image

Come with me and we will find heaven here. Together. Or Alone.

Apa Anda percaya surga? Bila Anda percaya, bisakah Anda jelaskan surga itu apa?

Di tengah kesibukanku menulis skripsi, tiba-tiba aku terganggu oleh sebuah notifikasi e-mail yang masuk ke laptopku. Aku tak mengenal siapa pengirim e-mail itu. Mungkin ini cuma spam. Tapi aku coba buka isi e-mail itu.

“Salam sejahtera untuk sahabat-sahabat yang berbahagia sekalian. Apa Anda percaya surga? Jika, ya. Maka kami akan dengan senang hati mengundang anda ke sana. Anda hanya perlu mengklik tautan di bawah dan kami akan tuntun Anda menuju surga impian Anda.”

Tanpa pikir panjang, aku langsung klik tautan itu. Aku lalu diarahkan pada sebuah situs yang memintaku mengisi formulir data diri. Situs macam apa ini? Mungkin ini cuma iklan produk sponsor seperti biasa. Atau jangan-jangan ini malware berbahaya? Aku tidak sanggup membaca alamat situs itu. Alamat tautannya hanya berupa huruf dan angka acak. Tampilan situsnya biasa saja. Tak ada efek animasi atau banner iklan seperti situs komersial umumnya. Tapi aku tak mau berlama-lama berkunjung ke situs itu. Semua ini hanya omong kosong belaka. Hanya orang bodoh yang mau mempercayainya.

“Apa? Elo dapet e-mail dari surga? Omong kosong macam apa itu?” seru Edi, salah satu temanku, saat aku menceritakan semua padanya di kantin kampus. “Sekarang ini orang jualan udah makin kreatif aja. Pake mau ngundang ke surga segala.”

“Mungkin persaingan dunia internet marketing udah semakin ketat kali, ya?”

Memang ada-ada saja kelakuan orang zaman sekarang. Hampir saja aku terkena tipu daya.

“Lo harus refreshing sejenak, Far. Sabtu ini, anak-anak mau ngajak makan-makan buat menyambut Ramadhan. Lo bakalan ikut, kan?” 

Aku tak menjawab.

“Lo butuh sedikit keriuhan. Gue tahu lo masih dalam masa berkabung, tapi gue harap lo mau datang, Far.”

Entahlah, aku tak bisa janji. Aku masih belum siap kembali dalam keriuhan. Aku masih tenggelam dalam kehilangan. Ayahku meninggal dua bulan lalu karena kanker prostat. Peristiwa ini sungguh memukul kami sekeluarga. Aku telah kehilangan sesosok pria berkarisma yang selalu menjadi panutan keluarga. Kini, Aku harus menjadi tulang punggung ketiga adikku yang masih belia. Sembari kuliah, aku bekerja sebagai desainer grafis di sebuah perusahaan IT di Bandung. Pekerjaanku memang cukup membantu keuangan keluarga. Tapi aku tetap tak akan bisa menggantikan sosok ayah. Aku masih membutuhkannya. Dan hanya akulah yang masih belum bisa menerima kepergiannya.

* * * *

Aku kembali serius menatap layar laptopku. Aku masih penasaran dengan e-mail itu. Kembali kuklik tautannya. Entahlah, aku begitu penasaran dengan keganjilan dalam situs itu. Dan tiba-tiba saja aku tergerak mengisi formulir registrasi yang tertera di sana. Ya, aku baru saja mengikuti tawaran undangan ke surga. Ini memang gila. Tapi tak ada salahnya aku mencoba. Aku hanya ingin mencoba. Seperti yang telah Edi bilang, aku memang butuh refreshing. Dan ini cuma salah satu bentuk usahanya. Kuharap apa yang kulakukan ini tidak akan berdampak apa-apa.

* * * *

Sayup-sayup kudengar suara ibu mengetuk pintu kamarku.

“Ayo bangun, Far! Ayo kita sahur!”

Beberapa kali ia menyahutiku hingga perlahan aku bisa membuka kedua kelopak mataku. Ah, malas sekali aku bangun. Segera kubasuh muka lalu bergegas menuju ruang makan. Suara keriuhan anak-anak yang tengah keliling kampung membangunkan sahur terdengar dari luar. Udara dingin jadi sedikit tersamarkan.

Bulan suci telah kembali. Waktu begitu cepat tereduksi. Begitu banyak hal yang telah terjadi. Kini semua sudah tak sama lagi.

Kulangkahkan kakiku menuju ruang makan. Suara ketiga adikku riuh seperti biasa. Tapi tiba-tiba aku mendengar suara yang nampaknya sangat familiar di telinga.

“Ayah?” Mataku tak berkedip. Kulihat Ayah tengah duduk di meja makan bersama ketiga adikku. Ia mengenakan kaos putih favoritnya. Raut muka dan senyumnya sungguh nyata. Kenapa Ayah ada di sini? Bukankah Ayah sudah meninggalkan kami? Bukankah Ayah sudah ada di sisi-Nya kini? Tapi kenapa ia hadir di depan mataku. Oh, mungkin ini cuma mimpi. Tapi kenapa terasa nyata?

“Lho kok kamu baru bangun sih?” ujar Ayah sembari menyeruput segelas teh hangat. Aku hanya bisa diam dan segera duduk di kursi. “Sudah hampir subuh. Ayo kita makan! Nanti keburu imsak lho!”

Ibu bergabung sambil membawa sepiring ayam goreng. Lengkap sudah meja makan terisi. Ada soto, tahu goreng, kerupuk dan sebakul nasi. Aku masih bingung melihat keganjilan yang sedang terjadi. Sahur pertama bulan Ramadhan tahun ini akan dimulai sebentar lagi.

“Alhamdulillah, kita masih diberi kenikmatan untuk berkumpul di bulan puasa tahun ini.” ujar Ayah membuka sahur. “Ayah sempatkan diri pulang ke rumah untuk makan sahur bersama. Semoga kita selalu dijauhkan dari api neraka dan semakin didekatkan dengan nikmat surga.”

Surga? Begitu mendengarnya aku langsung teringat dengan e-mail aneh itu. Pulang? Maksud Ayah apa? Memangnya Ayah sudah pergi dari mana? Semua ini tak ada hubungannya, kan? Ini cuma mimpi biasa. Ya, semua ini cuma imajinasi alam sadarku saja.

“Sebelum kita sahur, ada baiknya kita berdoa terlebih dahulu.” Ayah mulai melafalkan doa sahur. Sejenak, kami mengangkat tangan dan berdoa khusuk dalam keheningan syahdu. Suasana ini? Kehangatan ini? Sungguhlah aku merindukannya. Aku tak peduli semua ini nyata atau tidak. Aku hanya ingin duduk di sini bersama keluargaku tercinta. Bersama Ibu, adik-adikku dan Ayah. Bersama kenangan indah kami yang begitu bermakna. Hanya itulah permintaanku. Ya Allah, kumohon jangan pisahkan kami sekeluarga! Aku menyayangi mereka. Bersama mereka, aku menemukan surga.

Kuusapkan tanganku ke wajah dan mengakhiri doa. Lalu kudengar sayup-sayup suara Ibu tengah mengetuk pintu.

“Far, ayo bangun! Ayo kita sahur!”

Aku buka mataku dan terdiam dalam keheningan hakiki. Aku lalu bergegas membuka laptopku. Sebuah email baru telah masuk. Aku langsung membuka email itu.

“Dear, saudara Gifar. Apa Anda sudah menemukan surga Anda?”

Aku membeku membaca isi e-mail itu. Ya, aku percaya surga itu ada. Aku telah menemukannya dibalik kenangan yang tersisa. Tuhan telah memberi surga dalam setiap diri manusia. Kini aku tahu tahu surga itu apa.

Aku buka kembali e-mail aneh yang kuterima lusa lalu. Dan pandanganku segera terarah ke atas badan e-mail. Kukeketik beberapa kontak di kotak penerima lalu kupijit tombol forward. Kuharap seseorang juga akan menemukan surga di sana.

* * * * 

Cerpen ini dimuat dalam buku kumpulan cerpen Kejutan Sebelum Ramadhan pada kompetisi #ProyekMenulis yang diadakan NulisBuku.com. Cerpen ini terpilih bersama 200 cerpen lain yang diterbitkan dalam 18 buku antologi cerpen pilihan seperti yang dapat dilihat dalam tautan berikut:  http://nulisbuku.com/blog/2013/07/inilah-daftar-lengkap-buku-proyekmenulis-kejutan-sebelum-ramdhan/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s