image

Angel Sucks Demon

Keimanan adalah esensi hidup manusia yang tidak akan pernah terbayar oleh logika.

Kupandangi layar komputer dengan nanar sambil memegang foto dirimu yang tengah berpose memakai baju biarawati. Laman Google menyambutku. Kuketikan kata kunci dengan keyakinan penuh. “Tuhan”, itulah yang sedang aku cari. Aku mencari Tuhan di sini. Di dunia yang telah terdigitalisasi tanpa batas moralitas dan toleransi. Keimananku bisa saja menembus batas koneksi tapi hatiku tetap terbatasi.

Kusadari, aku bebas memilih surga atau neraka. Setahuku, aku bisa mengunggah nyawaku kemana saja. Aku hanya perlu jaringan yang stabil berkecepatan 7,2 mega byte per sekon, maka aku akan hilang seketika.

* * * *

Dania, tiga tahun sudah kita jalani hidup bersama. Perbedaan keyakinan tak bisa memisahkan kita. Kau Katholik, aku Muslim. Tapi kita tak pernah mempermasalahkannya. Referensi iman kita boleh saja tak sama. Aku tak pernah melarang kau memakai Rosario saat berkencan. Kau juga tak pernah memaksaku memakan babi goreng saat kita makan malam di restoran China.

Aku memang bukan muslim yang taat. Kuakui hal itu. Entahlah, aku tak begitu excited akan keimananku. Aku tak begitu sakral dalam menanggapi kehidupanku. Dibilang sekuler, tidak juga. Kedua orang tuaku adalah sosok muslim yang sebenarnya dan aku selalu merasa berdosa karena telah berjalan begitu jauh dari koridor mereka. Aku masih membaca buku-buku Friedrich Nietzsche di sela-sela mengerjakan tugas kuliahku. Kuanggap itu sebagai salah satu intermeso harianku. Tapi sepertinya Dania tidak merasa nyaman dengan itu.

“Kenapa kamu baca buku-buku seperti itu?” ia menggerutu.

“Emang kenapa?”

“Entahlah, aku merasa khawatir aja…”

“Ini hanya refrensi mata kuliah aja kok. Kamu tenang aja. Aku tak akan terpengaruh nihilisme atau apapun itu…”

“Kamu kan mahasiswa jurusan ilmu komputer. Di zaman Nietzsche belum ada komputer, telepon pun mash belum ketemu. Buat apa kamu baca buku filsafat kayak gitu? Gak nyambung tau!”

Dia selalu begitu. Mengkhawatirkanku untuk satu hal yang tak perlu. Well, memang komputer dan Nietzsche adalah dua hal berbeda. Tapi mereka terhubung dalam suatu urusan yang sama, yakni logika. Kurasa Dania tak akan menyetujui hal itu. Ia adalah makhluk semi-sakral yang tak mempercayai logika seutuhnya. Meski terkadang, ia juga menggoda keimananku. Aku pun dibuatnya mati kutu, dan aku selalu merindukan itu.

“Kamu percaya Tuhan?” tanyanya tenang.

“Ya,” jawabku tenang.

“Aku tak habis pikir bagaimana kamu bisa mengingat Tuhan saat kamu sibuk dengan komputer gilamu. Bagaimana pula kamu bisa mengingatku?”

“Tuhan ada dimana-mana. Bukankah semua orang bilang begitu…”

“Bahkan Dia ada dalam setiap nano byte memori komputermu?” Ia bertanya seakan tak berdosa. Itulah sisi yang aku suka darinya. Innocence.

“Tentu saja.”

“Lalu, kapan kamu akan mengingatmu?”

“Aku tak pernah mengingatmu karena kamu sudah menjadi salah satu jaringan saraf otakku.”

Aku mencintainya. Biarkan Tuhan tahu itu. Kami terbuai dalam romansa longitudinal antara rasa dan logika. Kami dua reaksi kimia yang tercampur dalam suatu senyawa. Aku rela mati untuknya. Kusentuh setiap jengkal hatinya seakan dunia milik kita berdua. Tapi percintaan memang tak selalu manis.  Begitu juga kehidupan. Dan terkadang bisa teramat pahit seperti racun yang bisa membawa hidupku ke titik penghabisan.

Semua mulai berbalik. Bumi selalu berotasi, kesucian terhibdrasi dan keyakinan pun terkadang tereduksi. Hari itu, kau datang menemuiku. Dengan wajah pucat mirip patung Maria Magdalena, kau memberiku sebuah bencana.

“Aku hamil,” ucapnya lirih.

Jantungku serasa dirajam oleh seribu cambukan. Nyawaku serasa melayang.

“Kamu ha.. hamil?”

“Ya.. rahimku terisi oleh buah cintamu.”

“Gugurkan!” Tanpa sadar, kata-kata itu keluar dari bibirku. Ia menatapku tajam seolah sebilah parang ia hadapkan.

“Tidak, kamu gila ya!” Ia marah luar biasa.

“Aku tak mau punya anak itu. Tidak sekarang. Aku belum siap!”

“Kau pikir aku juga siap?”

Aku terdiam. Dan tanpa sadar sebuah umpatan sadis meluncur dari lidahku.

“You’re a bitch!”

Ia menamparku. Menampar pula kehidupanku. Kami terbawa ke dalam lubang hitam yang membuat kami gelap mata. Cinta itu neraka. Seksualitas tak bisa menjawab segalanya. Aku dan dia adalah korbannya. Dimanakah Tuhan pada saat itu? Mungkin Ia sedang tertawa. Menertawakan kekonyolan kedua makhluknya.

We are fuckin losers. Destroying all the forgiveness. We’re on fire but we’re hopeless. I love you but it’s an  illness. We are the holy sinner and this is a curse.

Kami memilih aborsi sebagai jalan keluar yang paling logis. Biarlah satu nyawa itu hilang ditelan bumi. Kami siap menebusnya suatu hari nanti. Aku telah menjadi predator paling ganas di planet ini. Aku sadari itu tapi aku tak mengerti apa yang terjadi.

Setelah rahimnya ternodai. Dania berubah seratus delapan puluh derajat. Ia menjadi pendiam. Menjadi ekstrover yang memproteksi dari dunia luar. Menjadi pendosa telah membuatnya berevolusi menjadi wanita yang tak pernah kukenal sebelumnya. Gereja kini menjadi rumah keduanya. Alkitab dan Rosario telah menjadi kekasih barunya. Ia telah menyelingkuhiku dengan keimanannya. Kami jadi jarang bertemu dan aku tidak suka itu.

“Aku akan menjadi pelayan Tuhan,” ucapnya padaku. Bukankah Tuhan itu Maha Sempurna? Kenapa Ia harus dilayani? Ia bisa melakukan segalanya sendiri. Ia tak membutuhkan kita untuk membantunya. Apa kau mempercayai-Nya?

“Kamu yakin dengan itu?”

“Ya.”

Haluan hidupnya telah menghancurkan asaku. Kenapa kau lakukan itu padaku? Masih ingatkah saat kau berjanji akan menjalani hidup tanpa penyesalan denganku. Bagaimana dengan nasib rencana pernikahan kita? Bukankah kau sempat memikirkannya?

Ia memberiku sebuah pesan berharga. Keputusannya untuk menjadi wanita Katholik seutuhnya telah membuatku gila, ia mengungkapkan niatnya untuk pergi menjadi domba gembala-Nya. Ia pergi ke Lourdress, Prancis, tempat dimana Maria Magdalena dikabarkan dimakamkan di sana, untuk menjadi biarawati tanpa menemuiku terlebih dulu. Aku tak bisa mencegahnya.

“Tuhan telah memanggilku. Maafkan aku, hubungan ini sudah menemui jalan buntu,” pesannya padaku.

“Lalu bagaimana denganku? Kau tau aku tak bisa hidup tanpamu!”

Ia tersenyum melihat sisi melankolisku.

“Tuhan akan memberkatimu. Aku tahu itu.” Ia pun berlalu dan aku hanya bisa membatu tanpa bisa berbuat apa-apa.

* * * *

Layar monitor masih memberkatiku. Mengingat semua itu membuatku ngilu. Tuhan, dimanakah Kau berada? Apa esensi keimananku selama ini? Jika memang ada kehidupan setelah mati, kemanakah nyawaku saat tubuhku sudah tak bernapas lagi? Ruh adalah dimensi tak kasat mata yang mungkin bisa menjadi miliaran kode matriks Matematika. Kehidupanku bisa dilanjutkan dalam surga digital yang bisa kubuat sendiri. Tak ada setan, tak ada malaikat. Jiwaku telah terdigitalisasi. Aku tak peduli Tuhan dan Dania telah meninggalkanku. Sebotol racun sianida akan menemaniku. Aku percaya itu.

Thus spoke Zarathustra: Look, I teach you about Übermensch. Übermensch is the meaning of the world. Let your desire exclaimed!

Layar monitor komputer berkedip menyilaukan mataku. Kolase matriks telah tereksekusi dan tombol enter aku pijit dengan sisa ketenangan hati. Tapi lagi-lagi, aku dikhianati.

“Hey, pecundang! Tuhan telah meninggalkanmu di sini! Jaringan 3G sudah mati, pintu surga tidak akan terkoneksi!” ucap layar monitor sesaat setelah jantungku tak berdetak lagi. Dan aku pun lenyap. Mati.

* * * *

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s