image

“Namaku Agra. Higienis dan steril adalah dua kata yang sakral bagiku. Kotor adalah bencana dan jorok adalah malapetaka. Aku tak akan membiarkan benda asing menempeli tubuhku. Kebersihan badanku menempati kualitas tertinggi dalam kasta manusia.”

Itulah argumen mengenai hidup higien yang selalu kuagungkan selama ini. Higienis adalah segalanya bagiku. Virus, bakteri dan protozoa adalah musuh abadiku. Meski tubuh manusia dihuni oleh 10 ribu spesies mikroba, tapi aku tak mau diperbudak oleh mereka. Manusia adalah makhluk multiseluler paling sempurna. Tak ada alasan untuk disamakan dengan mikroorganisme sederhana macam mereka. Meski Charles Darwin bilang merekalah nenek moyang pertama spesies kita, tapi aku menolaknya. Teori evolusi terlalu ekstrim untuk ditelaah. Dan aku tak mau membuatnya jadi masalah.

Ada beberapa faktor krusial yang membuatku ekstra protektif terhadap higienitas seperti sekarang. Mungkin trauma masa kecilku jadi salah satu penyebab utamanya. Sewaktu aku duduk di kelas 5 SD, aku pernah terinfeksi virus H5N1 alias flu burung. Ya, aku pernah terinfeksi virus mematikan itu. Hampir selama sebulan aku diisolasi dari peradaban. Mengakrabi infus dan mimpi buruk akan kematian. Rasanya aku bisa gila kalau mengingat semua itu. Untunglah aku masih bisa disembuhkan.

Ibarat teori sebab-akibat, pengalaman itu telah mengubah pola pikirku akan definisi kata bersih dan sehat. Aku diberi pelajaran berharga bahwa kesehatan itu tak bisa dihitung oleh nilai eksakta. Sehat itu anugerah. Dan aku berjanji akan menjaganya meski harus dengan cara yang sedikit luar biasa. Mungkin ini terlalu berlebihan tapi itulah yang kini kulakukan.

Aku selalu cuci tangan setiap mau beraktifitas dengan membawa jel antiseptik kemana-mana. Mandi teratur, menjauhi tempat lembab dan kotor, meminimalisir aktifitas di luar ruangan, tidak makan sembarangan serta tidak minum dalam gelas yang sama untuk menghindari kontaminasi bakteri dan amoeba. Itulah hal-hal gila yang rutin kulakukan selama ini. Meski semua itu membuatku terkucilkan dari pergaulan, tapi aku tak peduli. Tak ada toleransi untuk patogen. Semua temanku tahu aku. Aku memang berteman dengan manusia, tapi maaf saja, aku tidak berteman dengan segala bentuk parasitisme dan penyakit.

“Agra tuh cuma mau bergaul dengan makhluk steril aja. Jangan harap dia mau main kotor-kotoran kayak kita!” begitulah canda teman-temanku. Aku tak pernah ikut mereka hangout di luar atau bermain bola. Saat pelajaran olahraga pun aku minta konpensasi agar tak ikut panas-panasan di lapangan atau di kolam renang. Untungnya guruku dapat memakluminya sehingga aku bisa terbebas dari kuman yang berkeliaran.

Aku melenceng dari pergaulan remaja, itu sudah pasti. Tapi suatu hari, aku dipaksa untuk kembali lebur dalam realita saat teman-temanku mengajakku berlibur di taman air kota.

“Lo udah gila ya? Lo ngajak gue berenang di taman air kota?” seruku begitu Beni datang dengan ajakannya.

“Ayolah Gra! Semua teman sekelas ikut, masa lo nggak?”

“Lo tau sendiri kalo di kolam renang itu ada triliunan bakteri dan amoeba. Maaf saja, tapi gue gak mau berenang bareng mereka.”

“Lo itu lebay banget deh, Gra! Lo tau gak, Tista juga ikut tau!”

“Tista?” Pemikiranku tergoda. Beni tahu kalau aku sangat suka Tista sejak kami masih duduk di bangku SMP. Dan di kelas 2 SMA ini kebetulan kami sekelas. “Ayo, Gra! Kapan lagi lo liat Tista pake baju renang? Kalo lo gak ikut, lo bakalan nyesel seumur hidup!”

Baiklah aku ikut. Kehadiran Tista telah mengubah pikiranku. Ia seperti magnet bagiku. Ia memakai baju renang seperti yang Beni bilang. Baju renang one piece warna hitam menempeli tubuh mulusnya. Sungguh cantik dan seksi. Sempurna! Di tengah kerumunan orang yang berenang, dia tampak seperti mutiara yang sulit tersamarkan. Tak menyesal aku datang. Dia memang pantas untuk ku pandang.

Ini pertama kalinya aku ke kolam renang setelah hampir 7 tahun kering kerontang dari dunia basah-basahan. Aku cuma duduk-duduk di pinggir kolam. Tak ada niat untuk berenang. Sebagai makhluk bertulang belakang yang hidup di daratan, tak ada keharusan bagiku untuk mencicipi kehidupan perairan. Teman-temanku boleh saja menjadi amfibi sesekali, tapi aku mamalia darat murni. Air hanya kugunakan sebagai media pembersih, bukan malah untuk memperkotor diri.

Beni dan beberapa temanku tiba-tiba keluar dari kolam. Mereka mengajakku berenang tapi aku tak mau. Sudah kubilang aku bukan ikan atau amfibi! Kenapa mereka tidak mengerti? Ternyata ajakan mereka bukan isapan jempol belaka. Tiba-tiba, mereka mengangkat tubuhku. Aku kaget. Secara brutal, tubuhku diceburkan ke kolam. Aku basah. Tangan dan kaki meronta. Oh tidak, ternyata kolam ini lumayan dalam. Mungkin sekitar 3 meteran lebih. Aku tenggelam.

Dari bawah air kulihat refleksi kaki para pengunjung yang berenang di kolam bagai kerumunan kuman, bakteri dan amoeba yang hendak memangsa. Bersama triliunan jasad renik aku berontak. Napasku terengah-engah. Aku melayang. Kesadaranku hilang ditelan air kolam.

* * *

Aku terbangun. Kepala ini pusing luar biasa. Kudapati diriku terbaring di pinggir kolam. Teman-teman dan beberapa pengunjung mengeremuniku seperti plankton yang mengerumuni karang.

“Lo gak apa-apa kan, Gra?” tanya Beni cemas.

Aku masih meresapi napasku yang hampir putus. Untuk yang kedua kali, nyawaku nyaris hilang.

“Lo mau bunuh gue ya? Lo kan tau gue gak bisa berenang!” bentakku, marah.

“Maafin kita Gra, tadi kita cuma bercanda…”

“Bercanda? Gue hampir mati! Lo pikir itu lucu?” Teman-temanku terdiam. Mereka merasa bersalah.

“Maafin kita Gra! Kita ngaku salah. Tapi syukurlah lo gak apa-apa.”

“Kalian pikir nyawa gue segampang itu!”

“Udah deh Gra, lo jangan lebay! Yang penting lo selamat. Beruntung lo masih kita selamatin juga” Beni jadi emosi.

“Lo itu belagu banget sih! Emang lo anggap nyawa gue ini apaan hah! Kalian tuh anjing tau!”

“Setan lo! Salah sendiri kenapa gak pernah ikut pelajaran renang. Bego banget gue punya temen kayak lo! Sudah, gue mending pulang aja! Di sini udah gak asyik!”

Beni berlalu. Teman-temanku yang lain ikutan bubar meninggalkanku. Mereka semua pergi kecuali Tista. Entah kenapa ia belum beranjak. Ia malah duduk mendekatiku.

“Kamu gak apa-apa kan, Gra?” tanyanya lembut. “Seharusnya kamu maafin mereka. Aku tau mereka bersalah. Tapi mereka tuh cuma bercanda.”

“Mereka emang bercanda. Tapi bercandanya udah kelewatan.”
Tista terdiam. Ia menghela napas panjang. “Bukannya kamu takut bakteri dan amoeba. Dalam kehidupan ini ada banyak hal yang lebih menakutkan dari mereka dan yang kamu alami barusan itu cuma salah satunya aja!”

Aku mematung dalam kelimbungan. Ucapannya membuatku terasing dalam kehampaan.

“Sudah lebih baik kita cepet pulang, sepertinya sebentar lagi akan hujan. Bukankah kuman juga ada dalam air hujan?”

Seperti amoeba yang terjebak dalam lingkungan tak bersahabat, membran hatiku mengkista. Aku seperti organisme bersel satu yang hidup menyepi di tengah habitat alam. Tista telah membuatku menjadi protozoa nyata. Hujan pun membasahiku. Mungkin sebentar lagi aku akan mencair menjadi protoplasma.

* * *

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s