image

Wanna be a sexy dad?

Kayaknya berasa penting banget saya posting tulisan ini. Padahal gak penting-penting amat sih. Tapi saya nulis bukan karena sesuatu yang penting. Toh kepentingan sama prioritas setiap orang itu beda-beda. Jadi, gak masalah kalau saya mau nulis topik yang gak terlalu penting. Yang penting saya nulis. Itu yang penting.

Oke langsung aja deh. Hampir tiap bulan saya harus menyisihkan sebagian waktu saya untuk menjenguk salah satu teman saya yang melahirkan. Emang sih gak tiap-tiap bulan amat. Yang pasti dalam kurun periode tertentu ada saja teman saya yang menghasilkan keturunan. Sebagian usia teman-teman saya gak terlalu jauh dengan saya. Ya sekitar 20 sampe 25-an gitu deh. Yang jelas masih terbilang muda. Bahkan terlalu muda sih kalau menurut pandangan saya —karena bagi saya, gak ada ukuran usia pas untuk berkembang biak. Hewan kali berkembang biak! Tapi entah kenapa mereka begitu mantap menjadi ibu dan ayah dalam usia yang tidak terukur oleh logika saya.

“Kapan mau nyusul, Men?”

Begitulah tanya mereka. Nyusul kemana nih maksudnya? Nyusul ke Hong Kong?

“Nyusul kayak kita dong. Nyusul nikah dan jadi ayah bunda.”

Jadi ayah? Ok, wait a minute. Izinkan saya menalar logika saya. Ayah. A-Y-A-H. Menurut Wikipedia, ayah adalah orang tua laki-laki seorang anak. Tergantung hubungannya dengan sang anak, seorang “ayah” dapat merupakan ayah kandung (ayah secara biologis) atau ayah angkat. Panggilan “ayah” juga dapat diberikan kepada seseorang yang secara de facto bertanggung jawab memelihara seorang anak meskipun antar keduanya tidak terdapat hubungan resmi. Ayah yang saya bicarakan sekarang ini adalah ayah dalam pengertian tradisional. Jadi ayah berarti harus nikah, punya anak dan merubah haluan hidup saya secara radikal. Aha, that’s right! Salut banget sama teman-teman seusia saya yang sudah bertransformasi menjadi ayah. Mereka mampu membuat keputusan paling krusial dalam hidup mereka. Mengesahkan kebutuhan seksual mereka secara legal, meleburkan ego dalam konstitusi sakral dan mulai mengatur kehidupan ekonomi mereka secara terstruktural. Sungguh bukan suatu proses yang sederhana.

“Gue gak bisa ngebayangin gimana lo jadi ayah, Men. Apa bisa anak kecil kayak lo ini punya anak?”

Begitu kata temen-temen saya. Jangankan kalian, saya juga gak kebayang. Saya tidak bisa membayangkan kalau saya punya bayi. Saya selalu kikuk kalau berhadapan dengan bayi. Jangankan untuk mengasuh, menimang dan memangku saja saya gak bisa —atau lebih tepatnya takut. Saya gak tahu apa yang harus saya lakukan dengan bayi. Ngajak bayi berinteraksi itu kayak gimana, sih? Gak mungkin dong kalau saya ngobrolin soal musik pop dan teori konspirasi sama bayi. Gak mungkin juga saya nyanyi Arctic Monkeys di depan bayi. Sempat saya berpikiran simple. Mungkin “memelihara” bayi itu sama kayak memelihara kucing. Saya juga bisa. Tapi tunggu dulu! Konteks “memelihara” jelas sangat tidak cocok dengan bayi. Secara spesies, kucing dan bayi manusia jelas beda. Saya tentu gak mau bayi saya bakal merangkak dan mengeong kayak kucing. Please deh men, otak lo sehat gak sih? Yang jelas ngurus bayi itu kompleks sekali.

Bayi bukan hanya seonggok daging hasil investasi seksualitas kita. Bayi itu makhluk suci. Menjadi ayah berarti harus siap mengorbankan segalanya untuk si buah hati. Bayi tidak akan selamanya jadi bayi. Anak kita akan semakin tumbuh menjadi tanggung jawab kita secara hakiki. Mendidik anak tidak segampang menulis tulisan ini. Hampir setiap orang tua —terutama yang notabenenya muslim— menginginkan anaknya menjadi anak yang sholeh atau sholeha. Lha kalau saya bagaimana? Bagaimana bisa anak saya jadi anak yang sholeh kalau ayahnya aja skeptis sama agama. Bagaimana saya mendidik anak-anak saya? Ini jelas jauh lebih sulit. Saya butuh lebih dari sekedar cara mainstream untuk mendidik anak-anak saya. Pertanyaannya, apa saya bisa? Perilaku sendiri aja kayak gini apalagi membentuk perilaku anak? Entah apa jadinya anak saya kelak…

Buah itu selalu jatuh gak jauh dari pohonnya. Begitulah pepatah bilang. Ada beberapa sifat orang tua akan diturunkan kepada anaknya. Entah itu sifat baik atau buruk. Yang jelas bagaimanapun juga, kita dan anak kita akan terhubung dalam komposisi genetika yang serupa. Secara fisik, itu sudah pasti. Secara psikis, itu mungkin bisa diakali. Setiap orang tua akan berjuang mati-matian untuk menjadikan anaknya sempurna secara moral. Moralitas adalah poin utama pendidikan anak. Begitu para polisi moral bilang. Mereka akan berusaha mendoktrin anak mereka sedemikian rupa agar bisa sesempurna malaikat. Sungguh suatu obsesi yang fantastis memang. Tapi ini memang benar adanya. Dan poin inilah yang menyebabkan saya belum mau berpikir jauh untuk menjadi orang tua —atau ayah. Saya angkat tangan. Memanusiakan manusia aja sudah susah, apalagi memalaikatkan manusia. Wow, obsesi manusia itu bener-bener luar biasa, ya!

Yang di atas itu baru awalnya. Bagaimana dengan biaya hidupnya? Setiap manusia yang lahir ke planet ini butuh modal. Anak kita tidak akan hidup kalau cuma dicecoki dengan doktrinasi moral. Selain moril, anak kita juga punya kebutuhan materi yang wajib dipenuhi. Hampir seluruh hidupmu akan dihabiskan untuk menghidupi anak-anakmu. Hey kamu, siapkah kamu menanggung beban ini? Siapkah kamu menanggung kehidupan manusia baru yang terlahir secara alamiah dari sel spermamu itu. Emmm… boleh saya mikir dulu. Saya pikir sih saya belum siap. I’m not fuckin readddyyy!!!

I wanna have your babies,
get serious like crazy
I wanna have your babies
I see ’em springin’ up like daisies

Babies! Babies! Babies! Jadi gimana ya kalau ada cewek yang nyanyin lagu Natasha Bedingfield di atas? Do I wanna have her babies? Marry her and be a realisitic good daddy. Seriously, I’m crazy!

Bayi itu emang lucu. Semua orang tahu itu. Ada banyak hal yang menyebabkan sebagian orang ingin memiliki bayi. Saya juga manusia normal yang suatu hari nanti berharap berketurunan. Ini adalah konsekuensi makhluk hidup yang sudah ditasbihkan untuk bereproduksi. Gak akan ada saya kalau ayah ibu saya tidak melakukan proses reproduksi. Saya masih tradisonal dalam hal ini. Saya bukan orang liberal yang seratus persen setuju dengan kelahiran di luar nikah. Saya menginginkan keluarga tradisonal yang sakral seperti kebanyakan orang. Menikah lalu punya anak, bukan punya anak dulu lalu menikah atau punya anak tapi tidak menikah. Saya pikir hak seorang anak akan terjamin ketika ia hadir dalam koridor pernikahan. Ini bukan cuma soal ketentuan liturgi agama, tapi juga haknya sebagai warga negara. Anak kita tidak hanya butuh orang tua dalam sudut pandang biologis, tapi juga secara hukum dan sosial. Dan saya hanya akan berketurunan secara legal. Itu harus.

Banyak orang bilang kalau seorang pria belum menjadi pria sejati kalau belum menjadi ayah. Saya terkadang berimajinasi menjadi sosok ayah yang digambarkan selebriti. Saya membayangkan diri saya seperti David Beckham atau Chris Martin —dua sosok ayah modern abad ini. That’s so beautiful. Have a beautiful wife and cute children. Oh, that’s heaven in earth. Jadi ayah itu keren. Jadi ayah itu seksi. Ya, itu bener juga. Tapi gak bener-bener juga sih. Seorang pria akan tetap menjadi pria selama ia masih belum berganti kelamin menjadi wanita —atau mungkin jadi waria dulu hihi. Maskulinitas seorang pria tidak diukur dari banyaknya anak yang ia punya. Ketika seorang bayi terlahir dengan phallus, maka ia sudah sesungguhnya menjadi pria. Saya belum terlalu tergoda untuk memiliki seorang bayi. Toh saya juga masih bayi hehe. Masa bayi punya bayi. Saya belum mau jadi orang tua karena saya masih orang muda. Banyak kawan yang bilang kalau penampilan saya lebih muda dari usia saya yang sebenarnya. Terkadang saya dikira masih anak SMA. Postur tubuh saya memang relatif mini. Tapi postur tubuh gak bisa dijadikan ukuran —kenapa sih pria sangat sensitif sama ukuran? Hehe… Size is not everything, right? Banyak kok pria kecil yang sukses menjadi ayah. Ini bukan cuma urusan fisik, tapi juga mental —tentu saja semua orang juga tahu. Saya harus belajar dulu dan mempertinggi ilmu supaya nanti bisa jadi ayah yang pinter. Anak sekarang tuh pada pinter-pinter. Ayahnya gak boleh kalah pinter. Sepuluh-dua puluh tahun mendatang, dunia akan semakin maju. Anak-anak kita akan semakin akrab dengan teknologi. Kita gak boleh tinggal diam. Ilmu kita gak boleh disepelekan karena anak-anak kita akan sangat bergantung pada pola pikir kita. You don’t use your sperm only, use your brain and heart to be a daddy.

Dalam tubuh saya ada jutaan sel bakal calon bayi, dan hanya yang terbaiklah yang akan keluar menjadi penghuni bumi. Sekarang ini ada sekitar 7 miliar penduduk dunia, dan saya berpotensi untuk menambahnya. Ayah universal kita yang bernama Adam, telah menjadi ayah dari satu spesies paling istimewa yang mendiami planet terindah di alam semesta. Kita, manusia, akan terus berevolusi melalui keturunan-keturunan kita. Tidak semua pria akan menjadi ayah. Tapi semua ayah pastilah seorang pria.

Menjadi ayah untuk sekarang ini mungkin hanya sekedar fantasi. Tapi saya tidak akan memungkiri kalau fantasi itu bisa saja terjadi. Suatu hari saya juga mungkin akan berurusan dengan bedak dan popok bayi. Rasanya aneh bila ada seorang anak yang memanggil saya ayah. Sungguh lucu sekaligus mengerikan! Ayah. Ya, suatu hari akan ada seorang anak yang memanggil saya ayah. Entah apapun sebutannya. Ayah, papa, pipi, bapak, babeh, abah, abi atau daddy? It doesn’t matter. I just wanna be a daddy. Maybe not a verry good daddy but I’m gonna be happy. Yay, maybe.

Oke, temen saya lalu nanya lagi,

Jadi, kapan mau nyusul jadi daddy-nya, Men?”

Ehmmm… kapan ya? Kapan-kapan aja deh. Sekarang saya mau puas-puasin jadi baby dulu hehe…

So, are you ready to be a sexy daddy?

Sumber gambar: Google dengan sedikit editan dari Picsart Studio

Iklan
Komentar
  1. Ghan berkata:

    Hahay… Pkk.y harus bnr2 siap deh jadi ayah…

  2. @damae53 berkata:

    aishhh.. kalo daddy-nya aja sexy, gimana anaknya ya? xxixixxi

  3. yandhi ramadhana berkata:

    hari pertama anak gw lahir gw sempet mikir, sanggupkah gw mnghidupi dan mencukupi anak ini?
    tapi gw percaya, anak itu titipan yang Maha Kuasa. kayak kita nitipin sendal di mesjid, kita pasti percaya klo sendal kita kita udah kita titipin sama orang yang benar

  4. Malina berkata:

    Nama saya Malina, dari United Kingdom. Saya
    ingin membagikan kesaksian saya dengan
    masyarakat umum tentang apa candi ini disebut
    (malaikat solusi) telah dilakukan untuk saya, candi
    ini baru saja membawa kembali mantan kekasih
    saya hilang saya dengan pekerjaan mantra besar
    mereka, masih berpacaran orang ini disebut
    Steven kami bersama-sama untuk waktu yang
    lama dan kita mencintai diri kita, tetapi ketika
    saya tidak mampu memberinya seorang anak laki-
    laki selama 5 tahun ia meninggalkan saya dan
    mengatakan bahwa dia tidak dapat melanjutkan
    lagi kemudian saya sekarang mencari cara untuk
    mendapatkannya kembali dan juga hamil, sampai
    seorang teman saya bercerita tentang candi ini dan
    memberi saya email kontak mereka, maka Anda
    tidak akan percaya ini ketika saya menghubungi
    mereka pada masalah saya mereka menyiapkan
    item dan mantra untuk saya dan membawa saya
    hilang suami kembali, dan setelah satu bulan aku
    merindukan aliran bulanan saya dan pergi untuk
    tes dan hasilnya menyatakan bahwa saya hamil, saya senang hari
    ini seorang ibu dari satu set kembar laki-laki dan
    seorang gadis, saya berterima kasih kepada kuil
    sekali lagi untuk apa yang telah mereka lakukan
    untuk saya, jika Anda berada di luar sana melewati
    salah satu masalah ini tercantum di bawah ini : (1)
    Jika Anda ingin kembali mantan Anda (2) jika Anda
    selalu memiliki mimpi buruk. (3) Anda ingin
    dipromosikan di kantor Anda. (4) Anda ingin
    perempuan / laki-laki untuk berjalan setelah Anda.
    (5) Jika Anda ingin anak. (6) Anda ingin menjadi
    kaya. (7) Anda ingin mengikat suami / istri menjadi
    milik Anda selamanya. (8) Jika Anda memerlukan
    bantuan keuangan. (9) Perawatan Herbal (10) Jika
    Anda tidak dapat dapat memuaskan istri Anda
    hasrat seks atau rendah karena tindakan err. (11)
    jika menstruasi Anda menolak untuk keluar hari itu
    kira atau lebih arus. (12) jika pekerjaan Anda
    menolak untuk membayar Anda, karena orang-
    orang Anda?. (13) memecahkan masalah tanah
    dan mendapatkannya kembali. (14) Apakah
    keluarga Anda Denny Anda hak Anda? (15) Biarlah
    orang menuruti firman-Ku dan jangan keinginan
    saya (16) Apakah Anda memiliki sperma rendah
    menghitung? (17) Kasus memecahkan ETC
    Hubungi mereka di email mereka pada
    theangelsofsolution@gmail.com Dan mendapatkan
    semua masalah Anda terpecahkan Terima kasih.

  5. enoka berkata:

    Haha menarik. Blm mau jd org tua krn msh org muda.
    Saya kagum tapi saat saya membaca tulisan anda, posisi saya bekebalikan dari keinginan anda yg blm mau menjadi orang tua. :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s