Posts Tagged ‘Absurd’

surga 35

“Heaven is under our feet as well as over our heads.” ― Henry David Thoreau, Walden

Aku akan keliling dunia dan menemukan surga. Lihat saja.

Namaku Arka. Seorang pemuda yang selama 27 tahun hidupnya selalu dihantui thalasemia. Thalasemia? Ya, penyakit kelainan darah itu sudah mendarah daging dalam tubuhku. Tak ada kepastian sembuh bagiku. Hidupku bergantung pada tranfusi darah yang harus dilakukan setiap bulannya, aku juga harus mendapat suntikan desferal selama 10 jam setiap malam. Bukankah itu sungguh keterlaluan? Semua ini benar-benar melelahkan. Rasanya aku ingin mati saja. Seluruh biaya pengobatanku bergantung pada asuransi kesehatan yang didaftarkan oleh mendiang ayahku. Ya, ayahku juga begitu. Karena thalasemialah ia meninggal 10 tahun lalu. Tak pernah kusangka aku akan mewarisi apa yang telah membunuhnya itu. Penyakitku ini lebih parah darinya. Aku bisa mati kapan saja karena thalasemia akut yang menyerang setiap harinya. Beberapa bagian tubuhku membengkak karena komplikasi getah limpa. Aku sudah seperti boneka yang tak bernyawa. Thalasemia telah merenggut kehidupan masa mudaku secara nyata.

Itulah aku.

Aku adalah aku. Aku jelas berbeda dengan Arya, adikku. Ia adalah satu-satunya saudara kandungku, satu-satunya keluarga yang kupunya selain Ibu. Usianya setahun lebih muda dariku. Kami terlahir dari gen yang sama, tapi secara lahiriah, kami berbeda. Kami bagai bumi dan langit. Semacam paradoks yang berlainan satu sama lain. Arya adalah pemuda luar biasa. Tak ada kelainan pada fisiknya, ia terlahir sehat tanpa warisan penyakit dari Ayah. Arya adalah kebalikan dari diriku. Ia pemuda yang aktif dan selalu tertarik pada hal baru. Jiwa petualang dalam dirinya amatlah besar. Ia telah mendapatkan semua hal yang diinginkan setiap manusia belia. Memiliki banyak kawan, aktif dalam pergaulan dan mendapat pendidikan yang layak di salah satu universitas ternama.

Aku dan Arya memang berbeda. Selain persamaan struktur DNA, hanya ada satu hal yang membuat kami sama, yakni seni. Kami berdua sama-sama terobsesi dengan seni. Kurasa ini tidak ada hubungannya dengan faktor keturunan atau silsilah keluarga. Seni telah menyatukan kami. Aku seni lukis, dan ia fotografi. Hobinya dalam fotografi berbanding lurus dengan hasrat petualangnya yang tinggi. Ia senang berpetualang dengan kamera DSLR-nya. Ia selalu menenteng kamera itu kemana-mana. Dua tahun lalu, aku memberikan kamera itu. Aku membelinya dari hasil penjualan beberapa karya lukisanku. Kamera itu telah menjadi bagian dari dirinya, bahkan menjadi salah satu modal dari proyek ambisiusnya.

Semua ini bermula saat setahun lalu, saat ia pertama kali menceritakan proyek gilanya. Secara mengejutkan, ia ungkapkan keinginan untuk cuti sejenak dari kuliah ekonominya. Ada sebuah proyek besar yang tiba-tiba mengubah haluan hidupnya, sebuah proyek irasional yang mungkin akan membuat siapa saja terbelalak begitu mendengarnya.

“Aku akan keliling dunia untuk thalasemia!” begitu katanya, penuh semangat. Percakapan kami di ujung senja berubah menjadi kejutan absurd yang sulit dipercaya. “Kakak dan Ibu tak perlu khawatir. Ada banyak sponsor yang akan mendanai proyek ini. Aku akan melakukan perjalanan dengan sepeda. Aku akan keliling dunia!”

Itu adalah hal tergila yang pernah aku dengar. Adikku akan bersepeda sendiri keliling dunia demi proyek amal untuk para penderita thalasemia. Siapa yang sudah mencuci otak adikku ini? Kurasa ia terlalu banyak menonton tayangan Travel Channel. Dunia begitu luas. Roda sepeda tak akan mungkin mampu menaklukannya.

“Thalasemia dan surga, hanya itulah alasanku melakukan semua ini.”

“Surga?”‘

“Ya, surga. Ini adalah sebuah misi suci. Akan kubuat dunia mengerti apa itu thalasemia. Ini semua demi Kakak, mendiang ayah kita, dan seluruh penderita thalasemia yang ada di seluruh dunia.”

“Jangan bicara tentang surga. Bagimu, surga itu hanya sebesar 35 milimeter ukuran diameter lensa kamera. Janganlah kamu berbuat gila! Dunia tak seindah yang terpotret dalam lensa. Dunia tak seperti yang kamu kira.”

“Aku akan menunjukkannya, Kak! Aku akan melakukannya!”

Obsesi absurd Arya benar-benar terlaksana. Aku benar-benar tak percaya. Hari Kamis, tanggal 5 Mei, tepat di Hari Thalasemia Sedunia, ia memulai titik nol kilometernya dari Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta. Bersama iring-iringan sponsor dan ratusan penderita thalasemia, aku dan Ibu melepasnya. Ia berhasil menggaet beberapa sponsor untuk mendukung aksinya, diantaranya ada Yayasan Thalasemia Indonesia dan sebuah LSM internasional asal Amerika. Ia dibekali berbagai perlengkapan memadai untuk menunjang penjelajahannya. Ia melakukan semua ini bukan untuk memecahkan rekor dunia, tapi untuk membuktikan kalau kami ada: penderita thalasemia.

Seribu kilometer lebih telah ia tempuh selama 19 hari untuk sampai di Medan. Selat Malaka dilewati, negeri jiran disusuri hingga negeri Takshin Shinawatra pun dijejaki. Ia masuk Thailand lewat Pattani, kota rawan konflik yang untungnya sedang dalam kondisi aman terkendali. Di negeri gajah putih, ia mulai merasakan perbedaan budaya yang cukup signifikan. Ia bahkan sempat bertemu dengan seorang anak penderita thalasemia di Rumah Sakit Bumrungrad di Bangkok. Sebuah momen penuh haru pun sempat ia abadikan.

“Love for Nathon Nakshucay! Bocah manis yang berjuang dari keganasan thalasemia di Thailand. Usianya baru menginjak delapan, tapi semangatnya untuk bertahan hidup tak akan pernah bisa terpatahkan!”

Begitu bunyi keterangan foto yang ia unggah ke halaman Facebook dan Twitter-nya. Empati adalah sebuah bahasa universal yang bisa menembus semua batas budaya. Lebih dari separuh kasus thalasemia terjadi di Asia. Thailand hanya salah satu contohnya. Aksi Arya telah membuat kami membuka mata. Ternyata perjuangan ini bukan milik kami saja.

Thailand-Laos-Vietnam mampu dilewatinya dalam waktu 3 bulan. Waktu terasa begitu cepat berlalu sampai aku sadar ia sudah menembus China. Tak lupa ia selalu bagikan setiap momen berharga lewat email, blog, dan berbagai jejaring sosial miliknya. Ia tak pernah berhenti menyajikan foto-foto indah. Mulai dari fotonya di sungai Mekong, suasana perbatasan tiga negara di Golden Triangle, pose di gerbang Patuxai di kota Vientiane, sampai ikut tari caping di salah satu desa di Vietnam. Ia masuk China lewat kota Lang Son di Vietnam Utara. Dari China, ia akan memulai perjalanan mengikuti jalur sutera.

“Halo semuanya! Aku sudah berada di China. Thalasemia masih sangat asing di sini, tapi aku akan berusaha untuk tetap mengkampanyekannya,” ucap Arya dalam status Facebook-nya. Ia selalu berusaha untuk terhubung dengan kami sekeluarga, entah itu lewat email, sambungan telepon international ataupun lewat video chat. Ia cerita kalau ia sempat kehilangan sepedanya di salah satu desa di Ciang Rai, Thailand. Bahkan ia pun hampir kecopetan saat tersesat di di sebuah pasar di Laos Selatan.

China-Kazakhstan ditempuhnya selama dua bulan setengah dengan melewati terjalnya daratan dan pegunungan. Panas, hujan, bahkan badai, datang silih berganti. Siang dan malam hanya sekedar efek rotasi bumi. Dari dataran tinggi Yunan hingga Kwen Lun, dari Xinjiang hingga Alma Ata. Berbagai jenis orang telah ia temui. Dari etnis Han yang mendominasi, etnis Uyghur yang masih terdiskriminasi hingga etnis Kirgiz dan Kazakh yang sedang mencoba mencicipi modernisasi. Jantung Asia sudah dilewati. Kini benua biru sudah menanti.

Aku masih belum bisa percaya kalau adikku melakukan semua ini. Kami belajar sepeda 17 tahun lalu dan ia sudah mengayuh pedal sejauh itu.

“Kamu selalu membonceng Kakak saat pergi ke sekolah, dan sekarang kamu membonceng harapan para penderita thalasemia yang ada di seluruh Indonesia, bahkan dunia,” kataku dalam sebuah videochat via Skype pada tanggal 15 November. Saat itu Ia sedang bersantai di sebuah motel di Astana, ibukota Kazakhstan. Aku dan Ibu takjub melihat sosoknya terpampang di monitor komputer.

“Ah, Kakak bisa saja!” Ia tertawa. “Kakak dan Ibu sudah lihat foto-foto terbaruku, kan? Semuanya benar-benar luar biasa!”

“Iya, Ibu sudah lihat. Jaga selalu kesehatanmu! Ibu selalu mendoakanmu di sini.”

“Iya, Bu, aku selalu mengingat kata-kata Ibu. Doakan aku agar aku bisa cepat menyelesaikan misi ini. Sebentar lagi aku akan sampai di Rusia. Mungkin untuk beberapa lama aku tak akan bisa menghubungi Ibu dan Kakak. Aku akan melanjutkan perjalanan menuju danau Ural dengan melewati pangkalan roket luar angkasa Baikonur di selatan Kazakhstan. Katanya sinyal internet di sana sangat jelek.”

“Ibu dan Kakakmu mengerti. Tapi kalau memungkinkan, usahakan untuk tetap menghubungi kami.” Naluri Ibu tengah bersuara. Kami berjarak puluhan ribu kilometer jauhnya, tapi tak ada batasan geografi jika batin seorang ibu telah bicara.

“Iya, Bu, aku akan usahakan. Aku sayang Ibu.”

Arya melanjutkan perjalanan sucinya dengan menembus segala rintangan iklim dan cuaca. Aku selalu menunggu kabar darinya. Bagaimana mungkin kami terpisah selama 2 minggu lamanya. Setelah dari danau Ural, ia akan lanjut ke arah timur laut menuju Rusia, tapi aku belum mendapat satu kabarpun darinya. Ini aneh.

Sebulan telah berlalu. November telah berganti Desember. Musim gugur telah berganti menjadi musim dingin. Tak ada yang berubah kecuali resah yang terus membuncah. Kami sangat mengkhawatirkannya. Pihak sponsor yang turut serta memberangkatkannya berusaha mencari keberadaannya. Kemanakah ia kayuh sepedanya? Apa yang telah terjadi padanya? Sinyal GPS tak memberikan tanda. Jangan katakan kalau adik kecilku telah hilang. Terkadang ia memang bisa menjadi orang yang sangat menyebalkan. Terkadang ia terlalu asyik dengan dunianya sendiri hingga melupakan peradaban. Aku yakin ia akan segera menghubungi kami. Ini hanya soal waktu.

* * * *

Aku perlihatkan senyum untuk menyamarkan bentuk tulang wajahku yang tak biasa. Aku memandang lensa kamera. Latar belakang dinding ruang tamu yang bewarna putih terlihat kontras dengan kaos hitamku. Sekelibat kilatan lampu lensa menyilaukan mata. Arya langsung melihat hasil jepretan dari LCD kameranya.

“Tumben Kakak mau difoto. Emangnya buat apa, sih?” Ia ulangi lagi pertanyaan yang tadi belum sempat kujawab.

Aku tersenyum.

“Ini cuma buat jaga-jaga aja.”

“Jaga-jaga buat apa?”

“Jaga-jaga kalau sewaktu-waktu kamu butuh foto untuk kolom obituari…”

* * * *

Aku masih dirawat di rumah sakit dan Ibu masih menemaniku di sini. Cairan infus sudah menjadi teman sejati, senyum dokter sudah menjadi hal basi. Aku hanya tinggal menunggu terbitnya kolom obituari.

Sebentar lagi seseorang akan datang kemari. Katanya, ia akan menyerahkan sesuatu yang mungkin selama ini kami cari. Apakah itu? Aku tak mau terlalu berekspektasi. Bagiku ini hanya bagian dari mimpi. Aku tak mau berandai-andai lagi. Biarkan saja semua berjalan sesuai kendali.

Orang itu telah tiba. Ia adalah salah seorang staf kementerian luar negeri yang ditugaskan secara khusus untuk menemui kami. Kami sudah siap dengan segala kemungkinan yang terjadi. Apapun yang dikatakannya takkan kami ingkari. Kami sudah lama menantikan ini.

“Kami datang untuk menyerahkan ini,” kata seorang pria berbatik seraya memberikan sebuah kotak berukuran 50 kali 30 sentimeter. Aku yang masih duduk terbaring segera membuka kotak itu. Ada topi, jurnal ekspedisi, dan sebuah kamera yang beberapa bagiannya sudah tak lengkap lagi. “Semua ini punya Arya. Kami menemukannya di perbatasan Kazakhstan-Rusia beberapa waktu lalu.”

Batinku berontak, dan aku yakin kalau batin Ibu lebih berontak lagi. Aku coba lunakan emosi. Kuambil kamera yang sudah menemani adikku selama 2 tahun belakangan ini. Sulit dipercaya, ternyata kameranya masih berfungsi. Kucoba periksa beberapa folder yang tersimpan di memori kamera itu. Dari layar LCD 3 inchinya, aku dan Ibu memperhatikan setiap gambar yang berhasil terabadikan olehnya.

Foto-foto perjalanannya berhasil terabadikan dengan sempurna. Fotonya saat bersantai di dekat danau Ural, fotonya saat di area pangkalan roket luar angkasa Baikonur, dan masih banyak foto menakjubkan lainnya. Dan aku dibuat berhenti bernapas ketika melihat foto terakhirnya. Ia berpose di salah satu area di pegunungan Ural bersama sebuah spanduk bertuliskan “Love for Thalassemia”. Tapi bukan itu yang membuatku berhenti bernapas untuk sementara. Ia memakai kaos putih yang bertuliskan namaku di dadanya. A R K A, kelima huruf yang membentuk namaku itu ditulis dalam warna merah menyala. Aku tersenyum dibuatnya.

Aku tak tahu dimana kini kau berada, tapi aku yakin kau baik-baik saja. Tertulis jarak 35.603 kilometer dalam jurnal ekspedisimu. Kau sudah mengayuh sepeda terlalu jauh, adikku. Kami sungguh bangga padamu. Perjalananmu telah terabadikan dalam surga 35 milimetermu. Terima kasih atas segala perjuanganmu. Lekaslah pulang! Kami di sini menunggu ceritamu…

Pulanglah! Secepatnya…

* * * *

Sumber gambar: Google

Cerpen ini pernah dimuat di Annida Online edisi Desember 2013

Klik gambar

Klik gambar ini 🙂

"PAPERMAN"

(sumber gambar: Google, Disney’s Paperman edited by @rosmensucks)

Setelah sekian lama berhibernasi, akhirnya saya dapat hidayah buat ngeblog lagi. Well, it’s not bad. Sebenarnya tulisan ini bukanlah sebuah tulisan istimewa. Mungkin bisa dibilang sebagai curhatan kali ya. Yang jelas sih masih seputar dunia pria, khususnya bagi pria-pria muda usia 20an kaya saya gitu deh. So, yang merasa pria dengan kategori tersebut, saya sarankan untuk baca tulisan saya ini.

Gimana sih rasanya jadi pria di usia 20an? We’re happy, free, confused, and lonely at the same time. It’s miserable and magical. Oh yeah!! –mengutip lirik lagu 22 yang dinyanyikan Taylor Swift, sungguh referensi yang agak feminim memang. Well everyman loves Taylor Swift, right? Hehe. Ketika seorang pria menginjak usia 20an, maka ia bisa dibilang telah cukup dewasa dalam soal angka. Usia 20an bisa disebut sebagai fase paling produktif seorang manusia. Pada fase ini, manusia dalam kondisi lagi bagus-bagusnya. Fisik masih oke, kesehatan masih belum bermasalah, semangat masih on fire tapi pikiran dituntut untuk berpikir lebih kompleks. Ibaratnya otak kita sedang dalam ujian kenaikan kelas. Lulus enggaknya itu tergantung kita. Mau berjalan dinamis atau tetep konstan? We’re not fucking teenager anymore, Dudes! We gotta make up our mind! Yup, kita bukan remaja usia belasan lagi. Kita sudah dalam perjalanan menjadi pria yang seutuhnya. Jadi pria sejati! Ciyeee gayanya sok maskulin hehe. Well, saya tidak hanya sedang membicarakan soal seksualias pria dewasa. Maksud pria sejati di sini adalah dalam arti luas. Jadi, bukan cuma soal durasi ereksi atau ketahanan ejakulasi. Everyman knows it!

Seperti yang sudah saya bilang di atas, fase 20an adalah fase paling kompleks bagi seorang pria. Isi otak pria di usia ini mulai kompleks sekompleks luasnya alam semesta. Hihihi lebay.. so are you curious? Sebenernya apa aja sih isi pikiran pria usia 20an itu? Okay, mari saya jabarkan satu per satu. Yang akan saya sebutkan di sini cuma garis besarnya saja ya. Saya pikir, isi kepala pria usia 20an akan berkutat pada 5 poin berikut: carrier, love, sex, spiritual, financial. Kok cuma 5 poin sih? Katanya kompleks! Hey, 5 poin ini mencakup hal yang lebih kompleks lho! Let me explain them…

  1. CARRIER

Sebagian besar pria sudah menuntaskan pendidikannya di usia 20an, entah itu sampai jenjang kuliah atau SMA. Otomatis sesudah itu kita butuh kerja. Emang mau disuplai terus sama orang tua? Kalau ortu kamu kaya sih ya ra popo. Tapi kalau ortu kamu bukan orang berada, emang gak kasihan minta dikelonin mulu sama mereka. Mandiri dong bro! Yang pasti usia 20an adalah gerbang pertama kita dalam memasuki dunia kerja. Dan hal pertama yang harus kamu lakukan adalah kamu harus tentuin dulu pekerjaan impian kamu. Mau jadi apakah kamu? Mau jadi bos, dokter, seniman, pengusaha atau jadi pembantu? Hehe. Oke mungkin terkadang pekerjaanmu  gak sesuai dengan yang kamu impikan. But it’s alright, terkadang pengalaman itu memang pahit. Anggap saja itu sebagai test drive yang akan menuntun kamu ke jenjang berikutnya. Mungkin kalau ada kesempatan, kamu bisa mewujudkan karir impianmu suatu hari nanti. Terlebih kalau kamu memang sudah punya bakat, skill atau basic pendidikan yang sesuai dengan karir impianmu. Yakinlah kalau sudah berusaha, Tuhan pun akan memberikan jalan.

Dunia kerja bagaikan dunia rimba. Ini bukan omong kosong lho! Ini berdasarkan pengalaman saya pribadi. Saat kamu memasuki dunia kerja, kamu tidak hanya berhubungan dengan pekerjaan kamu, tapi kamu juga otomatis berhubungan dengan orang-orang yang ada dalam pekerjaanmu itu. Ada atasan, rekan kerja, klien, konsumen dan sebagainya. Setiap profesi tentu berhubungan dengan masing-masing orang yang berbeda. Misalnya saya ini, yang notabenenya hanya karyawan swasta biasa. Saya tentunya akan selalu berhubungan dengan atasan atau rekan-rekan kerja saya. Dan tentunya atasan atau rekan-rekan kerja saya itu memiliki karakter yang berbeda-beda. Semua orang itu tentu gak akan selalu baik semua. Mungkin kamu akan ketemu sama atasan yang galak, rekan kerja yang mau enak sendiri atau rekan kerja yang suka cari muka. Sadarlah orang-orang seperti itu memang benar-benar ada. Kalau kamu tidak mempersiapkan diri sebelum memasuki dunia kerja, mungkin kamu akan langsung mental duluan. Kamu harus memiliki semacam antibody dalam menghadapi orang-orang seperti ini.  Jangan biarkan dunia kerja membutakan dirimu sehingga kamu menjadi orang yang sama sekali bukan dirimu. Well, niat kita bekerja bukanlah buat cari musuh, tapi buat cari uang. Kalau mau cari musuh mah tinggal gebukin tetangga sebelah aja. Oke, setiap orang mungkin punya ambisi. Tapi ambisi juga gak harus sampe segitunya juga kali! Masa cuma mau naik jabatan aja sampe gontok-gontokan sama rekan kerja, emang kamu gak yakin sama kualitas kerja kamu sendiri. Kalau kamu sudah berusaha bekerja sebaik yang kamu bisa, saya rasa kamu akan mendapat imbalan yang setimpal. Gak perlu cari muka di depan atasan atau berkompetisi secara gila-gilaan dengan rekan kerja. Dunia kerja memang seperti rimba, tapi ingat kamu ini manusia, bukan singa. Bekerjalah secara manusiawi dan tidak perlu saling memangsa. Pahami tujuanmu kenapa kamu harus kerja. Tentu kamu gak mau kehilangan pekerjaanmu hanya gara-gara pola pikirmu yang terlalu buas. Nyari kerja itu susah lho, gak sesusah nyari dosa hehe. Jadi, siapkanlah dirimu secara matang. Bekerja tidaklah selalu dengan otak atau tenaga, tapi juga dengan nurani, bukan dengan Nuraeni yah aha! Cuma kamu yang bisa menentukan karirmu. Ini demi masa depan kamu juga lho. Ingat, karir merupakan modal dasar utama seorang pria. Kalau kamu cuma berleha-leha, dijamin kamu gak akan bisa hidup lama.

“A carrier with a venereal disease can have many partners, but only those whose mental and physical immune systems are weak will be susceptible to it.” — Louise L. Hay

  1. LOVE

Well, everyone knows about this? Cinta. Yup. We need love. Ketika menginjak usia dua puluhan, tentunya kita harus lebih dewasa dalam membina suatu hubungan. Bagi yang single, tentu harus lebih selektif dalam mencari pasangan yang tepat. Kita sudah bukan anak remaja lagi. Gak ada lagi yang namanya cinta monyet. Seperti apa yang dikatakan Kakek Charles Darwin, monyet (atau kera) telah berevolusi jadi manusia hahaha. Begitu pun dengan cinta. Cinta merupakan sesuatu yang sangat ilmiah. Setiap otak kita perlu apa yang disebut sebagai hormon oksitosin, semacam hormon kebahagian yang akan disekresi ketika kita sedang jatuh cinta. Meski sama-sama melepas oksitosin, jatuh cinta dan orgasme jelas berbeda. Jatuh cinta dan hubungan percintaan tentu bukan hanya soal urusan fisikal. Dan saya akui, memiliki pasangan merupakan suatu cara untuk bahagia. Siapa sih yang gak ingin dicinta dan mencintai. Ini sangat alamiah sekali. Dan tujuan utama kita memiliki pasangan adalah untuk bahagia. Tapi tentu kita tahu, 100% bahagia dalam asmara itu sangat mustahil sekali.

 “We accept the love we think we deserve.” ― The Perks of Being a Wallflower

Ok, saat kita jatuh cinta, kita berpikir kita berhak mendapatkan cinta tersebut. Tapi seperti yang sudah saya katakan tadi, cinta merupakan suatu hal yang ilmiah, tapi cinta juga bukanlah suatu hal yang bisa dinilai secara eksakta. Hukum aksi reaksi seperti yang dikemukakan oleh Isaac Newton tidak berlaku dalam sebuah hubungan asmara. Gak semua rasa cinta kamu bakal dibalas dengan cinta juga. Isn’t it fair? Yup, we know it. Dan di umur yang sudah makin dewasa ini, kamu harus semakin faham akan segala konsekuensinya. Well, relationship is a beautiful bullshit. Menjalani sebuah hubungan adalah satu-satunya cara untuk memahami arti hubungan itu sendiri. Saya pikir proses pendewasaan hubungan percintaan itu bisa dilakukan hanya dengan menjalani proses hubungan percintaan itu sendiri. Jadi, jalani saja bro!

Dibutuhkan keseriusan lebih dalam membina suatu hubungan percintaan. Gak cuma asal nembak terus putus, broken heart and then galau. Sudah cukup untuk bereksperimen dengan hati wanita. Hati wanita itu bukan ati empela! Dan sepertinya kita pun dituntut untuk lebih mengerti akan mereka.

Wanita, ya wanita. Bagaimana pun memang sangat sulit untuk memahami makhuk penghasil estrogen itu. All the girls  always have a mystery, and sometimes the boys don’t understand about them. Wanita itu memang istimewa, tapi terkadang kita tak tahu banyak tentang dunia mereka.

Beberapa diantara kita banyak yang membina hubungan lebih baik saat menginjak usia 20an daripada saat remaja. Beberapa di antaranya bahkan sudah berani membuat keputusan untuk menikah, membina rumah tangga dan menjadi ayah. Oke, saya gak akan bicara soal pernikahan sekarang. Pernikahan merupakan sesuatu yang rumit dan saya belum seratus persen faham tentang hal itu. Saya rasa, wanita pada usia ini juga akan berpikir kompleks sama seperti kita. Mereka mengharapkan suatu hubungan yang lebih dari sekedar cinta-cintaan atau sayang-sayangan. Mereka butuh komitmen yang jelas. Dan pertanyaannya adalah, apa kita mampu memenuhi komitmen itu? Hmm.. is it hard? Maybe yes, maybe not. Or maybe we don’t know about that shit. Kebanyakan pria lebih memilih bersikap santai mengenai hal ini. Mereka lebih memilih menjalani suatu hubungan tanpa beban. Well, sebenarnya ini bagus. Tapi suatu hubungan memerlukan tujuan. That’s right.

Berpasangan adalah suatu hal yang naluriah. Setiap manusia dikodratkan untuk jauh dari kata sempurana. Setiap manusia diciptakan untuk saling melengkapi, dan inilah fungsi utama pasangan. Ada suatu kaidah yang berbeda antara istilah pacar dan pasangan, girlfriend or partner. Saya pribadi lebih nyaman dengan istilah pasangan. Menurut saya istilah itu terkesan lebih dewasa. Ini cuma pendapat saya pribadi lho. So, buat para pria single seperti saya, mari kita mencari pasangan yang tepat untuk kita.  We need a partner to share our heart and our life. Someone who can understand who the hell we are, someone special. Can we find her?

“In my opinion the best thing you can you do is find a person who loves you for exactly what you are. Good mood, bad mood, ugly, pretty, handsome, what have you, the right person will still think the sun shines out of your ass. That’s the kind of person that’s worth sticking with.” — Juno

Sebuah kutipan kocak dari salah satu film favorit saya, Juno. Tapi kutipan itu bener banget. Someone who you love must know anything you hate. Seseorang yang akan selalu mencintaimu bahkan saat saat kamu sedang bad mood atau saat kamu sedang kena bisul di pantat. So sudahkah kamu bertemu dengan pasangan hatimu? Let us find love!

  1. SEX

Yup sex! Oh come on, tidak perlu munafik! Kita tahu seks akan selalu ada dalam kepala pria muda seperti kita-kita ini. Menginjak umur 20an merupakan suatu tolak ukur kalau kita telah matang secara seksual. And we need sex! Yeah everybody knows, but it’s just in our mind. Sex bukanlah hal yang tabu selama kita membicarakannya dalam koridor ilmiah. Sex is a scientific thing. And we need to educate ourself about it.

Seks bagai semacam doping di otak kita. Tidaklah heran kalau banyak pria di usia ini yang ngebet pengen nikah muda. Kalau sudah siap, ya gak apa-apa sih. Tapi gimana dengan pria single atau pria yang sudah berpasangan tapi belum hendak menikah. Well, saya tidak menganjurkan free sex untuk kamu-kamu semua. Sebagai bangsa yang berbudaya timur, saya rasa free sex bukanlah solusi yang tepat untuk kita. So what about masturbating, fetish, jerking off or wanking? Hahaha those are so funny! Saya tidak menganjurkan ataupun menolak. Itu terserah kamu. Yang pasti seks harus dilakukan secara bertanggung jawab.  Bagaimanapun seks itu merupakan salah satu anugerah terindah yang diberikan Tuhan untuk manusia. Ya, manusia. Dan manusia beda dengan hewan. Camkan itu!

So, terus kita harus bagaimana? Sebenarnya ini merupakan sesuatu yang sangat mendasar. Kita harus melakukan apa yang disebut sebagai manajemen hormonal. Oh come on, our life is not only about sex right? Selain kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual, kamu juga harus memiliki kecerdasan seksual. Kamu harus mengenal dan bertanggung jawab terhadap tubuh kamu sendiri. Kamu harus bisa menaklukan naluri birahi kamu sendiri. Salah satu alasan kenapa banyaknya fenomena kehamilan di luar nikah di usia muda adalah karena mereka menganggap seks hanya sebagai insting dan spontanitas. Mereka tidak berpikir kalau seks adalah sesuatu yang sangat ilmiah. Ingat gak sama pelajaran Matematika tentang peluang dan kemungkinan? Dari sekian juta sel sperma yang meluncur menuju ovarium, kemungkinan besar beberapa diantaranya berhasil berpapasan dengan ovum. Besar kemungkinan kehamilan dalam setiap hubungan seks itu sangat tinggi sekali. Apalagi di masa-masa usia produktif seperti kita-kita ini. Fahami resikonya dong bro, jangan cuma asal enak aja. Remember! We’re not fucking animal! Kita ini bukan hewan yang bisa melakukan have sex sesukanya saat musim kawin tiba. Educate your self and educate your penis! LOL! Jangan cuma asal tembak saja. Setiap akibat pasti ada pula sebabnya. Kalau kamu gak mau acara kencan kamu menjurus ke arah hubungan seksual, ya jangan ngelakuin hal-hal yang bisa menjuruskanmu ke arah sana. Pacaran sewajarnya saja. Cukup pegangan tangan, jangan pegangan pangkal paha. Boleh ciuman sesekali, asal jangan ciuman sambil menggerayami. Boleh duduk berdekatan, asal jangan kebablasan. Berkencanlah secara bijak. Jangan biarkan otakmu dibajak. Dan bila kamu masih terus berpikir tentang seks? Just take some activities! Lakukanlah kegiatan posistif daripada sekedar berimajinasi soal Miyabi, Sasha Grey atau Asa Akira. Lho mereka itu siapa ya? Hehe. Lakukan kegiatan berguna seperti manjat pohon kelapa atau mengembala domba misalnya. Enggak deng bercanda hehe. Pada dasarnya sisi erotis dalam diri kita itu tergantung kitanya juga. Oke, kamu mungkin boleh bergaul dengan pornografi sesekali. Well it’s not really bad. Tapi jangan keseringan! Bergaul dengan pornografi itu sungguh sangat tidak keren bro! Inget efek sampingnya! Seorang pria sejati bukan hanya sekedar makhluk penghasil sperma. Seorang pria sejati adalah seorang pria yang nyaman dengan seksualitasnya dan tahu cara menggunakan serta mengontrolnya. Sadarlah, hormon testosteron akan selalu ada dalam tubuh kita sampai kita mati. Dan libido akan selalu datang bagai tukang bakso yang selalu berdagang keliling kampung setiap hari. Berdamailah dengan seksualitas yang ada dalam diri kamu. Jangan anggap hal itu sebagai sebuah beban utama. You don’t have to get an orgasm to lift your life up. Just take it easy! Sex isn’t terrible, so just thinking simple.

“Sex is a part of nature. I go along with nature.” — Marilyn Monroe

  1. SPIRITUALITAS

Sebenarnya poin ini harusnya ada di posisi utama. Tapi saya sadar materi adalah hal yang paling banyak memenuhi otak pria. Bahkan terkadang menyisihkan apa yang disebut sebagai sisi spiritual yang seharusnya mendapat porsi lebih di otak kita. Spiritualitas yang saya bicarakan di sini bukanlah hanya soal agama. Saya tidak menyuruh kamu buat jadi orang religius. Toh saya juga bukan orang religius kok. Saya bicara spiritualitas dalam arti universal. Spiritualitas adalah sebuah tatanan pikiran, sebuah pedoman hidup yang akan menuntunmu ke arah yang lebih baik. Semacam lampu pijar yang ada di kepala kamu yang akan menuntun jalan hidupmu. Oleh karena itu kita perlu spiritualitas sebagai pegangan hidup kita. Seseorang yang dewasa adalah seseorang yang tahu akan sisi spiritual dalam dirinya. Dia tahu apa arti eksistensi dirinya saat hidup di dunia. Dia sadar akan tujuan hidupnya, apa yang harus ia lakukan, bagaimana cara berinteraksi dengan sesama, membedakan mana yang baik dan yang buruk dan definisi kaidah-kaidah hidup lainnya. Jadi, inilah yang harus kita cari! Spiritualitas! Inilah saatnya kamu menggunakan kecerdasan spiritualmu. Untuk kamu yang religius mungkin bisa mencarinya dalam agama yang kamu anut, untuk yang merasa tidak religius, kamu bisa mencarinya secara bebas dalam kaidah kehidupanmu sehari-hari. Sepertinya terdengar abstrak, tapi memang itulah spiritualitas. Spiritualitas bukan hanya sekedar hubungan kita dengan Sang Pencipta. Spiritualitas bukanlah sesuatu yang mistis. Spritualitas bukan hanya membicarakan keimanan atau kehidupan di akhirat kelak. Spiritualitas bukan hanya soal ritual peribadatan.

Seperti yang saya bilang, saya bukanlah sosok yang terlalu religius. Jadi orang religius emang oke, tapi gak semua orang religius bisa bersikap kece. Mentang-mentang religius lalu kamu bisa menjudge orang sesukamu. Mencampuri urusan orang yang tentu saja bukan urusanmu. Berlagak kalau kepercayaan yang kamu anutlah yang paling benar dan semua orang yang “berbeda” menurut kriteriamu lalu dijudge salah. Hmm… sebenarnya kamu ini manusia bukan sih? Gak nyadar kalau setiap manusia itu berbeda? Mentang-mentang kamu merasa benar lalu kamu bisa dengan mudahnya menyalahkan orang lain. Hey, hidup ini bukan cuma untuk kamu doang! Semua orang di sekitarmu juga hidup dan mereka memiliki isi pikiran yang berbeda-beda. Jangan diseragamkan! Oke, setiap orang tua mungkin menginginkan anaknya supaya jadi orang sholeh. Orang sholeh diibaratkan sebagai orang sempurna yang punya kecerdasan spiritual tinggi. Terus kalau gak sholeh bagaimana? Apa jadi orang yang “tidak sholeh” itu salah? (mohon maaf bila ada pembaca yang bernama Sholeh, saya sama sekali tidak berniat menyinggung anda hehe). Hey, hidup ini gak selalu harus mainstream kali! Ada banyak sekali orang baik di dunia ini dan mereka tidak memenuhi kriteria sebagai orang sholeh. Tapi anehnya mereka mampu bersikap sama bijaksana atau bahkan lebih bijaksana dari orang sholeh. Alright, mungkin orang yang sholeh atau religius akan selalu dianggap memiliki kehidupan spiritual yang mapan, tapi jangan anggap kalau orang-orang yang tidak memenuhi kriteria sholeh tidak memiliki kehidupan spiritual yang sama mapan. Everyone can take the lead of their soul.

“Enlightened leadership is spiritual if we understand spirituality not as some kind of religious dogma or ideology but as the domain of awareness where we experience values like truth, goodness, beauty, love and compassion, and also intuition, creativity, insight and focused attention.” — Deepak Chopra

Seseorang yang punya kehidupan spiritual yang mapan tentu akan memiliki pola pikir yang lebih dewasa. Ia tentu akan bisa menghadapi setiap masalah hidupnya dengan lebih bijaksana. Setiap masalah gak bisa diselesaikan hanya dengan adu bacot atau adu otot. Mentang-mentang mau dibilang perkasa, terus kamu bisa adu otot sesukanya. Emang kamu ini Mike Tyson? Ayolah, kamu punya otak kan? Kamu bisa berpikir dengan kepala dingin. Sikap emosinal atau temperamental bukanlah hal yang patut kamu pamerkan. Ingatlah kalau setiap orang akan selalu menilai sikapmu. Tapi bukan berarti pula kamu harus jaga image melulu. Kamu hanya perlu mengontrol diri. Hidup gak akan selalu lurus. Kita tahu itu. Ada kalanya kita hepi, ada kalanya kita marah, sedih atau bahkan galau. Kalau kamu bisa mengontrol diri dan sudah faham dengan sisi spiritual kamu, saya rasa kamu akan tahu cara yang tentunya lebih baik dalam menghadapi naik-turunnya hidup kamu. Well, life is a timeless learning. Ketika kita menyadari arti diri secara batiniah, maka kita sudah menaikan kualitas dunia spiritual kita. Merenungi diri secara kritis dan memahaminya sebagai suatu kesatuan individual yang kompleks akan membuatmu lebih tenang dalam menentukan haluan hidupmu. Berusahalah untuk selalu bersikap bijak. Benar-benar bijak bukan hanya sok bijak atau berlagak bijak lewat meng-copy paste kutipan bijak di social media.

“Happiness cannot be traveled to, owned, earned, worn or consumed. Happiness is the spiritual experience of living every minute with love, grace, and gratitude.” — Denis Waitley

  1. FINANCIAL

Ngomongin financial, pastinya ngomongin duit. Tiap manusia butuh duit, termasuk pria-pria muda kayak kita ini. Saat kita sudah memasuki dunia kerja, tentu kita sudah punya penghasilan sendiri. Yup kita sudah bisa menghasilkan uang a.k.a, duit. Makin nambah usia, makin nambah pula kebutuhan hidup. Sebagai pria lajang yang masih belum nikah, tentu kamu belum punya tanggungan sebesar pria-pria yang sudah menikah. Tapi anehnya, entah kenapa justru pria-pria lajang yang cenderung lebih boros. Oke mungkin untuk pria yang sudah menikah, mereka punya isteri yang sekaligus bisa jadi manajer keuangan pribadi. Tapi tetap saja bro, kebutuhan mereka itu lebih gede. Beli kebutuhan sembako, bayar tagihan listrik, beli susu dan lain-lain. Sedangkan kita, apa coba? Mungkin ada sebagian pria lajang yang juga menjadi tulang punggung keluarganya. Mungkin kita bisa kesampingkan hal itu. Tapi banyak pula pria lajang yang hidup mandiri tanpa tanggungan, tapi boros dalam soal keuangan. Apakah kamu termasuk salah satunya? Hmm.. tidak tahu kenapa, hal macam ini memang selalu ada. Pria-pria usia 20an cenderung belum bisa mengatur keuangannya secara bijaksana. Saya akui itu. Ok, di usia 20an seperti kita ini adalah masa yang tepat untuk memuaskan diri. Ingin beli itulah, beli inilah. Ingin main ke sana ke mari. Pokonya puas-puasin diri sepuasnya. Saya akui hal ini sebagai gejolak kawula muda. Tapi kita gak akan selamanya muda lho! Emangnya kita ini vampir? (langsung berlaga sok cool ala Edward Culen hehe).

Jangan Cuma bisa ngabisin uang sesukamu. Ingat masa depanmu bro! Emangnya kamu ingin nelangsa di hari nanti. Kamu harus bisa mengatur keuanganmu pribadi. Tapi bukan berarti pelit lho. Cowok pelit kelaut aja masbro! Ingatlah, kamu telah bekerja keras untuk mendapatkan uangmu itu. Terus apa kamu gak sayang ngabisin uangmu sampe kerak-keraknya. Kamu gak perlu berkonsultasi sama ahli keuangan profesional. Menurut saya, setiap manusia sudah berevolusi sejak zaman purba menjadi ahli keuangan secara naluriah. Tak ada satupun manusia modern di dunia ini yang tidak pernah bersentuhan dengan uang. Maka kita dituntut harus bisa mengaturnya. Dan kita bisa mengaturnya sendiri tanpa perlu bantuan orang lain.

Dari sekian banyak kebutuhan kita, pasti ada beberapa kebutuhan yang menjadi prioritas. Kalau bisa, ya emang seharusnya bisa sih. Kalau bisa sisihkan penghasilanmu untuk ditabung. Atau kalau kamu emang bener-bener serius sama finansial masa depanmu, kamu bisa mulai belajar berinvestasi secara kecil-kecilan. Yang pasti kamu harus menyisihkan sebagian penghasilanmu. Kamu punya impian masa depan kan? Ada yang pengen nikah, beli rumah, ngelanjutin kuliah atau mungkin pengen buka usaha. Kamu juga gak selamanya dalam keadaan sehat. Adakalanya kamu sakit atau kena musibah, seperti kecelakaan misalnya. Well, semua itu bisa terjadi secara tak terduga dan semua itu membutuhkan biaya. Minta sama orang tua aja! Emang gak malu? Kamu itu sudah gede masbro. Gak malu sama buah jakun segede bola pingpong di lehermu? Masa apa-apa langsung ngibarin bendera putih sama ortu. Kamu juga gak mau kan pinjam sana-sini demi menutupi biaya-biaya tak terduga ini. Bisa-bisa kamu bangkrut. Inilah gunanya kalau kamu bisa menyisihkan penghasilan. Meskipun mungkin gak sebesar seperti yang diharapkan, tapi minimal bisa menutupi sebagian dari biaya kondisi-kondisi ungent seperti di atas.

Jangan mau diperbudak uang. Kamu yang menghasilkan uang, maka kamu sendiri yang mempunyai otoritas penuh atas uangmu (silakan cek postingan lama blog saya yang menjelaskan hal ini). Kita ini masih muda bro. Hidup kita masih panjang –anggap aja memang begitu. Jangan sia-siakan begitu saja rupiah yang kamu hasilkan dari jeri payahmu. Kamu harus bisa menaklukan isi dompetmu. Otakmu adalah sebuah kalkulator alamiah. Gunakanlah otakmu untuk mengatur kehidupan finansialmu.

“Greed is not a financial issue. It’s a heart issue.” — Andy Stanley

 

Okay, that’s all! Itulah 5 poin penting yang selalu ada dalam kehidupan pria-pria umur 20an seperti kita. Carrier, love, sex, spiritual and financial. Kompleks dan penuh lika-liku memang, tapi ya emang beginilah adanya. There’s a lot of thing inside of our head. Ada banyak hal yang harus kita jalani dan pelajari. Ada jutaan ekspektasi, ribuan mimpi dan miliaran masalah yang akan datang silih berganti. Ada suka, duka, canda, tawa tapi saya harap kamu tidak cengeng karena kamu ini seorang pria. Jadi sekarang tergantung kamu masbro! Bisakah kamu memenuhi poin-poin di atas itu? Well, gak usah terlalu terburu-buru juga sih. Enjoy aja, jangan merasa terbebani. Enjoy tapi terarah ya! Nikmati masa mudamu dengan bijaksana. Hidup Cuma sekali, muda juga sekali. Kamu gak akan ketemu sama masa mudamu lagi. Marilah mulai belajar menjadi pria dewasa, bukannya malah jadi pria yang hobi nonton film dewasa. Berumur dua puluhan bukanlah soal nilai angka. Twenties is not about 20s. We’re always growing up. And all grown up absolutely! So grow your brain and your heart too, young gentlemen! You are 20 young gun!! You’re not 20 young dumb! 🙂

image

Who me? Alien baby?

Am I an alien?
A strange creature or unidentified fuckin human?

Pertanyaan absurd itu selalu muncul dalam benak saya ketika masih kecil. Saya anak yang pendiam. Saya kurang bisa membaur dengan lingkungan sekitar. Saya gak suka banyak bicara. Ketika kumpul dengan keluarga besar, saya lebih senang berdiam diri di kamar. Di tengah keriuhan kelas, saya lebih sering duduk mengasingkan diri hanya dengan krayon dan kertas gambar. Saya ini sebuah paradoks. Teman-teman banyak yang menganggap saya sombong dan arogan karena dinilai tak mau bergaul dengan sesama. Tapi kenyataannya saya tidak begitu. Ini sungguh membuat saya tertekan dan membuat saya semakin terasingkan. Ini sungguh menyakitkan. Kenapa saya berbeda dari mereka? Siapakah saya? Apa saya ini makhluk asing yang turun dari planet antah berantah? Mungkinkah saya ini alien seperti yang sering saya tonton dalam film-film fiksi ilmiah?

Pertanyaan konyol itu terus berlanjut hingga saya remaja dan kini beranjak dewasa. Saya masih mengasingkan diri dari dunia luar. Saya masih begitu nyaman dengan dunia saya sendiri. Dan saya masih belum tahu siapa diri saya sampai suatu hari saya membaca sebuah artikel yang bisa menjelaskan kepribadian saya. Ya, kepribadian yang dibahas dalam artikel itu benar-benar sangat cocok dengan kepribadian saya. Introvert, itulah saya. Dan mungkin juga untuk kamu-kamu yang punya kepribadian seperti saya. Ternyata saya tidak sendiri. Ternyata saya ini bukan makhluk asing yang berasal dari planet Pandora. Ternyata saya ini memang manusia. Tapi jenis manusia langka yang konon katanya hanya ada 20% dari populasi manusia yang ada di dunia.

Kepribadian introvert adalah kebalikan dari extrovert. Satu sama lain memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Orang extrovert cenderung membuka diri sedangkan orang introvert sebaliknya. Ibarat bumi dan langit, kedua kepribadian itu membuat karakter manusia menjadi semakin berwarna. Semua saling mengisi. Semua istimewa,. Tapi kali ini saya cuma ingin membahas kepribadian yang kedua, yakni introvert. Kepribadian saya, dan mungkin kepribadian kamu juga.  

Menurut beberapa artikel studi ilmiah yang sempat saya baca, orang introvert itu cenderung mudah depresi. Sebagian diantara mereka gak bisa menerima diri sendiri. Kesendirian mereka bisa menjadi boomerang pribadi. Mereka tak tahu bagaimana cara berbagi. Mereka cenderung menyalahkan diri dan bahkan bisa berakhir dengan menghilangkan nyawa sendiri. Wuihh… serem! Jujur, saya juga sempet yang namanya depresi. Ini gila. Kita seakan ingin mengutuk diri sendiri. Kenapa sih saya dilahirkan ke dunia ini? Lebih baik saya diaborsi. Saya takut hidup sendiri. Terisolasi dari planet bumi. Bahkan saya berharap untuk diculik oleh alien ke planet lain dan tinggal di dunia yang tidak menuntut saya untuk bersosialisasi. Cuma saya yang mengerti saya sendiri. Eksistensi saya seperti sudah ditelan bumi.

Introvert itu menyebalkan? Entahlah.  Setelah saya coba googling dengan kata kunci introvert, saya banyak menemukan tulisan menakjubkan yang membahas tentang kepribadian unik itu. Banyak orang-orang keren di dunia ini yang ternyata seorang introvert. Yay, that is true!!! Bill Gates, Mahatma Gandhi, JK Rowling dan Steve Jobs adalah contohnya. Sebagian besar orang-orang introvert adalah orang-orang yang penuh kreatifitas tinggi. Pemikiran mereka adalah sebuah manifestasi. Karena mereka cenderung menutup diri, maka ide-ide yang meluncur dari pemikiran mereka cenderung lebih tereksplorasi. Meskipun mereka minim dalam berinteraksi tapi mereka sangat pandai dalam memaksimalkan bakat dan potensi yang mereka miliki. Introversi adalah sebuah investasi. Ini terbukti.

Introversion is “the state of or tendency toward being wholly or predominantly concerned with and interested in one’s own mental life”. Some popular writers have characterized introverts as people whose energy tends to expand through reflection and dwindle during interaction. (sumber : wikipedia)

Menjadi introvert bukan suatu pilihan. Jujur, saya sempat tidak mau memilih introvert sebagai jati diri saya. Tapi mau gimana lagi, wong ini udah dari sononya begitu. Biarkan orang-orang menjudge saya, saya memang begini apa adanya. Do we suck? No! Like what I said, we’re just different. Menjadi pendiam itu bukan kutukan. Kita tidak selamanya terasingkan. Ada kalanya kita cerewet dan tertawa terbahak-bahak dengan teman-teman dekat kita. Orang introvert memang cenderung memiliki sedikit teman. Meskipun sedikit, tapi berkualitas karena teman mereka adalah teman-teman dekat atau sahabat yang bisa dipercaya. Dan saya akui itu. Saya punya beberapa teman SMA yang masih eksis sampai sekarang. Ketika bersama mereka, saya benar-benar merasa jadi diri saya. Mereka tahu baik buruknya saya. Saya bisa bercanda dan tertawa lepas bersama mereka. Ini sungguh kontras bila saya berada di tengah orang-orang yang berbeda. Saya merasa normal seperti anak muda pada umumnya.

Orang introvert itu mungkin terlihat cuek. Tapi di balik kecuekannya itu mereka memiliki “kekepoan” yang luar biasa. Dalam kesendirian, mereka senang membaca. Poin ini kembali saya akui. Ketika waktu senggang, saya lebih suka menyibukkan diri dengan googling atau browsing. Mulai dari membaca informasi gak penting sampai informasi yang benar-benar penting. Mungkin mereka sering terlihat bego kalau berinteraksi dengan lingkungan sekitar, tapi sebenarnya mereka memiliki wawasan yang sangat luas! (Wuih, mulai sombong nih hehe!). Cuman sayangnya mereka kurang bisa mengungkapkan kepandaian mereka. Semua itu karena terbatasnya kemampuan lisan mereka. Eits, tapi jangan salah lho! Mereka bisa jadi pembicara yang luar biasa ketika dihadapkan dalam sebuah forum resmi. Ketika masih sekolah, saya suka sekali mengikuti lomba pidato atau debat. Saya senang berbicara di depan kelas, terutama saat saya menguasai materinya. Sampai sekarang pun masih begitu. Saya sangat senang berbicara dalam seminar, beradu argumen dalam forum biasa atau di dunia maya dan berbicara dalam sebuah wawancara kerja. Saya bisa bersuara. Ya, tapi bukan buat basa basi semata. Dan satu hal lagi, orang introvert juga cenderung lebih aktif di dunia maya. Jangan heran kalau mereka lebih cerewet di jejaring sosial. Mereka memang lebih nyaman mengungkapkan segala sesuatu dengan tulisan. Buktinya saya hehe… Saya senang sekali menulis seperti tulisan yang sedang kamu baca ini. Saya suka sekali ngeblog, nulis artikel atau cerita fiksi. Saya lebih senang mengungkapkan pemikiran dalam ketikan kata-kata. Makannya jangan heran kalau banyak orang introvert yang jadi penulis atau ahli filsafat. Penulis dan filsuf seperti Plato, Jean-Paul Sartre, Friedrich Nietzsche atau Milan Kundera adalah contohnya. Mereka besar dengan tulisan mereka yang fenomenal, bahkan kontroversial.

Ya, begitulah introvert. Terkadang pemikiran mereka agak berbeda dari pemikiran kebanyakan orang. Mereka orang yang sangat prinsipal dan memandang hidup secara esensial. Pemikiran mereka cenderung masuk ke dalam. Terkadang, mereka tak mau mengikuti alur hidup orang kebanyakan. Pemikiran mereka jauh dari kata mainstream. Mereka adalah para pemikir abstrak yang tak mudah dijebak. Mereka tidak mudah terpengaruh oleh orang lain. Tapi mereka juga tak akan berusaha untuk mempengaruhi orang lain. Orang lain akan terpengaruh dengan sendirinya tanpa orasi basa-basi. And it’s naturally! Not artificial or officially. Just go flow and simply.

Ternyata karakter introvert gak seburuk yang kita duga. Di balik kelemahannya, seseorang yang introvert ternyata bisa mengubah dunia. Memang semua itu tidak bisa terjadi secara radikal, tapi jangan remehkan kemampuan mereka. Mereka bisa sangat mengejutkan dalam sebuah kesempatan. Buat kamu yang merasa introvert, berikut ini berapa alasan kenapa kamu harus berbesar hati (tapi jangan untuk menyombongkan diri tentunya) menjadi seorang introvert :

1. Orang introvert itu mandiri
We’re not an individualist! Kita cuma senang menyendiri. Orang introvert lebih senang mengerjakan segala sesuatu sendiri. Mereka tak akan meminta bantuan orang lain selama masih bisa mengerjakannya sendiri. Mereka tak ingin terikat oleh apapun. Bantuan orang lain adalah sesuatu yang sangat mahal bagi mereka. Mereka tak ingin menyusahkan orang lain untuk alasan yang sepele.

2. Orang introvert itu mempunyai toleransi yang tinggi
Siapa bilang mereka cuek dan arogan? Justru dibalik sifat diam mereka ada suatu empati. Mereka lebih baik mengalah daripada harus terjadi konflik. Mereka sangat menghargai kehadiran orang-orang yang ada di sekitar mereka. Mereka akan membiarkan orang lain bicara terlebih dahulu dalam berargumentasi. Tapi jangan harapkan mereka kalah dalam beradu argumentasi. Mereka cuma tak ingin mengacau. Sangat pantang bagi mereka untuk membuat seseorang sakit hati. Karena mereka akan sangat merasa bersalah bila itu terjadi.

3. Orang introvert itu punya idealis tinggi
Seperti yang saya bilang tadi, introvert itu prinsipal sekali. Mereka akan melakukan apapun untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Mereka cenderung obsesif dan tidak mudah digoyahkan oleh pemikiran sekilas.

4. Orang introvert itu kreatif
Karena mereka lebih senang memikirkan segala sesuatu sendiri, maka ide-ide yang keluar dari pikiran mereka pun cenderung orisinil. Kebanyakan mereka cocok bekerja dalam bidang kreatif seperti seni atau sains yang memiliki tingkat orisinalitas yang tinggi.

5. Orang introvert itu loyalis
Yap, mereka akan selalu berpegang  teguh dengan apa yang mereka yakini. Mereka adalah sahabat yang setia. Mereka akan menjadi karyawan yang loyal bila mereka dipercaya dan dihargai.

6. Orang introvert itu peduli
Tidak banyak yang tahu akan hal ini. Mereka itu sebenarnya peduli. Mereka akan melakukan apapun untuk orang yang mereka sayangi. Mereka akan selalu siap membantu siapa pun juga. Hanya saja mereka tak ingin bantuan atau pertolongan mereka diketahui orang lain. Mereka tidak mau semua orang tahu karena mereka tidak ingin menonjolkan diri. Menonjolkan diri membuat mereka tak nyaman. Menjadi pusat perhatian adalah sebuah beban. Mereka hanya ingin mengulurkan tangan. Tak ada niat lain selain untuk memberi pertolongan. 

Itulah beberapa kelebihan orang introvert yang saya ketahui. Kita memang punya banyak kekurangan, tapi kita juga punya kelebihan yang sangat berpotensi. Saya cuma ingin mensyukuri apa yang telah Tuhan beri. Saya tidak ingin meninggikan hati. Ini cuma sebuah bentuk motivasi diri. Saya bukan alien atau makhluk asing lagi. Well, anggap saja itu hanya sebagai buah pemikiran imajinatif semata. Tapi alien juga makhluk Tuhan kan? Saya gak peduli dengan para pemikir materialis yang memperdebatkan hal ini. Alien atau bukan, yang penting kita mencintai diri kita sendiri

Okay, I’m not an alien. Nor an alien in human body. No matter what they say, people will always judge. So I just have to smile and relax, I’m just an introvert and now, I’m really proud of it. Excactly!! 🙂

(Sumber gambar : google)

image

Bau gosong menyeruak. Kepulan asap memenuhi kosan. Astaga, Panji lupa kalo ia lagi ngerebus air! Kilatan api kompor membesar. Ia langsung sigap mengambil panci yang dipake buat ngerebus air. Alamak, pancinya gosong! Ia celingak-celinguk mencari kain lap tapi ia tak menemukannya. Dan entah kenapa ia langsung mengambil keputusan spontan untuk melepaskan celana boxer yang sedang dipakainya.

Mendengar keributan yang terjadi di kosan Panji, ibu kos langsung masuk ke dalam kosan yang dibayar Rp 300 ribu perbulan itu.

“Waaa…!!!” Ia berteriak kencang begitu melihat kejadian langka yang terjadi di depannya. Panji menenteng panci gosong dengan celana boxernya sementara celana dalam Hello Kitty yang sedang dipakainya dibiarkan diobral kemana-mana.

“Hehe, maaf Bu,” ucap Panji dengan muka memerah.

Skandal paling memalukan telah terjadi. Panji berdiri kayak patung helo kitty. Tapi bukan itu yang membuatnya berkecil hati. Pancinya kini bolong. Dan itu adalah sebuah tragedi yang sungguh tidak manusiawi –atau lebih tepatnya pancisiawi.

“Lo kenapa, Ji? Kok melamun mulu?” tanya Dodo ketika mereka duduk-duduk di warung siomay Pak Mudi.

“Panci gue bolong, Do.”

“Panci bolong?” Dodo terbatuk-batuk tersedak siomay. Gara-gara panci bolong, tenggorokannya langsung terkaget-kaget.

“Iya, panci gue bolong.”

“Panci bolong aja dipikirin. Lo ini gimana sih!”

“Habis panci itu kan mau dipake buat ospek nanti!”

Panji dan Dodo baru masuk kuliah di salah satu universitas swasta di Bandung. Besok adalah hari pertama ospekya dan panci adalah salah satu atribut yang harus dibawa sebagai pelindung kepala.

“Oh, iya. Untung gue udah ada. Kalo panci lo bolong, beli yang baru aja. Apa susahnya sih!”

“Itu dia! Gue gak punya duit. Pinjemin gue duit dong, Do!”

“Gue lagi bokek. Kenapa lo gak pinjem panci ke ibu kos aja sih?”

“Udah, tapi pancinya gak muat di kepala gue. Cuma panci itu aja yang pas sama kepala gue. Terus gue mau gimana dong? Lo punya ide gak?”

“Lo tambal aja pancinya.”

“Ditambalnya sama siapa?”

“Sama Pak Jokowi! Ya, jelas sama elo lah! Hari gini mana ada tukang patri. Yang ada cuma tukang odong-odong sama tukang kredit bikini.”

“Emang ada tukang kredit bikini.”

“Ya adalah, kemarin gue udah beli. Eh, kok…” Dodo nelen ludahnya sendiri. “Ketahuan deh gue,” pikirnya dalam hati.

“Terus, nambalnya pake apa Do?

“Ya paket penambal panci! Masa paket penambal gigi?”

Dodo bersedia membantu Panji menambal panci. Dengan peralatan penambal panci yang dibeli dari pasar loak, panci bolong pun bisa diakali.

Hari pertama ospek pun tiba. Panji sudah menyiapkan segala peralatan perangnya. Revolusi hidupnya akan segera dimulai. Bocah ingusan itu akan segera menjadi mahasiswa.

Halaman kampus sudah dipenuhi mahasiswa baru lengkap dengan panci-panci mengkilap yang menutupi kepala mereka. Ada sebuah panci yang agak mencolok di tengah kerumunan itu. Itulah panci yang dipakai Panji. Panci gosong lengkap dengan tambalan dari alumunium foil. Meski sadar ia telah menjadi sorotan tapi ia tak mau peduli. Ia berdiri dengan penuh percaya diri. Ia masih memakai seragam SMA dengan sepatu kets bladusnya. Saat ia menoleh ke bawah ia tersadar simpul tali sepatunya terlepas. Ia langsung menunduk untuk ngebenerin. Tapi gak sengaja, kepalanya yang ditutupi panci gosong malah nyenggol pantat cewek di depan. Cewek itu segera berbalik. Maka terjadilah momen pertemuan dua panci berbeda kondisi. Yang satu merupakan panci baru dengan bahan alumuniun berkualitas tinggi dan yang satu lagi tentu saja panci gosong dengan pantat bolong yang sudah ditambali.

“Ma..maaf,” ujar Panji tersipu malu.

“Oh, gak apa-apa kok!” cewek itu tersenyum. Gila, cewek itu cantik banget! 75 persen mirip Nikita Willy dan 25 persen mirip Selena Gomes campur Taylor Swift. Panji ngiler terpesona luar biasa. Tapi tiba-tiba semua itu terganggu oleh suara toa dari kakak senior yang memanggilnya.

“Hey, kamu! Yang pake panci gosong!” teriak kakak senior langsung memekakan telinga. Bisa-bisa budeg berjamaah nih! Panji terkaget dan langsung melihat ke depan. Yang make panci gosong cuma dia seorang. “Maju sini!”

“I..iya, Kak.” Panji semakin menjadi sorotan. Ia berjalan ke depan menghadap kakak senior dengan penuh deg-degan. Gelak tawa menyeruak. Dalam sekejap, ia sudah menjadi superstar di kampus barunya.

“Kamu tahu kan? Dilarang bicara saat senior memberi pengarahan!”

“Ta..tau, Kak…”

“Apaaa?”

“Tau, kak…”

“Apaaaa?”

Ini orang budeg ya? Mungkin kebanyakan dengerin suara toa kali ya!

“Saya tau, Kak.”

“Nama kamu siapa?”

“Panji, kak.”

“Panci?”

“Panjii!”

“Pancii?”

“Panji, Kak!”

“Banciiii?”

Semua orang yang ada di lapangan langsung berkata serentak, “Hah, banciii???”

“Bukan, bukan! Saya bukan banci, saya Panci. Eh, Panji!”

“Banci panci???”

“Banci jualan panciii?” ujar semua orang yang ada di lapangan, serentak mengulang.

“SAYA PANJIIII…!” Panji berteriak kencang. Semua orang langsung memperhatikan. “DAN SAYA BUKAN BANCI YANG JUALAN PANCI! WALAUPUN SAYA PAKE PANCI BOLONG KAYAK GINI, BUKAN BERARTI NAMA SAYA PANCI. PANCI DAN BANCI ITU BEDA ESENSI. MESKI PANCI TERLAHIR DENGAN PANTAT MENGKILAT TAPI PANTAT PANCI GAK SESEKSI PANTAT BANCI, APALAGI PANTAT PANJI. SEKALI LAGI, NAMA SAYA PANJI! BUKAN PANCI ATAU BANCI!”

Semua orang tercengang. Sebuah orasi ideologis menghentakkan semua mata dan telinga.

“Panci! Panci! Panci!” seru semua orang terdengar seperti sebuah teriakan slogan kampanye partai politik. Kalau didengar sekilas seperti seruan ‘Nazi! Nazi! Nazi’. Gila! Gara-gara panci, Panji udah kayak Hitler aja! Apa dunia beneran mau perang ya?

Dan tiba-tiba saja hujan deras turun tanpa diundang. Buyar sudah orasi politik dadakannya. Semua orang lari tunggang langgang ke luar lapangan, tapi Panji masih bertahan. Ia gak berdiri sendirian. Rupanya cewek cantik yang tadi juga masih berdiri hujan-hujanan. Ia melepaskan panci di kepalanya dan menyerahkannya pada Panji.

“Pake panci aku aja. Tambalan pancimu lepas, kepalamu keujanan tuh.”

“Ta..tapi kamu?”

“Aku gak apa-apa kok! Kamu satu-satunya cowok di planet ini yang terlihat seksi kalo pake panci. Kamu seksi.”

Panji senang bukan main. Ia langsung memakai panci itu. Dan sesaat setelah itu tiba-tiba petir menyambar kepalanya.

Duaaar…. semuanya pun jadi gelap seketika.

* * * *

“Aku tak mau kalau aku dimadu….”

Suara nyanyian banci yang lagi ngamen di depan kosan langsung membangunkan Panji dari mimpi anehnya. Matanya terbuka. Bau gosong menyeruak. Astaga, Ia lupa kalo lagi masak air. Panji berteriak kencang dan banci yang lagi ngamen di depan kosan pun langsung lari tunggang langgang.

* * * *

image

Absurd dan absurditas, apa yang ada di benak kamu begitu mendengar dua kata ajaib itu? Absurditas bisa diartikan sebagai keanehan, keganjilan atau ketidaknormalan yang berbeda dari pandangan kebanyakan orang. Absurditas adalah padanan lain dari abnormalitas. Banyak orang yang menganggap keabsurditasan sebagai suatu bentuk penentangan terhadap norma yang berlaku di masyarakat. Maka jangan salah bila banyak pemikiran absurd dianggap sebagai suatu bentuk pemberontakan yang mengganggu stabilitas fatwa “kenormalan”. Padahal keabsurditasan adalah sebuah identitas. Absurd itu beda. Dan setiap orang itu beda.

Banyak tokoh dunia yang dikenal karena pemikiran absurd mereka. Siapa yang tak mengenal Albert Einstein yang menggemparkan dunia dengan teori relatifitasnya. Nicolaus Corpenicus sempat dianggap aneh oleh gereja Katholik Roma karena pandangan Heliosentrisnya. Gusdur, Abraham Lincoln dan Mahatma Gandhi pun tak luput dari label miring masyarakat yang menganggap mereka gila dengan pendapat pendapatnya. Charlie Chaplin dan Mr. Bean mungkin tak akan dikenal kalau penampilan mereka di depan publik biasa-biasa saja. Lady Gaga dan Madonna mungkin cuma wanita biasa kalau tanpa embel-embel kontroversi penampilan nyentrik mereka. So, what the shit is absurdity?

Bagi mereka yang bangga dengan kenormalan, mereka akan dengan mudah menjudge siapa saja yang berbeda faham dengan mereka. Apakah kenormalan itu layak diagungkan? Apakah Tuhan benar-benar menciptakan kenormalan dengan yang senormal-normal hingga menyangsikan keabsurditasan? Saya kira tidak. Jika kita menengok cerita para nabi, maka kita pun tak akan bisa terhindar dari keabsurditasan. Ajakan mereka untuk mengarahkan manusia pada jalan kebaikan sering dianggap absurd oleh masyarakat yang hidup di zamannya. Nabi Ibrahim As. sempat dianggap pemberontak oleh kaumnya karena menghancurkan berhala. Nabi Isa As. dianggap aneh karena bisa dilahirkan ke dunia tanpa kehadiran seorang bapak. Begitu pun dengan Nabi Muhammad Saw. Beliau sempat dianggap gila karena melakukan Isra Mi’raj yang menurut sebagian besar orang sebagai suatu kemustahilan. Bukankah semua itu absurd? Bukankah semua itu bukti keabsurditasan Tuhan yang telah dilimpahkan pada umat-Nya. Semua keabsurditasan itu hanya bisa dijawab dengan keimanan. Semua absurditas itu akan menimbulkan konflik yang berkepanjangan bila tidak dicerna dengan hati lapang. Dan apabila kita masih dengan sombongnya menghakimi pemikiran absurd seseorang, apakah kita tak sadar kalau kita juga berasal dari keabsurditasan?

Tak akan ada kenormalan bila tak ada keabsurditasan. Normal bermula dari absurd dan absurd adalah cikal bakal kenormalan. Keabsurditasan adalah suatu komoditas yang ada dalam diri setiap orang. Absurditas adalah komoditas individu untuk berkarya secara berbeda. Manusia itu sungguhlah absurd karena Tuhan juga menciptakan mereka dalam keadaan absurd. So, are you still thinking that you so absolutely normal? Please don’t intimidate me cause God makes us absurd, baby!