Archive for the ‘Opinion’ Category

Sumber: IMDB


Pernahkah diantara kamu yang pernah kepikiran buat bunuh diri?

Pertanyaan yang cukup ekstrim memang. Tunggu dulu bentar bro, kok ini tiba-tiba malah ngomongin bunuh diri ya? Hehe maaf. Semua ini gara-gara saya habis nonton serial TV yang lagi happening beberapa belakangan ini. Yup, 13 Reasons Why! Awalnya saya gak terlalu tertarik dengan serial ini. Saya pikir saya ini terlalu tua buat nonton serial remaja kayak gini. Tapi berkat pemberitaan tentang serial ini di sosmed serta atas dasar rekomendasi teman-teman di forum Fans-Game of Thrones, saya akhirnya tertarik buat nonton serial ini. Ya, itung-itung sebagai selingan sambil nunggu Game of Thrones season 7 yang bakal tayang pertengahan Juli 2017 nanti. Selain karena beberapa hal yang telah saya sebutkan tadi, sebenarnya subject yang menjadi inti cerita serial 13 Reasons Why ini cukup membuat saya tertarik, meski mengundang kontroversi, yakni fenomena bunuh diri di kalangan remaja. Tema yang cukup suram untuk ukuran serial TV remaja memang.

Serial 13 Reasons Why diangkat dari sebuah buku best seller berjudul sama karya Jay Asher (sayangnya saya belum baca versi bukunya hmm..), menceritakan tentang seorang gadis SMA bernama Hannah Baker yang memutuskan untuk mengakhiri nyawanya sendiri. Setelah melakukan bunuh diri, neng Hannah ini meninggalkan “warisan” berupa 7 buah kaset berisi 13 rekaman alasan mengapa ia melakukan bunuh diri. Kaset tersebut disebarkan secara estafet kepada beberapa temannya yang namanya ia sebut dalam rekaman, yang ia anggap sebagai “penyebab” ia melakukan bunuh diri. 

Tersebutlah Clay Jensen, salah seorang teman Hannah yang juga menerima rekaman kaset tersebut. Berbeda dengan beberapa temannya yang tidak terlalu serius menanggapi kaset-kaset tersebut,  Clay yang emang belum move on suka sama Hannah ini malah secara tak sadar mendengarkan kaset-kaset itu terlalu sentimentil. Dari sosok Clay Jensen inilah misteri kehidupan Hannah sebelum mengakhiri nyawanya akan terungkap satu per satu mulai dari intimidasi, cyber-bullying, intrik pergaulan remaja, body shaming, stalking, sampai pelecehan seksual dan pemerkosaan. Di lain pihak, orangtua Hannah tetap bersikukuh membawa kasus bunuh diri puterinya melalui jalur hukum sehingga menimbulkan konflik dengan pihak sekolah.

Untuk ukuran serial remaja, mungkin tema 13 Reasons Why memang cukup kelam dan berat. Di serial ini akan ditampilkan secara eksplisit detik-detik bagaimana seorang Hannah Baker mengakhiri hidupnya dengan silet yang menyayat kedua lengannya (spoiler alert!). Menurut saya, scene ini sangat WTF banget!! Selain itu, adegan pemerkosaan dalam serial ini juga cukup disturbing untuk ukuran young adults. Ini serial remaja lho bro! Hadeuuhh… tapi karena adegan-adegan WTF itulah, Netflix terpaksa memberi rating 18+ untuk serial ini. Wajar memang.

Sumber: IMDB

Sejak tayang akhir Maret lalu, serial yang juga diproduseri neng Selena Gomez ini langsung jadi bahan pembicaraan dimana-mana. Banyak yang memuji serial ini sebagai suatu bentuk awareness bunuh diri di kalangan remaja, tapi banyak juga yang mengkritisi karena ditakutkan bakal menjadi suatu model glorifikasi bunuh diri di kalangan anak muda. Serial ini pun kini semakin disorot ketika sebuah permainan online yang bernama Blue Whale Challenge menyeruak karena dikabarkan sama-sama mendorong pemainnya untuk bunuh diri. Dikabarkan banyak pemain game tersebut yang bunuh diri karena terinspirasi serial 13 Reasons Why. Meski memang sampai sekarang berita ini belum dikonfirmasi.

Bunuh diri memang masih menjadi obrolan tabu di masyarakat. Bukan cuma di negeri kita, tapi juga di negara-negara lain kayak di US dan Europe sono yang notabenenya lebih liberal. Meski begitu, bunuh diri juga telah menjadi suatu budaya di beberapa negara seperti di Jepang dan Korea Selatan. Sebagian kalangan berpendapat bahwa mengakhiri nyawa sendiri adalah hak pribadi. Maka gak salah kalau di Eropa sana, tepatnya di Swiss muncul sebuah klinik yang bernama klinik Dignitas yang menawarkan bantuan untuk mengakhiri nyawa secara legal bagi orang-orang yang sudah putus asa dalam hidupnya. Sangat gila memang! Well, tapi presepsi tiap orang toh pasti beda-beda. Bagi orang religius, jelas bunuh diri itu dilarang oleh agama. Sedangkan sebagian lagi menganggap bunuh diri sebagai suatu tindakan yang egois. Dan terlepas dari semua itu, kita pasti setuju kalau bunuh diri itu adalah suatu tindakan yang salah.

Saya teringat dengan salah satu scene di 13 Reasons Why di episode terakhir sesaat setelah Hannah mengakhiri nyawanya (Spoiler alert lagi ya..). Reaksi orangtua Hannah, terutama ibunya begitu melihat anaknya sudah tak bernyawa menurut saya sangat heartbreaking sekaleee! Sesungguhnya yang paling menderita itu adalah orang-orang terdekat yang ditinggalkan. Jadi, benarkah bila bunuh diri itu termasuk tindakan egois? Saya kira, kita jangan dulu buru-buru mengambil kesimpulan. Orang-orang yang menyayangi kamu akan menderita, ya itu pasti. Malah tak menutup kemungkinan kalau orang-orang yang menyayangi kamu tersebut juga akan masuk ke dalam kubangan defresif berkepanjangan yang juga bahkan dapat mengarah kepada tindakan bunuh diri berikutnya bila ia juga punya kecenderungan depresi. Meski begitu, saya juga ingin menggarisbawahi tentang sikap masyarakat terhadap “korban atau pelaku bunuh” diri ini. Saya sungguh menyayangkan tentang judgement masyarakat kita tentang korban bunuh diri ini. Mereka mengganggap korban bunuh diri ini sebagai seseorang yang telah dilaknat. Oke, mungkin dari sisi religi bisa dibenarkan. Tapi menurut saya ini kurang tepat. Mungkin tindakan mereka untuk bunuh diri memang salah. Tapi menghakimi individu yang melakukan bunuh diri tersebut tidaklah tepat. Seharusnya korban pelaku bunuh diri bisa dijadikan sebagai bentuk awareness bagi kita kalau masih banyak orang yang membutuhkan pertolongan. Faktor bunuh diri memang macam-macam, mulai dari faktor ekonomi, tekanan sosial, psikologis atau kejiwaan. Faktor psikologis dan kejiwaan memang banyak menyumbang peranan yang cukup besar dalam perilaku bunuh diri.

Tiap orang menanggapi suatu masalah secara berbeda. Mungkin suatu masalah bisa dianggap kecil oleh seorang individu tapi bagi individu lain bisa saja masalah itu berdampak besar. Seperti yang pernah neng Hannah Baker katakan dalam episode pertama 13 Reasons Why, “masalah besar dan kecil itu sama pentingnya”. Kondisi kesehatan mental seseorang yang melalukan bunuh diri harus diperhitungkan sebelum kamu menghakimi tindakannya. Bagi seseorang yang mengalami gangguan mental seperti depresi, tentu itu bukanlah hal yang sepele untuk diatasi. Jadi kita tidak bisa menilai tindakan bunuh diri sebagai bentuk keegoisan semata.

Apalagi jika ditambah dengan faktor-faktor lain seperti ekonomi, sosial, lingkungan dan sebagainya, kecenderungan seseorang yang depresi untuk melakukan bunuh diri akan semakin besar karena depresi sendiri bukanlah rasa sedih biasa.

Menurut Dean Burnett, seorang pakar neurologi dari Cardiff University menyatakan, tidaklah tepat membandingkan pengalaman seseorang yang menderita depresi karena gangguan mental dengan orang mengalami kesedihan lalu bisa melaluinya (Kompas.com, September 2014). “Jika Anda tak memiliki gangguan jiwa, maka Anda tak berhak mengabaikan mereka yang memilikinya,” kata Burnett dalam tulisannya di The Guardian.

Jangan pernah menganggap orang yang bunuh diri atau yang pernah melakukan percobaan bunuh diri sebagai orang yang lemah. Kita tidak akan pernah mengerti keadaaan seseorang  kecuali jika kita menjadi orang tersebut. Seorang penderita gangguan mental atau mereka yang mengalami depresi tidak akan mampu berpikir logis ketika dihadapkan suatu keruwetan karena mereka tidak bisa berpikir secara normal. Jadi bila kita mengatakan bahwa aksi bunuh sebagai bentuk keegoisan, sebenarnya pernyataan kita itu merupakan bentuk keegoisan itu sendiri. Kita egois karena tidak mau mencoba untuk mengerti mereka.

“Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya… hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.” – Harper Lee dalam buku To Kill a Mockingbird

Don’t ever judge people if we don’t know who they are! 

Menangkal perilaku bunuh diri bukanlah tindakan yang mudah karena bersifat subjektif. Penyebab seseorang bunuh diri tidak dapat disebut hanya satu penyebab karena merupakan interaksi kompleks dari berbagai faktor (Nationalgeographic.co.id edisi November 2015). Bagi orang-orang religius, mungkin bisa melalui pendekatan agama. Hampir semua agama pasti melarang yang namanya bunuh diri. Tapi saya pikir ini tidaklah cukup, seperti yang saya bilang tadi, orang-orang yang mempunyai kecenderungan depresi tidak akan mampu berpikir rasional sehingga pendekatan psikologis akan terasa lebih tepat. Kita tidak akan tahu bagaimana memberi pertolongan pada mereka, kecuali kita faham dengan kondisi psikologis mereka. Semua masalah pasti ada solusinya dan jangan biarkan bunuh diri menjadi solusi yang akan mereka pilih.

Berawal dari 13 Reasons Why, saya jadi antusias ngomongin tentang permasalahan bunuh diri. Saya pribadi menganggap serial ini cukup positif sebagai pemecah ketabuan masalah bunuh diri, khususnya di kalangan generasi muda. Bunuh diri memang tindakan yang salah, tapi itu bukanlah alasan untuk menyalakan pelaku bunuh diri tersebut. Serial ini juga bisa dijadikan sebagai momentum untuk menyadarkan kita akan pentingnya kesehatan mental dan spiritual serta interaksi sosial yang sehat. 

Berdasarkan data WHO, 39 persen dari total kasus bunuh diri di dunia disumbang oleh negara-negara Asia Tenggara. Di Indonesia sendiri kasus bunuh diri mencapai 3,7 persen per 100.000 penduduk. Memang presentase tersebut masih rendah dibanding negara-negara Asia lain. Tapi dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 258 juta penduduk, berarti ada 10.000 bunuh diri di Indonesia tiap tahun atau satu orang per jam. Angka yang cukup fantastis memang.

Sumber: Google

Mungkin kita tidak bisa berbuat banyak untuk mengatasi bunuh diri. Tapi setidaknya hal ini bisa dijadikan renungan bagi kita khususnya dalam hal berinteraksi dengan sesama. Terutama dengan maraknya social media di zaman sekarang. Komentar kebencian, intimidasi dan cyber-bullying sering kita saksikan di berbagai laman sosial media. Kita tidak akan pernah tau perasaan orang yang terintimidasi tersebut. Sudah saatnya kita lebih peka. Jangan sampai itu menjadi salah satu faktor orang lain untuk mengakhiri nyawanya. Tokoh Hannah Baker mungkin hanya sekedar fiksi, tapi ia bisa dijadikan gambaran korban intimidasi yang berujung bunuh diri.

Mungkin kamu punya berjuta alasan untuk bunuh diri, tapi ingatlah kamu selalu punya alasan untuk hidup. Serapuh apapun jiwamu, ingatlah dengan hidup yang akan menguatkanmu. Hidup ini cuma sekali guys! Jangan sia-siakan hidupmu. Masih banyak miliaran kemungkinan di luar sana. Suicide is not an answer. 
It’s not even an option. Ok, sometimes we feel so damn weak but it’s not a reason to cut our neck. Just love your life. 

Sumber: Google

Suicide can be prevented! 

(Sumber Gambar : Google)

Sepertinya kali ini saya ingin membicarakan sesuatu yang cukup serius, bahkan boleh dibilang sangat serius. Tiba-tiba saya teringat sebuah trailer film hasil karya anak negeri yang saya lihat tahun lalu. Sebuah trailer dari film yang berjudul Bulan Terbelah di Langit Amerika. Saya langsung tergelitik begitu mendengar salah satu kutipan film tersebut.

“Apakah dunia akan lebih baik tanpa Islam?”

Dan sontak saja saya langsung menjawab TIDAK. Dunia BUTUH Islam, sama halnya dengan dunia butuh Kristen, Buddha, Yahudi, Hindu, Ateisme, Agnostisme, Sekularisme dan agama serta faham ideologi lainnya.

Dunia butuh keberagaman akan agama, ideologi, budaya dan pola pikir yg membuat manusia hidup dalam hakikat indahnya keberagamaan peradaban. Dunia tentu akan berbeda dengan apa yang kita lihat sekarang jika tanpa Islam atau agama lainnya. Gak kebayang jika dunia hanya ada satu agama, maka peradaban manusia tentu akan sangat membosankan. Manusia bakal hidup dalam satu kebudayaan yang monoton dan pola pikir yang seragam. Mendadak saya jadi teringat dengan film The Giver yang dibintangi Merryl Streep yang sempat saya tonton tahun lalu. Filmnya gak terlalu bagus sih. Film itu menggambarkan kalau manusia hidup dalam satu peradaban yang monoton. Kalau menurut saya hal itu cukup mengerikan. Itu sangat bertentangan dengan kodrat manusia. Tiap individu manusia itu berbeda satu dan lainnya. Isi kepala kita berbeda begitu pula dengan masing-masing jalan hidup kita. Menyeragamkan pola pikir manusia sama saja dengan menentang hakikat alamiah manusia sebagai makhluk individual dengan kepribadian yang sangat beragam. Dan ini bisa jadi malapetaka.

Saya dilahirkan sebagai seorang Muslim. Orang tua, keluarga dan lingkungan tempat tinggal saya juga muslim. Saya diajarkan sholat, mengaji dan mengikuti peribadatan dengan tata cara muslim. Saya bersyukur dengan hal itu meski sejak beberapa tahun ke belakang, saya memutuskan untuk meninggalkan semua kehidupan religius saya itu. Semua teman dan rekan-rekan saya menganggap saya gila tapi itu benar adanya. Keputusan saya untuk hidup tanpa dilabeli agama adalah keputusan yang sudah saya pikirkan sejak jauh-jauh hari, bahkan sejak saya duduk di bangku SMP dan SMA. Saya rasa teman-teman sekolah saya tahu akan hal itu.

Ada sejuta pertanyaan esensial yang selalu menggelitk hati saya sejak saya kecil. Dan itu semakin membuncah saat saya beranjak dewasa. Hingga akhirnya saya tidak mau membohongi diri saya lagi dan membuka diri pada orang lain kalau saya hidup tanpa agama. Dan saya sangat lega dengan hal itu. Saya tidak mau menyebut saya Atheis atau Agnostik. Saya tidak mau melabeli diri saya dengan faham-faham itu. Saya tidak mau ikut agama atau faham terentu karena saya ingin terbuka dengan pemikiran baru yang akan selalu datang setiap waktu. Lalu apa saya percaya Tuhan? Mungkin iya. Saya percaya akan suatu kekuatan besar di luar batas pikiran kita yang menyebabkan semua kehidupan di alam semesta. Mungkin saja itu Tuhan, atau mungkin saja itu sesuatu yang berbeda. Apa saya percaya sesuatu yang ghaib? Bisa ya bisa tidak. Segala kemungkinan bisa saja terjadi dan seperti yang saya bilang, saya sangat terbuka dengan segala kemungkinan tersebut.
Saya merasa tidak nyaman jika saya disangkutpautkan dengan identitas faham ideologis, spiritual atau agama tertentu. Saya ingin bebas secara spiritual dari segala doktrin dan menyerap serta mempelajari ide spiritual apapun. Saya tidak tahu akan segala kemungkinan yang bakal terjadi. Bisa saja ada pemikiran baru yang membuat saya tertarik dan saya tidak mau menutup kemungkinan itu. Tapi bukan berarti saya tidak punya pendirian tetap. Open minded punya pengertian yang luas dan inilah prinsip pemikiran hidup saya.

Saya akui saya hidup dalam lingkungan budaya dan negara yang religius. Saya tidak bisa mengosongkan status agama saya di KTP. Kita selalu butuh identitas agama dalam keseharian kita. Saat kita sekolah, kita harus mengisi identitas agama begitu pun dalam dunia kerja dan sosial masyarakat. Dan oleh karena itu secara hukum dan budaya saya masihlah seorang Muslim. Terkadang saya juga membutuhkan waktu untuk beradaptasi di lingkungan baru dimana saya harus menunjukkan sisi religius saya sebagai salah satu syarat agar dapat diterima di lingkungan baru saya itu. Ini memang cukup melelahkan dan terkadang cukup menyiksa batin saya, tetapi bagaimana pun saya harus melakukan itu agar tidak mau dijauhi yang lain. Sungguh miris memang.

Saya hanya segelintir dari miliaran manusia lainnya di dunia. Ada banyak miliaran manusia lain yang mungkin bahkan punya pandangan yang jauh berbeda. Kehidupan spiritual manusia teramat kompleks. Bersyukurlah karena manusia dikarunia kenikmatan spiritual yang tidak dimiliki makhluk hidup lain. Pernahkan kalian melihat kucing menyembah duri ikan? Atau para semut yang mengerumuni berhala gula?  Ataupun anjing yang berdoa untuk dewa tulang belulang? Tak ada satupun makhluk di planet ini yang memiliki kehidupan spiritual seperti manusia. Saya tidak tahu dengan makhluk planet lain. Mungkin mereka punya kehidupan spiritual tersendiri yang jauh berbeda. Lihatlah Piramida-piramida Mesir atau piramida-piramida suku Inca, Kuil-kuil Yunani, Ka’bah, Masjidil Haram, Biara-biara para biksu Buddha, Kuil Dewa Dewi di China, Kathedral Vatikan, Candi-candi megah di negeri kita atau pun batu-batu besar megalitik peninggalan zaman prasejarah. Semua maha karya megah tersebut tercipta karena adanya kehidupan spiritual manusia. Spiritualitas dan norma religius merupakan salah satu penggerak peradaban kita. Tanpa kehidupan spiritual dan norma religius dari nenek moyang kita, mungkin sejarah akan jauh berbeda. Tapi terkadang kehidupan religius bisa bersifat destruktif. Well, sesuatu yang berlebihan akan selalu berdampak tidak baik, bukan? Begitu pun dengan sikap religius yang berlebihan.

Sungguh prihatin dengan isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan) yang tengah berkembang dalam kehidupan bermasyarakat kita akhir-akhir ini. Sekelompok agama yang dalam hal ini ormas-ormas Islam melaporkan seorang pejabat negara karena dituduh melakukan penistaan agama Islam sehingga menimbulkan aksi massa besar-besaran. Dan sekarang, tengah terjadi pula pelaporan sebaliknya tentang seorang petinggi agama Islam yang dituduh menistakan agama Kristen dan Katholik dalam dakwahnya. Agama satu melaporkan agama lainnya, begitu pula sebaliknya. Sungguh mengerikan. Apa yang terjadi pada bangsa ini? Seakan semua pihak mengaggungkan egonya masing-masing. Entah apa yang terjadi dengan pola pikir masyarakat kita. Tidakkah semua gesekan ini bisa diselesaikan dengan cara damai?

Isu-isu SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar golongan) yang tersebar di media masa dan media sosial seakan mudah berkembang menjadi virus-virus kebencian yang mengkhawatirkan. Bisa kita ambil salah satu contohya, jika anda membaca sebuah postingan berbau SARA ( bahkah terkadang yang tidak ada sangkut pautnya dengan SARA), lihatlah komentar-komentar dibawahnya. Maka yang ada lihat adalah adu argumen tentang SARA yang sering membuat saya tersenyum miris melihatnya. Semua orang merasa paling benar. Semua orang merasa menjadi malaikat paling sempurna. Gila! Sudah separah itukah egoisme dalam masyarakat kita? Sudah sekronis itukah virus kebencian dalam generasi kita? Di saat bangsa lain sudah berpikir tentang ekspedisi ilmiah ke planet Mars, bangsa kita masih berkutat pada konflik sempit agama. Tidak heran kalau bangsa ini masih kalah bersaing dengan bangsa lain.

Saya juga ingin menyoroti istilah “kafir” yang sepertinya menjadi “tren” saat ini. Begitu mudahnya orang menyebut kafir pada orang lain. Bahkan anak-anak usia belia dengan ringannya menyebut kafir pada teman sebaya mereka yang berbeda agama. Kafir menurut Islam berarti orang yang bukan Islam. Saya jadi teringat dengan sebuah tulisan blog yang saya baca di MojokDotCom yang membahas kontroversi penyebutan kafir. Berdasarkan pengertian kafir tersebut, menyebut orang yang beda agama dengan sebutan kafir memang tidaklah salah. Tapi jika anda menyebut kafir dengan begitu mudahnya kepada orang lain tentu ada sesuatu yang salah dengan nurani anda. Ibarat anda menyebut “orang cacat” secara frontal kepada orang cacat yang kehilangan salah satu bagian tubuhnya. (Ini hanya analogi semata tidak ada maksud untuk menyamakan orang kafir dengan orang cacat).  Orang cacat memang adalah orang cacat. Pernyebutan orang cacat untuk orang yang telah kehilangan salah satu bagian tubuhnya memang  sebuah pernyataan yang benar. Tapi sebegitu tegakah kita mengatakan hal tersebut secara vulgar. Bagaimana kalau orang yang cacat itu sakit hati. Bukankah menyakiti hati orang lain termasuk salah satu dosa dalam agama? Hal demikian juga terjadi bila anda secara frontal menyebut kafir kepada orang yang beda agama. Apakah anda tahu kalau orang yang anda sebut kafir itu sakit hati atau tidak? Bagaimana kalau sakit hati? Malah dalam beberapa kasus bisa berkembang ke arah pem-bully-an. Dimanakah nurani anda? Anda tentu juga punya hati? Anda tentu manusia? Kejujuran memang terkadang menyakitkan tapi agama apapun tentunya tidak akan membenarkan bila anda menyakiti hati orang lain. Memprihatinkan memang. Nurani seakan tertutup oleh egoisme buta.

Saya akui saya hanya seorang warga biasa yang tidak mempunyai kontribusi berarti bagi negara. Saya hanya sedang menggunakan hak saya untuk bebas berpendapat sebagai warga negara.
Apa yang terjadi dengan konflik horizontal yang terjadi dalam masyarakat belakangan ini membuat saya menjadi semakin skeptis dengan agama dan segala kehidupan religius di dalamnya. Tapi di balik semua itu, saya merasa sangat bersyukur dengan prinsip hidup saya yang tidak mau dilabeli agama. Harus saya akui, saya merasa lebih bahagia daripada tahun-tahun sebelumnya. Sampai di titik ini, saya merasa mantap kalau saya tidak perlu norma agama untuk bisa menjadi manusia beradab. Saya tidak terlalu memperdulikan judgement dari orang lain tentang saya. Saya melakukan segala sesuatu berdasarkan nurani saya. Berbuat baik pada siapa saja tanpa perlu memikirkan pahala. Menjauhi segala sesuatu yang buruk dengan akal sehat saya. Saya merasa menjadi manusia sebenarnya dan berada pada titik nyaman kehidupan batiniah saya.

Zero Spiritual Identity, mungkin itulah istilah yang tepat untuk menggambarkan konsep kehidupan spiritual saya. Istilah ini memang istilah baru yang saya buat sendiri tapi makna yang terkandung di dalamnya bisa mewakili konsep kehidupan spiritual saya saat ini. Zero berarti nol atau tidak ada, Spiritual berarti kehidupan spiritual atau spiritualitas, dan Identity berarti  identitas. Jadi, Zero Spiritual Identity  bisa diartikan sebagai ketiadaan identitas spiritual dalam diri seseorang. Yup, itulah saya. Dan saya merasa bahagia dengan pilihan hidup saya ini.

Agama merupakan suatu konsep kehidupan spiritual. Sebagian besar orang mungkin masih butuh agama sebagai pedoman hidup mereka. Tiap agama mengajarkan kebaikan, setidaknya itulah yang saya yakini. Jangan sampai segala kebaikan ini tertutupi oleh sikap egoisme kepentingan golongan. Jangan sampai konsep pedoman hidup ke arah yang lebih baik dalam agama malah berubah menjadi sesuatu yang destruktif karena anda menganggap agama anda yang paling benar, dan yang lain salah. Anda mungkin benar, tapi yang lain belum tentu salah. Anda hanya belum melihat sisi lain dari kehidupan yang dilihat orang lain. Kebenaran tergantung dari perspektif masing-masing. Tapi kebenaran yang paling hakiki ada dalam nurani anda masing-masing. Jangan bohongi nurani anda hanya ingin dianggap paling benar.

Bagaimanapun tulisan ini hanya sekedar pandangan pribadi saya tanpa keinginan untuk menyinggung siapapun. Semoga dunia ini akan mencapai kedamaian paling hakiki. Semoga..  ya semoga saja itu terjadi. Semoga kita menjadi manusia yang lebih baik lagi…

image

Berhubung ide di kepala saya lagi seret, jadinya saya nulis topik yang geje kayak gini. Sebenernya gak geje-geje juga sih. Malah mungkin tulisan ini berguna buat yang baca. Who knows? Saya cuma mau share pengalaman pertama saya bayar pajak. Ya, pajak. Khususnya pajak kendaraan bermotor. Hayo buat yang punya kendaraan, udah bayar pajak belum? Cepetan bayar, nanti kena damprat pemerintah lho hehe…

Jujur, sebenernya saya kurang faham soal perpajakan. Tapi karena kewajiban, ya mau gimana lagi. Masa harus mangkir sih. Atas saran seorang teman yang bernama sist Hevy Aprilia Savitry, yang kebetulan kerja di Kantor Samsat Padalarang, saya pun tergerak untuk bayar pajak motor Honda Beat yang sudah selama satu tahun ini saya tunggangi. Sebenernya saya sudah lama merencanakannya. Tapi berhubung hari-hari biasa saya kerja, akhirnya saya pilih bayar pajaknya hari Sabtu aja.

Sekitar jam 11an saya datang ke kantor Samsat Padalarang yang letaknya di Jalan Raya Cimareme, dekat jembatan tol Cilame. Bingung, itulah kesan pertama saat menginjakan kaki di sana. Sebelumnya saya sempet nyari info langkah-langkah membayar pajak dari internet, tapi kayaknya kenyataannya beda deh. Saya gak tau harus ngapain dulu. Gak mungkin kan nyelonong masuk loket sendiri. Entar dikira orang gila lagi. Saya celingak-celinguk nyari mesin nomor antrian yang biasanya suka nangkring di kantor intansi-intansi  pemerintah. Tapi di sini saya gak menemukannya. Karena ingat pepatah “malu bertanya sesat dimana aja”, saya lalu bertanya pada seorang bapak-bapak di loker tempat pengambilan formulir. Setelah nanya-nanya, saya pun diminta untuk memfotokopi KTP dan STNK terlebih dahulu. Kebetulan ada warung fotokopi di belakang parkiran. Saya langsung meluncur ke sana. Ternyata usaha warung fotokopi di kantor Samsat itu lumayan menjajikan. Yang mau fotokopi lumayan banyak. Abang tukang fotokopi itu sampe kewalahan. Tapi si abang tukang fotokopi ntu masih bisa motokopi sambil dengerin musik and facebook-an. Kebayang update statusnya kayak gimana. “Lagi motokopi nih bro! Lagi, lagi dan lagi… beginilah #BaladaTukangFotokopi hehe.” Gitu kali statusnya. Tapi gak tau ah. Lagian kurang kerjaan banget sampe mikirin status orang.

image

Berkas-berkas sudah difotokopi semua, dikasih map warna biru pula lagi. Lebay juga sih. Wong cuma KTP sama STNK aja, kok mapnya gede amat. Pemborosan kertas. Intansi pemerintah harusnya paperless dong! Tapi isu lingkungan dan perpajakan memang gak bisa dikawinkan. Toh saya kan mau bayar pajak, bukan mau reboisasi hutan. Waduh, udah ah gak nyambung! Semua berkas fotokopiannya seharga Rp 3.000,00. Ebusyet.. tapi saya lupa gak bawa uang receh. Ada juga uang seribu, tapi buat entar bayar parkiran. Terpaksa saya ngutang dulu. Untung si abang tukang fotokopinya mau berbaik hati. Karena takut kantor Samsatnya keburu tutup —kalau hari Sabtu kantor samsatnya cuma setengah hari—, saya langsung buru-buru pergi mendaftarkan diri.

Oke lanjut. Lupakan sejenak tentang warung fotokopi. Yang penting saya inget kalau saya punya hutang. Jangan sampe hutangnya kelupaan! Setelah menyerahkan fotokopi KTP dan STNK, saya lalu dikasih formulir pendaftaran. Karena saya gak bawa pulpen, saya minjem pulpen ke mbak yang jagain loket (makasih ya mbak..). Setelah semua diisi, saya lalu disuruh nyerahin formulir dan berkas-berkas yang sudah difotokopi ke loket sebelahnya. And then, saya pun dapet nomor antrian dan disuruh nunggu buat dipanggil. Setelah nunggu beberapa menit, nomor antrian saya dipanggil. Saya langsung ke depan loket pembayaran dan mendapati teman saya yang bernama sist Hevy itu nyengir. Agak aneh juga ngeliat dia jadi teller, karena biasanya dia kan meler-meler hehe. Peace ya sist…

Jeng.. jeng… jeng… nominal pajaknya akhirnya keluar. Saya harus membayar uang sejumlah Rp 240.000,00. Sesuai ekspektasi memang. Tapi sebenernya saya masih ngarep kurang. Dan sebagai rasa terima kasih saya kepada seorang teman yang harus menghabiskan sisa masa mudanya dibalik jeruji kantor Samsat, saya pun memberinya sebuah tanda jasa berupa uang 1000 rupiah yang tadinya akan saya pakai buat bayar parkiran. Thanks ya sist! Oh ya, traktiran gaji pertamanya ditunggu lho hehe…

Next step, saya disuruh nunggu lagi. Saya ngetwit dulu dan check-in di Foursquare.

“Permisi Bu, orang kece lagi bayar pajak nih hehe. Cc: @HevyAprilia.” Kalau gak salah, begitu bunyi twitnya.

Dalam hitungan menit nama saya kembali dipanggil. Tanpa pake lama,berkas-berkas saya kembali diserahkan. Lalu saya pun pergi melenggang pulang.

Well, ternyata bayar pajak itu gak seribet yang saya pikirkan. Saya pikir bakal serumit bikin SIM atau ngurus SKCK di kepolisian. Pajak dan kepolisian beda kaleee.. Overall, mungkin cuma ngabisin 10 menitan. Dan kalau ditambah sama motokopi, mungkin bisa sampe 20 menitan kurang. Gak terlalu lama juga kan? Cukup buat ngerebus 5 atau 6 mi instan.

image

Kalau udah bayar pajak tuh rasanya lega banget. Plong banget gitu. Ternyata bayar pajak itu gak susah kok. Asal tau prosedurnya aja, dan yang pasti jangan sampe telat jatuh tempo. Nanti bisa kena denda lho. Jangan sampe ya bro…

So, just pay the tax and you will not suck. Smart people is taxable. Don’t ignore your duty, dude! Keep calm and be a good citizen!

Oke. Orang kece bayar pajak, ye!! Hehe….

(Sumber gambar: Google dengan sedikit editan dari Picsart editor)

sumber: VIVAnews


2050, tepat di tahun itu, negeri ini sudah genap berusia seabad lebih 5 tahun. Saat itu, saya sudah renta. Saya mungkin sudah menjadi kakek uzur yang hampir memfosil terbungkus keriput. Dari celoteh anak cucu, saya mendengar berbagai cerita tentang kondisi bangsa. Tentang perubahan dan proses metamorfosis panjang para manusia nusantara. Apakah negeri ini akan semakin maju atau semakin bobrok? Siapakah orang yang paling banyak menghuni negeri ini? Para pemenang atau malah para pecundangkah? Entahlah, saya tidak tahu. Saya tidak tahu apa 40 tahun lagi saya masih hidup di dunia. Saya bahkan tak tahu apa negeri yang saya cintai ini masih ada atau tidak.

Nalar saya langsung terpancing ketika membaca sebuah artikel berjudul “40 Tahun Mendatang, Penduduk Indonesia Naik 2 Kali Lipat” di situs VOA Indonesia tanggal 19 Juli 2012 lalu. Dengan jumlah penduduk sekarang saja yang sudah 237,6 juta jiwa, berbagai permasalahan sudah ruwet memperkeruh berbagai aspek kehidupan bangsa, apalagi kalau 2 kali lipatnya atau sekitar 400 juta lebih. Entah bagaimana negeri ini jadinya. Dengan pertumbuhan penduduk yang mencapai 1,49 persen per tahun, Indonesia menempati posisi kelima sebagai negara terbesar penyumbang pertumbuhan penduduk dunia setelah India, China, Nigeria dan Pakistan. Dan provinsi yang menjadi penyumbang angka pertumbuhan penduduk terbesar di Indonesia adalah Jawa Barat ( 43,053 juta jiwa), provinsi dimana saya lahir dan tinggal sekarang.

Penduduk dunia diramalkan akan menjadi 10 miliar pada tahun 2050 nanti. 10 miliar? Ya, 10 miliar manusia akan menghuni planet mungil yang sudah semakin tua. Lalu, dimanakah posisi Indonesia? Sebagai negara berpenduduk terbesar keempat, laju pertumbuhan penduduk Indonesia jelas sangat diantisipasi dunia. Bisa dibayangkan jumlah miliaran manusia seperti yang telah disebutkan di atas. Jumlahnya semakin menyamai jumlah sel yang membentuk tubuh kita. Kita hidup dalam bumi yang semakin menua. Sumber daya alam semakin langka. Haruskah kita eksodus ke planet lain seperti cerita James Cameron dalam film Avatar-nya?

Mungkin sikap saya terlalu berlebihan, tapi sebagai salah satu generasi muda yang akan menjadi aktor utama masa depan, saya dan jutaan pemuda Indonesia lainnya patut was-was. Program Milenium Development Goals yang selama ini digalang pemerintah dan PBB tidak akan berhasil kalau pertambahan penduduknya tetap stagnan pada angka yang masif. Sejuta masalah yang akan menghadang sudah tidak perlu saya jelaskan lagi. Jutaan warga miskin indonesia akan semakin bertambah. Menurut data BPS tahun 2011, ada sekitar 29,13 juta warga miskin di Indonesia. Tapi banyak sumber lain yang mengeluarkan hasil berbeda. Menurut parameter kemiskinan yang digunakan oleh Asian Development Bank (ADB), seseorang bisa disebut miskin bila berpenghasilan di bawah US$ 1,25 per hari. Sedangkan menurut parameter Bank Dunia yang berpedoman pada metode Purchasing Power Parity (PPP), penduduk miskin adalah mereka yang memiliki pengeluaran per hari U$ 2 atau kurang. Kalau begini kriterianya, maka jumlah penduduk miskin Indonesia bisa lebih besar dari jumlah yang dikeluarkan BPS. Wah, bagaimana ini? Pengangguran, krisis ekonomi, ketahanan pangan, ketersediaan fasilitas pendidikan dan kesehatan serta segudang problema lainnya tidak mungkin terelakan. Program KB yang selama ini menjadi andalan belum menyentuh semua lapisan. Kontrasepsi dan pengendalian reproduksi akan menjadi sesuatu yang tidak berguna bila tidak ada keberlanjutan yang berarti. Dalam Index Negara Gagal (Failed State Index (FSI) 2012 yang dipublikasikan lembaga Fund For Peace (FFP) di Washington DC, Amerika Serikat, Indonesia menempati posisi 63 dari 178 negara. Indonesia dianggap memenuhi kriteria negara-negara dalam bahaya (in danger) menuju negara gagal. Tahun lalu, Indonesia menempati peringkat ke-64 dari 177 negara. Maka dapat diartikan kondisi Indonesia sepanjang satu tahun terakhir dipandang memburuk dibandingkan tahun sebelumnya. Apa benar Indonesia adalah negara gagal? Apakah kita harus pesimis menghadapi semua ini? Apa kita cuma bisa diam saja melihat bangsa ini terseok-seok di tengah peradaban dunia? Tentu saja tidak. Jangan sampai itu terjadi.

sumber: antarafoto.com


Indonesia adalah negara besar. Coba tebak siapa negara Next Eleven selanjutnya. Di tahun 2050 nanti, Indonesia sudah menargetkan diri menjadi lima besar kekuatan ekonomi dunia. PDB indonesia diperkirakan akan menjadi US$ 13,93 triliun dengan pendapatan perkapita mencapai US$ 23.000 per tahunnya. Penduduk kelas menengah menengah Indonesia mengalami peningkatan yang fantastis. Bank Dunia telah memproyeksikan pertumbuhan kelas menengah Indonesia ke depan akan maju pesat bila pendapatan per kapita dipercepat dan dipertahankan dengan asumsi pertumbuhan PDB riil 7,5% per tahun (sumber: inilah.com). Mayoritas lembaga keuangan dunia berduyun-duyun melaporkan perekonomian Indonesia dalam kondisi positif. Menurut survey Global Advisor Wave 29 yang dilakukan Ipsos, Indonesia adalah negara dengan persentase tertinggi dunia dimana penduduknya memilih menjadi lebih kreatif daripada lebih pintar (sumber: GNFI). Indonesia pun masuk dalam jajaran negara yang diminati para pengusaha untuk membuka usaha. Hasil survey Standard Chartered beberapa waktu lalu menyebutkan pengusaha Indonesia adalah yang paling optimis di Asia di tengah gonjang-ganjing ekonomi dunia. Alangkah luar biasanya semua itu bukan? Untuk mencapai cita-cita itu, beberapa asumsi harus bisa tercapai, yaitu pertumbuhan ekonomi riil rata-rata harus 7,62% persen, laju inflasi 4,95% dan pertumbuhan penduduk rata-rata hanya 1,12 % per tahun. Mustahilkah semua itu terjadi? Ini tanggung jawab kita bersama. Peradaban masa depan terus menantang. Dan kita harus konkrit melakukan aksi yang matang.

Pembangunan ekonomi, pertumbuhan penduduk dan pendidikan merupakan aspek penting dalam meningkatkan kualitas penduduk. Pertumbuhan ekonomi bukan cuma soal angka. Pemerintah juga diminta fokus pada upaya pemerataan ekonomi dan redistribusi pendapatan. Data BPS menyebutkan, pendapatan golongan ekonomi bawah hanya meningkat 2,75%. Sedangkan golongan menengah tumbuh 6,62%. Jangan sampai pertumbuhan ekonomi hanya dinikmati oleh golongan kaya saja. Seluruh warga Indonesia harus merasakannya pula. Kita tidak bisa terus dalam paradigma pembangunan ekonomi yang berbasis eksploitasi sumber daya alam. Kita juga harus tengok sumber daya manusianya. Dengan pertumbuhan penduduk yang sebegitu tingginya, Indeks Pembangunan Manusia Indonesia hanya menempati urutan ke 124 dari 187 negara. Ironis memang. Menurut United Nations Development Program (UNDP), nilai IPM Indonesia tahun 2011 hanya 0,617. Peringkat ini turun dari peringkat 108 di tahun 2010 lalu. Indonesia bahkan tertinggal dari negara tetangga, seperti Singapura dengan nilai 0,866, Brunei dengan nilai 0,838, Malaysia (0,761), Thailand (0,682,) dan Filipina (0,644). Indonesia hanya unggul dari Vietnam yang memiliki nilai IPM 0,593, Laos dengan nilai IPM 0,524, Kamboja dengan nilai IPM 0,523 dan Myanmar dengan nilai IPM 0,483. Harus diakui kalau sistem pendidikan kita masih bersifat pragmatis. Anggaran pendidikan sebesar 20% seperti yang diamanatkan konstitusi tampaknya masih belum mampu mengenjot nilai IPM secara drastis.

Ibarat kita punya segudang pisau tumpul untuk memotong daging. Sebanyak apapun pisau yang kita punya, daging tidak akan terpotong dengan sempurna karena pisau itu tumpul. Pisau itu harus diasah terlebih dahulu. Dan agar pisau bisa diasah, kita butuh kemauan, tenaga dan tentunya media pengasah. Begitu pun dalam hal kependudukan. Sebanyak apapun penduduk suatu bangsa, tak akan berarti apa-apa bila kualitasnya semenjana. Tapi bayangkan kalau penduduk yang berlimpah itu berkualitas semua, betapa majunya peradaban bangsa tersebut. Tentunya untuk mewujudkan semua itu diperlukan modal yang besar. Tapi dampak positif yang diberikan pun tidak kalah besarnya.

sumber: depsos.go.id


Sebagai salah seorang tunas bangsa, saya sangat mendukung penerapan pendidikan berbasis kualitas penduduk. Ratusan juta penduduk Indonesia itu tidak sama. Setiap orang memiliki bakat dan keahlian yang berbeda. Apa jadinya bila setiap bakat dan keahlian itu diasah dan dimaksimalkan dalam kehidupan nyata. Kualitas penduduk Indonesia jelas akan semakin diakui dunia. Dengan meningkatnya kualitas penduduk, maka berbagai aspek masalah kependudukan bisa diantisipasi sesegera mungkin, seperti ketahanan pangan, kesehatan, kesejahteraan dan gejolak krisis ekonomi. Apabila tingkat pendidikan penduduk semakin tinggi, maka kesadaran untuk melaksanakan KB pun akan semakin tinggi. Ledakan populasi bisa dicegah. Masa depan bangsa jadi terarah.

Rasanya kita tak perlu jauh-jauh eksodus ke planet Pandora. Indonesia adalah kotak pandora yang tidak ternilai harganya. Negara ini baru saja memasuki momentum bagus. Jangan sampai ledakan penduduk meleburkan semua kesempatan emas itu.

Masih ada 38 tahun lagi untuk membenahi negeri ini. Omong kosong tidak akan membuat negeri ini maju. Generasi muda akan selalu berada di garda paling depan peradaban negeri. Dengan optimisme tinggi sekaligus segudang aksi yang terkoodinir secara rapi dan presisi, maka tidaklah mustahil kemajuan negeri ini akan melesat menembus ekspektasi. Masa depan bangsa yang cerah siap untuk dijajaki, 2050 telah menanti dengan harapan pasti.

Sumber:
http://www.voaindonesia.com
http://www.vivanews.com
http://www.kompas.com
http://www.depsos.go.id
http://www.bps.go.id
http://www.goodnewsfromindonesia.org
http://www.inilah.com
http://www.wikipedia.org
http://www.antara.com

image

Absurd dan absurditas, apa yang ada di benak kamu begitu mendengar dua kata ajaib itu? Absurditas bisa diartikan sebagai keanehan, keganjilan atau ketidaknormalan yang berbeda dari pandangan kebanyakan orang. Absurditas adalah padanan lain dari abnormalitas. Banyak orang yang menganggap keabsurditasan sebagai suatu bentuk penentangan terhadap norma yang berlaku di masyarakat. Maka jangan salah bila banyak pemikiran absurd dianggap sebagai suatu bentuk pemberontakan yang mengganggu stabilitas fatwa “kenormalan”. Padahal keabsurditasan adalah sebuah identitas. Absurd itu beda. Dan setiap orang itu beda.

Banyak tokoh dunia yang dikenal karena pemikiran absurd mereka. Siapa yang tak mengenal Albert Einstein yang menggemparkan dunia dengan teori relatifitasnya. Nicolaus Corpenicus sempat dianggap aneh oleh gereja Katholik Roma karena pandangan Heliosentrisnya. Gusdur, Abraham Lincoln dan Mahatma Gandhi pun tak luput dari label miring masyarakat yang menganggap mereka gila dengan pendapat pendapatnya. Charlie Chaplin dan Mr. Bean mungkin tak akan dikenal kalau penampilan mereka di depan publik biasa-biasa saja. Lady Gaga dan Madonna mungkin cuma wanita biasa kalau tanpa embel-embel kontroversi penampilan nyentrik mereka. So, what the shit is absurdity?

Bagi mereka yang bangga dengan kenormalan, mereka akan dengan mudah menjudge siapa saja yang berbeda faham dengan mereka. Apakah kenormalan itu layak diagungkan? Apakah Tuhan benar-benar menciptakan kenormalan dengan yang senormal-normal hingga menyangsikan keabsurditasan? Saya kira tidak. Jika kita menengok cerita para nabi, maka kita pun tak akan bisa terhindar dari keabsurditasan. Ajakan mereka untuk mengarahkan manusia pada jalan kebaikan sering dianggap absurd oleh masyarakat yang hidup di zamannya. Nabi Ibrahim As. sempat dianggap pemberontak oleh kaumnya karena menghancurkan berhala. Nabi Isa As. dianggap aneh karena bisa dilahirkan ke dunia tanpa kehadiran seorang bapak. Begitu pun dengan Nabi Muhammad Saw. Beliau sempat dianggap gila karena melakukan Isra Mi’raj yang menurut sebagian besar orang sebagai suatu kemustahilan. Bukankah semua itu absurd? Bukankah semua itu bukti keabsurditasan Tuhan yang telah dilimpahkan pada umat-Nya. Semua keabsurditasan itu hanya bisa dijawab dengan keimanan. Semua absurditas itu akan menimbulkan konflik yang berkepanjangan bila tidak dicerna dengan hati lapang. Dan apabila kita masih dengan sombongnya menghakimi pemikiran absurd seseorang, apakah kita tak sadar kalau kita juga berasal dari keabsurditasan?

Tak akan ada kenormalan bila tak ada keabsurditasan. Normal bermula dari absurd dan absurd adalah cikal bakal kenormalan. Keabsurditasan adalah suatu komoditas yang ada dalam diri setiap orang. Absurditas adalah komoditas individu untuk berkarya secara berbeda. Manusia itu sungguhlah absurd karena Tuhan juga menciptakan mereka dalam keadaan absurd. So, are you still thinking that you so absolutely normal? Please don’t intimidate me cause God makes us absurd, baby!

Jarum jam hampir menunjukkan pukul 6 sore, tapi adzan Magrib belum kunjung berkumandang. Boro-boro mau adzan, wong pengeras suara di masjidnya aja gak hidup karena listrik mati.

Akhir-akhir ini, PLN emang lagi rajin-rajinnya matiin listrik di kampung kami. Sebenernya udah dari dulu sih. Tapi entah kenapa kok di bulan puasa malah makin menjadi-jadi. Dalam seminggu, bisa 4 sampe 6 kali. Durasinya pun bisa berjam-jam, bahkan bisa sampe seharian atau semaleman. Nggak asyik banget deh! Mentang-mentang puasa lalu layanan istrik pun bisa puasa seenaknya. Kalo kita yang puasa sih, imsak sama bukanya jelas. Kalo PLN yang puasa, imsak sama bukanya gak tau waktu. Keseringan lagi! Ngebetein!

Kepada Bapak Ibu petinggi PLN, tolong berikan pelayanan yang mumpuni. Kami selalu bayar tagihan listrik tepat waktu kok. Dan kami rasa, kami pun sudah cukup berhemat memakai listrik selama ini. Kami gak punya AC, pemanas air atau televisi LCD 32 inchi. Kami cuma pake angin sepoi-sepoi, tungku kayu bakar buat manasin air sama televisi jadul yang dibeli pas zaman presiden Pak BJ Habibie. Nggak ada peralatan elektronik keren di rumah kami. Nyuci baju masih sering di batu kali. Kadang-kadang nyetrika pun masih suka pake setrika arang peninggalan aki nini.

Saya harap PLN masih menjadi Perusahaan Listrik Negara, bukan Perusahaan Listrik Nelangsa. PLN tidaklah kami benci. Kami cuma ingin PLN mengerti. Kami butuh listrik. Listrik membuat ibu bisa menanak nasi. Listrik membuat bapa bisa nonton sinetron lagi (lho kok?)

Saya berharap di bulan puasa ini PLN mau berbesar hati. Jangan keseringan puasanya. Jangan pula bolong-bolong pelayanannya. Cepatlah berbenah diri. Agar di malam takbiran nanti, kami gak perlu obor buat keliling kampung mengumandangkan takbir Ilahi.

Mulai was-was hati ini. Lampu kamar mulai meredup kembali. Saya harus cepat-cepat mengakhiri tulisan ini sebelum koneksi internet keburu oleng karena listrik mati (lagi).