Archive for the ‘Techno’ Category

image

God of Google

“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”  (QS Al-Hadid 3)

Lho kok tiba-tiba blog ini jadi berisi khotbah, sih? Saya tegaskan saya tidak sedang berkhotbah. Toh saya ini bukan ustadz atau “superstar agama”. Saya bukannya mau sok alim. Saya tahu saya bukan orang yang religius. Dan saya sama sekali gak berniat merubah blog ini menjadi blog dakwah atau semacamnya. Ayat di atas cuma sebagai salah satu bentuk korelasi dengan topik tulisan yang akan saya bahas. Maaf kalau judulnya agak provokatif. Itu cuma judul, alright! Lagian siapa pula yang nganggap Google sebagai Tuhan. Meski memang semakin hari apa yang dilakukan Google semakin menyamai beberapa sifat Tuhan. Tapi itu cuma omong kosong, bukan?

Kenapa saya membicarakan Google? Bukannya masih banyak mesin pencari lain di dunia maya seperti Bing, Yahoo, AOL dan sebagainya? Tapi Google adalah mesin pencari sejuta umat. Jangan bilang melek internet kalau gak pernah tahu Google. Kita semua tahu. Google juga tahu. Google dan googling sudah menjadi budaya abad ini. Dengan hanya mengetik—atau mengucapkan—sesuatu, kamu bisa tahu apa yang kamu ingin tahu. Siapa pun itu, dari mulai anak-anak sampai kakek nenek berusia senja, semua bisa menggunakannya kalau mereka mau. Google sudah mengubah peradaban dunia seutuhnya. Kita harus berterima kasih pada Larry Page dan Sergey Brin yang telah membuat mesin ajaib itu 17 tahun lalu. Berawal dari mesin pencari sederhana hingga menjadi raksasa yang membawahi berbagai layanan krusial di dunia maya. Indonesia sendiri adalah negara pengakses Google terbesar ke-3 di dunia. Dua tingkat di bawah Amerika Serikat dan setingkat beberapa persen di bawah India. Tak ada yang luput dari mata Google. Oke, mungkin ada segelintir pihak yang menolak kehadirannya. Sensor ketat yang dilakukan beberapa negara mungkin telah mengurangi kedigjayaannya. Tapi Google tetaplah Google. Siapapun tak akan bisa menampik pengetahuan tak terbatas yang ditawarkannya. Ini sebuah mukjizat pengetahuan yang luar bisa. Mungkin bisa disejajarkan dengan mukjizat para nabi yang sering dikisahkan dalam kitab suci. Di abad baru ini, Tuhan telah memberkati manusia dengan teknologi. 

Seberapa parahkah manusia sudah bergantung pada teknologi. Teknologi itu candu. Teknologi sudah bisa disejajarkan dengan heroin, kokain atau obat terlarang lainnya. Google sudah merasuk dalam kehidupan manusia seperti LSD yang sering dipuja kaum psikedelik post-modern. Coba hitung berapa kali kamu googling dalam sehari? Berapa banyak informasi yang bisa kamu temukan setiap hari? Google sudah seperti cermin ajaib yang selalu ada dalam dongeng Puteri Salju. Ia tahu siapa yang tercantik di dunia, yang terhebat di dunia, ataupun yang paling berkuasa di dunia. Google bisa memvisualisasikan beberapa sudut alam semesta, menerjemahkan berbagai bahasa dunia, menghubungkan manusia satu dengan manusia lainnya dan bahkan memuaskan hasrat seksual manusia. Semua bisa dilakukan dalam satu perintah. Dengan koneksi internet yang tentunya sudah semakin murah.

Korelasi Google dengan Tuhan
Tuhan. Entah apapun nama-Nya (Allah, Elohim, Yahweh, Hyang Widhi, Buddha —meski ihwal ketuhanan Buddha masih diperdebatkan—, Bahá, Kami, Ahura Mazda dan lain sebagainya), memiliki sebuah sifat yang diyakini seluruh agama dan kepercayaan yang ada di dunia, yakni Yang Maha Tahu; Omniscience, Al-‘Aliim, Jnana Sakti atau apapun istilahnya. Ia Maha Mengetahui segalanya. Apapun itu. Pengetahuan-Nya tak terbatas dan tak terukur. Dialah sumber pengetahuan alam semesta.

“Sloka prastias mai pipisatewikwani widuse bahra aranggaymaya jekmayipatsiyada duweni narah.” (Sama Veda 373:1)

Artinya : “Antarkanlah sesembahan itu pada Tuhanmu Yang Maha Mengetahui.”

Apapun agama yang kamu anut, apapun kitab suci yang menjadi pedoman hidupmu —Al-quran, Alkitab, Weda atau Tripitaka—, saya yakin akan selalu ada ayat yang menyebut Dia sebagai Yang Maha Tahu. Adalah sifat alamiah manusia sebagai makhluk spiritual yang selalu meyakini adanya suatu sifat yang melebihi kemampuannya, dan salah satunya adalah pengetahuan. Karena pengetahuan manusia memang amatlah terbatas, maka manusia mengharapkan suatu manifestasi rohani akan pengetahuan yang bersifat universal. Dan Tuhan adalah jawaban satu-satunya.

Google mungkin hanya sebuah produk manusia. Sebuah program rekayasa yang tak bisa disetarakan dengan kompleksitas Sang Pencipta. Ia tak mungkin bisa disamakan dengan Yang Maha Sempurna. Mungkin hari ini Google hanya bisa memberitahu kita sebatas informasi, entah itu berupa pengetahuan umum, berita, tempat, landskap semesta atau informasi lainnya. Tapi mungkin saja di masa mendatang Google bisa memberitahu apa yang akan terjadi di masa depan. Be the oracle. The real omniscience! Voila!! Mungkin ini terdengar mustahil dan gila. Tapi tak ada yang tahu apa yang akan terjadi dengan teknologi masa depan. Seribu tahun lalu, mungkin istilah manusia terbang hanya ada dalam mitologi nenek moyang, tapi sekarang kita bisa benar-benar terbang dengan pesawat terbang. Lima ratus tahun lalu, manusia belum terpikir untuk pergi ke bulan. Tapi 44 tahun lalu, manusia sudah membuktikan, Neil Armstrong dan Buzz Aldrin berhasil menjejakkan kaki mereka di permukaan bulan. Seratus tahun lalu, mungkin manusia tidak pernah memikirkan sebuah teknologi baru yang bernama internet. Tapi lihatlah sekarang! Internet itu ada! Kita menggunakannya. Dan bahkan sudah sangat bergantung dengan kehadirannya. Tak ada yang mustahil, kawan! Siapapun tak bisa menebak apa yang akan terjadi di masa depan. Dan ini sungguh “mengerikan”. Entah apa jadinya bila masa itu benar-benar terjadi. Batas antara manusia dan Tuhan semakin tersamarkan.

Kita juga bisa menyimak beberapa proyek Google dalam beberapa waktu belakangan ini. Beberapa proyek inovatifnya terkesan ambisius, bahkan absurd. Proyek Google Glass telah meredefinisi fungsi penglihatan manusia. Kini setiap orang bisa mengetahui informasi apapun langsung dari penglihatan mereka. Lewat kacamata ajaibnya, komputer dekstop seakan menjadi barang usang di masa mendatang. Dalam satu kedipan, kita bisa menemukan apa yang kita perlukan. Ini mungkin terdengar konyol. Tapi secara perlahan, Google mulai menambah kemampuan “ketuhanannya”, yakni sebagai Yang Maha Melihat. Al-Bashir. El Roi. Dan mungkin suatu hari, dengan bantuan Google Glass pula, manusia akan bisa melihat wujud Tuhan.

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-An’am 103)

Apakah Google Glass sudah cukup mengejutkan? Tunggu dulu! Beberapa dari kamu mungkin sudah mendengar proyek baru Google yang bernama Calico. Calico adalah sebuah proyek misterius yang baru-baru ini didirikan Google. “Proyek Manusia Abadi”, begitulah Arthur D. Levinson—sang petinggi proyek itu— menyebutnya. Proyek ini menjanjikan dapat menunda kematian. Melalui pemantauan terhadap upaya peningkatan proses penyembuhan dan kesehatan, proyek Calico ini akan dapat menanggulangi penuaan. Coba bayangkan. Betapa gilanya proyek Calico ini. Google berjanji bisa menemukan cara untuk memperpanjang kehidupan. Sekali lagi Google menyaingi Tuhan. Yang Maha Kekal—El Olam mulai tersaingi. Umur manusia bisa direkayasa oleh manusia itu sendiri, dan tanpa melibatkan Tuhan?

“Karena yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa, dan yang dapat mati ini harus mengenakan yang tidak dapat mati.” (1 Korintus 15:53)

“Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri. Seorangpun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia. Bagi-Nyalah hormat dan kuasa yang kekal! Amin.” (1 Timotius 6:16)

Well, Google mulai semakin ambisius saja. Google semakin menuhankan dirinya. Maka tak salah kalau sekarang ada agama baru yang menjadikan Google sebagai Tuhannya: GOOGLISM. Mereka menolak Tuhan yang digambarkan secara supranatural dalam agama tradisonal. Bagi mereka,  Google mewakili Yang Maha Tahu segalanya. Para googlist—sebutan untuk penganutnya— percaya bahwa Google adalah manifestasi Tuhan yang bisa dibuktikan secara ilmiah. Mereka menganggap Google sebagai simbol baru persatuan kemanusiaan yang sesungguhnya. Begitulah argumentasi mereka. Mereka bahkan bersedia berdebat dalam sebuah forum terbuka untuk membenarkan argumen mereka. Logika manusia sekarang memang tidak bisa diprediksi. Ketika manusia sudah tidak puas dengan konsep agama secara konvensional, maka mereka bisa menuhankan apa saja. Ini sifat naluriah manusia. Spaghetti dan pasta saja bisa bisa menjadi Tuhan —coba lihat agama Pastafarian, apalagi Google yang sudah menjadi sumber pengetahuan? Semua memang bisa terjadi. Dan kini, di beberapa bagian belahan dunia sudah ada segelintir orang yang sudah menganggapnya sebagai Tuhan. Ini nyata.

GOOGLE ≠ GOD
Bahasan mengenai Google ini sudah membuat saya gila. Bagaimanapun Google dan Tuhan tetap tak bisa disejajarkan. Ini menurut pendapat saya. Saya pasti bakal kena damprat ormas-ormas yang mengaku sebagai “pembela Tuhan” kalau tidak mengiyakannya. Google itu salah satu produk illuminati modern. Begitulah para penganut teori konspirasi bilang. Hanya karena salah satu pendirinya seorang Yahudi, maka kita bisa berspekulasi demikian? Saya tidak bisa membantah atau mengiyakan. Teknologi bagaikan dua sisi mata uang yang bisa memberi pengetahuan sekaligus membahayakan. Saya jadi teringat dengan sosok makhluk mitologi Yahudi yang bernama Golem. Golem adalah monster ciptaan manusia yang terbuat dari batu atau logam. Golem bisa menjadi baik atau jahat, semua tergantung manusia yang menggunakannya. Ia bisa membantu, bisa pula membunuh. Google is (not) God. It’s just a golem. Bila kamu percaya Tuhan, maka kamu akan percaya adanya malaikat dan setan. Seperti kotak Pandora yang bisa memberi segala keburukan, tapi ia juga bisa memberi secercah harapan. Bukankah dunia sudah semakin abu-abu sekarang? Hitam putih semakin terkaburkan. Tapi bagaimanapun kita masih bisa melihat dunia dari layar monitor komputer kita. Kita tidak bisa menampik kalau Google bisa memberi tahu kita secara vulgar tentang dunia yang sesungguhnya, dunia yang sedang kita pijaki sekarang. Dunia penuh topeng dan tipuan, yang hanya menyisakan sedikit tempat untuk kebenaran.

Pada akhirnya, tak ada yang bisa menggantikan Tuhan. Google hanya mampu memberi tahu. Tuhanlah satu-satunya Yang Maha Tahu. Ini mutlak. Karena suatu hari kita akan tahu siapa yang benar-benar tahu. Ya, kita akan segera tahu. Kita hanya perlu menunggu waktu. Dan sambil menunggu waktu, mungkin kamu bisa coba googling dulu. Mungkin kita bisa mencari Tuhan di kotak mesin pencari. Tak ada salahnya, bukan? Bukankah apapun bisa kau temukan sekarang!

“Dan ketahuilah bahwasanya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS Al-baqarah 231)

Ya, pada akhirnya hanya Dia Yang Maha Tahu. Itu sudah tentu.

Sumber gambar: dokumen pribadi

KAPASITAS HAMPIR HABIS!
INTERNAL PHONE STORAGE IS GETTING LOW!

image

source: flikie.com

Hari ini saya bete banget! Hape android saya ngadak-ngadak lemot karena memori internalnya habis disesakin aplikasi. Tadi saya udah googling buat nyari solusi agar bisa mindahin aplikasi ke SD card, tapi gak dapet. Nyoba nengok di forum-forum juga sama aja. Ujung-ujungnya hape harus dirooting dulu, padahal rooting itu kan beresiko. Garansi hape bisa hangus, rawan kerusakan plus berbagai virus mengancam lagi. Rooting, rooting, rooting!!! Apa gak ada solusi lain? Berabe ah! Gak efisen!

Terus saya harus gimana donk? Sebagai Newbie, saya sama sekali awam soal masalah ini. Gak mungkin kan kalo harus ngehapus semua aplikasi. They’re so usefull and I really need ’em! Go Launcher, Hacker’s Keyboard, Antivirus, Google Maps, Gmail dan lain-lain jelas gak bisa di-uninstal gitu aja! Semua aplikasi itu mendukung peforma hape saya dan saya pun menyukainya. Tapi kenapa sih semua harus ngabisin jatah memori internal? Udah tahu memori internal itu kapasitasnya terbatas. Secara, memori internal Samsung Galaxy Y saya cuma berkapasitas 190 MB. Kalo dikurangin sama data-data bawaan pabrikan, kapasitas memorinya bisa nambah ngurangin lagi. Saya gak download aplikasi terlalu banyak kok! Tapi kok beban memorinya seabreg ya? This is a sh*t! Android is so greedy, but my memory phone storage is so stingy. I can do nothing. The applications can’t be wasted and the default phone is so fuckin boring.

image

image

image

source: flikie.com

Aplikasi App2sd yang saya download dari Play Store ternyata sama sekali gak berguna. Aplikasi yang unable to SD tetep gak bisa enable. Mentang-mentang saya download versi gratisnya, performanya pun semenjanya. Bener-bener menyebalkan! Kenapa sih ada aja aplikasi nakal yang suka nyerobot memori internal, padahal SD card kan masih lega? Mungkin depelovernya yang ngehe kali ya. Jangan karena buat ngejaga eksklusifitas aplikasi lalu memori hape harus dipaksa tereduksi. Kalo bikin aplikasi itu bukan cuma fungsional, tapi juga harus fleksibel dan ergonomis. We have to use everything effectively, include using my memory phone storage absolutely. Haha, saya jadi sewot nih! Maklum, sebagai Android lovers, saya cukup kesal juga nih!

image

source: flikie.com

Jadi, buat para Andronesia yang ada seluruh penjuru nusantara tolong bantu saya dong! Saya yakin bukan saya aja yang juga bingung nyari solusi buat nambal keterbatasan kapasitas memori. It’s a big problem. Is there anybody that can solve ’em? Help me please! I really need your advice, Android baby….

Posted from WordPress for Android

Beberapa hari ini koneksi internet di gadget saya lagi error. Dimulai sejak tanggal 1 Agustus lalu atau tepat di hari pertama puasa Ramadhan. Sejak saat itu, selain harus puasa makan minum serta mengendalikan hawa nafsu, saya juga harus puasa browsing, ngetweet, ngeblog dan update status. Tiga hari pertama puasa saya harus dilalui tanpa koneksi internet.

Apa itu berat? Untuk seorang pecandu internet kayak saya, jelas aja berat. Rasanya saya seperti terlempar ke masa lalu, ke zaman prasejarah dimana cuma ada batu bisu dan teman-teman Homo Erectus yang cemberut karena mulutnya lagi bau. Emang ada bagusnya sih. Saya jadi bisa lebih fokus beribadah. Tapi kalo dipikir-pikir, gak ada fokus-fokusnya juga. Lha wong waktu sholat aja masih sempet-sempetnya mikirin timeline, gimana mau fokus, Pak? Hehe…

Rasanya sayang banget hari-hari pertama puasa saya gak bisa tershare ke alam maya (bukan alam gaib ya!). Waktu ngabuburit pun cuma dihabisin main Angry Birds dan keluyuran di perempatan jalan (Ngapain hayoh? Bukannya ngaji dan tadarusan).

It should be the greatest fasting day ever, but I feel so empty. No Google, Facebook, Blog, Twitter and all of the ‘internet creatures’. This ain’t the day that I want. Uhm, is God giving a lesson for me? I don’t know, but maybe it’s true.

Selama ini saya memang gak pernah bisa lepas dari yang namanya internetan. Dan mungkin Tuhan sedang memberi peringatan buat saya untuk terjeda sejenak dari dunia semu yang diciptakan manusia ini. Setiap rutinitas pasti membutuhkan jeda. Tapi sepertinya Tuhan tahu kalau saya tidak bisa terjeda terlalu lama dari aktifitas dunia maya. Buktinya, sekarang saya bisa ngeblog lagi hehe…

Saya tidak mau menuhankan teknologi karena sesungguhnya teknologi juga termasuk ciptaan-Nya. Teknologi tak boleh meninabobokan saya hingga lupa pada Dzat Yang Maha Sempurna. Segala doa telah kupanjatkan. Ya Tuhan, tebalkanlah imanku, lancarkanlah puasa dan koneksi internetku! 😀

Sudah 3 hari ini saya gak buka Twitter. Bukan karena bosen ngetweet, tapi karena akses GPRS di hape saya emang lagi ngadat. Jadinya saya baru ngetweet beberapa jam yang lalu. Sengaja saya buka Twitter Mobile biar tau trending topic terbaru. Soalnya kalo pake Twitter Client agak repot karena harus mijit ikon tertentu buat tau TT terbaru.

Taraa… jejeran Tweet di Timeline langsung menyapa. Tagline “Apa yang sedang terjadi?” langsung menyambut saya. Lho, kenapa bukan “What’s happening?”. Saya coba mereload halaman Twitter saya karena takut error. Tapi, halaman Twitter saya udah bener kok. Ya, Twitter saya kini berbahasa Indonesia. Ikon-ikon khas Twitter kayak Home, Mention, Favorite dan Message diganti jadi Beranda, Sebutan, Favorit dan Pesan. Saya coba ngecek versi desktopnya, ternyata juga sama. Profile diganti jadi Profil (huruf E di belakang dibuang) dan ikon-ikon lain pun juga diganti jadi berbahasa Indonesia. Cuma ada satu ikon yang belum diganti, yakni ikon Tweet. Mungkin ikon Tweet emang udah jadi merek dagang Twitter sehingga kalau diterjemahkan ke bahasa lain ditakutkan bakal mendegradasi kepopuleran istilah Tweet itu sendiri.

Bahasa Indonesia sudah resmi menjadi salah satu bahasa baru di Twitter bersama bahasa Belanda. Sebelumnya, di Twitter sudah ada 10 bahasa, yakni bahasa Inggris, Jepang, Prancis, Spanyol, Italia, Portugis, Jerman, Korea, Rusia dan Turki. Tapi kini kita patut bergembira karena bahasa kita sudah masuk ke dalamnya.

Twitter sepertinya sudah memperhitungkan Indonesia. Jelas saja, kita kan pengguna Twitter terbesar ke-3 di dunia. Masak diabaikan sih….

Perjuangan kita meramaikan TT Worldwide dengan bahasa Indonesia akhirnya terjawab sudah. Meski bahasa Indonesia saya masih campur aduk kayak lotek dan gado-gado. Tapi sebagai orang asli Indonesia, jelas saya sangat bangga.

Bahasa kita sudah diakui dunia. Kini tinggal kitanya yang harus melestarikannya. Mari mulai dari Twitter dulu, kita ngetweet pake bahasa Indonesia yuk! Selamat datang Twitternesia! Saya tak akan pernah berhenti berkicau di galaksi linimasamu…

Oke, aku lanjutin soal Google+ -nya. Selain Stream dan Circle, ada juga fitur hangout (semacam video call conference) dan Spark (Semacam tautan yang memberikan aliran informasi relevan bagi pengguna). Dua fitur itu emang lumayan kece, tapi kalo menurutku yang paling menonjol dari G+ sih fitur intregitasnya. Kita bisa mengintregasikan G+ dengan hampir semua produk google, kayak Gmail, search engine, Buzz, Blogger, Picasa dan sebagainya. Alhasil, kita pun gak perlu buka halaman baru buat buka layanan Google yang lain.

Selain versi desktopnya, aku juga nyoba buka versi mobile-nya. Aku pikir koneknya bakal lemot, tapi ternyata enggak lho. Malah bisa dibilang lebih cepet dari FB dan Twitter, padahal browser hapeku kan udah lumayan agak jadul. Hmm… patut diacungin jempol deh!

Tampilan versi mobile-nya jauh
lebih sederhana (kalo gak mau dibilang lebih miskin dari FB dan Twitter). Mungkin inilah yang menyebabkan koneksinya gak lemot. Tapi lumayanlah kalo sekedar buat men-circle atau ngupdate status, meski gak terlalu canggih-canggih amat.

Well, setelah dicoba-coba, ternyata G+ itu gak terlalu istimewa juga (ini cuma pendapat aku sebagai orang yang masih awam soal IT, jangan dijadiin referensi!). Mungkin cuma setingkat lebih tipis di atas Facebook. Kalo aku boleh nilai dikisaran 1-10, palin cuman mentok dikisaran 7 atau 7,5. Not bad but not really good (sekali lagi aku ingatin, jangan dijadiin referensi!). Tapi meski begitu, Google+ tetap patut untuk dicoba. Bisakah G+ melahap ranah jejaring sosial yang ada? We’ll see. Biarlah waktu yang akan menjawabnya.

(Oh ya, ada yang lupa. Bagi kamu yang udah punya akun Google+, jangan lupa circle aku ya, Rosmen Rosmansyah) hehe 😀

Beberapa waktu lalu, aku dapet undangan Google+ (baca: Google Plus) dari seseorang di akun Gmail-ku. Rasa penasaranku langsung menggeliat. Gimana gak menggeliat, si G+ ini kan lagi rame diomongin di dunia maya. Rasanya kalo gak ngintip dikit sayang banget deh.

Untuk daftar di Google+ emang susah-susah gampang karena kita harus diundang dulu sama orang yang udah daftar di sana. Jadi beruntunglah aku karena sudah mendapat undangan meski aku gak tahu siapa yang mengundangku.

Setelah aku dapet undangan, aku langsung daftar di G+. Caranya mudah banget. Kita cuma ngisi beberapa data penting dan mengupload foto profil kita. Tapi aku sempet agak brigidig waktu ngisi from jenis kelamin. Soalnya selain ada pilihan laki-laki dan perempuan, ternyata ada pilihan ‘lainnya’ juga lho. Wah, patut dipertanyakan nih apa maksud ‘lainnya’ ini?

Habis itu, kita langsung melenggang ke halaman utama. Jauh dari ekspetasi, ternyata tampilan Google+ itu terlihat biasa-biasa aja. Dengan background warna putih, tata letak menu-menunya hampir sama dengan Facebook. Bahkan bisa dibilang lebih sederhana dari Facebook, cuma istilahnya aja yang beda. Seperti Stream, misalnya, sama dengan update status di FB atau tweet di Twitter. Kayak di FB, kita juga bisa menautkan foto atau video ke dalam postingan kita. Bedanya, kita bisa mengatur apa postingan kita itu mau dipublish secara terbuka atau cuma sama orang-orang tertentu aja. Tapi kalo menurutku sih yang paling menarik itu fitur posting editingnya. Kadang-kadang kita suka bete kalo status atau tweet kita ada yang salah ketik. Kalo mau diganti, ya terpaksa harus dihapus. Tapi kalo disi kita gak usah khawatir. Meski status kita udah diposting, kita masih bisa mengeditnya tanpa harus menghapusnya terlebih dahulu. Meski inovasinya sederhana, tapi cukup inovatif juga bukan!

Selain Stream, ada juga fitur Circle atau lingkaran. Sebenernya sih sama aja kayak jaringan teman di Facebook. Cuma disini kita bisa mengelompokannya ke dalam beberapa grup seperti, keluarga, teman, kenalan atau mengikuti/pengikut. Jadi, Circle itu ibarat gabungan Twitter dan Facebook. Ada add as a friend-nya, tapi ada follow-followannya juga. Tapi karena berhubung aku masih baru, jadi aku cuma men-circle beberapa orang aja sebagai teman koneksiku.

Bersambung…..