Posts Tagged ‘Fiction’

surga 35

“Heaven is under our feet as well as over our heads.” ― Henry David Thoreau, Walden

Aku akan keliling dunia dan menemukan surga. Lihat saja.

Namaku Arka. Seorang pemuda yang selama 27 tahun hidupnya selalu dihantui thalasemia. Thalasemia? Ya, penyakit kelainan darah itu sudah mendarah daging dalam tubuhku. Tak ada kepastian sembuh bagiku. Hidupku bergantung pada tranfusi darah yang harus dilakukan setiap bulannya, aku juga harus mendapat suntikan desferal selama 10 jam setiap malam. Bukankah itu sungguh keterlaluan? Semua ini benar-benar melelahkan. Rasanya aku ingin mati saja. Seluruh biaya pengobatanku bergantung pada asuransi kesehatan yang didaftarkan oleh mendiang ayahku. Ya, ayahku juga begitu. Karena thalasemialah ia meninggal 10 tahun lalu. Tak pernah kusangka aku akan mewarisi apa yang telah membunuhnya itu. Penyakitku ini lebih parah darinya. Aku bisa mati kapan saja karena thalasemia akut yang menyerang setiap harinya. Beberapa bagian tubuhku membengkak karena komplikasi getah limpa. Aku sudah seperti boneka yang tak bernyawa. Thalasemia telah merenggut kehidupan masa mudaku secara nyata.

Itulah aku.

Aku adalah aku. Aku jelas berbeda dengan Arya, adikku. Ia adalah satu-satunya saudara kandungku, satu-satunya keluarga yang kupunya selain Ibu. Usianya setahun lebih muda dariku. Kami terlahir dari gen yang sama, tapi secara lahiriah, kami berbeda. Kami bagai bumi dan langit. Semacam paradoks yang berlainan satu sama lain. Arya adalah pemuda luar biasa. Tak ada kelainan pada fisiknya, ia terlahir sehat tanpa warisan penyakit dari Ayah. Arya adalah kebalikan dari diriku. Ia pemuda yang aktif dan selalu tertarik pada hal baru. Jiwa petualang dalam dirinya amatlah besar. Ia telah mendapatkan semua hal yang diinginkan setiap manusia belia. Memiliki banyak kawan, aktif dalam pergaulan dan mendapat pendidikan yang layak di salah satu universitas ternama.

Aku dan Arya memang berbeda. Selain persamaan struktur DNA, hanya ada satu hal yang membuat kami sama, yakni seni. Kami berdua sama-sama terobsesi dengan seni. Kurasa ini tidak ada hubungannya dengan faktor keturunan atau silsilah keluarga. Seni telah menyatukan kami. Aku seni lukis, dan ia fotografi. Hobinya dalam fotografi berbanding lurus dengan hasrat petualangnya yang tinggi. Ia senang berpetualang dengan kamera DSLR-nya. Ia selalu menenteng kamera itu kemana-mana. Dua tahun lalu, aku memberikan kamera itu. Aku membelinya dari hasil penjualan beberapa karya lukisanku. Kamera itu telah menjadi bagian dari dirinya, bahkan menjadi salah satu modal dari proyek ambisiusnya.

Semua ini bermula saat setahun lalu, saat ia pertama kali menceritakan proyek gilanya. Secara mengejutkan, ia ungkapkan keinginan untuk cuti sejenak dari kuliah ekonominya. Ada sebuah proyek besar yang tiba-tiba mengubah haluan hidupnya, sebuah proyek irasional yang mungkin akan membuat siapa saja terbelalak begitu mendengarnya.

“Aku akan keliling dunia untuk thalasemia!” begitu katanya, penuh semangat. Percakapan kami di ujung senja berubah menjadi kejutan absurd yang sulit dipercaya. “Kakak dan Ibu tak perlu khawatir. Ada banyak sponsor yang akan mendanai proyek ini. Aku akan melakukan perjalanan dengan sepeda. Aku akan keliling dunia!”

Itu adalah hal tergila yang pernah aku dengar. Adikku akan bersepeda sendiri keliling dunia demi proyek amal untuk para penderita thalasemia. Siapa yang sudah mencuci otak adikku ini? Kurasa ia terlalu banyak menonton tayangan Travel Channel. Dunia begitu luas. Roda sepeda tak akan mungkin mampu menaklukannya.

“Thalasemia dan surga, hanya itulah alasanku melakukan semua ini.”

“Surga?”‘

“Ya, surga. Ini adalah sebuah misi suci. Akan kubuat dunia mengerti apa itu thalasemia. Ini semua demi Kakak, mendiang ayah kita, dan seluruh penderita thalasemia yang ada di seluruh dunia.”

“Jangan bicara tentang surga. Bagimu, surga itu hanya sebesar 35 milimeter ukuran diameter lensa kamera. Janganlah kamu berbuat gila! Dunia tak seindah yang terpotret dalam lensa. Dunia tak seperti yang kamu kira.”

“Aku akan menunjukkannya, Kak! Aku akan melakukannya!”

Obsesi absurd Arya benar-benar terlaksana. Aku benar-benar tak percaya. Hari Kamis, tanggal 5 Mei, tepat di Hari Thalasemia Sedunia, ia memulai titik nol kilometernya dari Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta. Bersama iring-iringan sponsor dan ratusan penderita thalasemia, aku dan Ibu melepasnya. Ia berhasil menggaet beberapa sponsor untuk mendukung aksinya, diantaranya ada Yayasan Thalasemia Indonesia dan sebuah LSM internasional asal Amerika. Ia dibekali berbagai perlengkapan memadai untuk menunjang penjelajahannya. Ia melakukan semua ini bukan untuk memecahkan rekor dunia, tapi untuk membuktikan kalau kami ada: penderita thalasemia.

Seribu kilometer lebih telah ia tempuh selama 19 hari untuk sampai di Medan. Selat Malaka dilewati, negeri jiran disusuri hingga negeri Takshin Shinawatra pun dijejaki. Ia masuk Thailand lewat Pattani, kota rawan konflik yang untungnya sedang dalam kondisi aman terkendali. Di negeri gajah putih, ia mulai merasakan perbedaan budaya yang cukup signifikan. Ia bahkan sempat bertemu dengan seorang anak penderita thalasemia di Rumah Sakit Bumrungrad di Bangkok. Sebuah momen penuh haru pun sempat ia abadikan.

“Love for Nathon Nakshucay! Bocah manis yang berjuang dari keganasan thalasemia di Thailand. Usianya baru menginjak delapan, tapi semangatnya untuk bertahan hidup tak akan pernah bisa terpatahkan!”

Begitu bunyi keterangan foto yang ia unggah ke halaman Facebook dan Twitter-nya. Empati adalah sebuah bahasa universal yang bisa menembus semua batas budaya. Lebih dari separuh kasus thalasemia terjadi di Asia. Thailand hanya salah satu contohnya. Aksi Arya telah membuat kami membuka mata. Ternyata perjuangan ini bukan milik kami saja.

Thailand-Laos-Vietnam mampu dilewatinya dalam waktu 3 bulan. Waktu terasa begitu cepat berlalu sampai aku sadar ia sudah menembus China. Tak lupa ia selalu bagikan setiap momen berharga lewat email, blog, dan berbagai jejaring sosial miliknya. Ia tak pernah berhenti menyajikan foto-foto indah. Mulai dari fotonya di sungai Mekong, suasana perbatasan tiga negara di Golden Triangle, pose di gerbang Patuxai di kota Vientiane, sampai ikut tari caping di salah satu desa di Vietnam. Ia masuk China lewat kota Lang Son di Vietnam Utara. Dari China, ia akan memulai perjalanan mengikuti jalur sutera.

“Halo semuanya! Aku sudah berada di China. Thalasemia masih sangat asing di sini, tapi aku akan berusaha untuk tetap mengkampanyekannya,” ucap Arya dalam status Facebook-nya. Ia selalu berusaha untuk terhubung dengan kami sekeluarga, entah itu lewat email, sambungan telepon international ataupun lewat video chat. Ia cerita kalau ia sempat kehilangan sepedanya di salah satu desa di Ciang Rai, Thailand. Bahkan ia pun hampir kecopetan saat tersesat di di sebuah pasar di Laos Selatan.

China-Kazakhstan ditempuhnya selama dua bulan setengah dengan melewati terjalnya daratan dan pegunungan. Panas, hujan, bahkan badai, datang silih berganti. Siang dan malam hanya sekedar efek rotasi bumi. Dari dataran tinggi Yunan hingga Kwen Lun, dari Xinjiang hingga Alma Ata. Berbagai jenis orang telah ia temui. Dari etnis Han yang mendominasi, etnis Uyghur yang masih terdiskriminasi hingga etnis Kirgiz dan Kazakh yang sedang mencoba mencicipi modernisasi. Jantung Asia sudah dilewati. Kini benua biru sudah menanti.

Aku masih belum bisa percaya kalau adikku melakukan semua ini. Kami belajar sepeda 17 tahun lalu dan ia sudah mengayuh pedal sejauh itu.

“Kamu selalu membonceng Kakak saat pergi ke sekolah, dan sekarang kamu membonceng harapan para penderita thalasemia yang ada di seluruh Indonesia, bahkan dunia,” kataku dalam sebuah videochat via Skype pada tanggal 15 November. Saat itu Ia sedang bersantai di sebuah motel di Astana, ibukota Kazakhstan. Aku dan Ibu takjub melihat sosoknya terpampang di monitor komputer.

“Ah, Kakak bisa saja!” Ia tertawa. “Kakak dan Ibu sudah lihat foto-foto terbaruku, kan? Semuanya benar-benar luar biasa!”

“Iya, Ibu sudah lihat. Jaga selalu kesehatanmu! Ibu selalu mendoakanmu di sini.”

“Iya, Bu, aku selalu mengingat kata-kata Ibu. Doakan aku agar aku bisa cepat menyelesaikan misi ini. Sebentar lagi aku akan sampai di Rusia. Mungkin untuk beberapa lama aku tak akan bisa menghubungi Ibu dan Kakak. Aku akan melanjutkan perjalanan menuju danau Ural dengan melewati pangkalan roket luar angkasa Baikonur di selatan Kazakhstan. Katanya sinyal internet di sana sangat jelek.”

“Ibu dan Kakakmu mengerti. Tapi kalau memungkinkan, usahakan untuk tetap menghubungi kami.” Naluri Ibu tengah bersuara. Kami berjarak puluhan ribu kilometer jauhnya, tapi tak ada batasan geografi jika batin seorang ibu telah bicara.

“Iya, Bu, aku akan usahakan. Aku sayang Ibu.”

Arya melanjutkan perjalanan sucinya dengan menembus segala rintangan iklim dan cuaca. Aku selalu menunggu kabar darinya. Bagaimana mungkin kami terpisah selama 2 minggu lamanya. Setelah dari danau Ural, ia akan lanjut ke arah timur laut menuju Rusia, tapi aku belum mendapat satu kabarpun darinya. Ini aneh.

Sebulan telah berlalu. November telah berganti Desember. Musim gugur telah berganti menjadi musim dingin. Tak ada yang berubah kecuali resah yang terus membuncah. Kami sangat mengkhawatirkannya. Pihak sponsor yang turut serta memberangkatkannya berusaha mencari keberadaannya. Kemanakah ia kayuh sepedanya? Apa yang telah terjadi padanya? Sinyal GPS tak memberikan tanda. Jangan katakan kalau adik kecilku telah hilang. Terkadang ia memang bisa menjadi orang yang sangat menyebalkan. Terkadang ia terlalu asyik dengan dunianya sendiri hingga melupakan peradaban. Aku yakin ia akan segera menghubungi kami. Ini hanya soal waktu.

* * * *

Aku perlihatkan senyum untuk menyamarkan bentuk tulang wajahku yang tak biasa. Aku memandang lensa kamera. Latar belakang dinding ruang tamu yang bewarna putih terlihat kontras dengan kaos hitamku. Sekelibat kilatan lampu lensa menyilaukan mata. Arya langsung melihat hasil jepretan dari LCD kameranya.

“Tumben Kakak mau difoto. Emangnya buat apa, sih?” Ia ulangi lagi pertanyaan yang tadi belum sempat kujawab.

Aku tersenyum.

“Ini cuma buat jaga-jaga aja.”

“Jaga-jaga buat apa?”

“Jaga-jaga kalau sewaktu-waktu kamu butuh foto untuk kolom obituari…”

* * * *

Aku masih dirawat di rumah sakit dan Ibu masih menemaniku di sini. Cairan infus sudah menjadi teman sejati, senyum dokter sudah menjadi hal basi. Aku hanya tinggal menunggu terbitnya kolom obituari.

Sebentar lagi seseorang akan datang kemari. Katanya, ia akan menyerahkan sesuatu yang mungkin selama ini kami cari. Apakah itu? Aku tak mau terlalu berekspektasi. Bagiku ini hanya bagian dari mimpi. Aku tak mau berandai-andai lagi. Biarkan saja semua berjalan sesuai kendali.

Orang itu telah tiba. Ia adalah salah seorang staf kementerian luar negeri yang ditugaskan secara khusus untuk menemui kami. Kami sudah siap dengan segala kemungkinan yang terjadi. Apapun yang dikatakannya takkan kami ingkari. Kami sudah lama menantikan ini.

“Kami datang untuk menyerahkan ini,” kata seorang pria berbatik seraya memberikan sebuah kotak berukuran 50 kali 30 sentimeter. Aku yang masih duduk terbaring segera membuka kotak itu. Ada topi, jurnal ekspedisi, dan sebuah kamera yang beberapa bagiannya sudah tak lengkap lagi. “Semua ini punya Arya. Kami menemukannya di perbatasan Kazakhstan-Rusia beberapa waktu lalu.”

Batinku berontak, dan aku yakin kalau batin Ibu lebih berontak lagi. Aku coba lunakan emosi. Kuambil kamera yang sudah menemani adikku selama 2 tahun belakangan ini. Sulit dipercaya, ternyata kameranya masih berfungsi. Kucoba periksa beberapa folder yang tersimpan di memori kamera itu. Dari layar LCD 3 inchinya, aku dan Ibu memperhatikan setiap gambar yang berhasil terabadikan olehnya.

Foto-foto perjalanannya berhasil terabadikan dengan sempurna. Fotonya saat bersantai di dekat danau Ural, fotonya saat di area pangkalan roket luar angkasa Baikonur, dan masih banyak foto menakjubkan lainnya. Dan aku dibuat berhenti bernapas ketika melihat foto terakhirnya. Ia berpose di salah satu area di pegunungan Ural bersama sebuah spanduk bertuliskan “Love for Thalassemia”. Tapi bukan itu yang membuatku berhenti bernapas untuk sementara. Ia memakai kaos putih yang bertuliskan namaku di dadanya. A R K A, kelima huruf yang membentuk namaku itu ditulis dalam warna merah menyala. Aku tersenyum dibuatnya.

Aku tak tahu dimana kini kau berada, tapi aku yakin kau baik-baik saja. Tertulis jarak 35.603 kilometer dalam jurnal ekspedisimu. Kau sudah mengayuh sepeda terlalu jauh, adikku. Kami sungguh bangga padamu. Perjalananmu telah terabadikan dalam surga 35 milimetermu. Terima kasih atas segala perjuanganmu. Lekaslah pulang! Kami di sini menunggu ceritamu…

Pulanglah! Secepatnya…

* * * *

Sumber gambar: Google

Cerpen ini pernah dimuat di Annida Online edisi Desember 2013

Klik gambar

Klik gambar ini 🙂

image

Lightning, I love you...

Alarm tak pernah berbunyi sekeras ini. Waktu menunjukan pukul delapan pagi. Aku lemparkan benda pengingat waktu itu dari meja samping tempat tidurku. Good morning. Tapi aku belum mau mengucapkan itu. Apalah artinya itu. Rotasi bumi hanya sebuah pergerakan semu bagiku. Kepalaku masih tertahan di keriuhan pesta semalam.

Kuraih ponselku. Lima puluh satu panggilan tak terjawab segera menyambut. Syaraf otakku kusut luar biasa. Seks? Alkohol? Entah apa penyebabnya. Aku sama sekali tak mengingatnya. Aku mengumpat. Yang kuingat kini hanyalah stick konsol game yang tergeletak di lantai serta layar biru TV 32 inchi yang berkedip menggoda penglihatanku. Aku bangkit meraih stik konsol itu. Televisi seakan bicara padaku.

“Ayo lanjutkan, pecundang!” begitu seru televisi itu.

Masih adakah sisa hisapan ganjaku semalam? Atau mungkin salah seorang teman pesta telah memberiku heroin sebagai cemilan? Aku tersenyum sendiri. Betapa gilanya diriku ini. Aku mendengar televisi itu bicara? Aha, sebentar lagi aku akan masuk rumah sakit jiwa! Tapi aku sama sekali tak peduli. Kembali kugerakan jariku pada stick konsol berwarna hitam itu. Anggap saja ini sebagai menu sarapan pagi. Sesuatu yang nyata tidak lagi terlalu penting bagiku. Yang kubutuhkan sekarang hanyalah fantasi. Ya, fantasi.

Aku tidak akan pergi ke mana-mana. Aku di sini untukmu, Lightning…..

* * * *

“Kurang apa lagi aku bertoleransi? Kenapa sih kamu enggak pernah mau mengerti? Aku sudah mencoba menelpon ribuan kali, kamu sudah tuli ya?” ucap Alina saat kami sedang mencoba merefresh acara kencan yang sudah lama terlewatkan. Tapi aku malah terfokus pada tulisan di tank top putih yang sedang dikenakannya. “What the hell are you!” begitu bunyi tulisannya. Aku jadi tersenyum sendiri.

“Kamu dengar enggak, sih?” Alina kesal dengan sikapku yang terkesan acuh tak acuh. Aku mencoba kembali terfokus pada sosoknya.

“Kenapa kamu milih restoran Meksiko, sih? Aku kan enggak suka saus salsa.”

“Kamu bisa serius enggak, sih? Kamu jangan mengalihkan pembicaraan!”

“Okay.. okay.. sorry! Nacho-nya tidak terlalu buruk kok!”

“Aku serius, Fin!”

“Aku tahu.”

“Lalu?”

“Lalu, kenapa?”

“Aku benci mendengar kata itu. Kenapa, kenapa, selalu kenapa! Sudah hampir empat tahun kita jalani hubungan ini, tapi semakin hari aku semakin tak mengenalmu. Ada apa denganmu, Fin?”

Ada apa denganku? Setahuku aku masih baik-baik saja. Mungkin akhir-akhir ini jam makan dan tidurku memang agak sedikit terganggu. Tapi itu sudah biasa. Alina tentu tahu itu. Aku tidak terlalu patuh pada jam biologisku.

“Aku tahu. Kamu selingkuh.”

Aku tersedak. Jus stroberi yang baru kuseruput hampir saja keluar dari mulutku.

“Selingkuh?”

“Ya, itulah yang kamu lakukan selama ini. Aku tahu isi pikiranmu! Aku tahu kamu mengoleksi banyak foto wanita lain di kamar dan hardisk komputermu!”

“Aku mengoleksi foto wanita di kamarku?”

“Ya, itulah sebabnya aku tak pernah diizinkan masuk kamarmu.”

“Aku cuma belum siap untuk menidurimu.”

Sesuatu menampar pipiku. Aku tak percaya ini. Jangan bilang kalau tangan Alina telah mendarat di wajahku.

“Kamu pikir aku ini pelacur? Kamu memang sudah berubah, Fin. Kamu gila!”

“Tapi tak lebih gila darimu.”

What the hell are you! Aku kembali terfokus pada tulisan di tank top-nya itu. Baiklah, aku akui aku memang pecundang. Tapi aku bukanlah pecundang seutuhnya. Aku hanya belum mampu menjadi pria nomor satu. Aku belumlah sempurna untuk siapapun juga. Tapi siapa bilang aku tak bisa. Aku bisa mengusahakannya. Diriku yang sekarang memang bukan diriku yang sebenarnya.

* * * *

Kugabungkan vektor-vektor menjadi satu. Rumitnya dimensi dan kolase warna telah memanjakan mataku. Telah kubuat sesosok wajah yang mungkin bisa merefrentasikan siapa diriku. Ah, andai dia itu aku.

“Lagi ngapain lo?” tanya Alan yang tiba-iba duduk di meja kerjaku. “Lo lagi buat karakter baru?”

“Nggak, gue cuma lagi iseng aja.”

Aku dan Alan adalah staf kreatif salah satu perusahan animasi lokal yang sedang berkembang. Mungkin kami bisa disebut sebagai animator. Perusahaan animasi kami sudah cukup diperhitungkan. Konten animasi kami sudah menyebar di media nasional. Entah itu dalam bentuk iklan, film pendek atau konten pendukung program televisi anak-anak. Studio kami memang tak sebesar Pixar atau Disney, tapi aku sangat kerasan bekerja di sini. Aku mencintai pekerjaanku ini. Menjadi animator adalah panggilan hati.

“Akhir-akhir ini gue sering liat lo ngelamun terus. Lo sedang ada masalah sama Alina, ya? Hati-hati lo! Alina itu kan anak polisi. Kalau ada apa-apa, lo bisa kena tembak lagi,” ujar Alan sambil bercanda.

“Ah, nggak ada apa-apa kok.”

“Eh, Fin. Ngomong-ngomong kostum pesta besok udah fix belum?”

“Udah dong?”

“Emang lo mau pake kostum apa?”

“Ya, kejutan dong.”

“Awas lo kalo samaan lagi.”

Setiap ulang tahun perusahaan, kami selalu merayakannya dengan pesta kostum tokoh animasi. Kami tidak boleh membocorkan kostum apa yang akan dipakai hingga pesta dimulai. Ini sudah menjadi tradisi. Pesta kostum tahun lalu adalah yang terburuk. Aku dan Alan memakai kostum yang sama. Yakni kostum tokoh Snow, partner Lightning dari game Final Fantasy XII. Kami jadi terlihat seperti pasangan gay di keriuhan pesta. Dan itu sangat menyebalkan.

Aku memang maniak seri game Final Fantasy, terutama seri yang terbaru, yakni seri Final Fantasy XII-2 dimana aku sangat suka dengan tokoh utamanya yang bernama Lightning. Nama aslinya Claire Farron. Dia adalah seorang prajurit tangguh yang berjuang mencari adiknya yang hilang. Menurutku, dia adalah tokoh game paling cantik yang pernah ada. Aku mengoleksi berbagai pernak-pernik mengenai dirinya. Dialah alasan utama kenapa aku sangat menyukai game legendaris ini. Lightning memiliki sisi karismatik yang tidak dimiliki tokoh game lainnya. Dia terlihat begitu nyata dan menjadi idola para gamers di seluruh dunia. Aku adalah salah satu pemujanya.

* * * *
   
Kuparkirkan skuter bututku di depan pintu kontrakan. Waktu sudah menunjukkan pukul 5 petang. Aku harus segera mempersiapkan penampilanku untuk pesta nanti malam. Kubuka pintu kontrakanku. Oh tidak, pintunya tak terkunci! Seingatku, aku sudah menguncinya tadi pagi. Jangan-jangan kontrakanku kemasukan pencuri! Aku segera masuk ke rumah kontrakan yang sudah hampir 3 tahun ini aku tinggali. Kontrakan ini hanya terdiri beberapa ruangan mini berupa ruang tamu, kamar tidur dan sebuah kamar mandi. Aku berjalan perlahan seperti seekor kucing yang hendak memburu tikus menyebalkan. Kudengar sebuah suara yang berasal dari kamar tidurku. Kupegang gagang pintu kamarku. Oh tidak, lagi-lagi tak terkunci! Perlahan aku buka pintu itu. Mataku terbelalak begitu melihat sosok yang sedang terduduk di tempat tidurku. Rambut pink menyala dan gunblade langsung menyilaukan pandanganku. Lightning, kaukah itu? Tidak, aku kenal wajah itu. Itu Alina!

“Hai Fin.”

“Apa yang sedang kamu lakukan di kamarku?”

“Kamu gak pernah bilang kalau kamu punya kostum keren kayak gini. Kenapa kamu gak ngajak aku ke pesta kostum nanti malam?”

Aku bingung. Kenapa Alina tahu soal pesta nanti malam. Selama ini aku tak pernah mengajak Alina datang ke acara resmi perusahaan. Bagiku, urusan pribadi dan karier itu tak bisa dicampuradukan.

“Alan yang sudah memberitahuku.”

Alina berdiri dan berlenggak-lenggok memperhatikan dirinya yang sudah berkostum lengkap dari cermin. Aku membeli kostum itu dari salah satu forum pecinta animasi di internet sekitar setahun lalu, tapi kostum itu bukan untuknya.

Alina memperhatikan seluruh isi kamarku yang sudah seperti kuil pemujaan untuk sebuah tokoh fiksi. Berbagai poster Lightning ukuran giga terpajang di dinding kamarku. Action figure dan berbagai miniaturnya tertata rapi dalam lemari kaca. Tak hanya itu, sosoknya juga tergambar di cover laptop, sprai, tirai, karpet dan taplak meja. Sebuah boneka Lightning seukuran manusia bahkan setia menjadi teman tidurku setiap malamnya. Jangan berkomentar apa-apa. Lightning memang sudah membuatku gila. Kuakui itu semua.

“Jadi, inikah wanita selingkuhanmu itu?” Ia berdiri menghadapku. Tatapannya tajam. “Kamu menyelingkuhiku dengan karakter animasi pelacur ini?”

Aku tidak terima ia menyebut Lightning begitu. Lightning adalah seorang prajurit tangguh yang bisa membunuh para musuhnya dalam sekejap mata. Bagiku ia bukan hanya karakter fiksi belaka. Aku memujanya.

“Lepaskan kostum itu sekarang juga!”

“Tidak, aku tidak akan melepaskannya!” Alina meraih sesuatu dari sakunya. Astaga ia membawa pistol. Mau apa dia! Dia benar-benar sudah tak waras!

“Aku sangat berterimakasih pada ayahku yang telah ceroboh menyimpan benda ini,” ucapnya sambil tertawa renyah.

Ayahnya adalah seorang polisi. Ia memegang boneka Lightning dan mengarahkan moncong pistol itu ke kepalanya. Tapi kemudian ia malah mengarahkan senjata itu ke kepalanya sendiri. Oh Tuhan, mau apa dia?

“Sekarang saatnya kamu putuskan pilihanmu. Pilih aku atau karakter pelacur ini!”

“Apa yang kamu lakukan? Kamu gila!”

“Kamu yang gila! Aku sudah tahu kegilaanmu selama ini. Game berengsek itu telah mencuci otakmu! Kamu bercinta dengan pelacur fiksi ini!”

“Lepaskan pistol itu, Alina!” Aku panik. Aku tahu bermain game sudah merusak hidupku, tapi aku tak mau bermain-main dengan nyawa.

“Katakan apa kau mencintaiku atau tidak?”

Aku bingung. Semua ini tak masuk akal. Omong kosong apa ini?

“Jawab aku! Kamu mencintaiku atau tidak?”

Alina membuatku semakin gila. Lebih baik tembakan saja pistol itu ke arahku. Aku sudah tak kuat lagi dengan pertengkaran absurd ini.

“Jawab aku, Fin! Jawab aku! Pilih dia atau aku?”

Amarahku sudah mencapai klimaksnya. Kepalaku mendidih. Seperti ada aliran magma dalam otakku. Seluruh tubuhku segera memanas. Aku lekas menghadangnya, mencoba melepaskan senjata api di tangannya. Alina meronta. Ia mencoba melawan, tapi tak bisa.

Duaar….

Sebuah tembakan tiba-tiba tercipta, dan semua pun berhenti seketika.

* * * *

Pagi masih menerawang. Aku masih duduk manis memainkan game Final Fantasy. Sang musuh utama, Bandorus, berhasil kutaklukan sebentar lagi, tapi tiba-tiba gerakan jariku terhenti. Layar LCD TV yang sedang memutarkan video game seperti menyuruhku untuk mengingat kembali beberapa potongan memori. Televisi itu seakan ingin berbisik. Apa semalam aku benar-benar pergi ke pesta? Di manakah aku semalam?

Sadarlah diriku. Ada cipratan noda merah di kaosku. Seketika, jantungku berhenti berdetak. Aku tak berani menoleh ke belakang. Seseorang tengah tergeletak lemas di kolong ranjang.

Ternyata aku memang tak jadi pergi ke pesta semalam.

* * * *

image

Bau gosong menyeruak. Kepulan asap memenuhi kosan. Astaga, Panji lupa kalo ia lagi ngerebus air! Kilatan api kompor membesar. Ia langsung sigap mengambil panci yang dipake buat ngerebus air. Alamak, pancinya gosong! Ia celingak-celinguk mencari kain lap tapi ia tak menemukannya. Dan entah kenapa ia langsung mengambil keputusan spontan untuk melepaskan celana boxer yang sedang dipakainya.

Mendengar keributan yang terjadi di kosan Panji, ibu kos langsung masuk ke dalam kosan yang dibayar Rp 300 ribu perbulan itu.

“Waaa…!!!” Ia berteriak kencang begitu melihat kejadian langka yang terjadi di depannya. Panji menenteng panci gosong dengan celana boxernya sementara celana dalam Hello Kitty yang sedang dipakainya dibiarkan diobral kemana-mana.

“Hehe, maaf Bu,” ucap Panji dengan muka memerah.

Skandal paling memalukan telah terjadi. Panji berdiri kayak patung helo kitty. Tapi bukan itu yang membuatnya berkecil hati. Pancinya kini bolong. Dan itu adalah sebuah tragedi yang sungguh tidak manusiawi –atau lebih tepatnya pancisiawi.

“Lo kenapa, Ji? Kok melamun mulu?” tanya Dodo ketika mereka duduk-duduk di warung siomay Pak Mudi.

“Panci gue bolong, Do.”

“Panci bolong?” Dodo terbatuk-batuk tersedak siomay. Gara-gara panci bolong, tenggorokannya langsung terkaget-kaget.

“Iya, panci gue bolong.”

“Panci bolong aja dipikirin. Lo ini gimana sih!”

“Habis panci itu kan mau dipake buat ospek nanti!”

Panji dan Dodo baru masuk kuliah di salah satu universitas swasta di Bandung. Besok adalah hari pertama ospekya dan panci adalah salah satu atribut yang harus dibawa sebagai pelindung kepala.

“Oh, iya. Untung gue udah ada. Kalo panci lo bolong, beli yang baru aja. Apa susahnya sih!”

“Itu dia! Gue gak punya duit. Pinjemin gue duit dong, Do!”

“Gue lagi bokek. Kenapa lo gak pinjem panci ke ibu kos aja sih?”

“Udah, tapi pancinya gak muat di kepala gue. Cuma panci itu aja yang pas sama kepala gue. Terus gue mau gimana dong? Lo punya ide gak?”

“Lo tambal aja pancinya.”

“Ditambalnya sama siapa?”

“Sama Pak Jokowi! Ya, jelas sama elo lah! Hari gini mana ada tukang patri. Yang ada cuma tukang odong-odong sama tukang kredit bikini.”

“Emang ada tukang kredit bikini.”

“Ya adalah, kemarin gue udah beli. Eh, kok…” Dodo nelen ludahnya sendiri. “Ketahuan deh gue,” pikirnya dalam hati.

“Terus, nambalnya pake apa Do?

“Ya paket penambal panci! Masa paket penambal gigi?”

Dodo bersedia membantu Panji menambal panci. Dengan peralatan penambal panci yang dibeli dari pasar loak, panci bolong pun bisa diakali.

Hari pertama ospek pun tiba. Panji sudah menyiapkan segala peralatan perangnya. Revolusi hidupnya akan segera dimulai. Bocah ingusan itu akan segera menjadi mahasiswa.

Halaman kampus sudah dipenuhi mahasiswa baru lengkap dengan panci-panci mengkilap yang menutupi kepala mereka. Ada sebuah panci yang agak mencolok di tengah kerumunan itu. Itulah panci yang dipakai Panji. Panci gosong lengkap dengan tambalan dari alumunium foil. Meski sadar ia telah menjadi sorotan tapi ia tak mau peduli. Ia berdiri dengan penuh percaya diri. Ia masih memakai seragam SMA dengan sepatu kets bladusnya. Saat ia menoleh ke bawah ia tersadar simpul tali sepatunya terlepas. Ia langsung menunduk untuk ngebenerin. Tapi gak sengaja, kepalanya yang ditutupi panci gosong malah nyenggol pantat cewek di depan. Cewek itu segera berbalik. Maka terjadilah momen pertemuan dua panci berbeda kondisi. Yang satu merupakan panci baru dengan bahan alumuniun berkualitas tinggi dan yang satu lagi tentu saja panci gosong dengan pantat bolong yang sudah ditambali.

“Ma..maaf,” ujar Panji tersipu malu.

“Oh, gak apa-apa kok!” cewek itu tersenyum. Gila, cewek itu cantik banget! 75 persen mirip Nikita Willy dan 25 persen mirip Selena Gomes campur Taylor Swift. Panji ngiler terpesona luar biasa. Tapi tiba-tiba semua itu terganggu oleh suara toa dari kakak senior yang memanggilnya.

“Hey, kamu! Yang pake panci gosong!” teriak kakak senior langsung memekakan telinga. Bisa-bisa budeg berjamaah nih! Panji terkaget dan langsung melihat ke depan. Yang make panci gosong cuma dia seorang. “Maju sini!”

“I..iya, Kak.” Panji semakin menjadi sorotan. Ia berjalan ke depan menghadap kakak senior dengan penuh deg-degan. Gelak tawa menyeruak. Dalam sekejap, ia sudah menjadi superstar di kampus barunya.

“Kamu tahu kan? Dilarang bicara saat senior memberi pengarahan!”

“Ta..tau, Kak…”

“Apaaa?”

“Tau, kak…”

“Apaaaa?”

Ini orang budeg ya? Mungkin kebanyakan dengerin suara toa kali ya!

“Saya tau, Kak.”

“Nama kamu siapa?”

“Panji, kak.”

“Panci?”

“Panjii!”

“Pancii?”

“Panji, Kak!”

“Banciiii?”

Semua orang yang ada di lapangan langsung berkata serentak, “Hah, banciii???”

“Bukan, bukan! Saya bukan banci, saya Panci. Eh, Panji!”

“Banci panci???”

“Banci jualan panciii?” ujar semua orang yang ada di lapangan, serentak mengulang.

“SAYA PANJIIII…!” Panji berteriak kencang. Semua orang langsung memperhatikan. “DAN SAYA BUKAN BANCI YANG JUALAN PANCI! WALAUPUN SAYA PAKE PANCI BOLONG KAYAK GINI, BUKAN BERARTI NAMA SAYA PANCI. PANCI DAN BANCI ITU BEDA ESENSI. MESKI PANCI TERLAHIR DENGAN PANTAT MENGKILAT TAPI PANTAT PANCI GAK SESEKSI PANTAT BANCI, APALAGI PANTAT PANJI. SEKALI LAGI, NAMA SAYA PANJI! BUKAN PANCI ATAU BANCI!”

Semua orang tercengang. Sebuah orasi ideologis menghentakkan semua mata dan telinga.

“Panci! Panci! Panci!” seru semua orang terdengar seperti sebuah teriakan slogan kampanye partai politik. Kalau didengar sekilas seperti seruan ‘Nazi! Nazi! Nazi’. Gila! Gara-gara panci, Panji udah kayak Hitler aja! Apa dunia beneran mau perang ya?

Dan tiba-tiba saja hujan deras turun tanpa diundang. Buyar sudah orasi politik dadakannya. Semua orang lari tunggang langgang ke luar lapangan, tapi Panji masih bertahan. Ia gak berdiri sendirian. Rupanya cewek cantik yang tadi juga masih berdiri hujan-hujanan. Ia melepaskan panci di kepalanya dan menyerahkannya pada Panji.

“Pake panci aku aja. Tambalan pancimu lepas, kepalamu keujanan tuh.”

“Ta..tapi kamu?”

“Aku gak apa-apa kok! Kamu satu-satunya cowok di planet ini yang terlihat seksi kalo pake panci. Kamu seksi.”

Panji senang bukan main. Ia langsung memakai panci itu. Dan sesaat setelah itu tiba-tiba petir menyambar kepalanya.

Duaaar…. semuanya pun jadi gelap seketika.

* * * *

“Aku tak mau kalau aku dimadu….”

Suara nyanyian banci yang lagi ngamen di depan kosan langsung membangunkan Panji dari mimpi anehnya. Matanya terbuka. Bau gosong menyeruak. Astaga, Ia lupa kalo lagi masak air. Panji berteriak kencang dan banci yang lagi ngamen di depan kosan pun langsung lari tunggang langgang.

* * * *

image

Angel Sucks Demon

Keimanan adalah esensi hidup manusia yang tidak akan pernah terbayar oleh logika.

Kupandangi layar komputer dengan nanar sambil memegang foto dirimu yang tengah berpose memakai baju biarawati. Laman Google menyambutku. Kuketikan kata kunci dengan keyakinan penuh. “Tuhan”, itulah yang sedang aku cari. Aku mencari Tuhan di sini. Di dunia yang telah terdigitalisasi tanpa batas moralitas dan toleransi. Keimananku bisa saja menembus batas koneksi tapi hatiku tetap terbatasi.

Kusadari, aku bebas memilih surga atau neraka. Setahuku, aku bisa mengunggah nyawaku kemana saja. Aku hanya perlu jaringan yang stabil berkecepatan 7,2 mega byte per sekon, maka aku akan hilang seketika.

* * * *

Dania, tiga tahun sudah kita jalani hidup bersama. Perbedaan keyakinan tak bisa memisahkan kita. Kau Katholik, aku Muslim. Tapi kita tak pernah mempermasalahkannya. Referensi iman kita boleh saja tak sama. Aku tak pernah melarang kau memakai Rosario saat berkencan. Kau juga tak pernah memaksaku memakan babi goreng saat kita makan malam di restoran China.

Aku memang bukan muslim yang taat. Kuakui hal itu. Entahlah, aku tak begitu excited akan keimananku. Aku tak begitu sakral dalam menanggapi kehidupanku. Dibilang sekuler, tidak juga. Kedua orang tuaku adalah sosok muslim yang sebenarnya dan aku selalu merasa berdosa karena telah berjalan begitu jauh dari koridor mereka. Aku masih membaca buku-buku Friedrich Nietzsche di sela-sela mengerjakan tugas kuliahku. Kuanggap itu sebagai salah satu intermeso harianku. Tapi sepertinya Dania tidak merasa nyaman dengan itu.

“Kenapa kamu baca buku-buku seperti itu?” ia menggerutu.

“Emang kenapa?”

“Entahlah, aku merasa khawatir aja…”

“Ini hanya refrensi mata kuliah aja kok. Kamu tenang aja. Aku tak akan terpengaruh nihilisme atau apapun itu…”

“Kamu kan mahasiswa jurusan ilmu komputer. Di zaman Nietzsche belum ada komputer, telepon pun mash belum ketemu. Buat apa kamu baca buku filsafat kayak gitu? Gak nyambung tau!”

Dia selalu begitu. Mengkhawatirkanku untuk satu hal yang tak perlu. Well, memang komputer dan Nietzsche adalah dua hal berbeda. Tapi mereka terhubung dalam suatu urusan yang sama, yakni logika. Kurasa Dania tak akan menyetujui hal itu. Ia adalah makhluk semi-sakral yang tak mempercayai logika seutuhnya. Meski terkadang, ia juga menggoda keimananku. Aku pun dibuatnya mati kutu, dan aku selalu merindukan itu.

“Kamu percaya Tuhan?” tanyanya tenang.

“Ya,” jawabku tenang.

“Aku tak habis pikir bagaimana kamu bisa mengingat Tuhan saat kamu sibuk dengan komputer gilamu. Bagaimana pula kamu bisa mengingatku?”

“Tuhan ada dimana-mana. Bukankah semua orang bilang begitu…”

“Bahkan Dia ada dalam setiap nano byte memori komputermu?” Ia bertanya seakan tak berdosa. Itulah sisi yang aku suka darinya. Innocence.

“Tentu saja.”

“Lalu, kapan kamu akan mengingatmu?”

“Aku tak pernah mengingatmu karena kamu sudah menjadi salah satu jaringan saraf otakku.”

Aku mencintainya. Biarkan Tuhan tahu itu. Kami terbuai dalam romansa longitudinal antara rasa dan logika. Kami dua reaksi kimia yang tercampur dalam suatu senyawa. Aku rela mati untuknya. Kusentuh setiap jengkal hatinya seakan dunia milik kita berdua. Tapi percintaan memang tak selalu manis.  Begitu juga kehidupan. Dan terkadang bisa teramat pahit seperti racun yang bisa membawa hidupku ke titik penghabisan.

Semua mulai berbalik. Bumi selalu berotasi, kesucian terhibdrasi dan keyakinan pun terkadang tereduksi. Hari itu, kau datang menemuiku. Dengan wajah pucat mirip patung Maria Magdalena, kau memberiku sebuah bencana.

“Aku hamil,” ucapnya lirih.

Jantungku serasa dirajam oleh seribu cambukan. Nyawaku serasa melayang.

“Kamu ha.. hamil?”

“Ya.. rahimku terisi oleh buah cintamu.”

“Gugurkan!” Tanpa sadar, kata-kata itu keluar dari bibirku. Ia menatapku tajam seolah sebilah parang ia hadapkan.

“Tidak, kamu gila ya!” Ia marah luar biasa.

“Aku tak mau punya anak itu. Tidak sekarang. Aku belum siap!”

“Kau pikir aku juga siap?”

Aku terdiam. Dan tanpa sadar sebuah umpatan sadis meluncur dari lidahku.

“You’re a bitch!”

Ia menamparku. Menampar pula kehidupanku. Kami terbawa ke dalam lubang hitam yang membuat kami gelap mata. Cinta itu neraka. Seksualitas tak bisa menjawab segalanya. Aku dan dia adalah korbannya. Dimanakah Tuhan pada saat itu? Mungkin Ia sedang tertawa. Menertawakan kekonyolan kedua makhluknya.

We are fuckin losers. Destroying all the forgiveness. We’re on fire but we’re hopeless. I love you but it’s an  illness. We are the holy sinner and this is a curse.

Kami memilih aborsi sebagai jalan keluar yang paling logis. Biarlah satu nyawa itu hilang ditelan bumi. Kami siap menebusnya suatu hari nanti. Aku telah menjadi predator paling ganas di planet ini. Aku sadari itu tapi aku tak mengerti apa yang terjadi.

Setelah rahimnya ternodai. Dania berubah seratus delapan puluh derajat. Ia menjadi pendiam. Menjadi ekstrover yang memproteksi dari dunia luar. Menjadi pendosa telah membuatnya berevolusi menjadi wanita yang tak pernah kukenal sebelumnya. Gereja kini menjadi rumah keduanya. Alkitab dan Rosario telah menjadi kekasih barunya. Ia telah menyelingkuhiku dengan keimanannya. Kami jadi jarang bertemu dan aku tidak suka itu.

“Aku akan menjadi pelayan Tuhan,” ucapnya padaku. Bukankah Tuhan itu Maha Sempurna? Kenapa Ia harus dilayani? Ia bisa melakukan segalanya sendiri. Ia tak membutuhkan kita untuk membantunya. Apa kau mempercayai-Nya?

“Kamu yakin dengan itu?”

“Ya.”

Haluan hidupnya telah menghancurkan asaku. Kenapa kau lakukan itu padaku? Masih ingatkah saat kau berjanji akan menjalani hidup tanpa penyesalan denganku. Bagaimana dengan nasib rencana pernikahan kita? Bukankah kau sempat memikirkannya?

Ia memberiku sebuah pesan berharga. Keputusannya untuk menjadi wanita Katholik seutuhnya telah membuatku gila, ia mengungkapkan niatnya untuk pergi menjadi domba gembala-Nya. Ia pergi ke Lourdress, Prancis, tempat dimana Maria Magdalena dikabarkan dimakamkan di sana, untuk menjadi biarawati tanpa menemuiku terlebih dulu. Aku tak bisa mencegahnya.

“Tuhan telah memanggilku. Maafkan aku, hubungan ini sudah menemui jalan buntu,” pesannya padaku.

“Lalu bagaimana denganku? Kau tau aku tak bisa hidup tanpamu!”

Ia tersenyum melihat sisi melankolisku.

“Tuhan akan memberkatimu. Aku tahu itu.” Ia pun berlalu dan aku hanya bisa membatu tanpa bisa berbuat apa-apa.

* * * *

Layar monitor masih memberkatiku. Mengingat semua itu membuatku ngilu. Tuhan, dimanakah Kau berada? Apa esensi keimananku selama ini? Jika memang ada kehidupan setelah mati, kemanakah nyawaku saat tubuhku sudah tak bernapas lagi? Ruh adalah dimensi tak kasat mata yang mungkin bisa menjadi miliaran kode matriks Matematika. Kehidupanku bisa dilanjutkan dalam surga digital yang bisa kubuat sendiri. Tak ada setan, tak ada malaikat. Jiwaku telah terdigitalisasi. Aku tak peduli Tuhan dan Dania telah meninggalkanku. Sebotol racun sianida akan menemaniku. Aku percaya itu.

Thus spoke Zarathustra: Look, I teach you about Übermensch. Übermensch is the meaning of the world. Let your desire exclaimed!

Layar monitor komputer berkedip menyilaukan mataku. Kolase matriks telah tereksekusi dan tombol enter aku pijit dengan sisa ketenangan hati. Tapi lagi-lagi, aku dikhianati.

“Hey, pecundang! Tuhan telah meninggalkanmu di sini! Jaringan 3G sudah mati, pintu surga tidak akan terkoneksi!” ucap layar monitor sesaat setelah jantungku tak berdetak lagi. Dan aku pun lenyap. Mati.

* * * *

image

“Namaku Agra. Higienis dan steril adalah dua kata yang sakral bagiku. Kotor adalah bencana dan jorok adalah malapetaka. Aku tak akan membiarkan benda asing menempeli tubuhku. Kebersihan badanku menempati kualitas tertinggi dalam kasta manusia.”

Itulah argumen mengenai hidup higien yang selalu kuagungkan selama ini. Higienis adalah segalanya bagiku. Virus, bakteri dan protozoa adalah musuh abadiku. Meski tubuh manusia dihuni oleh 10 ribu spesies mikroba, tapi aku tak mau diperbudak oleh mereka. Manusia adalah makhluk multiseluler paling sempurna. Tak ada alasan untuk disamakan dengan mikroorganisme sederhana macam mereka. Meski Charles Darwin bilang merekalah nenek moyang pertama spesies kita, tapi aku menolaknya. Teori evolusi terlalu ekstrim untuk ditelaah. Dan aku tak mau membuatnya jadi masalah.

Ada beberapa faktor krusial yang membuatku ekstra protektif terhadap higienitas seperti sekarang. Mungkin trauma masa kecilku jadi salah satu penyebab utamanya. Sewaktu aku duduk di kelas 5 SD, aku pernah terinfeksi virus H5N1 alias flu burung. Ya, aku pernah terinfeksi virus mematikan itu. Hampir selama sebulan aku diisolasi dari peradaban. Mengakrabi infus dan mimpi buruk akan kematian. Rasanya aku bisa gila kalau mengingat semua itu. Untunglah aku masih bisa disembuhkan.

Ibarat teori sebab-akibat, pengalaman itu telah mengubah pola pikirku akan definisi kata bersih dan sehat. Aku diberi pelajaran berharga bahwa kesehatan itu tak bisa dihitung oleh nilai eksakta. Sehat itu anugerah. Dan aku berjanji akan menjaganya meski harus dengan cara yang sedikit luar biasa. Mungkin ini terlalu berlebihan tapi itulah yang kini kulakukan.

Aku selalu cuci tangan setiap mau beraktifitas dengan membawa jel antiseptik kemana-mana. Mandi teratur, menjauhi tempat lembab dan kotor, meminimalisir aktifitas di luar ruangan, tidak makan sembarangan serta tidak minum dalam gelas yang sama untuk menghindari kontaminasi bakteri dan amoeba. Itulah hal-hal gila yang rutin kulakukan selama ini. Meski semua itu membuatku terkucilkan dari pergaulan, tapi aku tak peduli. Tak ada toleransi untuk patogen. Semua temanku tahu aku. Aku memang berteman dengan manusia, tapi maaf saja, aku tidak berteman dengan segala bentuk parasitisme dan penyakit.

“Agra tuh cuma mau bergaul dengan makhluk steril aja. Jangan harap dia mau main kotor-kotoran kayak kita!” begitulah canda teman-temanku. Aku tak pernah ikut mereka hangout di luar atau bermain bola. Saat pelajaran olahraga pun aku minta konpensasi agar tak ikut panas-panasan di lapangan atau di kolam renang. Untungnya guruku dapat memakluminya sehingga aku bisa terbebas dari kuman yang berkeliaran.

Aku melenceng dari pergaulan remaja, itu sudah pasti. Tapi suatu hari, aku dipaksa untuk kembali lebur dalam realita saat teman-temanku mengajakku berlibur di taman air kota.

“Lo udah gila ya? Lo ngajak gue berenang di taman air kota?” seruku begitu Beni datang dengan ajakannya.

“Ayolah Gra! Semua teman sekelas ikut, masa lo nggak?”

“Lo tau sendiri kalo di kolam renang itu ada triliunan bakteri dan amoeba. Maaf saja, tapi gue gak mau berenang bareng mereka.”

“Lo itu lebay banget deh, Gra! Lo tau gak, Tista juga ikut tau!”

“Tista?” Pemikiranku tergoda. Beni tahu kalau aku sangat suka Tista sejak kami masih duduk di bangku SMP. Dan di kelas 2 SMA ini kebetulan kami sekelas. “Ayo, Gra! Kapan lagi lo liat Tista pake baju renang? Kalo lo gak ikut, lo bakalan nyesel seumur hidup!”

Baiklah aku ikut. Kehadiran Tista telah mengubah pikiranku. Ia seperti magnet bagiku. Ia memakai baju renang seperti yang Beni bilang. Baju renang one piece warna hitam menempeli tubuh mulusnya. Sungguh cantik dan seksi. Sempurna! Di tengah kerumunan orang yang berenang, dia tampak seperti mutiara yang sulit tersamarkan. Tak menyesal aku datang. Dia memang pantas untuk ku pandang.

Ini pertama kalinya aku ke kolam renang setelah hampir 7 tahun kering kerontang dari dunia basah-basahan. Aku cuma duduk-duduk di pinggir kolam. Tak ada niat untuk berenang. Sebagai makhluk bertulang belakang yang hidup di daratan, tak ada keharusan bagiku untuk mencicipi kehidupan perairan. Teman-temanku boleh saja menjadi amfibi sesekali, tapi aku mamalia darat murni. Air hanya kugunakan sebagai media pembersih, bukan malah untuk memperkotor diri.

Beni dan beberapa temanku tiba-tiba keluar dari kolam. Mereka mengajakku berenang tapi aku tak mau. Sudah kubilang aku bukan ikan atau amfibi! Kenapa mereka tidak mengerti? Ternyata ajakan mereka bukan isapan jempol belaka. Tiba-tiba, mereka mengangkat tubuhku. Aku kaget. Secara brutal, tubuhku diceburkan ke kolam. Aku basah. Tangan dan kaki meronta. Oh tidak, ternyata kolam ini lumayan dalam. Mungkin sekitar 3 meteran lebih. Aku tenggelam.

Dari bawah air kulihat refleksi kaki para pengunjung yang berenang di kolam bagai kerumunan kuman, bakteri dan amoeba yang hendak memangsa. Bersama triliunan jasad renik aku berontak. Napasku terengah-engah. Aku melayang. Kesadaranku hilang ditelan air kolam.

* * *

Aku terbangun. Kepala ini pusing luar biasa. Kudapati diriku terbaring di pinggir kolam. Teman-teman dan beberapa pengunjung mengeremuniku seperti plankton yang mengerumuni karang.

“Lo gak apa-apa kan, Gra?” tanya Beni cemas.

Aku masih meresapi napasku yang hampir putus. Untuk yang kedua kali, nyawaku nyaris hilang.

“Lo mau bunuh gue ya? Lo kan tau gue gak bisa berenang!” bentakku, marah.

“Maafin kita Gra, tadi kita cuma bercanda…”

“Bercanda? Gue hampir mati! Lo pikir itu lucu?” Teman-temanku terdiam. Mereka merasa bersalah.

“Maafin kita Gra! Kita ngaku salah. Tapi syukurlah lo gak apa-apa.”

“Kalian pikir nyawa gue segampang itu!”

“Udah deh Gra, lo jangan lebay! Yang penting lo selamat. Beruntung lo masih kita selamatin juga” Beni jadi emosi.

“Lo itu belagu banget sih! Emang lo anggap nyawa gue ini apaan hah! Kalian tuh anjing tau!”

“Setan lo! Salah sendiri kenapa gak pernah ikut pelajaran renang. Bego banget gue punya temen kayak lo! Sudah, gue mending pulang aja! Di sini udah gak asyik!”

Beni berlalu. Teman-temanku yang lain ikutan bubar meninggalkanku. Mereka semua pergi kecuali Tista. Entah kenapa ia belum beranjak. Ia malah duduk mendekatiku.

“Kamu gak apa-apa kan, Gra?” tanyanya lembut. “Seharusnya kamu maafin mereka. Aku tau mereka bersalah. Tapi mereka tuh cuma bercanda.”

“Mereka emang bercanda. Tapi bercandanya udah kelewatan.”
Tista terdiam. Ia menghela napas panjang. “Bukannya kamu takut bakteri dan amoeba. Dalam kehidupan ini ada banyak hal yang lebih menakutkan dari mereka dan yang kamu alami barusan itu cuma salah satunya aja!”

Aku mematung dalam kelimbungan. Ucapannya membuatku terasing dalam kehampaan.

“Sudah lebih baik kita cepet pulang, sepertinya sebentar lagi akan hujan. Bukankah kuman juga ada dalam air hujan?”

Seperti amoeba yang terjebak dalam lingkungan tak bersahabat, membran hatiku mengkista. Aku seperti organisme bersel satu yang hidup menyepi di tengah habitat alam. Tista telah membuatku menjadi protozoa nyata. Hujan pun membasahiku. Mungkin sebentar lagi aku akan mencair menjadi protoplasma.

* * *

Anjing!

Posted: 4 Agustus 2011 in Fiction
Tag:, , , , ,

Kulahap sepiring sisa makan siang yang sengaja ia berikan padaku. Berharap bisa enyahkan rasa lapar yang sudah mengaung sejak dua hari lalu.

“Makannya agak cepetan ya!” seru bocah yang baru duduk di kelas satu SD itu sambil mengelus-ngelus bulu hitamku. Aku tahu ia menyayangiku, meski tak bisa kupungkiri sering pula ia menyiksaku dengan tendangan atau lemparan batu. Tapi aku tak menyalahkannya. Toh itu juga karena salahku. Aku terlalu lancang masuk ke halaman rumah hingga tak jarang ibunya ikut keluar menyiramkan air panas ke tubuhku.

Aku cuma bisa melongok dari balik pagar. Mengintip jauh ia dan keluarganya yang bahagia meski terkadang suara tangis dan pecahan kaca kerap terdengar dari balik jendela.

Setiap hari, aku ikuti langkah kecilnya. Memastikannya sampai di gerbang sekolah. Kuikuti dia dari belakang. Kutunggui ia hingga bel sekolah menjerit meluapkan seruan pulang. Tak kubiarkan ia menyadari kehadiranku. Bagiku sudah cukup melihatnya begitu. Melihatnya pulang selamat tanpa gangguan teman-temannya yang belagu.

Belum habis sisa makanan itu kujilati, ia sudah buru-buru merenggut piring dari hadapanku.

“Udah dulu ya. Kalau ketahuan ibu, bisa-bisa ia memarahiku,” ucapnya seraya bergegas masuk pagar lalu berlari menuju pintu.

Kuhela napas dalam-dalam. Sejenak hatiku termenung. Entah kapan ia akan memanggilku ibu. Tidakkah ia tahu, akulah yang pertama kali memungutnya dari tong sampah 6 tahun lalu.

Judas

Posted: 22 Juli 2011 in Fiction
Tag:, , , , , , , ,

Mata masih lemas memandang dua buah benda suci dalam genggaman. Al-Qur’an di tangan kananku, Alkitab di tangan kiriku. Satu kisah telah kubaca dalam dua versi berbeda, tentang Yahuza atau yang bisa kusebut juga sebagai Judas.

Judas, sejahat itukah ia hingga Tuhan tega menghukumnya. Entah itu disalib dan diserupakan dengan Isa dalam versi Islam atau gantung diri seperti dalam versi Nasrani. Bukan keinginannya untuk berkhianat pada Isa. Setanlah biang keladinya. Setanlah yang seharusnya disalahkan, bukannya dia.

Bagaimanapun, seperti itu pulalah keadaanku sekarang. Jangan salahkan aku bila Lena satu selimut denganku. Mungkin kau bisa katakan aku mengkhianati isteri. Tapi kuingatkan sekali lagi, jangan coba menyalahkanku. Setanlah yang memulai semua itu.