Arsip untuk November, 2013

image

Enzo: The Art of Racing in The Rain

Berawal dari browsing buku keren di toko buku online —tepatnya di kutukutubuku.com, akhirnya saya menemukan buku ini, Enzo: The Art of Racing in the Rain. Saya langsung kepincut waktu ngeliat covernya yang bergambar seekor anjing dengan tagline judulnya yang berbunyi: Kisah tentang seekor filsuf. “Seekor Filsuf”? Ya, buku ini memang mengisahkan tentang seekor filsuf berkaki empat yang berasal dari spesies Canis lupus familiaris. Saya langsung jatuh cinta pada buku ini dan segera memasukannya dalam daftar belanja buku bulanan saya.

Setelah menunggu sekitar seminggu, akhirnya pesanan buku saya nyampe juga. Segudang ekspektasi langsung muncul di kepala saya. Buku terbitan Serambi ini ditulis oleh Garth Stein dengan terjemahan dari Ary Nilandari. Tebalnya mencapai 408 halaman. Kalau menurut saya gak terlalu tebel sih. Saya cuma butuh dua hari buat melahapnya. Mungkin karena saking serunya, jadinya saya malah lupa waktu dan keasyikan sendiri. Oh, I really love this book!

Begitu membaca bab pertama, hati saya langsung tergugah dengan cerita seekor anjing yang sedang berjuang menghabiskan detik-detik terakhir hidupnya. Ya, dialah Enzo. Seekor anjing yang merupakan tokoh utama sekaligus narator kisah dalam novel ini. Nama Enzo sendiri diambil dari nama Enzo Ferrari, pendiri perusahaan mobil sport Ferrari sekaligus pendiri tim balap Scuderia Ferrari. Melalui sudut pandang Enzo, cerita bergerak mundur. Enzo mengenang masa-masa bahagia bersama keluarga kecilnya. Enzo adalah seekor anjing unik yang bercita-cita menjadi seorang manusia. Ya, manusia. Enzo bercita-cita menjadi manusia di kehidupan selanjutnya. Dia lebih suka menghabiskan waktunya dengan menonton TV dan menonton tayangan video balap majikannya. Dari mulai National Geographic, Discovery Chanel, ESPN sampai saluran yang menayangkan film-film Hollywood. Dari tayangan-tayangan TV itulah ia mendapat berbagai pengetahuan yang tak mungkin bisa dimengerti oleh anjing sejenisnya. Ia pernah menonton sebuah tayangan dokumenter di National Geographic tentang mitos reinkanasi para anjing yang diyakini akan menjadi manusia di sebuah tempat di Mongolia. Sejak saat itulah ia percaya kalau suatu hari nanti ia juga akan bereinkarnasi menjadi manusia, dan ini menjadi obsesi seumur hidupnya.

image

Enzo adalah jenis anjing campuran labrador dan terrier. Majikan Enzo adalah seorang pembalap mobil semi profesional yang bernama Denny Swift. Enzo menjadi saksi bisu pasang surutnya kehidupan Denny. Setelah kematian isterinya, Eve, Denny harus berjuang memperjuangkan hak asuh puteri kecilnya yang bernama Zoe. Di tengah segala kesulitan itu, Denny malah dituduh terlibat dalam sebuah kasus pemerkosaan anak remaja. Enzo dan Denny selalu bersama dalam susah dan senang. Enzo selalu setia menemani Denny ketika ia bangkrut dan ketika ia harus terbelit masalah hukum. Begitu pun dengan Denny, ia tak pernah lelah merawat Enzo ketika sakit. Ia selalu mencurahkan segala kepenatannya pada Enzo. Mereka adalah sahabat sejati yang saling melengkapi. Dari Denny-lah Enzo mengerti filosofi hidup. Hidup itu seperti halnya balapan, begitulah pikir Enzo. Hidup itu bagai sebuah trek balapan. Ketika ia sudah berhasil menyelesaikan satu putaran kehidupan, maka ia akan melaju satu putaran lagi di kehidupan selanjutnya sebagai pembalap sesungguhnya, yakni sebagai manusia.

Inspiratif, ekspresif sekaligus mengharukan, itulah kesan pertama saya membaca novel ini. Ceritanya begitu sukses mencampur aduk emosi saya. Sometimes I feel sad, but next, it seems fun anyway. It’s like rollercoaster in my heart but it’s really good. Tipikal bacaan wajib buat pecinta hewan seperti saya. Meski begitu, novel ini bukan hanya sekedar novel yang menyuguhkan cerita tentang anjing biasa. Saya begitu kagum dengan gaya tulisan Garth Stein yang begitu piawai menyajikan kisah absurd ini sehingga terkesan nyata. Terkadang saya tidak sadar kalau yang bercerita itu adalah seekor anjing. Enzo benar-benar telah menjadi “seorang” filsuf sejati. Begitu banyak pesan kehidupan yang menakjubkan dalam novel ini, tentang indahnya hubungan dalam keluarga, tentang cinta dan perjuangan, serta harapan. Enzo telah sukses menafsirkan hidup kita sebagai manusia. Sebuah novel yang membuat kita termenung ketika membacanya. Gak salah novel ini bertahan menjadi best seller New York Times selama berminggu-minggu, habis novelnya bagus banget sih. Saya bisa buktikan itu

Penilaian saya untuk novel ini hampir mendekati sempurna. Saya beri 4½ dari 5 bintang untuk novel ini. Meskipun saya beberapa kali dipusingkan oleh kesalahan ketik pada beberapa tulisannya. Memang cuma sedikit, tapi cukup membingungkan bagi pembaca. Endingnya sendiri bisa dengan mudah terbaca. Tapi itu gak terlalu mengganggu. Toh mungkin ending seperti itulah yang diharapkan para pembaca. Not bad kok! Alhasil buku ini sukses masuk dalam daftar buku keren di rak buku Goodreads saya. God job for Garth Stein! Oh ya, katanya kisah si Enzo ini mau dibikinin filmnya juga lho! Dan gosipnya, aktor kawakan Patrick Dempsey udah ditunjuk buat meranin Denny Swift. Wow, I wanna watch that movie!

image

“Seorang pemenang, seorang juara, akan menerima nasibnya. Dia akan meneruskan dengan rodanya dalam tanah. Dia akan berusaha mempertahankan jalurnya dan secara bertahap kembali ke trek saat sudah aman. Ya, dia turun beberapa posisi dalam balapan. Ya, dia rugi. Namun, dia masih membalap. Dia masih hidup. Tak ada yang cedera.”

Seperti itulah hidup yang diajarkan Enzo. Seorang pemenang sejati akan selalu menerima segala rintangan kehidupan. Ia tak boleh menyerah karena ia masih hidup dan balapan masihlah sangat panjang.

Dan diakhir review ini, saya ingin mengutip sebuah kutipan dari pembalap F1 legendaris, Ayrton Senna. Kutipan ini menjadi salam pembuka buku di awal halaman.

“Dengan kekuatan pikiranmu, tekadmu, nalurimu, dan juga pengalamanmu, kau bisa terbang sangat tinggi.”

Yeah… that’s right. Like Senna said, I know that we can fly! We can fly, Enzo!!!

Sumber gambar: dokumen pribadi

image

Wanna be a sexy dad?

Kayaknya berasa penting banget saya posting tulisan ini. Padahal gak penting-penting amat sih. Tapi saya nulis bukan karena sesuatu yang penting. Toh kepentingan sama prioritas setiap orang itu beda-beda. Jadi, gak masalah kalau saya mau nulis topik yang gak terlalu penting. Yang penting saya nulis. Itu yang penting.

Oke langsung aja deh. Hampir tiap bulan saya harus menyisihkan sebagian waktu saya untuk menjenguk salah satu teman saya yang melahirkan. Emang sih gak tiap-tiap bulan amat. Yang pasti dalam kurun periode tertentu ada saja teman saya yang menghasilkan keturunan. Sebagian usia teman-teman saya gak terlalu jauh dengan saya. Ya sekitar 20 sampe 25-an gitu deh. Yang jelas masih terbilang muda. Bahkan terlalu muda sih kalau menurut pandangan saya —karena bagi saya, gak ada ukuran usia pas untuk berkembang biak. Hewan kali berkembang biak! Tapi entah kenapa mereka begitu mantap menjadi ibu dan ayah dalam usia yang tidak terukur oleh logika saya.

“Kapan mau nyusul, Men?”

Begitulah tanya mereka. Nyusul kemana nih maksudnya? Nyusul ke Hong Kong?

“Nyusul kayak kita dong. Nyusul nikah dan jadi ayah bunda.”

Jadi ayah? Ok, wait a minute. Izinkan saya menalar logika saya. Ayah. A-Y-A-H. Menurut Wikipedia, ayah adalah orang tua laki-laki seorang anak. Tergantung hubungannya dengan sang anak, seorang “ayah” dapat merupakan ayah kandung (ayah secara biologis) atau ayah angkat. Panggilan “ayah” juga dapat diberikan kepada seseorang yang secara de facto bertanggung jawab memelihara seorang anak meskipun antar keduanya tidak terdapat hubungan resmi. Ayah yang saya bicarakan sekarang ini adalah ayah dalam pengertian tradisional. Jadi ayah berarti harus nikah, punya anak dan merubah haluan hidup saya secara radikal. Aha, that’s right! Salut banget sama teman-teman seusia saya yang sudah bertransformasi menjadi ayah. Mereka mampu membuat keputusan paling krusial dalam hidup mereka. Mengesahkan kebutuhan seksual mereka secara legal, meleburkan ego dalam konstitusi sakral dan mulai mengatur kehidupan ekonomi mereka secara terstruktural. Sungguh bukan suatu proses yang sederhana.

“Gue gak bisa ngebayangin gimana lo jadi ayah, Men. Apa bisa anak kecil kayak lo ini punya anak?”

Begitu kata temen-temen saya. Jangankan kalian, saya juga gak kebayang. Saya tidak bisa membayangkan kalau saya punya bayi. Saya selalu kikuk kalau berhadapan dengan bayi. Jangankan untuk mengasuh, menimang dan memangku saja saya gak bisa —atau lebih tepatnya takut. Saya gak tahu apa yang harus saya lakukan dengan bayi. Ngajak bayi berinteraksi itu kayak gimana, sih? Gak mungkin dong kalau saya ngobrolin soal musik pop dan teori konspirasi sama bayi. Gak mungkin juga saya nyanyi Arctic Monkeys di depan bayi. Sempat saya berpikiran simple. Mungkin “memelihara” bayi itu sama kayak memelihara kucing. Saya juga bisa. Tapi tunggu dulu! Konteks “memelihara” jelas sangat tidak cocok dengan bayi. Secara spesies, kucing dan bayi manusia jelas beda. Saya tentu gak mau bayi saya bakal merangkak dan mengeong kayak kucing. Please deh men, otak lo sehat gak sih? Yang jelas ngurus bayi itu kompleks sekali.

Bayi bukan hanya seonggok daging hasil investasi seksualitas kita. Bayi itu makhluk suci. Menjadi ayah berarti harus siap mengorbankan segalanya untuk si buah hati. Bayi tidak akan selamanya jadi bayi. Anak kita akan semakin tumbuh menjadi tanggung jawab kita secara hakiki. Mendidik anak tidak segampang menulis tulisan ini. Hampir setiap orang tua —terutama yang notabenenya muslim— menginginkan anaknya menjadi anak yang sholeh atau sholeha. Lha kalau saya bagaimana? Bagaimana bisa anak saya jadi anak yang sholeh kalau ayahnya aja skeptis sama agama. Bagaimana saya mendidik anak-anak saya? Ini jelas jauh lebih sulit. Saya butuh lebih dari sekedar cara mainstream untuk mendidik anak-anak saya. Pertanyaannya, apa saya bisa? Perilaku sendiri aja kayak gini apalagi membentuk perilaku anak? Entah apa jadinya anak saya kelak…

Buah itu selalu jatuh gak jauh dari pohonnya. Begitulah pepatah bilang. Ada beberapa sifat orang tua akan diturunkan kepada anaknya. Entah itu sifat baik atau buruk. Yang jelas bagaimanapun juga, kita dan anak kita akan terhubung dalam komposisi genetika yang serupa. Secara fisik, itu sudah pasti. Secara psikis, itu mungkin bisa diakali. Setiap orang tua akan berjuang mati-matian untuk menjadikan anaknya sempurna secara moral. Moralitas adalah poin utama pendidikan anak. Begitu para polisi moral bilang. Mereka akan berusaha mendoktrin anak mereka sedemikian rupa agar bisa sesempurna malaikat. Sungguh suatu obsesi yang fantastis memang. Tapi ini memang benar adanya. Dan poin inilah yang menyebabkan saya belum mau berpikir jauh untuk menjadi orang tua —atau ayah. Saya angkat tangan. Memanusiakan manusia aja sudah susah, apalagi memalaikatkan manusia. Wow, obsesi manusia itu bener-bener luar biasa, ya!

Yang di atas itu baru awalnya. Bagaimana dengan biaya hidupnya? Setiap manusia yang lahir ke planet ini butuh modal. Anak kita tidak akan hidup kalau cuma dicecoki dengan doktrinasi moral. Selain moril, anak kita juga punya kebutuhan materi yang wajib dipenuhi. Hampir seluruh hidupmu akan dihabiskan untuk menghidupi anak-anakmu. Hey kamu, siapkah kamu menanggung beban ini? Siapkah kamu menanggung kehidupan manusia baru yang terlahir secara alamiah dari sel spermamu itu. Emmm… boleh saya mikir dulu. Saya pikir sih saya belum siap. I’m not fuckin readddyyy!!!

I wanna have your babies,
get serious like crazy
I wanna have your babies
I see ’em springin’ up like daisies

Babies! Babies! Babies! Jadi gimana ya kalau ada cewek yang nyanyin lagu Natasha Bedingfield di atas? Do I wanna have her babies? Marry her and be a realisitic good daddy. Seriously, I’m crazy!

Bayi itu emang lucu. Semua orang tahu itu. Ada banyak hal yang menyebabkan sebagian orang ingin memiliki bayi. Saya juga manusia normal yang suatu hari nanti berharap berketurunan. Ini adalah konsekuensi makhluk hidup yang sudah ditasbihkan untuk bereproduksi. Gak akan ada saya kalau ayah ibu saya tidak melakukan proses reproduksi. Saya masih tradisonal dalam hal ini. Saya bukan orang liberal yang seratus persen setuju dengan kelahiran di luar nikah. Saya menginginkan keluarga tradisonal yang sakral seperti kebanyakan orang. Menikah lalu punya anak, bukan punya anak dulu lalu menikah atau punya anak tapi tidak menikah. Saya pikir hak seorang anak akan terjamin ketika ia hadir dalam koridor pernikahan. Ini bukan cuma soal ketentuan liturgi agama, tapi juga haknya sebagai warga negara. Anak kita tidak hanya butuh orang tua dalam sudut pandang biologis, tapi juga secara hukum dan sosial. Dan saya hanya akan berketurunan secara legal. Itu harus.

Banyak orang bilang kalau seorang pria belum menjadi pria sejati kalau belum menjadi ayah. Saya terkadang berimajinasi menjadi sosok ayah yang digambarkan selebriti. Saya membayangkan diri saya seperti David Beckham atau Chris Martin —dua sosok ayah modern abad ini. That’s so beautiful. Have a beautiful wife and cute children. Oh, that’s heaven in earth. Jadi ayah itu keren. Jadi ayah itu seksi. Ya, itu bener juga. Tapi gak bener-bener juga sih. Seorang pria akan tetap menjadi pria selama ia masih belum berganti kelamin menjadi wanita —atau mungkin jadi waria dulu hihi. Maskulinitas seorang pria tidak diukur dari banyaknya anak yang ia punya. Ketika seorang bayi terlahir dengan phallus, maka ia sudah sesungguhnya menjadi pria. Saya belum terlalu tergoda untuk memiliki seorang bayi. Toh saya juga masih bayi hehe. Masa bayi punya bayi. Saya belum mau jadi orang tua karena saya masih orang muda. Banyak kawan yang bilang kalau penampilan saya lebih muda dari usia saya yang sebenarnya. Terkadang saya dikira masih anak SMA. Postur tubuh saya memang relatif mini. Tapi postur tubuh gak bisa dijadikan ukuran —kenapa sih pria sangat sensitif sama ukuran? Hehe… Size is not everything, right? Banyak kok pria kecil yang sukses menjadi ayah. Ini bukan cuma urusan fisik, tapi juga mental —tentu saja semua orang juga tahu. Saya harus belajar dulu dan mempertinggi ilmu supaya nanti bisa jadi ayah yang pinter. Anak sekarang tuh pada pinter-pinter. Ayahnya gak boleh kalah pinter. Sepuluh-dua puluh tahun mendatang, dunia akan semakin maju. Anak-anak kita akan semakin akrab dengan teknologi. Kita gak boleh tinggal diam. Ilmu kita gak boleh disepelekan karena anak-anak kita akan sangat bergantung pada pola pikir kita. You don’t use your sperm only, use your brain and heart to be a daddy.

Dalam tubuh saya ada jutaan sel bakal calon bayi, dan hanya yang terbaiklah yang akan keluar menjadi penghuni bumi. Sekarang ini ada sekitar 7 miliar penduduk dunia, dan saya berpotensi untuk menambahnya. Ayah universal kita yang bernama Adam, telah menjadi ayah dari satu spesies paling istimewa yang mendiami planet terindah di alam semesta. Kita, manusia, akan terus berevolusi melalui keturunan-keturunan kita. Tidak semua pria akan menjadi ayah. Tapi semua ayah pastilah seorang pria.

Menjadi ayah untuk sekarang ini mungkin hanya sekedar fantasi. Tapi saya tidak akan memungkiri kalau fantasi itu bisa saja terjadi. Suatu hari saya juga mungkin akan berurusan dengan bedak dan popok bayi. Rasanya aneh bila ada seorang anak yang memanggil saya ayah. Sungguh lucu sekaligus mengerikan! Ayah. Ya, suatu hari akan ada seorang anak yang memanggil saya ayah. Entah apapun sebutannya. Ayah, papa, pipi, bapak, babeh, abah, abi atau daddy? It doesn’t matter. I just wanna be a daddy. Maybe not a verry good daddy but I’m gonna be happy. Yay, maybe.

Oke, temen saya lalu nanya lagi,

Jadi, kapan mau nyusul jadi daddy-nya, Men?”

Ehmmm… kapan ya? Kapan-kapan aja deh. Sekarang saya mau puas-puasin jadi baby dulu hehe…

So, are you ready to be a sexy daddy?

Sumber gambar: Google dengan sedikit editan dari Picsart Studio