image

The world has changed. We're still alive, everyone! We're standing here for revolution.

Jakarta, 07.30 PM, 05 Mei 2028

Senayan bergelora. Merah putih berkibar dimana-mana. Gerbang utama stadion Gelora Bung Karno padat luar biasa. Tak ada pertandingan sepak bola. Timnas kebanggaan kita sudah lama pensiun berlaga. Sejak sepuluh tahun lalu, dunia sudah tidak mengenal lagi olahraga. Maka keramaian seperti sekarang ini adalah sesuatu yang langka.

Peringatan seratus dua puluh tahun hari kebangkitan nasional akan berlangsung malam ini. Sebuah perubahan besar akan berlangsung sebentar lagi.

“Masuklah sekarang, Dan!” seru Erik dari earphone mini yang tersembunyi dalam telingaku. Dari basecamp, ia memantau keberadaanku. Kubayangkan dirinya sedang duduk was-was di depan komputer bersama teman-teman lainnya.

“Aku masih belum yakin dengan ini, Rik,” kataku ragu.

“Kau ini bicara apa? Musa sudah ada di dalam stadion. Dia akan membantumu.”

“Ya, aku sudah di sini.” Suara Musa muncul tiba-tiba. “Semuanya akan baik-baik saja. Inilah saatnya, Dan.”

Aku buka tanganku. Sebuah kapsul menyerupai tabung reaksi seukuran 3 cm ada dalam genggamanku.

Musa kembali bersuara. “Lakukan saja seperti yang sudah kita rencanakan. Kamu akan aman. Tuhan bersama kita, Dan.”

Aku coba singkirkan segala keraguanku. Ucapan Musa seakan menetralisir hatiku. Mimpi buruk itu akan berakhir. Ya, aku harus meyakini itu.

“Bismillahirrahmanirrahim…”

Mulutku reflek bersuara. Sudah lama sekali aku tak melapalkan kalimat suci itu. Ini sungguh sulit dipercaya. Kuhela napas panjang. Kuluruskan pandanganku ke depan. Kakiku mulai melangkah perlahan menuju pintu gerbang. Inilah saat yang telah lama dinanti itu. Operasi benih suci telah dimulai. Di sini aku, Muhammad Aidan. Aku telah siap memulai perubahan.

* * * *

“Dunia sudah tak seperti yang kau bayangkan. Apa yang kau lihat sekarang adalah sebuah mimpi buruk panjang yang tak pernah kau harapkan.”

Begitulah ucapan terakhir Profesor Surya sebelum laboratoriumnya diserang kelompok pemberontak Neo Republik Semesta atau NRS. Ia meninggal dunia setelah mengabdikan diri untuk membuat perubahan. Sebuah benih beras unggul telah ia temukan. Sebuah benih yang sudah lama dinanti semua orang.

NRS hendak menghancurkan benih itu, tapi mereka tidak berhasil menemukannya karena benih itu sudah profesor titipkan padaku. Sebelum serangan itu terjadi, ia sudah mendapat firasat. Aku tak tahu kenapa ia menitipkannya padaku. Aku hanya seorang mahasiswa biasa yang sama dengan mahasiswa lain yang diajarnya. Aku tak tahu kenapa ia memilihku dan kini semua orang menuduhku. Mereka menganggap aku terlibat dalam serangan itu. Saat serangan itu terjadi, aku sedang berada di asrama dan aku sama sekali tak tahu menahu. Semua orang kini mengejarku. Pemerintah menjadikanku buronan nomor satu. Semua ini karena benih itu? Seberapa berhargakah benih itu? Kenapa semua orang ingin memiliki benda yang kini menjadi keramat itu?

Dunia sudah tak lagi sama. Masa sekarang adalah masa dimana dunia sudah berubah seutuhnya. Masa depan ternyata tak sesuai dengan harapan. Kemajuan ekonomi harus pupus setelah kegagalan panen raya 10 tahun lalu. Bumi ternyata telah menua begitu cepat. Perubahan iklim datang terlalu awal. Kelaparan menjadi bencana, bukan hanya di negeri ini tapi juga diseluruh belahan dunia. Kekeringan terjadi dimana-mana. Hanya sebagian kecil wilayah saja yang belum terkena imbasnya. Sawah-sawah mengering, ladang gandum dan jagung hanya menjadi tanah lapang. Semua orang tak tahu apa yang harus mereka makan. Produksi komoditas alam menurun tajam. Tak ada ada sayuran, buah-buahan atau daging-dagingan. Bahan makanan organik sudah lama menghilang. Semua orang kini bergantung pada bahan makanan sintesis yang beredar luas di pasaran.

Masa sekarang adalah masa dimana harga obat terlarang lebih murah daripada harga beras kualitas rendahan. Kini harga 1 ons beras sama dengan 2 kilogram bubuk zat terlarang. Halal dan haram sudah sulit dibedakan. Kepentingan perut bisa mereduksi keimanan seseorang. Tak ada yang melarang. Pemerintah tidak bisa berbuat apa-apa. Tak ada yang bisa menawarkan solusi pasti. Semua menjadi suatu yang lumrah dan biasa sekali. Sebuah zat baru telah ditemukan. Xerotamin adalah zat sintetis turunan ampetamin yang dapat dengan mudah dibeli di pasaran. Hanya dengan mengkonsumsi beberapa gram, seseorang bisa menahan lapar hingga sepekan. Sungguh menakjubkan. Tapi kau harus merelakan tubuhmu menjadi kurus kerontang, energi yang kau hasilkan dikuras dari organ-organ dalam dan kau akan kehilangan nyawamu enam bulan kemudian.

Tak ada pilihan lain. Kesehatan sudah bukan menjadi beban. Jalanan sudah bagaikan kompleks pemakaman. Bangkai manusia bisa dengan mudah kau temukan. Ya, inilah realitas yang tak pernah kau harapkan. Semua orang hanya berusaha memperpanjang kehidupan. Maka ketika benih unggul itu ditemukan, semua orang bersuka cita. Benih itu berhasil tercipta setelah penelian panjang yang dilakukan Profesor Surya dan beberapa mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor yang dibimbingnya, termasuk aku. Dengan bantuan dari Badan Tenaga Nukllir Nasional, kami melakukan rekayasa pangan untuk menghasilkan jenis beras unggulan yang mampu bertahan di iklim sekarang. Penelitian kami membuahkan hasil, sebuah benih beras baru telah kami temukan. Benih beras unggul itu kami namai Firdaus17 atau disingkat FS17, sebagai bentuk harapan kami akan taman Firdaus, salah satu surga terindah sekaligus lambang kesuburan yang telah dijanjikan Tuhan. Angka 17 dipakai karena benih itu tercipta setelah kami melakukan percobaan ke 17. Benih itu adalah benih istimewa. Benih itu mampu bertahan terhadap segala bentuk perubahan iklim dan cuaca, hanya memerlukan suplai air sedikit, tahan terhadap segala macam hama serta mampu menghasilkan panen berlimpah hampir 10 kali lipat dalam waktu 30 hari saja. Sungguh luar biasa. Ini adalah sebuah keajaiban ilmu pengetahuan yang tak mungkin bisa ditampik oleh siapapun juga.

Tapi tak semua orang senang dengan temuan ini. Ada beberapa pihak yang mencoba menghancurkan temuan berharga itu. Salah satunya kelompok Neo Revolusi Semesta atau NRS. Mereka adalah kelompok kartel narkoba pemasok xerotamin yang sudah dianggap sebagai musuh negara. Mereka sudah pernah beberapa kali mencoba melakukan kudeta. Merekalah dalang utama penyerangan yang menewaskan Profesor Surya. Mereka menginginkan benih itu dan kini mereka ikut mencariku.

Aku harus melakukan pelarian panjang. Dalam pelarianku, aku merasa sangat tersiksa. Aku bersembunyi dan berpindah dari kota satu ke kota lainnya. Aku sendirian. Tanpa kawan ataupun keluarga. Ini sungguh tidak adil. Mereka menyalahkanku dan aku merasa putus asa. Di tengah keputusasaanku itulah aku bertemu Musa. Dia menolongku saat aku dikejar polisi di salah satu kota kecil di utara pulau Jawa. Dan ia langsung mengajakku untuk tinggal di kediamannya yang berupa sebuah basecamp konsenterasi sebuah organisasi rahasia. Musa adalah seorang hacker hebat. Ia adalah anggota Heksagon, sebuah organisasi peretas yang berjuang secara gerilya melawan ketidakadilan lewat dunia maya. Heksagon adalah organisasi yang unik. Tak ada pemimpin dalam organisasi ini. Semua bergabung secara sukarela dengan masing-masing memegang kode etik rahasia. Anggotanya menyebar dari seluruh penjuru nusantara.

Kuputuskan untuk tinggal sementara bersama Musa dan kawan-kawannya. Musa adalah orang paling idealis yang pernah ada. Setelah kematian Profesor Surya, tak pernah kulihat orang seperti ini lagi di dunia. Ia adalah orang paling relijius yang pernah kukenal. Aku sungguh takjub begitu melihat ia masih bersembahyang. Ia masih setia dengan keislamannya. Di zaman sekarang, orang-orang sudah melupakan Tuhan. Agama sudah tak lagi dijadikan pedoman. Para ulama sudah menghilang. Masjid dan rumah ibadah lengang. Sebagian malah sudah berubah fungsi menjadi tempat singgah tunawisma dan anak jalanan.

Musa itu orang yang sangat langka. Tak seperti kami, ia menolak untuk mengkonsumsi xerotamin sebagai penunda lapar. Ia lebih memilih berpuasa dan berbuka hanya dengan sepotong roti kadaluarsa. Di sela-sela kesibukan dengan komputernya, ia masih sempatkan diri untuk membaca kitab suci yang bahkan aku sendiri sudah lupa namanya.

“Al-Quran. Itulah nama kitab suci ini. Kau sudah lupa, ya?” ucap Musa sambil meletakkan kitab suci itu di atas layar komputernya.

“Apa kau masih percaya Tuhan?” tanyaku konyol.

Ia tersenyum. Ia langsung menghadap ke arahku. Aku pikir dia akan marah dengan pertanyaanku itu, tapi ternyata tidak.

“Kau sudah tahu jawabannya, bukan?” jawabnya malah balik bertanya.

“Tapi kenapa?”

Musa kembali tersenyum. Ia ambil remote dan mematikan televisi. “Di zaman sekarang, dunia sudah tak bisa lagi kau harapkan. Segala bentuk materialisme dan kebendaan pada akhirnya hanya akan membuatmu kecewa. Kau tak akan pernah terpuaskan. Maka itulah kita membutuhkan iman. Tanpa iman, kita bisa gila karena terus bergelut dalam ketidakpuasan.”

Tanpa iman, kita bisa gila? Aha, sindiran sarkatis macam apa itu? Batinku seakan tertohok. Ya, sebentar lagi mungkin aku akan ikut gila.

Ia meneruskan perkataannya. “Manusia butuh lebih dari sekedar logika. Akan selalu ada ruang kosong di dada yang membuatmu ingin selalu bertanya. Manusia selalu butuh sesuatu yang sempurna. Apa kau punya segala kesempurnaan itu? Tentu saja tidak. Karena itulah aku percaya. Aku membutuhkan-Nya. Kita membutuhkan-Nya.”

“Lalu, apa yang sedang terjadi pada dunia sekarang? Apa Tuhan sedang marah? Apa Dia sedang menghukum kita.”

“Entahlah, tapi setahuku Tuhan itu Maha Pengasih. Apa yang terjadi sekarang adalah akibat dari apa yang telah kita lakukan. Bumi tidak akan sakit sekronis ini kalau kita memperlakukannya dengan hati, bukan dengan keserakahan dan arogansi. Jangan buru-buru menyalahkan Tuhan kalau Dia sedang menghukum kita. Kitalah yang salah. Kita sedang dihukum oleh perbuatan yang telah kita lakukan sendiri.”

Aku tak bisa berargumentasi lagi. Pikiranku mulai terkontaminasi. Ya, itulah Musa. Apa yang terucap dari mulutnya selalu tak mudah untuk dicerna. Pemikirannya bisa membuatmu buta logika dan pada akhirnya kau hanya bisa terdiam tanpa kata.

* * * *

“Salam sejahtera untuk seluruh rakyat Indonesia di seluruh penjuru nusantara. Kalian tentu sudah mengenal saya. Saya Muhammad Aidan. Benih Firdaus17 masih berada di tangan saya. Saya ingin kembali menegaskan kepada saudara sebangsa dan setanah air semua. Saya ini tidak bersalah! NRS-lah pelaku sebenarnya! Profesor Surya sudah menyerahkan benih ini pada saya tiga hari sebelum ia tewas. Saya hanya melakukan tugas saya tanpa maksud apa-apa. Jika saudara-saudara tetap menyalahkan saya, maka itu hanya omong kosong belaka. Sekali lagi, saya tidak bersalah! Kebenaran akan datang dan saya akan membuktikannya. Secepatnya!”

Begitulah bunyi dan visualisasi rekaman video yang sengaja kami sebarkan setelah kami berhasil meretas salah satu stasiun televisi swasta. Video itu tersebar dimana-mana. Kami harap semua orang melihatnya. Kami sengaja merekam video itu sebagai bentuk penegasan. Video itu adalah bagian dari sebuah rencana besar yang kami sebut sebagai operasi benih suci. Ya, operasi benih suci. Seluruh anggota Heksagon di seluruh penjuru negeri akan ikut berpartisipasi. Sejarah akan mencatatnya sebagai sebuah reformasi kemanusiaan yang paling terorganisir rapi. Perubahan besar akan segera terjadi. Jiwa kami telah kami pertaruhkan di sini. Revolusi itu akan terjadi sebentar lagi.

Revolusi? Kapsul mini berisi benih keramat itu seakan tersenyum sinis ketika batinku berteriak menyalakan revolusi. Teringat kembali aku akan perkataan Profesor Surya sebelum ia memberikan benda ini.

“Bapak menyerahkan ini padamu bukan karena kamu istimewa, tapi karena bapak percaya. Benih ini tak akan aman bila terus disimpan di lab. Untuk itu bapak mempercayakannya padamu.”

Profesor Surya sudah berencana akan menyerahkan benih ini pada presiden dalam sebuah pertemuan resmi. Dan tugasku hanya memastikan benih ini tetap aman sampai pertemuan itu tiba. Itulah yang seharusnya terjadi. Tapi semua itu tak pernah terpenuhi.

* * * *

Jakarta, 08.00 PM, 05 Mei 2028

Hingar bingar menyelimuti seluruh stadion Gelora Bung Karno.Banyak yang telah berubah dari Stadion berusia 68 tahun ini. Renovasi besar yang telah dilakukan 15 tahun silam telah merubah bentuk stadion ini secara keseluruhan. Saat itu ekonomi bangsa sedang mencapai titik kemajuan yang menggembirakan. Pembangunan infrastruktur pun dilakukan secara besar-besaran. Dengan kapasitas penonton mencapai 150 ribu orang, kemegahan stadion ini sudah tidak perlu diragukan. Empat layar LCD 100 inchi dipasang di empat sudut stadion. Tak ada lagi papan skor yang biasa dipakai saat pertandingan sepak bola. Yang ada cuma berbagai suguhan multimedia. Banner-banner slogan nasionalisme bergerak dinamis di depan barisan tempat duduk penonton. Pencahayaan tertata sangat rapi. Semua yang ada disini telah dikomputerisasi secara canggih dengan teknologi tinggi.

Tidak semua orang bisa hadir di sini. Hampir lebih dari 145 kursi dibagikan secara acak kepada pendaftar lewat sistem online, dan semuanya gratis. Dengan identitas palsu, aku mendaftarkan diri. Beruntung aku bisa duduk di tempat yang strategis. Aku hanya berjarak belasan meter dari kursi presiden. Ini memang bukan sepenuhnya keberuntunganku. Teman-temanku telah membantuku sedemikian rupa agar aku bisa berada di sini.

Aku harus berterima kasih pada teman-temanku, penyamaranku begitu sempurna. Make up telah merubah penampilanku menjadi jauh lebih tua. Mereka juga berhasil membuat lensa kontak untuk merekayasa kornea mataku sehingga aku bisa melenggang masuk dengan aman tanpa curiga saat diperiksa para penjaga. Dan satu lagi, dimana aku menyembunyikan benih itu? Jawabannya adalah di mulutku. Ya, tepatnya di atas bagian dalam mulutku. Kami telah memodifikasi kemasan kapsul itu hingga bisa menempel secara tersembunyi dalam mulutku. Aku lalu mengeluarkan kapsul itu dan memasukannya ke dalam kantong celanaku.

Jam digital di ujung stadion sudah menunjukkan pukul 19:59. Acara peringatan Kebangkitan Nasional akan dimulai beberapa detik lagi.

Protokol berkoar. Pagelaran seni telah dimulai sebagai acara pembuka. Lima menit pertama, penonton disuguhi pertunjukan tarian kontemporer yang dilakukan ratusan anak remaja. Setelah itu protokol kembali bersuara.

“Sebagai pembuka acara akbar ini, mari kita persilakan Bapak Presiden Republik Indonesia untuk memberikan sambutannya.”

Keriuhan penonton terhenti seketika. Layar LCD stadion mulai menampilkan sosok bapak presiden. Aku sendiri bisa dengan jelas melihat sosoknya dari sebelah kanan tempat dudukku. Dialah presiden yang sudah memimpin negeri ini selama dua periode. Dialah pemimpin yang kami percayai itu.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sejahtera untuk seluruh rakyat Indonesia. Malam ini adalah malam yang istimewa. Seratus dua puluh tahun lalu, para perintis kemerdekaan bangsa telah menorehkan hari istimewa dalam sejarah bangsa.”

Earphone mini di telingaku berbunyi. Erik bersuara. “Kau sudah siap, Dan?”

“Ya,” jawabku mantap.

Maka seluruh stadion langsung gelap seketika. Pidato presiden terhenti. Semua orang riuh kebingungan. Kami telah memulai revolusi. Dan tiba-tiba, sosokku muncul di layar LCD raksasa.

“Selamat malam saudara-saudaku. Mungkin kalian kaget melihat saya di sini. Saya sudah berada disini. Saya telah datang memulai revolusi. Benih suci telah saya bawa. Dan sebentar lagi saya akan menyerahkannya kepada Bapak Presiden Republik Indonesia. Saya akan buktikan kalau saya tidak bersalah!”

Video itu kami rekam beberapa waktu lalu. Teman-temanku telah berhasil meretas sistem operasional stadion. Penonton mendadak semakin riuh. Mereka menoleh kanan-kiri dan belakang untuk mencari keberadaanku.

“Ini saatnya, Dan!” seru Erik. Ya, inilah saatnya aku bergerak menuju kursi VIP tempat duduk presiden. Dengan menunjukkan kapsul yang ada di tanganku, aku akan dengan mudah menembus pasukan pengaman presiden. Tapi tiba-tiba sebuah tembakan berbunyi di salah satu kerumunan penonton. Penonton panik. Dan tayangan layar LCD stadion berubah seketika. Sosok pemimpin NRS muncul dalam sebuah rekaman video. Oh tidak, NRS telah mengambil alih sistem operasional stadion dan mereka mengancam akan adanya serangan bom. Gelora Bung Karno pecah. Penonton rusuh berebut jalan menuju pintu utama. Aku tidak bisa menghubungi teman-teman dari earphone-ku, tapi aku bisa melihat seseorang muncul datang memegang tanganku.

“Musa?”

“Sudah kubilang aku akan membantumu. Ayo kita temui presiden sekarang.”

Tapi tiba-tiba ia langsung mendorong tubuhku hingga aku terjatuh. Sebuah tembakan melesat dan ia segera menarik pelatuk pistol untuk membalasnya. Penyamaranku sudah terbongkar. Salah seorang anggota NRS tertembak, tapi Musa lebih dulu terkena tembakannya. Darah mengucur dari dadanya.

“Musa!!!” Aku berusaha meraih tubuhnya.

“Jangan pikirkan aku. Cepat serahkan benih itu!”

“Tapi kau terluka.”

“Aku tidak apa-apa. Cepat bergegaslah! Kau harus melakukannya!!”

Dengan berat hati, aku meninggalkannya. Pikiranku bergerak tak menentu. Aku menembus keriuhan penonton mencoba mengejar rombongan presiden yang sudah keluar lewat pintu khusus. Aku sadari beberapa orang anggota NRS masih mengejarku. Pintu utama sudah bagaikan sarang semut. Aku harus berjibaku sekuat tenaga agar bisa keluar.

Rombongan presiden sudah terlihat. Sungguh mustahil aku bisa menembus barikade paspampres itu. Mereka bisa langsung menembakku. Tapi aku adalah Muhammad Aidan. Mereka sedang mencariku. Benih itu ada padaku. Maka ketika aku melucuti sisa penyamaranku dan menunjukkan kapsul itu, mereka tak bisa apa-apa. Mereka langsung mengizinkanku masuk mobil RI1.

“Kau?”

“Ya, saya Muhammad Aidan dan saya ingin menyerahkan benih ini untuk bapak.” Kutunjukkan padanya kapsul yang menyimpan benih ajaib itu. “Profesor sudah mengamanatkan benih ini kepada saya. Dan saya ingin bapak menerimanya.”

Ia raih kapsul itu. Ia takjub tak percaya dan memperhatikannya dengan seksama.

Dan tiba-tiba sebuah ledakan dahsyat dari arah belakang menggelegar luar biasa. Mobil yang kami tumpangi terdorong kuat terkena efek ledakan. Beruntung mobil kami sudah melaju kencang dari gerbang utama. Di belakang kami, sebuah peristiwa bersejarah telah tercipta. Gelora Bung Karno luluh lantak. NRS benar-benar melakukan ancamannya. Sebuah serangan bom mahadahsyat telah kami saksikan bersama.

Indonesia, 25 Agustus 2028

Semua mata tertuju pada sebuah tayangan televisi yang sedang disiarkan secara langsung di seantero nusantara. Sepanjang mata memandang, hanya ada hamparan padi yang menguning membawa kabar bahagia. Sang Presiden akan berpidato menyampaikan sambutan untuk panen raya pertama.

“Salam sejahtera untuk seluruh rakyat Indonesia di seluruh nusantara. Masa-masa terpuruk dalam sejarah bangsa telah kita lewati bersama. Kita masih berduka. Ratusan ribu nyawa telah menjadi korban serangan teroris yang akan terus dikutuk masyarakat dunia. Kami berjanji akan menumpas habis gerakan NRS hingga tak bersisa.

Bangsa kita telah tumbuh dewasa. Sehabis gelap pasti akan selalu ada cahaya. Dan inilah saat-saat yang telah kita nantikan bersama. Panen raya ini adalah milik kita semua. Masa depan baru telah siap kita jejaki bersama.”

Seluruh rakyat bersorak. Begitu pun dengan aku, Erik dan beberapa temanku yang menonton di depan layar kaca. Sungguh sulit dipercaya, masa itu telah tiba. Kami telah kehilangan orang-orang tercinta. Begitu banyak pengorbanan yang telah kami lakukan bersama. Terima kasih Musa, tanpamu masa ini tak mungkin akan pernah tercipta. Terima kasih Profesor Surya, atas penemuanmu perubahan itu tak akan pernah terlaksana. Dan terima kasih Tuhan, tanpa-Mu kami semua tak akan pernah ada.

Perubahan itu telah terjadi di depan mata. Kami di sini telah menjadi saksi sebuah revolusi nyata yang akan dicatat sebagai salah satu sejarah dunia.

Selesai.

Cerpen ini pernah dimuat di website Annida-Online edisi Mei 2013
Klik: http://www.annida-online.com/artikel-7329-revolution-of-the-holy-seed.html

Sumber gambar: Google

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s