Masih Beranikah Kamu Beresolusi?

Posted: 25 Desember 2013 in Personal
Tag:, , , , , , , , ,
image

What's your resolution?

Entah kenapa tiba-tiba kepikiran buat ngeblog lagi setelah sekian lama melanglang buana ke sana kemari. Sebenernya dari pada ngeblog, saya lebih pilih ngapelin pacar atau shopping. Tapi berhubung saya gak punya cewek buat diapelin dan dompet saya lagi kering, jadi terpaksa saya milih blogging. Berhubung sudah akhir tahun pula, saya merasa terpanggil untuk memposting sesuatu. Well, sebentar lagi tahun 2014. Tiap pergantian tahun, semua orang berbondong-bondong membuat resolusi. Resolusi? Oh, come on! Itu sangat klise sekali! Tapi kita gak bisa memungkiri kalau secara pribadi kita memang sering membuat resolusi. Ya, resolusi. Resolusi untuk masa depan yang lebih baik. Tidak ada salahnya berpikir demikian. Toh itu sudah menjadi naluri alamiah manusia untuk mengharapkan kehidupan yang lebih baik. Ciyeee… sok bijak gue hehe.

Resolusi tiap orang itu beda-beda. Sebagaimana isi kepala tiap orang yang emang gak sama. Ada yang beresolusi buat mendapatkan pasanganlah, pengen dapet momongan, naik jabatan, ngelunasin hutang, nikahin selingkuhan dan lain sebagainya. Semua punya harapan masing-masing. Dan semuanya menuju ke arah positif. Hah, positif? Hamil dong! Haha.. Gak mungkin kan ada orang yang beresolusi ke arah negatif. Mungkin cuma orang gak waras yang berpikiran demikian. Everybody wants to be better, right? This is real life! It’s our life!

Jika kita merunut pengalaman ke belakang, maka akan muncul berbagai kaleidoskop mengenai dinamika kehidupan kita selama setahun ini. Ada resolusi yang berhasil, ada juga yang enggak. Tapi kayaknya kebanyakan enggak, ya? Hehe sama. Ada yang melanjutkan resolusinya yang belum tercapai ke tahun depan, ada juga yang menggantinya secara radikal. Optimisme setiap individu pastinya berbeda. Beruntunglah bagi jiwa-jiwa yang mempunyai optimisme tinggi. Mereka punya modal yang kuat untuk menatap masa depan. Ya, optimisme memang menjadi poin pertama yang harus kita benamkan dalam benak kita ketika kita membuat resolusi. Kalau gak mau optimis, mending gak usah bikin resolusi aja deh! Mending bikin sambel terasi aja sana!

Berkaca pada keberhasilan dan kegagalan resolusi yang telah saya alami tahun-tahun sebelumnya, saya mendapat sebuah pelajaran kalau resolusi itu ada dua macam. Ada resolusi isi daging dan ada resolusi isi sayuran. Itu risoles masbro!! Well, sebagian besar orang mengartikan sebuah resolusi sebagai harapan, sementara sebagian lainnya menganggapnya sebagai rencana. Inilah dasar utama kenapa presentasi keberhasilan resolusi kita berbeda-beda. Oke, mari sejenak saya jabarkan satu per satu.

Resolution = Wish
Pertama saya akan menjabarkan resolusi jika diartikan sebagai permohonan atau harapan, bisa pula disebut hope atau wish. Orang yang beresolusi demikian akan menyerahkan resolusinya tergantung sepenuhnya pada kehendak Tuhan. Ini gak salah. Mungkin dia memang orang religius. Semuanya memang tergantung Tuhan. Harapan adalah suatu keinginan. Seseorang yang berharap akan lebih menonjolkan sisi emosionalnya ketika ia menginginkan sesuatu. Terkadang mereka tidak memikirkan logika terlalu jauh. Life goes flow, begitulah katanya. Oke, hidup itu emang mengalir. Tapi kalau kita gak ada aksi, yang ada kita malah terbawa arus. Jadi, resolusinya ikut terbawa arus juga deh.

Bagai pungguk merindukan bulan, itulah peribahasanya. Kalau cuma ngarep, kapan jadinya. Mau sampai seabad pun gak akan kesampean. Resolusi itu harus diperjuangkan. Kalo dilepasin gitu aja ya sama juga bohong. Keep on the go dong, Bro! Jangan jadi pecandu harapan palsu. Harapan itu cuma menyenangkan pikiranmu secara semu. Wujud kongkritnya harus ada dong, Bro! Yup, inilah kekurangannya kalau kita mengartikan resolusi sebagai harapan. Kita tidak terlalu berpartisipasi dalam mewujudkan resolusi kita karena kita cenderung mengabaikan aksi nyata.

Resolution = Plan
Yang kedua, resolusi jika diartikan sebagai rencana. Tentu kita tahu apa itu rencana? Ketika kita merencanakan sesuatu, maka kita akan mempersiapkan segala sesuatunya. Kita akan memikirkan langkah-langkah konkrit yang harus dilakukan dalam mencapai resolusi kita. Bagaimana strateginya, waktunya, kemungkinan kesulitannya dan kemungkinan keberhasilannya. Semua butuh perencanaan. Neil Armstrong gak akan sukses terbang ke bulan kalau NASA tidak merencanakannya secara matang. Bill Gates gak akan mungkin sukses bikin Microsoft kalau ia tidak merencanakannya secara gamblang. Itu contoh spektakulernya, kamu bisa pikirkan sendiri contoh sederhananya. Semuanya memang butuh perencanaan. Resolusi gak bisa disamakan kayak BAB. Hasil resolusi gak bisa brojol gitu aja kayak kamu lagi nongkong di WC (ups.. maaf!). Semua tidak bisa direncanakan sambil lalu. Oke, memang semuanya tergantung Tuhan, tapi kita juga harus ikut berusaha. Act like you’re an professional architect. Do that shit like God is your partner. That’s the resolution! And it’s not a wish, but a plan. Jangan anggap ini sebagai beban. Ingat, rencana itu sebuah strategi pencapaian. Anggap saja itu sebagai proses disiplin pribadi yang akan menuntunmu pada keberhasilan. Take it easy, but still take in the plan.

Berhasil atau tidaknya sebuah resolusi, kita sendiri yang menentukan. Kita tentu tahu kapabilitas masing-masing. Tiap resolusi tentu haruslah berlogika. Saya tentu tidak akan beresolusi pergi ke planet Mars karena saya tidak memiliki kapabilitas untuk melakukan itu. Saya tidak akan beresolusi menikah dengan Miss Universe karena saya tidak memiliki kapasitas yang memadai untuk mewujudkannya. Saya tentu tidak akan beresolusi yang aneh-aneh. Kita memang tidak dibatasi dalam beresolusi tapi kita juga harus tahu diri. Sebenarnya kita sudah tahu kemungkinan keberhasilan resolusi kita dari jauh-jauh hari. Cuman kita terkadang abai dalam mempersiapkan segala kemungkinan kesulitannya. Inilah yang sering saya alami. Mungkin kamu sering mengalaminya juga, kan?

Well, tahun 2014 sudah menanti. Dan 2013 akan berakhir sebentar lagi. Mungkin gak terlalu banyak resolusi yang tercapai di tahun ini, tapi kita gak boleh berkecil hati. Saatnya kita mengubah presepsi. Resolution is not a wish. Camkan ini, RESOLUTION IS A PLAN everybody! Pikirkan strategi resolusimu sekarang. Rencanakan! Just take control! Jadi, masih beranikah kamu beresolusi untuk tahun 2014 nanti? Don’t gimme a bullshit! Let’s act, everybody! 🙂

Sumber gambar: dokumen pribadi

Iklan
Komentar
  1. akbar maulana berkata:

    Tahun ini sih aku jalani tanpa resolusi apapun , ahahahaha untuk tahun 2014 baru aku masang resolusi untuk mengejar ketinggalan yang ada …

  2. arip berkata:

    Resolusi itu ibarat navigasi buat hidup kita. Tapi buat resolusi tahunan mah saya jarang buat.

  3. fikrias berkata:

    kayanya resolusi di thun 13 blm trcpai.. pengen cari yg bru lgi di 14 ah

  4. ga pernah buat resolusi, tapi keknya untuk tahun depan pengen ada rencana sih, paling ga tahun depan jadi ada tujuan yang mesti dicapai… 🙂

  5. Fadhli Zaky berkata:

    Resolusi gue sebagai rencana deh kayaknya, hmm 2014 resolusi 1920 x 1080 cukup kok haha

  6. Rosmen Rosmansyah berkata:

    Haha emangnya TV gan. Tapi resolusi layar TV th 2014 kayanya bakal makin tinggi deh. Makin tinggi resolusinya makin kinclong gambarnya 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s