Posts Tagged ‘Identitas’

(Sumber Gambar : Google)

Sepertinya kali ini saya ingin membicarakan sesuatu yang cukup serius, bahkan boleh dibilang sangat serius. Tiba-tiba saya teringat sebuah trailer film hasil karya anak negeri yang saya lihat tahun lalu. Sebuah trailer dari film yang berjudul Bulan Terbelah di Langit Amerika. Saya langsung tergelitik begitu mendengar salah satu kutipan film tersebut.

“Apakah dunia akan lebih baik tanpa Islam?”

Dan sontak saja saya langsung menjawab TIDAK. Dunia BUTUH Islam, sama halnya dengan dunia butuh Kristen, Buddha, Yahudi, Hindu, Ateisme, Agnostisme, Sekularisme dan agama serta faham ideologi lainnya.

Dunia butuh keberagaman akan agama, ideologi, budaya dan pola pikir yg membuat manusia hidup dalam hakikat indahnya keberagamaan peradaban. Dunia tentu akan berbeda dengan apa yang kita lihat sekarang jika tanpa Islam atau agama lainnya. Gak kebayang jika dunia hanya ada satu agama, maka peradaban manusia tentu akan sangat membosankan. Manusia bakal hidup dalam satu kebudayaan yang monoton dan pola pikir yang seragam. Mendadak saya jadi teringat dengan film The Giver yang dibintangi Merryl Streep yang sempat saya tonton tahun lalu. Filmnya gak terlalu bagus sih. Film itu menggambarkan kalau manusia hidup dalam satu peradaban yang monoton. Kalau menurut saya hal itu cukup mengerikan. Itu sangat bertentangan dengan kodrat manusia. Tiap individu manusia itu berbeda satu dan lainnya. Isi kepala kita berbeda begitu pula dengan masing-masing jalan hidup kita. Menyeragamkan pola pikir manusia sama saja dengan menentang hakikat alamiah manusia sebagai makhluk individual dengan kepribadian yang sangat beragam. Dan ini bisa jadi malapetaka.

Saya dilahirkan sebagai seorang Muslim. Orang tua, keluarga dan lingkungan tempat tinggal saya juga muslim. Saya diajarkan sholat, mengaji dan mengikuti peribadatan dengan tata cara muslim. Saya bersyukur dengan hal itu meski sejak beberapa tahun ke belakang, saya memutuskan untuk meninggalkan semua kehidupan religius saya itu. Semua teman dan rekan-rekan saya menganggap saya gila tapi itu benar adanya. Keputusan saya untuk hidup tanpa dilabeli agama adalah keputusan yang sudah saya pikirkan sejak jauh-jauh hari, bahkan sejak saya duduk di bangku SMP dan SMA. Saya rasa teman-teman sekolah saya tahu akan hal itu.

Ada sejuta pertanyaan esensial yang selalu menggelitk hati saya sejak saya kecil. Dan itu semakin membuncah saat saya beranjak dewasa. Hingga akhirnya saya tidak mau membohongi diri saya lagi dan membuka diri pada orang lain kalau saya hidup tanpa agama. Dan saya sangat lega dengan hal itu. Saya tidak mau menyebut saya Atheis atau Agnostik. Saya tidak mau melabeli diri saya dengan faham-faham itu. Saya tidak mau ikut agama atau faham terentu karena saya ingin terbuka dengan pemikiran baru yang akan selalu datang setiap waktu. Lalu apa saya percaya Tuhan? Mungkin iya. Saya percaya akan suatu kekuatan besar di luar batas pikiran kita yang menyebabkan semua kehidupan di alam semesta. Mungkin saja itu Tuhan, atau mungkin saja itu sesuatu yang berbeda. Apa saya percaya sesuatu yang ghaib? Bisa ya bisa tidak. Segala kemungkinan bisa saja terjadi dan seperti yang saya bilang, saya sangat terbuka dengan segala kemungkinan tersebut.
Saya merasa tidak nyaman jika saya disangkutpautkan dengan identitas faham ideologis, spiritual atau agama tertentu. Saya ingin bebas secara spiritual dari segala doktrin dan menyerap serta mempelajari ide spiritual apapun. Saya tidak tahu akan segala kemungkinan yang bakal terjadi. Bisa saja ada pemikiran baru yang membuat saya tertarik dan saya tidak mau menutup kemungkinan itu. Tapi bukan berarti saya tidak punya pendirian tetap. Open minded punya pengertian yang luas dan inilah prinsip pemikiran hidup saya.

Saya akui saya hidup dalam lingkungan budaya dan negara yang religius. Saya tidak bisa mengosongkan status agama saya di KTP. Kita selalu butuh identitas agama dalam keseharian kita. Saat kita sekolah, kita harus mengisi identitas agama begitu pun dalam dunia kerja dan sosial masyarakat. Dan oleh karena itu secara hukum dan budaya saya masihlah seorang Muslim. Terkadang saya juga membutuhkan waktu untuk beradaptasi di lingkungan baru dimana saya harus menunjukkan sisi religius saya sebagai salah satu syarat agar dapat diterima di lingkungan baru saya itu. Ini memang cukup melelahkan dan terkadang cukup menyiksa batin saya, tetapi bagaimana pun saya harus melakukan itu agar tidak mau dijauhi yang lain. Sungguh miris memang.

Saya hanya segelintir dari miliaran manusia lainnya di dunia. Ada banyak miliaran manusia lain yang mungkin bahkan punya pandangan yang jauh berbeda. Kehidupan spiritual manusia teramat kompleks. Bersyukurlah karena manusia dikarunia kenikmatan spiritual yang tidak dimiliki makhluk hidup lain. Pernahkan kalian melihat kucing menyembah duri ikan? Atau para semut yang mengerumuni berhala gula?  Ataupun anjing yang berdoa untuk dewa tulang belulang? Tak ada satupun makhluk di planet ini yang memiliki kehidupan spiritual seperti manusia. Saya tidak tahu dengan makhluk planet lain. Mungkin mereka punya kehidupan spiritual tersendiri yang jauh berbeda. Lihatlah Piramida-piramida Mesir atau piramida-piramida suku Inca, Kuil-kuil Yunani, Ka’bah, Masjidil Haram, Biara-biara para biksu Buddha, Kuil Dewa Dewi di China, Kathedral Vatikan, Candi-candi megah di negeri kita atau pun batu-batu besar megalitik peninggalan zaman prasejarah. Semua maha karya megah tersebut tercipta karena adanya kehidupan spiritual manusia. Spiritualitas dan norma religius merupakan salah satu penggerak peradaban kita. Tanpa kehidupan spiritual dan norma religius dari nenek moyang kita, mungkin sejarah akan jauh berbeda. Tapi terkadang kehidupan religius bisa bersifat destruktif. Well, sesuatu yang berlebihan akan selalu berdampak tidak baik, bukan? Begitu pun dengan sikap religius yang berlebihan.

Sungguh prihatin dengan isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan) yang tengah berkembang dalam kehidupan bermasyarakat kita akhir-akhir ini. Sekelompok agama yang dalam hal ini ormas-ormas Islam melaporkan seorang pejabat negara karena dituduh melakukan penistaan agama Islam sehingga menimbulkan aksi massa besar-besaran. Dan sekarang, tengah terjadi pula pelaporan sebaliknya tentang seorang petinggi agama Islam yang dituduh menistakan agama Kristen dan Katholik dalam dakwahnya. Agama satu melaporkan agama lainnya, begitu pula sebaliknya. Sungguh mengerikan. Apa yang terjadi pada bangsa ini? Seakan semua pihak mengaggungkan egonya masing-masing. Entah apa yang terjadi dengan pola pikir masyarakat kita. Tidakkah semua gesekan ini bisa diselesaikan dengan cara damai?

Isu-isu SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar golongan) yang tersebar di media masa dan media sosial seakan mudah berkembang menjadi virus-virus kebencian yang mengkhawatirkan. Bisa kita ambil salah satu contohya, jika anda membaca sebuah postingan berbau SARA ( bahkah terkadang yang tidak ada sangkut pautnya dengan SARA), lihatlah komentar-komentar dibawahnya. Maka yang ada lihat adalah adu argumen tentang SARA yang sering membuat saya tersenyum miris melihatnya. Semua orang merasa paling benar. Semua orang merasa menjadi malaikat paling sempurna. Gila! Sudah separah itukah egoisme dalam masyarakat kita? Sudah sekronis itukah virus kebencian dalam generasi kita? Di saat bangsa lain sudah berpikir tentang ekspedisi ilmiah ke planet Mars, bangsa kita masih berkutat pada konflik sempit agama. Tidak heran kalau bangsa ini masih kalah bersaing dengan bangsa lain.

Saya juga ingin menyoroti istilah “kafir” yang sepertinya menjadi “tren” saat ini. Begitu mudahnya orang menyebut kafir pada orang lain. Bahkan anak-anak usia belia dengan ringannya menyebut kafir pada teman sebaya mereka yang berbeda agama. Kafir menurut Islam berarti orang yang bukan Islam. Saya jadi teringat dengan sebuah tulisan blog yang saya baca di MojokDotCom yang membahas kontroversi penyebutan kafir. Berdasarkan pengertian kafir tersebut, menyebut orang yang beda agama dengan sebutan kafir memang tidaklah salah. Tapi jika anda menyebut kafir dengan begitu mudahnya kepada orang lain tentu ada sesuatu yang salah dengan nurani anda. Ibarat anda menyebut “orang cacat” secara frontal kepada orang cacat yang kehilangan salah satu bagian tubuhnya. (Ini hanya analogi semata tidak ada maksud untuk menyamakan orang kafir dengan orang cacat).  Orang cacat memang adalah orang cacat. Pernyebutan orang cacat untuk orang yang telah kehilangan salah satu bagian tubuhnya memang  sebuah pernyataan yang benar. Tapi sebegitu tegakah kita mengatakan hal tersebut secara vulgar. Bagaimana kalau orang yang cacat itu sakit hati. Bukankah menyakiti hati orang lain termasuk salah satu dosa dalam agama? Hal demikian juga terjadi bila anda secara frontal menyebut kafir kepada orang yang beda agama. Apakah anda tahu kalau orang yang anda sebut kafir itu sakit hati atau tidak? Bagaimana kalau sakit hati? Malah dalam beberapa kasus bisa berkembang ke arah pem-bully-an. Dimanakah nurani anda? Anda tentu juga punya hati? Anda tentu manusia? Kejujuran memang terkadang menyakitkan tapi agama apapun tentunya tidak akan membenarkan bila anda menyakiti hati orang lain. Memprihatinkan memang. Nurani seakan tertutup oleh egoisme buta.

Saya akui saya hanya seorang warga biasa yang tidak mempunyai kontribusi berarti bagi negara. Saya hanya sedang menggunakan hak saya untuk bebas berpendapat sebagai warga negara.
Apa yang terjadi dengan konflik horizontal yang terjadi dalam masyarakat belakangan ini membuat saya menjadi semakin skeptis dengan agama dan segala kehidupan religius di dalamnya. Tapi di balik semua itu, saya merasa sangat bersyukur dengan prinsip hidup saya yang tidak mau dilabeli agama. Harus saya akui, saya merasa lebih bahagia daripada tahun-tahun sebelumnya. Sampai di titik ini, saya merasa mantap kalau saya tidak perlu norma agama untuk bisa menjadi manusia beradab. Saya tidak terlalu memperdulikan judgement dari orang lain tentang saya. Saya melakukan segala sesuatu berdasarkan nurani saya. Berbuat baik pada siapa saja tanpa perlu memikirkan pahala. Menjauhi segala sesuatu yang buruk dengan akal sehat saya. Saya merasa menjadi manusia sebenarnya dan berada pada titik nyaman kehidupan batiniah saya.

Zero Spiritual Identity, mungkin itulah istilah yang tepat untuk menggambarkan konsep kehidupan spiritual saya. Istilah ini memang istilah baru yang saya buat sendiri tapi makna yang terkandung di dalamnya bisa mewakili konsep kehidupan spiritual saya saat ini. Zero berarti nol atau tidak ada, Spiritual berarti kehidupan spiritual atau spiritualitas, dan Identity berarti  identitas. Jadi, Zero Spiritual Identity  bisa diartikan sebagai ketiadaan identitas spiritual dalam diri seseorang. Yup, itulah saya. Dan saya merasa bahagia dengan pilihan hidup saya ini.

Agama merupakan suatu konsep kehidupan spiritual. Sebagian besar orang mungkin masih butuh agama sebagai pedoman hidup mereka. Tiap agama mengajarkan kebaikan, setidaknya itulah yang saya yakini. Jangan sampai segala kebaikan ini tertutupi oleh sikap egoisme kepentingan golongan. Jangan sampai konsep pedoman hidup ke arah yang lebih baik dalam agama malah berubah menjadi sesuatu yang destruktif karena anda menganggap agama anda yang paling benar, dan yang lain salah. Anda mungkin benar, tapi yang lain belum tentu salah. Anda hanya belum melihat sisi lain dari kehidupan yang dilihat orang lain. Kebenaran tergantung dari perspektif masing-masing. Tapi kebenaran yang paling hakiki ada dalam nurani anda masing-masing. Jangan bohongi nurani anda hanya ingin dianggap paling benar.

Bagaimanapun tulisan ini hanya sekedar pandangan pribadi saya tanpa keinginan untuk menyinggung siapapun. Semoga dunia ini akan mencapai kedamaian paling hakiki. Semoga..  ya semoga saja itu terjadi. Semoga kita menjadi manusia yang lebih baik lagi…

image

Who me? Alien baby?

Am I an alien?
A strange creature or unidentified fuckin human?

Pertanyaan absurd itu selalu muncul dalam benak saya ketika masih kecil. Saya anak yang pendiam. Saya kurang bisa membaur dengan lingkungan sekitar. Saya gak suka banyak bicara. Ketika kumpul dengan keluarga besar, saya lebih senang berdiam diri di kamar. Di tengah keriuhan kelas, saya lebih sering duduk mengasingkan diri hanya dengan krayon dan kertas gambar. Saya ini sebuah paradoks. Teman-teman banyak yang menganggap saya sombong dan arogan karena dinilai tak mau bergaul dengan sesama. Tapi kenyataannya saya tidak begitu. Ini sungguh membuat saya tertekan dan membuat saya semakin terasingkan. Ini sungguh menyakitkan. Kenapa saya berbeda dari mereka? Siapakah saya? Apa saya ini makhluk asing yang turun dari planet antah berantah? Mungkinkah saya ini alien seperti yang sering saya tonton dalam film-film fiksi ilmiah?

Pertanyaan konyol itu terus berlanjut hingga saya remaja dan kini beranjak dewasa. Saya masih mengasingkan diri dari dunia luar. Saya masih begitu nyaman dengan dunia saya sendiri. Dan saya masih belum tahu siapa diri saya sampai suatu hari saya membaca sebuah artikel yang bisa menjelaskan kepribadian saya. Ya, kepribadian yang dibahas dalam artikel itu benar-benar sangat cocok dengan kepribadian saya. Introvert, itulah saya. Dan mungkin juga untuk kamu-kamu yang punya kepribadian seperti saya. Ternyata saya tidak sendiri. Ternyata saya ini bukan makhluk asing yang berasal dari planet Pandora. Ternyata saya ini memang manusia. Tapi jenis manusia langka yang konon katanya hanya ada 20% dari populasi manusia yang ada di dunia.

Kepribadian introvert adalah kebalikan dari extrovert. Satu sama lain memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Orang extrovert cenderung membuka diri sedangkan orang introvert sebaliknya. Ibarat bumi dan langit, kedua kepribadian itu membuat karakter manusia menjadi semakin berwarna. Semua saling mengisi. Semua istimewa,. Tapi kali ini saya cuma ingin membahas kepribadian yang kedua, yakni introvert. Kepribadian saya, dan mungkin kepribadian kamu juga.  

Menurut beberapa artikel studi ilmiah yang sempat saya baca, orang introvert itu cenderung mudah depresi. Sebagian diantara mereka gak bisa menerima diri sendiri. Kesendirian mereka bisa menjadi boomerang pribadi. Mereka tak tahu bagaimana cara berbagi. Mereka cenderung menyalahkan diri dan bahkan bisa berakhir dengan menghilangkan nyawa sendiri. Wuihh… serem! Jujur, saya juga sempet yang namanya depresi. Ini gila. Kita seakan ingin mengutuk diri sendiri. Kenapa sih saya dilahirkan ke dunia ini? Lebih baik saya diaborsi. Saya takut hidup sendiri. Terisolasi dari planet bumi. Bahkan saya berharap untuk diculik oleh alien ke planet lain dan tinggal di dunia yang tidak menuntut saya untuk bersosialisasi. Cuma saya yang mengerti saya sendiri. Eksistensi saya seperti sudah ditelan bumi.

Introvert itu menyebalkan? Entahlah.  Setelah saya coba googling dengan kata kunci introvert, saya banyak menemukan tulisan menakjubkan yang membahas tentang kepribadian unik itu. Banyak orang-orang keren di dunia ini yang ternyata seorang introvert. Yay, that is true!!! Bill Gates, Mahatma Gandhi, JK Rowling dan Steve Jobs adalah contohnya. Sebagian besar orang-orang introvert adalah orang-orang yang penuh kreatifitas tinggi. Pemikiran mereka adalah sebuah manifestasi. Karena mereka cenderung menutup diri, maka ide-ide yang meluncur dari pemikiran mereka cenderung lebih tereksplorasi. Meskipun mereka minim dalam berinteraksi tapi mereka sangat pandai dalam memaksimalkan bakat dan potensi yang mereka miliki. Introversi adalah sebuah investasi. Ini terbukti.

Introversion is “the state of or tendency toward being wholly or predominantly concerned with and interested in one’s own mental life”. Some popular writers have characterized introverts as people whose energy tends to expand through reflection and dwindle during interaction. (sumber : wikipedia)

Menjadi introvert bukan suatu pilihan. Jujur, saya sempat tidak mau memilih introvert sebagai jati diri saya. Tapi mau gimana lagi, wong ini udah dari sononya begitu. Biarkan orang-orang menjudge saya, saya memang begini apa adanya. Do we suck? No! Like what I said, we’re just different. Menjadi pendiam itu bukan kutukan. Kita tidak selamanya terasingkan. Ada kalanya kita cerewet dan tertawa terbahak-bahak dengan teman-teman dekat kita. Orang introvert memang cenderung memiliki sedikit teman. Meskipun sedikit, tapi berkualitas karena teman mereka adalah teman-teman dekat atau sahabat yang bisa dipercaya. Dan saya akui itu. Saya punya beberapa teman SMA yang masih eksis sampai sekarang. Ketika bersama mereka, saya benar-benar merasa jadi diri saya. Mereka tahu baik buruknya saya. Saya bisa bercanda dan tertawa lepas bersama mereka. Ini sungguh kontras bila saya berada di tengah orang-orang yang berbeda. Saya merasa normal seperti anak muda pada umumnya.

Orang introvert itu mungkin terlihat cuek. Tapi di balik kecuekannya itu mereka memiliki “kekepoan” yang luar biasa. Dalam kesendirian, mereka senang membaca. Poin ini kembali saya akui. Ketika waktu senggang, saya lebih suka menyibukkan diri dengan googling atau browsing. Mulai dari membaca informasi gak penting sampai informasi yang benar-benar penting. Mungkin mereka sering terlihat bego kalau berinteraksi dengan lingkungan sekitar, tapi sebenarnya mereka memiliki wawasan yang sangat luas! (Wuih, mulai sombong nih hehe!). Cuman sayangnya mereka kurang bisa mengungkapkan kepandaian mereka. Semua itu karena terbatasnya kemampuan lisan mereka. Eits, tapi jangan salah lho! Mereka bisa jadi pembicara yang luar biasa ketika dihadapkan dalam sebuah forum resmi. Ketika masih sekolah, saya suka sekali mengikuti lomba pidato atau debat. Saya senang berbicara di depan kelas, terutama saat saya menguasai materinya. Sampai sekarang pun masih begitu. Saya sangat senang berbicara dalam seminar, beradu argumen dalam forum biasa atau di dunia maya dan berbicara dalam sebuah wawancara kerja. Saya bisa bersuara. Ya, tapi bukan buat basa basi semata. Dan satu hal lagi, orang introvert juga cenderung lebih aktif di dunia maya. Jangan heran kalau mereka lebih cerewet di jejaring sosial. Mereka memang lebih nyaman mengungkapkan segala sesuatu dengan tulisan. Buktinya saya hehe… Saya senang sekali menulis seperti tulisan yang sedang kamu baca ini. Saya suka sekali ngeblog, nulis artikel atau cerita fiksi. Saya lebih senang mengungkapkan pemikiran dalam ketikan kata-kata. Makannya jangan heran kalau banyak orang introvert yang jadi penulis atau ahli filsafat. Penulis dan filsuf seperti Plato, Jean-Paul Sartre, Friedrich Nietzsche atau Milan Kundera adalah contohnya. Mereka besar dengan tulisan mereka yang fenomenal, bahkan kontroversial.

Ya, begitulah introvert. Terkadang pemikiran mereka agak berbeda dari pemikiran kebanyakan orang. Mereka orang yang sangat prinsipal dan memandang hidup secara esensial. Pemikiran mereka cenderung masuk ke dalam. Terkadang, mereka tak mau mengikuti alur hidup orang kebanyakan. Pemikiran mereka jauh dari kata mainstream. Mereka adalah para pemikir abstrak yang tak mudah dijebak. Mereka tidak mudah terpengaruh oleh orang lain. Tapi mereka juga tak akan berusaha untuk mempengaruhi orang lain. Orang lain akan terpengaruh dengan sendirinya tanpa orasi basa-basi. And it’s naturally! Not artificial or officially. Just go flow and simply.

Ternyata karakter introvert gak seburuk yang kita duga. Di balik kelemahannya, seseorang yang introvert ternyata bisa mengubah dunia. Memang semua itu tidak bisa terjadi secara radikal, tapi jangan remehkan kemampuan mereka. Mereka bisa sangat mengejutkan dalam sebuah kesempatan. Buat kamu yang merasa introvert, berikut ini berapa alasan kenapa kamu harus berbesar hati (tapi jangan untuk menyombongkan diri tentunya) menjadi seorang introvert :

1. Orang introvert itu mandiri
We’re not an individualist! Kita cuma senang menyendiri. Orang introvert lebih senang mengerjakan segala sesuatu sendiri. Mereka tak akan meminta bantuan orang lain selama masih bisa mengerjakannya sendiri. Mereka tak ingin terikat oleh apapun. Bantuan orang lain adalah sesuatu yang sangat mahal bagi mereka. Mereka tak ingin menyusahkan orang lain untuk alasan yang sepele.

2. Orang introvert itu mempunyai toleransi yang tinggi
Siapa bilang mereka cuek dan arogan? Justru dibalik sifat diam mereka ada suatu empati. Mereka lebih baik mengalah daripada harus terjadi konflik. Mereka sangat menghargai kehadiran orang-orang yang ada di sekitar mereka. Mereka akan membiarkan orang lain bicara terlebih dahulu dalam berargumentasi. Tapi jangan harapkan mereka kalah dalam beradu argumentasi. Mereka cuma tak ingin mengacau. Sangat pantang bagi mereka untuk membuat seseorang sakit hati. Karena mereka akan sangat merasa bersalah bila itu terjadi.

3. Orang introvert itu punya idealis tinggi
Seperti yang saya bilang tadi, introvert itu prinsipal sekali. Mereka akan melakukan apapun untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Mereka cenderung obsesif dan tidak mudah digoyahkan oleh pemikiran sekilas.

4. Orang introvert itu kreatif
Karena mereka lebih senang memikirkan segala sesuatu sendiri, maka ide-ide yang keluar dari pikiran mereka pun cenderung orisinil. Kebanyakan mereka cocok bekerja dalam bidang kreatif seperti seni atau sains yang memiliki tingkat orisinalitas yang tinggi.

5. Orang introvert itu loyalis
Yap, mereka akan selalu berpegang  teguh dengan apa yang mereka yakini. Mereka adalah sahabat yang setia. Mereka akan menjadi karyawan yang loyal bila mereka dipercaya dan dihargai.

6. Orang introvert itu peduli
Tidak banyak yang tahu akan hal ini. Mereka itu sebenarnya peduli. Mereka akan melakukan apapun untuk orang yang mereka sayangi. Mereka akan selalu siap membantu siapa pun juga. Hanya saja mereka tak ingin bantuan atau pertolongan mereka diketahui orang lain. Mereka tidak mau semua orang tahu karena mereka tidak ingin menonjolkan diri. Menonjolkan diri membuat mereka tak nyaman. Menjadi pusat perhatian adalah sebuah beban. Mereka hanya ingin mengulurkan tangan. Tak ada niat lain selain untuk memberi pertolongan. 

Itulah beberapa kelebihan orang introvert yang saya ketahui. Kita memang punya banyak kekurangan, tapi kita juga punya kelebihan yang sangat berpotensi. Saya cuma ingin mensyukuri apa yang telah Tuhan beri. Saya tidak ingin meninggikan hati. Ini cuma sebuah bentuk motivasi diri. Saya bukan alien atau makhluk asing lagi. Well, anggap saja itu hanya sebagai buah pemikiran imajinatif semata. Tapi alien juga makhluk Tuhan kan? Saya gak peduli dengan para pemikir materialis yang memperdebatkan hal ini. Alien atau bukan, yang penting kita mencintai diri kita sendiri

Okay, I’m not an alien. Nor an alien in human body. No matter what they say, people will always judge. So I just have to smile and relax, I’m just an introvert and now, I’m really proud of it. Excactly!! 🙂

(Sumber gambar : google)