Posts Tagged ‘Cyber Bullying’

Sumber: IMDB


Pernahkah diantara kamu yang pernah kepikiran buat bunuh diri?

Pertanyaan yang cukup ekstrim memang. Tunggu dulu bentar bro, kok ini tiba-tiba malah ngomongin bunuh diri ya? Hehe maaf. Semua ini gara-gara saya habis nonton serial TV yang lagi happening beberapa belakangan ini. Yup, 13 Reasons Why! Awalnya saya gak terlalu tertarik dengan serial ini. Saya pikir saya ini terlalu tua buat nonton serial remaja kayak gini. Tapi berkat pemberitaan tentang serial ini di sosmed serta atas dasar rekomendasi teman-teman di forum Fans-Game of Thrones, saya akhirnya tertarik buat nonton serial ini. Ya, itung-itung sebagai selingan sambil nunggu Game of Thrones season 7 yang bakal tayang pertengahan Juli 2017 nanti. Selain karena beberapa hal yang telah saya sebutkan tadi, sebenarnya subject yang menjadi inti cerita serial 13 Reasons Why ini cukup membuat saya tertarik, meski mengundang kontroversi, yakni fenomena bunuh diri di kalangan remaja. Tema yang cukup suram untuk ukuran serial TV remaja memang.

Serial 13 Reasons Why diangkat dari sebuah buku best seller berjudul sama karya Jay Asher (sayangnya saya belum baca versi bukunya hmm..), menceritakan tentang seorang gadis SMA bernama Hannah Baker yang memutuskan untuk mengakhiri nyawanya sendiri. Setelah melakukan bunuh diri, neng Hannah ini meninggalkan “warisan” berupa 7 buah kaset berisi 13 rekaman alasan mengapa ia melakukan bunuh diri. Kaset tersebut disebarkan secara estafet kepada beberapa temannya yang namanya ia sebut dalam rekaman, yang ia anggap sebagai “penyebab” ia melakukan bunuh diri. 

Tersebutlah Clay Jensen, salah seorang teman Hannah yang juga menerima rekaman kaset tersebut. Berbeda dengan beberapa temannya yang tidak terlalu serius menanggapi kaset-kaset tersebut,  Clay yang emang belum move on suka sama Hannah ini malah secara tak sadar mendengarkan kaset-kaset itu terlalu sentimentil. Dari sosok Clay Jensen inilah misteri kehidupan Hannah sebelum mengakhiri nyawanya akan terungkap satu per satu mulai dari intimidasi, cyber-bullying, intrik pergaulan remaja, body shaming, stalking, sampai pelecehan seksual dan pemerkosaan. Di lain pihak, orangtua Hannah tetap bersikukuh membawa kasus bunuh diri puterinya melalui jalur hukum sehingga menimbulkan konflik dengan pihak sekolah.

Untuk ukuran serial remaja, mungkin tema 13 Reasons Why memang cukup kelam dan berat. Di serial ini akan ditampilkan secara eksplisit detik-detik bagaimana seorang Hannah Baker mengakhiri hidupnya dengan silet yang menyayat kedua lengannya (spoiler alert!). Menurut saya, scene ini sangat WTF banget!! Selain itu, adegan pemerkosaan dalam serial ini juga cukup disturbing untuk ukuran young adults. Ini serial remaja lho bro! Hadeuuhh… tapi karena adegan-adegan WTF itulah, Netflix terpaksa memberi rating 18+ untuk serial ini. Wajar memang.

Sumber: IMDB

Sejak tayang akhir Maret lalu, serial yang juga diproduseri neng Selena Gomez ini langsung jadi bahan pembicaraan dimana-mana. Banyak yang memuji serial ini sebagai suatu bentuk awareness bunuh diri di kalangan remaja, tapi banyak juga yang mengkritisi karena ditakutkan bakal menjadi suatu model glorifikasi bunuh diri di kalangan anak muda. Serial ini pun kini semakin disorot ketika sebuah permainan online yang bernama Blue Whale Challenge menyeruak karena dikabarkan sama-sama mendorong pemainnya untuk bunuh diri. Dikabarkan banyak pemain game tersebut yang bunuh diri karena terinspirasi serial 13 Reasons Why. Meski memang sampai sekarang berita ini belum dikonfirmasi.

Bunuh diri memang masih menjadi obrolan tabu di masyarakat. Bukan cuma di negeri kita, tapi juga di negara-negara lain kayak di US dan Europe sono yang notabenenya lebih liberal. Meski begitu, bunuh diri juga telah menjadi suatu budaya di beberapa negara seperti di Jepang dan Korea Selatan. Sebagian kalangan berpendapat bahwa mengakhiri nyawa sendiri adalah hak pribadi. Maka gak salah kalau di Eropa sana, tepatnya di Swiss muncul sebuah klinik yang bernama klinik Dignitas yang menawarkan bantuan untuk mengakhiri nyawa secara legal bagi orang-orang yang sudah putus asa dalam hidupnya. Sangat gila memang! Well, tapi presepsi tiap orang toh pasti beda-beda. Bagi orang religius, jelas bunuh diri itu dilarang oleh agama. Sedangkan sebagian lagi menganggap bunuh diri sebagai suatu tindakan yang egois. Dan terlepas dari semua itu, kita pasti setuju kalau bunuh diri itu adalah suatu tindakan yang salah.

Saya teringat dengan salah satu scene di 13 Reasons Why di episode terakhir sesaat setelah Hannah mengakhiri nyawanya (Spoiler alert lagi ya..). Reaksi orangtua Hannah, terutama ibunya begitu melihat anaknya sudah tak bernyawa menurut saya sangat heartbreaking sekaleee! Sesungguhnya yang paling menderita itu adalah orang-orang terdekat yang ditinggalkan. Jadi, benarkah bila bunuh diri itu termasuk tindakan egois? Saya kira, kita jangan dulu buru-buru mengambil kesimpulan. Orang-orang yang menyayangi kamu akan menderita, ya itu pasti. Malah tak menutup kemungkinan kalau orang-orang yang menyayangi kamu tersebut juga akan masuk ke dalam kubangan defresif berkepanjangan yang juga bahkan dapat mengarah kepada tindakan bunuh diri berikutnya bila ia juga punya kecenderungan depresi. Meski begitu, saya juga ingin menggarisbawahi tentang sikap masyarakat terhadap “korban atau pelaku bunuh” diri ini. Saya sungguh menyayangkan tentang judgement masyarakat kita tentang korban bunuh diri ini. Mereka mengganggap korban bunuh diri ini sebagai seseorang yang telah dilaknat. Oke, mungkin dari sisi religi bisa dibenarkan. Tapi menurut saya ini kurang tepat. Mungkin tindakan mereka untuk bunuh diri memang salah. Tapi menghakimi individu yang melakukan bunuh diri tersebut tidaklah tepat. Seharusnya korban pelaku bunuh diri bisa dijadikan sebagai bentuk awareness bagi kita kalau masih banyak orang yang membutuhkan pertolongan. Faktor bunuh diri memang macam-macam, mulai dari faktor ekonomi, tekanan sosial, psikologis atau kejiwaan. Faktor psikologis dan kejiwaan memang banyak menyumbang peranan yang cukup besar dalam perilaku bunuh diri.

Tiap orang menanggapi suatu masalah secara berbeda. Mungkin suatu masalah bisa dianggap kecil oleh seorang individu tapi bagi individu lain bisa saja masalah itu berdampak besar. Seperti yang pernah neng Hannah Baker katakan dalam episode pertama 13 Reasons Why, “masalah besar dan kecil itu sama pentingnya”. Kondisi kesehatan mental seseorang yang melalukan bunuh diri harus diperhitungkan sebelum kamu menghakimi tindakannya. Bagi seseorang yang mengalami gangguan mental seperti depresi, tentu itu bukanlah hal yang sepele untuk diatasi. Jadi kita tidak bisa menilai tindakan bunuh diri sebagai bentuk keegoisan semata.

Apalagi jika ditambah dengan faktor-faktor lain seperti ekonomi, sosial, lingkungan dan sebagainya, kecenderungan seseorang yang depresi untuk melakukan bunuh diri akan semakin besar karena depresi sendiri bukanlah rasa sedih biasa.

Menurut Dean Burnett, seorang pakar neurologi dari Cardiff University menyatakan, tidaklah tepat membandingkan pengalaman seseorang yang menderita depresi karena gangguan mental dengan orang mengalami kesedihan lalu bisa melaluinya (Kompas.com, September 2014). “Jika Anda tak memiliki gangguan jiwa, maka Anda tak berhak mengabaikan mereka yang memilikinya,” kata Burnett dalam tulisannya di The Guardian.

Jangan pernah menganggap orang yang bunuh diri atau yang pernah melakukan percobaan bunuh diri sebagai orang yang lemah. Kita tidak akan pernah mengerti keadaaan seseorang  kecuali jika kita menjadi orang tersebut. Seorang penderita gangguan mental atau mereka yang mengalami depresi tidak akan mampu berpikir logis ketika dihadapkan suatu keruwetan karena mereka tidak bisa berpikir secara normal. Jadi bila kita mengatakan bahwa aksi bunuh sebagai bentuk keegoisan, sebenarnya pernyataan kita itu merupakan bentuk keegoisan itu sendiri. Kita egois karena tidak mau mencoba untuk mengerti mereka.

“Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya… hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.” – Harper Lee dalam buku To Kill a Mockingbird

Don’t ever judge people if we don’t know who they are! 

Menangkal perilaku bunuh diri bukanlah tindakan yang mudah karena bersifat subjektif. Penyebab seseorang bunuh diri tidak dapat disebut hanya satu penyebab karena merupakan interaksi kompleks dari berbagai faktor (Nationalgeographic.co.id edisi November 2015). Bagi orang-orang religius, mungkin bisa melalui pendekatan agama. Hampir semua agama pasti melarang yang namanya bunuh diri. Tapi saya pikir ini tidaklah cukup, seperti yang saya bilang tadi, orang-orang yang mempunyai kecenderungan depresi tidak akan mampu berpikir rasional sehingga pendekatan psikologis akan terasa lebih tepat. Kita tidak akan tahu bagaimana memberi pertolongan pada mereka, kecuali kita faham dengan kondisi psikologis mereka. Semua masalah pasti ada solusinya dan jangan biarkan bunuh diri menjadi solusi yang akan mereka pilih.

Berawal dari 13 Reasons Why, saya jadi antusias ngomongin tentang permasalahan bunuh diri. Saya pribadi menganggap serial ini cukup positif sebagai pemecah ketabuan masalah bunuh diri, khususnya di kalangan generasi muda. Bunuh diri memang tindakan yang salah, tapi itu bukanlah alasan untuk menyalakan pelaku bunuh diri tersebut. Serial ini juga bisa dijadikan sebagai momentum untuk menyadarkan kita akan pentingnya kesehatan mental dan spiritual serta interaksi sosial yang sehat. 

Berdasarkan data WHO, 39 persen dari total kasus bunuh diri di dunia disumbang oleh negara-negara Asia Tenggara. Di Indonesia sendiri kasus bunuh diri mencapai 3,7 persen per 100.000 penduduk. Memang presentase tersebut masih rendah dibanding negara-negara Asia lain. Tapi dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 258 juta penduduk, berarti ada 10.000 bunuh diri di Indonesia tiap tahun atau satu orang per jam. Angka yang cukup fantastis memang.

Sumber: Google

Mungkin kita tidak bisa berbuat banyak untuk mengatasi bunuh diri. Tapi setidaknya hal ini bisa dijadikan renungan bagi kita khususnya dalam hal berinteraksi dengan sesama. Terutama dengan maraknya social media di zaman sekarang. Komentar kebencian, intimidasi dan cyber-bullying sering kita saksikan di berbagai laman sosial media. Kita tidak akan pernah tau perasaan orang yang terintimidasi tersebut. Sudah saatnya kita lebih peka. Jangan sampai itu menjadi salah satu faktor orang lain untuk mengakhiri nyawanya. Tokoh Hannah Baker mungkin hanya sekedar fiksi, tapi ia bisa dijadikan gambaran korban intimidasi yang berujung bunuh diri.

Mungkin kamu punya berjuta alasan untuk bunuh diri, tapi ingatlah kamu selalu punya alasan untuk hidup. Serapuh apapun jiwamu, ingatlah dengan hidup yang akan menguatkanmu. Hidup ini cuma sekali guys! Jangan sia-siakan hidupmu. Masih banyak miliaran kemungkinan di luar sana. Suicide is not an answer. 
It’s not even an option. Ok, sometimes we feel so damn weak but it’s not a reason to cut our neck. Just love your life. 

Sumber: Google

Suicide can be prevented!