Archive for the ‘Personal’ Category

(Sumber Gambar : Google)

Sepertinya kali ini saya ingin membicarakan sesuatu yang cukup serius, bahkan boleh dibilang sangat serius. Tiba-tiba saya teringat sebuah trailer film hasil karya anak negeri yang saya lihat tahun lalu. Sebuah trailer dari film yang berjudul Bulan Terbelah di Langit Amerika. Saya langsung tergelitik begitu mendengar salah satu kutipan film tersebut.

“Apakah dunia akan lebih baik tanpa Islam?”

Dan sontak saja saya langsung menjawab TIDAK. Dunia BUTUH Islam, sama halnya dengan dunia butuh Kristen, Buddha, Yahudi, Hindu, Ateisme, Agnostisme, Sekularisme dan agama serta faham ideologi lainnya.

Dunia butuh keberagaman akan agama, ideologi, budaya dan pola pikir yg membuat manusia hidup dalam hakikat indahnya keberagamaan peradaban. Dunia tentu akan berbeda dengan apa yang kita lihat sekarang jika tanpa Islam atau agama lainnya. Gak kebayang jika dunia hanya ada satu agama, maka peradaban manusia tentu akan sangat membosankan. Manusia bakal hidup dalam satu kebudayaan yang monoton dan pola pikir yang seragam. Mendadak saya jadi teringat dengan film The Giver yang dibintangi Merryl Streep yang sempat saya tonton tahun lalu. Filmnya gak terlalu bagus sih. Film itu menggambarkan kalau manusia hidup dalam satu peradaban yang monoton. Kalau menurut saya hal itu cukup mengerikan. Itu sangat bertentangan dengan kodrat manusia. Tiap individu manusia itu berbeda satu dan lainnya. Isi kepala kita berbeda begitu pula dengan masing-masing jalan hidup kita. Menyeragamkan pola pikir manusia sama saja dengan menentang hakikat alamiah manusia sebagai makhluk individual dengan kepribadian yang sangat beragam. Dan ini bisa jadi malapetaka.

Saya dilahirkan sebagai seorang Muslim. Orang tua, keluarga dan lingkungan tempat tinggal saya juga muslim. Saya diajarkan sholat, mengaji dan mengikuti peribadatan dengan tata cara muslim. Saya bersyukur dengan hal itu meski sejak beberapa tahun ke belakang, saya memutuskan untuk meninggalkan semua kehidupan religius saya itu. Semua teman dan rekan-rekan saya menganggap saya gila tapi itu benar adanya. Keputusan saya untuk hidup tanpa dilabeli agama adalah keputusan yang sudah saya pikirkan sejak jauh-jauh hari, bahkan sejak saya duduk di bangku SMP dan SMA. Saya rasa teman-teman sekolah saya tahu akan hal itu.

Ada sejuta pertanyaan esensial yang selalu menggelitk hati saya sejak saya kecil. Dan itu semakin membuncah saat saya beranjak dewasa. Hingga akhirnya saya tidak mau membohongi diri saya lagi dan membuka diri pada orang lain kalau saya hidup tanpa agama. Dan saya sangat lega dengan hal itu. Saya tidak mau menyebut saya Atheis atau Agnostik. Saya tidak mau melabeli diri saya dengan faham-faham itu. Saya tidak mau ikut agama atau faham terentu karena saya ingin terbuka dengan pemikiran baru yang akan selalu datang setiap waktu. Lalu apa saya percaya Tuhan? Mungkin iya. Saya percaya akan suatu kekuatan besar di luar batas pikiran kita yang menyebabkan semua kehidupan di alam semesta. Mungkin saja itu Tuhan, atau mungkin saja itu sesuatu yang berbeda. Apa saya percaya sesuatu yang ghaib? Bisa ya bisa tidak. Segala kemungkinan bisa saja terjadi dan seperti yang saya bilang, saya sangat terbuka dengan segala kemungkinan tersebut.
Saya merasa tidak nyaman jika saya disangkutpautkan dengan identitas faham ideologis, spiritual atau agama tertentu. Saya ingin bebas secara spiritual dari segala doktrin dan menyerap serta mempelajari ide spiritual apapun. Saya tidak tahu akan segala kemungkinan yang bakal terjadi. Bisa saja ada pemikiran baru yang membuat saya tertarik dan saya tidak mau menutup kemungkinan itu. Tapi bukan berarti saya tidak punya pendirian tetap. Open minded punya pengertian yang luas dan inilah prinsip pemikiran hidup saya.

Saya akui saya hidup dalam lingkungan budaya dan negara yang religius. Saya tidak bisa mengosongkan status agama saya di KTP. Kita selalu butuh identitas agama dalam keseharian kita. Saat kita sekolah, kita harus mengisi identitas agama begitu pun dalam dunia kerja dan sosial masyarakat. Dan oleh karena itu secara hukum dan budaya saya masihlah seorang Muslim. Terkadang saya juga membutuhkan waktu untuk beradaptasi di lingkungan baru dimana saya harus menunjukkan sisi religius saya sebagai salah satu syarat agar dapat diterima di lingkungan baru saya itu. Ini memang cukup melelahkan dan terkadang cukup menyiksa batin saya, tetapi bagaimana pun saya harus melakukan itu agar tidak mau dijauhi yang lain. Sungguh miris memang.

Saya hanya segelintir dari miliaran manusia lainnya di dunia. Ada banyak miliaran manusia lain yang mungkin bahkan punya pandangan yang jauh berbeda. Kehidupan spiritual manusia teramat kompleks. Bersyukurlah karena manusia dikarunia kenikmatan spiritual yang tidak dimiliki makhluk hidup lain. Pernahkan kalian melihat kucing menyembah duri ikan? Atau para semut yang mengerumuni berhala gula?  Ataupun anjing yang berdoa untuk dewa tulang belulang? Tak ada satupun makhluk di planet ini yang memiliki kehidupan spiritual seperti manusia. Saya tidak tahu dengan makhluk planet lain. Mungkin mereka punya kehidupan spiritual tersendiri yang jauh berbeda. Lihatlah Piramida-piramida Mesir atau piramida-piramida suku Inca, Kuil-kuil Yunani, Ka’bah, Masjidil Haram, Biara-biara para biksu Buddha, Kuil Dewa Dewi di China, Kathedral Vatikan, Candi-candi megah di negeri kita atau pun batu-batu besar megalitik peninggalan zaman prasejarah. Semua maha karya megah tersebut tercipta karena adanya kehidupan spiritual manusia. Spiritualitas dan norma religius merupakan salah satu penggerak peradaban kita. Tanpa kehidupan spiritual dan norma religius dari nenek moyang kita, mungkin sejarah akan jauh berbeda. Tapi terkadang kehidupan religius bisa bersifat destruktif. Well, sesuatu yang berlebihan akan selalu berdampak tidak baik, bukan? Begitu pun dengan sikap religius yang berlebihan.

Sungguh prihatin dengan isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan) yang tengah berkembang dalam kehidupan bermasyarakat kita akhir-akhir ini. Sekelompok agama yang dalam hal ini ormas-ormas Islam melaporkan seorang pejabat negara karena dituduh melakukan penistaan agama Islam sehingga menimbulkan aksi massa besar-besaran. Dan sekarang, tengah terjadi pula pelaporan sebaliknya tentang seorang petinggi agama Islam yang dituduh menistakan agama Kristen dan Katholik dalam dakwahnya. Agama satu melaporkan agama lainnya, begitu pula sebaliknya. Sungguh mengerikan. Apa yang terjadi pada bangsa ini? Seakan semua pihak mengaggungkan egonya masing-masing. Entah apa yang terjadi dengan pola pikir masyarakat kita. Tidakkah semua gesekan ini bisa diselesaikan dengan cara damai?

Isu-isu SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar golongan) yang tersebar di media masa dan media sosial seakan mudah berkembang menjadi virus-virus kebencian yang mengkhawatirkan. Bisa kita ambil salah satu contohya, jika anda membaca sebuah postingan berbau SARA ( bahkah terkadang yang tidak ada sangkut pautnya dengan SARA), lihatlah komentar-komentar dibawahnya. Maka yang ada lihat adalah adu argumen tentang SARA yang sering membuat saya tersenyum miris melihatnya. Semua orang merasa paling benar. Semua orang merasa menjadi malaikat paling sempurna. Gila! Sudah separah itukah egoisme dalam masyarakat kita? Sudah sekronis itukah virus kebencian dalam generasi kita? Di saat bangsa lain sudah berpikir tentang ekspedisi ilmiah ke planet Mars, bangsa kita masih berkutat pada konflik sempit agama. Tidak heran kalau bangsa ini masih kalah bersaing dengan bangsa lain.

Saya juga ingin menyoroti istilah “kafir” yang sepertinya menjadi “tren” saat ini. Begitu mudahnya orang menyebut kafir pada orang lain. Bahkan anak-anak usia belia dengan ringannya menyebut kafir pada teman sebaya mereka yang berbeda agama. Kafir menurut Islam berarti orang yang bukan Islam. Saya jadi teringat dengan sebuah tulisan blog yang saya baca di MojokDotCom yang membahas kontroversi penyebutan kafir. Berdasarkan pengertian kafir tersebut, menyebut orang yang beda agama dengan sebutan kafir memang tidaklah salah. Tapi jika anda menyebut kafir dengan begitu mudahnya kepada orang lain tentu ada sesuatu yang salah dengan nurani anda. Ibarat anda menyebut “orang cacat” secara frontal kepada orang cacat yang kehilangan salah satu bagian tubuhnya. (Ini hanya analogi semata tidak ada maksud untuk menyamakan orang kafir dengan orang cacat).  Orang cacat memang adalah orang cacat. Pernyebutan orang cacat untuk orang yang telah kehilangan salah satu bagian tubuhnya memang  sebuah pernyataan yang benar. Tapi sebegitu tegakah kita mengatakan hal tersebut secara vulgar. Bagaimana kalau orang yang cacat itu sakit hati. Bukankah menyakiti hati orang lain termasuk salah satu dosa dalam agama? Hal demikian juga terjadi bila anda secara frontal menyebut kafir kepada orang yang beda agama. Apakah anda tahu kalau orang yang anda sebut kafir itu sakit hati atau tidak? Bagaimana kalau sakit hati? Malah dalam beberapa kasus bisa berkembang ke arah pem-bully-an. Dimanakah nurani anda? Anda tentu juga punya hati? Anda tentu manusia? Kejujuran memang terkadang menyakitkan tapi agama apapun tentunya tidak akan membenarkan bila anda menyakiti hati orang lain. Memprihatinkan memang. Nurani seakan tertutup oleh egoisme buta.

Saya akui saya hanya seorang warga biasa yang tidak mempunyai kontribusi berarti bagi negara. Saya hanya sedang menggunakan hak saya untuk bebas berpendapat sebagai warga negara.
Apa yang terjadi dengan konflik horizontal yang terjadi dalam masyarakat belakangan ini membuat saya menjadi semakin skeptis dengan agama dan segala kehidupan religius di dalamnya. Tapi di balik semua itu, saya merasa sangat bersyukur dengan prinsip hidup saya yang tidak mau dilabeli agama. Harus saya akui, saya merasa lebih bahagia daripada tahun-tahun sebelumnya. Sampai di titik ini, saya merasa mantap kalau saya tidak perlu norma agama untuk bisa menjadi manusia beradab. Saya tidak terlalu memperdulikan judgement dari orang lain tentang saya. Saya melakukan segala sesuatu berdasarkan nurani saya. Berbuat baik pada siapa saja tanpa perlu memikirkan pahala. Menjauhi segala sesuatu yang buruk dengan akal sehat saya. Saya merasa menjadi manusia sebenarnya dan berada pada titik nyaman kehidupan batiniah saya.

Zero Spiritual Identity, mungkin itulah istilah yang tepat untuk menggambarkan konsep kehidupan spiritual saya. Istilah ini memang istilah baru yang saya buat sendiri tapi makna yang terkandung di dalamnya bisa mewakili konsep kehidupan spiritual saya saat ini. Zero berarti nol atau tidak ada, Spiritual berarti kehidupan spiritual atau spiritualitas, dan Identity berarti  identitas. Jadi, Zero Spiritual Identity  bisa diartikan sebagai ketiadaan identitas spiritual dalam diri seseorang. Yup, itulah saya. Dan saya merasa bahagia dengan pilihan hidup saya ini.

Agama merupakan suatu konsep kehidupan spiritual. Sebagian besar orang mungkin masih butuh agama sebagai pedoman hidup mereka. Tiap agama mengajarkan kebaikan, setidaknya itulah yang saya yakini. Jangan sampai segala kebaikan ini tertutupi oleh sikap egoisme kepentingan golongan. Jangan sampai konsep pedoman hidup ke arah yang lebih baik dalam agama malah berubah menjadi sesuatu yang destruktif karena anda menganggap agama anda yang paling benar, dan yang lain salah. Anda mungkin benar, tapi yang lain belum tentu salah. Anda hanya belum melihat sisi lain dari kehidupan yang dilihat orang lain. Kebenaran tergantung dari perspektif masing-masing. Tapi kebenaran yang paling hakiki ada dalam nurani anda masing-masing. Jangan bohongi nurani anda hanya ingin dianggap paling benar.

Bagaimanapun tulisan ini hanya sekedar pandangan pribadi saya tanpa keinginan untuk menyinggung siapapun. Semoga dunia ini akan mencapai kedamaian paling hakiki. Semoga..  ya semoga saja itu terjadi. Semoga kita menjadi manusia yang lebih baik lagi…

Iklan

image

Gak terasa tahun 2016 udah nongol aja. Melihat postingan saya yang terakhir, rasanya sudah berabad-abad lamanya saya tidak menggauli dashboard blog ini. Setelah menonton sebuah TV series keren yang berjudul Mr. Robot, tiba-tiba saya dapet ilham buat nulis postingan ini. Bukan karena saya mau mereview TV series atau ngebahas dunia hacking yang jadi jalan cerita utama serial itu. Saya gak bisa hacking, saya bisanya cuma wanking alias masturbasi masbro hehe. Ups.. bukan maksud saya buat ngomongin jorok ya! Just kidding. Well, saya jadi terinspirasi nulis tulisan ini karena si tokoh utamanya mempunyai kemiripan psikologis seperti saya. Eliot, sang tokoh utama, ternyata dia seorang introvert yang sering terjebak dalam kecemasan sosial. Ia punya semacam alter ego dalam dirinya yang sering ia ajak bicara. Ia punya semacam teman atau tokoh khalayan yang selalu ada dalam kepalanya. Damn! That’s me bitch! Haha

Apakah kamu punya sesosok lain dalam diri kamu yang sering kamu ajak bicara meski cuman dalam hati. Atau paling tidak kamu suka ngomong sendiri sama pikiran kamu? Itulah yang saya alami sepanjang hidup saya. Saya punya semacam kebiasaan aneh yang selalu menemani keseharian saya. Kepala saya selalu ramai oleh suara-suara geje yang saling bersahutan. Mungkin ada dari kamu yang juga punya kebiasaan yang sama seperti saya. Manusia selalu bicara dengan dirinya sendiri, cuma bedanya ada yang cuma sesekali, ada juga yang tingkatnya udah paripurna kaya saya. Tapi bukan gila ya! Amit-amit bro hihi..

Tiap manusia sudah ditakdirkan untuk bisa berdialog dengan dirinya sendiri. Bolehlah kita sebut sebagai anugerah. Saya tidak tahu gimana dengan makhluk hidup lain. Bagi saya, bicara pada diri sendiri sudah jadi tradisi pribadi. Ketika susah, senang, bosan, I always talk with my self. Sepertinya orang-orang yang ada di rumah sudah akrab dengan habits saya yang ganjil ini. Sudah sering ibu saya memergoki saat saya sedang bicara sendiri sambil jalan bolak-balik di kamar meskipun kebanyakan saya cuma bicara dalam hati. Pun begitu dengan bapak saya. Sepertinya ia sudah tahu kalau anaknya emang sedikit gila hehe. Mereka sudah tahu kebiasaan saya ini sejak lahir. Saya suka ngomong sendiri hao hakeng sewaktu masih bayi. Ya iyalah… semua orang juga gitu keles!! Di saat anak lain sibuk main dengan teman-teman sebaya, saya suka asyik bermain sendiri di halaman belakang dengan segudang imajinasi absurd di kepala saya. Halaman belakang ibarat panggung teater bagi saya. Aciye.. teater! Lebay banget bos! Hehe tapi emang bener sih, saya bisa bermain seharian berbagai macam peran seorang diri. Ketika saya tidak puas dengan jalan cerita sebuah film atau kartun yang sudah saya tonton, saya akan membuat jalan cerita lain dan memerankannya seorang diri di halaman belakang saya yang sempit. Terkadang saya sampai lupa waktu untuk main dengan teman-teman saya yang lain. Bermain ngomong sendiri dengan berbagai macam kepribadian memang sangat menyenangkan waktu itu. Mungkin seharusnya saya jadi aktor Hollywood. Bisa nyaingin Johnny Depp nih! Wuihhh.. mantap! But well, ada kalanya saya berpikir kalau saya mungkin saja beneran gila. Saya takut mengidap salah satu gejala skizofreinia. Amit-amit ya ahli kubur. Saya bersumpah masih waras. Saya masih bisa membedakan mana jus stroberi, mana sambel terasi. Saya masih punya rasa malu buat telanjang bulat jalan santai kaya model catwalk sambil ketawa-ketiwi mekimeki hihihi. Saya pastikan otak saya masih normal, meski kadang geser dikit sesekali. Saya juga sempat khawatir kalau saya punya semacam bipolar disorder karena saya sering kali mendapati diri saya terbagi dalam dua emosi yang cukup signifikan sewaktu lagi ngomong sendiri. Tapi saya akui saya sangat menyukai kebiasaan saya ini. Saya jadi gak pernah ngerasa kesepian. Cukup ngefek buat saya. Apalagi buat para single yang sudah terbiasa hidup sendiri menahun selama beratus-ratus tahun seperti saya ini (Ehm.. gak usah curhat kali ya!).

Well, ibarat cowok single yang kadang butuh masturbasi untuk memuaskan diri, bicara pada diri sendiri juga punya efek yang sama. Bukannya saya ngeles karena gak mau dibilang gila, tapi ini emang bener adanya. Karena saya tertarik untuk ngebahas soal ngomong sendiri, saya jadi tertarik buat nyari berbagai informasi mengenai #SelfTalk ini. Menurut beberapa sumber yang saya baca, telaah dan saya telanjangi, ternyata ngomong sendiri itu cukup bermanfaat juga lho. Berikut adalah beberapa sisi positif dari Self Talk.

1. Self talk bisa membuat otak bekerja lebih efisien.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam Quarterly Journal of Experimental Psychology menunjukkan bahwa orang yang mengulang nama benda yang sedang mereka cari bisa membuat apa yang dicari lebih cepat ditemukan daripada yang diam saja. OMG bener banget! Meski kadang benda itu ketemunya belakangan hehe. Studi tersebut menjelaskan kalau mengulangi kata-kata dengan suara keras memercikan memori mengenai benda yang dikenal, membuat mereka lebih mudah terlihat dan ditemukan. Cukup logis juga sih. Meski nyari barang yang hilang itu bener-bener menyebalkan. Apalagi nyari cinta yang hilang? Fuck men… udah deh 😦

2. Pembelajaran anak-anak.
Ok, mungkin saya bukan anak kecil lagi tapi saat masa anak-anak, khususnya balita adalah masa di mana mereka lagi asyik-asyiknya bicara. Mereka suka niru orang dewasa bicara. Meski nggak selamanya bagus, seperti saya yang sudah tahu kata-kata kotor sejak berumur 5 tahun (Ironis ya bro!), namun dari aktivitas tersebut mereka bisa belajar infeksi vokal, kosakata, dan sintaks dengan mendengarkan dan mengulangi apa yang orang katakan. Hmm ok juga…

3. Mengorganisir pikiran.
Terkadang dalam keadaan tertentu atau dalam mobilitas tinggi, membuat pikiran kita dipaksa pula untuk kerja cepat. Jika dibiarkan, isi pikiran yang campur aduk di dalam kepala bisa menjadi nasi goreng campur nasi uduk di tambah mi tek tek sambel terasi cabe busuk. Yaik! Tapi dengan bicara pada diri sendiri diyakini bisa membantu kita memprioritaskan “big things” yang berpengaruh dalam setiap permasalahan yang sering kita temui dalam hidup. Hal ini juga membantumu menyadari hal-hal kecil namun signifikan bagi hidup kamu. Kamu bisa dengan leluasa membicarakan pemikiran-pemikiran yang ada di kepala kamu sehingga kamu bisa lebih memahami dunia sekitar dan bisa berpikir lebih bijak.

4. Membuatmu mencapai tujuan.
Bicara sendiri terkadang membuatmu berpikir kritis terhadap apa yang akan kamu lakukan. Terkadang sebelum melakukan sesuatu, saya bicara pada sendiri dulu dan menaksir apa maksud dan tujuan dari apa yang saya lakukan itu. Mungkin bisa dibilang banyak mikir hehe. Tapi itu cukup membantu. Saya jadi faham apa yang harus saya lakukan serta memahami tujuannya sehingga saya bisa berusaha semaksimal mungkin agar tujuan itu tercapai. Meski sering ujung-ujungnya gagal sih. Huff….

5. Meringankan stres.
Oh yes, stress! Ketika lagi stress, saya cenderung lebih banyak bicara pada diri sendiri. Dan ini ada sisi positifnya. Dengan self talk bisa memungkinkan kamu untuk mengatur pikiran dan memprioritaskan kewajiban yang harus kamu kerjakan, sehingga pikiranmu nggak menumpuk, dan berusaha menaksir apakah waktu yang kamu punya cukup untuk menyelesaikan semua stresmu itu. Kamu bisa jadi lebih rileks dan mampu mengikuti arus hidup yang terus berjalan. Selain itu, berbicara kepada diri sendiri akan membantumu mempersiapkan diri untuk masa-masa sulit dalam hidup dengan keberanian dan kepercayaan diri. Cuma kamu yang tahu gimana caranya menghilangkan stressmu. Ingat itu!

6. Membangun kemandirian.
Bicara pada diri sendiri membuatmu lebih bijak dalam pemecahan masalah. Yeap! Saya harap ini benar! Jika orang lain saat ada masalah pergi ke teman untuk bercerita, orang-orang yang suka bicara sendiri dianggap mampu menganalisis situasi dan memiliki kesimpulan tanpa arahan dari orang lain. Berbicara kepada diri kita sendiri, membuat kita mendengarkan suara hati, dan menemukan apa yang benar-benar inginkan. Hmmm bener gak ya? Tapi bener juga sih. Saya ini termasuk orang yang tertutup sehingga sangat mustahil bagi saya untuk mengeluarkan uneg-uneg saya kepada orang lain. So #selftalk works for me 🙂

7. Menjadi motivator pribadi
Yes, ini bener banget. Terutama jika kamu menggunakan kata ‘kamu’ kepada diri sendiri, misalnya ‘Kamu pasti bisa bitch! Hehe’. Dr. Sanda Dolcos, peneliti dari University of Illinois di Urbana-Champaign mengatakan, “Bicara dengan diri sendiri menggunakan kata kamu membuka pikiran seseorang terhadap perspektif yang lebih luas, seolah-olah ada orang lain yang ikut bicara menyemangati Anda.” We are the great motivators of our self!! Sorry ya Om Mario Teguh.

8. Imajinatif
Yep, salah satu faktor kenapa saya suka self talk adalah imajinasi yang ada di kepala saya. Menurut beberapa sumber. imajinasi memang sangat penting bagi otak. Meskipun terkadang imajinasi saya absurd, tapi karena imajinasi saya jadi merasa tidak sendiri. Saya suka bercakap dalam hati ketika dihadapkan pada segala sesuatu di depan saya dan terkadang hal itu bisa menjadi imajinatif. Dunia terasa sangat menyenangkan ketika kita melihat segala sesuatu secara berbeda. Saya juga harus berterimakasih terhadap imajinasi saya itu. Karena imajinasilah saya jadi suka lama nongkrong di kamar mandi. Ngapain aja hayoh di kamar mandi? Hehehe….

9. Mengeksplorasi Kreativitas
Bisa jadi! Imajinasi dan kreativitas tak bisa dipisahkan. Harus diakui ketika saya punya suatu ide, saya selalu bicara pada diri dan mengolah ide tersebut agar bisa diaplikasikan secara sempurna. Terkadang saya harus berdebat dulu untuk mengaplikasikannya. Suara-suara di kepala saya ini sangat membantu ketika saya dihadapkan pada suatu masalah yang menuntut kreativitas sebagai penyelesaiannya.

10. Indikasi kecerdasan
Mmm kalau yang ini kayanya kurang tepat buat saya… meski katanya bicara sendiri merupakan indikasi IQ tinggi. Saya pikir IQ saya biasa-biasa aja sih. Gak bodo-bodo amat, gak printer-pinter amat. Mungkin bodonya lebih dikit sih hehe. Tapi gak apa-apa sih. Yang penting masih bisa ngitung 12 tambah 5 dan masih bisa berpikir cemerlang ngitung defisit gajian di akhir bulan yang kadang menyesakan hati dan kepala. Huff…

Well, itulah sebagian point-point positif dari self talk yang saya ambil dari berbagai sumber. Cukup keren kan? Lumayan juga sih.

Ketika kamu tak punya orang lain yang bisa dijadikan teman untuk bersandar, kamu masih punya diri kamu sendiri. Teringat akan dongeng Puteri Salju dengan si Ratu Jahat yang suka bicara sendiri dengan cermin ajaib. Persetan dengan cermin ajaib! Kamu punya cermin dalam diri kamu sendiri. Hidup ini seperti masturbasi (Masturbasi lagi.. masturbasi lagi… gak ada analogi lain apa?) hanya kamu yang bisa memuaskan dirimu sendiri ketika orang lain hanya bisa meremehkanmu, menjudge dan mencaci maki. Aciye.. bener banget mekimeki!

So buat kamu yang suka ngomong sendiri, kamu gak sendiri. Kamu bebas bicara apa aja dengan diri sendiri. Isi kepala kita lebih luas dari alam semesta dan kamu bisa mengeksplornya sesukamu. Dan buat kamu yang jarang ngomong sama diri kamu sendiri, tak ada salahnya mencoba sesekali. Anggap saja itu sebagai terapi. Menelaah diri sendiri, mencoba menanyakan secara personal sambil bertanya, “sebenarnya kamu ini siapa sih?”. Bertanya pada diri sendiri mempunyai efek spiritual, psikologis dan filosofis. Filsuf legendaris seperti Plato, Aristoteles, Friedrich Nietzsche, Jean Paul Sartre dan sebagainya sering bicara pada diri sendiri dulu ketika membuat materi filsafat mereka. Begitu pun dengan para ilmuan handal seperti Albert Einstein, Sir Isaac Newton, Thomas Alva Edison, Stephen Hawking dan sebagainya. Mereka menghabiskan banyak waktu untuk berdialog dengan pikiran mereka demi menciptakan temuan dan teori sains terbaru. Saya pikir orang-orang yang sukses adalah orang-orang yang bisa berdialog dengan pemikirannya sendiri. Kita pun bisa mencobanya.

Seperti yang sudah saya bicarakan di atas, #SelfTalk bisa dijadikan sarana introspeksi diri. Menanyakan apa saja kekurangan dan kelebihanmu, berusaha lebih giat lagi supaya dirimu lebih berarti minimal bagi diri kamu sendiri. Cuma kamu yang tahu siapa kamu sebenarnya. Cuma kamu yang bisa menginterogasi dirimu sendiri secara gamblang. Sampai kapanpun kamu gak akan pernah bisa berbohong dengan dirimu sendiri. Oh yes we are pretty liars, we can lie to anyone else but we can’t lie to our self. That’s a fact! Just don’t be stupid because of your self 🙂

So let’s self talk and take a great walk! Jangan pernah takut untuk bicara pada dirimu sendiri. Ingat kamu tidaklah benar-benar sendiri dalam tubuh kamu sendiri. Tiap orang pasti punya sisi bijak dalam diri mereka. Talk whatever you want to talk. Keep talking and be who you are 😉

"PAPERMAN"

(sumber gambar: Google, Disney’s Paperman edited by @rosmensucks)

Setelah sekian lama berhibernasi, akhirnya saya dapat hidayah buat ngeblog lagi. Well, it’s not bad. Sebenarnya tulisan ini bukanlah sebuah tulisan istimewa. Mungkin bisa dibilang sebagai curhatan kali ya. Yang jelas sih masih seputar dunia pria, khususnya bagi pria-pria muda usia 20an kaya saya gitu deh. So, yang merasa pria dengan kategori tersebut, saya sarankan untuk baca tulisan saya ini.

Gimana sih rasanya jadi pria di usia 20an? We’re happy, free, confused, and lonely at the same time. It’s miserable and magical. Oh yeah!! –mengutip lirik lagu 22 yang dinyanyikan Taylor Swift, sungguh referensi yang agak feminim memang. Well everyman loves Taylor Swift, right? Hehe. Ketika seorang pria menginjak usia 20an, maka ia bisa dibilang telah cukup dewasa dalam soal angka. Usia 20an bisa disebut sebagai fase paling produktif seorang manusia. Pada fase ini, manusia dalam kondisi lagi bagus-bagusnya. Fisik masih oke, kesehatan masih belum bermasalah, semangat masih on fire tapi pikiran dituntut untuk berpikir lebih kompleks. Ibaratnya otak kita sedang dalam ujian kenaikan kelas. Lulus enggaknya itu tergantung kita. Mau berjalan dinamis atau tetep konstan? We’re not fucking teenager anymore, Dudes! We gotta make up our mind! Yup, kita bukan remaja usia belasan lagi. Kita sudah dalam perjalanan menjadi pria yang seutuhnya. Jadi pria sejati! Ciyeee gayanya sok maskulin hehe. Well, saya tidak hanya sedang membicarakan soal seksualias pria dewasa. Maksud pria sejati di sini adalah dalam arti luas. Jadi, bukan cuma soal durasi ereksi atau ketahanan ejakulasi. Everyman knows it!

Seperti yang sudah saya bilang di atas, fase 20an adalah fase paling kompleks bagi seorang pria. Isi otak pria di usia ini mulai kompleks sekompleks luasnya alam semesta. Hihihi lebay.. so are you curious? Sebenernya apa aja sih isi pikiran pria usia 20an itu? Okay, mari saya jabarkan satu per satu. Yang akan saya sebutkan di sini cuma garis besarnya saja ya. Saya pikir, isi kepala pria usia 20an akan berkutat pada 5 poin berikut: carrier, love, sex, spiritual, financial. Kok cuma 5 poin sih? Katanya kompleks! Hey, 5 poin ini mencakup hal yang lebih kompleks lho! Let me explain them…

  1. CARRIER

Sebagian besar pria sudah menuntaskan pendidikannya di usia 20an, entah itu sampai jenjang kuliah atau SMA. Otomatis sesudah itu kita butuh kerja. Emang mau disuplai terus sama orang tua? Kalau ortu kamu kaya sih ya ra popo. Tapi kalau ortu kamu bukan orang berada, emang gak kasihan minta dikelonin mulu sama mereka. Mandiri dong bro! Yang pasti usia 20an adalah gerbang pertama kita dalam memasuki dunia kerja. Dan hal pertama yang harus kamu lakukan adalah kamu harus tentuin dulu pekerjaan impian kamu. Mau jadi apakah kamu? Mau jadi bos, dokter, seniman, pengusaha atau jadi pembantu? Hehe. Oke mungkin terkadang pekerjaanmu  gak sesuai dengan yang kamu impikan. But it’s alright, terkadang pengalaman itu memang pahit. Anggap saja itu sebagai test drive yang akan menuntun kamu ke jenjang berikutnya. Mungkin kalau ada kesempatan, kamu bisa mewujudkan karir impianmu suatu hari nanti. Terlebih kalau kamu memang sudah punya bakat, skill atau basic pendidikan yang sesuai dengan karir impianmu. Yakinlah kalau sudah berusaha, Tuhan pun akan memberikan jalan.

Dunia kerja bagaikan dunia rimba. Ini bukan omong kosong lho! Ini berdasarkan pengalaman saya pribadi. Saat kamu memasuki dunia kerja, kamu tidak hanya berhubungan dengan pekerjaan kamu, tapi kamu juga otomatis berhubungan dengan orang-orang yang ada dalam pekerjaanmu itu. Ada atasan, rekan kerja, klien, konsumen dan sebagainya. Setiap profesi tentu berhubungan dengan masing-masing orang yang berbeda. Misalnya saya ini, yang notabenenya hanya karyawan swasta biasa. Saya tentunya akan selalu berhubungan dengan atasan atau rekan-rekan kerja saya. Dan tentunya atasan atau rekan-rekan kerja saya itu memiliki karakter yang berbeda-beda. Semua orang itu tentu gak akan selalu baik semua. Mungkin kamu akan ketemu sama atasan yang galak, rekan kerja yang mau enak sendiri atau rekan kerja yang suka cari muka. Sadarlah orang-orang seperti itu memang benar-benar ada. Kalau kamu tidak mempersiapkan diri sebelum memasuki dunia kerja, mungkin kamu akan langsung mental duluan. Kamu harus memiliki semacam antibody dalam menghadapi orang-orang seperti ini.  Jangan biarkan dunia kerja membutakan dirimu sehingga kamu menjadi orang yang sama sekali bukan dirimu. Well, niat kita bekerja bukanlah buat cari musuh, tapi buat cari uang. Kalau mau cari musuh mah tinggal gebukin tetangga sebelah aja. Oke, setiap orang mungkin punya ambisi. Tapi ambisi juga gak harus sampe segitunya juga kali! Masa cuma mau naik jabatan aja sampe gontok-gontokan sama rekan kerja, emang kamu gak yakin sama kualitas kerja kamu sendiri. Kalau kamu sudah berusaha bekerja sebaik yang kamu bisa, saya rasa kamu akan mendapat imbalan yang setimpal. Gak perlu cari muka di depan atasan atau berkompetisi secara gila-gilaan dengan rekan kerja. Dunia kerja memang seperti rimba, tapi ingat kamu ini manusia, bukan singa. Bekerjalah secara manusiawi dan tidak perlu saling memangsa. Pahami tujuanmu kenapa kamu harus kerja. Tentu kamu gak mau kehilangan pekerjaanmu hanya gara-gara pola pikirmu yang terlalu buas. Nyari kerja itu susah lho, gak sesusah nyari dosa hehe. Jadi, siapkanlah dirimu secara matang. Bekerja tidaklah selalu dengan otak atau tenaga, tapi juga dengan nurani, bukan dengan Nuraeni yah aha! Cuma kamu yang bisa menentukan karirmu. Ini demi masa depan kamu juga lho. Ingat, karir merupakan modal dasar utama seorang pria. Kalau kamu cuma berleha-leha, dijamin kamu gak akan bisa hidup lama.

“A carrier with a venereal disease can have many partners, but only those whose mental and physical immune systems are weak will be susceptible to it.” — Louise L. Hay

  1. LOVE

Well, everyone knows about this? Cinta. Yup. We need love. Ketika menginjak usia dua puluhan, tentunya kita harus lebih dewasa dalam membina suatu hubungan. Bagi yang single, tentu harus lebih selektif dalam mencari pasangan yang tepat. Kita sudah bukan anak remaja lagi. Gak ada lagi yang namanya cinta monyet. Seperti apa yang dikatakan Kakek Charles Darwin, monyet (atau kera) telah berevolusi jadi manusia hahaha. Begitu pun dengan cinta. Cinta merupakan sesuatu yang sangat ilmiah. Setiap otak kita perlu apa yang disebut sebagai hormon oksitosin, semacam hormon kebahagian yang akan disekresi ketika kita sedang jatuh cinta. Meski sama-sama melepas oksitosin, jatuh cinta dan orgasme jelas berbeda. Jatuh cinta dan hubungan percintaan tentu bukan hanya soal urusan fisikal. Dan saya akui, memiliki pasangan merupakan suatu cara untuk bahagia. Siapa sih yang gak ingin dicinta dan mencintai. Ini sangat alamiah sekali. Dan tujuan utama kita memiliki pasangan adalah untuk bahagia. Tapi tentu kita tahu, 100% bahagia dalam asmara itu sangat mustahil sekali.

 “We accept the love we think we deserve.” ― The Perks of Being a Wallflower

Ok, saat kita jatuh cinta, kita berpikir kita berhak mendapatkan cinta tersebut. Tapi seperti yang sudah saya katakan tadi, cinta merupakan suatu hal yang ilmiah, tapi cinta juga bukanlah suatu hal yang bisa dinilai secara eksakta. Hukum aksi reaksi seperti yang dikemukakan oleh Isaac Newton tidak berlaku dalam sebuah hubungan asmara. Gak semua rasa cinta kamu bakal dibalas dengan cinta juga. Isn’t it fair? Yup, we know it. Dan di umur yang sudah makin dewasa ini, kamu harus semakin faham akan segala konsekuensinya. Well, relationship is a beautiful bullshit. Menjalani sebuah hubungan adalah satu-satunya cara untuk memahami arti hubungan itu sendiri. Saya pikir proses pendewasaan hubungan percintaan itu bisa dilakukan hanya dengan menjalani proses hubungan percintaan itu sendiri. Jadi, jalani saja bro!

Dibutuhkan keseriusan lebih dalam membina suatu hubungan percintaan. Gak cuma asal nembak terus putus, broken heart and then galau. Sudah cukup untuk bereksperimen dengan hati wanita. Hati wanita itu bukan ati empela! Dan sepertinya kita pun dituntut untuk lebih mengerti akan mereka.

Wanita, ya wanita. Bagaimana pun memang sangat sulit untuk memahami makhuk penghasil estrogen itu. All the girls  always have a mystery, and sometimes the boys don’t understand about them. Wanita itu memang istimewa, tapi terkadang kita tak tahu banyak tentang dunia mereka.

Beberapa diantara kita banyak yang membina hubungan lebih baik saat menginjak usia 20an daripada saat remaja. Beberapa di antaranya bahkan sudah berani membuat keputusan untuk menikah, membina rumah tangga dan menjadi ayah. Oke, saya gak akan bicara soal pernikahan sekarang. Pernikahan merupakan sesuatu yang rumit dan saya belum seratus persen faham tentang hal itu. Saya rasa, wanita pada usia ini juga akan berpikir kompleks sama seperti kita. Mereka mengharapkan suatu hubungan yang lebih dari sekedar cinta-cintaan atau sayang-sayangan. Mereka butuh komitmen yang jelas. Dan pertanyaannya adalah, apa kita mampu memenuhi komitmen itu? Hmm.. is it hard? Maybe yes, maybe not. Or maybe we don’t know about that shit. Kebanyakan pria lebih memilih bersikap santai mengenai hal ini. Mereka lebih memilih menjalani suatu hubungan tanpa beban. Well, sebenarnya ini bagus. Tapi suatu hubungan memerlukan tujuan. That’s right.

Berpasangan adalah suatu hal yang naluriah. Setiap manusia dikodratkan untuk jauh dari kata sempurana. Setiap manusia diciptakan untuk saling melengkapi, dan inilah fungsi utama pasangan. Ada suatu kaidah yang berbeda antara istilah pacar dan pasangan, girlfriend or partner. Saya pribadi lebih nyaman dengan istilah pasangan. Menurut saya istilah itu terkesan lebih dewasa. Ini cuma pendapat saya pribadi lho. So, buat para pria single seperti saya, mari kita mencari pasangan yang tepat untuk kita.  We need a partner to share our heart and our life. Someone who can understand who the hell we are, someone special. Can we find her?

“In my opinion the best thing you can you do is find a person who loves you for exactly what you are. Good mood, bad mood, ugly, pretty, handsome, what have you, the right person will still think the sun shines out of your ass. That’s the kind of person that’s worth sticking with.” — Juno

Sebuah kutipan kocak dari salah satu film favorit saya, Juno. Tapi kutipan itu bener banget. Someone who you love must know anything you hate. Seseorang yang akan selalu mencintaimu bahkan saat saat kamu sedang bad mood atau saat kamu sedang kena bisul di pantat. So sudahkah kamu bertemu dengan pasangan hatimu? Let us find love!

  1. SEX

Yup sex! Oh come on, tidak perlu munafik! Kita tahu seks akan selalu ada dalam kepala pria muda seperti kita-kita ini. Menginjak umur 20an merupakan suatu tolak ukur kalau kita telah matang secara seksual. And we need sex! Yeah everybody knows, but it’s just in our mind. Sex bukanlah hal yang tabu selama kita membicarakannya dalam koridor ilmiah. Sex is a scientific thing. And we need to educate ourself about it.

Seks bagai semacam doping di otak kita. Tidaklah heran kalau banyak pria di usia ini yang ngebet pengen nikah muda. Kalau sudah siap, ya gak apa-apa sih. Tapi gimana dengan pria single atau pria yang sudah berpasangan tapi belum hendak menikah. Well, saya tidak menganjurkan free sex untuk kamu-kamu semua. Sebagai bangsa yang berbudaya timur, saya rasa free sex bukanlah solusi yang tepat untuk kita. So what about masturbating, fetish, jerking off or wanking? Hahaha those are so funny! Saya tidak menganjurkan ataupun menolak. Itu terserah kamu. Yang pasti seks harus dilakukan secara bertanggung jawab.  Bagaimanapun seks itu merupakan salah satu anugerah terindah yang diberikan Tuhan untuk manusia. Ya, manusia. Dan manusia beda dengan hewan. Camkan itu!

So, terus kita harus bagaimana? Sebenarnya ini merupakan sesuatu yang sangat mendasar. Kita harus melakukan apa yang disebut sebagai manajemen hormonal. Oh come on, our life is not only about sex right? Selain kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual, kamu juga harus memiliki kecerdasan seksual. Kamu harus mengenal dan bertanggung jawab terhadap tubuh kamu sendiri. Kamu harus bisa menaklukan naluri birahi kamu sendiri. Salah satu alasan kenapa banyaknya fenomena kehamilan di luar nikah di usia muda adalah karena mereka menganggap seks hanya sebagai insting dan spontanitas. Mereka tidak berpikir kalau seks adalah sesuatu yang sangat ilmiah. Ingat gak sama pelajaran Matematika tentang peluang dan kemungkinan? Dari sekian juta sel sperma yang meluncur menuju ovarium, kemungkinan besar beberapa diantaranya berhasil berpapasan dengan ovum. Besar kemungkinan kehamilan dalam setiap hubungan seks itu sangat tinggi sekali. Apalagi di masa-masa usia produktif seperti kita-kita ini. Fahami resikonya dong bro, jangan cuma asal enak aja. Remember! We’re not fucking animal! Kita ini bukan hewan yang bisa melakukan have sex sesukanya saat musim kawin tiba. Educate your self and educate your penis! LOL! Jangan cuma asal tembak saja. Setiap akibat pasti ada pula sebabnya. Kalau kamu gak mau acara kencan kamu menjurus ke arah hubungan seksual, ya jangan ngelakuin hal-hal yang bisa menjuruskanmu ke arah sana. Pacaran sewajarnya saja. Cukup pegangan tangan, jangan pegangan pangkal paha. Boleh ciuman sesekali, asal jangan ciuman sambil menggerayami. Boleh duduk berdekatan, asal jangan kebablasan. Berkencanlah secara bijak. Jangan biarkan otakmu dibajak. Dan bila kamu masih terus berpikir tentang seks? Just take some activities! Lakukanlah kegiatan posistif daripada sekedar berimajinasi soal Miyabi, Sasha Grey atau Asa Akira. Lho mereka itu siapa ya? Hehe. Lakukan kegiatan berguna seperti manjat pohon kelapa atau mengembala domba misalnya. Enggak deng bercanda hehe. Pada dasarnya sisi erotis dalam diri kita itu tergantung kitanya juga. Oke, kamu mungkin boleh bergaul dengan pornografi sesekali. Well it’s not really bad. Tapi jangan keseringan! Bergaul dengan pornografi itu sungguh sangat tidak keren bro! Inget efek sampingnya! Seorang pria sejati bukan hanya sekedar makhluk penghasil sperma. Seorang pria sejati adalah seorang pria yang nyaman dengan seksualitasnya dan tahu cara menggunakan serta mengontrolnya. Sadarlah, hormon testosteron akan selalu ada dalam tubuh kita sampai kita mati. Dan libido akan selalu datang bagai tukang bakso yang selalu berdagang keliling kampung setiap hari. Berdamailah dengan seksualitas yang ada dalam diri kamu. Jangan anggap hal itu sebagai sebuah beban utama. You don’t have to get an orgasm to lift your life up. Just take it easy! Sex isn’t terrible, so just thinking simple.

“Sex is a part of nature. I go along with nature.” — Marilyn Monroe

  1. SPIRITUALITAS

Sebenarnya poin ini harusnya ada di posisi utama. Tapi saya sadar materi adalah hal yang paling banyak memenuhi otak pria. Bahkan terkadang menyisihkan apa yang disebut sebagai sisi spiritual yang seharusnya mendapat porsi lebih di otak kita. Spiritualitas yang saya bicarakan di sini bukanlah hanya soal agama. Saya tidak menyuruh kamu buat jadi orang religius. Toh saya juga bukan orang religius kok. Saya bicara spiritualitas dalam arti universal. Spiritualitas adalah sebuah tatanan pikiran, sebuah pedoman hidup yang akan menuntunmu ke arah yang lebih baik. Semacam lampu pijar yang ada di kepala kamu yang akan menuntun jalan hidupmu. Oleh karena itu kita perlu spiritualitas sebagai pegangan hidup kita. Seseorang yang dewasa adalah seseorang yang tahu akan sisi spiritual dalam dirinya. Dia tahu apa arti eksistensi dirinya saat hidup di dunia. Dia sadar akan tujuan hidupnya, apa yang harus ia lakukan, bagaimana cara berinteraksi dengan sesama, membedakan mana yang baik dan yang buruk dan definisi kaidah-kaidah hidup lainnya. Jadi, inilah yang harus kita cari! Spiritualitas! Inilah saatnya kamu menggunakan kecerdasan spiritualmu. Untuk kamu yang religius mungkin bisa mencarinya dalam agama yang kamu anut, untuk yang merasa tidak religius, kamu bisa mencarinya secara bebas dalam kaidah kehidupanmu sehari-hari. Sepertinya terdengar abstrak, tapi memang itulah spiritualitas. Spiritualitas bukan hanya sekedar hubungan kita dengan Sang Pencipta. Spiritualitas bukanlah sesuatu yang mistis. Spritualitas bukan hanya membicarakan keimanan atau kehidupan di akhirat kelak. Spiritualitas bukan hanya soal ritual peribadatan.

Seperti yang saya bilang, saya bukanlah sosok yang terlalu religius. Jadi orang religius emang oke, tapi gak semua orang religius bisa bersikap kece. Mentang-mentang religius lalu kamu bisa menjudge orang sesukamu. Mencampuri urusan orang yang tentu saja bukan urusanmu. Berlagak kalau kepercayaan yang kamu anutlah yang paling benar dan semua orang yang “berbeda” menurut kriteriamu lalu dijudge salah. Hmm… sebenarnya kamu ini manusia bukan sih? Gak nyadar kalau setiap manusia itu berbeda? Mentang-mentang kamu merasa benar lalu kamu bisa dengan mudahnya menyalahkan orang lain. Hey, hidup ini bukan cuma untuk kamu doang! Semua orang di sekitarmu juga hidup dan mereka memiliki isi pikiran yang berbeda-beda. Jangan diseragamkan! Oke, setiap orang tua mungkin menginginkan anaknya supaya jadi orang sholeh. Orang sholeh diibaratkan sebagai orang sempurna yang punya kecerdasan spiritual tinggi. Terus kalau gak sholeh bagaimana? Apa jadi orang yang “tidak sholeh” itu salah? (mohon maaf bila ada pembaca yang bernama Sholeh, saya sama sekali tidak berniat menyinggung anda hehe). Hey, hidup ini gak selalu harus mainstream kali! Ada banyak sekali orang baik di dunia ini dan mereka tidak memenuhi kriteria sebagai orang sholeh. Tapi anehnya mereka mampu bersikap sama bijaksana atau bahkan lebih bijaksana dari orang sholeh. Alright, mungkin orang yang sholeh atau religius akan selalu dianggap memiliki kehidupan spiritual yang mapan, tapi jangan anggap kalau orang-orang yang tidak memenuhi kriteria sholeh tidak memiliki kehidupan spiritual yang sama mapan. Everyone can take the lead of their soul.

“Enlightened leadership is spiritual if we understand spirituality not as some kind of religious dogma or ideology but as the domain of awareness where we experience values like truth, goodness, beauty, love and compassion, and also intuition, creativity, insight and focused attention.” — Deepak Chopra

Seseorang yang punya kehidupan spiritual yang mapan tentu akan memiliki pola pikir yang lebih dewasa. Ia tentu akan bisa menghadapi setiap masalah hidupnya dengan lebih bijaksana. Setiap masalah gak bisa diselesaikan hanya dengan adu bacot atau adu otot. Mentang-mentang mau dibilang perkasa, terus kamu bisa adu otot sesukanya. Emang kamu ini Mike Tyson? Ayolah, kamu punya otak kan? Kamu bisa berpikir dengan kepala dingin. Sikap emosinal atau temperamental bukanlah hal yang patut kamu pamerkan. Ingatlah kalau setiap orang akan selalu menilai sikapmu. Tapi bukan berarti pula kamu harus jaga image melulu. Kamu hanya perlu mengontrol diri. Hidup gak akan selalu lurus. Kita tahu itu. Ada kalanya kita hepi, ada kalanya kita marah, sedih atau bahkan galau. Kalau kamu bisa mengontrol diri dan sudah faham dengan sisi spiritual kamu, saya rasa kamu akan tahu cara yang tentunya lebih baik dalam menghadapi naik-turunnya hidup kamu. Well, life is a timeless learning. Ketika kita menyadari arti diri secara batiniah, maka kita sudah menaikan kualitas dunia spiritual kita. Merenungi diri secara kritis dan memahaminya sebagai suatu kesatuan individual yang kompleks akan membuatmu lebih tenang dalam menentukan haluan hidupmu. Berusahalah untuk selalu bersikap bijak. Benar-benar bijak bukan hanya sok bijak atau berlagak bijak lewat meng-copy paste kutipan bijak di social media.

“Happiness cannot be traveled to, owned, earned, worn or consumed. Happiness is the spiritual experience of living every minute with love, grace, and gratitude.” — Denis Waitley

  1. FINANCIAL

Ngomongin financial, pastinya ngomongin duit. Tiap manusia butuh duit, termasuk pria-pria muda kayak kita ini. Saat kita sudah memasuki dunia kerja, tentu kita sudah punya penghasilan sendiri. Yup kita sudah bisa menghasilkan uang a.k.a, duit. Makin nambah usia, makin nambah pula kebutuhan hidup. Sebagai pria lajang yang masih belum nikah, tentu kamu belum punya tanggungan sebesar pria-pria yang sudah menikah. Tapi anehnya, entah kenapa justru pria-pria lajang yang cenderung lebih boros. Oke mungkin untuk pria yang sudah menikah, mereka punya isteri yang sekaligus bisa jadi manajer keuangan pribadi. Tapi tetap saja bro, kebutuhan mereka itu lebih gede. Beli kebutuhan sembako, bayar tagihan listrik, beli susu dan lain-lain. Sedangkan kita, apa coba? Mungkin ada sebagian pria lajang yang juga menjadi tulang punggung keluarganya. Mungkin kita bisa kesampingkan hal itu. Tapi banyak pula pria lajang yang hidup mandiri tanpa tanggungan, tapi boros dalam soal keuangan. Apakah kamu termasuk salah satunya? Hmm.. tidak tahu kenapa, hal macam ini memang selalu ada. Pria-pria usia 20an cenderung belum bisa mengatur keuangannya secara bijaksana. Saya akui itu. Ok, di usia 20an seperti kita ini adalah masa yang tepat untuk memuaskan diri. Ingin beli itulah, beli inilah. Ingin main ke sana ke mari. Pokonya puas-puasin diri sepuasnya. Saya akui hal ini sebagai gejolak kawula muda. Tapi kita gak akan selamanya muda lho! Emangnya kita ini vampir? (langsung berlaga sok cool ala Edward Culen hehe).

Jangan Cuma bisa ngabisin uang sesukamu. Ingat masa depanmu bro! Emangnya kamu ingin nelangsa di hari nanti. Kamu harus bisa mengatur keuanganmu pribadi. Tapi bukan berarti pelit lho. Cowok pelit kelaut aja masbro! Ingatlah, kamu telah bekerja keras untuk mendapatkan uangmu itu. Terus apa kamu gak sayang ngabisin uangmu sampe kerak-keraknya. Kamu gak perlu berkonsultasi sama ahli keuangan profesional. Menurut saya, setiap manusia sudah berevolusi sejak zaman purba menjadi ahli keuangan secara naluriah. Tak ada satupun manusia modern di dunia ini yang tidak pernah bersentuhan dengan uang. Maka kita dituntut harus bisa mengaturnya. Dan kita bisa mengaturnya sendiri tanpa perlu bantuan orang lain.

Dari sekian banyak kebutuhan kita, pasti ada beberapa kebutuhan yang menjadi prioritas. Kalau bisa, ya emang seharusnya bisa sih. Kalau bisa sisihkan penghasilanmu untuk ditabung. Atau kalau kamu emang bener-bener serius sama finansial masa depanmu, kamu bisa mulai belajar berinvestasi secara kecil-kecilan. Yang pasti kamu harus menyisihkan sebagian penghasilanmu. Kamu punya impian masa depan kan? Ada yang pengen nikah, beli rumah, ngelanjutin kuliah atau mungkin pengen buka usaha. Kamu juga gak selamanya dalam keadaan sehat. Adakalanya kamu sakit atau kena musibah, seperti kecelakaan misalnya. Well, semua itu bisa terjadi secara tak terduga dan semua itu membutuhkan biaya. Minta sama orang tua aja! Emang gak malu? Kamu itu sudah gede masbro. Gak malu sama buah jakun segede bola pingpong di lehermu? Masa apa-apa langsung ngibarin bendera putih sama ortu. Kamu juga gak mau kan pinjam sana-sini demi menutupi biaya-biaya tak terduga ini. Bisa-bisa kamu bangkrut. Inilah gunanya kalau kamu bisa menyisihkan penghasilan. Meskipun mungkin gak sebesar seperti yang diharapkan, tapi minimal bisa menutupi sebagian dari biaya kondisi-kondisi ungent seperti di atas.

Jangan mau diperbudak uang. Kamu yang menghasilkan uang, maka kamu sendiri yang mempunyai otoritas penuh atas uangmu (silakan cek postingan lama blog saya yang menjelaskan hal ini). Kita ini masih muda bro. Hidup kita masih panjang –anggap aja memang begitu. Jangan sia-siakan begitu saja rupiah yang kamu hasilkan dari jeri payahmu. Kamu harus bisa menaklukan isi dompetmu. Otakmu adalah sebuah kalkulator alamiah. Gunakanlah otakmu untuk mengatur kehidupan finansialmu.

“Greed is not a financial issue. It’s a heart issue.” — Andy Stanley

 

Okay, that’s all! Itulah 5 poin penting yang selalu ada dalam kehidupan pria-pria umur 20an seperti kita. Carrier, love, sex, spiritual and financial. Kompleks dan penuh lika-liku memang, tapi ya emang beginilah adanya. There’s a lot of thing inside of our head. Ada banyak hal yang harus kita jalani dan pelajari. Ada jutaan ekspektasi, ribuan mimpi dan miliaran masalah yang akan datang silih berganti. Ada suka, duka, canda, tawa tapi saya harap kamu tidak cengeng karena kamu ini seorang pria. Jadi sekarang tergantung kamu masbro! Bisakah kamu memenuhi poin-poin di atas itu? Well, gak usah terlalu terburu-buru juga sih. Enjoy aja, jangan merasa terbebani. Enjoy tapi terarah ya! Nikmati masa mudamu dengan bijaksana. Hidup Cuma sekali, muda juga sekali. Kamu gak akan ketemu sama masa mudamu lagi. Marilah mulai belajar menjadi pria dewasa, bukannya malah jadi pria yang hobi nonton film dewasa. Berumur dua puluhan bukanlah soal nilai angka. Twenties is not about 20s. We’re always growing up. And all grown up absolutely! So grow your brain and your heart too, young gentlemen! You are 20 young gun!! You’re not 20 young dumb! 🙂

Minggu pagi adalah saatnya jalan-jalan pagi. Jalan kaki dikelilingi alam yang masih asri bersama kicauan burung dan siluet sinar mentari yang masih tersembunyi, oh itu sungguh  menyenangkan sekali. Dan saya tidak perlu jauh-jauh untuk bisa menikmati semua itu. Saya cukup pergi beberapa meter dari belakang rumah saya yang terletak di Kampung Cilio, Desa Tagogapu, Kecamatan Padalarang. Dan sajian alam pagi nan asri pun sudah bisa saya dapatkan.

Sungguh sayang, rasanya saya sudah lama sekali meninggalkan rutinitas ajaib ini. Saya seperti kembali terlempar ke masa lalu, ke masa saya masih duduk di bangku SD dulu. Saat itu, saya tidak pernah absen melakukan aktifitas mingguan ini. Berjalan-jalan seorang diri. Melompat-lompat kecil seperti kucing mungil yang sedang berburu serangga mini. Yes, I did it again! Meski saya harus berjibaku melawan nyamuk-nyamuk nakal yang terus menciumi kulit saya secara erotis, but it’s all right. I really love this. Just take the pictures and these are the pics!

image

image

image

Suasana langit pagi…

image

image

image

image

image

Masih agak gelap nih…

image

Suasana kampung yang masih asri.

image

image

image

image

image

image

image

Jalan kereta dan Gunung Karang yang legendaris.

image

image

Lapang sepak bola yang masih sepi.

image

image

image

Sudah terang ternyata. Jalan-jalannya disudahi dulu. Mari pulang…

image

What's your resolution?

Entah kenapa tiba-tiba kepikiran buat ngeblog lagi setelah sekian lama melanglang buana ke sana kemari. Sebenernya dari pada ngeblog, saya lebih pilih ngapelin pacar atau shopping. Tapi berhubung saya gak punya cewek buat diapelin dan dompet saya lagi kering, jadi terpaksa saya milih blogging. Berhubung sudah akhir tahun pula, saya merasa terpanggil untuk memposting sesuatu. Well, sebentar lagi tahun 2014. Tiap pergantian tahun, semua orang berbondong-bondong membuat resolusi. Resolusi? Oh, come on! Itu sangat klise sekali! Tapi kita gak bisa memungkiri kalau secara pribadi kita memang sering membuat resolusi. Ya, resolusi. Resolusi untuk masa depan yang lebih baik. Tidak ada salahnya berpikir demikian. Toh itu sudah menjadi naluri alamiah manusia untuk mengharapkan kehidupan yang lebih baik. Ciyeee… sok bijak gue hehe.

Resolusi tiap orang itu beda-beda. Sebagaimana isi kepala tiap orang yang emang gak sama. Ada yang beresolusi buat mendapatkan pasanganlah, pengen dapet momongan, naik jabatan, ngelunasin hutang, nikahin selingkuhan dan lain sebagainya. Semua punya harapan masing-masing. Dan semuanya menuju ke arah positif. Hah, positif? Hamil dong! Haha.. Gak mungkin kan ada orang yang beresolusi ke arah negatif. Mungkin cuma orang gak waras yang berpikiran demikian. Everybody wants to be better, right? This is real life! It’s our life!

Jika kita merunut pengalaman ke belakang, maka akan muncul berbagai kaleidoskop mengenai dinamika kehidupan kita selama setahun ini. Ada resolusi yang berhasil, ada juga yang enggak. Tapi kayaknya kebanyakan enggak, ya? Hehe sama. Ada yang melanjutkan resolusinya yang belum tercapai ke tahun depan, ada juga yang menggantinya secara radikal. Optimisme setiap individu pastinya berbeda. Beruntunglah bagi jiwa-jiwa yang mempunyai optimisme tinggi. Mereka punya modal yang kuat untuk menatap masa depan. Ya, optimisme memang menjadi poin pertama yang harus kita benamkan dalam benak kita ketika kita membuat resolusi. Kalau gak mau optimis, mending gak usah bikin resolusi aja deh! Mending bikin sambel terasi aja sana!

Berkaca pada keberhasilan dan kegagalan resolusi yang telah saya alami tahun-tahun sebelumnya, saya mendapat sebuah pelajaran kalau resolusi itu ada dua macam. Ada resolusi isi daging dan ada resolusi isi sayuran. Itu risoles masbro!! Well, sebagian besar orang mengartikan sebuah resolusi sebagai harapan, sementara sebagian lainnya menganggapnya sebagai rencana. Inilah dasar utama kenapa presentasi keberhasilan resolusi kita berbeda-beda. Oke, mari sejenak saya jabarkan satu per satu.

Resolution = Wish
Pertama saya akan menjabarkan resolusi jika diartikan sebagai permohonan atau harapan, bisa pula disebut hope atau wish. Orang yang beresolusi demikian akan menyerahkan resolusinya tergantung sepenuhnya pada kehendak Tuhan. Ini gak salah. Mungkin dia memang orang religius. Semuanya memang tergantung Tuhan. Harapan adalah suatu keinginan. Seseorang yang berharap akan lebih menonjolkan sisi emosionalnya ketika ia menginginkan sesuatu. Terkadang mereka tidak memikirkan logika terlalu jauh. Life goes flow, begitulah katanya. Oke, hidup itu emang mengalir. Tapi kalau kita gak ada aksi, yang ada kita malah terbawa arus. Jadi, resolusinya ikut terbawa arus juga deh.

Bagai pungguk merindukan bulan, itulah peribahasanya. Kalau cuma ngarep, kapan jadinya. Mau sampai seabad pun gak akan kesampean. Resolusi itu harus diperjuangkan. Kalo dilepasin gitu aja ya sama juga bohong. Keep on the go dong, Bro! Jangan jadi pecandu harapan palsu. Harapan itu cuma menyenangkan pikiranmu secara semu. Wujud kongkritnya harus ada dong, Bro! Yup, inilah kekurangannya kalau kita mengartikan resolusi sebagai harapan. Kita tidak terlalu berpartisipasi dalam mewujudkan resolusi kita karena kita cenderung mengabaikan aksi nyata.

Resolution = Plan
Yang kedua, resolusi jika diartikan sebagai rencana. Tentu kita tahu apa itu rencana? Ketika kita merencanakan sesuatu, maka kita akan mempersiapkan segala sesuatunya. Kita akan memikirkan langkah-langkah konkrit yang harus dilakukan dalam mencapai resolusi kita. Bagaimana strateginya, waktunya, kemungkinan kesulitannya dan kemungkinan keberhasilannya. Semua butuh perencanaan. Neil Armstrong gak akan sukses terbang ke bulan kalau NASA tidak merencanakannya secara matang. Bill Gates gak akan mungkin sukses bikin Microsoft kalau ia tidak merencanakannya secara gamblang. Itu contoh spektakulernya, kamu bisa pikirkan sendiri contoh sederhananya. Semuanya memang butuh perencanaan. Resolusi gak bisa disamakan kayak BAB. Hasil resolusi gak bisa brojol gitu aja kayak kamu lagi nongkong di WC (ups.. maaf!). Semua tidak bisa direncanakan sambil lalu. Oke, memang semuanya tergantung Tuhan, tapi kita juga harus ikut berusaha. Act like you’re an professional architect. Do that shit like God is your partner. That’s the resolution! And it’s not a wish, but a plan. Jangan anggap ini sebagai beban. Ingat, rencana itu sebuah strategi pencapaian. Anggap saja itu sebagai proses disiplin pribadi yang akan menuntunmu pada keberhasilan. Take it easy, but still take in the plan.

Berhasil atau tidaknya sebuah resolusi, kita sendiri yang menentukan. Kita tentu tahu kapabilitas masing-masing. Tiap resolusi tentu haruslah berlogika. Saya tentu tidak akan beresolusi pergi ke planet Mars karena saya tidak memiliki kapabilitas untuk melakukan itu. Saya tidak akan beresolusi menikah dengan Miss Universe karena saya tidak memiliki kapasitas yang memadai untuk mewujudkannya. Saya tentu tidak akan beresolusi yang aneh-aneh. Kita memang tidak dibatasi dalam beresolusi tapi kita juga harus tahu diri. Sebenarnya kita sudah tahu kemungkinan keberhasilan resolusi kita dari jauh-jauh hari. Cuman kita terkadang abai dalam mempersiapkan segala kemungkinan kesulitannya. Inilah yang sering saya alami. Mungkin kamu sering mengalaminya juga, kan?

Well, tahun 2014 sudah menanti. Dan 2013 akan berakhir sebentar lagi. Mungkin gak terlalu banyak resolusi yang tercapai di tahun ini, tapi kita gak boleh berkecil hati. Saatnya kita mengubah presepsi. Resolution is not a wish. Camkan ini, RESOLUTION IS A PLAN everybody! Pikirkan strategi resolusimu sekarang. Rencanakan! Just take control! Jadi, masih beranikah kamu beresolusi untuk tahun 2014 nanti? Don’t gimme a bullshit! Let’s act, everybody! 🙂

Sumber gambar: dokumen pribadi

image

Wanna be a sexy dad?

Kayaknya berasa penting banget saya posting tulisan ini. Padahal gak penting-penting amat sih. Tapi saya nulis bukan karena sesuatu yang penting. Toh kepentingan sama prioritas setiap orang itu beda-beda. Jadi, gak masalah kalau saya mau nulis topik yang gak terlalu penting. Yang penting saya nulis. Itu yang penting.

Oke langsung aja deh. Hampir tiap bulan saya harus menyisihkan sebagian waktu saya untuk menjenguk salah satu teman saya yang melahirkan. Emang sih gak tiap-tiap bulan amat. Yang pasti dalam kurun periode tertentu ada saja teman saya yang menghasilkan keturunan. Sebagian usia teman-teman saya gak terlalu jauh dengan saya. Ya sekitar 20 sampe 25-an gitu deh. Yang jelas masih terbilang muda. Bahkan terlalu muda sih kalau menurut pandangan saya —karena bagi saya, gak ada ukuran usia pas untuk berkembang biak. Hewan kali berkembang biak! Tapi entah kenapa mereka begitu mantap menjadi ibu dan ayah dalam usia yang tidak terukur oleh logika saya.

“Kapan mau nyusul, Men?”

Begitulah tanya mereka. Nyusul kemana nih maksudnya? Nyusul ke Hong Kong?

“Nyusul kayak kita dong. Nyusul nikah dan jadi ayah bunda.”

Jadi ayah? Ok, wait a minute. Izinkan saya menalar logika saya. Ayah. A-Y-A-H. Menurut Wikipedia, ayah adalah orang tua laki-laki seorang anak. Tergantung hubungannya dengan sang anak, seorang “ayah” dapat merupakan ayah kandung (ayah secara biologis) atau ayah angkat. Panggilan “ayah” juga dapat diberikan kepada seseorang yang secara de facto bertanggung jawab memelihara seorang anak meskipun antar keduanya tidak terdapat hubungan resmi. Ayah yang saya bicarakan sekarang ini adalah ayah dalam pengertian tradisional. Jadi ayah berarti harus nikah, punya anak dan merubah haluan hidup saya secara radikal. Aha, that’s right! Salut banget sama teman-teman seusia saya yang sudah bertransformasi menjadi ayah. Mereka mampu membuat keputusan paling krusial dalam hidup mereka. Mengesahkan kebutuhan seksual mereka secara legal, meleburkan ego dalam konstitusi sakral dan mulai mengatur kehidupan ekonomi mereka secara terstruktural. Sungguh bukan suatu proses yang sederhana.

“Gue gak bisa ngebayangin gimana lo jadi ayah, Men. Apa bisa anak kecil kayak lo ini punya anak?”

Begitu kata temen-temen saya. Jangankan kalian, saya juga gak kebayang. Saya tidak bisa membayangkan kalau saya punya bayi. Saya selalu kikuk kalau berhadapan dengan bayi. Jangankan untuk mengasuh, menimang dan memangku saja saya gak bisa —atau lebih tepatnya takut. Saya gak tahu apa yang harus saya lakukan dengan bayi. Ngajak bayi berinteraksi itu kayak gimana, sih? Gak mungkin dong kalau saya ngobrolin soal musik pop dan teori konspirasi sama bayi. Gak mungkin juga saya nyanyi Arctic Monkeys di depan bayi. Sempat saya berpikiran simple. Mungkin “memelihara” bayi itu sama kayak memelihara kucing. Saya juga bisa. Tapi tunggu dulu! Konteks “memelihara” jelas sangat tidak cocok dengan bayi. Secara spesies, kucing dan bayi manusia jelas beda. Saya tentu gak mau bayi saya bakal merangkak dan mengeong kayak kucing. Please deh men, otak lo sehat gak sih? Yang jelas ngurus bayi itu kompleks sekali.

Bayi bukan hanya seonggok daging hasil investasi seksualitas kita. Bayi itu makhluk suci. Menjadi ayah berarti harus siap mengorbankan segalanya untuk si buah hati. Bayi tidak akan selamanya jadi bayi. Anak kita akan semakin tumbuh menjadi tanggung jawab kita secara hakiki. Mendidik anak tidak segampang menulis tulisan ini. Hampir setiap orang tua —terutama yang notabenenya muslim— menginginkan anaknya menjadi anak yang sholeh atau sholeha. Lha kalau saya bagaimana? Bagaimana bisa anak saya jadi anak yang sholeh kalau ayahnya aja skeptis sama agama. Bagaimana saya mendidik anak-anak saya? Ini jelas jauh lebih sulit. Saya butuh lebih dari sekedar cara mainstream untuk mendidik anak-anak saya. Pertanyaannya, apa saya bisa? Perilaku sendiri aja kayak gini apalagi membentuk perilaku anak? Entah apa jadinya anak saya kelak…

Buah itu selalu jatuh gak jauh dari pohonnya. Begitulah pepatah bilang. Ada beberapa sifat orang tua akan diturunkan kepada anaknya. Entah itu sifat baik atau buruk. Yang jelas bagaimanapun juga, kita dan anak kita akan terhubung dalam komposisi genetika yang serupa. Secara fisik, itu sudah pasti. Secara psikis, itu mungkin bisa diakali. Setiap orang tua akan berjuang mati-matian untuk menjadikan anaknya sempurna secara moral. Moralitas adalah poin utama pendidikan anak. Begitu para polisi moral bilang. Mereka akan berusaha mendoktrin anak mereka sedemikian rupa agar bisa sesempurna malaikat. Sungguh suatu obsesi yang fantastis memang. Tapi ini memang benar adanya. Dan poin inilah yang menyebabkan saya belum mau berpikir jauh untuk menjadi orang tua —atau ayah. Saya angkat tangan. Memanusiakan manusia aja sudah susah, apalagi memalaikatkan manusia. Wow, obsesi manusia itu bener-bener luar biasa, ya!

Yang di atas itu baru awalnya. Bagaimana dengan biaya hidupnya? Setiap manusia yang lahir ke planet ini butuh modal. Anak kita tidak akan hidup kalau cuma dicecoki dengan doktrinasi moral. Selain moril, anak kita juga punya kebutuhan materi yang wajib dipenuhi. Hampir seluruh hidupmu akan dihabiskan untuk menghidupi anak-anakmu. Hey kamu, siapkah kamu menanggung beban ini? Siapkah kamu menanggung kehidupan manusia baru yang terlahir secara alamiah dari sel spermamu itu. Emmm… boleh saya mikir dulu. Saya pikir sih saya belum siap. I’m not fuckin readddyyy!!!

I wanna have your babies,
get serious like crazy
I wanna have your babies
I see ’em springin’ up like daisies

Babies! Babies! Babies! Jadi gimana ya kalau ada cewek yang nyanyin lagu Natasha Bedingfield di atas? Do I wanna have her babies? Marry her and be a realisitic good daddy. Seriously, I’m crazy!

Bayi itu emang lucu. Semua orang tahu itu. Ada banyak hal yang menyebabkan sebagian orang ingin memiliki bayi. Saya juga manusia normal yang suatu hari nanti berharap berketurunan. Ini adalah konsekuensi makhluk hidup yang sudah ditasbihkan untuk bereproduksi. Gak akan ada saya kalau ayah ibu saya tidak melakukan proses reproduksi. Saya masih tradisonal dalam hal ini. Saya bukan orang liberal yang seratus persen setuju dengan kelahiran di luar nikah. Saya menginginkan keluarga tradisonal yang sakral seperti kebanyakan orang. Menikah lalu punya anak, bukan punya anak dulu lalu menikah atau punya anak tapi tidak menikah. Saya pikir hak seorang anak akan terjamin ketika ia hadir dalam koridor pernikahan. Ini bukan cuma soal ketentuan liturgi agama, tapi juga haknya sebagai warga negara. Anak kita tidak hanya butuh orang tua dalam sudut pandang biologis, tapi juga secara hukum dan sosial. Dan saya hanya akan berketurunan secara legal. Itu harus.

Banyak orang bilang kalau seorang pria belum menjadi pria sejati kalau belum menjadi ayah. Saya terkadang berimajinasi menjadi sosok ayah yang digambarkan selebriti. Saya membayangkan diri saya seperti David Beckham atau Chris Martin —dua sosok ayah modern abad ini. That’s so beautiful. Have a beautiful wife and cute children. Oh, that’s heaven in earth. Jadi ayah itu keren. Jadi ayah itu seksi. Ya, itu bener juga. Tapi gak bener-bener juga sih. Seorang pria akan tetap menjadi pria selama ia masih belum berganti kelamin menjadi wanita —atau mungkin jadi waria dulu hihi. Maskulinitas seorang pria tidak diukur dari banyaknya anak yang ia punya. Ketika seorang bayi terlahir dengan phallus, maka ia sudah sesungguhnya menjadi pria. Saya belum terlalu tergoda untuk memiliki seorang bayi. Toh saya juga masih bayi hehe. Masa bayi punya bayi. Saya belum mau jadi orang tua karena saya masih orang muda. Banyak kawan yang bilang kalau penampilan saya lebih muda dari usia saya yang sebenarnya. Terkadang saya dikira masih anak SMA. Postur tubuh saya memang relatif mini. Tapi postur tubuh gak bisa dijadikan ukuran —kenapa sih pria sangat sensitif sama ukuran? Hehe… Size is not everything, right? Banyak kok pria kecil yang sukses menjadi ayah. Ini bukan cuma urusan fisik, tapi juga mental —tentu saja semua orang juga tahu. Saya harus belajar dulu dan mempertinggi ilmu supaya nanti bisa jadi ayah yang pinter. Anak sekarang tuh pada pinter-pinter. Ayahnya gak boleh kalah pinter. Sepuluh-dua puluh tahun mendatang, dunia akan semakin maju. Anak-anak kita akan semakin akrab dengan teknologi. Kita gak boleh tinggal diam. Ilmu kita gak boleh disepelekan karena anak-anak kita akan sangat bergantung pada pola pikir kita. You don’t use your sperm only, use your brain and heart to be a daddy.

Dalam tubuh saya ada jutaan sel bakal calon bayi, dan hanya yang terbaiklah yang akan keluar menjadi penghuni bumi. Sekarang ini ada sekitar 7 miliar penduduk dunia, dan saya berpotensi untuk menambahnya. Ayah universal kita yang bernama Adam, telah menjadi ayah dari satu spesies paling istimewa yang mendiami planet terindah di alam semesta. Kita, manusia, akan terus berevolusi melalui keturunan-keturunan kita. Tidak semua pria akan menjadi ayah. Tapi semua ayah pastilah seorang pria.

Menjadi ayah untuk sekarang ini mungkin hanya sekedar fantasi. Tapi saya tidak akan memungkiri kalau fantasi itu bisa saja terjadi. Suatu hari saya juga mungkin akan berurusan dengan bedak dan popok bayi. Rasanya aneh bila ada seorang anak yang memanggil saya ayah. Sungguh lucu sekaligus mengerikan! Ayah. Ya, suatu hari akan ada seorang anak yang memanggil saya ayah. Entah apapun sebutannya. Ayah, papa, pipi, bapak, babeh, abah, abi atau daddy? It doesn’t matter. I just wanna be a daddy. Maybe not a verry good daddy but I’m gonna be happy. Yay, maybe.

Oke, temen saya lalu nanya lagi,

Jadi, kapan mau nyusul jadi daddy-nya, Men?”

Ehmmm… kapan ya? Kapan-kapan aja deh. Sekarang saya mau puas-puasin jadi baby dulu hehe…

So, are you ready to be a sexy daddy?

Sumber gambar: Google dengan sedikit editan dari Picsart Studio

image

Who me? Alien baby?

Am I an alien?
A strange creature or unidentified fuckin human?

Pertanyaan absurd itu selalu muncul dalam benak saya ketika masih kecil. Saya anak yang pendiam. Saya kurang bisa membaur dengan lingkungan sekitar. Saya gak suka banyak bicara. Ketika kumpul dengan keluarga besar, saya lebih senang berdiam diri di kamar. Di tengah keriuhan kelas, saya lebih sering duduk mengasingkan diri hanya dengan krayon dan kertas gambar. Saya ini sebuah paradoks. Teman-teman banyak yang menganggap saya sombong dan arogan karena dinilai tak mau bergaul dengan sesama. Tapi kenyataannya saya tidak begitu. Ini sungguh membuat saya tertekan dan membuat saya semakin terasingkan. Ini sungguh menyakitkan. Kenapa saya berbeda dari mereka? Siapakah saya? Apa saya ini makhluk asing yang turun dari planet antah berantah? Mungkinkah saya ini alien seperti yang sering saya tonton dalam film-film fiksi ilmiah?

Pertanyaan konyol itu terus berlanjut hingga saya remaja dan kini beranjak dewasa. Saya masih mengasingkan diri dari dunia luar. Saya masih begitu nyaman dengan dunia saya sendiri. Dan saya masih belum tahu siapa diri saya sampai suatu hari saya membaca sebuah artikel yang bisa menjelaskan kepribadian saya. Ya, kepribadian yang dibahas dalam artikel itu benar-benar sangat cocok dengan kepribadian saya. Introvert, itulah saya. Dan mungkin juga untuk kamu-kamu yang punya kepribadian seperti saya. Ternyata saya tidak sendiri. Ternyata saya ini bukan makhluk asing yang berasal dari planet Pandora. Ternyata saya ini memang manusia. Tapi jenis manusia langka yang konon katanya hanya ada 20% dari populasi manusia yang ada di dunia.

Kepribadian introvert adalah kebalikan dari extrovert. Satu sama lain memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Orang extrovert cenderung membuka diri sedangkan orang introvert sebaliknya. Ibarat bumi dan langit, kedua kepribadian itu membuat karakter manusia menjadi semakin berwarna. Semua saling mengisi. Semua istimewa,. Tapi kali ini saya cuma ingin membahas kepribadian yang kedua, yakni introvert. Kepribadian saya, dan mungkin kepribadian kamu juga.  

Menurut beberapa artikel studi ilmiah yang sempat saya baca, orang introvert itu cenderung mudah depresi. Sebagian diantara mereka gak bisa menerima diri sendiri. Kesendirian mereka bisa menjadi boomerang pribadi. Mereka tak tahu bagaimana cara berbagi. Mereka cenderung menyalahkan diri dan bahkan bisa berakhir dengan menghilangkan nyawa sendiri. Wuihh… serem! Jujur, saya juga sempet yang namanya depresi. Ini gila. Kita seakan ingin mengutuk diri sendiri. Kenapa sih saya dilahirkan ke dunia ini? Lebih baik saya diaborsi. Saya takut hidup sendiri. Terisolasi dari planet bumi. Bahkan saya berharap untuk diculik oleh alien ke planet lain dan tinggal di dunia yang tidak menuntut saya untuk bersosialisasi. Cuma saya yang mengerti saya sendiri. Eksistensi saya seperti sudah ditelan bumi.

Introvert itu menyebalkan? Entahlah.  Setelah saya coba googling dengan kata kunci introvert, saya banyak menemukan tulisan menakjubkan yang membahas tentang kepribadian unik itu. Banyak orang-orang keren di dunia ini yang ternyata seorang introvert. Yay, that is true!!! Bill Gates, Mahatma Gandhi, JK Rowling dan Steve Jobs adalah contohnya. Sebagian besar orang-orang introvert adalah orang-orang yang penuh kreatifitas tinggi. Pemikiran mereka adalah sebuah manifestasi. Karena mereka cenderung menutup diri, maka ide-ide yang meluncur dari pemikiran mereka cenderung lebih tereksplorasi. Meskipun mereka minim dalam berinteraksi tapi mereka sangat pandai dalam memaksimalkan bakat dan potensi yang mereka miliki. Introversi adalah sebuah investasi. Ini terbukti.

Introversion is “the state of or tendency toward being wholly or predominantly concerned with and interested in one’s own mental life”. Some popular writers have characterized introverts as people whose energy tends to expand through reflection and dwindle during interaction. (sumber : wikipedia)

Menjadi introvert bukan suatu pilihan. Jujur, saya sempat tidak mau memilih introvert sebagai jati diri saya. Tapi mau gimana lagi, wong ini udah dari sononya begitu. Biarkan orang-orang menjudge saya, saya memang begini apa adanya. Do we suck? No! Like what I said, we’re just different. Menjadi pendiam itu bukan kutukan. Kita tidak selamanya terasingkan. Ada kalanya kita cerewet dan tertawa terbahak-bahak dengan teman-teman dekat kita. Orang introvert memang cenderung memiliki sedikit teman. Meskipun sedikit, tapi berkualitas karena teman mereka adalah teman-teman dekat atau sahabat yang bisa dipercaya. Dan saya akui itu. Saya punya beberapa teman SMA yang masih eksis sampai sekarang. Ketika bersama mereka, saya benar-benar merasa jadi diri saya. Mereka tahu baik buruknya saya. Saya bisa bercanda dan tertawa lepas bersama mereka. Ini sungguh kontras bila saya berada di tengah orang-orang yang berbeda. Saya merasa normal seperti anak muda pada umumnya.

Orang introvert itu mungkin terlihat cuek. Tapi di balik kecuekannya itu mereka memiliki “kekepoan” yang luar biasa. Dalam kesendirian, mereka senang membaca. Poin ini kembali saya akui. Ketika waktu senggang, saya lebih suka menyibukkan diri dengan googling atau browsing. Mulai dari membaca informasi gak penting sampai informasi yang benar-benar penting. Mungkin mereka sering terlihat bego kalau berinteraksi dengan lingkungan sekitar, tapi sebenarnya mereka memiliki wawasan yang sangat luas! (Wuih, mulai sombong nih hehe!). Cuman sayangnya mereka kurang bisa mengungkapkan kepandaian mereka. Semua itu karena terbatasnya kemampuan lisan mereka. Eits, tapi jangan salah lho! Mereka bisa jadi pembicara yang luar biasa ketika dihadapkan dalam sebuah forum resmi. Ketika masih sekolah, saya suka sekali mengikuti lomba pidato atau debat. Saya senang berbicara di depan kelas, terutama saat saya menguasai materinya. Sampai sekarang pun masih begitu. Saya sangat senang berbicara dalam seminar, beradu argumen dalam forum biasa atau di dunia maya dan berbicara dalam sebuah wawancara kerja. Saya bisa bersuara. Ya, tapi bukan buat basa basi semata. Dan satu hal lagi, orang introvert juga cenderung lebih aktif di dunia maya. Jangan heran kalau mereka lebih cerewet di jejaring sosial. Mereka memang lebih nyaman mengungkapkan segala sesuatu dengan tulisan. Buktinya saya hehe… Saya senang sekali menulis seperti tulisan yang sedang kamu baca ini. Saya suka sekali ngeblog, nulis artikel atau cerita fiksi. Saya lebih senang mengungkapkan pemikiran dalam ketikan kata-kata. Makannya jangan heran kalau banyak orang introvert yang jadi penulis atau ahli filsafat. Penulis dan filsuf seperti Plato, Jean-Paul Sartre, Friedrich Nietzsche atau Milan Kundera adalah contohnya. Mereka besar dengan tulisan mereka yang fenomenal, bahkan kontroversial.

Ya, begitulah introvert. Terkadang pemikiran mereka agak berbeda dari pemikiran kebanyakan orang. Mereka orang yang sangat prinsipal dan memandang hidup secara esensial. Pemikiran mereka cenderung masuk ke dalam. Terkadang, mereka tak mau mengikuti alur hidup orang kebanyakan. Pemikiran mereka jauh dari kata mainstream. Mereka adalah para pemikir abstrak yang tak mudah dijebak. Mereka tidak mudah terpengaruh oleh orang lain. Tapi mereka juga tak akan berusaha untuk mempengaruhi orang lain. Orang lain akan terpengaruh dengan sendirinya tanpa orasi basa-basi. And it’s naturally! Not artificial or officially. Just go flow and simply.

Ternyata karakter introvert gak seburuk yang kita duga. Di balik kelemahannya, seseorang yang introvert ternyata bisa mengubah dunia. Memang semua itu tidak bisa terjadi secara radikal, tapi jangan remehkan kemampuan mereka. Mereka bisa sangat mengejutkan dalam sebuah kesempatan. Buat kamu yang merasa introvert, berikut ini berapa alasan kenapa kamu harus berbesar hati (tapi jangan untuk menyombongkan diri tentunya) menjadi seorang introvert :

1. Orang introvert itu mandiri
We’re not an individualist! Kita cuma senang menyendiri. Orang introvert lebih senang mengerjakan segala sesuatu sendiri. Mereka tak akan meminta bantuan orang lain selama masih bisa mengerjakannya sendiri. Mereka tak ingin terikat oleh apapun. Bantuan orang lain adalah sesuatu yang sangat mahal bagi mereka. Mereka tak ingin menyusahkan orang lain untuk alasan yang sepele.

2. Orang introvert itu mempunyai toleransi yang tinggi
Siapa bilang mereka cuek dan arogan? Justru dibalik sifat diam mereka ada suatu empati. Mereka lebih baik mengalah daripada harus terjadi konflik. Mereka sangat menghargai kehadiran orang-orang yang ada di sekitar mereka. Mereka akan membiarkan orang lain bicara terlebih dahulu dalam berargumentasi. Tapi jangan harapkan mereka kalah dalam beradu argumentasi. Mereka cuma tak ingin mengacau. Sangat pantang bagi mereka untuk membuat seseorang sakit hati. Karena mereka akan sangat merasa bersalah bila itu terjadi.

3. Orang introvert itu punya idealis tinggi
Seperti yang saya bilang tadi, introvert itu prinsipal sekali. Mereka akan melakukan apapun untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Mereka cenderung obsesif dan tidak mudah digoyahkan oleh pemikiran sekilas.

4. Orang introvert itu kreatif
Karena mereka lebih senang memikirkan segala sesuatu sendiri, maka ide-ide yang keluar dari pikiran mereka pun cenderung orisinil. Kebanyakan mereka cocok bekerja dalam bidang kreatif seperti seni atau sains yang memiliki tingkat orisinalitas yang tinggi.

5. Orang introvert itu loyalis
Yap, mereka akan selalu berpegang  teguh dengan apa yang mereka yakini. Mereka adalah sahabat yang setia. Mereka akan menjadi karyawan yang loyal bila mereka dipercaya dan dihargai.

6. Orang introvert itu peduli
Tidak banyak yang tahu akan hal ini. Mereka itu sebenarnya peduli. Mereka akan melakukan apapun untuk orang yang mereka sayangi. Mereka akan selalu siap membantu siapa pun juga. Hanya saja mereka tak ingin bantuan atau pertolongan mereka diketahui orang lain. Mereka tidak mau semua orang tahu karena mereka tidak ingin menonjolkan diri. Menonjolkan diri membuat mereka tak nyaman. Menjadi pusat perhatian adalah sebuah beban. Mereka hanya ingin mengulurkan tangan. Tak ada niat lain selain untuk memberi pertolongan. 

Itulah beberapa kelebihan orang introvert yang saya ketahui. Kita memang punya banyak kekurangan, tapi kita juga punya kelebihan yang sangat berpotensi. Saya cuma ingin mensyukuri apa yang telah Tuhan beri. Saya tidak ingin meninggikan hati. Ini cuma sebuah bentuk motivasi diri. Saya bukan alien atau makhluk asing lagi. Well, anggap saja itu hanya sebagai buah pemikiran imajinatif semata. Tapi alien juga makhluk Tuhan kan? Saya gak peduli dengan para pemikir materialis yang memperdebatkan hal ini. Alien atau bukan, yang penting kita mencintai diri kita sendiri

Okay, I’m not an alien. Nor an alien in human body. No matter what they say, people will always judge. So I just have to smile and relax, I’m just an introvert and now, I’m really proud of it. Excactly!! 🙂

(Sumber gambar : google)