Posts Tagged ‘Cerpen Annida’

surga 35

“Heaven is under our feet as well as over our heads.” ― Henry David Thoreau, Walden

Aku akan keliling dunia dan menemukan surga. Lihat saja.

Namaku Arka. Seorang pemuda yang selama 27 tahun hidupnya selalu dihantui thalasemia. Thalasemia? Ya, penyakit kelainan darah itu sudah mendarah daging dalam tubuhku. Tak ada kepastian sembuh bagiku. Hidupku bergantung pada tranfusi darah yang harus dilakukan setiap bulannya, aku juga harus mendapat suntikan desferal selama 10 jam setiap malam. Bukankah itu sungguh keterlaluan? Semua ini benar-benar melelahkan. Rasanya aku ingin mati saja. Seluruh biaya pengobatanku bergantung pada asuransi kesehatan yang didaftarkan oleh mendiang ayahku. Ya, ayahku juga begitu. Karena thalasemialah ia meninggal 10 tahun lalu. Tak pernah kusangka aku akan mewarisi apa yang telah membunuhnya itu. Penyakitku ini lebih parah darinya. Aku bisa mati kapan saja karena thalasemia akut yang menyerang setiap harinya. Beberapa bagian tubuhku membengkak karena komplikasi getah limpa. Aku sudah seperti boneka yang tak bernyawa. Thalasemia telah merenggut kehidupan masa mudaku secara nyata.

Itulah aku.

Aku adalah aku. Aku jelas berbeda dengan Arya, adikku. Ia adalah satu-satunya saudara kandungku, satu-satunya keluarga yang kupunya selain Ibu. Usianya setahun lebih muda dariku. Kami terlahir dari gen yang sama, tapi secara lahiriah, kami berbeda. Kami bagai bumi dan langit. Semacam paradoks yang berlainan satu sama lain. Arya adalah pemuda luar biasa. Tak ada kelainan pada fisiknya, ia terlahir sehat tanpa warisan penyakit dari Ayah. Arya adalah kebalikan dari diriku. Ia pemuda yang aktif dan selalu tertarik pada hal baru. Jiwa petualang dalam dirinya amatlah besar. Ia telah mendapatkan semua hal yang diinginkan setiap manusia belia. Memiliki banyak kawan, aktif dalam pergaulan dan mendapat pendidikan yang layak di salah satu universitas ternama.

Aku dan Arya memang berbeda. Selain persamaan struktur DNA, hanya ada satu hal yang membuat kami sama, yakni seni. Kami berdua sama-sama terobsesi dengan seni. Kurasa ini tidak ada hubungannya dengan faktor keturunan atau silsilah keluarga. Seni telah menyatukan kami. Aku seni lukis, dan ia fotografi. Hobinya dalam fotografi berbanding lurus dengan hasrat petualangnya yang tinggi. Ia senang berpetualang dengan kamera DSLR-nya. Ia selalu menenteng kamera itu kemana-mana. Dua tahun lalu, aku memberikan kamera itu. Aku membelinya dari hasil penjualan beberapa karya lukisanku. Kamera itu telah menjadi bagian dari dirinya, bahkan menjadi salah satu modal dari proyek ambisiusnya.

Semua ini bermula saat setahun lalu, saat ia pertama kali menceritakan proyek gilanya. Secara mengejutkan, ia ungkapkan keinginan untuk cuti sejenak dari kuliah ekonominya. Ada sebuah proyek besar yang tiba-tiba mengubah haluan hidupnya, sebuah proyek irasional yang mungkin akan membuat siapa saja terbelalak begitu mendengarnya.

“Aku akan keliling dunia untuk thalasemia!” begitu katanya, penuh semangat. Percakapan kami di ujung senja berubah menjadi kejutan absurd yang sulit dipercaya. “Kakak dan Ibu tak perlu khawatir. Ada banyak sponsor yang akan mendanai proyek ini. Aku akan melakukan perjalanan dengan sepeda. Aku akan keliling dunia!”

Itu adalah hal tergila yang pernah aku dengar. Adikku akan bersepeda sendiri keliling dunia demi proyek amal untuk para penderita thalasemia. Siapa yang sudah mencuci otak adikku ini? Kurasa ia terlalu banyak menonton tayangan Travel Channel. Dunia begitu luas. Roda sepeda tak akan mungkin mampu menaklukannya.

“Thalasemia dan surga, hanya itulah alasanku melakukan semua ini.”

“Surga?”‘

“Ya, surga. Ini adalah sebuah misi suci. Akan kubuat dunia mengerti apa itu thalasemia. Ini semua demi Kakak, mendiang ayah kita, dan seluruh penderita thalasemia yang ada di seluruh dunia.”

“Jangan bicara tentang surga. Bagimu, surga itu hanya sebesar 35 milimeter ukuran diameter lensa kamera. Janganlah kamu berbuat gila! Dunia tak seindah yang terpotret dalam lensa. Dunia tak seperti yang kamu kira.”

“Aku akan menunjukkannya, Kak! Aku akan melakukannya!”

Obsesi absurd Arya benar-benar terlaksana. Aku benar-benar tak percaya. Hari Kamis, tanggal 5 Mei, tepat di Hari Thalasemia Sedunia, ia memulai titik nol kilometernya dari Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta. Bersama iring-iringan sponsor dan ratusan penderita thalasemia, aku dan Ibu melepasnya. Ia berhasil menggaet beberapa sponsor untuk mendukung aksinya, diantaranya ada Yayasan Thalasemia Indonesia dan sebuah LSM internasional asal Amerika. Ia dibekali berbagai perlengkapan memadai untuk menunjang penjelajahannya. Ia melakukan semua ini bukan untuk memecahkan rekor dunia, tapi untuk membuktikan kalau kami ada: penderita thalasemia.

Seribu kilometer lebih telah ia tempuh selama 19 hari untuk sampai di Medan. Selat Malaka dilewati, negeri jiran disusuri hingga negeri Takshin Shinawatra pun dijejaki. Ia masuk Thailand lewat Pattani, kota rawan konflik yang untungnya sedang dalam kondisi aman terkendali. Di negeri gajah putih, ia mulai merasakan perbedaan budaya yang cukup signifikan. Ia bahkan sempat bertemu dengan seorang anak penderita thalasemia di Rumah Sakit Bumrungrad di Bangkok. Sebuah momen penuh haru pun sempat ia abadikan.

“Love for Nathon Nakshucay! Bocah manis yang berjuang dari keganasan thalasemia di Thailand. Usianya baru menginjak delapan, tapi semangatnya untuk bertahan hidup tak akan pernah bisa terpatahkan!”

Begitu bunyi keterangan foto yang ia unggah ke halaman Facebook dan Twitter-nya. Empati adalah sebuah bahasa universal yang bisa menembus semua batas budaya. Lebih dari separuh kasus thalasemia terjadi di Asia. Thailand hanya salah satu contohnya. Aksi Arya telah membuat kami membuka mata. Ternyata perjuangan ini bukan milik kami saja.

Thailand-Laos-Vietnam mampu dilewatinya dalam waktu 3 bulan. Waktu terasa begitu cepat berlalu sampai aku sadar ia sudah menembus China. Tak lupa ia selalu bagikan setiap momen berharga lewat email, blog, dan berbagai jejaring sosial miliknya. Ia tak pernah berhenti menyajikan foto-foto indah. Mulai dari fotonya di sungai Mekong, suasana perbatasan tiga negara di Golden Triangle, pose di gerbang Patuxai di kota Vientiane, sampai ikut tari caping di salah satu desa di Vietnam. Ia masuk China lewat kota Lang Son di Vietnam Utara. Dari China, ia akan memulai perjalanan mengikuti jalur sutera.

“Halo semuanya! Aku sudah berada di China. Thalasemia masih sangat asing di sini, tapi aku akan berusaha untuk tetap mengkampanyekannya,” ucap Arya dalam status Facebook-nya. Ia selalu berusaha untuk terhubung dengan kami sekeluarga, entah itu lewat email, sambungan telepon international ataupun lewat video chat. Ia cerita kalau ia sempat kehilangan sepedanya di salah satu desa di Ciang Rai, Thailand. Bahkan ia pun hampir kecopetan saat tersesat di di sebuah pasar di Laos Selatan.

China-Kazakhstan ditempuhnya selama dua bulan setengah dengan melewati terjalnya daratan dan pegunungan. Panas, hujan, bahkan badai, datang silih berganti. Siang dan malam hanya sekedar efek rotasi bumi. Dari dataran tinggi Yunan hingga Kwen Lun, dari Xinjiang hingga Alma Ata. Berbagai jenis orang telah ia temui. Dari etnis Han yang mendominasi, etnis Uyghur yang masih terdiskriminasi hingga etnis Kirgiz dan Kazakh yang sedang mencoba mencicipi modernisasi. Jantung Asia sudah dilewati. Kini benua biru sudah menanti.

Aku masih belum bisa percaya kalau adikku melakukan semua ini. Kami belajar sepeda 17 tahun lalu dan ia sudah mengayuh pedal sejauh itu.

“Kamu selalu membonceng Kakak saat pergi ke sekolah, dan sekarang kamu membonceng harapan para penderita thalasemia yang ada di seluruh Indonesia, bahkan dunia,” kataku dalam sebuah videochat via Skype pada tanggal 15 November. Saat itu Ia sedang bersantai di sebuah motel di Astana, ibukota Kazakhstan. Aku dan Ibu takjub melihat sosoknya terpampang di monitor komputer.

“Ah, Kakak bisa saja!” Ia tertawa. “Kakak dan Ibu sudah lihat foto-foto terbaruku, kan? Semuanya benar-benar luar biasa!”

“Iya, Ibu sudah lihat. Jaga selalu kesehatanmu! Ibu selalu mendoakanmu di sini.”

“Iya, Bu, aku selalu mengingat kata-kata Ibu. Doakan aku agar aku bisa cepat menyelesaikan misi ini. Sebentar lagi aku akan sampai di Rusia. Mungkin untuk beberapa lama aku tak akan bisa menghubungi Ibu dan Kakak. Aku akan melanjutkan perjalanan menuju danau Ural dengan melewati pangkalan roket luar angkasa Baikonur di selatan Kazakhstan. Katanya sinyal internet di sana sangat jelek.”

“Ibu dan Kakakmu mengerti. Tapi kalau memungkinkan, usahakan untuk tetap menghubungi kami.” Naluri Ibu tengah bersuara. Kami berjarak puluhan ribu kilometer jauhnya, tapi tak ada batasan geografi jika batin seorang ibu telah bicara.

“Iya, Bu, aku akan usahakan. Aku sayang Ibu.”

Arya melanjutkan perjalanan sucinya dengan menembus segala rintangan iklim dan cuaca. Aku selalu menunggu kabar darinya. Bagaimana mungkin kami terpisah selama 2 minggu lamanya. Setelah dari danau Ural, ia akan lanjut ke arah timur laut menuju Rusia, tapi aku belum mendapat satu kabarpun darinya. Ini aneh.

Sebulan telah berlalu. November telah berganti Desember. Musim gugur telah berganti menjadi musim dingin. Tak ada yang berubah kecuali resah yang terus membuncah. Kami sangat mengkhawatirkannya. Pihak sponsor yang turut serta memberangkatkannya berusaha mencari keberadaannya. Kemanakah ia kayuh sepedanya? Apa yang telah terjadi padanya? Sinyal GPS tak memberikan tanda. Jangan katakan kalau adik kecilku telah hilang. Terkadang ia memang bisa menjadi orang yang sangat menyebalkan. Terkadang ia terlalu asyik dengan dunianya sendiri hingga melupakan peradaban. Aku yakin ia akan segera menghubungi kami. Ini hanya soal waktu.

* * * *

Aku perlihatkan senyum untuk menyamarkan bentuk tulang wajahku yang tak biasa. Aku memandang lensa kamera. Latar belakang dinding ruang tamu yang bewarna putih terlihat kontras dengan kaos hitamku. Sekelibat kilatan lampu lensa menyilaukan mata. Arya langsung melihat hasil jepretan dari LCD kameranya.

“Tumben Kakak mau difoto. Emangnya buat apa, sih?” Ia ulangi lagi pertanyaan yang tadi belum sempat kujawab.

Aku tersenyum.

“Ini cuma buat jaga-jaga aja.”

“Jaga-jaga buat apa?”

“Jaga-jaga kalau sewaktu-waktu kamu butuh foto untuk kolom obituari…”

* * * *

Aku masih dirawat di rumah sakit dan Ibu masih menemaniku di sini. Cairan infus sudah menjadi teman sejati, senyum dokter sudah menjadi hal basi. Aku hanya tinggal menunggu terbitnya kolom obituari.

Sebentar lagi seseorang akan datang kemari. Katanya, ia akan menyerahkan sesuatu yang mungkin selama ini kami cari. Apakah itu? Aku tak mau terlalu berekspektasi. Bagiku ini hanya bagian dari mimpi. Aku tak mau berandai-andai lagi. Biarkan saja semua berjalan sesuai kendali.

Orang itu telah tiba. Ia adalah salah seorang staf kementerian luar negeri yang ditugaskan secara khusus untuk menemui kami. Kami sudah siap dengan segala kemungkinan yang terjadi. Apapun yang dikatakannya takkan kami ingkari. Kami sudah lama menantikan ini.

“Kami datang untuk menyerahkan ini,” kata seorang pria berbatik seraya memberikan sebuah kotak berukuran 50 kali 30 sentimeter. Aku yang masih duduk terbaring segera membuka kotak itu. Ada topi, jurnal ekspedisi, dan sebuah kamera yang beberapa bagiannya sudah tak lengkap lagi. “Semua ini punya Arya. Kami menemukannya di perbatasan Kazakhstan-Rusia beberapa waktu lalu.”

Batinku berontak, dan aku yakin kalau batin Ibu lebih berontak lagi. Aku coba lunakan emosi. Kuambil kamera yang sudah menemani adikku selama 2 tahun belakangan ini. Sulit dipercaya, ternyata kameranya masih berfungsi. Kucoba periksa beberapa folder yang tersimpan di memori kamera itu. Dari layar LCD 3 inchinya, aku dan Ibu memperhatikan setiap gambar yang berhasil terabadikan olehnya.

Foto-foto perjalanannya berhasil terabadikan dengan sempurna. Fotonya saat bersantai di dekat danau Ural, fotonya saat di area pangkalan roket luar angkasa Baikonur, dan masih banyak foto menakjubkan lainnya. Dan aku dibuat berhenti bernapas ketika melihat foto terakhirnya. Ia berpose di salah satu area di pegunungan Ural bersama sebuah spanduk bertuliskan “Love for Thalassemia”. Tapi bukan itu yang membuatku berhenti bernapas untuk sementara. Ia memakai kaos putih yang bertuliskan namaku di dadanya. A R K A, kelima huruf yang membentuk namaku itu ditulis dalam warna merah menyala. Aku tersenyum dibuatnya.

Aku tak tahu dimana kini kau berada, tapi aku yakin kau baik-baik saja. Tertulis jarak 35.603 kilometer dalam jurnal ekspedisimu. Kau sudah mengayuh sepeda terlalu jauh, adikku. Kami sungguh bangga padamu. Perjalananmu telah terabadikan dalam surga 35 milimetermu. Terima kasih atas segala perjuanganmu. Lekaslah pulang! Kami di sini menunggu ceritamu…

Pulanglah! Secepatnya…

* * * *

Sumber gambar: Google

Cerpen ini pernah dimuat di Annida Online edisi Desember 2013

Klik gambar

Klik gambar ini 🙂

Iklan
image

The world has changed. We're still alive, everyone! We're standing here for revolution.

Jakarta, 07.30 PM, 05 Mei 2028

Senayan bergelora. Merah putih berkibar dimana-mana. Gerbang utama stadion Gelora Bung Karno padat luar biasa. Tak ada pertandingan sepak bola. Timnas kebanggaan kita sudah lama pensiun berlaga. Sejak sepuluh tahun lalu, dunia sudah tidak mengenal lagi olahraga. Maka keramaian seperti sekarang ini adalah sesuatu yang langka.

Peringatan seratus dua puluh tahun hari kebangkitan nasional akan berlangsung malam ini. Sebuah perubahan besar akan berlangsung sebentar lagi.

“Masuklah sekarang, Dan!” seru Erik dari earphone mini yang tersembunyi dalam telingaku. Dari basecamp, ia memantau keberadaanku. Kubayangkan dirinya sedang duduk was-was di depan komputer bersama teman-teman lainnya.

“Aku masih belum yakin dengan ini, Rik,” kataku ragu.

“Kau ini bicara apa? Musa sudah ada di dalam stadion. Dia akan membantumu.”

“Ya, aku sudah di sini.” Suara Musa muncul tiba-tiba. “Semuanya akan baik-baik saja. Inilah saatnya, Dan.”

Aku buka tanganku. Sebuah kapsul menyerupai tabung reaksi seukuran 3 cm ada dalam genggamanku.

Musa kembali bersuara. “Lakukan saja seperti yang sudah kita rencanakan. Kamu akan aman. Tuhan bersama kita, Dan.”

Aku coba singkirkan segala keraguanku. Ucapan Musa seakan menetralisir hatiku. Mimpi buruk itu akan berakhir. Ya, aku harus meyakini itu.

“Bismillahirrahmanirrahim…”

Mulutku reflek bersuara. Sudah lama sekali aku tak melapalkan kalimat suci itu. Ini sungguh sulit dipercaya. Kuhela napas panjang. Kuluruskan pandanganku ke depan. Kakiku mulai melangkah perlahan menuju pintu gerbang. Inilah saat yang telah lama dinanti itu. Operasi benih suci telah dimulai. Di sini aku, Muhammad Aidan. Aku telah siap memulai perubahan.

* * * *

“Dunia sudah tak seperti yang kau bayangkan. Apa yang kau lihat sekarang adalah sebuah mimpi buruk panjang yang tak pernah kau harapkan.”

Begitulah ucapan terakhir Profesor Surya sebelum laboratoriumnya diserang kelompok pemberontak Neo Republik Semesta atau NRS. Ia meninggal dunia setelah mengabdikan diri untuk membuat perubahan. Sebuah benih beras unggul telah ia temukan. Sebuah benih yang sudah lama dinanti semua orang.

NRS hendak menghancurkan benih itu, tapi mereka tidak berhasil menemukannya karena benih itu sudah profesor titipkan padaku. Sebelum serangan itu terjadi, ia sudah mendapat firasat. Aku tak tahu kenapa ia menitipkannya padaku. Aku hanya seorang mahasiswa biasa yang sama dengan mahasiswa lain yang diajarnya. Aku tak tahu kenapa ia memilihku dan kini semua orang menuduhku. Mereka menganggap aku terlibat dalam serangan itu. Saat serangan itu terjadi, aku sedang berada di asrama dan aku sama sekali tak tahu menahu. Semua orang kini mengejarku. Pemerintah menjadikanku buronan nomor satu. Semua ini karena benih itu? Seberapa berhargakah benih itu? Kenapa semua orang ingin memiliki benda yang kini menjadi keramat itu?

Dunia sudah tak lagi sama. Masa sekarang adalah masa dimana dunia sudah berubah seutuhnya. Masa depan ternyata tak sesuai dengan harapan. Kemajuan ekonomi harus pupus setelah kegagalan panen raya 10 tahun lalu. Bumi ternyata telah menua begitu cepat. Perubahan iklim datang terlalu awal. Kelaparan menjadi bencana, bukan hanya di negeri ini tapi juga diseluruh belahan dunia. Kekeringan terjadi dimana-mana. Hanya sebagian kecil wilayah saja yang belum terkena imbasnya. Sawah-sawah mengering, ladang gandum dan jagung hanya menjadi tanah lapang. Semua orang tak tahu apa yang harus mereka makan. Produksi komoditas alam menurun tajam. Tak ada ada sayuran, buah-buahan atau daging-dagingan. Bahan makanan organik sudah lama menghilang. Semua orang kini bergantung pada bahan makanan sintesis yang beredar luas di pasaran.

Masa sekarang adalah masa dimana harga obat terlarang lebih murah daripada harga beras kualitas rendahan. Kini harga 1 ons beras sama dengan 2 kilogram bubuk zat terlarang. Halal dan haram sudah sulit dibedakan. Kepentingan perut bisa mereduksi keimanan seseorang. Tak ada yang melarang. Pemerintah tidak bisa berbuat apa-apa. Tak ada yang bisa menawarkan solusi pasti. Semua menjadi suatu yang lumrah dan biasa sekali. Sebuah zat baru telah ditemukan. Xerotamin adalah zat sintetis turunan ampetamin yang dapat dengan mudah dibeli di pasaran. Hanya dengan mengkonsumsi beberapa gram, seseorang bisa menahan lapar hingga sepekan. Sungguh menakjubkan. Tapi kau harus merelakan tubuhmu menjadi kurus kerontang, energi yang kau hasilkan dikuras dari organ-organ dalam dan kau akan kehilangan nyawamu enam bulan kemudian.

Tak ada pilihan lain. Kesehatan sudah bukan menjadi beban. Jalanan sudah bagaikan kompleks pemakaman. Bangkai manusia bisa dengan mudah kau temukan. Ya, inilah realitas yang tak pernah kau harapkan. Semua orang hanya berusaha memperpanjang kehidupan. Maka ketika benih unggul itu ditemukan, semua orang bersuka cita. Benih itu berhasil tercipta setelah penelian panjang yang dilakukan Profesor Surya dan beberapa mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor yang dibimbingnya, termasuk aku. Dengan bantuan dari Badan Tenaga Nukllir Nasional, kami melakukan rekayasa pangan untuk menghasilkan jenis beras unggulan yang mampu bertahan di iklim sekarang. Penelitian kami membuahkan hasil, sebuah benih beras baru telah kami temukan. Benih beras unggul itu kami namai Firdaus17 atau disingkat FS17, sebagai bentuk harapan kami akan taman Firdaus, salah satu surga terindah sekaligus lambang kesuburan yang telah dijanjikan Tuhan. Angka 17 dipakai karena benih itu tercipta setelah kami melakukan percobaan ke 17. Benih itu adalah benih istimewa. Benih itu mampu bertahan terhadap segala bentuk perubahan iklim dan cuaca, hanya memerlukan suplai air sedikit, tahan terhadap segala macam hama serta mampu menghasilkan panen berlimpah hampir 10 kali lipat dalam waktu 30 hari saja. Sungguh luar biasa. Ini adalah sebuah keajaiban ilmu pengetahuan yang tak mungkin bisa ditampik oleh siapapun juga.

Tapi tak semua orang senang dengan temuan ini. Ada beberapa pihak yang mencoba menghancurkan temuan berharga itu. Salah satunya kelompok Neo Revolusi Semesta atau NRS. Mereka adalah kelompok kartel narkoba pemasok xerotamin yang sudah dianggap sebagai musuh negara. Mereka sudah pernah beberapa kali mencoba melakukan kudeta. Merekalah dalang utama penyerangan yang menewaskan Profesor Surya. Mereka menginginkan benih itu dan kini mereka ikut mencariku.

Aku harus melakukan pelarian panjang. Dalam pelarianku, aku merasa sangat tersiksa. Aku bersembunyi dan berpindah dari kota satu ke kota lainnya. Aku sendirian. Tanpa kawan ataupun keluarga. Ini sungguh tidak adil. Mereka menyalahkanku dan aku merasa putus asa. Di tengah keputusasaanku itulah aku bertemu Musa. Dia menolongku saat aku dikejar polisi di salah satu kota kecil di utara pulau Jawa. Dan ia langsung mengajakku untuk tinggal di kediamannya yang berupa sebuah basecamp konsenterasi sebuah organisasi rahasia. Musa adalah seorang hacker hebat. Ia adalah anggota Heksagon, sebuah organisasi peretas yang berjuang secara gerilya melawan ketidakadilan lewat dunia maya. Heksagon adalah organisasi yang unik. Tak ada pemimpin dalam organisasi ini. Semua bergabung secara sukarela dengan masing-masing memegang kode etik rahasia. Anggotanya menyebar dari seluruh penjuru nusantara.

Kuputuskan untuk tinggal sementara bersama Musa dan kawan-kawannya. Musa adalah orang paling idealis yang pernah ada. Setelah kematian Profesor Surya, tak pernah kulihat orang seperti ini lagi di dunia. Ia adalah orang paling relijius yang pernah kukenal. Aku sungguh takjub begitu melihat ia masih bersembahyang. Ia masih setia dengan keislamannya. Di zaman sekarang, orang-orang sudah melupakan Tuhan. Agama sudah tak lagi dijadikan pedoman. Para ulama sudah menghilang. Masjid dan rumah ibadah lengang. Sebagian malah sudah berubah fungsi menjadi tempat singgah tunawisma dan anak jalanan.

Musa itu orang yang sangat langka. Tak seperti kami, ia menolak untuk mengkonsumsi xerotamin sebagai penunda lapar. Ia lebih memilih berpuasa dan berbuka hanya dengan sepotong roti kadaluarsa. Di sela-sela kesibukan dengan komputernya, ia masih sempatkan diri untuk membaca kitab suci yang bahkan aku sendiri sudah lupa namanya.

“Al-Quran. Itulah nama kitab suci ini. Kau sudah lupa, ya?” ucap Musa sambil meletakkan kitab suci itu di atas layar komputernya.

“Apa kau masih percaya Tuhan?” tanyaku konyol.

Ia tersenyum. Ia langsung menghadap ke arahku. Aku pikir dia akan marah dengan pertanyaanku itu, tapi ternyata tidak.

“Kau sudah tahu jawabannya, bukan?” jawabnya malah balik bertanya.

“Tapi kenapa?”

Musa kembali tersenyum. Ia ambil remote dan mematikan televisi. “Di zaman sekarang, dunia sudah tak bisa lagi kau harapkan. Segala bentuk materialisme dan kebendaan pada akhirnya hanya akan membuatmu kecewa. Kau tak akan pernah terpuaskan. Maka itulah kita membutuhkan iman. Tanpa iman, kita bisa gila karena terus bergelut dalam ketidakpuasan.”

Tanpa iman, kita bisa gila? Aha, sindiran sarkatis macam apa itu? Batinku seakan tertohok. Ya, sebentar lagi mungkin aku akan ikut gila.

Ia meneruskan perkataannya. “Manusia butuh lebih dari sekedar logika. Akan selalu ada ruang kosong di dada yang membuatmu ingin selalu bertanya. Manusia selalu butuh sesuatu yang sempurna. Apa kau punya segala kesempurnaan itu? Tentu saja tidak. Karena itulah aku percaya. Aku membutuhkan-Nya. Kita membutuhkan-Nya.”

“Lalu, apa yang sedang terjadi pada dunia sekarang? Apa Tuhan sedang marah? Apa Dia sedang menghukum kita.”

“Entahlah, tapi setahuku Tuhan itu Maha Pengasih. Apa yang terjadi sekarang adalah akibat dari apa yang telah kita lakukan. Bumi tidak akan sakit sekronis ini kalau kita memperlakukannya dengan hati, bukan dengan keserakahan dan arogansi. Jangan buru-buru menyalahkan Tuhan kalau Dia sedang menghukum kita. Kitalah yang salah. Kita sedang dihukum oleh perbuatan yang telah kita lakukan sendiri.”

Aku tak bisa berargumentasi lagi. Pikiranku mulai terkontaminasi. Ya, itulah Musa. Apa yang terucap dari mulutnya selalu tak mudah untuk dicerna. Pemikirannya bisa membuatmu buta logika dan pada akhirnya kau hanya bisa terdiam tanpa kata.

* * * *

“Salam sejahtera untuk seluruh rakyat Indonesia di seluruh penjuru nusantara. Kalian tentu sudah mengenal saya. Saya Muhammad Aidan. Benih Firdaus17 masih berada di tangan saya. Saya ingin kembali menegaskan kepada saudara sebangsa dan setanah air semua. Saya ini tidak bersalah! NRS-lah pelaku sebenarnya! Profesor Surya sudah menyerahkan benih ini pada saya tiga hari sebelum ia tewas. Saya hanya melakukan tugas saya tanpa maksud apa-apa. Jika saudara-saudara tetap menyalahkan saya, maka itu hanya omong kosong belaka. Sekali lagi, saya tidak bersalah! Kebenaran akan datang dan saya akan membuktikannya. Secepatnya!”

Begitulah bunyi dan visualisasi rekaman video yang sengaja kami sebarkan setelah kami berhasil meretas salah satu stasiun televisi swasta. Video itu tersebar dimana-mana. Kami harap semua orang melihatnya. Kami sengaja merekam video itu sebagai bentuk penegasan. Video itu adalah bagian dari sebuah rencana besar yang kami sebut sebagai operasi benih suci. Ya, operasi benih suci. Seluruh anggota Heksagon di seluruh penjuru negeri akan ikut berpartisipasi. Sejarah akan mencatatnya sebagai sebuah reformasi kemanusiaan yang paling terorganisir rapi. Perubahan besar akan segera terjadi. Jiwa kami telah kami pertaruhkan di sini. Revolusi itu akan terjadi sebentar lagi.

Revolusi? Kapsul mini berisi benih keramat itu seakan tersenyum sinis ketika batinku berteriak menyalakan revolusi. Teringat kembali aku akan perkataan Profesor Surya sebelum ia memberikan benda ini.

“Bapak menyerahkan ini padamu bukan karena kamu istimewa, tapi karena bapak percaya. Benih ini tak akan aman bila terus disimpan di lab. Untuk itu bapak mempercayakannya padamu.”

Profesor Surya sudah berencana akan menyerahkan benih ini pada presiden dalam sebuah pertemuan resmi. Dan tugasku hanya memastikan benih ini tetap aman sampai pertemuan itu tiba. Itulah yang seharusnya terjadi. Tapi semua itu tak pernah terpenuhi.

* * * *

Jakarta, 08.00 PM, 05 Mei 2028

Hingar bingar menyelimuti seluruh stadion Gelora Bung Karno.Banyak yang telah berubah dari Stadion berusia 68 tahun ini. Renovasi besar yang telah dilakukan 15 tahun silam telah merubah bentuk stadion ini secara keseluruhan. Saat itu ekonomi bangsa sedang mencapai titik kemajuan yang menggembirakan. Pembangunan infrastruktur pun dilakukan secara besar-besaran. Dengan kapasitas penonton mencapai 150 ribu orang, kemegahan stadion ini sudah tidak perlu diragukan. Empat layar LCD 100 inchi dipasang di empat sudut stadion. Tak ada lagi papan skor yang biasa dipakai saat pertandingan sepak bola. Yang ada cuma berbagai suguhan multimedia. Banner-banner slogan nasionalisme bergerak dinamis di depan barisan tempat duduk penonton. Pencahayaan tertata sangat rapi. Semua yang ada disini telah dikomputerisasi secara canggih dengan teknologi tinggi.

Tidak semua orang bisa hadir di sini. Hampir lebih dari 145 kursi dibagikan secara acak kepada pendaftar lewat sistem online, dan semuanya gratis. Dengan identitas palsu, aku mendaftarkan diri. Beruntung aku bisa duduk di tempat yang strategis. Aku hanya berjarak belasan meter dari kursi presiden. Ini memang bukan sepenuhnya keberuntunganku. Teman-temanku telah membantuku sedemikian rupa agar aku bisa berada di sini.

Aku harus berterima kasih pada teman-temanku, penyamaranku begitu sempurna. Make up telah merubah penampilanku menjadi jauh lebih tua. Mereka juga berhasil membuat lensa kontak untuk merekayasa kornea mataku sehingga aku bisa melenggang masuk dengan aman tanpa curiga saat diperiksa para penjaga. Dan satu lagi, dimana aku menyembunyikan benih itu? Jawabannya adalah di mulutku. Ya, tepatnya di atas bagian dalam mulutku. Kami telah memodifikasi kemasan kapsul itu hingga bisa menempel secara tersembunyi dalam mulutku. Aku lalu mengeluarkan kapsul itu dan memasukannya ke dalam kantong celanaku.

Jam digital di ujung stadion sudah menunjukkan pukul 19:59. Acara peringatan Kebangkitan Nasional akan dimulai beberapa detik lagi.

Protokol berkoar. Pagelaran seni telah dimulai sebagai acara pembuka. Lima menit pertama, penonton disuguhi pertunjukan tarian kontemporer yang dilakukan ratusan anak remaja. Setelah itu protokol kembali bersuara.

“Sebagai pembuka acara akbar ini, mari kita persilakan Bapak Presiden Republik Indonesia untuk memberikan sambutannya.”

Keriuhan penonton terhenti seketika. Layar LCD stadion mulai menampilkan sosok bapak presiden. Aku sendiri bisa dengan jelas melihat sosoknya dari sebelah kanan tempat dudukku. Dialah presiden yang sudah memimpin negeri ini selama dua periode. Dialah pemimpin yang kami percayai itu.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sejahtera untuk seluruh rakyat Indonesia. Malam ini adalah malam yang istimewa. Seratus dua puluh tahun lalu, para perintis kemerdekaan bangsa telah menorehkan hari istimewa dalam sejarah bangsa.”

Earphone mini di telingaku berbunyi. Erik bersuara. “Kau sudah siap, Dan?”

“Ya,” jawabku mantap.

Maka seluruh stadion langsung gelap seketika. Pidato presiden terhenti. Semua orang riuh kebingungan. Kami telah memulai revolusi. Dan tiba-tiba, sosokku muncul di layar LCD raksasa.

“Selamat malam saudara-saudaku. Mungkin kalian kaget melihat saya di sini. Saya sudah berada disini. Saya telah datang memulai revolusi. Benih suci telah saya bawa. Dan sebentar lagi saya akan menyerahkannya kepada Bapak Presiden Republik Indonesia. Saya akan buktikan kalau saya tidak bersalah!”

Video itu kami rekam beberapa waktu lalu. Teman-temanku telah berhasil meretas sistem operasional stadion. Penonton mendadak semakin riuh. Mereka menoleh kanan-kiri dan belakang untuk mencari keberadaanku.

“Ini saatnya, Dan!” seru Erik. Ya, inilah saatnya aku bergerak menuju kursi VIP tempat duduk presiden. Dengan menunjukkan kapsul yang ada di tanganku, aku akan dengan mudah menembus pasukan pengaman presiden. Tapi tiba-tiba sebuah tembakan berbunyi di salah satu kerumunan penonton. Penonton panik. Dan tayangan layar LCD stadion berubah seketika. Sosok pemimpin NRS muncul dalam sebuah rekaman video. Oh tidak, NRS telah mengambil alih sistem operasional stadion dan mereka mengancam akan adanya serangan bom. Gelora Bung Karno pecah. Penonton rusuh berebut jalan menuju pintu utama. Aku tidak bisa menghubungi teman-teman dari earphone-ku, tapi aku bisa melihat seseorang muncul datang memegang tanganku.

“Musa?”

“Sudah kubilang aku akan membantumu. Ayo kita temui presiden sekarang.”

Tapi tiba-tiba ia langsung mendorong tubuhku hingga aku terjatuh. Sebuah tembakan melesat dan ia segera menarik pelatuk pistol untuk membalasnya. Penyamaranku sudah terbongkar. Salah seorang anggota NRS tertembak, tapi Musa lebih dulu terkena tembakannya. Darah mengucur dari dadanya.

“Musa!!!” Aku berusaha meraih tubuhnya.

“Jangan pikirkan aku. Cepat serahkan benih itu!”

“Tapi kau terluka.”

“Aku tidak apa-apa. Cepat bergegaslah! Kau harus melakukannya!!”

Dengan berat hati, aku meninggalkannya. Pikiranku bergerak tak menentu. Aku menembus keriuhan penonton mencoba mengejar rombongan presiden yang sudah keluar lewat pintu khusus. Aku sadari beberapa orang anggota NRS masih mengejarku. Pintu utama sudah bagaikan sarang semut. Aku harus berjibaku sekuat tenaga agar bisa keluar.

Rombongan presiden sudah terlihat. Sungguh mustahil aku bisa menembus barikade paspampres itu. Mereka bisa langsung menembakku. Tapi aku adalah Muhammad Aidan. Mereka sedang mencariku. Benih itu ada padaku. Maka ketika aku melucuti sisa penyamaranku dan menunjukkan kapsul itu, mereka tak bisa apa-apa. Mereka langsung mengizinkanku masuk mobil RI1.

“Kau?”

“Ya, saya Muhammad Aidan dan saya ingin menyerahkan benih ini untuk bapak.” Kutunjukkan padanya kapsul yang menyimpan benih ajaib itu. “Profesor sudah mengamanatkan benih ini kepada saya. Dan saya ingin bapak menerimanya.”

Ia raih kapsul itu. Ia takjub tak percaya dan memperhatikannya dengan seksama.

Dan tiba-tiba sebuah ledakan dahsyat dari arah belakang menggelegar luar biasa. Mobil yang kami tumpangi terdorong kuat terkena efek ledakan. Beruntung mobil kami sudah melaju kencang dari gerbang utama. Di belakang kami, sebuah peristiwa bersejarah telah tercipta. Gelora Bung Karno luluh lantak. NRS benar-benar melakukan ancamannya. Sebuah serangan bom mahadahsyat telah kami saksikan bersama.

Indonesia, 25 Agustus 2028

Semua mata tertuju pada sebuah tayangan televisi yang sedang disiarkan secara langsung di seantero nusantara. Sepanjang mata memandang, hanya ada hamparan padi yang menguning membawa kabar bahagia. Sang Presiden akan berpidato menyampaikan sambutan untuk panen raya pertama.

“Salam sejahtera untuk seluruh rakyat Indonesia di seluruh nusantara. Masa-masa terpuruk dalam sejarah bangsa telah kita lewati bersama. Kita masih berduka. Ratusan ribu nyawa telah menjadi korban serangan teroris yang akan terus dikutuk masyarakat dunia. Kami berjanji akan menumpas habis gerakan NRS hingga tak bersisa.

Bangsa kita telah tumbuh dewasa. Sehabis gelap pasti akan selalu ada cahaya. Dan inilah saat-saat yang telah kita nantikan bersama. Panen raya ini adalah milik kita semua. Masa depan baru telah siap kita jejaki bersama.”

Seluruh rakyat bersorak. Begitu pun dengan aku, Erik dan beberapa temanku yang menonton di depan layar kaca. Sungguh sulit dipercaya, masa itu telah tiba. Kami telah kehilangan orang-orang tercinta. Begitu banyak pengorbanan yang telah kami lakukan bersama. Terima kasih Musa, tanpamu masa ini tak mungkin akan pernah tercipta. Terima kasih Profesor Surya, atas penemuanmu perubahan itu tak akan pernah terlaksana. Dan terima kasih Tuhan, tanpa-Mu kami semua tak akan pernah ada.

Perubahan itu telah terjadi di depan mata. Kami di sini telah menjadi saksi sebuah revolusi nyata yang akan dicatat sebagai salah satu sejarah dunia.

Selesai.

Cerpen ini pernah dimuat di website Annida-Online edisi Mei 2013
Klik: http://www.annida-online.com/artikel-7329-revolution-of-the-holy-seed.html

Sumber gambar: Google

image

No one knows. No one cares. I was here, to forgotten.

“Anda terhubung dengan layanan kotak suara 6803455. Silakan rekam pesan anda setelah bunyi berikut…”

Tiit…

“Bu, ini aku Aksan! Kumohon jawab teleponku, Bu! Aku Aksan, anakmu!”

Tut… tuuut….

Ini adalah panggilan keempat-puluh yang kutujukan hari ini untuk Ibu. Ibu hanya sedang tidak sempat menjawab teleponku. Aku tahu itu. Memori dan kenangan tak akan bisa mengalahkan ikatan batin yang telah tersimpul. DNA kami adalah bukti mutlak. Semua ini hanya soal waktu dan aku percaya itu.

* * * *

Sinar mentari sudah mengintip dari balik jendela. Bumi telah berotasi sebagaimana mestinya. Ah, aku benci ini. Ingin kutarik kembali selimutku, tapi weker sudah menunjukkan pukul 8 lebih 5 menit. Aku kesiangan! Maka bergegaslah aku mandi, gosok gigi lalu membungkus tubuh ini dengan kaos oblong dan jeans belel favoritku. Hari apa ini? Senin. Oh tidak, kesiangan di hari Senin seperti sebuah sindrom yang sudah mendarah daging di tubuhku. Aku lekas pergi ke kampus sampai lupa tidak mengunci pintu kosan dulu. Tak apalah, ibu kos sudah tahu diriku. Bagiku, waktu lebih penting daripada harus mengunci pintu. Lagipula, tak ada barang berharga di kamar kos yang sudah setahun ini kutinggali itu. Aku sudah biasa dan tidak khawatir dengan hal itu.

Aku berlari sekuat tenaga menuju kampus. Jarak kampus dan kosanku tidaklah terlalu jauh. Sekitar satu kilometeran kurang. Kalau dengan berlari, bisa kucapai dengan jarak tempuh sekitar dua puluh menitan. Itu sudah jarak tempuh maksimum.

Kelas Sistem Komunikasi Analog sudah dimulai. Pak Dimas, sang dosen, sudah berdiri memberi materi mata kuliah di depan para anak didiknya.

“Assalamualaikum, Pak,” ucapku sambil mengetuk pintu kelas yang terbuka. Aku lalu nyelonong masuk menuju kursi yang masih belum terisi. Kusadari semua orang yang ada di ruangan ini tengah menyorotiku. Mereka seperti baru pertama kali melihatku kesiangan saja. Bukankah aku ini juaranya dalam soal kesiangan. Hampir sebagian semester pertama kuliahku dihabiskan oleh ketidaktepatanku akan waktu.

“Kamu mahasiswa baru, ya?” tanya Pak Dimas sambil melorotkan kacamatanya.

Aku agak bingung dengan pertanyaannya, “Saya Aksan, Pak.”

“Aksan?” Pak Dimas mengerutkan dahi.

Aku menoleh ke arah Rudi, salah seorang teman yang duduk di samping kiriku.

“Apa ada yang aneh?” aku berbisik.

“Lu siapa?” tanya Rudi spontan. Ini sungguh tidak lucu. Apa ada yang salah denganku? Aku tak mau mengawali hariku dengan omong kosong semacam ini.

“Kamu mahasiswa baru?”

Aku bingung harus menjawab apa. Kukeluarkan seluruh isi ranselku yang berisi beberapa makalah dan buku materi, tapi sayangnya aku lupa membawa dompet yang di dalamnya ada KTP dan kartu mahasiswa. “Saya Aksan Radiansyah. Mahasiswa semester 1 Teknik Elektro!”

“Aksan Radiansyah?”

“Ya!”

“Benarkah itu?”

“Bapak bercanda, ya!”

“Saya tidak bercanda. Kamu jangan main-main dengan saya! Sekarang lebih baik kamu keluar dari kelas saya!”

“A… apa?”

Ada apa ini? Aku diusir dari kelas. Ini semacam hukuman atas ketidakdisiplinanku atau apa? Kucoba menelpon Rudi meski ia masih di dalam kelas.

“Halo?”

“Ini gue Aksan. Rud…”

“Lu siapa? Maaf, gue sedang kuliah..”

Telepon pun terputus. Ada apa ini? Aku benar-benar bingung. Lalu aku coba menghubungi Ninda, teman wanita yang sudah tiga bulan ini dekat denganku.

“Halo Nin, ini aku Aksan.”

“Aksan siapa, ya?”

“Nin, kamu jangan bercanda! Aku serius!”

“Maaf, saya enggak kenal orang yang bernama Aksan. Sepertinya kamu salah sambung…”

Tuuttt… telepon kembali terputus. Konspirasi macam apa ini? Aku benar-benar tak mengerti apa yang terjadi. Mimpi apa aku semalam? Atau jangan-jangan aku masih bermimpi? Kepalaku mendadak pusing. Kurasa aku harus segera pulang untuk menenangkan pikiran.

Aku kembali ke kosan. Tapi seketika aku dikejutkan oleh selembar kertas yang ditempel di pintu kamar kosku. “DISEWAKAN!” begitu bunyi tulisan dalam kertas itu. Ada apa lagi ini? Aku selalu membayar sewa tepat waktu, tapi kenapa ibu kos melakukan ini padaku?

“Ada apa ini, Bu? Kenapa Ibu menempelkan tanda ‘disewakan’ di pintu kamar kosku?” tanyaku pada Ibu Kos yang saat itu sedang sibuk menjemur baju.

“Kamar kosmu? Kamu jangan ngaku-ngaku, ya! Kamar ini sudah lama tak diisi. Kalau kamu mau menyewa kamar ini, silakan saja!”

“Ini kamarku. Aku baru keluar dari sini sejam lalu. Barang-barangku juga masih tertinggal di dalam!”

“Kamu jangan mengada-ngada, ya! Kalau kamu enggak mau menyewa kamar ini, ya terserah saja.”

“Tapi ini kamarku!”

“Kamu ini ngotot, ya! Cepat pergi sekarang juga atau saya panggil polisi!”

“Tapi, Bu…”

Dan semakin parah saja semua kekisruhan ini. Ada apa dengan orang-orang ini? Apa aku baru saja melewatkan suatu peristiwa bersejarah? Apa semalam alien baru menginvasi bumi? Jangan-jangan semua orang ini adalah makhluk luar angkasa yang sedang menyamar menjadi manusia dan aku adalah satu-satunya manusia yang tersisa. Entahlah, siapapun tolong jelaskan semua ini? Aku benar-benar tak mengerti.

Beberapa gigitan roti rasa cokelat sudah mulai lumer di mulutku. Aku seperti anak kucing yang baru saja dibuang di tempat asing. Ibu, tiba-tiba aku rindu akan sosoknya. Semua raut wajah anggota keluargaku terbayang di kepala. Kuraih ponselku. Rumah menjadi tempat yang paling kuinginkan saat ini. Aku rindu semua ketenangan kampung halaman. Ibu, aku ingin pulang.

Tiitttt!

“Ya, assalamualaikum…”

Mendengar suara khas Ibu sungguh menentramkan batinku. Sungguhlah aku sangat membutuhkannya untuk saat ini.

“Ini Aksan, Bu!”

“Aksan? Aksan siapa, ya?”

Seketika, jantungku bagai ditonjok kepalan tangan bersarung tinju. Jangan bilang kalau Ibu juga melupakanku. Itu tidak akan terjadi!

“Ini aku, Bu! Aksan, anak Ibu!”

Percakapan terjeda sejenak.

“Maaf Dek, saya tidak punya anak yang bernama Aksan. Sepertinya Adek salah sambung.”

“Ini Aksan, Bu! Aksan Radiansyah! Ibu dan Ayah yang menamaiku begitu. Aku anak laki-laki Ibu yang lahir 19 tahun lalu, yang punya tanda lahir di tangan kanan dan di betis kirinya, yang sangat suka dengan opor ayam buatan Ibu, yang selalu tidak bisa tidur kalau belum meminum segelas susu. Aku anak sulung Ibu. Kakak kandung Fajar dan Anisa. Aku anak Ibu, Bu! Aku anakmu!”

Ibu terdiam selama beberapa detik. Ada secercah harapan di pundakku. Semua omong kosong ini akan berakhir.

“Maaf Dek, sepertinya saya tidak bisa membantu. Sepertinya kamu telah menghubungi nomor yang salah. Assalamualaikum…”

“Ibu! Ibu, ini ak….”

Tuttt… tuttt… Aku tak akan menyerah. Kuhubungi Ibu sekali lagi.

“Anda terhubung dengan layanan kotak suara 6803455. Silakan rekam pesan anda setelah bunyi berikut…”

Tiittt!

“Bu, ini aku Aks…”

Tittt… tittt… tittt…. Sial, ponselku mati! Baterainya sudah habis. Arghhh… aku gila! Benar-benar gila! Kucari telepon umum untuk menghubungi Ibu kembali, tapi lagi-lagi hanya sebuah pesan suara yang kuterima. Kacau. Semuanya kacau balau.

Kususuri jalanan dan deretan pertokoan. Pikiranku limbung menggantung di udara. Apa yang sebenarnya aku lakukan? Aku seperti tengah terjebak dalam salah satu film Hollywood yang penuh aksi. Teringat aku saat pertama kali menonton Inception dan Bourne Identity. Aku berspekulasi dalam sebuah adegan thriller psikologi. Hari ini aku telah dilupakan. Tersingkir dari pergaulan dan tersesat dalam sejuta keganjilan.

Aku berjalan tak tahu tujuan. Pandanganku kosong dan yang kulihat hanya sebuah papan nama warung internet di pinggir jalan. Sesuatu tiba-tiba menggodaku. Aku ingin kembali memastikan eksitensi diriku sekarang.

Kumasuki warung internet itu. Dengan sisa uang di saku, aku mencoba terkoneksi. Kubuka Google, email, Facebook, Twitter dan beberapa akun jejaring sosialku. Ternyata masih ada! Aku tidak dilupakan sepenuhnya! Namaku masih terpatri di dunia maya. Lalu mengapa mereka melupakanku? Logikaku mengurai sejuta anya. Argumentasiku akan mimpi semakin menguat saja. Ya, ini memang mimpi. Dan aku akan terbangun sebentar lagi. Tapi, bagaimana aku bangun?

Aku berlari menembus orang-orang yang berlalu lalang. Kubulatkan tekadku. Aku berjalan ke tengah jalan membiarkan kendaraan berseliweran. Aku tidak akan mati. Ini hanya sebuah mimpi. Dan ketika sebuah mobil minibus hampir saja menabrakku, seorang polisi lalu lintas segera memberhentikan mobil itu. Semua orang meneriakiku.

“Kamu gila, ya?” sentak polisi itu.

* * * *

Aku duduk sendiri di ruangan seukuran 5 kali 7 meter. Sekilas ruangan ini mirip ruang interogasi. Sekilas pula mirip ruang konseling mahasiswa di kampusku yang pernah kusinggahi beberapa kali. Telah kuceritakan semuanya pada Bapak Polisi dan ia langsung membawaku ke sini, ke salah satu ruangan teraneh dalam kantor polisi. Sebuah papan di dinding memamerkan banyak sekali foto orang-orang yang menurutku hilang atau menjadi buronan. Entahlah, imajinasiku bagaikan bola liar yang menggelinding kemana saja. Seseorang akan menemuiku di sini. Katanya ia akan membantu menyelesaikan masalahku, sebuah masalah absurd yang menurutku bukanlah sesuatu yang nyata.

Seorang wanita tiba-tiba muncul dari balik pintu. Usianya sekitar seumuran ibuku Dia adalah salah seorang satuan polisi yang faham tentang masalahku. Entahlah, aku tidak begitu percaya dengan itu

“Selamat pagi, Aksan. Itu namamu, kan?” katanya sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman. Aku sungguh terkejut mendengar seseorang menyebut namaku. Dan itu keluar dari mulut seseorang yang sama sekali tak mengenal diriku. “Saya Ira Hapsari. Cukup panggil saja Bu Ira. Saya kepala divisi kasus ‘orang yang terlupakan’.”

“Kepala divisi kasus ‘orang yang terlupakan’?”

“Ya,” jawabnya membuatku bingung. “Saya sudah mendengar semuanya dari Pak Syarif. Dia polisi yang sudah membawamu kemari. Jangan terkejut Aksan, kamu tidak sendirian. Kasusmu sama seperti yang pernah saya alami 24 tahun lalu.”

“Maksud anda apa?”

“Saya tahu apa yang sedang terjadi padamu.”

“Sa… saya tidak mengerti maksud anda! Apa maksud kasus orang yang terlupakan? Apa maksud semua ini? Apa aku ini sedang dipermainkan seseorang?”

“Ya.”

“Oleh siapa?”

“Oleh Tuhan.”

Dan semua pun mendadak hening.

“Sungguh menyakitkan ketika kamu sudah tidak dikenali siapapun. Mereka tiba-tiba melupakanmu dan kamu tak tahu apa yang harus kamu lakukan. Tapi kamu tidak sendirian.”

“Aku masih belum faham.”

“Kasusmu adalah kasus biasa.” Semua kembali terjeda. “Setiap hari, ada saja orang yang merasa dilupakan. Tidak ada ada yang tahu bagaimana ini terjadi. Sebagian dari mereka melaporkan kasusnya ke polisi dan sebagian lagi berjuang menurut caranya sendiri. Ini adalah kejadian yang lumrah di seluruh dunia. Setiap satuan polisi dan pemerintahan di berbagai negara sudah memiliki departemen sendiri yang menangani kasus-kasus ini.”

“Jadi, ini kasus biasa?”

“Ya, dan tugas kamilah untuk membantu mengarahkanmu pada identitas baru dan memulai hidup baru. Ini adalah titik nol di mana kamu harus memulai kembali kehidupanmu.” Ibu Ira bangkit dari tempat duduknya. “Kemarin juga ada orang yang kehilangan identitas seperti kamu dan pihak pemerintah sudah menanganinya. Ini adalah misteri yang sudah lama menghantui kehidupan manusia. Sudah dimulai sejak peradaban manusia itu tercipta.”

“Lalu, bagaimana dengan nasibku? Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana dengan keluargaku?”

“Tenang, kami akan mengurusmu. Kamu akan mendapat keluarga baru?”

“Tidak, aku tidak mau! Aku ingin keluargaku!”

“Andai saya bisa. Tapi keluargamu sudah melupakanmu. Selamanya.” Ibu Ira memperhatikan salah satu foto yang terpajang di papan. “Ilmuan dari berbagai bangsa sudah meneliti fenomena ini dari dulu. Tapi mereka tidak menemukan jawabannya. Bayangkan, tiba-tiba semua orang melupakanmu. Tak ada seorang pun yang mengenalimu dan semua itu terjadi hanya sehari. Siapa pun tidak bisa menjelaskan semua ini. Dari sudut pandang ilmu apapun, tetap tak bisa dijelaskan. Ini sepenuhnya rencana Tuhan. Siapapun bisa menjadi orang yang terlupakan, tanpa mengenal usia jenis kelamin atau status sosial. Sebagian bisa hidup normal dengan identitas baru, sebagian lagi menjadi depresi bahkan bunuh diri. Kamu sering lihat orang gila yang suka lalu lajang di jalanan?”

Aku mengangguk.

“Sebagian dari mereka mungkin adalah orang-orang yang terlupakan.” Ibu Ira menghela napas panjang. Ia nyalakan televisi lalu meminum segelas air dari dispenser. “Mungkin kamu akan heran. Jika kasus aneh ini adalah kasus biasa yang sering terjadi, tapi kenapa kita tak pernah melihat kasus seperti ini diberitakan di layar kaca? Ya, karena kami sengaja menutupinya dari media. Ini sudah menjadi ketentuan tertulis yang berlaku di seluruh dunia dari masa ke masa. Bisa dibayangkan kalau kasus ini terendus media. Seluruh dunia akan kacau balau pastinya. Beberapa orang pernah berusaha mempublikasikan kisah mereka. Beberapa dari mereka bahkan menempuh jalur hukum untuk mengembalikan identitas mereka. Tapi percayalah, semua itu sia-sia. Tak akan ada orang yang percaya dan kami sudah tahu bagaimana mengatasinya.”

Ibu Ira membuka laci meja kerjanya. Ia mengeluarkan sebuah buku saku dan memberikannya padaku. “Kamu membutuhkan ini. Ini akan jadi paduan hidupmu yang baru.”

“Panduan Hidup Baru bagi Orang-Orang yang terlupakan,” begitulah judul buku itu. Lebih menakutkan daripada buku panduan mengemudi atau setumpuk buku materi elektro.

“Aku ingin menelpon ibuku,” ucapku seperti anak ingusan berusia lima tahun.

Ia tersenyum sambil menyerahkan gagang telepon kerjanya. “Silakan kalau ibumu masih mau mengingatmu.”

Kupijit nomor telepon rumahku dan yang kudapat kembali hanya sebuah pesan.

“Anda terhubung dengan layanan kotak suara 6803455. Silakan rekam pesan anda setelah bunyi berikut…”

Tittt… segera kututup telepon itu. Ibu Ira menatap wajahku yang sudah lusuh.

“Biarkan kami membantu.”

“Tidak, terima kasih. Saya yakin kalau ibuku akan mengingatku. Mereka hanya lupa. Dan yang akan kulakukan hanya berusaha mengingatkan kembali.”

Ibu Ira terdiam beberapa saat.

“Kamu yakin?”

“Ya.”

Senyumnya kembali tersimpul. “Jika kamu membutuhkan kami, hubungi saja nomor yang tertera di buku itu.”

* * * *

“Anda terhubung dengan layanan kotak suara 6803455. Silakan rekam pesan anda setelah bunyi berikut…”

Tiittt!

“Bu, ini aku Aksan! Jawab aku, Bu! Aku Aksan, anakmu!”

Tut.. tuuut….

Malam hampir dimulai. Aku berdiri kebingungan di sebuah booth telepon umum yang membisu. Tak ada jawaban meski aku tahu Ibu mendengarku. Ya, ia pasti mengingatku. Sudah tentu ia mengingatku.

* * * *

Mataku terbuka. Setitik cahaya muncul dari kejauhan. Pagi sudah menjelang. Aku terbangun mendapati diri terduduk lunglai di booth telepon umum. Entah seberapa nyenyak tidurku hingga aku bisa terlelap di tempat ini. Aku masih berharap semua ini mimpi, tapi aku tak punya bukti. Kucoba menyalakan ponselku yang sudah lowbat untuk melihat pukul berapakah sekarang. Berharap ponsel ini masih bisa hidup meski hanya untuk beberapa detik. Beruntung masih bisa, meski dengan waktu terbatas tentunya. Beberapa pesan singkat muncul seketika.

“Ada apa, San? Kok nelpon rumah mulu? Tapi pas Ibu telepon balik, kok gak aktif? Ibu jadi khawatir.”

Batinku membucah. Benarkah pesan ini dari Ibu. Dia tidak melupakanku. Aku tak percaya semua ini. Segera kuraih gagang telepon umum dan merogoh sisa uang recehan di sakuku.

“Ya, assalamualikum.”

Suara khas itu langsung menentramkan sukmaku. Terjawab. Teleponku terjawab.

“Ini aku Aksan, Bu?” Aku harap-harap cemas.

“Ada apa, San? Kamu bikin Ibu khawatir saja.”

“Ibu? Apa ini, Ibu? Ibu mengingatku?”

“Kamu ini ngomong apa, sih? Dari semalam ibu nelpon, malah enggak aktif. Kamu ini gimana, sih? Ini udah siang, kamu udah berangkat kuliah belum? Jangan bilang kalau kamu baru aja bangun! Cepat kuliah sana!”

“Ibu…”

Senyum merekah dari bibirku. Kubaca pula beberapa pesan dari teman kuliahku. Ini seperti pagi biasa bagiku. Jadi, benarkah kemarin itu hanya mimpi. Aku tak percaya ini. Aku seperti telah kembali dari sebuah lubang hitam. Suatu dimensi aneh telah merenggut eksistensiku dan kini ia mengembalikannya padaku.

Sebuah buku panduan “Orang yang Terlupakan” yang ada di sakuku langsung membangunkan ingatanku. Lalu, apa yang terjadi padaku kemarin itu?

Kuangkat kembali gagang telepon mencoba menghubungi salah satu nomor yang tertera di buku saku. Ibu Ira mengangkat teleponku. Kuceritakan apa yang baru saja terjadi padaku.

“Ini adalah kejadian langka. Satu berbanding seribu. Saya sengaja tidak memberitahumu karena saya tidak ingin memberi harapan palsu. Seseorang yang dilupakan tiba-tiba bisa kembali diingat oleh orang-orang dekat mereka. Ya, ini pernah terjadi. Tapi sangat langka. Kami menyebut ini mukzijat dan kamu adalah orang yang dipercaya Tuhan untuk melanjutkan kehidupan lamamu.” Aku terdiam seribu kata. “Saya harap mereka tak akan melupakanmu untuk yang kedua kali.”

“Ya.”

“Tapi sekarang kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan bila kamu kembali dilupakan. Pintu kami terbuka untukmu. Dan ingatlah, ini rahasia kita bersama. Jangan ceritakan pada siapapun juga karena mereka tidak akan percaya.”

Senyum tergurat di bibirku. Dilupakan adalah suatu hal yang sangat menyakitkan. Aku ingin dunia mengingatku sebagaimana mestinya. Sebuah kenangan akan kulanjutkan dan aku akan diingat oleh mereka sebagai pembuat kenangan. Terima kasih Tuhan atas mukjizat indah yang telah Kau limpahkan. Di sini aku kembali berpijak, bergabung kembali dengan keriuhan peradaban.

Tut.. tuut….

Selesai.

Cerpen ini pernah dimuat di website Annida-Online edisi Februari 2013
Klik: http://www.annida-online.com/artikel-6857-forgotten.html

Sumber gambar: Google