Arsip untuk Agustus, 2013

image

Who me? Alien baby?

Am I an alien?
A strange creature or unidentified fuckin human?

Pertanyaan absurd itu selalu muncul dalam benak saya ketika masih kecil. Saya anak yang pendiam. Saya kurang bisa membaur dengan lingkungan sekitar. Saya gak suka banyak bicara. Ketika kumpul dengan keluarga besar, saya lebih senang berdiam diri di kamar. Di tengah keriuhan kelas, saya lebih sering duduk mengasingkan diri hanya dengan krayon dan kertas gambar. Saya ini sebuah paradoks. Teman-teman banyak yang menganggap saya sombong dan arogan karena dinilai tak mau bergaul dengan sesama. Tapi kenyataannya saya tidak begitu. Ini sungguh membuat saya tertekan dan membuat saya semakin terasingkan. Ini sungguh menyakitkan. Kenapa saya berbeda dari mereka? Siapakah saya? Apa saya ini makhluk asing yang turun dari planet antah berantah? Mungkinkah saya ini alien seperti yang sering saya tonton dalam film-film fiksi ilmiah?

Pertanyaan konyol itu terus berlanjut hingga saya remaja dan kini beranjak dewasa. Saya masih mengasingkan diri dari dunia luar. Saya masih begitu nyaman dengan dunia saya sendiri. Dan saya masih belum tahu siapa diri saya sampai suatu hari saya membaca sebuah artikel yang bisa menjelaskan kepribadian saya. Ya, kepribadian yang dibahas dalam artikel itu benar-benar sangat cocok dengan kepribadian saya. Introvert, itulah saya. Dan mungkin juga untuk kamu-kamu yang punya kepribadian seperti saya. Ternyata saya tidak sendiri. Ternyata saya ini bukan makhluk asing yang berasal dari planet Pandora. Ternyata saya ini memang manusia. Tapi jenis manusia langka yang konon katanya hanya ada 20% dari populasi manusia yang ada di dunia.

Kepribadian introvert adalah kebalikan dari extrovert. Satu sama lain memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Orang extrovert cenderung membuka diri sedangkan orang introvert sebaliknya. Ibarat bumi dan langit, kedua kepribadian itu membuat karakter manusia menjadi semakin berwarna. Semua saling mengisi. Semua istimewa,. Tapi kali ini saya cuma ingin membahas kepribadian yang kedua, yakni introvert. Kepribadian saya, dan mungkin kepribadian kamu juga.  

Menurut beberapa artikel studi ilmiah yang sempat saya baca, orang introvert itu cenderung mudah depresi. Sebagian diantara mereka gak bisa menerima diri sendiri. Kesendirian mereka bisa menjadi boomerang pribadi. Mereka tak tahu bagaimana cara berbagi. Mereka cenderung menyalahkan diri dan bahkan bisa berakhir dengan menghilangkan nyawa sendiri. Wuihh… serem! Jujur, saya juga sempet yang namanya depresi. Ini gila. Kita seakan ingin mengutuk diri sendiri. Kenapa sih saya dilahirkan ke dunia ini? Lebih baik saya diaborsi. Saya takut hidup sendiri. Terisolasi dari planet bumi. Bahkan saya berharap untuk diculik oleh alien ke planet lain dan tinggal di dunia yang tidak menuntut saya untuk bersosialisasi. Cuma saya yang mengerti saya sendiri. Eksistensi saya seperti sudah ditelan bumi.

Introvert itu menyebalkan? Entahlah.  Setelah saya coba googling dengan kata kunci introvert, saya banyak menemukan tulisan menakjubkan yang membahas tentang kepribadian unik itu. Banyak orang-orang keren di dunia ini yang ternyata seorang introvert. Yay, that is true!!! Bill Gates, Mahatma Gandhi, JK Rowling dan Steve Jobs adalah contohnya. Sebagian besar orang-orang introvert adalah orang-orang yang penuh kreatifitas tinggi. Pemikiran mereka adalah sebuah manifestasi. Karena mereka cenderung menutup diri, maka ide-ide yang meluncur dari pemikiran mereka cenderung lebih tereksplorasi. Meskipun mereka minim dalam berinteraksi tapi mereka sangat pandai dalam memaksimalkan bakat dan potensi yang mereka miliki. Introversi adalah sebuah investasi. Ini terbukti.

Introversion is “the state of or tendency toward being wholly or predominantly concerned with and interested in one’s own mental life”. Some popular writers have characterized introverts as people whose energy tends to expand through reflection and dwindle during interaction. (sumber : wikipedia)

Menjadi introvert bukan suatu pilihan. Jujur, saya sempat tidak mau memilih introvert sebagai jati diri saya. Tapi mau gimana lagi, wong ini udah dari sononya begitu. Biarkan orang-orang menjudge saya, saya memang begini apa adanya. Do we suck? No! Like what I said, we’re just different. Menjadi pendiam itu bukan kutukan. Kita tidak selamanya terasingkan. Ada kalanya kita cerewet dan tertawa terbahak-bahak dengan teman-teman dekat kita. Orang introvert memang cenderung memiliki sedikit teman. Meskipun sedikit, tapi berkualitas karena teman mereka adalah teman-teman dekat atau sahabat yang bisa dipercaya. Dan saya akui itu. Saya punya beberapa teman SMA yang masih eksis sampai sekarang. Ketika bersama mereka, saya benar-benar merasa jadi diri saya. Mereka tahu baik buruknya saya. Saya bisa bercanda dan tertawa lepas bersama mereka. Ini sungguh kontras bila saya berada di tengah orang-orang yang berbeda. Saya merasa normal seperti anak muda pada umumnya.

Orang introvert itu mungkin terlihat cuek. Tapi di balik kecuekannya itu mereka memiliki “kekepoan” yang luar biasa. Dalam kesendirian, mereka senang membaca. Poin ini kembali saya akui. Ketika waktu senggang, saya lebih suka menyibukkan diri dengan googling atau browsing. Mulai dari membaca informasi gak penting sampai informasi yang benar-benar penting. Mungkin mereka sering terlihat bego kalau berinteraksi dengan lingkungan sekitar, tapi sebenarnya mereka memiliki wawasan yang sangat luas! (Wuih, mulai sombong nih hehe!). Cuman sayangnya mereka kurang bisa mengungkapkan kepandaian mereka. Semua itu karena terbatasnya kemampuan lisan mereka. Eits, tapi jangan salah lho! Mereka bisa jadi pembicara yang luar biasa ketika dihadapkan dalam sebuah forum resmi. Ketika masih sekolah, saya suka sekali mengikuti lomba pidato atau debat. Saya senang berbicara di depan kelas, terutama saat saya menguasai materinya. Sampai sekarang pun masih begitu. Saya sangat senang berbicara dalam seminar, beradu argumen dalam forum biasa atau di dunia maya dan berbicara dalam sebuah wawancara kerja. Saya bisa bersuara. Ya, tapi bukan buat basa basi semata. Dan satu hal lagi, orang introvert juga cenderung lebih aktif di dunia maya. Jangan heran kalau mereka lebih cerewet di jejaring sosial. Mereka memang lebih nyaman mengungkapkan segala sesuatu dengan tulisan. Buktinya saya hehe… Saya senang sekali menulis seperti tulisan yang sedang kamu baca ini. Saya suka sekali ngeblog, nulis artikel atau cerita fiksi. Saya lebih senang mengungkapkan pemikiran dalam ketikan kata-kata. Makannya jangan heran kalau banyak orang introvert yang jadi penulis atau ahli filsafat. Penulis dan filsuf seperti Plato, Jean-Paul Sartre, Friedrich Nietzsche atau Milan Kundera adalah contohnya. Mereka besar dengan tulisan mereka yang fenomenal, bahkan kontroversial.

Ya, begitulah introvert. Terkadang pemikiran mereka agak berbeda dari pemikiran kebanyakan orang. Mereka orang yang sangat prinsipal dan memandang hidup secara esensial. Pemikiran mereka cenderung masuk ke dalam. Terkadang, mereka tak mau mengikuti alur hidup orang kebanyakan. Pemikiran mereka jauh dari kata mainstream. Mereka adalah para pemikir abstrak yang tak mudah dijebak. Mereka tidak mudah terpengaruh oleh orang lain. Tapi mereka juga tak akan berusaha untuk mempengaruhi orang lain. Orang lain akan terpengaruh dengan sendirinya tanpa orasi basa-basi. And it’s naturally! Not artificial or officially. Just go flow and simply.

Ternyata karakter introvert gak seburuk yang kita duga. Di balik kelemahannya, seseorang yang introvert ternyata bisa mengubah dunia. Memang semua itu tidak bisa terjadi secara radikal, tapi jangan remehkan kemampuan mereka. Mereka bisa sangat mengejutkan dalam sebuah kesempatan. Buat kamu yang merasa introvert, berikut ini berapa alasan kenapa kamu harus berbesar hati (tapi jangan untuk menyombongkan diri tentunya) menjadi seorang introvert :

1. Orang introvert itu mandiri
We’re not an individualist! Kita cuma senang menyendiri. Orang introvert lebih senang mengerjakan segala sesuatu sendiri. Mereka tak akan meminta bantuan orang lain selama masih bisa mengerjakannya sendiri. Mereka tak ingin terikat oleh apapun. Bantuan orang lain adalah sesuatu yang sangat mahal bagi mereka. Mereka tak ingin menyusahkan orang lain untuk alasan yang sepele.

2. Orang introvert itu mempunyai toleransi yang tinggi
Siapa bilang mereka cuek dan arogan? Justru dibalik sifat diam mereka ada suatu empati. Mereka lebih baik mengalah daripada harus terjadi konflik. Mereka sangat menghargai kehadiran orang-orang yang ada di sekitar mereka. Mereka akan membiarkan orang lain bicara terlebih dahulu dalam berargumentasi. Tapi jangan harapkan mereka kalah dalam beradu argumentasi. Mereka cuma tak ingin mengacau. Sangat pantang bagi mereka untuk membuat seseorang sakit hati. Karena mereka akan sangat merasa bersalah bila itu terjadi.

3. Orang introvert itu punya idealis tinggi
Seperti yang saya bilang tadi, introvert itu prinsipal sekali. Mereka akan melakukan apapun untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Mereka cenderung obsesif dan tidak mudah digoyahkan oleh pemikiran sekilas.

4. Orang introvert itu kreatif
Karena mereka lebih senang memikirkan segala sesuatu sendiri, maka ide-ide yang keluar dari pikiran mereka pun cenderung orisinil. Kebanyakan mereka cocok bekerja dalam bidang kreatif seperti seni atau sains yang memiliki tingkat orisinalitas yang tinggi.

5. Orang introvert itu loyalis
Yap, mereka akan selalu berpegang  teguh dengan apa yang mereka yakini. Mereka adalah sahabat yang setia. Mereka akan menjadi karyawan yang loyal bila mereka dipercaya dan dihargai.

6. Orang introvert itu peduli
Tidak banyak yang tahu akan hal ini. Mereka itu sebenarnya peduli. Mereka akan melakukan apapun untuk orang yang mereka sayangi. Mereka akan selalu siap membantu siapa pun juga. Hanya saja mereka tak ingin bantuan atau pertolongan mereka diketahui orang lain. Mereka tidak mau semua orang tahu karena mereka tidak ingin menonjolkan diri. Menonjolkan diri membuat mereka tak nyaman. Menjadi pusat perhatian adalah sebuah beban. Mereka hanya ingin mengulurkan tangan. Tak ada niat lain selain untuk memberi pertolongan. 

Itulah beberapa kelebihan orang introvert yang saya ketahui. Kita memang punya banyak kekurangan, tapi kita juga punya kelebihan yang sangat berpotensi. Saya cuma ingin mensyukuri apa yang telah Tuhan beri. Saya tidak ingin meninggikan hati. Ini cuma sebuah bentuk motivasi diri. Saya bukan alien atau makhluk asing lagi. Well, anggap saja itu hanya sebagai buah pemikiran imajinatif semata. Tapi alien juga makhluk Tuhan kan? Saya gak peduli dengan para pemikir materialis yang memperdebatkan hal ini. Alien atau bukan, yang penting kita mencintai diri kita sendiri

Okay, I’m not an alien. Nor an alien in human body. No matter what they say, people will always judge. So I just have to smile and relax, I’m just an introvert and now, I’m really proud of it. Excactly!! 🙂

(Sumber gambar : google)

Iklan

image

Come with me and we will find heaven here. Together. Or Alone.

Apa Anda percaya surga? Bila Anda percaya, bisakah Anda jelaskan surga itu apa?

Di tengah kesibukanku menulis skripsi, tiba-tiba aku terganggu oleh sebuah notifikasi e-mail yang masuk ke laptopku. Aku tak mengenal siapa pengirim e-mail itu. Mungkin ini cuma spam. Tapi aku coba buka isi e-mail itu.

“Salam sejahtera untuk sahabat-sahabat yang berbahagia sekalian. Apa Anda percaya surga? Jika, ya. Maka kami akan dengan senang hati mengundang anda ke sana. Anda hanya perlu mengklik tautan di bawah dan kami akan tuntun Anda menuju surga impian Anda.”

Tanpa pikir panjang, aku langsung klik tautan itu. Aku lalu diarahkan pada sebuah situs yang memintaku mengisi formulir data diri. Situs macam apa ini? Mungkin ini cuma iklan produk sponsor seperti biasa. Atau jangan-jangan ini malware berbahaya? Aku tidak sanggup membaca alamat situs itu. Alamat tautannya hanya berupa huruf dan angka acak. Tampilan situsnya biasa saja. Tak ada efek animasi atau banner iklan seperti situs komersial umumnya. Tapi aku tak mau berlama-lama berkunjung ke situs itu. Semua ini hanya omong kosong belaka. Hanya orang bodoh yang mau mempercayainya.

“Apa? Elo dapet e-mail dari surga? Omong kosong macam apa itu?” seru Edi, salah satu temanku, saat aku menceritakan semua padanya di kantin kampus. “Sekarang ini orang jualan udah makin kreatif aja. Pake mau ngundang ke surga segala.”

“Mungkin persaingan dunia internet marketing udah semakin ketat kali, ya?”

Memang ada-ada saja kelakuan orang zaman sekarang. Hampir saja aku terkena tipu daya.

“Lo harus refreshing sejenak, Far. Sabtu ini, anak-anak mau ngajak makan-makan buat menyambut Ramadhan. Lo bakalan ikut, kan?” 

Aku tak menjawab.

“Lo butuh sedikit keriuhan. Gue tahu lo masih dalam masa berkabung, tapi gue harap lo mau datang, Far.”

Entahlah, aku tak bisa janji. Aku masih belum siap kembali dalam keriuhan. Aku masih tenggelam dalam kehilangan. Ayahku meninggal dua bulan lalu karena kanker prostat. Peristiwa ini sungguh memukul kami sekeluarga. Aku telah kehilangan sesosok pria berkarisma yang selalu menjadi panutan keluarga. Kini, Aku harus menjadi tulang punggung ketiga adikku yang masih belia. Sembari kuliah, aku bekerja sebagai desainer grafis di sebuah perusahaan IT di Bandung. Pekerjaanku memang cukup membantu keuangan keluarga. Tapi aku tetap tak akan bisa menggantikan sosok ayah. Aku masih membutuhkannya. Dan hanya akulah yang masih belum bisa menerima kepergiannya.

* * * *

Aku kembali serius menatap layar laptopku. Aku masih penasaran dengan e-mail itu. Kembali kuklik tautannya. Entahlah, aku begitu penasaran dengan keganjilan dalam situs itu. Dan tiba-tiba saja aku tergerak mengisi formulir registrasi yang tertera di sana. Ya, aku baru saja mengikuti tawaran undangan ke surga. Ini memang gila. Tapi tak ada salahnya aku mencoba. Aku hanya ingin mencoba. Seperti yang telah Edi bilang, aku memang butuh refreshing. Dan ini cuma salah satu bentuk usahanya. Kuharap apa yang kulakukan ini tidak akan berdampak apa-apa.

* * * *

Sayup-sayup kudengar suara ibu mengetuk pintu kamarku.

“Ayo bangun, Far! Ayo kita sahur!”

Beberapa kali ia menyahutiku hingga perlahan aku bisa membuka kedua kelopak mataku. Ah, malas sekali aku bangun. Segera kubasuh muka lalu bergegas menuju ruang makan. Suara keriuhan anak-anak yang tengah keliling kampung membangunkan sahur terdengar dari luar. Udara dingin jadi sedikit tersamarkan.

Bulan suci telah kembali. Waktu begitu cepat tereduksi. Begitu banyak hal yang telah terjadi. Kini semua sudah tak sama lagi.

Kulangkahkan kakiku menuju ruang makan. Suara ketiga adikku riuh seperti biasa. Tapi tiba-tiba aku mendengar suara yang nampaknya sangat familiar di telinga.

“Ayah?” Mataku tak berkedip. Kulihat Ayah tengah duduk di meja makan bersama ketiga adikku. Ia mengenakan kaos putih favoritnya. Raut muka dan senyumnya sungguh nyata. Kenapa Ayah ada di sini? Bukankah Ayah sudah meninggalkan kami? Bukankah Ayah sudah ada di sisi-Nya kini? Tapi kenapa ia hadir di depan mataku. Oh, mungkin ini cuma mimpi. Tapi kenapa terasa nyata?

“Lho kok kamu baru bangun sih?” ujar Ayah sembari menyeruput segelas teh hangat. Aku hanya bisa diam dan segera duduk di kursi. “Sudah hampir subuh. Ayo kita makan! Nanti keburu imsak lho!”

Ibu bergabung sambil membawa sepiring ayam goreng. Lengkap sudah meja makan terisi. Ada soto, tahu goreng, kerupuk dan sebakul nasi. Aku masih bingung melihat keganjilan yang sedang terjadi. Sahur pertama bulan Ramadhan tahun ini akan dimulai sebentar lagi.

“Alhamdulillah, kita masih diberi kenikmatan untuk berkumpul di bulan puasa tahun ini.” ujar Ayah membuka sahur. “Ayah sempatkan diri pulang ke rumah untuk makan sahur bersama. Semoga kita selalu dijauhkan dari api neraka dan semakin didekatkan dengan nikmat surga.”

Surga? Begitu mendengarnya aku langsung teringat dengan e-mail aneh itu. Pulang? Maksud Ayah apa? Memangnya Ayah sudah pergi dari mana? Semua ini tak ada hubungannya, kan? Ini cuma mimpi biasa. Ya, semua ini cuma imajinasi alam sadarku saja.

“Sebelum kita sahur, ada baiknya kita berdoa terlebih dahulu.” Ayah mulai melafalkan doa sahur. Sejenak, kami mengangkat tangan dan berdoa khusuk dalam keheningan syahdu. Suasana ini? Kehangatan ini? Sungguhlah aku merindukannya. Aku tak peduli semua ini nyata atau tidak. Aku hanya ingin duduk di sini bersama keluargaku tercinta. Bersama Ibu, adik-adikku dan Ayah. Bersama kenangan indah kami yang begitu bermakna. Hanya itulah permintaanku. Ya Allah, kumohon jangan pisahkan kami sekeluarga! Aku menyayangi mereka. Bersama mereka, aku menemukan surga.

Kuusapkan tanganku ke wajah dan mengakhiri doa. Lalu kudengar sayup-sayup suara Ibu tengah mengetuk pintu.

“Far, ayo bangun! Ayo kita sahur!”

Aku buka mataku dan terdiam dalam keheningan hakiki. Aku lalu bergegas membuka laptopku. Sebuah email baru telah masuk. Aku langsung membuka email itu.

“Dear, saudara Gifar. Apa Anda sudah menemukan surga Anda?”

Aku membeku membaca isi e-mail itu. Ya, aku percaya surga itu ada. Aku telah menemukannya dibalik kenangan yang tersisa. Tuhan telah memberi surga dalam setiap diri manusia. Kini aku tahu tahu surga itu apa.

Aku buka kembali e-mail aneh yang kuterima lusa lalu. Dan pandanganku segera terarah ke atas badan e-mail. Kukeketik beberapa kontak di kotak penerima lalu kupijit tombol forward. Kuharap seseorang juga akan menemukan surga di sana.

* * * * 

Cerpen ini dimuat dalam buku kumpulan cerpen Kejutan Sebelum Ramadhan pada kompetisi #ProyekMenulis yang diadakan NulisBuku.com. Cerpen ini terpilih bersama 200 cerpen lain yang diterbitkan dalam 18 buku antologi cerpen pilihan seperti yang dapat dilihat dalam tautan berikut:  http://nulisbuku.com/blog/2013/07/inilah-daftar-lengkap-buku-proyekmenulis-kejutan-sebelum-ramdhan/