Archive for the ‘Teenage Fiction’ Category

image

You, me, and the equator line

Jarum jam baru menunjukkan pukul tujuh pagi tapi matahari seperti sudah menapaki bumi. Panas sudah menyengat. Sebagian tubuh sudah berkeringat. Ya, beginilah kalau kita sedang berada di pusat urat bumi. Laju rotasi terasa begitu cepat. Setiap menit dan detik terasa begitu singkat.

Upacara bendera seperti dilaksanakan di atas kubangan magma. Rian terus berusaha berdiri sekuat tenaga. Kepalanya pening dan tubuhnya mulai bereaksi tak biasa. Iringan lagu Indonesia Raya semakin membuat kepalanya terasa berat. Tubuhnya oleng. Kesadarannya hilang seketika.

Mata Rian terbuka. Ia berbaring di atas tempat tidur. Dilihatnya langit-langit ruang UKS yang putih temaram. Seorang gadis tampak berdiri di sampingnya sambil meracik obat. Dari seragam yang dipakainya, Rian tahu kalau dia seorang petugas PMR. Rian pun bergegas bangkit.

“Oh, kamu udah bangun ya!” ujarnya ramah. “Kamu cuma pusing kepanasan aja kok, nanti juga sembuh. Nanti aku kasih obatnya ya!”

“Ma…makasih ya,” ucap Rian terbata. Gadis berambut panjang itulah yang telah menolongnya. Sebagai seorang cowok, Rian sungguh sangat malu karena terlihat lemah di depannya. Sungguh menyebalkan.

“Kamu murid baru ya?”

Rian mengangguk. Baru 3 hari ia pindah ke Pontianak tapi kejadian memalukan sudah dialaminya. Rian sekeluarga pindah ke Pontianak untuk mengikuti sang ayah yang dinasnya dimutasi.

“Kenapa gue mesti pingsan segala sih! Padahal ini kan hari pertama gue masuk sekolah!” gerutu Rian dalam hati.

“Beginilah jadinya kalo kita tinggal tepat di pusat garis khatulistiwa, panasnya luar biasa! Apalagi kalo di bulan Maret kayak sekarang, matahari tuh kayak nangkring di kepala aja. Bikin pusing!” ujar cewek itu akrab. “Oh ya, kenalin aku Naisha. Aku anak kelas 12 IPA 1.”

“A…aku Rian. Aku anak kelas 12 IPA 5. Aku baru pindah dari Jakarta.”

“Oh.. dari Jakarta ya! Gimana Jakarta? Panasan mana sama Pontianak?”

“Kayaknya sama aja deh. Sama-sama bikin gerah!”

Naisha tersenyum sambil menyiapkan beberapa butir obat dengan segelas air putih. “Ini obatnya. Kamu minum ya!”

“Makasih banyak ya,” Rian tersipu malu.

“Iya, sama-sama. Aku cuma sekedar ngejalanin tugasku sebagai petugas PMR kok.”

Begitulah perjumpaan Rian dengan Naisha. Di kota titik nol ekuator dunia, Rian bertemu dengan cewek kenalan pertamanya. Naisha telah mengubah kesan pertamanya pada kota khatulistiwa. Panasnya lintang bumi tidak ia hiraukan lagi. Ada kesejukan baru yang membuatnya betah tinggal di kota ini.

Rian dan Naisha seperti telah digariskan untuk bertemu oleh titik koordinat semesta. Mungkin ini berlebihan tapi ini bisa dibuktikan. Mereka mulai akrab. Jalinan pertemanan tidak bisa terelakkan. Meskipun mereka duduk di kelas yang berbeda, tapi mereka selalu terkoneksi. Entah itu dalam dunia maya ataupun dalam dunia nyata. Rian selalu menyempatkan diri untuk sekedar menemuinya di koridor sekolah. Ia mulai mau membuka diri di depan Naisha.

Naisha pun mulai tahu beberapa kebiasaan aneh Rian. Mulai dari kebiasaannya yang suka main game Sudoku pas pelajaran Fisika sampai kebiasaannya yang suka pingsan saat upacara bendera dan saat pelajaran olahraga. Rian memang sudah terbiasa dengan kebiasaan anehnya itu. Sejak SMP, ia selalu minta izin untuk absen dalam setiap upacara bendera dan setiap pelajaran yang mengharuskannya belajar di bawah sinar matahari langsung. Dan untuk upacara bendera kemarin, tentu ia masih belum berani meminta izin dispensasi karena ia masih warga baru di sekolah ini.

Naisha adalah sosok teman cewek yang berbeda. Naisha adalah penggemar pelajaran Geografi dan Antariksa. Ia sangat menyukai hal-hal yang berhubungan dengan sains dan gejala alam. Cita-cita terbesarnya adalah menjadi ilmuan Geofisika dan bisa keliling dunia. Baginya, setiap tempat di bumi itu istimewa. Jangan heran bila National Geographic jadi saluran televisi favoritnya.

“Kamu udah pernah pergi ke Tugu Khatulistiwa belum?” tanya Naisha ketika mereka sedang bercakap-cakap di koridor sekolah.

“Tugu Khatulistiwa? Dimana tuh?” Rian penasaran.

“Ah, kamu gimana sih? Ke Pontianak kok belum ke sana! Itu udah jadi trademark kota tau! Musti dicoba. Apalagi kalo udah tanggal 21 sampe 23 Maret nanti ada kulminasi matahari!”

“Kulminasi matahari? Apaan tuh?”

“Ah, kamu ini gimana sih? Makanya, kalo belajar Fisika jangan maen game mulu! Kulminasi itu adalah titik dimana matahari tepat di atas garis khatulistiwa. Bayangan kita jadi menghilang selama beberapa detik. Pokoknya kamu harus nyoba deh! Seru tau!”

Kulminasi atau apapun itu, Rian tak peduli. Gadis manis di depan matanya lebih dulu mengaburkan bayangnya. Makin lama ia makin dekat dengan Naisha. Entahlah, ada suatu perasaan lain yang membuatnya nyaman saat berada di dekatnya. Hingga ia pun tersadar kalau ternyata ia menyukainya. Ya, Rian menyukai Naisha. Dan ia berharap akan sebuah hubungan yang lebih dari sekedar pertemanan atau persahabatan.

Memang Rian baru mengenalnya beberapa minggu, tapi itu sudah cukup untuk meyakinkan hatinya. Tidak seperti Eratosthenes yang perlu bertahun-tahun sampai dia menemukan koordinat akurat garis lintang bumi, Rian hanya perlu 20 hari untuk mengkoordinasi perasaannya. Ia harus menyatakan cintanya. Tak peduli diterima atau tidak, yang penting ia sudah berusaha.

Memang keberaniannya tidak terlalu besar. Sungguh sulit bila harus mulut yang dipaksa berbicara. Terpaksa ia harus memilih opsi yang ditawarkan teknologi. Lewat SMS, ia nyatakan perasaannya.

“Nai, aku sebenernya suka sama kamu. Kamu mau gak jadi pacar aku!” tulis Rian dalam pesannya di malam itu. Rian tahu pesan itu terkirim dengan baik. Tapi Naisha belum kunjung membalas. Ditelpon pun tidak dijawab. Bukannya Naisha menolak, tapi ia tak tahu apa yang harus ia jawab. Ia bingung.

Sebuah pesan kembali diterima Naisha, “Nai, aku tahu kamu baca SMS ini. Aku juga tau kamu perlu waktu. Besok hari libur dan tepat tanggal 23 Maret. Aku tunggu jawabanmu besok pagi tepat sebelum kulminasi matahari. Aku akan menunggumu di dekat Tugu Khatulistiwa, Nai!”

* * * *

Sejak dari pukul 9 pagi tadi, Taman Khatulistiwa, tempat dimana tugu titik nol khatulistiwa berada sudah dipadati oleh masyarakat dan para wisatawan yang ingin menyaksikan kuminalsi matahari. Sebuah alat deteksi kulminasi berupa besi bulat sepanjang dua meter yang dihubungkan dalam dua rangkap lensa cembung telah dipersiapkan di depan tugu. Lensa cembung itu digunakan untuk menangkap sinar matahari ketika tepat di titik nol derajat garis ekuator.

Orang-orang berkerumun, tapi Rian memisahkan diri. Tujuannya bukan menyaksikan kulminasi, jawaban dari Naisha-lah yang ia nanti. Ia sudah mencoba mengirim SMS pada Naisha berkali-kali, tapi tidak dibalas. Di bawah teriknya sinar mentari, Rian mencoba tetap berdiri untuk memperhatikan sekeliling. Ia tahu Naisha pasti datang. Ia akan datang, begitu pikirnya.

Satu jam berlalu. Dua jam sebentar lagi berlalu. Rian masih terus berdiri seperti Tugu Khatulistiwa yang juga masih kokoh berdiri. Matahari bersinar dengan penuh arogansi. Kepalanya mulai pusing. Oh tidak, penyakit kronisnya mulai kambuh lagi. Tidak, Rian tidak boleh ambruk. Demi Naisha ia tak boleh putus asa. Kali ini ia yakin akan sistem tubuhnya.

“Bertahanlah Rian, Naisha akan datang sebentar lagi. Naisha pasti datang!” pikirnya bergumam sendiri.

Jam sudah menunjukkan pukul 11 lebih 40 menit. Semua orang mengerumuni alat deteksi kuminalsi matahari, tapi Rian masih enggan untuk berpindah posisi. Matahari sedang menuju titik kuminalsi. Bayangannya mulai perlahan menghilang. Bumi terasa berotasi begitu cepat. Entahlah, mungkin itu hanya perasaan Rian saja. Sekeliling terasa berputar. Sengatan panas mentari membuat tubuhnya bergetar.

“Tidak, aku pasti bertahan!” Rian terus meyakinkan diri.

Ia terus berjuang melawan agresi panas mentari dan gravitasi bumi. Detik-detik kulminasi berlangsung sakral. Matahari semakin sangar. Langit tak menyisakan ruang untuk awan apalagi hujan. Matahari dan bumi seakan saling memelototi. Dan tepat pukul 11 lebih 51 menit, bayangan lenyap seketika. Kulminasi terjadi. Semua orang bersorak.

Matahari bertatap muka secara intim dengan bumi. Matahari menatap Rian tajam sekali. Panas, panas, panas! Sistem tubuh Rian tak sanggup lagi. Bayangan wajah Naisha muncul sekilas seperti fatamorgana. Rian seakan melayang. Masa tubuhnya tereduksi. Ia tak sanggup lagi melawan gravitasi bumi.

* * * *

Naisha berjalan tergesa-gesa. Lorong rumah sakit bisa dilewatinya dalam sekejap mata. Langkahnya tertuju pada sebuah kamar inap di ujung sana. Naisha sudah berada di depan pintu. Seraya mengucapkan salam, ia membuka pintu.

Terlihat Rian tengah berbaring ditemani sang ibu. Matanya tampak masih tertutup. Sepertinya ia belum sadarkan diri.

“Oh, kamu sudah datang. Kamu Naisha kan?” tanya Ibu Rian ramah.

“I…iya,” jawab Naisha cemas. Pandangannya masih tertuju pada Rian yang masih terlelap.

“Tidak apa, kamu gak usah khawatir. Sebentar lagi Rian siuman kok,” ucap sang ibu tenang. “Maaf ya tadi ibu nelpon kamu. Tadi sepertinya Rian mau nelpon kamu tapi ia keburu pingsan duluan. Kalian udah janjian ya?”

Naisha melongo. Ia lalu tersipu malu.

“Maafin Rian ya! Rian itu memang anak yang ceroboh. Ia tak pernah peduli dengan kondisi badannya. Padahal, dia kan sedang sakit.”

“Sakit?” Naisha terkaget.

“Iya, sakit. Seharusnya ibu sudah bilang pada pihak sekolah, tapi Rian menolak dan meminta ibu memberinya waktu.”

“Emang Rian sakit apa, Bu?”

“Rian terkena kanker.”

“Kanker?” Naisha terkejut luar biasa.

“Ya, Rian terkena kanker. Ia terkena kanker otak. Makanya dia suka pusing kalo kelamaan kena sinar matahari. Tapi tak apa, kankernya masih belum parah dan masih bisa diobati.”

Naisha tak percaya dengan apa yang didengarnya. Rian sakit? Seperti kulminasi yang tidak mungkin terjadi di malam hari, apa yang baru dikatakan ibu Rian pasti tidak benar-benar terjadi. Rian memang agak beda. Daya tahan tubuhnya memang lebih lemah dari orang kebanyakan, tapi itu tak bisa dijadikan patokan. Kanker ganas tak mungkin diidapnya. Mungkin itu cuma karena faktor cuaca.

Ia berharap ibu Rian segera meralat ucapannya. Tapi itu cuma sekedar angan saja. Naisha tak tahu harus bersikap bagaimana. Ini terlalu sulit untuk diterka.

Mata Rian perlahan terbuka. Setelah hampir 40 menit ia pingsan, akhirnya ia terbangun juga. Naisha dan ibunya tersenyum lega. Rian segera bangkit duduk dan memandang Naisha.

“Jadi jawabanmu gimana, Nai? Aku diterima gak?” tanya Rian yang masih dalam kondisi lemas.

Naisha terdiam. Garis ekuator mungkin bisa membelah bumi menjadi dua, tapi hatinya tidak bisa. Garis ekuator dan Rian adalah suatu hal yang berbeda, tapi Iba dan rasa cinta bisa berarti sama. Naisha mematung bagai tugu katulistiwa. Tetes air mata di pipi tak mampu membuka esensi jawaban di hatinya.

Selesai

Cerpen ini pernah dimuat di majalah KAWANKU edisi Agustus 2012
Klik: http://www.kawankumagz.com/read/ekuatorian

Sumber gambar: Google 

image

“Namaku Agra. Higienis dan steril adalah dua kata yang sakral bagiku. Kotor adalah bencana dan jorok adalah malapetaka. Aku tak akan membiarkan benda asing menempeli tubuhku. Kebersihan badanku menempati kualitas tertinggi dalam kasta manusia.”

Itulah argumen mengenai hidup higien yang selalu kuagungkan selama ini. Higienis adalah segalanya bagiku. Virus, bakteri dan protozoa adalah musuh abadiku. Meski tubuh manusia dihuni oleh 10 ribu spesies mikroba, tapi aku tak mau diperbudak oleh mereka. Manusia adalah makhluk multiseluler paling sempurna. Tak ada alasan untuk disamakan dengan mikroorganisme sederhana macam mereka. Meski Charles Darwin bilang merekalah nenek moyang pertama spesies kita, tapi aku menolaknya. Teori evolusi terlalu ekstrim untuk ditelaah. Dan aku tak mau membuatnya jadi masalah.

Ada beberapa faktor krusial yang membuatku ekstra protektif terhadap higienitas seperti sekarang. Mungkin trauma masa kecilku jadi salah satu penyebab utamanya. Sewaktu aku duduk di kelas 5 SD, aku pernah terinfeksi virus H5N1 alias flu burung. Ya, aku pernah terinfeksi virus mematikan itu. Hampir selama sebulan aku diisolasi dari peradaban. Mengakrabi infus dan mimpi buruk akan kematian. Rasanya aku bisa gila kalau mengingat semua itu. Untunglah aku masih bisa disembuhkan.

Ibarat teori sebab-akibat, pengalaman itu telah mengubah pola pikirku akan definisi kata bersih dan sehat. Aku diberi pelajaran berharga bahwa kesehatan itu tak bisa dihitung oleh nilai eksakta. Sehat itu anugerah. Dan aku berjanji akan menjaganya meski harus dengan cara yang sedikit luar biasa. Mungkin ini terlalu berlebihan tapi itulah yang kini kulakukan.

Aku selalu cuci tangan setiap mau beraktifitas dengan membawa jel antiseptik kemana-mana. Mandi teratur, menjauhi tempat lembab dan kotor, meminimalisir aktifitas di luar ruangan, tidak makan sembarangan serta tidak minum dalam gelas yang sama untuk menghindari kontaminasi bakteri dan amoeba. Itulah hal-hal gila yang rutin kulakukan selama ini. Meski semua itu membuatku terkucilkan dari pergaulan, tapi aku tak peduli. Tak ada toleransi untuk patogen. Semua temanku tahu aku. Aku memang berteman dengan manusia, tapi maaf saja, aku tidak berteman dengan segala bentuk parasitisme dan penyakit.

“Agra tuh cuma mau bergaul dengan makhluk steril aja. Jangan harap dia mau main kotor-kotoran kayak kita!” begitulah canda teman-temanku. Aku tak pernah ikut mereka hangout di luar atau bermain bola. Saat pelajaran olahraga pun aku minta konpensasi agar tak ikut panas-panasan di lapangan atau di kolam renang. Untungnya guruku dapat memakluminya sehingga aku bisa terbebas dari kuman yang berkeliaran.

Aku melenceng dari pergaulan remaja, itu sudah pasti. Tapi suatu hari, aku dipaksa untuk kembali lebur dalam realita saat teman-temanku mengajakku berlibur di taman air kota.

“Lo udah gila ya? Lo ngajak gue berenang di taman air kota?” seruku begitu Beni datang dengan ajakannya.

“Ayolah Gra! Semua teman sekelas ikut, masa lo nggak?”

“Lo tau sendiri kalo di kolam renang itu ada triliunan bakteri dan amoeba. Maaf saja, tapi gue gak mau berenang bareng mereka.”

“Lo itu lebay banget deh, Gra! Lo tau gak, Tista juga ikut tau!”

“Tista?” Pemikiranku tergoda. Beni tahu kalau aku sangat suka Tista sejak kami masih duduk di bangku SMP. Dan di kelas 2 SMA ini kebetulan kami sekelas. “Ayo, Gra! Kapan lagi lo liat Tista pake baju renang? Kalo lo gak ikut, lo bakalan nyesel seumur hidup!”

Baiklah aku ikut. Kehadiran Tista telah mengubah pikiranku. Ia seperti magnet bagiku. Ia memakai baju renang seperti yang Beni bilang. Baju renang one piece warna hitam menempeli tubuh mulusnya. Sungguh cantik dan seksi. Sempurna! Di tengah kerumunan orang yang berenang, dia tampak seperti mutiara yang sulit tersamarkan. Tak menyesal aku datang. Dia memang pantas untuk ku pandang.

Ini pertama kalinya aku ke kolam renang setelah hampir 7 tahun kering kerontang dari dunia basah-basahan. Aku cuma duduk-duduk di pinggir kolam. Tak ada niat untuk berenang. Sebagai makhluk bertulang belakang yang hidup di daratan, tak ada keharusan bagiku untuk mencicipi kehidupan perairan. Teman-temanku boleh saja menjadi amfibi sesekali, tapi aku mamalia darat murni. Air hanya kugunakan sebagai media pembersih, bukan malah untuk memperkotor diri.

Beni dan beberapa temanku tiba-tiba keluar dari kolam. Mereka mengajakku berenang tapi aku tak mau. Sudah kubilang aku bukan ikan atau amfibi! Kenapa mereka tidak mengerti? Ternyata ajakan mereka bukan isapan jempol belaka. Tiba-tiba, mereka mengangkat tubuhku. Aku kaget. Secara brutal, tubuhku diceburkan ke kolam. Aku basah. Tangan dan kaki meronta. Oh tidak, ternyata kolam ini lumayan dalam. Mungkin sekitar 3 meteran lebih. Aku tenggelam.

Dari bawah air kulihat refleksi kaki para pengunjung yang berenang di kolam bagai kerumunan kuman, bakteri dan amoeba yang hendak memangsa. Bersama triliunan jasad renik aku berontak. Napasku terengah-engah. Aku melayang. Kesadaranku hilang ditelan air kolam.

* * *

Aku terbangun. Kepala ini pusing luar biasa. Kudapati diriku terbaring di pinggir kolam. Teman-teman dan beberapa pengunjung mengeremuniku seperti plankton yang mengerumuni karang.

“Lo gak apa-apa kan, Gra?” tanya Beni cemas.

Aku masih meresapi napasku yang hampir putus. Untuk yang kedua kali, nyawaku nyaris hilang.

“Lo mau bunuh gue ya? Lo kan tau gue gak bisa berenang!” bentakku, marah.

“Maafin kita Gra, tadi kita cuma bercanda…”

“Bercanda? Gue hampir mati! Lo pikir itu lucu?” Teman-temanku terdiam. Mereka merasa bersalah.

“Maafin kita Gra! Kita ngaku salah. Tapi syukurlah lo gak apa-apa.”

“Kalian pikir nyawa gue segampang itu!”

“Udah deh Gra, lo jangan lebay! Yang penting lo selamat. Beruntung lo masih kita selamatin juga” Beni jadi emosi.

“Lo itu belagu banget sih! Emang lo anggap nyawa gue ini apaan hah! Kalian tuh anjing tau!”

“Setan lo! Salah sendiri kenapa gak pernah ikut pelajaran renang. Bego banget gue punya temen kayak lo! Sudah, gue mending pulang aja! Di sini udah gak asyik!”

Beni berlalu. Teman-temanku yang lain ikutan bubar meninggalkanku. Mereka semua pergi kecuali Tista. Entah kenapa ia belum beranjak. Ia malah duduk mendekatiku.

“Kamu gak apa-apa kan, Gra?” tanyanya lembut. “Seharusnya kamu maafin mereka. Aku tau mereka bersalah. Tapi mereka tuh cuma bercanda.”

“Mereka emang bercanda. Tapi bercandanya udah kelewatan.”
Tista terdiam. Ia menghela napas panjang. “Bukannya kamu takut bakteri dan amoeba. Dalam kehidupan ini ada banyak hal yang lebih menakutkan dari mereka dan yang kamu alami barusan itu cuma salah satunya aja!”

Aku mematung dalam kelimbungan. Ucapannya membuatku terasing dalam kehampaan.

“Sudah lebih baik kita cepet pulang, sepertinya sebentar lagi akan hujan. Bukankah kuman juga ada dalam air hujan?”

Seperti amoeba yang terjebak dalam lingkungan tak bersahabat, membran hatiku mengkista. Aku seperti organisme bersel satu yang hidup menyepi di tengah habitat alam. Tista telah membuatku menjadi protozoa nyata. Hujan pun membasahiku. Mungkin sebentar lagi aku akan mencair menjadi protoplasma.

* * *

image

Sudah hampir dua minggu sejak Lana memutuskannya, tapi Hildan masih belum bisa melupakannya. Ia masih belum percaya kalau hubungan yang sudah setahun lebih ini mereka rajut harus berakhir di tengah jalan.

“Dan, sebaiknya hubungan ini kita akhiri aja,” ucap gadis manis berambut sebahu itu yang langsung meremukan hati Hildan. Dua mangkuk mi ayam Abang Romli jadi saksi malam minggu terakhirnya yang kelabu.

“Maksud kamu apa, Na?” tanya Hildan kaget.

“Aku udah lelah. Hubungan ini emang gak bisa dilanjutin lagi. Kita udah saling gak cocok. Udah terlalu banyak konflik dalam hubungan kita, Dan!”

Hildan terdiam seribu bahasa. Mendengar ucapannya, hati Hildan seakan diiris pedang para ksatria.

Ya, begitulah cara Lana menghancurkan hatinya. Ia masih belum mengerti apa alasan di balik semua itu. Baginya, semua terasa begitu cepat sehingga ia belum sempat menerima keputusan sepihak Lana.

Secara logika, sungguh sulit baginya untuk melupakan Lana. Mereka sama-sama belajar di sekolah yang sama. Mereka pun masih sering bertemu di gedung aula sekolah saat latihan drama. Mereka berdua ikut berperan dalam drama musikal dongeng Puteri Salju untuk acara malam perpisahan sekolah. Puteri Salju? Sebenarnya Hildan kurang setuju dengan pementasan drama itu. Cerita drama itu kurang sesuai dengan anak SMA seusianya. Terlalu kekanak-kanakan, begitu katanya. Tapi tak apalah karena Pak Ardi, sang guru Bahasa Inggris yang didaulat menjadi sutradara drama, sudah berjanji akan membuat kisah klasik ini jadi lebih meremaja.

Bisa berpartisipasi dalam sebuah pementasan drama mungkin sepertinya menyenangkan. Tapi, Hildan merasa tersiksa. Ia tak mendapat peran utama. Ia jadi salah satu kurcaci, sedangkan Lana jadi Puteri Salju-nya. Dan tebak siapa yang berperan jadi pangerannya? Dia adalah Rafin, cowok belagu yang paling Hildan benci di planet ini. Dia playboy kampung yang suka gonta-ganti cewek. Dia sok ganteng, sok kaya dan lain sebagainya. Pokoknya Hildan gak suka banget sama dia.

Melihat akting lebaynya bikin Hildan gila. Lana dan Rafin semakin dekat saja. Sulit dibedakan mana yang akting mana yang tidak. Semua itu bikin Hildan makin tambah muak saja.

Gosip menyebar begitu cepat. Banyak orang yang bilang kalau mereka sudah jadian. Banyak pula teman Hildan yang mengiyakan kabar itu padanya. Telinga Hildan bagai disumpal bara. Jelas ia tak terima. Mereka baru putus dua minggu dan Lana sudah menemukan pengganti yang baru. Ini sungguh keji. Skenario macam apa ini?

Bertemu mereka setiap hari tak jarang membuat Hildan emosi. Untung Hildan selalu berhasil mengendalikannya sehingga bola panas tak jadi menggelinding membabi buta. Tapi suatu waktu, benteng pertahanannya runtuh juga. Ia tak bisa lagi menyembunyikan rasa sebalnya pada Rafin. Berawal dari protesnya pada Pak Ardi, ketegangan pun bermula.

“Pak, bukannya pangeran itu cuma ada pas adegan terakhirnya aja? Tapi, kenapa dari awal sudah masuk dalam cerita?”

Pak Ardi cuma mengernyitkan dahi, tapi Rafin sudah tahu arti sindiran dalam ucapan Hildan. Genderang perang sudah mulai dibunyikan. Dua ksatria sudah siap saling menyerang.

“Maksud lo apa, Dan?” sentak Rafin, nyolot.

“Nggak, gue cuma ingin pentas drama ini lebih efektif aja,” jawab Hildan enteng.

“Jadi maksud lo, peran gue gak efektif?”

“Ya, baguslah kalo lo ngerti.”

Pertengkaran tak bisa terelakan. Bahkan adu jotos pun tak bisa terbendung lagi. Panggung mendadak jadi arena tinju. Drama Puteri Salju berubah menjadi ajang bela diri dua jagoan belagu. Semua orang di tempat itu tentu tahu, bukan cerita Puteri Salju yang jadi penyebab perseteruan ini. Lana-lah satu-satunya alasan kenapa Hildan berani melemparkan tinju.

Perkelahian berlangsung sekejap. Setelah Pak Ardi dan teman-teman yang lain melerai, adu jotos pun terhenti.

Lana berjalan ke arah Hildan dan Rafin. Jangan tanya seberapa panas api amarah di hatinya. Perkelahian ini jelas tak bisa ditolerir. Magma seakan ingin keluar dari mulutnya.

“Kalian ini apa-apaan sih!” Pandangan nanar langsung ia tujukan ke arah Hildan. Bagai sebuah kutukan, sebuah kalimat sakti segera keluar dari bibir manisnya. “Aku kecewa banget sama kamu, Dan.” Ucapannya menusuk. Hildan hanya bisa membatu.

Kekisruhan ini jelas mengancam eksistensinya sebagai sebagai kurcaci. Beruntung, Pak Ardi masih memberikan toleransi. Mungkin karena waktu pementasan yang sudah sangat mepet sehingga sangat tidak dimungkinkan untuk mencari pemain yang baru.

Peran Hildan dalam drama masih bisa terselamatkan. Tapi, bagaimana dengan Lana? Apakah ia masih sudi memaafkannya? Tanggal 29 Mei nanti, drama itu akan dipentaskan. Tepat dengan hari ulang tahun Lana yang ke 18. Hanya segelintir orang yang tahu akan hari istimewanya itu. Salah satunya Hildan. Maka akan ia jadikan momen spesial itu sebagai saat yang tepat untuk menyampaikan permintaan maafnya.

Lalu, apa hadiah yang akan ia berikan pada Lana? Sebuah benda bulat berwarna merah langsung terlintas di kepala Hildan. Apel! Ya, apel. Buah yang dipercaya banyak orang sebagai jelmaan buah khuldi yang menyebabkan Adam dan Hawa terlempar dari surga. Buah bernutrisi yang terkadang disamakan dengan buah simalakama, si pembawa malapetaka. Lana sangat menyukai apel. Ia sangat suka dengan benda-benda yang berhubungan dengan apel. Seperti Puteri Salju yang tak kuasa tergoda oleh ranumnya apel nenek sihir, begitu pun dengan Lana. Ia tak pernah menolak berbagai hadiah yang berhiaskan buah apel. Tentu Hildan masih ingat bagaimana senangnya Lana saat ia berikan tas bermotif apel di ultahnya tahun lalu. Meski tas itu kini tak pernah dipakai lagi, tapi dengan mengingat raut wajah Lana di waktu itu sudah cukup memberikan secercah harapan baru baginya.

Sebuah bando cantik berhiaskan apel merah keemasan telah ia pilihkan untuk Lana. Meski ia tak yakin Lana akan memaafkannya, tapi paling tidak, Lana masih mau menerima hadiah pemberiannya.

Warna-warni kostum kurcaci membungkus tubuh Hildan. Ia menunggu Lana di belakang panggung dengan harap-harap cemas. Lana keluar dari ruang ganti. Tidak, dia bukan Lana. Dia Puteri Salju. Gaun cantik yang ia kenakan semakin membuatnya tambah jelita. Lebih dari puteri Disney, dia puteri fantasi yang selama ini Hildan cari. Dia berhasil mempesona banyak pasang mata. Dan dengan jantung yang berdegup kencang, Hildan pun mencoba mendekatinya.

“Na, aku punya sesuatu buat kamu,” ucap Hildan sambil mengeluarkan bando cantik itu.

“Selamat ulang tahun ya, Na! Anggap aja ini sebagai permintaan maafku.”

Lana menghela napas. Ia diam dalam sorot matanya yang masih nanar.

“Udah deh, Dan! Hubungan kita tuh udah berakhir! Kita gak bisa perbaiki semua ini. Maaf, aku gak bisa nerima hadiah dari kamu.”

Lana segera berlalu menuju panggung. Jiwa Hildan serasa dihempas badai salju. Bukan ucapan Lana yang membuat hatinya hancur tak bersisa. Sepasang anting perak berbentuk apel menempel di kedua telinganya. Baru kali ini ia lihat Lana memakai benda seperti itu. Siapa yang memberi anting-anting itu padanya?

Ia lihat pangeran gadungan tersenyum di belakangnya. Dengan sinis, Rafin menunjukan arogansinya. Segera hampalah batinnya. Hildan telah kalah. Mantera sihir telah meluluhkan semua asanya.

*Cerpen ini sempat dimuat di Tabloid KEREN BEKEN edisi 12
13-26 Juni 2012