Arsip untuk Februari, 2014

image

Lightning, I love you...

Alarm tak pernah berbunyi sekeras ini. Waktu menunjukan pukul delapan pagi. Aku lemparkan benda pengingat waktu itu dari meja samping tempat tidurku. Good morning. Tapi aku belum mau mengucapkan itu. Apalah artinya itu. Rotasi bumi hanya sebuah pergerakan semu bagiku. Kepalaku masih tertahan di keriuhan pesta semalam.

Kuraih ponselku. Lima puluh satu panggilan tak terjawab segera menyambut. Syaraf otakku kusut luar biasa. Seks? Alkohol? Entah apa penyebabnya. Aku sama sekali tak mengingatnya. Aku mengumpat. Yang kuingat kini hanyalah stick konsol game yang tergeletak di lantai serta layar biru TV 32 inchi yang berkedip menggoda penglihatanku. Aku bangkit meraih stik konsol itu. Televisi seakan bicara padaku.

“Ayo lanjutkan, pecundang!” begitu seru televisi itu.

Masih adakah sisa hisapan ganjaku semalam? Atau mungkin salah seorang teman pesta telah memberiku heroin sebagai cemilan? Aku tersenyum sendiri. Betapa gilanya diriku ini. Aku mendengar televisi itu bicara? Aha, sebentar lagi aku akan masuk rumah sakit jiwa! Tapi aku sama sekali tak peduli. Kembali kugerakan jariku pada stick konsol berwarna hitam itu. Anggap saja ini sebagai menu sarapan pagi. Sesuatu yang nyata tidak lagi terlalu penting bagiku. Yang kubutuhkan sekarang hanyalah fantasi. Ya, fantasi.

Aku tidak akan pergi ke mana-mana. Aku di sini untukmu, Lightning…..

* * * *

“Kurang apa lagi aku bertoleransi? Kenapa sih kamu enggak pernah mau mengerti? Aku sudah mencoba menelpon ribuan kali, kamu sudah tuli ya?” ucap Alina saat kami sedang mencoba merefresh acara kencan yang sudah lama terlewatkan. Tapi aku malah terfokus pada tulisan di tank top putih yang sedang dikenakannya. “What the hell are you!” begitu bunyi tulisannya. Aku jadi tersenyum sendiri.

“Kamu dengar enggak, sih?” Alina kesal dengan sikapku yang terkesan acuh tak acuh. Aku mencoba kembali terfokus pada sosoknya.

“Kenapa kamu milih restoran Meksiko, sih? Aku kan enggak suka saus salsa.”

“Kamu bisa serius enggak, sih? Kamu jangan mengalihkan pembicaraan!”

“Okay.. okay.. sorry! Nacho-nya tidak terlalu buruk kok!”

“Aku serius, Fin!”

“Aku tahu.”

“Lalu?”

“Lalu, kenapa?”

“Aku benci mendengar kata itu. Kenapa, kenapa, selalu kenapa! Sudah hampir empat tahun kita jalani hubungan ini, tapi semakin hari aku semakin tak mengenalmu. Ada apa denganmu, Fin?”

Ada apa denganku? Setahuku aku masih baik-baik saja. Mungkin akhir-akhir ini jam makan dan tidurku memang agak sedikit terganggu. Tapi itu sudah biasa. Alina tentu tahu itu. Aku tidak terlalu patuh pada jam biologisku.

“Aku tahu. Kamu selingkuh.”

Aku tersedak. Jus stroberi yang baru kuseruput hampir saja keluar dari mulutku.

“Selingkuh?”

“Ya, itulah yang kamu lakukan selama ini. Aku tahu isi pikiranmu! Aku tahu kamu mengoleksi banyak foto wanita lain di kamar dan hardisk komputermu!”

“Aku mengoleksi foto wanita di kamarku?”

“Ya, itulah sebabnya aku tak pernah diizinkan masuk kamarmu.”

“Aku cuma belum siap untuk menidurimu.”

Sesuatu menampar pipiku. Aku tak percaya ini. Jangan bilang kalau tangan Alina telah mendarat di wajahku.

“Kamu pikir aku ini pelacur? Kamu memang sudah berubah, Fin. Kamu gila!”

“Tapi tak lebih gila darimu.”

What the hell are you! Aku kembali terfokus pada tulisan di tank top-nya itu. Baiklah, aku akui aku memang pecundang. Tapi aku bukanlah pecundang seutuhnya. Aku hanya belum mampu menjadi pria nomor satu. Aku belumlah sempurna untuk siapapun juga. Tapi siapa bilang aku tak bisa. Aku bisa mengusahakannya. Diriku yang sekarang memang bukan diriku yang sebenarnya.

* * * *

Kugabungkan vektor-vektor menjadi satu. Rumitnya dimensi dan kolase warna telah memanjakan mataku. Telah kubuat sesosok wajah yang mungkin bisa merefrentasikan siapa diriku. Ah, andai dia itu aku.

“Lagi ngapain lo?” tanya Alan yang tiba-iba duduk di meja kerjaku. “Lo lagi buat karakter baru?”

“Nggak, gue cuma lagi iseng aja.”

Aku dan Alan adalah staf kreatif salah satu perusahan animasi lokal yang sedang berkembang. Mungkin kami bisa disebut sebagai animator. Perusahaan animasi kami sudah cukup diperhitungkan. Konten animasi kami sudah menyebar di media nasional. Entah itu dalam bentuk iklan, film pendek atau konten pendukung program televisi anak-anak. Studio kami memang tak sebesar Pixar atau Disney, tapi aku sangat kerasan bekerja di sini. Aku mencintai pekerjaanku ini. Menjadi animator adalah panggilan hati.

“Akhir-akhir ini gue sering liat lo ngelamun terus. Lo sedang ada masalah sama Alina, ya? Hati-hati lo! Alina itu kan anak polisi. Kalau ada apa-apa, lo bisa kena tembak lagi,” ujar Alan sambil bercanda.

“Ah, nggak ada apa-apa kok.”

“Eh, Fin. Ngomong-ngomong kostum pesta besok udah fix belum?”

“Udah dong?”

“Emang lo mau pake kostum apa?”

“Ya, kejutan dong.”

“Awas lo kalo samaan lagi.”

Setiap ulang tahun perusahaan, kami selalu merayakannya dengan pesta kostum tokoh animasi. Kami tidak boleh membocorkan kostum apa yang akan dipakai hingga pesta dimulai. Ini sudah menjadi tradisi. Pesta kostum tahun lalu adalah yang terburuk. Aku dan Alan memakai kostum yang sama. Yakni kostum tokoh Snow, partner Lightning dari game Final Fantasy XII. Kami jadi terlihat seperti pasangan gay di keriuhan pesta. Dan itu sangat menyebalkan.

Aku memang maniak seri game Final Fantasy, terutama seri yang terbaru, yakni seri Final Fantasy XII-2 dimana aku sangat suka dengan tokoh utamanya yang bernama Lightning. Nama aslinya Claire Farron. Dia adalah seorang prajurit tangguh yang berjuang mencari adiknya yang hilang. Menurutku, dia adalah tokoh game paling cantik yang pernah ada. Aku mengoleksi berbagai pernak-pernik mengenai dirinya. Dialah alasan utama kenapa aku sangat menyukai game legendaris ini. Lightning memiliki sisi karismatik yang tidak dimiliki tokoh game lainnya. Dia terlihat begitu nyata dan menjadi idola para gamers di seluruh dunia. Aku adalah salah satu pemujanya.

* * * *
   
Kuparkirkan skuter bututku di depan pintu kontrakan. Waktu sudah menunjukkan pukul 5 petang. Aku harus segera mempersiapkan penampilanku untuk pesta nanti malam. Kubuka pintu kontrakanku. Oh tidak, pintunya tak terkunci! Seingatku, aku sudah menguncinya tadi pagi. Jangan-jangan kontrakanku kemasukan pencuri! Aku segera masuk ke rumah kontrakan yang sudah hampir 3 tahun ini aku tinggali. Kontrakan ini hanya terdiri beberapa ruangan mini berupa ruang tamu, kamar tidur dan sebuah kamar mandi. Aku berjalan perlahan seperti seekor kucing yang hendak memburu tikus menyebalkan. Kudengar sebuah suara yang berasal dari kamar tidurku. Kupegang gagang pintu kamarku. Oh tidak, lagi-lagi tak terkunci! Perlahan aku buka pintu itu. Mataku terbelalak begitu melihat sosok yang sedang terduduk di tempat tidurku. Rambut pink menyala dan gunblade langsung menyilaukan pandanganku. Lightning, kaukah itu? Tidak, aku kenal wajah itu. Itu Alina!

“Hai Fin.”

“Apa yang sedang kamu lakukan di kamarku?”

“Kamu gak pernah bilang kalau kamu punya kostum keren kayak gini. Kenapa kamu gak ngajak aku ke pesta kostum nanti malam?”

Aku bingung. Kenapa Alina tahu soal pesta nanti malam. Selama ini aku tak pernah mengajak Alina datang ke acara resmi perusahaan. Bagiku, urusan pribadi dan karier itu tak bisa dicampuradukan.

“Alan yang sudah memberitahuku.”

Alina berdiri dan berlenggak-lenggok memperhatikan dirinya yang sudah berkostum lengkap dari cermin. Aku membeli kostum itu dari salah satu forum pecinta animasi di internet sekitar setahun lalu, tapi kostum itu bukan untuknya.

Alina memperhatikan seluruh isi kamarku yang sudah seperti kuil pemujaan untuk sebuah tokoh fiksi. Berbagai poster Lightning ukuran giga terpajang di dinding kamarku. Action figure dan berbagai miniaturnya tertata rapi dalam lemari kaca. Tak hanya itu, sosoknya juga tergambar di cover laptop, sprai, tirai, karpet dan taplak meja. Sebuah boneka Lightning seukuran manusia bahkan setia menjadi teman tidurku setiap malamnya. Jangan berkomentar apa-apa. Lightning memang sudah membuatku gila. Kuakui itu semua.

“Jadi, inikah wanita selingkuhanmu itu?” Ia berdiri menghadapku. Tatapannya tajam. “Kamu menyelingkuhiku dengan karakter animasi pelacur ini?”

Aku tidak terima ia menyebut Lightning begitu. Lightning adalah seorang prajurit tangguh yang bisa membunuh para musuhnya dalam sekejap mata. Bagiku ia bukan hanya karakter fiksi belaka. Aku memujanya.

“Lepaskan kostum itu sekarang juga!”

“Tidak, aku tidak akan melepaskannya!” Alina meraih sesuatu dari sakunya. Astaga ia membawa pistol. Mau apa dia! Dia benar-benar sudah tak waras!

“Aku sangat berterimakasih pada ayahku yang telah ceroboh menyimpan benda ini,” ucapnya sambil tertawa renyah.

Ayahnya adalah seorang polisi. Ia memegang boneka Lightning dan mengarahkan moncong pistol itu ke kepalanya. Tapi kemudian ia malah mengarahkan senjata itu ke kepalanya sendiri. Oh Tuhan, mau apa dia?

“Sekarang saatnya kamu putuskan pilihanmu. Pilih aku atau karakter pelacur ini!”

“Apa yang kamu lakukan? Kamu gila!”

“Kamu yang gila! Aku sudah tahu kegilaanmu selama ini. Game berengsek itu telah mencuci otakmu! Kamu bercinta dengan pelacur fiksi ini!”

“Lepaskan pistol itu, Alina!” Aku panik. Aku tahu bermain game sudah merusak hidupku, tapi aku tak mau bermain-main dengan nyawa.

“Katakan apa kau mencintaiku atau tidak?”

Aku bingung. Semua ini tak masuk akal. Omong kosong apa ini?

“Jawab aku! Kamu mencintaiku atau tidak?”

Alina membuatku semakin gila. Lebih baik tembakan saja pistol itu ke arahku. Aku sudah tak kuat lagi dengan pertengkaran absurd ini.

“Jawab aku, Fin! Jawab aku! Pilih dia atau aku?”

Amarahku sudah mencapai klimaksnya. Kepalaku mendidih. Seperti ada aliran magma dalam otakku. Seluruh tubuhku segera memanas. Aku lekas menghadangnya, mencoba melepaskan senjata api di tangannya. Alina meronta. Ia mencoba melawan, tapi tak bisa.

Duaar….

Sebuah tembakan tiba-tiba tercipta, dan semua pun berhenti seketika.

* * * *

Pagi masih menerawang. Aku masih duduk manis memainkan game Final Fantasy. Sang musuh utama, Bandorus, berhasil kutaklukan sebentar lagi, tapi tiba-tiba gerakan jariku terhenti. Layar LCD TV yang sedang memutarkan video game seperti menyuruhku untuk mengingat kembali beberapa potongan memori. Televisi itu seakan ingin berbisik. Apa semalam aku benar-benar pergi ke pesta? Di manakah aku semalam?

Sadarlah diriku. Ada cipratan noda merah di kaosku. Seketika, jantungku berhenti berdetak. Aku tak berani menoleh ke belakang. Seseorang tengah tergeletak lemas di kolong ranjang.

Ternyata aku memang tak jadi pergi ke pesta semalam.

* * * *

Iklan