Arsip untuk Oktober, 2013

image

The Jacatra Secret: Misteri Simbol Satanic di Jakarta

Seminggu lalu saya iseng jalan-jalan ke Gramedia di Jalan Merdeka, Bandung. Saya menemukan buku ini di bagian rak novel. Judulnya yang begitu “menjual” sangat menggoda saya untuk tergerak membacanya. The Jacatra Secret: Misteri Simbol Satanic di Jakarta. Jakarta dan simbol satanik? Dua tema yang tak pernah terpikirkan oleh saya untuk dikawinkan dalam sebuah novel. Diterbitkan oleh Bentang Pustaka. Novel ini ditulis oleh Rizki Ridyasmara. Dan ini adalah novel pertamanya. Perlu seminggu bagi saya untuk membaca tuntas novel setebal 438 halaman ini. Ini termasuk lama. Habis beberapa hari ini saya capek banget. Jadi bacanya cuma beberapa halaman aja per hari.

Pertama-tama saya ceritakan dulu sinopsis ceritanya. Cerita diawali oleh sebuah ritual masonik di gedung Adhucstat Logegebouw— sekarang gedung Bappenas— di Jakarta yang terjadi pada tahun 1962. Cerita lalu berlanjut ke masa sekarang, seorang profesor petinggi Bappenas yang bernama Sudradjat Djoyonegoro tewas dibunuh dengan luka tembak di depan Museum Sejarah Jakarta. Seorang simbolog asal Amerika bernama John Grant tergerak untuk menyelediki pembunuhan itu. Bersama Angelina Dimitreia, rekannya di perkumpulan Conspiratus Society—perkumpulan pecinta teori konspirasi, mulai ikut terlibat dalam kasus yang ternyata sangat berhubungan erat dengan sisi gelap kota Jakarta dan sejarah freemasonry di Indonesia. Satu per satu orang terbunuh. Misteri pun mulai terbuka ketika seorang gadis asal Uzbekistan, Sally Kostova, yang notabenenya kekasih Sudradjat, menemukan sebuah medali dengan lambang freemasonry yang diberikan secara diam-diam oleh kekasihnya. Konspirasi besar sejarah bangsa ini pun terbuka lebar. Neoliberalisme, korupsi, organisme satanisme global dan sisa-sisa kelam kolonialisme Belanda mulai terkuak secara perlahan. Atas bantuan seorang veteran TNI yang bernama Muhammad Kasturi, mereka mulai berusaha mencari rahasia besar yang tersembunyi dalam medali itu. John Grant dkk. pun dibayangi teror anggota mason. Misi pengejaran sang peneror telah membawa mereka menelusuri lorong rahasia di bawah kota yang dulunya bernama Batavia. Rahasia bangsa yang sengaja disembunyikan para mason akhirnya berhasil terkuak. Dan John Grant dkk. terpilih untuk menyelamatkan rahasia besar itu dari orang-orang yang hendak menyalahgunakannya.

Membaca buku ini serasa membaca buku sejarah. Saya bisa mendapatkan informasi tentang sejarah kelam Jakarta. Salut pada Rizki Ridyasmara atas riset bukunya. Sangat mendetail dan sedikit membuat saya tercengang. Saya jadi tahu nama-nama Belanda gedung bersejarah yang dibangun di ibukota. Buku ini pun semakin memupuk rasa nasionalisme saya. Selain itu saya juga cukup tertarik dengan beberapa fakta menggelitik yang tersaji dalam buku ini. Seperti fakta soal visualisasi bundaran air mancur Hotel Indonesia yang menyerupai mata Horus—mata dewa matahari Mesir kuno yang sering dikaitkan dengan simbol Lucifer dan satanisme, pesan tersembunyi dalam arsitektur monas hingga makna mistis yang tersembunyi dalam aksi kontroversial ciuman Britney Spears dan Madonna di panggung MTV Video Music Awards pada tahun 2003. Sungguh fakta yang menarik.

Buku ini berhasil menyajikan thriller sejarah yang cukup renyah dilahap para pembaca. Saking renyahnya sampai saya lupa kalau sedang membaca novel. Tapi saya cukup menyayangkan plot ceritanya yang terlalu mirip dengan novel The Da Vinci Code karya Dan Brown. Tokoh Dr. John Grant sangat mirip dengan tokoh Prof. Robert Langdon—yang di filmnya diperankan Tom Hanks. Begitu pun dengan Angelina Dimitreia yang langsung mengingatkan saya akan tokoh Sophie Neveu di novel yang sama. Kalau saja sang penulis berani menyajikan plot cerita yang segar serta karakter yang berbeda, mungkin akan menambah rasa orisinalitas novel ini. Ini cukup krusial karena The Da Vinci Code adalah novel populer sehingga para pembaca akan langsung menemukan persamaan dari novel yang mereka baca. Selain itu, menurut saya, alur cerita novel ini juga terlalu “Holywood friendly”. Mungkin karena novel ini emang ditargetkan untuk dibikin film kali ya. Well, tapi it’s ok kok. Menurut Twitter sang penulis, filmnya sendiri bakal diproduksi tahun 2014 oleh Rafi Films. Mudah-mudahan sih sesuai ekspektasi pembaca. Tidak seperti film The Da Vinci Code yang membuat kecewa pembaca setianya.

Terlepas dari beberapa kekurangan di atas, saya tidak menampik kalau novel ini benar-benar berani mendrobrak dunia perbukuan Indonesia. Kita harus akui kalau buku-buku dengan tema thriller konspirasi memang cukup jarang ditulis penulis Indonesia. Buku ini bisa menjadi oase tersendiri bagi para pembaca Indonesia yang memang sangat haus dengan buku-buku fiksi yang menyajikan informasi cerdas sarat dengan pemikiran intelektual. Saya beri rating 3 dari 5 bintang untuk novel ini. Saya rasa itu sudah lebih dari cukup. Saya sangat menunggu buku lanjutannya yang diberi judul The Blood Gold. But overall, The Jacatra secret is still a good book. I really love it. And not disappointed to read it. Two thumbs up for Rizki Ridyasmara.

Hasta la victoria siempre!!

Sumber gambar: dokumen pribadi

image

God of Google

“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”  (QS Al-Hadid 3)

Lho kok tiba-tiba blog ini jadi berisi khotbah, sih? Saya tegaskan saya tidak sedang berkhotbah. Toh saya ini bukan ustadz atau “superstar agama”. Saya bukannya mau sok alim. Saya tahu saya bukan orang yang religius. Dan saya sama sekali gak berniat merubah blog ini menjadi blog dakwah atau semacamnya. Ayat di atas cuma sebagai salah satu bentuk korelasi dengan topik tulisan yang akan saya bahas. Maaf kalau judulnya agak provokatif. Itu cuma judul, alright! Lagian siapa pula yang nganggap Google sebagai Tuhan. Meski memang semakin hari apa yang dilakukan Google semakin menyamai beberapa sifat Tuhan. Tapi itu cuma omong kosong, bukan?

Kenapa saya membicarakan Google? Bukannya masih banyak mesin pencari lain di dunia maya seperti Bing, Yahoo, AOL dan sebagainya? Tapi Google adalah mesin pencari sejuta umat. Jangan bilang melek internet kalau gak pernah tahu Google. Kita semua tahu. Google juga tahu. Google dan googling sudah menjadi budaya abad ini. Dengan hanya mengetik—atau mengucapkan—sesuatu, kamu bisa tahu apa yang kamu ingin tahu. Siapa pun itu, dari mulai anak-anak sampai kakek nenek berusia senja, semua bisa menggunakannya kalau mereka mau. Google sudah mengubah peradaban dunia seutuhnya. Kita harus berterima kasih pada Larry Page dan Sergey Brin yang telah membuat mesin ajaib itu 17 tahun lalu. Berawal dari mesin pencari sederhana hingga menjadi raksasa yang membawahi berbagai layanan krusial di dunia maya. Indonesia sendiri adalah negara pengakses Google terbesar ke-3 di dunia. Dua tingkat di bawah Amerika Serikat dan setingkat beberapa persen di bawah India. Tak ada yang luput dari mata Google. Oke, mungkin ada segelintir pihak yang menolak kehadirannya. Sensor ketat yang dilakukan beberapa negara mungkin telah mengurangi kedigjayaannya. Tapi Google tetaplah Google. Siapapun tak akan bisa menampik pengetahuan tak terbatas yang ditawarkannya. Ini sebuah mukjizat pengetahuan yang luar bisa. Mungkin bisa disejajarkan dengan mukjizat para nabi yang sering dikisahkan dalam kitab suci. Di abad baru ini, Tuhan telah memberkati manusia dengan teknologi. 

Seberapa parahkah manusia sudah bergantung pada teknologi. Teknologi itu candu. Teknologi sudah bisa disejajarkan dengan heroin, kokain atau obat terlarang lainnya. Google sudah merasuk dalam kehidupan manusia seperti LSD yang sering dipuja kaum psikedelik post-modern. Coba hitung berapa kali kamu googling dalam sehari? Berapa banyak informasi yang bisa kamu temukan setiap hari? Google sudah seperti cermin ajaib yang selalu ada dalam dongeng Puteri Salju. Ia tahu siapa yang tercantik di dunia, yang terhebat di dunia, ataupun yang paling berkuasa di dunia. Google bisa memvisualisasikan beberapa sudut alam semesta, menerjemahkan berbagai bahasa dunia, menghubungkan manusia satu dengan manusia lainnya dan bahkan memuaskan hasrat seksual manusia. Semua bisa dilakukan dalam satu perintah. Dengan koneksi internet yang tentunya sudah semakin murah.

Korelasi Google dengan Tuhan
Tuhan. Entah apapun nama-Nya (Allah, Elohim, Yahweh, Hyang Widhi, Buddha —meski ihwal ketuhanan Buddha masih diperdebatkan—, Bahá, Kami, Ahura Mazda dan lain sebagainya), memiliki sebuah sifat yang diyakini seluruh agama dan kepercayaan yang ada di dunia, yakni Yang Maha Tahu; Omniscience, Al-‘Aliim, Jnana Sakti atau apapun istilahnya. Ia Maha Mengetahui segalanya. Apapun itu. Pengetahuan-Nya tak terbatas dan tak terukur. Dialah sumber pengetahuan alam semesta.

“Sloka prastias mai pipisatewikwani widuse bahra aranggaymaya jekmayipatsiyada duweni narah.” (Sama Veda 373:1)

Artinya : “Antarkanlah sesembahan itu pada Tuhanmu Yang Maha Mengetahui.”

Apapun agama yang kamu anut, apapun kitab suci yang menjadi pedoman hidupmu —Al-quran, Alkitab, Weda atau Tripitaka—, saya yakin akan selalu ada ayat yang menyebut Dia sebagai Yang Maha Tahu. Adalah sifat alamiah manusia sebagai makhluk spiritual yang selalu meyakini adanya suatu sifat yang melebihi kemampuannya, dan salah satunya adalah pengetahuan. Karena pengetahuan manusia memang amatlah terbatas, maka manusia mengharapkan suatu manifestasi rohani akan pengetahuan yang bersifat universal. Dan Tuhan adalah jawaban satu-satunya.

Google mungkin hanya sebuah produk manusia. Sebuah program rekayasa yang tak bisa disetarakan dengan kompleksitas Sang Pencipta. Ia tak mungkin bisa disamakan dengan Yang Maha Sempurna. Mungkin hari ini Google hanya bisa memberitahu kita sebatas informasi, entah itu berupa pengetahuan umum, berita, tempat, landskap semesta atau informasi lainnya. Tapi mungkin saja di masa mendatang Google bisa memberitahu apa yang akan terjadi di masa depan. Be the oracle. The real omniscience! Voila!! Mungkin ini terdengar mustahil dan gila. Tapi tak ada yang tahu apa yang akan terjadi dengan teknologi masa depan. Seribu tahun lalu, mungkin istilah manusia terbang hanya ada dalam mitologi nenek moyang, tapi sekarang kita bisa benar-benar terbang dengan pesawat terbang. Lima ratus tahun lalu, manusia belum terpikir untuk pergi ke bulan. Tapi 44 tahun lalu, manusia sudah membuktikan, Neil Armstrong dan Buzz Aldrin berhasil menjejakkan kaki mereka di permukaan bulan. Seratus tahun lalu, mungkin manusia tidak pernah memikirkan sebuah teknologi baru yang bernama internet. Tapi lihatlah sekarang! Internet itu ada! Kita menggunakannya. Dan bahkan sudah sangat bergantung dengan kehadirannya. Tak ada yang mustahil, kawan! Siapapun tak bisa menebak apa yang akan terjadi di masa depan. Dan ini sungguh “mengerikan”. Entah apa jadinya bila masa itu benar-benar terjadi. Batas antara manusia dan Tuhan semakin tersamarkan.

Kita juga bisa menyimak beberapa proyek Google dalam beberapa waktu belakangan ini. Beberapa proyek inovatifnya terkesan ambisius, bahkan absurd. Proyek Google Glass telah meredefinisi fungsi penglihatan manusia. Kini setiap orang bisa mengetahui informasi apapun langsung dari penglihatan mereka. Lewat kacamata ajaibnya, komputer dekstop seakan menjadi barang usang di masa mendatang. Dalam satu kedipan, kita bisa menemukan apa yang kita perlukan. Ini mungkin terdengar konyol. Tapi secara perlahan, Google mulai menambah kemampuan “ketuhanannya”, yakni sebagai Yang Maha Melihat. Al-Bashir. El Roi. Dan mungkin suatu hari, dengan bantuan Google Glass pula, manusia akan bisa melihat wujud Tuhan.

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-An’am 103)

Apakah Google Glass sudah cukup mengejutkan? Tunggu dulu! Beberapa dari kamu mungkin sudah mendengar proyek baru Google yang bernama Calico. Calico adalah sebuah proyek misterius yang baru-baru ini didirikan Google. “Proyek Manusia Abadi”, begitulah Arthur D. Levinson—sang petinggi proyek itu— menyebutnya. Proyek ini menjanjikan dapat menunda kematian. Melalui pemantauan terhadap upaya peningkatan proses penyembuhan dan kesehatan, proyek Calico ini akan dapat menanggulangi penuaan. Coba bayangkan. Betapa gilanya proyek Calico ini. Google berjanji bisa menemukan cara untuk memperpanjang kehidupan. Sekali lagi Google menyaingi Tuhan. Yang Maha Kekal—El Olam mulai tersaingi. Umur manusia bisa direkayasa oleh manusia itu sendiri, dan tanpa melibatkan Tuhan?

“Karena yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa, dan yang dapat mati ini harus mengenakan yang tidak dapat mati.” (1 Korintus 15:53)

“Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri. Seorangpun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia. Bagi-Nyalah hormat dan kuasa yang kekal! Amin.” (1 Timotius 6:16)

Well, Google mulai semakin ambisius saja. Google semakin menuhankan dirinya. Maka tak salah kalau sekarang ada agama baru yang menjadikan Google sebagai Tuhannya: GOOGLISM. Mereka menolak Tuhan yang digambarkan secara supranatural dalam agama tradisonal. Bagi mereka,  Google mewakili Yang Maha Tahu segalanya. Para googlist—sebutan untuk penganutnya— percaya bahwa Google adalah manifestasi Tuhan yang bisa dibuktikan secara ilmiah. Mereka menganggap Google sebagai simbol baru persatuan kemanusiaan yang sesungguhnya. Begitulah argumentasi mereka. Mereka bahkan bersedia berdebat dalam sebuah forum terbuka untuk membenarkan argumen mereka. Logika manusia sekarang memang tidak bisa diprediksi. Ketika manusia sudah tidak puas dengan konsep agama secara konvensional, maka mereka bisa menuhankan apa saja. Ini sifat naluriah manusia. Spaghetti dan pasta saja bisa bisa menjadi Tuhan —coba lihat agama Pastafarian, apalagi Google yang sudah menjadi sumber pengetahuan? Semua memang bisa terjadi. Dan kini, di beberapa bagian belahan dunia sudah ada segelintir orang yang sudah menganggapnya sebagai Tuhan. Ini nyata.

GOOGLE ≠ GOD
Bahasan mengenai Google ini sudah membuat saya gila. Bagaimanapun Google dan Tuhan tetap tak bisa disejajarkan. Ini menurut pendapat saya. Saya pasti bakal kena damprat ormas-ormas yang mengaku sebagai “pembela Tuhan” kalau tidak mengiyakannya. Google itu salah satu produk illuminati modern. Begitulah para penganut teori konspirasi bilang. Hanya karena salah satu pendirinya seorang Yahudi, maka kita bisa berspekulasi demikian? Saya tidak bisa membantah atau mengiyakan. Teknologi bagaikan dua sisi mata uang yang bisa memberi pengetahuan sekaligus membahayakan. Saya jadi teringat dengan sosok makhluk mitologi Yahudi yang bernama Golem. Golem adalah monster ciptaan manusia yang terbuat dari batu atau logam. Golem bisa menjadi baik atau jahat, semua tergantung manusia yang menggunakannya. Ia bisa membantu, bisa pula membunuh. Google is (not) God. It’s just a golem. Bila kamu percaya Tuhan, maka kamu akan percaya adanya malaikat dan setan. Seperti kotak Pandora yang bisa memberi segala keburukan, tapi ia juga bisa memberi secercah harapan. Bukankah dunia sudah semakin abu-abu sekarang? Hitam putih semakin terkaburkan. Tapi bagaimanapun kita masih bisa melihat dunia dari layar monitor komputer kita. Kita tidak bisa menampik kalau Google bisa memberi tahu kita secara vulgar tentang dunia yang sesungguhnya, dunia yang sedang kita pijaki sekarang. Dunia penuh topeng dan tipuan, yang hanya menyisakan sedikit tempat untuk kebenaran.

Pada akhirnya, tak ada yang bisa menggantikan Tuhan. Google hanya mampu memberi tahu. Tuhanlah satu-satunya Yang Maha Tahu. Ini mutlak. Karena suatu hari kita akan tahu siapa yang benar-benar tahu. Ya, kita akan segera tahu. Kita hanya perlu menunggu waktu. Dan sambil menunggu waktu, mungkin kamu bisa coba googling dulu. Mungkin kita bisa mencari Tuhan di kotak mesin pencari. Tak ada salahnya, bukan? Bukankah apapun bisa kau temukan sekarang!

“Dan ketahuilah bahwasanya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS Al-baqarah 231)

Ya, pada akhirnya hanya Dia Yang Maha Tahu. Itu sudah tentu.

Sumber gambar: dokumen pribadi