Archive for the ‘Social Politic’ Category

image

Hari Kamis tanggal 22 November 2012 lalu adalah salah satu hari paling bersejarah dalam hidup saya. Hujan tak menyurutkan saya untuk menembus jalanan. Saya akan “melegalkan” pernikahan saya dengan Honda BeAt putih yang sudah saya tunggangi selama 2 bulan ini. Yap, saya mau bikin SIM dan ini adalah pertama kalinya saya bikin SIM. Maklum, saya kan baru pertama kali punya sepeda motor jadi saya masih agak katro-katro gitu deh. Saya ngajak paman saya buat nganterin saya bikin SIM di kantor Polres Cimahi. Karena merasa masih pemula dan skill berkendara motor saya masih semenjana, akhirnya saya pun memilih bikin SIM secara “tembak”.

Well, ternyata cara ini sudah menjadi rahasia umum di satuan kepolisian itu sendiri. Gak terlalu mengejutkan memang. Kakek nenek sama Bapak Presiden aja udah pada tau kalee! Pukul 9 pagi, saya udah nyampe di polres Cimahi yang terletak di Jalan Raya Cibabat. Baru aja markirin motor di tempat parkir, saya dan paman saya sudah ditawari oleh beberapa calo yang katanya bisa bantuin saya bikin SIM secara instan. Sumpah, calo-calo ini udah kayak penjual kacang goreng aja! Ini mau bikin SIM atau mau nonton layar tancep sih? Tawar menawar biaya bikin SIM pun dilakukan secara terbuka. Kita gak perlu takut karena polisi pun sudah mafhum akan hal ini. It’s serious! Yeah, this is an illness! Corrupt people is everywhere, even in the department which always say to fight corruption! What the fuck is it? I live in the fuckin country, bitch!

image

Setelah ngebacot cukup alot, kami sepakat biaya yang harus dibayar sebesar Rp 350.000, harga umum untuk bikin SIM tembak. Bandingkan dengan bikin SIM secara prosedural yang cuma sekitar Rp 100.000. Bener-bener rugi bandar gue! Paman saya cuma nungguin di luar sedangkan saya disuruh ngisi formulir pendaftaran dan cap jari dengan mengeluarkan uang Rp 5.000 di loker pendaftaran. Calo itu yang ngisi tektek bengek formulirnya sementara saya cuma nyerahin jari saya buat dicap. Setelah itu dia ngamplopin uang 350.000 itu (bahkan tukang amplopnya pun juga banyak lho!) dan nyuruh saya buat menyerahkannya ke salah satu oknum polisi di kantor pembuatan SIM. Saya kasihin amplop itu, tapi oknum itu minta uang 30 rebu buat nge-ACC tes kesehatan yang gak saya lakuin. Oke deh saya kasih. Saya lalu disuruh ikut tes teori sebagai formalitas. Saya gak dituntut untuk lulus karena dia udah ngejamin bakal ngelulusin. Udah tes, saya lalu disuruh ngambil berkasnya di loker tempat tes praktek. Tapi karena saya salah tempat nunggu, jadinya lama jadinya deh. Setelah disuruh ngambil berkas oleh oknum polisi tadi, saya nungguin panggilan buat difoto. Gak terlalu lama sih, paling cuma 10 menitan. Saya pun lalu difoto dan diminta nunggu SIM-nya jadi. Dan setelah 15 menit SIM saya pun akhirnya jadi. Total biaya yang saya keluarin sekitar Rp 385.000 dengan total waktu sekitar 2 jam setengah. Sebenarnya kalo tadi saya gak salah duduk di tempat nunggu sih bisa lebih singkat lagi. Tapi itulah gobloknya saya. Maklum, baru pertama kali. Jadi agak bingung sendiri deh hehe…

image

Begitulah pengalaman saya bikin SIM secara tembak. Saya gak mau dibilang munafik. Saya akuin saya cukup terbantu dengan adanya pembuatan SIM tembak ini. Agak aneh juga melihat saya yang masih belum begitu lancar berkendara tapi dengan mudahnya bisa dibikinin SIM. Mungkin, inilah yang menyebabkan banyaknya kecelakaan terjadi di jalan raya. Prosedur bikin SIM aja bisa dimanipulasi, pantas aja banyak pengendara yang berseliweran tanpa skill yang mumpuni (termasuk saya hehe…). Ya, beginilah negeri kita. Semua ketentuan bisa diatasi. Segala aturan bisa diminimalisasi. Agak ngeri juga sih! Tapi mau gimana lagi, this is my lovely fuckin country! Semua bisa dibeli! You just need money to reduce all of difficulty!

Finally, I have to confess. Now, everyone knows that I ride so bad! Haha


Sudah hampir seminggu ini Ceu Ebah bolak-balik ke Balai Desa. Bukan buat bikin KTP atau minta sumbangan, tapi buat latihan paduan suara. Ya, paduan suara. Ceu Ebah didapuk jadi salah satu chor yang akan menyanyikan lagu mars Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2011 di Kota Baru Parahyangan, Padalarang.

Subuh-subuh, Ceu Ebah sudah berangkat ke Kota Baru buat gladibersih sebelum upara seremonialnya dimulai beberapa jam kemudian.

Peringatan Harganas tahun ini agak istimewa karena orang nomor 2 negeri ini akan datang untuk memberikan sambutan. Untuk itu, segala tektek bengeknya sudah jauh-jauh hari dipersiapkan.

Kedatangan orang penting bikin kepala jadi pening. Gimana enggak pening, jalan utama Padalarang macet total. Kendaraan dan pejalan kaki saling berebut pelataran jalan. Beginilah akibatnya kalau Padalarang kedatangan tamu terpandang. Stres trafic jam jadi efek samping yang tidak bisa terelakan.

Kita tinggalkan sejenak tentang kedatangan Pak Wapres. Tiba-tiba saya teringat dengan pernikahan Mang Bejo, kerabat saya, yang dirayakan pada hari Senin tanggal 21 Juni 2011 lalu. Mang Bejo mempersunting dara cantik asal Desa Cisurupan, sebuah desa kecil di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat yang dilingkupi alam pegunungan. Bukan pesta pernikahannya yang akan saya ceritakan, tapi lika-liku perjalanan seserahannya yang menurut ibu saya “cukup menantang”. Gimana nggak nantang! Jalan yang sebagian berupa tanjakan dengan kemiringan rata-rata 30 derajat dibiarkan tak beraspal bahkan berlubang. Mobil seserahan pun sempat beberapa kali ngadat karena terjebros lubang yang cukup dalam.

Desa Cisurupan hanya segelintir dari desa-desa lain di Kabupaten Bandung Barat yang masih kesulitan dengan akses jalan. Desa Cisurupan hanya berjarak beberapa kilometer dari Kota Baru Parahyangan, tapi kondisi fasilitasnya sungguh sangat memperhatinkan.
Kota Baru Parahyangan selalu jadi kebanggaan Kabupaten Bandung Barat. Kota mandiri nan prestisius ini selalu jadi langganan tuan rumah bagi tamu-tamu penting sekelas presiden dan wakilnya. Coba bayangkan kalau Desa Cisurupan yang jadi tuan rumahnya. Saya yakin rombongan paspanpres akan kewalahan mengeluarkan roda mobil RI 2 yang masuk ke dalam lubang.

Salah satu program Harganas kali ini adalah upaya pengurangan jumlah keluarga Indonesia dari lubang kemiskinan. Saya harap program ini bukan isapan jempol belaka. Saya harap akan ada implementasi nyata yang bisa dirasakan oleh ribuan atau bahkan jutaan keluarga Indonesia yang memang sedang berkekurangan.

Pak Boediono telah kembali ke istana. Pak Wapres mungkin tak tahu dimana Desa Cisurupan berada, tapi saya berharap program luhur yang beliau canangkan bisa sampai ke Desa Cisurupan supaya jalan mulus yang mereka impikan bisa segera terealisasikan.

Sapi Vs TKI

Posted: 21 Juni 2011 in Social Politic

Hari ini aku lagi pengen ngomongin hal yang serius nih. Aku lagi pengen nimrung berita yang sekarang lagi happening di TV.

Akhir-akhir ini media lagi heboh-hebohnya ngebahas Ruyati, TKI yang dihukum pancung karena membunuh majikannya di Arab Saudi. Antara jengah, marah dan miris. Permasalahan TKI memang nggak pernah berhenti. Penyiksaanlah, deportasilah dan lain sebagainya. Aku jadi kebelenger mendengarnya.

Kasihan banget Bu Ruyati. Ia dianiaya, disiksa lalu dihadapkan dengan vonis hukuman paling kejam di dunia. Huah, aku hanya bisa menghela napas. Nggak kebayang kalau itu terjadi sama ibuku. Mikirinnya juga nggak tega. Terlalu ngeri.

Selain soal Ruyati, media kita juga sempet diramaikan oleh berita pemberhentian ekspor sapi yang dilakukan oleh pemerintah Australia. Australia geram setelah melihat video penyiksaan sapi di rumah potong hewan di beberapa daerah di Indonesia. Australia nggak terima sapi mereka diperlakukan semena-mena. Mereka pun akhirnya menyetop ekspor sapinya ke Indonesia. Padahal Indonesia sendiri adalah pasar utama ekspor sapi asal Australia. Sekitar 80% ekspor sapi mereka dikirim ke negara kita.

Ngebahas 2 berita barusan bikin bulu kuduk merinding. Dua-duanya ngebahas soal penyiksaan. Yang satu terhadap manusia dan yang satu lagi terhadap hewan. Wuih, serem ya! Meski sama-sama kasus penyiksaan, tapi dua kasus ini memiliki akhir kisah yang berbeda.

Australia dengan sigap memberhentikan ekspor sapinya setelah mengetahui penyiksaan keji yang terjadi di sebagian rumah jagal di Indonesia. Sedangkan pemerintah kita, sudah tahu TKI-nya sering mendapat siksa, bahkan mungkin lebih sadis dari penyiksaan sapi Australia, tetap saja ekspor TKI-nya belum diberhentiin juga. Kalau begini apa bedanya TKI dengan sapi Australia?

Jika ditilik dari segi jumlah, jumlah TKI yang diekspor Indonesia jelas lebih besar dari sapi yang diekspor Australia. Bandingkan pula devisa yang dihasilkan oleh keduanya. Australia mendapat US$ 967 juta dari ekspor sapinya sedangkan Indonesia mendapat lebih dari Rp 6 miliar dari ekspor TKI-nya. Jumlah yang sangat mencengangkan bukan? Mungkin inilah yang menyebabkan pemerintah kita enggan menghentikan pengirman TKI.

Betapa beruntungnya sapi Australia. Setelah mendapat siksaan semena-mena, mereka pun akhirnya mendapat perlindungan dari negara. Tapi betapa malangnya TKI kita, meski kerap kali mendapat siksa, perlindungan bagi mereka sepertinya masih jauh di depan mata.

follow me on
Twitter: http://www.twitter.com/RosmenStation
Facebook: http://www.facebook.com/rosmen.rosmansyah
MySpace: http://www.myspace.com/rosmenstation
also visit my other personal blog at:
http://www.rosmenstation.blogspot.com

Sindrom “Tuturut Munding”

Posted: 11 Agustus 2010 in Social Politic

Sering kali kita mendengar istilah tuturut munding dilontarkan oleh orang tua kepada anak yang suka meniru tingkah laku orang tuanya. Istilah tuturut munding memang sangat populer di kalangan masyarakat Sunda. Dalam arti sederhana, tuturut munding berarti suka ikut-ikutan meniru tingkah laku orang lain, tidak mempunyai pendirian tetap.

Meniru merupakan perilaku manusiawi. Meniru adalah awal dari suatu proses pembelajaran. Sangat penting terutama pada saat memasuki masa-masa usia belia. Sampai sekarang mungkin kita tidak akan bisa melafalkan bunyi kata “mama” kalau di waktu bayi kita tidak menirunya dari orang tua. Mungkin kita tidak akan bisa menulis dan membaca kalau tidak meniru ajaran bapak ibu guru kita. Harus diakui, tanpa meniru kita tidak akan bisa apa-apa.

Meniru tidak selamanya benar. Seringkali apa yang ditiru tidak mencontohkan hal yang pantas untuk ditiru. Saya teringat dengan cerita salah seorang kawan. Saat duduk di bangku SMP, dia jarang sekali masuk sekolah. Dalam seminggu, paling hanya dua atau tiga kali ia menginjakkan kaki di kelas. Sampai akhirnya ia pun dipanggil bapak wali kelas. Ketika ditanya kenapa ia sering bolos sekolah, maka dengan enteng ia pun menjawab, “Kansaya ngikutin Bapak!”

Cerita di atas adalah contoh nyata tuturut munding. Sindrom tuturut munding telah menjalar di hampir setiap sendi kehidupan masyarakat. Perilaku para pelajar yang sering bolos pada jam pelajaran seakan berguru pada para anggota dewan yang sering absen dalam rapat paripurna atau para tersangka kasus korupsi yang mangkir dari proses pemeriksaan polisi. Bentrokan antar pemuda yang adu mulut dan memilih jalan kekerasan tidak jauh berbeda dengan perang para tokoh elit di panggung perpolitikan. Dan yang paling hangat –atau paling “panas”, aksi asusila remaja yang seperti berkaca pada perilaku amoral yang dipertontonkan para selebritas idola.

Seperti berguru pada orang tidak berilmu, belajar pada orang yang kurang ajar, seperti itulah sindrom tuturut munding. Kalau sudah begini mau diapakan lagi. Apa si munding yang harus disalahkan? Munding atau kerbau hanyalah hewan tambun yang doyan makan. Ia pekerja keras namun sering dijadikan perumpamaan dari sifat dungu karena amat penurut dan jarang sekali ngeyel kalau disuruh majikan. Para kerbau patut berbangga diri karena telah sukses menjadi trendsetter dan menjadikan manusia sebagai follower. Kalau saya menjadi kerbau (ini hanya perumpamaan saja), mungkin saya akan tertawa terbahak-bahak seperti layaknya filsuf Perancis, Jean-Paul Sartre menertawakan esensi manusia dalam keabsurditasan.

Tuturut munding seperti paradigma pemanusiaan kerbau dan pengerbauan manusia. Tentunya manusia tidak ingin disamakan dengan kerbau. Meski sama-sama dari kelas mamalia, kerbau dan manusia jelas-jelas berbeda. Kerbau memiliki empat lambung sedangkan manusia hanya satu. Kerbau bisa menghabiskan berkilo-kilo gram rumput dalam satu kali makan sedangkan manusia bisa menghabiskan sebakul nasi pun jarang –kecuali orang yang benar-benar kelaparan. Tetapi di balik semua perbedaan itu, ternyata kerbau dan manusia memiliki satu persamaan, yakni sama-sama ingin selalu ikut-ikutan.

Krisis sosial yang berlangsung sekarang ini seperti siklus peniruan yang terus berulang. Segala kebobrokan mentalitas dan moral terus melenggang tidak terkendali. Media tidak henti-hentinya memberitakan berbagai kenistaan di negeri ini. Koruptor, penjinah, pembunuh dan penganiaya makin kita akrabi di layar televisi.

Menurut pandangan eksistensialisme yang dikemukakan Sartre, pada dasarnya manusia tidak memiliki sifat alami. Esensi manusia dibentuk oleh kreasi sosial yang dipengaruhi lingkungan. Tidak ada peran stereotip dalam diri manusia sehingga ketika krisis sosial semakin membabi buta dipertontonkan ke khalayak luas –terutama pada generasi muda, maka sedikit banyak pasti akan berpengaruh pada pola pikir dan cara pandang mereka.

Generasi muda telah kehilangan sosok panutan untuk diteladani. Kami telah kehilangan sosok pemimpin yang menginspirasi. Ketika “para kerbau” itulah yang terpaksa muncul ke permukaan, maka sindrom yang dibawanya pun seakan datang menulari. Kerbau harusnya diangon bukan dituruti. Sudah selayaknya kita menjadi pengembala bukan malah digembalai.

Menyimak tingkah laku kerbau jadi-jadian membuat kepala pusing. Saya jadi rindu memandikan kerbau beneran. Waktu masih kecil, kalau liburan sekolah tiba, saya suka pergi ke rumah Abah di Sumedang. Saya suka ikut memandikan kerbau-kerbau kesayangan Abah di sungai. Adasatu petuah dari Abah yang selalu saya ingat sampai sekarang, “Tong sok tuturut munding bisi jadi munding nyaanan!” (Jangan suka ikut-ikutan kayak kerbau nanti bisa jadi kerbau beneran!).

follow me on
Twitter: http://www.twitter.com/RosmenStation
Facebook: http://www.facebook.com/rosmen.rosmansyah
MySpace: http://www.myspace.com/rosmenstation
and also visit my other personal blog at: http://www.rosmenstation.blogspot.com