Archive for the ‘Review’ Category

Sumber: IMDB


Pernahkah diantara kamu yang pernah kepikiran buat bunuh diri?

Pertanyaan yang cukup ekstrim memang. Tunggu dulu bentar bro, kok ini tiba-tiba malah ngomongin bunuh diri ya? Hehe maaf. Semua ini gara-gara saya habis nonton serial TV yang lagi happening beberapa belakangan ini. Yup, 13 Reasons Why! Awalnya saya gak terlalu tertarik dengan serial ini. Saya pikir saya ini terlalu tua buat nonton serial remaja kayak gini. Tapi berkat pemberitaan tentang serial ini di sosmed serta atas dasar rekomendasi teman-teman di forum Fans-Game of Thrones, saya akhirnya tertarik buat nonton serial ini. Ya, itung-itung sebagai selingan sambil nunggu Game of Thrones season 7 yang bakal tayang pertengahan Juli 2017 nanti. Selain karena beberapa hal yang telah saya sebutkan tadi, sebenarnya subject yang menjadi inti cerita serial 13 Reasons Why ini cukup membuat saya tertarik, meski mengundang kontroversi, yakni fenomena bunuh diri di kalangan remaja. Tema yang cukup suram untuk ukuran serial TV remaja memang.

Serial 13 Reasons Why diangkat dari sebuah buku best seller berjudul sama karya Jay Asher (sayangnya saya belum baca versi bukunya hmm..), menceritakan tentang seorang gadis SMA bernama Hannah Baker yang memutuskan untuk mengakhiri nyawanya sendiri. Setelah melakukan bunuh diri, neng Hannah ini meninggalkan “warisan” berupa 7 buah kaset berisi 13 rekaman alasan mengapa ia melakukan bunuh diri. Kaset tersebut disebarkan secara estafet kepada beberapa temannya yang namanya ia sebut dalam rekaman, yang ia anggap sebagai “penyebab” ia melakukan bunuh diri. 

Tersebutlah Clay Jensen, salah seorang teman Hannah yang juga menerima rekaman kaset tersebut. Berbeda dengan beberapa temannya yang tidak terlalu serius menanggapi kaset-kaset tersebut,  Clay yang emang belum move on suka sama Hannah ini malah secara tak sadar mendengarkan kaset-kaset itu terlalu sentimentil. Dari sosok Clay Jensen inilah misteri kehidupan Hannah sebelum mengakhiri nyawanya akan terungkap satu per satu mulai dari intimidasi, cyber-bullying, intrik pergaulan remaja, body shaming, stalking, sampai pelecehan seksual dan pemerkosaan. Di lain pihak, orangtua Hannah tetap bersikukuh membawa kasus bunuh diri puterinya melalui jalur hukum sehingga menimbulkan konflik dengan pihak sekolah.

Untuk ukuran serial remaja, mungkin tema 13 Reasons Why memang cukup kelam dan berat. Di serial ini akan ditampilkan secara eksplisit detik-detik bagaimana seorang Hannah Baker mengakhiri hidupnya dengan silet yang menyayat kedua lengannya (spoiler alert!). Menurut saya, scene ini sangat WTF banget!! Selain itu, adegan pemerkosaan dalam serial ini juga cukup disturbing untuk ukuran young adults. Ini serial remaja lho bro! Hadeuuhh… tapi karena adegan-adegan WTF itulah, Netflix terpaksa memberi rating 18+ untuk serial ini. Wajar memang.

Sumber: IMDB

Sejak tayang akhir Maret lalu, serial yang juga diproduseri neng Selena Gomez ini langsung jadi bahan pembicaraan dimana-mana. Banyak yang memuji serial ini sebagai suatu bentuk awareness bunuh diri di kalangan remaja, tapi banyak juga yang mengkritisi karena ditakutkan bakal menjadi suatu model glorifikasi bunuh diri di kalangan anak muda. Serial ini pun kini semakin disorot ketika sebuah permainan online yang bernama Blue Whale Challenge menyeruak karena dikabarkan sama-sama mendorong pemainnya untuk bunuh diri. Dikabarkan banyak pemain game tersebut yang bunuh diri karena terinspirasi serial 13 Reasons Why. Meski memang sampai sekarang berita ini belum dikonfirmasi.

Bunuh diri memang masih menjadi obrolan tabu di masyarakat. Bukan cuma di negeri kita, tapi juga di negara-negara lain kayak di US dan Europe sono yang notabenenya lebih liberal. Meski begitu, bunuh diri juga telah menjadi suatu budaya di beberapa negara seperti di Jepang dan Korea Selatan. Sebagian kalangan berpendapat bahwa mengakhiri nyawa sendiri adalah hak pribadi. Maka gak salah kalau di Eropa sana, tepatnya di Swiss muncul sebuah klinik yang bernama klinik Dignitas yang menawarkan bantuan untuk mengakhiri nyawa secara legal bagi orang-orang yang sudah putus asa dalam hidupnya. Sangat gila memang! Well, tapi presepsi tiap orang toh pasti beda-beda. Bagi orang religius, jelas bunuh diri itu dilarang oleh agama. Sedangkan sebagian lagi menganggap bunuh diri sebagai suatu tindakan yang egois. Dan terlepas dari semua itu, kita pasti setuju kalau bunuh diri itu adalah suatu tindakan yang salah.

Saya teringat dengan salah satu scene di 13 Reasons Why di episode terakhir sesaat setelah Hannah mengakhiri nyawanya (Spoiler alert lagi ya..). Reaksi orangtua Hannah, terutama ibunya begitu melihat anaknya sudah tak bernyawa menurut saya sangat heartbreaking sekaleee! Sesungguhnya yang paling menderita itu adalah orang-orang terdekat yang ditinggalkan. Jadi, benarkah bila bunuh diri itu termasuk tindakan egois? Saya kira, kita jangan dulu buru-buru mengambil kesimpulan. Orang-orang yang menyayangi kamu akan menderita, ya itu pasti. Malah tak menutup kemungkinan kalau orang-orang yang menyayangi kamu tersebut juga akan masuk ke dalam kubangan defresif berkepanjangan yang juga bahkan dapat mengarah kepada tindakan bunuh diri berikutnya bila ia juga punya kecenderungan depresi. Meski begitu, saya juga ingin menggarisbawahi tentang sikap masyarakat terhadap “korban atau pelaku bunuh” diri ini. Saya sungguh menyayangkan tentang judgement masyarakat kita tentang korban bunuh diri ini. Mereka mengganggap korban bunuh diri ini sebagai seseorang yang telah dilaknat. Oke, mungkin dari sisi religi bisa dibenarkan. Tapi menurut saya ini kurang tepat. Mungkin tindakan mereka untuk bunuh diri memang salah. Tapi menghakimi individu yang melakukan bunuh diri tersebut tidaklah tepat. Seharusnya korban pelaku bunuh diri bisa dijadikan sebagai bentuk awareness bagi kita kalau masih banyak orang yang membutuhkan pertolongan. Faktor bunuh diri memang macam-macam, mulai dari faktor ekonomi, tekanan sosial, psikologis atau kejiwaan. Faktor psikologis dan kejiwaan memang banyak menyumbang peranan yang cukup besar dalam perilaku bunuh diri.

Tiap orang menanggapi suatu masalah secara berbeda. Mungkin suatu masalah bisa dianggap kecil oleh seorang individu tapi bagi individu lain bisa saja masalah itu berdampak besar. Seperti yang pernah neng Hannah Baker katakan dalam episode pertama 13 Reasons Why, “masalah besar dan kecil itu sama pentingnya”. Kondisi kesehatan mental seseorang yang melalukan bunuh diri harus diperhitungkan sebelum kamu menghakimi tindakannya. Bagi seseorang yang mengalami gangguan mental seperti depresi, tentu itu bukanlah hal yang sepele untuk diatasi. Jadi kita tidak bisa menilai tindakan bunuh diri sebagai bentuk keegoisan semata.

Apalagi jika ditambah dengan faktor-faktor lain seperti ekonomi, sosial, lingkungan dan sebagainya, kecenderungan seseorang yang depresi untuk melakukan bunuh diri akan semakin besar karena depresi sendiri bukanlah rasa sedih biasa.

Menurut Dean Burnett, seorang pakar neurologi dari Cardiff University menyatakan, tidaklah tepat membandingkan pengalaman seseorang yang menderita depresi karena gangguan mental dengan orang mengalami kesedihan lalu bisa melaluinya (Kompas.com, September 2014). “Jika Anda tak memiliki gangguan jiwa, maka Anda tak berhak mengabaikan mereka yang memilikinya,” kata Burnett dalam tulisannya di The Guardian.

Jangan pernah menganggap orang yang bunuh diri atau yang pernah melakukan percobaan bunuh diri sebagai orang yang lemah. Kita tidak akan pernah mengerti keadaaan seseorang  kecuali jika kita menjadi orang tersebut. Seorang penderita gangguan mental atau mereka yang mengalami depresi tidak akan mampu berpikir logis ketika dihadapkan suatu keruwetan karena mereka tidak bisa berpikir secara normal. Jadi bila kita mengatakan bahwa aksi bunuh sebagai bentuk keegoisan, sebenarnya pernyataan kita itu merupakan bentuk keegoisan itu sendiri. Kita egois karena tidak mau mencoba untuk mengerti mereka.

“Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya… hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.” – Harper Lee dalam buku To Kill a Mockingbird

Don’t ever judge people if we don’t know who they are! 

Menangkal perilaku bunuh diri bukanlah tindakan yang mudah karena bersifat subjektif. Penyebab seseorang bunuh diri tidak dapat disebut hanya satu penyebab karena merupakan interaksi kompleks dari berbagai faktor (Nationalgeographic.co.id edisi November 2015). Bagi orang-orang religius, mungkin bisa melalui pendekatan agama. Hampir semua agama pasti melarang yang namanya bunuh diri. Tapi saya pikir ini tidaklah cukup, seperti yang saya bilang tadi, orang-orang yang mempunyai kecenderungan depresi tidak akan mampu berpikir rasional sehingga pendekatan psikologis akan terasa lebih tepat. Kita tidak akan tahu bagaimana memberi pertolongan pada mereka, kecuali kita faham dengan kondisi psikologis mereka. Semua masalah pasti ada solusinya dan jangan biarkan bunuh diri menjadi solusi yang akan mereka pilih.

Berawal dari 13 Reasons Why, saya jadi antusias ngomongin tentang permasalahan bunuh diri. Saya pribadi menganggap serial ini cukup positif sebagai pemecah ketabuan masalah bunuh diri, khususnya di kalangan generasi muda. Bunuh diri memang tindakan yang salah, tapi itu bukanlah alasan untuk menyalakan pelaku bunuh diri tersebut. Serial ini juga bisa dijadikan sebagai momentum untuk menyadarkan kita akan pentingnya kesehatan mental dan spiritual serta interaksi sosial yang sehat. 

Berdasarkan data WHO, 39 persen dari total kasus bunuh diri di dunia disumbang oleh negara-negara Asia Tenggara. Di Indonesia sendiri kasus bunuh diri mencapai 3,7 persen per 100.000 penduduk. Memang presentase tersebut masih rendah dibanding negara-negara Asia lain. Tapi dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 258 juta penduduk, berarti ada 10.000 bunuh diri di Indonesia tiap tahun atau satu orang per jam. Angka yang cukup fantastis memang.

Sumber: Google

Mungkin kita tidak bisa berbuat banyak untuk mengatasi bunuh diri. Tapi setidaknya hal ini bisa dijadikan renungan bagi kita khususnya dalam hal berinteraksi dengan sesama. Terutama dengan maraknya social media di zaman sekarang. Komentar kebencian, intimidasi dan cyber-bullying sering kita saksikan di berbagai laman sosial media. Kita tidak akan pernah tau perasaan orang yang terintimidasi tersebut. Sudah saatnya kita lebih peka. Jangan sampai itu menjadi salah satu faktor orang lain untuk mengakhiri nyawanya. Tokoh Hannah Baker mungkin hanya sekedar fiksi, tapi ia bisa dijadikan gambaran korban intimidasi yang berujung bunuh diri.

Mungkin kamu punya berjuta alasan untuk bunuh diri, tapi ingatlah kamu selalu punya alasan untuk hidup. Serapuh apapun jiwamu, ingatlah dengan hidup yang akan menguatkanmu. Hidup ini cuma sekali guys! Jangan sia-siakan hidupmu. Masih banyak miliaran kemungkinan di luar sana. Suicide is not an answer. 
It’s not even an option. Ok, sometimes we feel so damn weak but it’s not a reason to cut our neck. Just love your life. 

Sumber: Google

Suicide can be prevented! 

gone-girl-poster

Sebenarnya saya agak males buat mereview sebuah film, tapi entah kenapa saya langsung ngebet ingin mereview setelah menonton film ini, film yang katanya jadi salah satu film yang paling dibicarakan di tahun 2014 lalu. I’m going to review the Gone Girl, film arahan David Fincher yang diangkat dari novel best seller karya Gillian Flynn. Dibintangi oleh si cantik Rosamund Pike dan si bongsor Ben Affleck, film ini sempet happening banget di dunia maya petengahan Oktober lalu dan mendapat pujian dari banyak kritikus film. Gak heran kalau film ini mendapat rating yang tinggi di Rotten Tomatoes. Inilah yang menyebabkan saya ingin nonton film bergenre thriller ini sejak penghujung tahun lalu. But unfortunately, film ini gagal tayang di Indonesia. Mungkin karena gak lulus sensor kali ya. Habis film ini emang lumayan banyak adegan erotisnya sih. Saya akui itu hehe. Dan thank God, baru-baru ini Gone Girl udah nongol di Ganool dengan kualitas Bluray. Jangan sahalin saya karena udah download film secara illegal. Habis film ini emang gak tak tayang di sini sih. Salah satu alternatif buat nonton ya dengan mendownloadnya secara gratisan hehehe.

Directed by David Fincher
Produced by
Screenplay by Gillian Flynn
Based on Gone Girl
by Gillian Flynn
Starring
Music by
Cinematography Jeff Cronenweth
Edited by Kirk Baxter
Production
company
Distributed by 20th Century Fox
Release dates
  • September 26, 2014 (NYFF)[1]
  • October 3, 2014 (United States)[1]
Running time
149 minutes[2]
Country United States
Language English
Budget $61 million[3]
Box office $365.3 million[3]

Oke, gak perlu banyak cingcong lagi, saya bakal langsung ngereview film ini. Film ini bercerita tentang sepasang suami isteri, Nick dan Amy Dunne. Mereka memiliki kehidupan yang sempurna di kota New York sampai suatu hari mereka harus pindah ke kota kecil di Missouri -kampung halaman Nick- di tengah masa resesi. Nick dan Amy bekerja sebagai penulis, tapi mereka bekerja di majalah yang berbeda, tapi setelah pindah ke Missouri, Nick beralih profesi dengan membuka sebuah bar dan Amy menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya.

“When two people love each other and they can’t make that work, that’s the real tragedy.” – Amy Dunne

Kehidupan mereka terlihat normal sampai suatu pagi di hari ulang tahun pernikahan mereka yang kelima, Nick mendapati kalau istrinya telah hilang secara misterius di rumahnya. Hilangnya Amy langsung menjadi berita besar. Seluruh warga kota tempat Nick tinggal ikut berpartisipasi dalam pencarian Amy. Dan setelah pers mulai meliput kasus hilangnya Amy, kasus ini pun langsung menjadi berita nasional. Satu-per satu misteri mulai bermunculan dan kehidupan rumah tangga Nick dan sang isteri yang hilang pun mulai menjadi santapan media. Semua orang mencari Amy tapi bukti demi bukti mulai mengarah ke Nick, sang suami. Publik mulai curiga kalau Nick ikut andil dalam tragedi hilangnya Amy. Bahkan publik, media dan polisi mulai mencurigai kalau Amy telah dibunuh Nick. Apalagi setelah ditemukan buku diari Amy yang berisi tentang catatan hariannya selama menikah dengan Nick. Amy menggambarkan dalam diarinya kalau Nick telah berubah menjadi sosok yang temperamental dan sering memperlakukannya secara kasar. Dalam diarinya pula dituliskan kalau Amy merasa terancam oleh suaminya , bahkan ia takut kalau sang suami akan membunuhnya. Kasus pun mulai semakin pelik setelah skandal perselingkuhan Nick dengan seorang gadis belia mulai menyeruak ke halayak publik dan Nick semakin menjadi bulan-bulanan media.

gone-girl-DF-01826cc_rgb.jpg

image

Hari demi hari, Nick mulai merasakan banyak kejanggalan dalam kasus menghilangnya sang isteri. Ia curiga kalau sang isteri masih hidup dan semua ini hanya rekayasa sang isteri agar dirinya masuk penjara lalu dihukum mati. Dan kecurigaan Nick pun benar, di pertengahan film mulailah diceritakan keberadaan Amy. Ternyata Amy-lah yang merekayasa semuanya. Ia telah merencanakan semua ini secara detail dari jauh-jauh hari. Ia bahkan menulis diari palsu itu. Tapi ditengah “kebebasannya”, Amy ketiban sial. Semua uangnya dirampas saat dirinya tengah menikmati masa-masa persembunyiannya di sebuah coutage. Karena putus asa, Amy pun menghubungi mantan pacarnya, Desi Collings yang diperankan oleh Neil Patrick Harris. Desi sudah lama terobsesi dengan Amy. Bahkan meski Amy sudah menikah, ia tetap menulis surat untuknya secara intens. Well well well, and the shit was going to be happened. Amy bilang pada Desi kalau ia tengah lari dari suaminya yang psycho dan Desi pun menawarinya untuk tinggal di rumah danaunya. Sementara itu, media mulai semakin gencar menyudutkan Nick, dan polisi mulai menaikan statusnya menjadi tersangka.

“When I think of my wife, I always think of the back of her head. I picture cracking her lovely skull, unspooling her brain, trying to get answers. The primal questions of a marriage: What are you thinking? How are you feeling? What have we done to each other? What will we do?” – Nick Dunne

Pada suatu hari, pengacara Nick menawarinya untuk tampil di salah satu acara talkshow TV kabel nasional. Di acara itu Nick mengungkapkan segala uneg-unegnya dan meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan yang selama ini ia buat selama berumah tangga dengan Amy, termasuk skandal perselingkuhannya. Nick hanya ingin isterinya kembali. Amy yang juga ikut menonton acara talkshow itu mulai bimbang, apalagi Desi mulai bersikap semakin overposessive terhadapnya. Amy tergerak untuk kembali ke pelukan sang suami. Amy mulai merencanakan rencana gila untuk lari dari Desi. Dan salah satu adegan paling what the fuck pun terjadi. Amy menebas leher Desi saat mereka sedang bercinta. Darah muncrat kemana-mana dan Amy pun pulang ke rumahnya.

Nick yang sudah tahu akal busuk Amy terpaksa menerima kedatangan Amy. Tapi dengan banyaknya sorotan media dan akting Amy yang seolah menjadi korban pennculikan sang pacar di depan pers dan polisi, Nick pun tidak bisa bisa berkutik.

Nick Dunne: You fucking cunt!
Amy Dunne: I’m the cunt you married. The only time you liked yourself was when you were trying to be someone this cunt might like. I’m not a quitter, I’m that cunt. I killed for you; who else can say that? You think you’d be happy with a nice Midwestern girl? No way, baby! I’m it.
Nick Dunne: Fuck. You’re delusional. I mean, you’re insane, why would you even want this? Yes, I loved you and then all we did was resent each other, try to control each other. We caused each other pain.
Amy Dunne: That’s marriage.

Salah satu dialog paling memorable yang ada di film ini.

Film pun berakhir dengan sebuah adegan talkshow TV yang menampilkan mereka berdua tengah diwawancarai. Mereka mengabarkan berita bahagia. Mereka mengumumkan pada publik kalau mereka tengah berbahagia karena Amy sedang mengandung anak pertamanya dengan Nick. Well, ending yang sungguh ironis memang.

gonegirl-rep

Film ini telah berhasil memuaskan rasa penasaran saya. Cukup wajar bila film ini gagal tayang di bioskop Indonesia karena seperti yang saya udah bilang di atas, film ini banyak banget muatan seksnya seperti beberapa sex scene, topless, dan frontal nudity. Salah satu adegan paling hot adalah saat Nick tengah bercumbu dengan selingkuhannya di sofa. Si ceweknya bener-bener topless bos! Haha. Dan satunya lagi pas adegan Nick dan Amy sedang berada di kamar mandi. Si Ben Affleck bener-bener nude, I thought I’ve seen his penis a lil bit tapi sayang si tante Rosamund Pike cuma disorot dari belakang. Alhasil kita cuma bisa liat punggungnya yang semampai nan aduhai. But the most WTF scene is when Amy killing Desi during sex! Diawali dengan adegan oral sex yang super vulgar, adegan berlanjut ke atas ranjang and damn! Amy suddenly slashed Desi’s neck, dan adegan bercinta pun berubah jadi adegan penuh darah. What a damn creepy scene!

Akting Ben Afflek dan Rosamund Pike memang patut diacungi jempol. Tapi menurut saya, si Rosamund Pike-lah yang layak mendapat applause tertinggi. Gila, aktingnya bener-bener gokil! Dari seorang isteri serba sempurna, smart dan elegan yang bernama Amy Dunne, ternyata dia punya sisi lain sebagai wanita licik, delusional, manipulatif dan tidak segan-segan membunuh untuk memuluskan rencananya. She was absolutely a bitch! Everyone would confess about that! Maka gak heran kalau tante Rosamund Pike ini dapet nominasi Golden Globe tahun ini dan saya gak bakalan heran kalau ia bakal dapet nominasi Oscar juga cause her acting was really God damn awesome!

Dari segi music score, musik latar dalam film ini bakalan lansung membangun imaji suspense sejak adegan pertama . Tangan dingin David Fincher bener-bener juara. The Social Network adalah satu film arahan David Fincher favorit saya dan Gone Girl sepertinya akan masuk juga dalam list saya.

Adegan-adegan sejam pertama mungkin agak sedikit monoton dan membosankan tapi itu yang membuat saya semakin penasaran. Dan pada akhirnya bikin saya tetep betah mantengin layar sampe akhir cerita.Well, gak ada gading yang gak gak retak, begitu juga dengan film Gone Girl ini. Salah satu adegan paling silly adalah ketika si Amy pulang dari rumah sakit dengan tubuh yang masih berlumuran darah. Setahu saya, tiap rumah sakit gak akan mungkin memulangkan pasiennya ketika masih berlumuran darah. Pastinya bakal dibersihin sama bu susternya lah. Agak doesn’t make sense memang. Tapi mungkin seperti itulah adegan yang juga tertulis dalam novelnya –saya belum baca sih. Mungkin biar lebih keliatan dramatis kali ya hehe.

Over all, menurut saya Gone Girl memang sangat layak mendapat predikat salah satu film terbaik di tahun 2014. Dari skala satu sampe lima bintang, saya bakal kasihin empat. It means this movie is really awesome! Congrats buat David Fincher yang kembali membuat saya tercengang dengan karya terbarunya. Semoga bisa Berjaya di ajang Academy Awards tahun ini. I really love this movie, worth it banget buat ditonton! Tapi saya ingatkan kembali, film ini hanya boleh ditonton buat kamu yang sudah berusia 18 ke atas karena beberapa adegan seksnya bakal bikin kamu goyang dumang hehehe.

Sekian review dari saya. Sebenernya banyak banget film yang saya tonton belakangan ini, tapi cuma film ini yang baru sempet dibikin reviewnya. Semoga next time bisa bikin review film-film yang lain 🙂

Sumber gambar: Google

image

Enzo: The Art of Racing in The Rain

Berawal dari browsing buku keren di toko buku online —tepatnya di kutukutubuku.com, akhirnya saya menemukan buku ini, Enzo: The Art of Racing in the Rain. Saya langsung kepincut waktu ngeliat covernya yang bergambar seekor anjing dengan tagline judulnya yang berbunyi: Kisah tentang seekor filsuf. “Seekor Filsuf”? Ya, buku ini memang mengisahkan tentang seekor filsuf berkaki empat yang berasal dari spesies Canis lupus familiaris. Saya langsung jatuh cinta pada buku ini dan segera memasukannya dalam daftar belanja buku bulanan saya.

Setelah menunggu sekitar seminggu, akhirnya pesanan buku saya nyampe juga. Segudang ekspektasi langsung muncul di kepala saya. Buku terbitan Serambi ini ditulis oleh Garth Stein dengan terjemahan dari Ary Nilandari. Tebalnya mencapai 408 halaman. Kalau menurut saya gak terlalu tebel sih. Saya cuma butuh dua hari buat melahapnya. Mungkin karena saking serunya, jadinya saya malah lupa waktu dan keasyikan sendiri. Oh, I really love this book!

Begitu membaca bab pertama, hati saya langsung tergugah dengan cerita seekor anjing yang sedang berjuang menghabiskan detik-detik terakhir hidupnya. Ya, dialah Enzo. Seekor anjing yang merupakan tokoh utama sekaligus narator kisah dalam novel ini. Nama Enzo sendiri diambil dari nama Enzo Ferrari, pendiri perusahaan mobil sport Ferrari sekaligus pendiri tim balap Scuderia Ferrari. Melalui sudut pandang Enzo, cerita bergerak mundur. Enzo mengenang masa-masa bahagia bersama keluarga kecilnya. Enzo adalah seekor anjing unik yang bercita-cita menjadi seorang manusia. Ya, manusia. Enzo bercita-cita menjadi manusia di kehidupan selanjutnya. Dia lebih suka menghabiskan waktunya dengan menonton TV dan menonton tayangan video balap majikannya. Dari mulai National Geographic, Discovery Chanel, ESPN sampai saluran yang menayangkan film-film Hollywood. Dari tayangan-tayangan TV itulah ia mendapat berbagai pengetahuan yang tak mungkin bisa dimengerti oleh anjing sejenisnya. Ia pernah menonton sebuah tayangan dokumenter di National Geographic tentang mitos reinkanasi para anjing yang diyakini akan menjadi manusia di sebuah tempat di Mongolia. Sejak saat itulah ia percaya kalau suatu hari nanti ia juga akan bereinkarnasi menjadi manusia, dan ini menjadi obsesi seumur hidupnya.

image

Enzo adalah jenis anjing campuran labrador dan terrier. Majikan Enzo adalah seorang pembalap mobil semi profesional yang bernama Denny Swift. Enzo menjadi saksi bisu pasang surutnya kehidupan Denny. Setelah kematian isterinya, Eve, Denny harus berjuang memperjuangkan hak asuh puteri kecilnya yang bernama Zoe. Di tengah segala kesulitan itu, Denny malah dituduh terlibat dalam sebuah kasus pemerkosaan anak remaja. Enzo dan Denny selalu bersama dalam susah dan senang. Enzo selalu setia menemani Denny ketika ia bangkrut dan ketika ia harus terbelit masalah hukum. Begitu pun dengan Denny, ia tak pernah lelah merawat Enzo ketika sakit. Ia selalu mencurahkan segala kepenatannya pada Enzo. Mereka adalah sahabat sejati yang saling melengkapi. Dari Denny-lah Enzo mengerti filosofi hidup. Hidup itu seperti halnya balapan, begitulah pikir Enzo. Hidup itu bagai sebuah trek balapan. Ketika ia sudah berhasil menyelesaikan satu putaran kehidupan, maka ia akan melaju satu putaran lagi di kehidupan selanjutnya sebagai pembalap sesungguhnya, yakni sebagai manusia.

Inspiratif, ekspresif sekaligus mengharukan, itulah kesan pertama saya membaca novel ini. Ceritanya begitu sukses mencampur aduk emosi saya. Sometimes I feel sad, but next, it seems fun anyway. It’s like rollercoaster in my heart but it’s really good. Tipikal bacaan wajib buat pecinta hewan seperti saya. Meski begitu, novel ini bukan hanya sekedar novel yang menyuguhkan cerita tentang anjing biasa. Saya begitu kagum dengan gaya tulisan Garth Stein yang begitu piawai menyajikan kisah absurd ini sehingga terkesan nyata. Terkadang saya tidak sadar kalau yang bercerita itu adalah seekor anjing. Enzo benar-benar telah menjadi “seorang” filsuf sejati. Begitu banyak pesan kehidupan yang menakjubkan dalam novel ini, tentang indahnya hubungan dalam keluarga, tentang cinta dan perjuangan, serta harapan. Enzo telah sukses menafsirkan hidup kita sebagai manusia. Sebuah novel yang membuat kita termenung ketika membacanya. Gak salah novel ini bertahan menjadi best seller New York Times selama berminggu-minggu, habis novelnya bagus banget sih. Saya bisa buktikan itu

Penilaian saya untuk novel ini hampir mendekati sempurna. Saya beri 4½ dari 5 bintang untuk novel ini. Meskipun saya beberapa kali dipusingkan oleh kesalahan ketik pada beberapa tulisannya. Memang cuma sedikit, tapi cukup membingungkan bagi pembaca. Endingnya sendiri bisa dengan mudah terbaca. Tapi itu gak terlalu mengganggu. Toh mungkin ending seperti itulah yang diharapkan para pembaca. Not bad kok! Alhasil buku ini sukses masuk dalam daftar buku keren di rak buku Goodreads saya. God job for Garth Stein! Oh ya, katanya kisah si Enzo ini mau dibikinin filmnya juga lho! Dan gosipnya, aktor kawakan Patrick Dempsey udah ditunjuk buat meranin Denny Swift. Wow, I wanna watch that movie!

image

“Seorang pemenang, seorang juara, akan menerima nasibnya. Dia akan meneruskan dengan rodanya dalam tanah. Dia akan berusaha mempertahankan jalurnya dan secara bertahap kembali ke trek saat sudah aman. Ya, dia turun beberapa posisi dalam balapan. Ya, dia rugi. Namun, dia masih membalap. Dia masih hidup. Tak ada yang cedera.”

Seperti itulah hidup yang diajarkan Enzo. Seorang pemenang sejati akan selalu menerima segala rintangan kehidupan. Ia tak boleh menyerah karena ia masih hidup dan balapan masihlah sangat panjang.

Dan diakhir review ini, saya ingin mengutip sebuah kutipan dari pembalap F1 legendaris, Ayrton Senna. Kutipan ini menjadi salam pembuka buku di awal halaman.

“Dengan kekuatan pikiranmu, tekadmu, nalurimu, dan juga pengalamanmu, kau bisa terbang sangat tinggi.”

Yeah… that’s right. Like Senna said, I know that we can fly! We can fly, Enzo!!!

Sumber gambar: dokumen pribadi

image

The Jacatra Secret: Misteri Simbol Satanic di Jakarta

Seminggu lalu saya iseng jalan-jalan ke Gramedia di Jalan Merdeka, Bandung. Saya menemukan buku ini di bagian rak novel. Judulnya yang begitu “menjual” sangat menggoda saya untuk tergerak membacanya. The Jacatra Secret: Misteri Simbol Satanic di Jakarta. Jakarta dan simbol satanik? Dua tema yang tak pernah terpikirkan oleh saya untuk dikawinkan dalam sebuah novel. Diterbitkan oleh Bentang Pustaka. Novel ini ditulis oleh Rizki Ridyasmara. Dan ini adalah novel pertamanya. Perlu seminggu bagi saya untuk membaca tuntas novel setebal 438 halaman ini. Ini termasuk lama. Habis beberapa hari ini saya capek banget. Jadi bacanya cuma beberapa halaman aja per hari.

Pertama-tama saya ceritakan dulu sinopsis ceritanya. Cerita diawali oleh sebuah ritual masonik di gedung Adhucstat Logegebouw— sekarang gedung Bappenas— di Jakarta yang terjadi pada tahun 1962. Cerita lalu berlanjut ke masa sekarang, seorang profesor petinggi Bappenas yang bernama Sudradjat Djoyonegoro tewas dibunuh dengan luka tembak di depan Museum Sejarah Jakarta. Seorang simbolog asal Amerika bernama John Grant tergerak untuk menyelediki pembunuhan itu. Bersama Angelina Dimitreia, rekannya di perkumpulan Conspiratus Society—perkumpulan pecinta teori konspirasi, mulai ikut terlibat dalam kasus yang ternyata sangat berhubungan erat dengan sisi gelap kota Jakarta dan sejarah freemasonry di Indonesia. Satu per satu orang terbunuh. Misteri pun mulai terbuka ketika seorang gadis asal Uzbekistan, Sally Kostova, yang notabenenya kekasih Sudradjat, menemukan sebuah medali dengan lambang freemasonry yang diberikan secara diam-diam oleh kekasihnya. Konspirasi besar sejarah bangsa ini pun terbuka lebar. Neoliberalisme, korupsi, organisme satanisme global dan sisa-sisa kelam kolonialisme Belanda mulai terkuak secara perlahan. Atas bantuan seorang veteran TNI yang bernama Muhammad Kasturi, mereka mulai berusaha mencari rahasia besar yang tersembunyi dalam medali itu. John Grant dkk. pun dibayangi teror anggota mason. Misi pengejaran sang peneror telah membawa mereka menelusuri lorong rahasia di bawah kota yang dulunya bernama Batavia. Rahasia bangsa yang sengaja disembunyikan para mason akhirnya berhasil terkuak. Dan John Grant dkk. terpilih untuk menyelamatkan rahasia besar itu dari orang-orang yang hendak menyalahgunakannya.

Membaca buku ini serasa membaca buku sejarah. Saya bisa mendapatkan informasi tentang sejarah kelam Jakarta. Salut pada Rizki Ridyasmara atas riset bukunya. Sangat mendetail dan sedikit membuat saya tercengang. Saya jadi tahu nama-nama Belanda gedung bersejarah yang dibangun di ibukota. Buku ini pun semakin memupuk rasa nasionalisme saya. Selain itu saya juga cukup tertarik dengan beberapa fakta menggelitik yang tersaji dalam buku ini. Seperti fakta soal visualisasi bundaran air mancur Hotel Indonesia yang menyerupai mata Horus—mata dewa matahari Mesir kuno yang sering dikaitkan dengan simbol Lucifer dan satanisme, pesan tersembunyi dalam arsitektur monas hingga makna mistis yang tersembunyi dalam aksi kontroversial ciuman Britney Spears dan Madonna di panggung MTV Video Music Awards pada tahun 2003. Sungguh fakta yang menarik.

Buku ini berhasil menyajikan thriller sejarah yang cukup renyah dilahap para pembaca. Saking renyahnya sampai saya lupa kalau sedang membaca novel. Tapi saya cukup menyayangkan plot ceritanya yang terlalu mirip dengan novel The Da Vinci Code karya Dan Brown. Tokoh Dr. John Grant sangat mirip dengan tokoh Prof. Robert Langdon—yang di filmnya diperankan Tom Hanks. Begitu pun dengan Angelina Dimitreia yang langsung mengingatkan saya akan tokoh Sophie Neveu di novel yang sama. Kalau saja sang penulis berani menyajikan plot cerita yang segar serta karakter yang berbeda, mungkin akan menambah rasa orisinalitas novel ini. Ini cukup krusial karena The Da Vinci Code adalah novel populer sehingga para pembaca akan langsung menemukan persamaan dari novel yang mereka baca. Selain itu, menurut saya, alur cerita novel ini juga terlalu “Holywood friendly”. Mungkin karena novel ini emang ditargetkan untuk dibikin film kali ya. Well, tapi it’s ok kok. Menurut Twitter sang penulis, filmnya sendiri bakal diproduksi tahun 2014 oleh Rafi Films. Mudah-mudahan sih sesuai ekspektasi pembaca. Tidak seperti film The Da Vinci Code yang membuat kecewa pembaca setianya.

Terlepas dari beberapa kekurangan di atas, saya tidak menampik kalau novel ini benar-benar berani mendrobrak dunia perbukuan Indonesia. Kita harus akui kalau buku-buku dengan tema thriller konspirasi memang cukup jarang ditulis penulis Indonesia. Buku ini bisa menjadi oase tersendiri bagi para pembaca Indonesia yang memang sangat haus dengan buku-buku fiksi yang menyajikan informasi cerdas sarat dengan pemikiran intelektual. Saya beri rating 3 dari 5 bintang untuk novel ini. Saya rasa itu sudah lebih dari cukup. Saya sangat menunggu buku lanjutannya yang diberi judul The Blood Gold. But overall, The Jacatra secret is still a good book. I really love it. And not disappointed to read it. Two thumbs up for Rizki Ridyasmara.

Hasta la victoria siempre!!

Sumber gambar: dokumen pribadi