Posts Tagged ‘Cerpen Remaja’

surga 35

“Heaven is under our feet as well as over our heads.” ― Henry David Thoreau, Walden

Aku akan keliling dunia dan menemukan surga. Lihat saja.

Namaku Arka. Seorang pemuda yang selama 27 tahun hidupnya selalu dihantui thalasemia. Thalasemia? Ya, penyakit kelainan darah itu sudah mendarah daging dalam tubuhku. Tak ada kepastian sembuh bagiku. Hidupku bergantung pada tranfusi darah yang harus dilakukan setiap bulannya, aku juga harus mendapat suntikan desferal selama 10 jam setiap malam. Bukankah itu sungguh keterlaluan? Semua ini benar-benar melelahkan. Rasanya aku ingin mati saja. Seluruh biaya pengobatanku bergantung pada asuransi kesehatan yang didaftarkan oleh mendiang ayahku. Ya, ayahku juga begitu. Karena thalasemialah ia meninggal 10 tahun lalu. Tak pernah kusangka aku akan mewarisi apa yang telah membunuhnya itu. Penyakitku ini lebih parah darinya. Aku bisa mati kapan saja karena thalasemia akut yang menyerang setiap harinya. Beberapa bagian tubuhku membengkak karena komplikasi getah limpa. Aku sudah seperti boneka yang tak bernyawa. Thalasemia telah merenggut kehidupan masa mudaku secara nyata.

Itulah aku.

Aku adalah aku. Aku jelas berbeda dengan Arya, adikku. Ia adalah satu-satunya saudara kandungku, satu-satunya keluarga yang kupunya selain Ibu. Usianya setahun lebih muda dariku. Kami terlahir dari gen yang sama, tapi secara lahiriah, kami berbeda. Kami bagai bumi dan langit. Semacam paradoks yang berlainan satu sama lain. Arya adalah pemuda luar biasa. Tak ada kelainan pada fisiknya, ia terlahir sehat tanpa warisan penyakit dari Ayah. Arya adalah kebalikan dari diriku. Ia pemuda yang aktif dan selalu tertarik pada hal baru. Jiwa petualang dalam dirinya amatlah besar. Ia telah mendapatkan semua hal yang diinginkan setiap manusia belia. Memiliki banyak kawan, aktif dalam pergaulan dan mendapat pendidikan yang layak di salah satu universitas ternama.

Aku dan Arya memang berbeda. Selain persamaan struktur DNA, hanya ada satu hal yang membuat kami sama, yakni seni. Kami berdua sama-sama terobsesi dengan seni. Kurasa ini tidak ada hubungannya dengan faktor keturunan atau silsilah keluarga. Seni telah menyatukan kami. Aku seni lukis, dan ia fotografi. Hobinya dalam fotografi berbanding lurus dengan hasrat petualangnya yang tinggi. Ia senang berpetualang dengan kamera DSLR-nya. Ia selalu menenteng kamera itu kemana-mana. Dua tahun lalu, aku memberikan kamera itu. Aku membelinya dari hasil penjualan beberapa karya lukisanku. Kamera itu telah menjadi bagian dari dirinya, bahkan menjadi salah satu modal dari proyek ambisiusnya.

Semua ini bermula saat setahun lalu, saat ia pertama kali menceritakan proyek gilanya. Secara mengejutkan, ia ungkapkan keinginan untuk cuti sejenak dari kuliah ekonominya. Ada sebuah proyek besar yang tiba-tiba mengubah haluan hidupnya, sebuah proyek irasional yang mungkin akan membuat siapa saja terbelalak begitu mendengarnya.

“Aku akan keliling dunia untuk thalasemia!” begitu katanya, penuh semangat. Percakapan kami di ujung senja berubah menjadi kejutan absurd yang sulit dipercaya. “Kakak dan Ibu tak perlu khawatir. Ada banyak sponsor yang akan mendanai proyek ini. Aku akan melakukan perjalanan dengan sepeda. Aku akan keliling dunia!”

Itu adalah hal tergila yang pernah aku dengar. Adikku akan bersepeda sendiri keliling dunia demi proyek amal untuk para penderita thalasemia. Siapa yang sudah mencuci otak adikku ini? Kurasa ia terlalu banyak menonton tayangan Travel Channel. Dunia begitu luas. Roda sepeda tak akan mungkin mampu menaklukannya.

“Thalasemia dan surga, hanya itulah alasanku melakukan semua ini.”

“Surga?”‘

“Ya, surga. Ini adalah sebuah misi suci. Akan kubuat dunia mengerti apa itu thalasemia. Ini semua demi Kakak, mendiang ayah kita, dan seluruh penderita thalasemia yang ada di seluruh dunia.”

“Jangan bicara tentang surga. Bagimu, surga itu hanya sebesar 35 milimeter ukuran diameter lensa kamera. Janganlah kamu berbuat gila! Dunia tak seindah yang terpotret dalam lensa. Dunia tak seperti yang kamu kira.”

“Aku akan menunjukkannya, Kak! Aku akan melakukannya!”

Obsesi absurd Arya benar-benar terlaksana. Aku benar-benar tak percaya. Hari Kamis, tanggal 5 Mei, tepat di Hari Thalasemia Sedunia, ia memulai titik nol kilometernya dari Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta. Bersama iring-iringan sponsor dan ratusan penderita thalasemia, aku dan Ibu melepasnya. Ia berhasil menggaet beberapa sponsor untuk mendukung aksinya, diantaranya ada Yayasan Thalasemia Indonesia dan sebuah LSM internasional asal Amerika. Ia dibekali berbagai perlengkapan memadai untuk menunjang penjelajahannya. Ia melakukan semua ini bukan untuk memecahkan rekor dunia, tapi untuk membuktikan kalau kami ada: penderita thalasemia.

Seribu kilometer lebih telah ia tempuh selama 19 hari untuk sampai di Medan. Selat Malaka dilewati, negeri jiran disusuri hingga negeri Takshin Shinawatra pun dijejaki. Ia masuk Thailand lewat Pattani, kota rawan konflik yang untungnya sedang dalam kondisi aman terkendali. Di negeri gajah putih, ia mulai merasakan perbedaan budaya yang cukup signifikan. Ia bahkan sempat bertemu dengan seorang anak penderita thalasemia di Rumah Sakit Bumrungrad di Bangkok. Sebuah momen penuh haru pun sempat ia abadikan.

“Love for Nathon Nakshucay! Bocah manis yang berjuang dari keganasan thalasemia di Thailand. Usianya baru menginjak delapan, tapi semangatnya untuk bertahan hidup tak akan pernah bisa terpatahkan!”

Begitu bunyi keterangan foto yang ia unggah ke halaman Facebook dan Twitter-nya. Empati adalah sebuah bahasa universal yang bisa menembus semua batas budaya. Lebih dari separuh kasus thalasemia terjadi di Asia. Thailand hanya salah satu contohnya. Aksi Arya telah membuat kami membuka mata. Ternyata perjuangan ini bukan milik kami saja.

Thailand-Laos-Vietnam mampu dilewatinya dalam waktu 3 bulan. Waktu terasa begitu cepat berlalu sampai aku sadar ia sudah menembus China. Tak lupa ia selalu bagikan setiap momen berharga lewat email, blog, dan berbagai jejaring sosial miliknya. Ia tak pernah berhenti menyajikan foto-foto indah. Mulai dari fotonya di sungai Mekong, suasana perbatasan tiga negara di Golden Triangle, pose di gerbang Patuxai di kota Vientiane, sampai ikut tari caping di salah satu desa di Vietnam. Ia masuk China lewat kota Lang Son di Vietnam Utara. Dari China, ia akan memulai perjalanan mengikuti jalur sutera.

“Halo semuanya! Aku sudah berada di China. Thalasemia masih sangat asing di sini, tapi aku akan berusaha untuk tetap mengkampanyekannya,” ucap Arya dalam status Facebook-nya. Ia selalu berusaha untuk terhubung dengan kami sekeluarga, entah itu lewat email, sambungan telepon international ataupun lewat video chat. Ia cerita kalau ia sempat kehilangan sepedanya di salah satu desa di Ciang Rai, Thailand. Bahkan ia pun hampir kecopetan saat tersesat di di sebuah pasar di Laos Selatan.

China-Kazakhstan ditempuhnya selama dua bulan setengah dengan melewati terjalnya daratan dan pegunungan. Panas, hujan, bahkan badai, datang silih berganti. Siang dan malam hanya sekedar efek rotasi bumi. Dari dataran tinggi Yunan hingga Kwen Lun, dari Xinjiang hingga Alma Ata. Berbagai jenis orang telah ia temui. Dari etnis Han yang mendominasi, etnis Uyghur yang masih terdiskriminasi hingga etnis Kirgiz dan Kazakh yang sedang mencoba mencicipi modernisasi. Jantung Asia sudah dilewati. Kini benua biru sudah menanti.

Aku masih belum bisa percaya kalau adikku melakukan semua ini. Kami belajar sepeda 17 tahun lalu dan ia sudah mengayuh pedal sejauh itu.

“Kamu selalu membonceng Kakak saat pergi ke sekolah, dan sekarang kamu membonceng harapan para penderita thalasemia yang ada di seluruh Indonesia, bahkan dunia,” kataku dalam sebuah videochat via Skype pada tanggal 15 November. Saat itu Ia sedang bersantai di sebuah motel di Astana, ibukota Kazakhstan. Aku dan Ibu takjub melihat sosoknya terpampang di monitor komputer.

“Ah, Kakak bisa saja!” Ia tertawa. “Kakak dan Ibu sudah lihat foto-foto terbaruku, kan? Semuanya benar-benar luar biasa!”

“Iya, Ibu sudah lihat. Jaga selalu kesehatanmu! Ibu selalu mendoakanmu di sini.”

“Iya, Bu, aku selalu mengingat kata-kata Ibu. Doakan aku agar aku bisa cepat menyelesaikan misi ini. Sebentar lagi aku akan sampai di Rusia. Mungkin untuk beberapa lama aku tak akan bisa menghubungi Ibu dan Kakak. Aku akan melanjutkan perjalanan menuju danau Ural dengan melewati pangkalan roket luar angkasa Baikonur di selatan Kazakhstan. Katanya sinyal internet di sana sangat jelek.”

“Ibu dan Kakakmu mengerti. Tapi kalau memungkinkan, usahakan untuk tetap menghubungi kami.” Naluri Ibu tengah bersuara. Kami berjarak puluhan ribu kilometer jauhnya, tapi tak ada batasan geografi jika batin seorang ibu telah bicara.

“Iya, Bu, aku akan usahakan. Aku sayang Ibu.”

Arya melanjutkan perjalanan sucinya dengan menembus segala rintangan iklim dan cuaca. Aku selalu menunggu kabar darinya. Bagaimana mungkin kami terpisah selama 2 minggu lamanya. Setelah dari danau Ural, ia akan lanjut ke arah timur laut menuju Rusia, tapi aku belum mendapat satu kabarpun darinya. Ini aneh.

Sebulan telah berlalu. November telah berganti Desember. Musim gugur telah berganti menjadi musim dingin. Tak ada yang berubah kecuali resah yang terus membuncah. Kami sangat mengkhawatirkannya. Pihak sponsor yang turut serta memberangkatkannya berusaha mencari keberadaannya. Kemanakah ia kayuh sepedanya? Apa yang telah terjadi padanya? Sinyal GPS tak memberikan tanda. Jangan katakan kalau adik kecilku telah hilang. Terkadang ia memang bisa menjadi orang yang sangat menyebalkan. Terkadang ia terlalu asyik dengan dunianya sendiri hingga melupakan peradaban. Aku yakin ia akan segera menghubungi kami. Ini hanya soal waktu.

* * * *

Aku perlihatkan senyum untuk menyamarkan bentuk tulang wajahku yang tak biasa. Aku memandang lensa kamera. Latar belakang dinding ruang tamu yang bewarna putih terlihat kontras dengan kaos hitamku. Sekelibat kilatan lampu lensa menyilaukan mata. Arya langsung melihat hasil jepretan dari LCD kameranya.

“Tumben Kakak mau difoto. Emangnya buat apa, sih?” Ia ulangi lagi pertanyaan yang tadi belum sempat kujawab.

Aku tersenyum.

“Ini cuma buat jaga-jaga aja.”

“Jaga-jaga buat apa?”

“Jaga-jaga kalau sewaktu-waktu kamu butuh foto untuk kolom obituari…”

* * * *

Aku masih dirawat di rumah sakit dan Ibu masih menemaniku di sini. Cairan infus sudah menjadi teman sejati, senyum dokter sudah menjadi hal basi. Aku hanya tinggal menunggu terbitnya kolom obituari.

Sebentar lagi seseorang akan datang kemari. Katanya, ia akan menyerahkan sesuatu yang mungkin selama ini kami cari. Apakah itu? Aku tak mau terlalu berekspektasi. Bagiku ini hanya bagian dari mimpi. Aku tak mau berandai-andai lagi. Biarkan saja semua berjalan sesuai kendali.

Orang itu telah tiba. Ia adalah salah seorang staf kementerian luar negeri yang ditugaskan secara khusus untuk menemui kami. Kami sudah siap dengan segala kemungkinan yang terjadi. Apapun yang dikatakannya takkan kami ingkari. Kami sudah lama menantikan ini.

“Kami datang untuk menyerahkan ini,” kata seorang pria berbatik seraya memberikan sebuah kotak berukuran 50 kali 30 sentimeter. Aku yang masih duduk terbaring segera membuka kotak itu. Ada topi, jurnal ekspedisi, dan sebuah kamera yang beberapa bagiannya sudah tak lengkap lagi. “Semua ini punya Arya. Kami menemukannya di perbatasan Kazakhstan-Rusia beberapa waktu lalu.”

Batinku berontak, dan aku yakin kalau batin Ibu lebih berontak lagi. Aku coba lunakan emosi. Kuambil kamera yang sudah menemani adikku selama 2 tahun belakangan ini. Sulit dipercaya, ternyata kameranya masih berfungsi. Kucoba periksa beberapa folder yang tersimpan di memori kamera itu. Dari layar LCD 3 inchinya, aku dan Ibu memperhatikan setiap gambar yang berhasil terabadikan olehnya.

Foto-foto perjalanannya berhasil terabadikan dengan sempurna. Fotonya saat bersantai di dekat danau Ural, fotonya saat di area pangkalan roket luar angkasa Baikonur, dan masih banyak foto menakjubkan lainnya. Dan aku dibuat berhenti bernapas ketika melihat foto terakhirnya. Ia berpose di salah satu area di pegunungan Ural bersama sebuah spanduk bertuliskan “Love for Thalassemia”. Tapi bukan itu yang membuatku berhenti bernapas untuk sementara. Ia memakai kaos putih yang bertuliskan namaku di dadanya. A R K A, kelima huruf yang membentuk namaku itu ditulis dalam warna merah menyala. Aku tersenyum dibuatnya.

Aku tak tahu dimana kini kau berada, tapi aku yakin kau baik-baik saja. Tertulis jarak 35.603 kilometer dalam jurnal ekspedisimu. Kau sudah mengayuh sepeda terlalu jauh, adikku. Kami sungguh bangga padamu. Perjalananmu telah terabadikan dalam surga 35 milimetermu. Terima kasih atas segala perjuanganmu. Lekaslah pulang! Kami di sini menunggu ceritamu…

Pulanglah! Secepatnya…

* * * *

Sumber gambar: Google

Cerpen ini pernah dimuat di Annida Online edisi Desember 2013

Klik gambar

Klik gambar ini 🙂

image

“Namaku Agra. Higienis dan steril adalah dua kata yang sakral bagiku. Kotor adalah bencana dan jorok adalah malapetaka. Aku tak akan membiarkan benda asing menempeli tubuhku. Kebersihan badanku menempati kualitas tertinggi dalam kasta manusia.”

Itulah argumen mengenai hidup higien yang selalu kuagungkan selama ini. Higienis adalah segalanya bagiku. Virus, bakteri dan protozoa adalah musuh abadiku. Meski tubuh manusia dihuni oleh 10 ribu spesies mikroba, tapi aku tak mau diperbudak oleh mereka. Manusia adalah makhluk multiseluler paling sempurna. Tak ada alasan untuk disamakan dengan mikroorganisme sederhana macam mereka. Meski Charles Darwin bilang merekalah nenek moyang pertama spesies kita, tapi aku menolaknya. Teori evolusi terlalu ekstrim untuk ditelaah. Dan aku tak mau membuatnya jadi masalah.

Ada beberapa faktor krusial yang membuatku ekstra protektif terhadap higienitas seperti sekarang. Mungkin trauma masa kecilku jadi salah satu penyebab utamanya. Sewaktu aku duduk di kelas 5 SD, aku pernah terinfeksi virus H5N1 alias flu burung. Ya, aku pernah terinfeksi virus mematikan itu. Hampir selama sebulan aku diisolasi dari peradaban. Mengakrabi infus dan mimpi buruk akan kematian. Rasanya aku bisa gila kalau mengingat semua itu. Untunglah aku masih bisa disembuhkan.

Ibarat teori sebab-akibat, pengalaman itu telah mengubah pola pikirku akan definisi kata bersih dan sehat. Aku diberi pelajaran berharga bahwa kesehatan itu tak bisa dihitung oleh nilai eksakta. Sehat itu anugerah. Dan aku berjanji akan menjaganya meski harus dengan cara yang sedikit luar biasa. Mungkin ini terlalu berlebihan tapi itulah yang kini kulakukan.

Aku selalu cuci tangan setiap mau beraktifitas dengan membawa jel antiseptik kemana-mana. Mandi teratur, menjauhi tempat lembab dan kotor, meminimalisir aktifitas di luar ruangan, tidak makan sembarangan serta tidak minum dalam gelas yang sama untuk menghindari kontaminasi bakteri dan amoeba. Itulah hal-hal gila yang rutin kulakukan selama ini. Meski semua itu membuatku terkucilkan dari pergaulan, tapi aku tak peduli. Tak ada toleransi untuk patogen. Semua temanku tahu aku. Aku memang berteman dengan manusia, tapi maaf saja, aku tidak berteman dengan segala bentuk parasitisme dan penyakit.

“Agra tuh cuma mau bergaul dengan makhluk steril aja. Jangan harap dia mau main kotor-kotoran kayak kita!” begitulah canda teman-temanku. Aku tak pernah ikut mereka hangout di luar atau bermain bola. Saat pelajaran olahraga pun aku minta konpensasi agar tak ikut panas-panasan di lapangan atau di kolam renang. Untungnya guruku dapat memakluminya sehingga aku bisa terbebas dari kuman yang berkeliaran.

Aku melenceng dari pergaulan remaja, itu sudah pasti. Tapi suatu hari, aku dipaksa untuk kembali lebur dalam realita saat teman-temanku mengajakku berlibur di taman air kota.

“Lo udah gila ya? Lo ngajak gue berenang di taman air kota?” seruku begitu Beni datang dengan ajakannya.

“Ayolah Gra! Semua teman sekelas ikut, masa lo nggak?”

“Lo tau sendiri kalo di kolam renang itu ada triliunan bakteri dan amoeba. Maaf saja, tapi gue gak mau berenang bareng mereka.”

“Lo itu lebay banget deh, Gra! Lo tau gak, Tista juga ikut tau!”

“Tista?” Pemikiranku tergoda. Beni tahu kalau aku sangat suka Tista sejak kami masih duduk di bangku SMP. Dan di kelas 2 SMA ini kebetulan kami sekelas. “Ayo, Gra! Kapan lagi lo liat Tista pake baju renang? Kalo lo gak ikut, lo bakalan nyesel seumur hidup!”

Baiklah aku ikut. Kehadiran Tista telah mengubah pikiranku. Ia seperti magnet bagiku. Ia memakai baju renang seperti yang Beni bilang. Baju renang one piece warna hitam menempeli tubuh mulusnya. Sungguh cantik dan seksi. Sempurna! Di tengah kerumunan orang yang berenang, dia tampak seperti mutiara yang sulit tersamarkan. Tak menyesal aku datang. Dia memang pantas untuk ku pandang.

Ini pertama kalinya aku ke kolam renang setelah hampir 7 tahun kering kerontang dari dunia basah-basahan. Aku cuma duduk-duduk di pinggir kolam. Tak ada niat untuk berenang. Sebagai makhluk bertulang belakang yang hidup di daratan, tak ada keharusan bagiku untuk mencicipi kehidupan perairan. Teman-temanku boleh saja menjadi amfibi sesekali, tapi aku mamalia darat murni. Air hanya kugunakan sebagai media pembersih, bukan malah untuk memperkotor diri.

Beni dan beberapa temanku tiba-tiba keluar dari kolam. Mereka mengajakku berenang tapi aku tak mau. Sudah kubilang aku bukan ikan atau amfibi! Kenapa mereka tidak mengerti? Ternyata ajakan mereka bukan isapan jempol belaka. Tiba-tiba, mereka mengangkat tubuhku. Aku kaget. Secara brutal, tubuhku diceburkan ke kolam. Aku basah. Tangan dan kaki meronta. Oh tidak, ternyata kolam ini lumayan dalam. Mungkin sekitar 3 meteran lebih. Aku tenggelam.

Dari bawah air kulihat refleksi kaki para pengunjung yang berenang di kolam bagai kerumunan kuman, bakteri dan amoeba yang hendak memangsa. Bersama triliunan jasad renik aku berontak. Napasku terengah-engah. Aku melayang. Kesadaranku hilang ditelan air kolam.

* * *

Aku terbangun. Kepala ini pusing luar biasa. Kudapati diriku terbaring di pinggir kolam. Teman-teman dan beberapa pengunjung mengeremuniku seperti plankton yang mengerumuni karang.

“Lo gak apa-apa kan, Gra?” tanya Beni cemas.

Aku masih meresapi napasku yang hampir putus. Untuk yang kedua kali, nyawaku nyaris hilang.

“Lo mau bunuh gue ya? Lo kan tau gue gak bisa berenang!” bentakku, marah.

“Maafin kita Gra, tadi kita cuma bercanda…”

“Bercanda? Gue hampir mati! Lo pikir itu lucu?” Teman-temanku terdiam. Mereka merasa bersalah.

“Maafin kita Gra! Kita ngaku salah. Tapi syukurlah lo gak apa-apa.”

“Kalian pikir nyawa gue segampang itu!”

“Udah deh Gra, lo jangan lebay! Yang penting lo selamat. Beruntung lo masih kita selamatin juga” Beni jadi emosi.

“Lo itu belagu banget sih! Emang lo anggap nyawa gue ini apaan hah! Kalian tuh anjing tau!”

“Setan lo! Salah sendiri kenapa gak pernah ikut pelajaran renang. Bego banget gue punya temen kayak lo! Sudah, gue mending pulang aja! Di sini udah gak asyik!”

Beni berlalu. Teman-temanku yang lain ikutan bubar meninggalkanku. Mereka semua pergi kecuali Tista. Entah kenapa ia belum beranjak. Ia malah duduk mendekatiku.

“Kamu gak apa-apa kan, Gra?” tanyanya lembut. “Seharusnya kamu maafin mereka. Aku tau mereka bersalah. Tapi mereka tuh cuma bercanda.”

“Mereka emang bercanda. Tapi bercandanya udah kelewatan.”
Tista terdiam. Ia menghela napas panjang. “Bukannya kamu takut bakteri dan amoeba. Dalam kehidupan ini ada banyak hal yang lebih menakutkan dari mereka dan yang kamu alami barusan itu cuma salah satunya aja!”

Aku mematung dalam kelimbungan. Ucapannya membuatku terasing dalam kehampaan.

“Sudah lebih baik kita cepet pulang, sepertinya sebentar lagi akan hujan. Bukankah kuman juga ada dalam air hujan?”

Seperti amoeba yang terjebak dalam lingkungan tak bersahabat, membran hatiku mengkista. Aku seperti organisme bersel satu yang hidup menyepi di tengah habitat alam. Tista telah membuatku menjadi protozoa nyata. Hujan pun membasahiku. Mungkin sebentar lagi aku akan mencair menjadi protoplasma.

* * *

image

Sudah hampir dua minggu sejak Lana memutuskannya, tapi Hildan masih belum bisa melupakannya. Ia masih belum percaya kalau hubungan yang sudah setahun lebih ini mereka rajut harus berakhir di tengah jalan.

“Dan, sebaiknya hubungan ini kita akhiri aja,” ucap gadis manis berambut sebahu itu yang langsung meremukan hati Hildan. Dua mangkuk mi ayam Abang Romli jadi saksi malam minggu terakhirnya yang kelabu.

“Maksud kamu apa, Na?” tanya Hildan kaget.

“Aku udah lelah. Hubungan ini emang gak bisa dilanjutin lagi. Kita udah saling gak cocok. Udah terlalu banyak konflik dalam hubungan kita, Dan!”

Hildan terdiam seribu bahasa. Mendengar ucapannya, hati Hildan seakan diiris pedang para ksatria.

Ya, begitulah cara Lana menghancurkan hatinya. Ia masih belum mengerti apa alasan di balik semua itu. Baginya, semua terasa begitu cepat sehingga ia belum sempat menerima keputusan sepihak Lana.

Secara logika, sungguh sulit baginya untuk melupakan Lana. Mereka sama-sama belajar di sekolah yang sama. Mereka pun masih sering bertemu di gedung aula sekolah saat latihan drama. Mereka berdua ikut berperan dalam drama musikal dongeng Puteri Salju untuk acara malam perpisahan sekolah. Puteri Salju? Sebenarnya Hildan kurang setuju dengan pementasan drama itu. Cerita drama itu kurang sesuai dengan anak SMA seusianya. Terlalu kekanak-kanakan, begitu katanya. Tapi tak apalah karena Pak Ardi, sang guru Bahasa Inggris yang didaulat menjadi sutradara drama, sudah berjanji akan membuat kisah klasik ini jadi lebih meremaja.

Bisa berpartisipasi dalam sebuah pementasan drama mungkin sepertinya menyenangkan. Tapi, Hildan merasa tersiksa. Ia tak mendapat peran utama. Ia jadi salah satu kurcaci, sedangkan Lana jadi Puteri Salju-nya. Dan tebak siapa yang berperan jadi pangerannya? Dia adalah Rafin, cowok belagu yang paling Hildan benci di planet ini. Dia playboy kampung yang suka gonta-ganti cewek. Dia sok ganteng, sok kaya dan lain sebagainya. Pokoknya Hildan gak suka banget sama dia.

Melihat akting lebaynya bikin Hildan gila. Lana dan Rafin semakin dekat saja. Sulit dibedakan mana yang akting mana yang tidak. Semua itu bikin Hildan makin tambah muak saja.

Gosip menyebar begitu cepat. Banyak orang yang bilang kalau mereka sudah jadian. Banyak pula teman Hildan yang mengiyakan kabar itu padanya. Telinga Hildan bagai disumpal bara. Jelas ia tak terima. Mereka baru putus dua minggu dan Lana sudah menemukan pengganti yang baru. Ini sungguh keji. Skenario macam apa ini?

Bertemu mereka setiap hari tak jarang membuat Hildan emosi. Untung Hildan selalu berhasil mengendalikannya sehingga bola panas tak jadi menggelinding membabi buta. Tapi suatu waktu, benteng pertahanannya runtuh juga. Ia tak bisa lagi menyembunyikan rasa sebalnya pada Rafin. Berawal dari protesnya pada Pak Ardi, ketegangan pun bermula.

“Pak, bukannya pangeran itu cuma ada pas adegan terakhirnya aja? Tapi, kenapa dari awal sudah masuk dalam cerita?”

Pak Ardi cuma mengernyitkan dahi, tapi Rafin sudah tahu arti sindiran dalam ucapan Hildan. Genderang perang sudah mulai dibunyikan. Dua ksatria sudah siap saling menyerang.

“Maksud lo apa, Dan?” sentak Rafin, nyolot.

“Nggak, gue cuma ingin pentas drama ini lebih efektif aja,” jawab Hildan enteng.

“Jadi maksud lo, peran gue gak efektif?”

“Ya, baguslah kalo lo ngerti.”

Pertengkaran tak bisa terelakan. Bahkan adu jotos pun tak bisa terbendung lagi. Panggung mendadak jadi arena tinju. Drama Puteri Salju berubah menjadi ajang bela diri dua jagoan belagu. Semua orang di tempat itu tentu tahu, bukan cerita Puteri Salju yang jadi penyebab perseteruan ini. Lana-lah satu-satunya alasan kenapa Hildan berani melemparkan tinju.

Perkelahian berlangsung sekejap. Setelah Pak Ardi dan teman-teman yang lain melerai, adu jotos pun terhenti.

Lana berjalan ke arah Hildan dan Rafin. Jangan tanya seberapa panas api amarah di hatinya. Perkelahian ini jelas tak bisa ditolerir. Magma seakan ingin keluar dari mulutnya.

“Kalian ini apa-apaan sih!” Pandangan nanar langsung ia tujukan ke arah Hildan. Bagai sebuah kutukan, sebuah kalimat sakti segera keluar dari bibir manisnya. “Aku kecewa banget sama kamu, Dan.” Ucapannya menusuk. Hildan hanya bisa membatu.

Kekisruhan ini jelas mengancam eksistensinya sebagai sebagai kurcaci. Beruntung, Pak Ardi masih memberikan toleransi. Mungkin karena waktu pementasan yang sudah sangat mepet sehingga sangat tidak dimungkinkan untuk mencari pemain yang baru.

Peran Hildan dalam drama masih bisa terselamatkan. Tapi, bagaimana dengan Lana? Apakah ia masih sudi memaafkannya? Tanggal 29 Mei nanti, drama itu akan dipentaskan. Tepat dengan hari ulang tahun Lana yang ke 18. Hanya segelintir orang yang tahu akan hari istimewanya itu. Salah satunya Hildan. Maka akan ia jadikan momen spesial itu sebagai saat yang tepat untuk menyampaikan permintaan maafnya.

Lalu, apa hadiah yang akan ia berikan pada Lana? Sebuah benda bulat berwarna merah langsung terlintas di kepala Hildan. Apel! Ya, apel. Buah yang dipercaya banyak orang sebagai jelmaan buah khuldi yang menyebabkan Adam dan Hawa terlempar dari surga. Buah bernutrisi yang terkadang disamakan dengan buah simalakama, si pembawa malapetaka. Lana sangat menyukai apel. Ia sangat suka dengan benda-benda yang berhubungan dengan apel. Seperti Puteri Salju yang tak kuasa tergoda oleh ranumnya apel nenek sihir, begitu pun dengan Lana. Ia tak pernah menolak berbagai hadiah yang berhiaskan buah apel. Tentu Hildan masih ingat bagaimana senangnya Lana saat ia berikan tas bermotif apel di ultahnya tahun lalu. Meski tas itu kini tak pernah dipakai lagi, tapi dengan mengingat raut wajah Lana di waktu itu sudah cukup memberikan secercah harapan baru baginya.

Sebuah bando cantik berhiaskan apel merah keemasan telah ia pilihkan untuk Lana. Meski ia tak yakin Lana akan memaafkannya, tapi paling tidak, Lana masih mau menerima hadiah pemberiannya.

Warna-warni kostum kurcaci membungkus tubuh Hildan. Ia menunggu Lana di belakang panggung dengan harap-harap cemas. Lana keluar dari ruang ganti. Tidak, dia bukan Lana. Dia Puteri Salju. Gaun cantik yang ia kenakan semakin membuatnya tambah jelita. Lebih dari puteri Disney, dia puteri fantasi yang selama ini Hildan cari. Dia berhasil mempesona banyak pasang mata. Dan dengan jantung yang berdegup kencang, Hildan pun mencoba mendekatinya.

“Na, aku punya sesuatu buat kamu,” ucap Hildan sambil mengeluarkan bando cantik itu.

“Selamat ulang tahun ya, Na! Anggap aja ini sebagai permintaan maafku.”

Lana menghela napas. Ia diam dalam sorot matanya yang masih nanar.

“Udah deh, Dan! Hubungan kita tuh udah berakhir! Kita gak bisa perbaiki semua ini. Maaf, aku gak bisa nerima hadiah dari kamu.”

Lana segera berlalu menuju panggung. Jiwa Hildan serasa dihempas badai salju. Bukan ucapan Lana yang membuat hatinya hancur tak bersisa. Sepasang anting perak berbentuk apel menempel di kedua telinganya. Baru kali ini ia lihat Lana memakai benda seperti itu. Siapa yang memberi anting-anting itu padanya?

Ia lihat pangeran gadungan tersenyum di belakangnya. Dengan sinis, Rafin menunjukan arogansinya. Segera hampalah batinnya. Hildan telah kalah. Mantera sihir telah meluluhkan semua asanya.

*Cerpen ini sempat dimuat di Tabloid KEREN BEKEN edisi 12
13-26 Juni 2012