Posts Tagged ‘Filsafat’

(Sumber Gambar : Google)

Sepertinya kali ini saya ingin membicarakan sesuatu yang cukup serius, bahkan boleh dibilang sangat serius. Tiba-tiba saya teringat sebuah trailer film hasil karya anak negeri yang saya lihat tahun lalu. Sebuah trailer dari film yang berjudul Bulan Terbelah di Langit Amerika. Saya langsung tergelitik begitu mendengar salah satu kutipan film tersebut.

“Apakah dunia akan lebih baik tanpa Islam?”

Dan sontak saja saya langsung menjawab TIDAK. Dunia BUTUH Islam, sama halnya dengan dunia butuh Kristen, Buddha, Yahudi, Hindu, Ateisme, Agnostisme, Sekularisme dan agama serta faham ideologi lainnya.

Dunia butuh keberagaman akan agama, ideologi, budaya dan pola pikir yg membuat manusia hidup dalam hakikat indahnya keberagamaan peradaban. Dunia tentu akan berbeda dengan apa yang kita lihat sekarang jika tanpa Islam atau agama lainnya. Gak kebayang jika dunia hanya ada satu agama, maka peradaban manusia tentu akan sangat membosankan. Manusia bakal hidup dalam satu kebudayaan yang monoton dan pola pikir yang seragam. Mendadak saya jadi teringat dengan film The Giver yang dibintangi Merryl Streep yang sempat saya tonton tahun lalu. Filmnya gak terlalu bagus sih. Film itu menggambarkan kalau manusia hidup dalam satu peradaban yang monoton. Kalau menurut saya hal itu cukup mengerikan. Itu sangat bertentangan dengan kodrat manusia. Tiap individu manusia itu berbeda satu dan lainnya. Isi kepala kita berbeda begitu pula dengan masing-masing jalan hidup kita. Menyeragamkan pola pikir manusia sama saja dengan menentang hakikat alamiah manusia sebagai makhluk individual dengan kepribadian yang sangat beragam. Dan ini bisa jadi malapetaka.

Saya dilahirkan sebagai seorang Muslim. Orang tua, keluarga dan lingkungan tempat tinggal saya juga muslim. Saya diajarkan sholat, mengaji dan mengikuti peribadatan dengan tata cara muslim. Saya bersyukur dengan hal itu meski sejak beberapa tahun ke belakang, saya memutuskan untuk meninggalkan semua kehidupan religius saya itu. Semua teman dan rekan-rekan saya menganggap saya gila tapi itu benar adanya. Keputusan saya untuk hidup tanpa dilabeli agama adalah keputusan yang sudah saya pikirkan sejak jauh-jauh hari, bahkan sejak saya duduk di bangku SMP dan SMA. Saya rasa teman-teman sekolah saya tahu akan hal itu.

Ada sejuta pertanyaan esensial yang selalu menggelitk hati saya sejak saya kecil. Dan itu semakin membuncah saat saya beranjak dewasa. Hingga akhirnya saya tidak mau membohongi diri saya lagi dan membuka diri pada orang lain kalau saya hidup tanpa agama. Dan saya sangat lega dengan hal itu. Saya tidak mau menyebut saya Atheis atau Agnostik. Saya tidak mau melabeli diri saya dengan faham-faham itu. Saya tidak mau ikut agama atau faham terentu karena saya ingin terbuka dengan pemikiran baru yang akan selalu datang setiap waktu. Lalu apa saya percaya Tuhan? Mungkin iya. Saya percaya akan suatu kekuatan besar di luar batas pikiran kita yang menyebabkan semua kehidupan di alam semesta. Mungkin saja itu Tuhan, atau mungkin saja itu sesuatu yang berbeda. Apa saya percaya sesuatu yang ghaib? Bisa ya bisa tidak. Segala kemungkinan bisa saja terjadi dan seperti yang saya bilang, saya sangat terbuka dengan segala kemungkinan tersebut.
Saya merasa tidak nyaman jika saya disangkutpautkan dengan identitas faham ideologis, spiritual atau agama tertentu. Saya ingin bebas secara spiritual dari segala doktrin dan menyerap serta mempelajari ide spiritual apapun. Saya tidak tahu akan segala kemungkinan yang bakal terjadi. Bisa saja ada pemikiran baru yang membuat saya tertarik dan saya tidak mau menutup kemungkinan itu. Tapi bukan berarti saya tidak punya pendirian tetap. Open minded punya pengertian yang luas dan inilah prinsip pemikiran hidup saya.

Saya akui saya hidup dalam lingkungan budaya dan negara yang religius. Saya tidak bisa mengosongkan status agama saya di KTP. Kita selalu butuh identitas agama dalam keseharian kita. Saat kita sekolah, kita harus mengisi identitas agama begitu pun dalam dunia kerja dan sosial masyarakat. Dan oleh karena itu secara hukum dan budaya saya masihlah seorang Muslim. Terkadang saya juga membutuhkan waktu untuk beradaptasi di lingkungan baru dimana saya harus menunjukkan sisi religius saya sebagai salah satu syarat agar dapat diterima di lingkungan baru saya itu. Ini memang cukup melelahkan dan terkadang cukup menyiksa batin saya, tetapi bagaimana pun saya harus melakukan itu agar tidak mau dijauhi yang lain. Sungguh miris memang.

Saya hanya segelintir dari miliaran manusia lainnya di dunia. Ada banyak miliaran manusia lain yang mungkin bahkan punya pandangan yang jauh berbeda. Kehidupan spiritual manusia teramat kompleks. Bersyukurlah karena manusia dikarunia kenikmatan spiritual yang tidak dimiliki makhluk hidup lain. Pernahkan kalian melihat kucing menyembah duri ikan? Atau para semut yang mengerumuni berhala gula?  Ataupun anjing yang berdoa untuk dewa tulang belulang? Tak ada satupun makhluk di planet ini yang memiliki kehidupan spiritual seperti manusia. Saya tidak tahu dengan makhluk planet lain. Mungkin mereka punya kehidupan spiritual tersendiri yang jauh berbeda. Lihatlah Piramida-piramida Mesir atau piramida-piramida suku Inca, Kuil-kuil Yunani, Ka’bah, Masjidil Haram, Biara-biara para biksu Buddha, Kuil Dewa Dewi di China, Kathedral Vatikan, Candi-candi megah di negeri kita atau pun batu-batu besar megalitik peninggalan zaman prasejarah. Semua maha karya megah tersebut tercipta karena adanya kehidupan spiritual manusia. Spiritualitas dan norma religius merupakan salah satu penggerak peradaban kita. Tanpa kehidupan spiritual dan norma religius dari nenek moyang kita, mungkin sejarah akan jauh berbeda. Tapi terkadang kehidupan religius bisa bersifat destruktif. Well, sesuatu yang berlebihan akan selalu berdampak tidak baik, bukan? Begitu pun dengan sikap religius yang berlebihan.

Sungguh prihatin dengan isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan) yang tengah berkembang dalam kehidupan bermasyarakat kita akhir-akhir ini. Sekelompok agama yang dalam hal ini ormas-ormas Islam melaporkan seorang pejabat negara karena dituduh melakukan penistaan agama Islam sehingga menimbulkan aksi massa besar-besaran. Dan sekarang, tengah terjadi pula pelaporan sebaliknya tentang seorang petinggi agama Islam yang dituduh menistakan agama Kristen dan Katholik dalam dakwahnya. Agama satu melaporkan agama lainnya, begitu pula sebaliknya. Sungguh mengerikan. Apa yang terjadi pada bangsa ini? Seakan semua pihak mengaggungkan egonya masing-masing. Entah apa yang terjadi dengan pola pikir masyarakat kita. Tidakkah semua gesekan ini bisa diselesaikan dengan cara damai?

Isu-isu SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar golongan) yang tersebar di media masa dan media sosial seakan mudah berkembang menjadi virus-virus kebencian yang mengkhawatirkan. Bisa kita ambil salah satu contohya, jika anda membaca sebuah postingan berbau SARA ( bahkah terkadang yang tidak ada sangkut pautnya dengan SARA), lihatlah komentar-komentar dibawahnya. Maka yang ada lihat adalah adu argumen tentang SARA yang sering membuat saya tersenyum miris melihatnya. Semua orang merasa paling benar. Semua orang merasa menjadi malaikat paling sempurna. Gila! Sudah separah itukah egoisme dalam masyarakat kita? Sudah sekronis itukah virus kebencian dalam generasi kita? Di saat bangsa lain sudah berpikir tentang ekspedisi ilmiah ke planet Mars, bangsa kita masih berkutat pada konflik sempit agama. Tidak heran kalau bangsa ini masih kalah bersaing dengan bangsa lain.

Saya juga ingin menyoroti istilah “kafir” yang sepertinya menjadi “tren” saat ini. Begitu mudahnya orang menyebut kafir pada orang lain. Bahkan anak-anak usia belia dengan ringannya menyebut kafir pada teman sebaya mereka yang berbeda agama. Kafir menurut Islam berarti orang yang bukan Islam. Saya jadi teringat dengan sebuah tulisan blog yang saya baca di MojokDotCom yang membahas kontroversi penyebutan kafir. Berdasarkan pengertian kafir tersebut, menyebut orang yang beda agama dengan sebutan kafir memang tidaklah salah. Tapi jika anda menyebut kafir dengan begitu mudahnya kepada orang lain tentu ada sesuatu yang salah dengan nurani anda. Ibarat anda menyebut “orang cacat” secara frontal kepada orang cacat yang kehilangan salah satu bagian tubuhnya. (Ini hanya analogi semata tidak ada maksud untuk menyamakan orang kafir dengan orang cacat).  Orang cacat memang adalah orang cacat. Pernyebutan orang cacat untuk orang yang telah kehilangan salah satu bagian tubuhnya memang  sebuah pernyataan yang benar. Tapi sebegitu tegakah kita mengatakan hal tersebut secara vulgar. Bagaimana kalau orang yang cacat itu sakit hati. Bukankah menyakiti hati orang lain termasuk salah satu dosa dalam agama? Hal demikian juga terjadi bila anda secara frontal menyebut kafir kepada orang yang beda agama. Apakah anda tahu kalau orang yang anda sebut kafir itu sakit hati atau tidak? Bagaimana kalau sakit hati? Malah dalam beberapa kasus bisa berkembang ke arah pem-bully-an. Dimanakah nurani anda? Anda tentu juga punya hati? Anda tentu manusia? Kejujuran memang terkadang menyakitkan tapi agama apapun tentunya tidak akan membenarkan bila anda menyakiti hati orang lain. Memprihatinkan memang. Nurani seakan tertutup oleh egoisme buta.

Saya akui saya hanya seorang warga biasa yang tidak mempunyai kontribusi berarti bagi negara. Saya hanya sedang menggunakan hak saya untuk bebas berpendapat sebagai warga negara.
Apa yang terjadi dengan konflik horizontal yang terjadi dalam masyarakat belakangan ini membuat saya menjadi semakin skeptis dengan agama dan segala kehidupan religius di dalamnya. Tapi di balik semua itu, saya merasa sangat bersyukur dengan prinsip hidup saya yang tidak mau dilabeli agama. Harus saya akui, saya merasa lebih bahagia daripada tahun-tahun sebelumnya. Sampai di titik ini, saya merasa mantap kalau saya tidak perlu norma agama untuk bisa menjadi manusia beradab. Saya tidak terlalu memperdulikan judgement dari orang lain tentang saya. Saya melakukan segala sesuatu berdasarkan nurani saya. Berbuat baik pada siapa saja tanpa perlu memikirkan pahala. Menjauhi segala sesuatu yang buruk dengan akal sehat saya. Saya merasa menjadi manusia sebenarnya dan berada pada titik nyaman kehidupan batiniah saya.

Zero Spiritual Identity, mungkin itulah istilah yang tepat untuk menggambarkan konsep kehidupan spiritual saya. Istilah ini memang istilah baru yang saya buat sendiri tapi makna yang terkandung di dalamnya bisa mewakili konsep kehidupan spiritual saya saat ini. Zero berarti nol atau tidak ada, Spiritual berarti kehidupan spiritual atau spiritualitas, dan Identity berarti  identitas. Jadi, Zero Spiritual Identity  bisa diartikan sebagai ketiadaan identitas spiritual dalam diri seseorang. Yup, itulah saya. Dan saya merasa bahagia dengan pilihan hidup saya ini.

Agama merupakan suatu konsep kehidupan spiritual. Sebagian besar orang mungkin masih butuh agama sebagai pedoman hidup mereka. Tiap agama mengajarkan kebaikan, setidaknya itulah yang saya yakini. Jangan sampai segala kebaikan ini tertutupi oleh sikap egoisme kepentingan golongan. Jangan sampai konsep pedoman hidup ke arah yang lebih baik dalam agama malah berubah menjadi sesuatu yang destruktif karena anda menganggap agama anda yang paling benar, dan yang lain salah. Anda mungkin benar, tapi yang lain belum tentu salah. Anda hanya belum melihat sisi lain dari kehidupan yang dilihat orang lain. Kebenaran tergantung dari perspektif masing-masing. Tapi kebenaran yang paling hakiki ada dalam nurani anda masing-masing. Jangan bohongi nurani anda hanya ingin dianggap paling benar.

Bagaimanapun tulisan ini hanya sekedar pandangan pribadi saya tanpa keinginan untuk menyinggung siapapun. Semoga dunia ini akan mencapai kedamaian paling hakiki. Semoga..  ya semoga saja itu terjadi. Semoga kita menjadi manusia yang lebih baik lagi…

Iklan
surga 35

“Heaven is under our feet as well as over our heads.” ― Henry David Thoreau, Walden

Aku akan keliling dunia dan menemukan surga. Lihat saja.

Namaku Arka. Seorang pemuda yang selama 27 tahun hidupnya selalu dihantui thalasemia. Thalasemia? Ya, penyakit kelainan darah itu sudah mendarah daging dalam tubuhku. Tak ada kepastian sembuh bagiku. Hidupku bergantung pada tranfusi darah yang harus dilakukan setiap bulannya, aku juga harus mendapat suntikan desferal selama 10 jam setiap malam. Bukankah itu sungguh keterlaluan? Semua ini benar-benar melelahkan. Rasanya aku ingin mati saja. Seluruh biaya pengobatanku bergantung pada asuransi kesehatan yang didaftarkan oleh mendiang ayahku. Ya, ayahku juga begitu. Karena thalasemialah ia meninggal 10 tahun lalu. Tak pernah kusangka aku akan mewarisi apa yang telah membunuhnya itu. Penyakitku ini lebih parah darinya. Aku bisa mati kapan saja karena thalasemia akut yang menyerang setiap harinya. Beberapa bagian tubuhku membengkak karena komplikasi getah limpa. Aku sudah seperti boneka yang tak bernyawa. Thalasemia telah merenggut kehidupan masa mudaku secara nyata.

Itulah aku.

Aku adalah aku. Aku jelas berbeda dengan Arya, adikku. Ia adalah satu-satunya saudara kandungku, satu-satunya keluarga yang kupunya selain Ibu. Usianya setahun lebih muda dariku. Kami terlahir dari gen yang sama, tapi secara lahiriah, kami berbeda. Kami bagai bumi dan langit. Semacam paradoks yang berlainan satu sama lain. Arya adalah pemuda luar biasa. Tak ada kelainan pada fisiknya, ia terlahir sehat tanpa warisan penyakit dari Ayah. Arya adalah kebalikan dari diriku. Ia pemuda yang aktif dan selalu tertarik pada hal baru. Jiwa petualang dalam dirinya amatlah besar. Ia telah mendapatkan semua hal yang diinginkan setiap manusia belia. Memiliki banyak kawan, aktif dalam pergaulan dan mendapat pendidikan yang layak di salah satu universitas ternama.

Aku dan Arya memang berbeda. Selain persamaan struktur DNA, hanya ada satu hal yang membuat kami sama, yakni seni. Kami berdua sama-sama terobsesi dengan seni. Kurasa ini tidak ada hubungannya dengan faktor keturunan atau silsilah keluarga. Seni telah menyatukan kami. Aku seni lukis, dan ia fotografi. Hobinya dalam fotografi berbanding lurus dengan hasrat petualangnya yang tinggi. Ia senang berpetualang dengan kamera DSLR-nya. Ia selalu menenteng kamera itu kemana-mana. Dua tahun lalu, aku memberikan kamera itu. Aku membelinya dari hasil penjualan beberapa karya lukisanku. Kamera itu telah menjadi bagian dari dirinya, bahkan menjadi salah satu modal dari proyek ambisiusnya.

Semua ini bermula saat setahun lalu, saat ia pertama kali menceritakan proyek gilanya. Secara mengejutkan, ia ungkapkan keinginan untuk cuti sejenak dari kuliah ekonominya. Ada sebuah proyek besar yang tiba-tiba mengubah haluan hidupnya, sebuah proyek irasional yang mungkin akan membuat siapa saja terbelalak begitu mendengarnya.

“Aku akan keliling dunia untuk thalasemia!” begitu katanya, penuh semangat. Percakapan kami di ujung senja berubah menjadi kejutan absurd yang sulit dipercaya. “Kakak dan Ibu tak perlu khawatir. Ada banyak sponsor yang akan mendanai proyek ini. Aku akan melakukan perjalanan dengan sepeda. Aku akan keliling dunia!”

Itu adalah hal tergila yang pernah aku dengar. Adikku akan bersepeda sendiri keliling dunia demi proyek amal untuk para penderita thalasemia. Siapa yang sudah mencuci otak adikku ini? Kurasa ia terlalu banyak menonton tayangan Travel Channel. Dunia begitu luas. Roda sepeda tak akan mungkin mampu menaklukannya.

“Thalasemia dan surga, hanya itulah alasanku melakukan semua ini.”

“Surga?”‘

“Ya, surga. Ini adalah sebuah misi suci. Akan kubuat dunia mengerti apa itu thalasemia. Ini semua demi Kakak, mendiang ayah kita, dan seluruh penderita thalasemia yang ada di seluruh dunia.”

“Jangan bicara tentang surga. Bagimu, surga itu hanya sebesar 35 milimeter ukuran diameter lensa kamera. Janganlah kamu berbuat gila! Dunia tak seindah yang terpotret dalam lensa. Dunia tak seperti yang kamu kira.”

“Aku akan menunjukkannya, Kak! Aku akan melakukannya!”

Obsesi absurd Arya benar-benar terlaksana. Aku benar-benar tak percaya. Hari Kamis, tanggal 5 Mei, tepat di Hari Thalasemia Sedunia, ia memulai titik nol kilometernya dari Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta. Bersama iring-iringan sponsor dan ratusan penderita thalasemia, aku dan Ibu melepasnya. Ia berhasil menggaet beberapa sponsor untuk mendukung aksinya, diantaranya ada Yayasan Thalasemia Indonesia dan sebuah LSM internasional asal Amerika. Ia dibekali berbagai perlengkapan memadai untuk menunjang penjelajahannya. Ia melakukan semua ini bukan untuk memecahkan rekor dunia, tapi untuk membuktikan kalau kami ada: penderita thalasemia.

Seribu kilometer lebih telah ia tempuh selama 19 hari untuk sampai di Medan. Selat Malaka dilewati, negeri jiran disusuri hingga negeri Takshin Shinawatra pun dijejaki. Ia masuk Thailand lewat Pattani, kota rawan konflik yang untungnya sedang dalam kondisi aman terkendali. Di negeri gajah putih, ia mulai merasakan perbedaan budaya yang cukup signifikan. Ia bahkan sempat bertemu dengan seorang anak penderita thalasemia di Rumah Sakit Bumrungrad di Bangkok. Sebuah momen penuh haru pun sempat ia abadikan.

“Love for Nathon Nakshucay! Bocah manis yang berjuang dari keganasan thalasemia di Thailand. Usianya baru menginjak delapan, tapi semangatnya untuk bertahan hidup tak akan pernah bisa terpatahkan!”

Begitu bunyi keterangan foto yang ia unggah ke halaman Facebook dan Twitter-nya. Empati adalah sebuah bahasa universal yang bisa menembus semua batas budaya. Lebih dari separuh kasus thalasemia terjadi di Asia. Thailand hanya salah satu contohnya. Aksi Arya telah membuat kami membuka mata. Ternyata perjuangan ini bukan milik kami saja.

Thailand-Laos-Vietnam mampu dilewatinya dalam waktu 3 bulan. Waktu terasa begitu cepat berlalu sampai aku sadar ia sudah menembus China. Tak lupa ia selalu bagikan setiap momen berharga lewat email, blog, dan berbagai jejaring sosial miliknya. Ia tak pernah berhenti menyajikan foto-foto indah. Mulai dari fotonya di sungai Mekong, suasana perbatasan tiga negara di Golden Triangle, pose di gerbang Patuxai di kota Vientiane, sampai ikut tari caping di salah satu desa di Vietnam. Ia masuk China lewat kota Lang Son di Vietnam Utara. Dari China, ia akan memulai perjalanan mengikuti jalur sutera.

“Halo semuanya! Aku sudah berada di China. Thalasemia masih sangat asing di sini, tapi aku akan berusaha untuk tetap mengkampanyekannya,” ucap Arya dalam status Facebook-nya. Ia selalu berusaha untuk terhubung dengan kami sekeluarga, entah itu lewat email, sambungan telepon international ataupun lewat video chat. Ia cerita kalau ia sempat kehilangan sepedanya di salah satu desa di Ciang Rai, Thailand. Bahkan ia pun hampir kecopetan saat tersesat di di sebuah pasar di Laos Selatan.

China-Kazakhstan ditempuhnya selama dua bulan setengah dengan melewati terjalnya daratan dan pegunungan. Panas, hujan, bahkan badai, datang silih berganti. Siang dan malam hanya sekedar efek rotasi bumi. Dari dataran tinggi Yunan hingga Kwen Lun, dari Xinjiang hingga Alma Ata. Berbagai jenis orang telah ia temui. Dari etnis Han yang mendominasi, etnis Uyghur yang masih terdiskriminasi hingga etnis Kirgiz dan Kazakh yang sedang mencoba mencicipi modernisasi. Jantung Asia sudah dilewati. Kini benua biru sudah menanti.

Aku masih belum bisa percaya kalau adikku melakukan semua ini. Kami belajar sepeda 17 tahun lalu dan ia sudah mengayuh pedal sejauh itu.

“Kamu selalu membonceng Kakak saat pergi ke sekolah, dan sekarang kamu membonceng harapan para penderita thalasemia yang ada di seluruh Indonesia, bahkan dunia,” kataku dalam sebuah videochat via Skype pada tanggal 15 November. Saat itu Ia sedang bersantai di sebuah motel di Astana, ibukota Kazakhstan. Aku dan Ibu takjub melihat sosoknya terpampang di monitor komputer.

“Ah, Kakak bisa saja!” Ia tertawa. “Kakak dan Ibu sudah lihat foto-foto terbaruku, kan? Semuanya benar-benar luar biasa!”

“Iya, Ibu sudah lihat. Jaga selalu kesehatanmu! Ibu selalu mendoakanmu di sini.”

“Iya, Bu, aku selalu mengingat kata-kata Ibu. Doakan aku agar aku bisa cepat menyelesaikan misi ini. Sebentar lagi aku akan sampai di Rusia. Mungkin untuk beberapa lama aku tak akan bisa menghubungi Ibu dan Kakak. Aku akan melanjutkan perjalanan menuju danau Ural dengan melewati pangkalan roket luar angkasa Baikonur di selatan Kazakhstan. Katanya sinyal internet di sana sangat jelek.”

“Ibu dan Kakakmu mengerti. Tapi kalau memungkinkan, usahakan untuk tetap menghubungi kami.” Naluri Ibu tengah bersuara. Kami berjarak puluhan ribu kilometer jauhnya, tapi tak ada batasan geografi jika batin seorang ibu telah bicara.

“Iya, Bu, aku akan usahakan. Aku sayang Ibu.”

Arya melanjutkan perjalanan sucinya dengan menembus segala rintangan iklim dan cuaca. Aku selalu menunggu kabar darinya. Bagaimana mungkin kami terpisah selama 2 minggu lamanya. Setelah dari danau Ural, ia akan lanjut ke arah timur laut menuju Rusia, tapi aku belum mendapat satu kabarpun darinya. Ini aneh.

Sebulan telah berlalu. November telah berganti Desember. Musim gugur telah berganti menjadi musim dingin. Tak ada yang berubah kecuali resah yang terus membuncah. Kami sangat mengkhawatirkannya. Pihak sponsor yang turut serta memberangkatkannya berusaha mencari keberadaannya. Kemanakah ia kayuh sepedanya? Apa yang telah terjadi padanya? Sinyal GPS tak memberikan tanda. Jangan katakan kalau adik kecilku telah hilang. Terkadang ia memang bisa menjadi orang yang sangat menyebalkan. Terkadang ia terlalu asyik dengan dunianya sendiri hingga melupakan peradaban. Aku yakin ia akan segera menghubungi kami. Ini hanya soal waktu.

* * * *

Aku perlihatkan senyum untuk menyamarkan bentuk tulang wajahku yang tak biasa. Aku memandang lensa kamera. Latar belakang dinding ruang tamu yang bewarna putih terlihat kontras dengan kaos hitamku. Sekelibat kilatan lampu lensa menyilaukan mata. Arya langsung melihat hasil jepretan dari LCD kameranya.

“Tumben Kakak mau difoto. Emangnya buat apa, sih?” Ia ulangi lagi pertanyaan yang tadi belum sempat kujawab.

Aku tersenyum.

“Ini cuma buat jaga-jaga aja.”

“Jaga-jaga buat apa?”

“Jaga-jaga kalau sewaktu-waktu kamu butuh foto untuk kolom obituari…”

* * * *

Aku masih dirawat di rumah sakit dan Ibu masih menemaniku di sini. Cairan infus sudah menjadi teman sejati, senyum dokter sudah menjadi hal basi. Aku hanya tinggal menunggu terbitnya kolom obituari.

Sebentar lagi seseorang akan datang kemari. Katanya, ia akan menyerahkan sesuatu yang mungkin selama ini kami cari. Apakah itu? Aku tak mau terlalu berekspektasi. Bagiku ini hanya bagian dari mimpi. Aku tak mau berandai-andai lagi. Biarkan saja semua berjalan sesuai kendali.

Orang itu telah tiba. Ia adalah salah seorang staf kementerian luar negeri yang ditugaskan secara khusus untuk menemui kami. Kami sudah siap dengan segala kemungkinan yang terjadi. Apapun yang dikatakannya takkan kami ingkari. Kami sudah lama menantikan ini.

“Kami datang untuk menyerahkan ini,” kata seorang pria berbatik seraya memberikan sebuah kotak berukuran 50 kali 30 sentimeter. Aku yang masih duduk terbaring segera membuka kotak itu. Ada topi, jurnal ekspedisi, dan sebuah kamera yang beberapa bagiannya sudah tak lengkap lagi. “Semua ini punya Arya. Kami menemukannya di perbatasan Kazakhstan-Rusia beberapa waktu lalu.”

Batinku berontak, dan aku yakin kalau batin Ibu lebih berontak lagi. Aku coba lunakan emosi. Kuambil kamera yang sudah menemani adikku selama 2 tahun belakangan ini. Sulit dipercaya, ternyata kameranya masih berfungsi. Kucoba periksa beberapa folder yang tersimpan di memori kamera itu. Dari layar LCD 3 inchinya, aku dan Ibu memperhatikan setiap gambar yang berhasil terabadikan olehnya.

Foto-foto perjalanannya berhasil terabadikan dengan sempurna. Fotonya saat bersantai di dekat danau Ural, fotonya saat di area pangkalan roket luar angkasa Baikonur, dan masih banyak foto menakjubkan lainnya. Dan aku dibuat berhenti bernapas ketika melihat foto terakhirnya. Ia berpose di salah satu area di pegunungan Ural bersama sebuah spanduk bertuliskan “Love for Thalassemia”. Tapi bukan itu yang membuatku berhenti bernapas untuk sementara. Ia memakai kaos putih yang bertuliskan namaku di dadanya. A R K A, kelima huruf yang membentuk namaku itu ditulis dalam warna merah menyala. Aku tersenyum dibuatnya.

Aku tak tahu dimana kini kau berada, tapi aku yakin kau baik-baik saja. Tertulis jarak 35.603 kilometer dalam jurnal ekspedisimu. Kau sudah mengayuh sepeda terlalu jauh, adikku. Kami sungguh bangga padamu. Perjalananmu telah terabadikan dalam surga 35 milimetermu. Terima kasih atas segala perjuanganmu. Lekaslah pulang! Kami di sini menunggu ceritamu…

Pulanglah! Secepatnya…

* * * *

Sumber gambar: Google

Cerpen ini pernah dimuat di Annida Online edisi Desember 2013

Klik gambar

Klik gambar ini 🙂

image

God of Google

“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”  (QS Al-Hadid 3)

Lho kok tiba-tiba blog ini jadi berisi khotbah, sih? Saya tegaskan saya tidak sedang berkhotbah. Toh saya ini bukan ustadz atau “superstar agama”. Saya bukannya mau sok alim. Saya tahu saya bukan orang yang religius. Dan saya sama sekali gak berniat merubah blog ini menjadi blog dakwah atau semacamnya. Ayat di atas cuma sebagai salah satu bentuk korelasi dengan topik tulisan yang akan saya bahas. Maaf kalau judulnya agak provokatif. Itu cuma judul, alright! Lagian siapa pula yang nganggap Google sebagai Tuhan. Meski memang semakin hari apa yang dilakukan Google semakin menyamai beberapa sifat Tuhan. Tapi itu cuma omong kosong, bukan?

Kenapa saya membicarakan Google? Bukannya masih banyak mesin pencari lain di dunia maya seperti Bing, Yahoo, AOL dan sebagainya? Tapi Google adalah mesin pencari sejuta umat. Jangan bilang melek internet kalau gak pernah tahu Google. Kita semua tahu. Google juga tahu. Google dan googling sudah menjadi budaya abad ini. Dengan hanya mengetik—atau mengucapkan—sesuatu, kamu bisa tahu apa yang kamu ingin tahu. Siapa pun itu, dari mulai anak-anak sampai kakek nenek berusia senja, semua bisa menggunakannya kalau mereka mau. Google sudah mengubah peradaban dunia seutuhnya. Kita harus berterima kasih pada Larry Page dan Sergey Brin yang telah membuat mesin ajaib itu 17 tahun lalu. Berawal dari mesin pencari sederhana hingga menjadi raksasa yang membawahi berbagai layanan krusial di dunia maya. Indonesia sendiri adalah negara pengakses Google terbesar ke-3 di dunia. Dua tingkat di bawah Amerika Serikat dan setingkat beberapa persen di bawah India. Tak ada yang luput dari mata Google. Oke, mungkin ada segelintir pihak yang menolak kehadirannya. Sensor ketat yang dilakukan beberapa negara mungkin telah mengurangi kedigjayaannya. Tapi Google tetaplah Google. Siapapun tak akan bisa menampik pengetahuan tak terbatas yang ditawarkannya. Ini sebuah mukjizat pengetahuan yang luar bisa. Mungkin bisa disejajarkan dengan mukjizat para nabi yang sering dikisahkan dalam kitab suci. Di abad baru ini, Tuhan telah memberkati manusia dengan teknologi. 

Seberapa parahkah manusia sudah bergantung pada teknologi. Teknologi itu candu. Teknologi sudah bisa disejajarkan dengan heroin, kokain atau obat terlarang lainnya. Google sudah merasuk dalam kehidupan manusia seperti LSD yang sering dipuja kaum psikedelik post-modern. Coba hitung berapa kali kamu googling dalam sehari? Berapa banyak informasi yang bisa kamu temukan setiap hari? Google sudah seperti cermin ajaib yang selalu ada dalam dongeng Puteri Salju. Ia tahu siapa yang tercantik di dunia, yang terhebat di dunia, ataupun yang paling berkuasa di dunia. Google bisa memvisualisasikan beberapa sudut alam semesta, menerjemahkan berbagai bahasa dunia, menghubungkan manusia satu dengan manusia lainnya dan bahkan memuaskan hasrat seksual manusia. Semua bisa dilakukan dalam satu perintah. Dengan koneksi internet yang tentunya sudah semakin murah.

Korelasi Google dengan Tuhan
Tuhan. Entah apapun nama-Nya (Allah, Elohim, Yahweh, Hyang Widhi, Buddha —meski ihwal ketuhanan Buddha masih diperdebatkan—, Bahá, Kami, Ahura Mazda dan lain sebagainya), memiliki sebuah sifat yang diyakini seluruh agama dan kepercayaan yang ada di dunia, yakni Yang Maha Tahu; Omniscience, Al-‘Aliim, Jnana Sakti atau apapun istilahnya. Ia Maha Mengetahui segalanya. Apapun itu. Pengetahuan-Nya tak terbatas dan tak terukur. Dialah sumber pengetahuan alam semesta.

“Sloka prastias mai pipisatewikwani widuse bahra aranggaymaya jekmayipatsiyada duweni narah.” (Sama Veda 373:1)

Artinya : “Antarkanlah sesembahan itu pada Tuhanmu Yang Maha Mengetahui.”

Apapun agama yang kamu anut, apapun kitab suci yang menjadi pedoman hidupmu —Al-quran, Alkitab, Weda atau Tripitaka—, saya yakin akan selalu ada ayat yang menyebut Dia sebagai Yang Maha Tahu. Adalah sifat alamiah manusia sebagai makhluk spiritual yang selalu meyakini adanya suatu sifat yang melebihi kemampuannya, dan salah satunya adalah pengetahuan. Karena pengetahuan manusia memang amatlah terbatas, maka manusia mengharapkan suatu manifestasi rohani akan pengetahuan yang bersifat universal. Dan Tuhan adalah jawaban satu-satunya.

Google mungkin hanya sebuah produk manusia. Sebuah program rekayasa yang tak bisa disetarakan dengan kompleksitas Sang Pencipta. Ia tak mungkin bisa disamakan dengan Yang Maha Sempurna. Mungkin hari ini Google hanya bisa memberitahu kita sebatas informasi, entah itu berupa pengetahuan umum, berita, tempat, landskap semesta atau informasi lainnya. Tapi mungkin saja di masa mendatang Google bisa memberitahu apa yang akan terjadi di masa depan. Be the oracle. The real omniscience! Voila!! Mungkin ini terdengar mustahil dan gila. Tapi tak ada yang tahu apa yang akan terjadi dengan teknologi masa depan. Seribu tahun lalu, mungkin istilah manusia terbang hanya ada dalam mitologi nenek moyang, tapi sekarang kita bisa benar-benar terbang dengan pesawat terbang. Lima ratus tahun lalu, manusia belum terpikir untuk pergi ke bulan. Tapi 44 tahun lalu, manusia sudah membuktikan, Neil Armstrong dan Buzz Aldrin berhasil menjejakkan kaki mereka di permukaan bulan. Seratus tahun lalu, mungkin manusia tidak pernah memikirkan sebuah teknologi baru yang bernama internet. Tapi lihatlah sekarang! Internet itu ada! Kita menggunakannya. Dan bahkan sudah sangat bergantung dengan kehadirannya. Tak ada yang mustahil, kawan! Siapapun tak bisa menebak apa yang akan terjadi di masa depan. Dan ini sungguh “mengerikan”. Entah apa jadinya bila masa itu benar-benar terjadi. Batas antara manusia dan Tuhan semakin tersamarkan.

Kita juga bisa menyimak beberapa proyek Google dalam beberapa waktu belakangan ini. Beberapa proyek inovatifnya terkesan ambisius, bahkan absurd. Proyek Google Glass telah meredefinisi fungsi penglihatan manusia. Kini setiap orang bisa mengetahui informasi apapun langsung dari penglihatan mereka. Lewat kacamata ajaibnya, komputer dekstop seakan menjadi barang usang di masa mendatang. Dalam satu kedipan, kita bisa menemukan apa yang kita perlukan. Ini mungkin terdengar konyol. Tapi secara perlahan, Google mulai menambah kemampuan “ketuhanannya”, yakni sebagai Yang Maha Melihat. Al-Bashir. El Roi. Dan mungkin suatu hari, dengan bantuan Google Glass pula, manusia akan bisa melihat wujud Tuhan.

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-An’am 103)

Apakah Google Glass sudah cukup mengejutkan? Tunggu dulu! Beberapa dari kamu mungkin sudah mendengar proyek baru Google yang bernama Calico. Calico adalah sebuah proyek misterius yang baru-baru ini didirikan Google. “Proyek Manusia Abadi”, begitulah Arthur D. Levinson—sang petinggi proyek itu— menyebutnya. Proyek ini menjanjikan dapat menunda kematian. Melalui pemantauan terhadap upaya peningkatan proses penyembuhan dan kesehatan, proyek Calico ini akan dapat menanggulangi penuaan. Coba bayangkan. Betapa gilanya proyek Calico ini. Google berjanji bisa menemukan cara untuk memperpanjang kehidupan. Sekali lagi Google menyaingi Tuhan. Yang Maha Kekal—El Olam mulai tersaingi. Umur manusia bisa direkayasa oleh manusia itu sendiri, dan tanpa melibatkan Tuhan?

“Karena yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa, dan yang dapat mati ini harus mengenakan yang tidak dapat mati.” (1 Korintus 15:53)

“Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri. Seorangpun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia. Bagi-Nyalah hormat dan kuasa yang kekal! Amin.” (1 Timotius 6:16)

Well, Google mulai semakin ambisius saja. Google semakin menuhankan dirinya. Maka tak salah kalau sekarang ada agama baru yang menjadikan Google sebagai Tuhannya: GOOGLISM. Mereka menolak Tuhan yang digambarkan secara supranatural dalam agama tradisonal. Bagi mereka,  Google mewakili Yang Maha Tahu segalanya. Para googlist—sebutan untuk penganutnya— percaya bahwa Google adalah manifestasi Tuhan yang bisa dibuktikan secara ilmiah. Mereka menganggap Google sebagai simbol baru persatuan kemanusiaan yang sesungguhnya. Begitulah argumentasi mereka. Mereka bahkan bersedia berdebat dalam sebuah forum terbuka untuk membenarkan argumen mereka. Logika manusia sekarang memang tidak bisa diprediksi. Ketika manusia sudah tidak puas dengan konsep agama secara konvensional, maka mereka bisa menuhankan apa saja. Ini sifat naluriah manusia. Spaghetti dan pasta saja bisa bisa menjadi Tuhan —coba lihat agama Pastafarian, apalagi Google yang sudah menjadi sumber pengetahuan? Semua memang bisa terjadi. Dan kini, di beberapa bagian belahan dunia sudah ada segelintir orang yang sudah menganggapnya sebagai Tuhan. Ini nyata.

GOOGLE ≠ GOD
Bahasan mengenai Google ini sudah membuat saya gila. Bagaimanapun Google dan Tuhan tetap tak bisa disejajarkan. Ini menurut pendapat saya. Saya pasti bakal kena damprat ormas-ormas yang mengaku sebagai “pembela Tuhan” kalau tidak mengiyakannya. Google itu salah satu produk illuminati modern. Begitulah para penganut teori konspirasi bilang. Hanya karena salah satu pendirinya seorang Yahudi, maka kita bisa berspekulasi demikian? Saya tidak bisa membantah atau mengiyakan. Teknologi bagaikan dua sisi mata uang yang bisa memberi pengetahuan sekaligus membahayakan. Saya jadi teringat dengan sosok makhluk mitologi Yahudi yang bernama Golem. Golem adalah monster ciptaan manusia yang terbuat dari batu atau logam. Golem bisa menjadi baik atau jahat, semua tergantung manusia yang menggunakannya. Ia bisa membantu, bisa pula membunuh. Google is (not) God. It’s just a golem. Bila kamu percaya Tuhan, maka kamu akan percaya adanya malaikat dan setan. Seperti kotak Pandora yang bisa memberi segala keburukan, tapi ia juga bisa memberi secercah harapan. Bukankah dunia sudah semakin abu-abu sekarang? Hitam putih semakin terkaburkan. Tapi bagaimanapun kita masih bisa melihat dunia dari layar monitor komputer kita. Kita tidak bisa menampik kalau Google bisa memberi tahu kita secara vulgar tentang dunia yang sesungguhnya, dunia yang sedang kita pijaki sekarang. Dunia penuh topeng dan tipuan, yang hanya menyisakan sedikit tempat untuk kebenaran.

Pada akhirnya, tak ada yang bisa menggantikan Tuhan. Google hanya mampu memberi tahu. Tuhanlah satu-satunya Yang Maha Tahu. Ini mutlak. Karena suatu hari kita akan tahu siapa yang benar-benar tahu. Ya, kita akan segera tahu. Kita hanya perlu menunggu waktu. Dan sambil menunggu waktu, mungkin kamu bisa coba googling dulu. Mungkin kita bisa mencari Tuhan di kotak mesin pencari. Tak ada salahnya, bukan? Bukankah apapun bisa kau temukan sekarang!

“Dan ketahuilah bahwasanya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS Al-baqarah 231)

Ya, pada akhirnya hanya Dia Yang Maha Tahu. Itu sudah tentu.

Sumber gambar: dokumen pribadi

image

Angel Sucks Demon

Keimanan adalah esensi hidup manusia yang tidak akan pernah terbayar oleh logika.

Kupandangi layar komputer dengan nanar sambil memegang foto dirimu yang tengah berpose memakai baju biarawati. Laman Google menyambutku. Kuketikan kata kunci dengan keyakinan penuh. “Tuhan”, itulah yang sedang aku cari. Aku mencari Tuhan di sini. Di dunia yang telah terdigitalisasi tanpa batas moralitas dan toleransi. Keimananku bisa saja menembus batas koneksi tapi hatiku tetap terbatasi.

Kusadari, aku bebas memilih surga atau neraka. Setahuku, aku bisa mengunggah nyawaku kemana saja. Aku hanya perlu jaringan yang stabil berkecepatan 7,2 mega byte per sekon, maka aku akan hilang seketika.

* * * *

Dania, tiga tahun sudah kita jalani hidup bersama. Perbedaan keyakinan tak bisa memisahkan kita. Kau Katholik, aku Muslim. Tapi kita tak pernah mempermasalahkannya. Referensi iman kita boleh saja tak sama. Aku tak pernah melarang kau memakai Rosario saat berkencan. Kau juga tak pernah memaksaku memakan babi goreng saat kita makan malam di restoran China.

Aku memang bukan muslim yang taat. Kuakui hal itu. Entahlah, aku tak begitu excited akan keimananku. Aku tak begitu sakral dalam menanggapi kehidupanku. Dibilang sekuler, tidak juga. Kedua orang tuaku adalah sosok muslim yang sebenarnya dan aku selalu merasa berdosa karena telah berjalan begitu jauh dari koridor mereka. Aku masih membaca buku-buku Friedrich Nietzsche di sela-sela mengerjakan tugas kuliahku. Kuanggap itu sebagai salah satu intermeso harianku. Tapi sepertinya Dania tidak merasa nyaman dengan itu.

“Kenapa kamu baca buku-buku seperti itu?” ia menggerutu.

“Emang kenapa?”

“Entahlah, aku merasa khawatir aja…”

“Ini hanya refrensi mata kuliah aja kok. Kamu tenang aja. Aku tak akan terpengaruh nihilisme atau apapun itu…”

“Kamu kan mahasiswa jurusan ilmu komputer. Di zaman Nietzsche belum ada komputer, telepon pun mash belum ketemu. Buat apa kamu baca buku filsafat kayak gitu? Gak nyambung tau!”

Dia selalu begitu. Mengkhawatirkanku untuk satu hal yang tak perlu. Well, memang komputer dan Nietzsche adalah dua hal berbeda. Tapi mereka terhubung dalam suatu urusan yang sama, yakni logika. Kurasa Dania tak akan menyetujui hal itu. Ia adalah makhluk semi-sakral yang tak mempercayai logika seutuhnya. Meski terkadang, ia juga menggoda keimananku. Aku pun dibuatnya mati kutu, dan aku selalu merindukan itu.

“Kamu percaya Tuhan?” tanyanya tenang.

“Ya,” jawabku tenang.

“Aku tak habis pikir bagaimana kamu bisa mengingat Tuhan saat kamu sibuk dengan komputer gilamu. Bagaimana pula kamu bisa mengingatku?”

“Tuhan ada dimana-mana. Bukankah semua orang bilang begitu…”

“Bahkan Dia ada dalam setiap nano byte memori komputermu?” Ia bertanya seakan tak berdosa. Itulah sisi yang aku suka darinya. Innocence.

“Tentu saja.”

“Lalu, kapan kamu akan mengingatmu?”

“Aku tak pernah mengingatmu karena kamu sudah menjadi salah satu jaringan saraf otakku.”

Aku mencintainya. Biarkan Tuhan tahu itu. Kami terbuai dalam romansa longitudinal antara rasa dan logika. Kami dua reaksi kimia yang tercampur dalam suatu senyawa. Aku rela mati untuknya. Kusentuh setiap jengkal hatinya seakan dunia milik kita berdua. Tapi percintaan memang tak selalu manis.  Begitu juga kehidupan. Dan terkadang bisa teramat pahit seperti racun yang bisa membawa hidupku ke titik penghabisan.

Semua mulai berbalik. Bumi selalu berotasi, kesucian terhibdrasi dan keyakinan pun terkadang tereduksi. Hari itu, kau datang menemuiku. Dengan wajah pucat mirip patung Maria Magdalena, kau memberiku sebuah bencana.

“Aku hamil,” ucapnya lirih.

Jantungku serasa dirajam oleh seribu cambukan. Nyawaku serasa melayang.

“Kamu ha.. hamil?”

“Ya.. rahimku terisi oleh buah cintamu.”

“Gugurkan!” Tanpa sadar, kata-kata itu keluar dari bibirku. Ia menatapku tajam seolah sebilah parang ia hadapkan.

“Tidak, kamu gila ya!” Ia marah luar biasa.

“Aku tak mau punya anak itu. Tidak sekarang. Aku belum siap!”

“Kau pikir aku juga siap?”

Aku terdiam. Dan tanpa sadar sebuah umpatan sadis meluncur dari lidahku.

“You’re a bitch!”

Ia menamparku. Menampar pula kehidupanku. Kami terbawa ke dalam lubang hitam yang membuat kami gelap mata. Cinta itu neraka. Seksualitas tak bisa menjawab segalanya. Aku dan dia adalah korbannya. Dimanakah Tuhan pada saat itu? Mungkin Ia sedang tertawa. Menertawakan kekonyolan kedua makhluknya.

We are fuckin losers. Destroying all the forgiveness. We’re on fire but we’re hopeless. I love you but it’s an  illness. We are the holy sinner and this is a curse.

Kami memilih aborsi sebagai jalan keluar yang paling logis. Biarlah satu nyawa itu hilang ditelan bumi. Kami siap menebusnya suatu hari nanti. Aku telah menjadi predator paling ganas di planet ini. Aku sadari itu tapi aku tak mengerti apa yang terjadi.

Setelah rahimnya ternodai. Dania berubah seratus delapan puluh derajat. Ia menjadi pendiam. Menjadi ekstrover yang memproteksi dari dunia luar. Menjadi pendosa telah membuatnya berevolusi menjadi wanita yang tak pernah kukenal sebelumnya. Gereja kini menjadi rumah keduanya. Alkitab dan Rosario telah menjadi kekasih barunya. Ia telah menyelingkuhiku dengan keimanannya. Kami jadi jarang bertemu dan aku tidak suka itu.

“Aku akan menjadi pelayan Tuhan,” ucapnya padaku. Bukankah Tuhan itu Maha Sempurna? Kenapa Ia harus dilayani? Ia bisa melakukan segalanya sendiri. Ia tak membutuhkan kita untuk membantunya. Apa kau mempercayai-Nya?

“Kamu yakin dengan itu?”

“Ya.”

Haluan hidupnya telah menghancurkan asaku. Kenapa kau lakukan itu padaku? Masih ingatkah saat kau berjanji akan menjalani hidup tanpa penyesalan denganku. Bagaimana dengan nasib rencana pernikahan kita? Bukankah kau sempat memikirkannya?

Ia memberiku sebuah pesan berharga. Keputusannya untuk menjadi wanita Katholik seutuhnya telah membuatku gila, ia mengungkapkan niatnya untuk pergi menjadi domba gembala-Nya. Ia pergi ke Lourdress, Prancis, tempat dimana Maria Magdalena dikabarkan dimakamkan di sana, untuk menjadi biarawati tanpa menemuiku terlebih dulu. Aku tak bisa mencegahnya.

“Tuhan telah memanggilku. Maafkan aku, hubungan ini sudah menemui jalan buntu,” pesannya padaku.

“Lalu bagaimana denganku? Kau tau aku tak bisa hidup tanpamu!”

Ia tersenyum melihat sisi melankolisku.

“Tuhan akan memberkatimu. Aku tahu itu.” Ia pun berlalu dan aku hanya bisa membatu tanpa bisa berbuat apa-apa.

* * * *

Layar monitor masih memberkatiku. Mengingat semua itu membuatku ngilu. Tuhan, dimanakah Kau berada? Apa esensi keimananku selama ini? Jika memang ada kehidupan setelah mati, kemanakah nyawaku saat tubuhku sudah tak bernapas lagi? Ruh adalah dimensi tak kasat mata yang mungkin bisa menjadi miliaran kode matriks Matematika. Kehidupanku bisa dilanjutkan dalam surga digital yang bisa kubuat sendiri. Tak ada setan, tak ada malaikat. Jiwaku telah terdigitalisasi. Aku tak peduli Tuhan dan Dania telah meninggalkanku. Sebotol racun sianida akan menemaniku. Aku percaya itu.

Thus spoke Zarathustra: Look, I teach you about Übermensch. Übermensch is the meaning of the world. Let your desire exclaimed!

Layar monitor komputer berkedip menyilaukan mataku. Kolase matriks telah tereksekusi dan tombol enter aku pijit dengan sisa ketenangan hati. Tapi lagi-lagi, aku dikhianati.

“Hey, pecundang! Tuhan telah meninggalkanmu di sini! Jaringan 3G sudah mati, pintu surga tidak akan terkoneksi!” ucap layar monitor sesaat setelah jantungku tak berdetak lagi. Dan aku pun lenyap. Mati.

* * * *