Panci Banci

Posted: 16 Desember 2012 in Fiction
Tag:, , , , , , , ,

image

Bau gosong menyeruak. Kepulan asap memenuhi kosan. Astaga, Panji lupa kalo ia lagi ngerebus air! Kilatan api kompor membesar. Ia langsung sigap mengambil panci yang dipake buat ngerebus air. Alamak, pancinya gosong! Ia celingak-celinguk mencari kain lap tapi ia tak menemukannya. Dan entah kenapa ia langsung mengambil keputusan spontan untuk melepaskan celana boxer yang sedang dipakainya.

Mendengar keributan yang terjadi di kosan Panji, ibu kos langsung masuk ke dalam kosan yang dibayar Rp 300 ribu perbulan itu.

“Waaa…!!!” Ia berteriak kencang begitu melihat kejadian langka yang terjadi di depannya. Panji menenteng panci gosong dengan celana boxernya sementara celana dalam Hello Kitty yang sedang dipakainya dibiarkan diobral kemana-mana.

“Hehe, maaf Bu,” ucap Panji dengan muka memerah.

Skandal paling memalukan telah terjadi. Panji berdiri kayak patung helo kitty. Tapi bukan itu yang membuatnya berkecil hati. Pancinya kini bolong. Dan itu adalah sebuah tragedi yang sungguh tidak manusiawi –atau lebih tepatnya pancisiawi.

“Lo kenapa, Ji? Kok melamun mulu?” tanya Dodo ketika mereka duduk-duduk di warung siomay Pak Mudi.

“Panci gue bolong, Do.”

“Panci bolong?” Dodo terbatuk-batuk tersedak siomay. Gara-gara panci bolong, tenggorokannya langsung terkaget-kaget.

“Iya, panci gue bolong.”

“Panci bolong aja dipikirin. Lo ini gimana sih!”

“Habis panci itu kan mau dipake buat ospek nanti!”

Panji dan Dodo baru masuk kuliah di salah satu universitas swasta di Bandung. Besok adalah hari pertama ospekya dan panci adalah salah satu atribut yang harus dibawa sebagai pelindung kepala.

“Oh, iya. Untung gue udah ada. Kalo panci lo bolong, beli yang baru aja. Apa susahnya sih!”

“Itu dia! Gue gak punya duit. Pinjemin gue duit dong, Do!”

“Gue lagi bokek. Kenapa lo gak pinjem panci ke ibu kos aja sih?”

“Udah, tapi pancinya gak muat di kepala gue. Cuma panci itu aja yang pas sama kepala gue. Terus gue mau gimana dong? Lo punya ide gak?”

“Lo tambal aja pancinya.”

“Ditambalnya sama siapa?”

“Sama Pak Jokowi! Ya, jelas sama elo lah! Hari gini mana ada tukang patri. Yang ada cuma tukang odong-odong sama tukang kredit bikini.”

“Emang ada tukang kredit bikini.”

“Ya adalah, kemarin gue udah beli. Eh, kok…” Dodo nelen ludahnya sendiri. “Ketahuan deh gue,” pikirnya dalam hati.

“Terus, nambalnya pake apa Do?

“Ya paket penambal panci! Masa paket penambal gigi?”

Dodo bersedia membantu Panji menambal panci. Dengan peralatan penambal panci yang dibeli dari pasar loak, panci bolong pun bisa diakali.

Hari pertama ospek pun tiba. Panji sudah menyiapkan segala peralatan perangnya. Revolusi hidupnya akan segera dimulai. Bocah ingusan itu akan segera menjadi mahasiswa.

Halaman kampus sudah dipenuhi mahasiswa baru lengkap dengan panci-panci mengkilap yang menutupi kepala mereka. Ada sebuah panci yang agak mencolok di tengah kerumunan itu. Itulah panci yang dipakai Panji. Panci gosong lengkap dengan tambalan dari alumunium foil. Meski sadar ia telah menjadi sorotan tapi ia tak mau peduli. Ia berdiri dengan penuh percaya diri. Ia masih memakai seragam SMA dengan sepatu kets bladusnya. Saat ia menoleh ke bawah ia tersadar simpul tali sepatunya terlepas. Ia langsung menunduk untuk ngebenerin. Tapi gak sengaja, kepalanya yang ditutupi panci gosong malah nyenggol pantat cewek di depan. Cewek itu segera berbalik. Maka terjadilah momen pertemuan dua panci berbeda kondisi. Yang satu merupakan panci baru dengan bahan alumuniun berkualitas tinggi dan yang satu lagi tentu saja panci gosong dengan pantat bolong yang sudah ditambali.

“Ma..maaf,” ujar Panji tersipu malu.

“Oh, gak apa-apa kok!” cewek itu tersenyum. Gila, cewek itu cantik banget! 75 persen mirip Nikita Willy dan 25 persen mirip Selena Gomes campur Taylor Swift. Panji ngiler terpesona luar biasa. Tapi tiba-tiba semua itu terganggu oleh suara toa dari kakak senior yang memanggilnya.

“Hey, kamu! Yang pake panci gosong!” teriak kakak senior langsung memekakan telinga. Bisa-bisa budeg berjamaah nih! Panji terkaget dan langsung melihat ke depan. Yang make panci gosong cuma dia seorang. “Maju sini!”

“I..iya, Kak.” Panji semakin menjadi sorotan. Ia berjalan ke depan menghadap kakak senior dengan penuh deg-degan. Gelak tawa menyeruak. Dalam sekejap, ia sudah menjadi superstar di kampus barunya.

“Kamu tahu kan? Dilarang bicara saat senior memberi pengarahan!”

“Ta..tau, Kak…”

“Apaaa?”

“Tau, kak…”

“Apaaaa?”

Ini orang budeg ya? Mungkin kebanyakan dengerin suara toa kali ya!

“Saya tau, Kak.”

“Nama kamu siapa?”

“Panji, kak.”

“Panci?”

“Panjii!”

“Pancii?”

“Panji, Kak!”

“Banciiii?”

Semua orang yang ada di lapangan langsung berkata serentak, “Hah, banciii???”

“Bukan, bukan! Saya bukan banci, saya Panci. Eh, Panji!”

“Banci panci???”

“Banci jualan panciii?” ujar semua orang yang ada di lapangan, serentak mengulang.

“SAYA PANJIIII…!” Panji berteriak kencang. Semua orang langsung memperhatikan. “DAN SAYA BUKAN BANCI YANG JUALAN PANCI! WALAUPUN SAYA PAKE PANCI BOLONG KAYAK GINI, BUKAN BERARTI NAMA SAYA PANCI. PANCI DAN BANCI ITU BEDA ESENSI. MESKI PANCI TERLAHIR DENGAN PANTAT MENGKILAT TAPI PANTAT PANCI GAK SESEKSI PANTAT BANCI, APALAGI PANTAT PANJI. SEKALI LAGI, NAMA SAYA PANJI! BUKAN PANCI ATAU BANCI!”

Semua orang tercengang. Sebuah orasi ideologis menghentakkan semua mata dan telinga.

“Panci! Panci! Panci!” seru semua orang terdengar seperti sebuah teriakan slogan kampanye partai politik. Kalau didengar sekilas seperti seruan ‘Nazi! Nazi! Nazi’. Gila! Gara-gara panci, Panji udah kayak Hitler aja! Apa dunia beneran mau perang ya?

Dan tiba-tiba saja hujan deras turun tanpa diundang. Buyar sudah orasi politik dadakannya. Semua orang lari tunggang langgang ke luar lapangan, tapi Panji masih bertahan. Ia gak berdiri sendirian. Rupanya cewek cantik yang tadi juga masih berdiri hujan-hujanan. Ia melepaskan panci di kepalanya dan menyerahkannya pada Panji.

“Pake panci aku aja. Tambalan pancimu lepas, kepalamu keujanan tuh.”

“Ta..tapi kamu?”

“Aku gak apa-apa kok! Kamu satu-satunya cowok di planet ini yang terlihat seksi kalo pake panci. Kamu seksi.”

Panji senang bukan main. Ia langsung memakai panci itu. Dan sesaat setelah itu tiba-tiba petir menyambar kepalanya.

Duaaar…. semuanya pun jadi gelap seketika.

* * * *

“Aku tak mau kalau aku dimadu….”

Suara nyanyian banci yang lagi ngamen di depan kosan langsung membangunkan Panji dari mimpi anehnya. Matanya terbuka. Bau gosong menyeruak. Astaga, Ia lupa kalo lagi masak air. Panji berteriak kencang dan banci yang lagi ngamen di depan kosan pun langsung lari tunggang langgang.

* * * *

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s