Archive for the ‘Inspiration’ Category

Where do you live, Rosmen? I live in a beautiful village that there’re a rock mountain, train railway, gardens and a part curiousity of eden. Where were you born, Rosmen? Look in to Google Maps, here I was born baby!

image

Kampung Cilio, Desa Tagogapu, Kec. Padalarang, Bandung Barat

Hari ini adalah hari pertama libur Lebaran dan pagi ini adalah saat yang pas buat jalan-jalan kecil mencari udara segar. Tapi jalan-jalannya gak perlu jauh-jauh. Cukup ke belakang rumah aja. Di sini saya bisa menikmakti suasana asri kebun-kebun tetangga, romantisme rel kereta, pepohonan dan sebuah gunung karang tempat monyet-monyet bercengkrama. Kampung Cilio, itulah tempat tinggal saya. Saya akui saya jarang keluar rumah dan melebur dalam aktifitas bertetangga. Bukannya saya anti-sosial, tapi saya melakukan aktifitas luar ruangan secukupnya. Dan jalan-jalan pagi ini adalah satu-satunya kesempatan saya untuk menikmati harmonisme kampung dari sudut pandang berbeda.

image

image

Rel Kereta Api Padalarang-Tagogapu

Saya tidak percaya sudah 21 tahun hidup di salah satu sudut bumi ini. Di sinilah saya lahir dan tumbuh menyempurnakan diri menjadi makhluk sapiens. 80 persen kenangan hidup saya terpatri di sini. Leluhur saya beranak pinak di tempat ini dan mungkin saya juga akan melanjutkannya suatu hari nanti. Meski terkadang saya merasa terasing di habitat saya sendiri, tapi bagaimanapun saya adalah salah satu bagian kampung ini.

Saya patut beryukur tinggal di sini. Pemukiman penduduk belumlah terlalu padat dan kualitas udara pun masih di atas rata-rata. Gak ada polusi berarti, paling cuma suara bising mobil dan kereta api. Hmm… rasanya sayang kalau menikmati suasana pemandangan kampung tanpa berbagi lewat fotografi. Alam kampung ini masih cukup perawan untuk digagahi lensa kamera. So, I take my camera phone. Shoot the landscape on. Put my instagram to get a little bit sensation. And here is it! Where am I, baby!

image

image

image

Alam Kampung di pagi hari

Saya menyesal telah melewatkan banyak hal yang terjadi di kampung ini. Banyak teman-teman saya yang sudah melanglang buana pergi ke daerah lain. Banyak pula perubahan fisik kampung yang nggak saya sadari. Oh man, kemana aja saya selama ini? Saya terlalu banyak menyepi diri di tempat lain sehingga saya melupakan plasma nuftah saya sendiri. Saya terlalu lama berkutat dalam egosentris pribadi sehingga saya lupa untuk bersosialiasi. Mungkin kali ini saya bisa bersosialisasi. Tapi saya baru bisa bersosialisasi dengan pepohonan dan gunung yang selalu mengancam dengan bahaya erosi.

How I must do now? I walked miles away and don’t know how I get back. The trees and the sun rise over the ground and I gotta learn to understand the land that I step on.

image

image

image

image

My Instagram Pics

Lewat foto-foto sisi alam kampung yang saya abadikan di sini, saya mengerti kalau saya harus lebih banyak bergaul dengan alam pagi. Melihat mentari terbit, mendengar kicauan burung yang bernyanyi dan menapaki embun dingin yang merona di balik rerumputan adalah momen yang sungguh extra ordinary. Saya seperti tengah melukis di atas kanvas saya pribadi. Sungguh menentramkan mata, telinga dan hati. Pagi seperti inilah yang saya cari. Gak ada yang bisa nandingin deh!

Jalan-jalan pagi itu memang sangat menyenangkan sekali. Apalagi kalau jalannya sambil telanjang kaki. Embun dingin meresap ke sela-sela kaki. Rumput dan bebatuan memijati dengan sepenuh hati. Wah, bener-bener menyehatkan! Mimpi buruk semalam jadi terlupakan. Segala stres sejenak hilang dan saya pun melenggang dengan hati yang lapang.

image

image

image

Pepohonan di kaki gunung

Kampung ini adalah tempat saya melahirkan sejuta inspirasi. Kampung ini tak akan meninggalkan saya pergi (Ya, iyalah! Kampung ini gak bisa jalan kalee..). Eksistensi saya masih terjaga di sini. Pengakuan alam pagi ini sungguh menyegarkan iman. Oh Tuhan, terima kasih Kau izinkan saya tinggal di sini! I’m still here. I love my beautifulville and I bet to always love it. Cilio is my beautiful country! Yeah, I’m living here buddy!

image

image

image

image

Alam perawan kampungku

Jalan pagi pun berakhir dengan semangat yang membumi. Saya telah puas berorgasme dengan udara pagi. Matahari pun sudah tak malu-malu lagi mengintip terang-terangan dari balik awan. Hari-hari saya bersama kampung cantik ini akan saya lanjutkan. My beautifulville is just my beautifulville! I’m gonna stay here! Here after!

image

Pemukiman penduduk kampung

Good morning!

Posted from WordPress for Android

Iklan

image

Pernahkah kamu merasa jadi orang paling bodoh di dunia? Bengong gak jelas, gak ada inspirasi. Enggak tau apa yang harus dilakuin. Mungkin iItulah sebabnya saya jadi jarang ngeblog akhir-akhir ini. Saya gak tau apa yang harus saya tulis. Saya gak tau harus berkarya apa. Semua terkungkung begitu aja. Otak saya beku seketika seperti terkena hipotermia luar biasa. Dingin menggila. North pole stuck on my head. It froze and really sucks!

Inspirasi. Semua bermula pada inspirasi. Dan inspirasi itu susah-susah gampang buat dicari. Nyari inspirasi itu kayak nyari rizki. Seringkali susahnya minta ampun, tapi ada kalanya nomplok gitu aja kaya tahi ayam tetangga yang tiba-tiba nangkring di teras rumah. Ibarat tahi ayam yang kadang-kadang cair kadang-kadang padet, begitu pun dengan inspirasi. Kadang-kadang bisa langsung dicairin lewat aksi, tapi tak jarang mandeg semandeg-mandegnya kayak terasi basi.

image

Tahi ayam menjijikan, itu sudah pasti. Bau dan kotor? Absolutely! Tapi tahi ayam adalah contoh menakjubkan dari proses pencernaan makhluk hidup kebanyakan. Dia polusi, tapi bisa menjadi pupuk yang memberi benefit bagi tanaman. Dia residu, sebagaimana residu, tentu sangat beresiko bila dia gak dikeluarin. Coba rasain aja kalo kita gak BAB selama beberapa hari. Bega kan? Inspirasi bila gak dikeluarin bisa menimbulkan beberapa efek samping yang juga membahayakan seperti kegundahan hati dan degredasi aktualisasi diri. Wuiiiih…. lebaaaay!

Tahi ayam sama dengan inspirasi. Omong kosong macam apa ini? Ya, ya, ya inspirasi emang bukan tahi ayam. Tapi kalo disamain dikit gak apa-apa kan! Maklum inspirasinya lagi seret jadi yang keluarnya tahi ayam hehe.

Inspirasi itu memang complicated sekali. Gak gampang diprediksi. Tapi kalo cuman diem aja, ya kapan dapetnya. I gotta move on! It will not change till I take a chance. Bodo amat kalo tulisan ini gak jelas sama sekali. Saya cuma numpang ngeluarin e’e yang bernama inspirasi. Kalo mual dan jijik dengan tulisan ini, silakan disikat dan diguyur dengan air biar bersih (apa maksudnya sih?). Okey, that’s enough! Let’s seek inspiration and inspire the world!

Prrreeeeeeet………

“Revolusi sudah di tangan kami sekarang. Dan kami memerintahkan Bung! Kalau Bung tidak memulai revolusi malam ini, maka kami akan…” teriak Soekarni, salah seorang tokoh pemuda pada Bung Karno.

“Akan apa?” teriak Bung Karno sambil beranjak dari kursinya. Semua terkejut, seisi ruangan mendadak sunyi.

Bung Karno kembali duduk. Setelah tenang, ia kembali berbicara, “Yang penting dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang tepat. Di Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan pada tanggal 17.”

Soekarni menyela, “Mengapa justru diambil tanggal 17, mengapa tidak sekarang saja atau tanggal 16?”

Dengan tenang, Bung Karno pun menjawab, “Saya adalah seorang yang percaya mistik. Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan bagi saya. Akan tetapi, saya merasakan di dalam kalbu bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci.

Pertama-tama kita sedang berada dalam Ramadhan, waktu kita semua berpuasa. Ini berarti saat yang paling suci bagi kita. Tanggal 17 besok hari Jumat. Hari Jumat itu Jumat Legi. Jumat yang berbahagia, Jumat yang suci. Alquran diturunkan pada tanggal 17. Orang Islam sembahyang 17 rakaat. Oleh karena itu, angka 17 bukanlah sesuatu yang dibuat oleh manusia.”

Begitulah kutipan perdebatan sengit Soekarni dengan Soekarno sehari sebelum proklamasi 66 tahun lalu (Lasmidjah Hardi 1984:61, dengan beberapa perubahan). Soekarno telah menentukan tanggal 17 Agustus 1945 sebagai hari proklamasi atas dasar pertimbangan religius dan kematangan yang murni.

Dirgahayu negeriku! Aku akan selalu berusaha menjaga kesucianmu agar selalu murni!

Aku adalah Rambutku

Posted: 10 Juni 2011 in Inspiration

Whenever I dress cool, my parents put up a fight
And if I’m hotshot, mom will cut hair at night
In the morning I’m sure of my identity
I scream mom and dad why can’t I be who I wanna be? To be…..

Ngedenger lirik lagu Hair yang dinyanyiin Lady Gaga di atas, aku jadi teringat masa kecilku dulu. Waktu aku masih kelas 4 SD, aku sempet dimarahin sama enyak babeh karena motong rambut sendiri. Dengan modal nekat, aku potong zigzag poni polepku. Maksudnya sih pengen kayak tokoh kartun Jepang yang keren-keren itu, tapi apa daya, hasilnya malah ancur. Karena nggak enak dilihat, akhirnya babeh pun terpaksa memangkas habis rambutku!

Rambut adalah salah satu atribut tubuh manusia. Rambut nggak punya sistem syaraf jadi kalau dipotong nggak akan sakit (kecuali kalau dijambak hehe). Rambut bisa dipake jadi alat identifikasi karena setiap rambut manusia itu memiliki struktur DNA yang berbeda. Inilah yang menyebabkan karakteristik dan warna rambut setiap orang berbeda. Ada yang lurus, keriting, ikal, gimbal dan lain-lain. Ada yang hitam, cokelat, pirang dan bahkan merah. Asal jangan putih aja. Kalau putih berarti ubanan donk!

Siapapun pengen punya rambut oke. Salah satu caranya adalah dengan gonta-ganti model gaya rambut. Model gaya rambut selalu berubah setiap tahunnya dan terkadang gaya rambut yang udah jadul pun bisa happening lagi. Nggak ada salahnya mencoba gaya rambut baru. Siapa tau dengan gaya rambut baru kamu bisa dapet kecengan baru.

Terkadang banyak orang yang nggak puas dengan kondisi rambutnya, terutama kaum hawa. Nggak sedikit yang memilih cara instan untuk memperbaiki kondisi rambutnya. Entah itu dengan dicatok, direbonding, pake hair extension atau wig. Mau pilih yang manapun, menurutku sah-sah aja. Kita bebas bereksperimen dengan rambut yang ada di kepala kita. Asal jangan sampe merusaknya aja. Percuma kan kalo rambutnya kece tapi kesehatannya membleh.

Bersyukurlah kita mempunyai rambut. Sejelek apapun rambutku, aku akan tetap mensyukurinya. Apapun model rambutku, aku akan tetap pede aja. Aku adalah rambutku. Akan ktunjukan identitasku dengan rambutku. Dan seperti yang Lady Gaga bilang, hari ini aku bersumpah, aku akan mati dan hidup sebebas rambutku.

I’ve had enough. This is my prayer.
That I’ll die living just as free as my hair.

I’m the spirit of my hair. It’s all the glory that I bare.
I am my hair.

follow me on
Twitter: http://www.twitter.com/RosmenStation
Facebook: http://www.facebook.com/rosmen.rosmansyah
MySpace: http://www.myspace.com/rosmenstation
also visit my other personal blog at:
http://www.rosmenstation.blogspot.com

Filosofi “Moro” Layangan

Posted: 25 April 2011 in Inspiration

Musim kemarau sudah tiba. Adik saya dan anak-anak kampung lainnya mulai kembali dibaptis menjadi anak layangan –atau dalam istilah gaulnya: Alay. Mereka kembali berpanas-panas ria. Bahkan saking seringnya main layangan, saya sampai enggak bisa mengenali adik saya lagi. Kulitnya hitam legam kayak terasi gosong karena nonstop dijemur matahari.

Ya, itulah akibatnya kalau demam layangan sudah datang menerjang. Layangan bermacam motif dan warna berseliweran di langit kampung. Anak-anak standby di lapang sambil nyengir kayak ikan teri yang lagi diasinin. Kalau ada layangan yang kalah, buru-buru mereka berlarian mengejarnya (atau dalam istilah Sunda disebut “moro”). Mereka saling berebut. Berlomba-lomba memastikan layangan keok itu jatuh ke tangan mereka. Layangan itu akan selalu dikejar meski harus ke gunung, sawah, jalan raya, nyangkut di pohon kelapa atau numpang nangkring di genteng tetangga. Dan kalau layangannya berhasil didapat, senengnya bukan main. Kayak nemuin harta karun bernilai ratusan juta rupiah. Sebanding dapet hadiah undian mobiL BMW seharga Rp. 1 Miliar (lebaay…). Pokoknya seneng banget deh!

Jika ditilik dalam kacamata logika, sebenernya moro layangan ini sangat enggak masuk akal banget. Kok mau-maunya sih bocah-bocah itu capek-capek ngejar layangan? Dasar bocah, kenapa enggak beli yang baru aja? Toh harganya juga enggak seberapa. Paling cuma gope atau yang besaran dikit paling Rp. 1.000, 00 atau Rp. 2.000, 00. Belum lagi kondisinya juga jauh lebih bagus. Enggak kayak layangan bekas yang udah lecek, bahkan banyak yang udah sobek dan ditambal –kalaupun masih bagus, ya pasti masih bagusan yang baru lah! Tapi kenapa bocah-bocah itu tetep ngotot memilih moro ketimbang beli? Kenapa layangan hasil buruan itu begitu berarti?

Kepuasan. Itulah jawabannya. Tak peduli capek, terjatuh, layangannya jelek dan bla bla bla, tetep aja layangan itu diburu juga. Ada satu kepuasan tersendiri ketika berhasil dapet layangan buruan. Kepuasan karena layangan itu diperoleh dari hasil kerja keras sendiri. Bukan karena nyuri atau minta dari orang tua.

Ya, apapun itu, kalau dikerjain sendiri dengan bersusah payah jelas berbeda dengan ngedapetin sesuatu secara instan. It’s a very different thing. Kerja keras membuat hasil yang kita dapatkan menjadi jauh lebih memuaskan. Kerja keras membuat kita faham akan pengorbanan (dalem nih!).

Pasti beda banget rasanya dapet nilai bagus karena nyontek sama dapet nilai jelek tapi hasil belajar sendiri (pengalaman ye?). Kerja keras merupakan proses perjuangan. Dan dengan nakalnya, bocah-bocah alay itu membuat proses ini menjadi menyenangkan. Walaupun hasilnya jauh dari ekspetasi atau nihil sekalipun, toh mereka masih hepi-hepi aja.

Kebanyakan orang, termasuk saya, menganggap kerja keras sebagai sesuatu yang melelahkan. Ya, iyalah! Wong namanya kerja ya pasti melelahkan. Apalagi ada embel-embel “keras”-nya, dijamin lelahnya bakal berkali-kali lipat. Well, tapi dibalik rasa lelah itu pasti ada nilai lebihnya. There’s more a little bit value that we can get in hardwork.

Keringat sendiri adalah obat mujarab untuk mencapai kepuasan pribadi. Ingatlah, tak ada jalan pintas -yang bener-bener pintas- dalam kehidupan ini. Semua membutuhkan proses dan terkadang dalam proses tersebut banyak rintangan yang menghadang seperti kerikil terjal yang terinjak saat moro layangan.

Moro layangan mungkin cuma “mainan” bocah-bocah ingusan. Moro layangan mungkin cuma sekedar aktifitas serampangan pengisi waktu luang. Tapi moro layangan bisa dijadikan sebagai cerminan tentang makna kerja keras dan kepuasan. Kepuasan hakiki yang tentunya hanya bisa diukur oleh hati.

Ya, pada akhirnya saya jadi tergoda untuk tercebur kembali ke masa kanak-kanak. Daripada moro kembang desa yang tak tahu kapan dapetnya, mending moro layangan dulu ah! Hehe… 🙂

follow me on
Twitter: http://www.twitter.com/RosmenStation
Facebook: http://www.facebook.com/rosmen.rosmansyah
MySpace: http://www.myspace.com/rosmenstation
and also visit my other personal blog at: http://www.rosmenstation.blogspot.com

Menjadi Fitoplankton

Posted: 10 Januari 2011 in Inspiration

Kalau ditanya makhluk hidup apa yang paling kecil di dunia, pasti saya akan menyebut fitoplankton sebagai salah satunya. Entah kenapa makhluk mikroskopis itu mendadak nyangkut di kepala saya.

Fitoplankton berasal dari bahasa Yunani, “phyton” dan “plankton”. Phyton berarti tumbuhan dan plankton berarti pengembara. Jadi, fitoplankton dapat diartikan sebagai tumbuhan pengembara.

Sesuai namanya, fitoplankton memang merupakan makhluk pengembara yang hidup mengambang di air. Berbeda dengan zooplankton (zoo : hewan) yang bersifat heterotrof atau tidak bisa membuat makanan sendiri, fitoplankton merupakan makhluk autotrof yang bisa membuat makanannya sendiri.

Kebanyakan fitoplankton adalah alga bersel satu semacam Clamydomonas, Chlorella, Volvox dan sebagainya. Perlu diketahui, alga dipercaya sebagai makhluk hidup pertama yang menghuni planet ini. Hal ini dikarenakan alga merupakan makhluk hidup tingkat terendah tetapi sudah memiliki klorofil. Dengan adanya klorofil, alga mampu melakukan proses fotosintesis sehingga ia bisa mensintesis zat anorganik menjadi bahan makanannya sendiri. Para pendukung teori evolusi percaya kalau alga adalah nenek moyang tunggal seluruh makhluk hidup yang ada di bumi. Wah, kalau gitu termasuk manusia juga dong!

Bener atau enggaknya, saya enggak tahu karena saya bukan pendukung teori Darwinisme yang sangat sekuler itu. Tetapi meski begitu, alga atau dalam hal ini fitoplankton tetaplah komponen alam yang tak mungkin bisa tergantikan.

Sebagai produsen alami tingkat pertama dalam rantai makanan, peran fitoplankton jelas sangat krusial bagi ekosistem, terutama ekosistem perairan, baik itu ekositem air tawar ataupun air laut. Jika populasi fitoplankton berkurang, maka kelangsungan hidup makhluk air lainnya akan ikut terganggu. Jika kehidupan di air terganggu, maka akan berimbas pula pada kehidupan di darat. Keseimbangan ekosistem pun akan rumpang.

Fitoplankton memiliki banyak sekali manfaat. Beberapa jenis fitoplankton bisa dimanfaatkan sebagai bahan makanan dan obat-obatan, contohnya Chlorella. Selain itu karena keberadaannya yang dapat mempengaruhi keadaan sifat fisik dan kimia air seperti kadar O2, C02, pH dan suhu, fitoplankton pun dipercaya dapat mengurangi emisi gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global. Wow, keren banget kan?

Ya, makhluk super mini ini memang juara banget. Saya jadi ingin bertransformasi menjadi fitoplankton.

Meskipun ultra minor –bahkan sering dianggap tak ada, fitoplankton dapat hidup mandiri dengan otoritasnya sendiri. Ia tak pernah minta makan sama makhluk hidup lain. Ia hidup bebas di alam dengan mengikuti arus air. Tak ada yang bisa menjeratnya karena ia tak bisa terlihat secara kasat mata. Tak ada yang bisa mengusiknya karena ia tak bisa disentuh ataupun diraba.

Walaupun ia kecil dan terabaikan, tapi ia memiliki kontribusi berharga bagi dunia yang ditinggalinya. Walaupun dianggap tak berharga, tapi ia mempunyai andil besar bagi makhluk hidup di sekitarnya.

Lalu, bagaimana dengan kita? Manusia yang notabenenya makhluk yang jauh lebih sempurna. Kontribusi apa yang sudah kita berikan bagi dunia. Tidak, bagi sesama dulu saja. Tidak-tidak, minimal bagi diri kita. Sudah cukup “besar”-kah kita mendefinisikan makna esensi diri yang sesungguhnya.

Bagi kita, ukuran adalah segalanya. Kita selalu ingin jadi orang besar dan kaya. Oke, itu sah-sah saja karena saya juga sama. Tapi bisakah kita mendayagunakan “kebesaran” kita untuk hal bermakna. Well, sebelum berkhayal jadi orang besar, saya mau berkhayal jadi fitoplankton dulu aja. Ia kecil mungil tapi jauh lebih bermakna.

follow me on
Twitter: http://www.twitter.com/RosmenStation
Facebook: http://www.facebook.com/rosmen.rosmansyah
MySpace: http://www.myspace.com/rosmenstation
also visit my other personal blog at:
http://www.rosmenstation.blogspot.com

“Ih, gue aneh banget deh!” ucap saya ketika melihat foto diri di album tahunan SMA yang sudah lama tidak saya buka. Berbagai kenangan masa SMA segera menggeliat di kepala. Kumpul bareng temen, pacaran, seru-seruan sampai ngelakuin berbagai kenakalan, semuanya begitu ngangenin. Rasanya seperti baru terjadi kemarin saja. Padahal, sudah hampir 2 tahun saya lulus SMA.

Masa remaja memang sungguh berkesan. Masa remaja merupakan fase transisi dalam hidup manusia. Pencarian jati diri, cinta, seksualitas, persahabatan hingga perdebatan dengan keluarga dan lingkungan akan selalu menjadi konflik yang setia mewarnai. Ketika kita mulai mengalami perubahan secara hormonal, berbagai problema baru akan mulai bermunculan. Egoisme memuncak dan eksistensi diri menjadi hal yang patut dipertanyakan.

Teenage dreams in a teenage circus

            Running around like a clown on purpose

            Who gives a damn about the family you come from?

            No giving up when you’re young and you want some

 

Seperti petikan lagu “We Are Golden“ yang sempat dipopulerkan Mika di atas, masa remaja itu bagaikan sebuah pertunjukan sirkus. Begitu menakjubkan sekaligus mencengangkan. Terkadang lucu dan menyenangkan, tapi terkadang pula ngeri dan mengecewakan. Semuanya dikemas sedemikian rupa dalam sebuah dekorasi penuh warna yang dinamakan sirkus remaja.

I feel the adrenaline moving through my veins

Spotlight on me and I’m ready to break

            I’m like a performer, the dancefloor is my stage

            Better be ready, hope that you feel the same

 

            All eyes on me, in the center of the ring (Just like a Circus)

            When I crack that whip, everybody gonna trip (Just like a Circus)

            Don’t stand there watching me, follow me, show me what you can do

            Everybody let go, we can make a dancefloor (Just like a Circus)

 

            Lagu Circus Britney Spears di atas bisa sedikit menggambarkan penganalogian pertunjukan sirkus dengan gemerlapnya dunia remaja. Remaja sering kali ingin menunjukan diri. Mereka ingin dilihat layaknya bintang panggung. Mereka ingin dipuja, dipuji dan diikuti layaknya selebriti. Remaja merupakan sosok dinamis yang pergerakannya selalu meninggalkan kesan. Labilitas emosi mereka bisa dijadikan senjata ampuh untuk mengaktualisasi diri atau malah menjadi boomerang bagi diri mereka sendiri. Narkoba, seks bebas dan kekerasan bisa menggoda kapan saja. Di sinilah mereka diberi pilihan, mau mencobanya atau tidak. Ya, karena mencoba selalu ada dalam setiap kamus remaja.

Kehidupan remaja memang selalu memberikan sejuta inspirasi. Tak terhitung berapa banyaknya karya yang diilhami oleh kehidupan remaja. Sastra, film, musik dan berbagai karya seni lainnya dibanjiri oleh problematika manusia usia belia ini. Teenlit dan Chicklit menjadi bacaan populer anak muda. Novel ringan yang bertutur tentang kehidupan remaja ini hampir selalu laris manis disantap pasar. Pun begitu dengan dunia perfilman. Film Gita Cinta dari SMA (1979) yang dirilis beberapa dekade lalu tema ceritanya mungkin hampir sama dengan film Ada Apa dengan Cinta yang dirilis di tahun 2001. Tapi keduanya berhasil mendulang sukses yang luar biasa di ranah perfilman nasional. Serupa dengan film, sinetron remaja yang notabenenya sering mendapat kritikan masyarakat pun hampir selalu mendapat rating yang relatif cukup bagus.

Gossip Girl, Beverly Hills 90120 dan Glee adalah serial TV Amerika yang tengah digandrungi remaja saat ini. Setiap episodenya selalu dinanti, para bintangnya diidolai, bahkan serialnya pun diperpanjang dalam beberapa musim. Sungguh fantastis, padahal semuanya menyajikan tema cerita yang hampir sama, yaitu tentang kehidupan remaja.

Dari ranah musik, dunia selalu disesaki oleh para penyanyi remaja di setiap dekadenya. Di dekade ‘70 sampai ‘80-an ada The King of Pop, Michael Jackson, di dekade ‘90-an ada Britney Spears dan sekarang fenomena Justin Bieber-lah yang mulai menggema. Lagu-lagu remaja hampir selalu ada di jajaran teratas tangga lagu dunia. Semua terhipnotis oleh alunan iramanya. Tak bisa dipungkiri, musik remaja memang sungguh menggoda.

Panggung sirkus remaja adalah wahana inspirasi tanpa batas. Setiap sisinya selalu menarik untuk dikisahkan dan setiap dinamikanya selalu menarik untuk dikaryakan. Harus diakui, segala hal yang menyangkut dunia remaja memang tak pernah membosankan. Seklise apapun tema yang ditawarkan tidaklah masalah selama masih relevan untuk bisa dinikmati khalayak.

Kreatif, inovatif dan inspiratif adalah kunci utama untuk ikut bagian dalam pertunjukan sirkus ini. Kreatifitas dan inovasi akan membuat karya yang terkesan biasa saja menjadi luar biasa. Inspiratif, karya yang dihasilkan haruslah dapat memberikan inspirasi. Tidak hanya menonjolkan kepentingan komersil semata tapi juga bisa menyampaikan esensi yang terkandung di dalamnya.

Usai membuka album tahunan SMA, tiba-tiba saya seperti kejatuhan inspirasi mendadak. Badut-badut dan atraksi akrobatik para pemain sirkus mulai berkeliaran di kepala. Crack the fire, catch the lion and let the clown laugh up around. Show up, it’s Teenage Circus time!

Follow me on

Twitter: http://www.twitter.com/rosmenstation

Facebook: http://www.facebook.com/rosmen.rosmansyah

MySpace: http://www.myspace.com/rosmenstation

Twitter: http://www.twitter.com/rosmenstation

E-mail: rosmenstation@rocketmail.com

And Visit My Other Blog: http://www.rosmenstation.blogspot.com