menyerupai tabung reaksi seukuran 3 cm ada dalam genggamanku.

Musa kembali bersuara. “Lakukan saja seperti yang sudah kita rencanakan. Kamu akan aman. Tuhan bersama kita, Dan.”

Aku coba singkirkan segala keraguanku. Ucapan Musa seakan menetralisir hatiku. Mimpi buruk itu akan berakhir. Ya, aku harus meyakini itu.

“Bismillahirrahmanirrahim…”

Mulutku reflek bersuara. Sudah lama sekali aku tak melapalkan kalimat suci itu. Ini sungguh sulit dipercaya. Kuhela napas panjang. Kuluruskan pandanganku ke depan. Kakiku mulai melangkah perlahan menuju pintu gerbang. Inilah saat yang telah lama dinanti itu. Operasi benih suci telah dimulai. Di sini aku, Muhammad Aidan. Aku telah siap memulai perubahan.

* * * *

“Dunia sudah tak seperti yang kau bayangkan. Apa yang kau lihat sekarang adalah sebuah mimpi buruk panjang yang tak pernah kau harapkan.”

Begitulah ucapan terakhir Profesor Surya sebelum laboratoriumnya diserang kelompok pemberontak Neo Republik Semesta atau NRS. Ia meninggal dunia setelah mengabdikan diri untuk membuat perubahan. Sebuah benih beras unggul telah ia temukan. Sebuah benih yang sudah lama dinanti semua orang.

NRS hendak menghancurkan benih itu, tapi mereka tidak berhasil menemukannya karena benih itu sudah profesor titipkan padaku. Sebelum serangan itu terjadi, ia sudah mendapat firasat. Aku tak tahu kenapa ia menitipkannya padaku. Aku hanya seorang mahasiswa biasa yang sama dengan mahasiswa lain yang diajarnya. Aku tak tahu kenapa ia memilihku dan kini semua orang menuduhku. Mereka menganggap aku terlibat dalam serangan itu. Saat serangan itu terjadi, aku sedang berada di asrama dan aku sama sekali tak tahu menahu. Semua orang kini mengejarku. Pemerintah menjadikanku buronan nomor satu. Semua ini karena benih itu? Seberapa berhargakah benih itu? Kenapa semua orang ingin memiliki benda yang kini menjadi keramat itu?

Dunia sudah tak lagi sama. Masa sekarang adalah masa dimana dunia sudah berubah seutuhnya. Masa depan ternyata tak sesuai dengan harapan. Kemajuan ekonomi harus pupus setelah kegagalan panen raya 10 tahun lalu. Bumi ternyata telah menua begitu cepat. Perubahan iklim datang terlalu awal. Kelaparan menjadi bencana, bukan hanya di negeri ini tapi juga diseluruh belahan dunia. Kekeringan terjadi dimana-mana. Hanya sebagian kecil wilayah saja yang belum terkena imbasnya. Sawah-sawah mengering, ladang gandum dan jagung hanya menjadi tanah lapang. Semua orang tak tahu apa yang harus mereka makan. Produksi komoditas alam menurun tajam. Tak ada ada sayuran, buah-buahan atau daging-dagingan. Bahan makanan organik sudah lama menghilang. Semua orang kini bergantung pada bahan makanan sintesis yang beredar luas di pasaran.

Masa sekarang adalah masa dimana harga obat terlarang lebih murah daripada harga beras kualitas rendahan. Kini harga 1 ons beras sama dengan 2 kilogram bubuk zat terlarang. Halal dan haram sudah sulit dibedakan. Kepentingan perut bisa mereduksi keimanan seseorang. Tak ada yang melarang. Pemerintah tidak bisa berbuat apa-apa. Tak ada yang bisa menawarkan solusi pasti. Semua menjadi suatu yang lumrah dan biasa sekali. Sebuah zat baru telah ditemukan. Xerotamin adalah zat sintetis turunan ampetamin yang dapat dengan mudah dibeli di pasaran. Hanya dengan mengkonsumsi beberapa gram, seseorang bisa menahan lapar hingga sepekan. Sungguh menakjubkan. Tapi kau harus merelakan tubuhmu menjadi kurus kerontang, energi yang kau hasilkan dikuras dari organ-organ dalam dan kau akan kehilangan nyawamu enam bulan kemudian.

Tak ada pilihan lain. Kesehatan sudah bukan menjadi beban. Jalanan sudah bagaikan kompleks pemakaman. Bangkai manusia bisa dengan mudah kau temukan. Ya, inilah realitas yang tak pernah kau harapkan. Semua orang hanya berusaha memperpanjang kehidupan. Maka ketika benih unggul itu ditemukan, semua orang bersuka cita. Benih itu berhasil tercipta setelah penelian panjang yang dilakukan Profesor Surya dan beberapa mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor yang dibimbingnya, termasuk aku. Dengan bantuan dari Badan Tenaga Nukllir Nasional, kami melakukan rekayasa pangan untuk menghasilkan jenis beras unggulan yang mampu bertahan di iklim sekarang. Penelitian kami membuahkan hasil, sebuah benih beras baru telah kami temukan. Benih beras unggul itu kami namai Firdaus17 atau disingkat FS17, sebagai bentuk harapan kami akan taman Firdaus, salah satu surga terindah sekaligus lambang kesuburan yang telah dijanjikan Tuhan. Angka 17 dipakai karena benih itu tercipta setelah kami melakukan percobaan ke 17. Benih itu adalah benih istimewa. Benih itu mampu bertahan terhadap segala bentuk perubahan iklim dan cuaca, hanya memerlukan suplai air sedikit, tahan terhadap segala macam hama serta mampu menghasilkan panen berlimpah hampir 10 kali lipat dalam waktu 30 hari saja. Sungguh luar biasa. Ini adalah sebuah keajaiban ilmu pengetahuan yang tak mungkin bisa ditampik oleh siapapun juga.

Tapi tak semua orang senang dengan temuan ini. Ada beberapa pihak yang mencoba menghancurkan temuan berharga itu. Salah satunya kelompok Neo Revolusi Semesta atau NRS. Mereka adalah kelompok kartel narkoba pemasok xerotamin yang sudah dianggap sebagai musuh negara. Mereka sudah pernah beberapa kali mencoba melakukan kudeta. Merekalah dalang utama penyerangan yang menewaskan Profesor Surya. Mereka menginginkan benih itu dan kini mereka ikut mencariku.

Aku harus melakukan pelarian panjang. Dalam pelarianku, aku merasa sangat tersiksa. Aku bersembunyi dan berpindah dari kota satu ke kota lainnya. Aku sendirian. Tanpa kawan ataupun keluarga. Ini sungguh tidak adil. Mereka menyalahkanku dan aku merasa putus asa. Di tengah keputusasaanku itulah aku bertemu Musa. Dia menolongku saat aku dikejar polisi di salah satu kota kecil di utara pulau Jawa. Dan ia langsung mengajakku untuk tinggal di kediamannya yang berupa sebuah basecamp konsenterasi sebuah organisasi rahasia. Musa adalah seorang hacker hebat. Ia adalah anggota Heksagon, sebuah organisasi peretas yang berjuang secara gerilya melawan ketidakadilan lewat dunia maya. Heksagon adalah organisasi yang unik. Tak ada pemimpin dalam organisasi ini. Semua bergabung secara sukarela dengan masing-masing memegang kode etik rahasia. Anggotanya menyebar dari seluruh penjuru nusantara.

Kuputuskan untuk tinggal sementara bersama Musa dan kawan-kawannya. Musa adalah orang paling idealis yang pernah ada. Setelah kematian Profesor Surya, tak pernah kulihat orang seperti ini lagi di dunia. Ia adalah orang paling relijius yang pernah kukenal. Aku sungguh takjub begitu melihat ia masih bersembahyang. Ia masih setia dengan keislamannya. Di zaman sekarang, orang-orang sudah melupakan Tuhan. Agama sudah tak lagi dijadikan pedoman. Para ulama sudah menghilang. Masjid dan rumah ibadah lengang. Sebagian malah sudah berubah fungsi menjadi tempat singgah tunawisma dan anak jalanan.

Musa itu orang yang sangat langka. Tak seperti kami, ia menolak untuk mengkonsumsi xerotamin sebagai penunda lapar. Ia lebih memilih berpuasa dan berbuka hanya dengan sepotong roti kadaluarsa. Di sela-sela kesibukan dengan komputernya, ia masih sempatkan diri untuk membaca kitab suci yang bahkan aku sendiri sudah lupa namanya.

“Al-Quran. Itulah nama kitab suci ini. Kau sudah lupa, ya?” ucap Musa sambil meletakkan kitab suci itu di atas layar komputernya.

“Apa kau masih percaya Tuhan?” tanyaku konyol.

Ia tersenyum. Ia langsung menghadap ke arahku. Aku pikir dia akan marah dengan pertanyaanku itu, tapi ternyata tidak.

“Kau sudah tahu jawabannya, bukan?” jawabnya malah balik bertanya.

“Tapi kenapa?”

Musa kembali tersenyum. Ia ambil remote dan mematikan televisi. “Di zaman sekarang, dunia sudah tak bisa lagi kau harapkan. Segala bentuk materialisme dan kebendaan pada akhirnya hanya akan membuatmu kecewa. Kau tak akan pernah terpuaskan. Maka itulah kita membutuhkan iman. Tanpa iman, kita bisa gila karena terus bergelut dalam ketidakpuasan.”

Tanpa iman, kita bisa gila? Aha, sindiran sarkatis macam apa itu? Batinku seakan tertohok. Ya, sebentar lagi mungkin aku akan ikut gila.

Ia meneruskan perkataannya. “Manusia butuh lebih dari sekedar logika. Akan selalu ada ruang kosong di dada yang membuatmu ingin selalu bertanya. Manusia selalu butuh sesuatu yang sempurna. Apa kau punya segala kesempurnaan itu? Tentu saja tidak. Karena itulah aku percaya. Aku membutuhkan-Nya. Kita membutuhkan-Nya.”

“Lalu, apa yang sedang terjadi pada dunia sekarang? Apa Tuhan sedang marah? Apa Dia sedang menghukum kita.”

“Entahlah, tapi setahuku Tuhan itu Maha Pengasih. Apa yang terjadi sekarang adalah akibat dari apa yang telah kita lakukan. Bumi tidak akan sakit sekronis ini kalau kita memperlakukannya dengan hati, bukan dengan keserakahan dan arogansi. Jangan buru-buru menyalahkan Tuhan kalau Dia sedang menghukum kita. Kitalah yang salah. Kita sedang dihukum oleh perbuatan yang telah kita lakukan sendiri.”

Aku tak bisa berargumentasi lagi. Pikiranku mulai terkontaminasi. Ya, itulah Musa. Apa yang terucap dari mulutnya selalu tak mudah untuk dicerna. Pemikirannya bisa membuatmu buta logika dan pada akhirnya kau hanya bisa terdiam tanpa kata.

* * * *

“Salam sejahtera untuk seluruh rakyat Indonesia di seluruh penjuru nusantara. Kalian tentu sudah mengenal saya. Saya Muhammad Aidan. Benih Firdaus17 masih berada di tangan saya. Saya ingin kembali menegaskan kepada saudara sebangsa dan setanah air semua. Saya ini tidak bersalah! NRS-lah pelaku sebenarnya! Profesor Surya sudah menyerahkan benih ini pada saya tiga hari sebelum ia tewas. Saya hanya melakukan tugas saya tanpa maksud apa-apa. Jika saudara-saudara tetap menyalahkan saya, maka itu hanya omong kosong belaka. Sekali lagi, saya tidak bersalah! Kebenaran akan datang dan saya akan membuktikannya. Secepatnya!”

Begitulah bunyi dan visualisasi rekaman video yang sengaja kami sebarkan setelah kami berhasil meretas salah satu stasiun televisi swasta. Video itu tersebar dimana-mana. Kami harap semua orang melihatnya. Kami sengaja merekam video itu sebagai bentuk penegasan. Video itu adalah bagian dari sebuah rencana besar yang kami sebut sebagai operasi benih suci. Ya, operasi benih suci. Seluruh anggota Heksagon di seluruh penjuru negeri akan ikut berpartisipasi. Sejarah akan mencatatnya sebagai sebuah reformasi kemanusiaan yang paling terorganisir rapi. Perubahan besar akan segera terjadi. Jiwa kami telah kami pertaruhkan di sini. Revolusi itu akan terjadi sebentar lagi.

Revolusi? Kapsul mini berisi benih keramat itu seakan tersenyum sinis ketika batinku berteriak menyalakan revolusi. Teringat kembali aku akan perkataan Profesor Surya sebelum ia memberikan benda ini.

“Bapak menyerahkan ini padamu bukan karena kamu istimewa, tapi karena bapak percaya. Benih ini tak akan aman bila terus disimpan di lab. Untuk itu bapak mempercayakannya padamu.”

Profesor Surya sudah berencana akan menyerahkan benih ini pada presiden dalam sebuah pertemuan resmi. Dan tugasku hanya memastikan benih ini tetap aman sampai pertemuan itu tiba. Itulah yang seharusnya terjadi. Tapi semua itu tak pernah terpenuhi.

* * * *

Jakarta, 08.00 PM, 05 Mei 2028

Hingar bingar menyelimuti seluruh stadion Gelora Bung Karno.Banyak yang telah berubah dari Stadion berusia 68 tahun ini. Renovasi besar yang telah dilakukan 15 tahun silam telah merubah bentuk stadion ini secara keseluruhan. Saat itu ekonomi bangsa sedang mencapai titik kemajuan yang menggembirakan. Pembangunan infrastruktur pun dilakukan secara besar-besaran. Dengan kapasitas penonton mencapai 150 ribu orang, kemegahan stadion ini sudah tidak perlu diragukan. Empat layar LCD 100 inchi dipasang di empat sudut stadion. Tak ada lagi papan skor yang biasa dipakai saat pertandingan sepak bola. Yang ada cuma berbagai suguhan multimedia. Banner-banner slogan nasionalisme bergerak dinamis di depan barisan tempat duduk penonton. Pencahayaan tertata sangat rapi. Semua yang ada disini telah dikomputerisasi secara canggih dengan teknologi tinggi.

Tidak semua orang bisa hadir di sini. Hampir lebih dari 145 kursi dibagikan secara acak kepada pendaftar lewat sistem online, dan semuanya gratis. Dengan identitas palsu, aku mendaftarkan diri. Beruntung aku bisa duduk di tempat yang strategis. Aku hanya berjarak belasan meter dari kursi presiden. Ini memang bukan sepenuhnya keberuntunganku. Teman-temanku telah membantuku sedemikian rupa agar aku bisa berada di sini.

Aku harus berterima kasih pada teman-temanku, penyamaranku begitu sempurna. Make up telah merubah penampilanku menjadi jauh lebih tua. Mereka juga berhasil membuat lensa kontak untuk merekayasa kornea mataku sehingga aku bisa melenggang masuk dengan aman tanpa curiga saat diperiksa para penjaga. Dan satu lagi, dimana aku menyembunyikan benih itu? Jawabannya adalah di mulutku. Ya, tepatnya di atas bagian dalam mulutku. Kami telah memodifikasi kemasan kapsul itu hingga bisa menempel secara tersembunyi dalam mulutku. Aku lalu mengeluarkan kapsul itu dan memasukannya ke dalam kantong celanaku.

Jam digital di ujung stadion sudah menunjukkan pukul 19:59. Acara peringatan Kebangkitan Nasional akan dimulai beberapa detik lagi.

Protokol berkoar. Pagelaran seni telah dimulai sebagai acara pembuka. Lima menit pertama, penonton disuguhi pertunjukan tarian kontemporer yang dilakukan ratusan anak remaja. Setelah itu protokol kembali bersuara.

“Sebagai pembuka acara akbar ini, mari kita persilakan Bapak Presiden Republik Indonesia untuk memberikan sambutannya.”

Keriuhan penonton terhenti seketika. Layar LCD stadion mulai menampilkan sosok bapak presiden. Aku sendiri bisa dengan jelas melihat sosoknya dari sebelah kanan tempat dudukku. Dialah presiden yang sudah memimpin negeri ini selama dua periode. Dialah pemimpin yang kami percayai itu.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sejahtera untuk seluruh rakyat Indonesia. Malam ini adalah malam yang istimewa. Seratus dua puluh tahun lalu, para perintis kemerdekaan bangsa telah menorehkan hari istimewa dalam sejarah bangsa.”

Earphone mini di telingaku berbunyi. Erik bersuara. “Kau sudah siap, Dan?”

“Ya,” jawabku mantap.

Maka seluruh stadion langsung gelap seketika. Pidato presiden terhenti. Semua orang riuh kebingungan. Kami telah memulai revolusi. Dan tiba-tiba, sosokku muncul di layar LCD raksasa.

“Selamat malam saudara-saudaku. Mungkin kalian kaget melihat saya di sini. Saya sudah berada disini. Saya telah datang memulai revolusi. Benih suci telah saya bawa. Dan sebentar lagi saya akan menyerahkannya kepada Bapak Presiden Republik Indonesia. Saya akan buktikan kalau saya tidak bersalah!”

Video itu kami rekam beberapa waktu lalu. Teman-temanku telah berhasil meretas sistem operasional stadion. Penonton mendadak semakin riuh. Mereka menoleh kanan-kiri dan belakang untuk mencari keberadaanku.

“Ini saatnya, Dan!” seru Erik. Ya, inilah saatnya aku bergerak menuju kursi VIP tempat duduk presiden. Dengan menunjukkan kapsul yang ada di tanganku, aku akan dengan mudah menembus pasukan pengaman presiden. Tapi tiba-tiba sebuah tembakan berbunyi di salah satu kerumunan penonton. Penonton panik. Dan tayangan layar LCD stadion berubah seketika. Sosok pemimpin NRS muncul dalam sebuah rekaman video. Oh tidak, NRS telah mengambil alih sistem operasional stadion dan mereka mengancam akan adanya serangan bom. Gelora Bung Karno pecah. Penonton rusuh berebut jalan menuju pintu utama. Aku tidak bisa menghubungi teman-teman dari earphone-ku, tapi aku bisa melihat seseorang muncul datang memegang tanganku.

“Musa?”

“Sudah kubilang aku akan membantumu. Ayo kita temui presiden sekarang.”

Tapi tiba-tiba ia langsung mendorong tubuhku hingga aku terjatuh. Sebuah tembakan melesat dan ia segera menarik pelatuk pistol untuk membalasnya. Penyamaranku sudah terbongkar. Salah seorang anggota NRS tertembak, tapi Musa lebih dulu terkena tembakannya. Darah mengucur dari dadanya.

“Musa!!!” Aku berusaha meraih tubuhnya.

“Jangan pikirkan aku. Cepat serahkan benih itu!”

“Tapi kau terluka.”

“Aku tidak apa-apa. Cepat bergegaslah! Kau harus melakukannya!!”

Dengan berat hati, aku meninggalkannya. Pikiranku bergerak tak menentu. Aku menembus keriuhan penonton mencoba mengejar rombongan presiden yang sudah keluar lewat pintu khusus. Aku sadari beberapa orang anggota NRS masih mengejarku. Pintu utama sudah bagaikan sarang semut. Aku harus berjibaku sekuat tenaga agar bisa keluar.

Rombongan presiden sudah terlihat. Sungguh mustahil aku bisa menembus barikade paspampres itu. Mereka bisa langsung menembakku. Tapi aku adalah Muhammad Aidan. Mereka sedang mencariku. Benih itu ada padaku. Maka ketika aku melucuti sisa penyamaranku dan menunjukkan kapsul itu, mereka tak bisa apa-apa. Mereka langsung mengizinkanku masuk mobil RI1.

“Kau?”

“Ya, saya Muhammad Aidan dan saya ingin menyerahkan benih ini untuk bapak.” Kutunjukkan padanya kapsul yang menyimpan benih ajaib itu. “Profesor sudah mengamanatkan benih ini kepada saya. Dan saya ingin bapak menerimanya.”

Ia raih kapsul itu. Ia takjub tak percaya dan memperhatikannya dengan seksama.

Dan tiba-tiba sebuah ledakan dahsyat dari arah belakang menggelegar luar biasa. Mobil yang kami tumpangi terdorong kuat terkena efek ledakan. Beruntung mobil kami sudah melaju kencang dari gerbang utama. Di belakang kami, sebuah peristiwa bersejarah telah tercipta. Gelora Bung Karno luluh lantak. NRS benar-benar melakukan ancamannya. Sebuah serangan bom mahadahsyat telah kami saksikan bersama.

Indonesia, 25 Agustus 2028

Semua mata tertuju pada sebuah tayangan televisi yang sedang disiarkan secara langsung di seantero nusantara. Sepanjang mata memandang, hanya ada hamparan padi yang menguning membawa kabar bahagia. Sang Presiden akan berpidato menyampaikan sambutan untuk panen raya pertama.

“Salam sejahtera untuk seluruh rakyat Indonesia di seluruh nusantara. Masa-masa terpuruk dalam sejarah bangsa telah kita lewati bersama. Kita masih berduka. Ratusan ribu nyawa telah menjadi korban serangan teroris yang akan terus dikutuk masyarakat dunia. Kami berjanji akan menumpas habis gerakan NRS hingga tak bersisa.

Bangsa kita telah tumbuh dewasa. Sehabis gelap pasti akan selalu ada cahaya. Dan inilah saat-saat yang telah kita nantikan bersama. Panen raya ini adalah milik kita semua. Masa depan baru telah siap kita jejaki bersama.”

Seluruh rakyat bersorak. Begitu pun dengan aku, Erik dan beberapa temanku yang menonton di depan layar kaca. Sungguh sulit dipercaya, masa itu telah tiba. Kami telah kehilangan orang-orang tercinta. Begitu banyak pengorbanan yang telah kami lakukan bersama. Terima kasih Musa, tanpamu masa ini tak mungkin akan pernah tercipta. Terima kasih Profesor Surya, atas penemuanmu perubahan itu tak akan pernah terlaksana. Dan terima kasih Tuhan, tanpa-Mu kami semua tak akan pernah ada.

Perubahan itu telah terjadi di depan mata. Kami di sini telah menjadi saksi sebuah revolusi nyata yang akan dicatat sebagai salah satu sejarah dunia.

Selesai.

Cerpen ini pernah dimuat di website Annida-Online edisi Mei 2013
Klik: http://www.annida-online.com/artikel-7329-revolution-of-the-holy-seed.html

Sumber gambar: Google

“Revolusi sudah di tangan kami sekarang. Dan kami memerintahkan Bung! Kalau Bung tidak memulai revolusi malam ini, maka kami akan…” teriak Soekarni, salah seorang tokoh pemuda pada Bung Karno.

“Akan apa?” teriak Bung Karno sambil beranjak dari kursinya. Semua terkejut, seisi ruangan mendadak sunyi.

Bung Karno kembali duduk. Setelah tenang, ia kembali berbicara, “Yang penting dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang tepat. Di Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan pada tanggal 17.”

Soekarni menyela, “Mengapa justru diambil tanggal 17, mengapa tidak sekarang saja atau tanggal 16?”

Dengan tenang, Bung Karno pun menjawab, “Saya adalah seorang yang percaya mistik. Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan bagi saya. Akan tetapi, saya merasakan di dalam kalbu bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci.

Pertama-tama kita sedang berada dalam Ramadhan, waktu kita semua berpuasa. Ini berarti saat yang paling suci bagi kita. Tanggal 17 besok hari Jumat. Hari Jumat itu Jumat Legi. Jumat yang berbahagia, Jumat yang suci. Alquran diturunkan pada tanggal 17. Orang Islam sembahyang 17 rakaat. Oleh karena itu, angka 17 bukanlah sesuatu yang dibuat oleh manusia.”

Begitulah kutipan perdebatan sengit Soekarni dengan Soekarno sehari sebelum proklamasi 66 tahun lalu (Lasmidjah Hardi 1984:61, dengan beberapa perubahan). Soekarno telah menentukan tanggal 17 Agustus 1945 sebagai hari proklamasi atas dasar pertimbangan religius dan kematangan yang murni.

Dirgahayu negeriku! Aku akan selalu berusaha menjaga kesucianmu agar selalu murni!