The Obsession Operation

Posted: 17 Maret 2013 in Personal
Tag:, , , , , , , , , ,
image

The obsession is the option, the operation is the action. So, let's do that ambition!

Well, kayaknya udah lama saya gak update blog ini. Kayaknya ngeblog udah gak jadi prioritas saya lagi untuk sekarang ini. Sumpah, ngeblog itu luar biasa banget godaannya. Banyak banget setan-setan yang menggerogoti berbagai ide yang udah lama nangkring di kepala. Akhirnya semua ide itu cuma jadi draft mentah yang memenuhi dashboard. Gak tersentuh lagi dan gak terpublish. Hmm, jadi mumpung lagi ada yang nyangkut di kepala, mending langsung saya tulis aja deh daripada entar kelupaan. So, sekarang mau ngebahas apa sih? Sesuatu yang dimulai dengan huruf O. Onta? Bukan? Orang utan? Observasi hutan? Please saya ini bukan aktifis lingkungan. Meski saya juga suka dengan topik penyelamatan lingkungan, tapi saya gak berniat untuk ngebahas itu sekarang. Saya pengen ngebahas sesuatu yang lebih personal. Saya mau ngebahas tentang obsesi. Ya, obsesi. Pasti kalian punya obsesi kan? So let’s talk about that!

Empat tahun lalu, ketika saya masih duduk di bangku SMA, saya begitu obsesif dan idealis terhadap masa depan saya. Pengen jadi inilah, pengen jadi itulah. Pokoknya ambisius banget deh. Saya sempet pengen jadi designer, terus pengen juga jadi penulis dan creative enterpreneur. Tapi nyatanya, sekarang saya cuma jadi karyawan biasa, belum mampu nerusin pendidikan sampai jenjang kuliah karena gak punya biaya dan masih belum bisa hidup mandiri selayaknya orang yang sudah berumur 22. Haha, it’s so ironic. Ya hidup itu ironis. Dan saya yakin setiap orang juga sering berpikiran ironis terhadap kehidupan yang tengah dijalaninya sekarang. Manusia memang tidak pernah puas. Itu manusiawi. Dan manusia juga suka gak tahu diri –itu sangat saya sekali hehe. They want more, but they have nothing to get some more. They want a good life, but they don’t know how to get it right. Everyone’s so obsessed, I do that mess and I got so stress.    

Terkadang hidup kita tak berjalan sebagaimana yang telah kita rencanakan. Otak kita sudah disesaki sama miliaran outline obsesi masing-masing. Semua menuntut sinkronisasi. Semua menuntut realitas eksekusi. Hmm.. pusing deh! Ujung-ujungnya kita dipaksa untuk berpikir dewasa dalam menyikapi semua itu. Dewasa? It’s a bullshit. Dewasa lagi! Dewasa lagi! Saya udah hampir muntah ngebahas hal itu. Ok, just calm down and take it right. Ingat prinsip Yin dan Yang, yang suka diomongin para ahli fengshui. Atau prinsip wasathaniyyah dan tawazzun yang sering didakwahkan oleh para ahli agama Islam. Keseimbangan. Ya, apa yang kamu inginkan harus seimbang dengan usaha yang kamu lakukan. What you did is what you get. But what you think is not always what you do. Tuhan sudah menciptakan manusia dengan kapasitasnya masing-masing. Tapi bisakah kapasitas kita diupgrade layaknya kapasitas memori hardisk atau hape? Tentu bisa. Tuhan menciptakan kehidupan ini layaknya sebuah open source. Siapa saja bisa ikut berpartisipasi dalam operating system yang telah disiapkan-Nya. Siapapun bebas melakukan upgrade terhadap hidupnya masing-masing, tapi tentunya semua itu masih harus dalam batas kemampuan prosesor yang telah disetting penciptanya. So, do ya wanna to upgrade your life? How to do that?

Obsesi bisa jadi semacam penetrasi bagi masa depan hidup kita. Ambisi bisa jadi semacam kode untuk mengakselerasinya. Kita dihadapkan pada suatu kondisi dimana kita harus mentransformasikan itu semua menjadi sebuah aksi. Bukan sembarang aksi. Tapi sebuah aksi yang telah terkoordinasi secara rapi. Ya, itulah salah satu bagian yang paling susah. Bagaimana kita menyatukan semua itu ke dalam sebuah aksi? It’s hard to do that shit.

Manusia itu bagaikan sebuah komputer canggih. Ada banyak software dan hardware yang saling melengkapi. Kita dituntut untuk mengoperasikannya sesuai kendali. Jangan sampai ngehang, ngedrop atau malah tidak digunakan sama sekali. Begitu banyak obsesi yang ingin kita raih. Kita jangan cuma bisa gigit jari. Kita butuh solusi. Kita butuh solusi! Kita butuh semacam sistem operasi yang bisa menjalankan semuanya agar sesuai dengan yang kita kehendaki. Filosofi Will To Power seperti yang pernah diungkapkan Friedrich Nietzsche sudah gak zaman lagi. Will To Act, itulah filosofi yang harus kita camkan dalam diri kita sendiri. Kehendak untuk beraksi. Kehendak untuk menaklukan semua obsesi. Apa kita mampu melakukan semua itu? Semua itu tergantung kamu sendiri. Mau tetap stagnan atau dinamis? Mau konstan atau progesif? Mau pasif atau reaktif? It’s up to you. You have the control of your authority.

Haha, pusing banget deh! Semua obsesi itu benar-benar menguras pikiran dan hati. Kalau gak kesampaian lama-lama kita bisa frustasi, bahkan depresi. Huah, it’s crazy! Semua yang udah saya tulis di atas itu cuma sebatas teori. Implementasinya harus kita lakukan sendiri. No money, but we have more energy. No money, but we have creativity. Argh, can we get out from this curiosity? Pada akhirnya saya harus kembali ngaca sendiri! Apa langkah pertama yang harus saya lakukan untuk mengoperasikan semua obsesi saya ini?

Okay, let us start it now! Obsession operation 1.0 : Stop talking and doing nothing. We need action, everybody!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s