image

Enzo: The Art of Racing in The Rain

Berawal dari browsing buku keren di toko buku online —tepatnya di kutukutubuku.com, akhirnya saya menemukan buku ini, Enzo: The Art of Racing in the Rain. Saya langsung kepincut waktu ngeliat covernya yang bergambar seekor anjing dengan tagline judulnya yang berbunyi: Kisah tentang seekor filsuf. “Seekor Filsuf”? Ya, buku ini memang mengisahkan tentang seekor filsuf berkaki empat yang berasal dari spesies Canis lupus familiaris. Saya langsung jatuh cinta pada buku ini dan segera memasukannya dalam daftar belanja buku bulanan saya.

Setelah menunggu sekitar seminggu, akhirnya pesanan buku saya nyampe juga. Segudang ekspektasi langsung muncul di kepala saya. Buku terbitan Serambi ini ditulis oleh Garth Stein dengan terjemahan dari Ary Nilandari. Tebalnya mencapai 408 halaman. Kalau menurut saya gak terlalu tebel sih. Saya cuma butuh dua hari buat melahapnya. Mungkin karena saking serunya, jadinya saya malah lupa waktu dan keasyikan sendiri. Oh, I really love this book!

Begitu membaca bab pertama, hati saya langsung tergugah dengan cerita seekor anjing yang sedang berjuang menghabiskan detik-detik terakhir hidupnya. Ya, dialah Enzo. Seekor anjing yang merupakan tokoh utama sekaligus narator kisah dalam novel ini. Nama Enzo sendiri diambil dari nama Enzo Ferrari, pendiri perusahaan mobil sport Ferrari sekaligus pendiri tim balap Scuderia Ferrari. Melalui sudut pandang Enzo, cerita bergerak mundur. Enzo mengenang masa-masa bahagia bersama keluarga kecilnya. Enzo adalah seekor anjing unik yang bercita-cita menjadi seorang manusia. Ya, manusia. Enzo bercita-cita menjadi manusia di kehidupan selanjutnya. Dia lebih suka menghabiskan waktunya dengan menonton TV dan menonton tayangan video balap majikannya. Dari mulai National Geographic, Discovery Chanel, ESPN sampai saluran yang menayangkan film-film Hollywood. Dari tayangan-tayangan TV itulah ia mendapat berbagai pengetahuan yang tak mungkin bisa dimengerti oleh anjing sejenisnya. Ia pernah menonton sebuah tayangan dokumenter di National Geographic tentang mitos reinkanasi para anjing yang diyakini akan menjadi manusia di sebuah tempat di Mongolia. Sejak saat itulah ia percaya kalau suatu hari nanti ia juga akan bereinkarnasi menjadi manusia, dan ini menjadi obsesi seumur hidupnya.

image

Enzo adalah jenis anjing campuran labrador dan terrier. Majikan Enzo adalah seorang pembalap mobil semi profesional yang bernama Denny Swift. Enzo menjadi saksi bisu pasang surutnya kehidupan Denny. Setelah kematian isterinya, Eve, Denny harus berjuang memperjuangkan hak asuh puteri kecilnya yang bernama Zoe. Di tengah segala kesulitan itu, Denny malah dituduh terlibat dalam sebuah kasus pemerkosaan anak remaja. Enzo dan Denny selalu bersama dalam susah dan senang. Enzo selalu setia menemani Denny ketika ia bangkrut dan ketika ia harus terbelit masalah hukum. Begitu pun dengan Denny, ia tak pernah lelah merawat Enzo ketika sakit. Ia selalu mencurahkan segala kepenatannya pada Enzo. Mereka adalah sahabat sejati yang saling melengkapi. Dari Denny-lah Enzo mengerti filosofi hidup. Hidup itu seperti halnya balapan, begitulah pikir Enzo. Hidup itu bagai sebuah trek balapan. Ketika ia sudah berhasil menyelesaikan satu putaran kehidupan, maka ia akan melaju satu putaran lagi di kehidupan selanjutnya sebagai pembalap sesungguhnya, yakni sebagai manusia.

Inspiratif, ekspresif sekaligus mengharukan, itulah kesan pertama saya membaca novel ini. Ceritanya begitu sukses mencampur aduk emosi saya. Sometimes I feel sad, but next, it seems fun anyway. It’s like rollercoaster in my heart but it’s really good. Tipikal bacaan wajib buat pecinta hewan seperti saya. Meski begitu, novel ini bukan hanya sekedar novel yang menyuguhkan cerita tentang anjing biasa. Saya begitu kagum dengan gaya tulisan Garth Stein yang begitu piawai menyajikan kisah absurd ini sehingga terkesan nyata. Terkadang saya tidak sadar kalau yang bercerita itu adalah seekor anjing. Enzo benar-benar telah menjadi “seorang” filsuf sejati. Begitu banyak pesan kehidupan yang menakjubkan dalam novel ini, tentang indahnya hubungan dalam keluarga, tentang cinta dan perjuangan, serta harapan. Enzo telah sukses menafsirkan hidup kita sebagai manusia. Sebuah novel yang membuat kita termenung ketika membacanya. Gak salah novel ini bertahan menjadi best seller New York Times selama berminggu-minggu, habis novelnya bagus banget sih. Saya bisa buktikan itu

Penilaian saya untuk novel ini hampir mendekati sempurna. Saya beri 4½ dari 5 bintang untuk novel ini. Meskipun saya beberapa kali dipusingkan oleh kesalahan ketik pada beberapa tulisannya. Memang cuma sedikit, tapi cukup membingungkan bagi pembaca. Endingnya sendiri bisa dengan mudah terbaca. Tapi itu gak terlalu mengganggu. Toh mungkin ending seperti itulah yang diharapkan para pembaca. Not bad kok! Alhasil buku ini sukses masuk dalam daftar buku keren di rak buku Goodreads saya. God job for Garth Stein! Oh ya, katanya kisah si Enzo ini mau dibikinin filmnya juga lho! Dan gosipnya, aktor kawakan Patrick Dempsey udah ditunjuk buat meranin Denny Swift. Wow, I wanna watch that movie!

image

“Seorang pemenang, seorang juara, akan menerima nasibnya. Dia akan meneruskan dengan rodanya dalam tanah. Dia akan berusaha mempertahankan jalurnya dan secara bertahap kembali ke trek saat sudah aman. Ya, dia turun beberapa posisi dalam balapan. Ya, dia rugi. Namun, dia masih membalap. Dia masih hidup. Tak ada yang cedera.”

Seperti itulah hidup yang diajarkan Enzo. Seorang pemenang sejati akan selalu menerima segala rintangan kehidupan. Ia tak boleh menyerah karena ia masih hidup dan balapan masihlah sangat panjang.

Dan diakhir review ini, saya ingin mengutip sebuah kutipan dari pembalap F1 legendaris, Ayrton Senna. Kutipan ini menjadi salam pembuka buku di awal halaman.

“Dengan kekuatan pikiranmu, tekadmu, nalurimu, dan juga pengalamanmu, kau bisa terbang sangat tinggi.”

Yeah… that’s right. Like Senna said, I know that we can fly! We can fly, Enzo!!!

Sumber gambar: dokumen pribadi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s