Arsip untuk November, 2012

image

Angel Sucks Demon

Keimanan adalah esensi hidup manusia yang tidak akan pernah terbayar oleh logika.

Kupandangi layar komputer dengan nanar sambil memegang foto dirimu yang tengah berpose memakai baju biarawati. Laman Google menyambutku. Kuketikan kata kunci dengan keyakinan penuh. “Tuhan”, itulah yang sedang aku cari. Aku mencari Tuhan di sini. Di dunia yang telah terdigitalisasi tanpa batas moralitas dan toleransi. Keimananku bisa saja menembus batas koneksi tapi hatiku tetap terbatasi.

Kusadari, aku bebas memilih surga atau neraka. Setahuku, aku bisa mengunggah nyawaku kemana saja. Aku hanya perlu jaringan yang stabil berkecepatan 7,2 mega byte per sekon, maka aku akan hilang seketika.

* * * *

Dania, tiga tahun sudah kita jalani hidup bersama. Perbedaan keyakinan tak bisa memisahkan kita. Kau Katholik, aku Muslim. Tapi kita tak pernah mempermasalahkannya. Referensi iman kita boleh saja tak sama. Aku tak pernah melarang kau memakai Rosario saat berkencan. Kau juga tak pernah memaksaku memakan babi goreng saat kita makan malam di restoran China.

Aku memang bukan muslim yang taat. Kuakui hal itu. Entahlah, aku tak begitu excited akan keimananku. Aku tak begitu sakral dalam menanggapi kehidupanku. Dibilang sekuler, tidak juga. Kedua orang tuaku adalah sosok muslim yang sebenarnya dan aku selalu merasa berdosa karena telah berjalan begitu jauh dari koridor mereka. Aku masih membaca buku-buku Friedrich Nietzsche di sela-sela mengerjakan tugas kuliahku. Kuanggap itu sebagai salah satu intermeso harianku. Tapi sepertinya Dania tidak merasa nyaman dengan itu.

“Kenapa kamu baca buku-buku seperti itu?” ia menggerutu.

“Emang kenapa?”

“Entahlah, aku merasa khawatir aja…”

“Ini hanya refrensi mata kuliah aja kok. Kamu tenang aja. Aku tak akan terpengaruh nihilisme atau apapun itu…”

“Kamu kan mahasiswa jurusan ilmu komputer. Di zaman Nietzsche belum ada komputer, telepon pun mash belum ketemu. Buat apa kamu baca buku filsafat kayak gitu? Gak nyambung tau!”

Dia selalu begitu. Mengkhawatirkanku untuk satu hal yang tak perlu. Well, memang komputer dan Nietzsche adalah dua hal berbeda. Tapi mereka terhubung dalam suatu urusan yang sama, yakni logika. Kurasa Dania tak akan menyetujui hal itu. Ia adalah makhluk semi-sakral yang tak mempercayai logika seutuhnya. Meski terkadang, ia juga menggoda keimananku. Aku pun dibuatnya mati kutu, dan aku selalu merindukan itu.

“Kamu percaya Tuhan?” tanyanya tenang.

“Ya,” jawabku tenang.

“Aku tak habis pikir bagaimana kamu bisa mengingat Tuhan saat kamu sibuk dengan komputer gilamu. Bagaimana pula kamu bisa mengingatku?”

“Tuhan ada dimana-mana. Bukankah semua orang bilang begitu…”

“Bahkan Dia ada dalam setiap nano byte memori komputermu?” Ia bertanya seakan tak berdosa. Itulah sisi yang aku suka darinya. Innocence.

“Tentu saja.”

“Lalu, kapan kamu akan mengingatmu?”

“Aku tak pernah mengingatmu karena kamu sudah menjadi salah satu jaringan saraf otakku.”

Aku mencintainya. Biarkan Tuhan tahu itu. Kami terbuai dalam romansa longitudinal antara rasa dan logika. Kami dua reaksi kimia yang tercampur dalam suatu senyawa. Aku rela mati untuknya. Kusentuh setiap jengkal hatinya seakan dunia milik kita berdua. Tapi percintaan memang tak selalu manis.  Begitu juga kehidupan. Dan terkadang bisa teramat pahit seperti racun yang bisa membawa hidupku ke titik penghabisan.

Semua mulai berbalik. Bumi selalu berotasi, kesucian terhibdrasi dan keyakinan pun terkadang tereduksi. Hari itu, kau datang menemuiku. Dengan wajah pucat mirip patung Maria Magdalena, kau memberiku sebuah bencana.

“Aku hamil,” ucapnya lirih.

Jantungku serasa dirajam oleh seribu cambukan. Nyawaku serasa melayang.

“Kamu ha.. hamil?”

“Ya.. rahimku terisi oleh buah cintamu.”

“Gugurkan!” Tanpa sadar, kata-kata itu keluar dari bibirku. Ia menatapku tajam seolah sebilah parang ia hadapkan.

“Tidak, kamu gila ya!” Ia marah luar biasa.

“Aku tak mau punya anak itu. Tidak sekarang. Aku belum siap!”

“Kau pikir aku juga siap?”

Aku terdiam. Dan tanpa sadar sebuah umpatan sadis meluncur dari lidahku.

“You’re a bitch!”

Ia menamparku. Menampar pula kehidupanku. Kami terbawa ke dalam lubang hitam yang membuat kami gelap mata. Cinta itu neraka. Seksualitas tak bisa menjawab segalanya. Aku dan dia adalah korbannya. Dimanakah Tuhan pada saat itu? Mungkin Ia sedang tertawa. Menertawakan kekonyolan kedua makhluknya.

We are fuckin losers. Destroying all the forgiveness. We’re on fire but we’re hopeless. I love you but it’s an  illness. We are the holy sinner and this is a curse.

Kami memilih aborsi sebagai jalan keluar yang paling logis. Biarlah satu nyawa itu hilang ditelan bumi. Kami siap menebusnya suatu hari nanti. Aku telah menjadi predator paling ganas di planet ini. Aku sadari itu tapi aku tak mengerti apa yang terjadi.

Setelah rahimnya ternodai. Dania berubah seratus delapan puluh derajat. Ia menjadi pendiam. Menjadi ekstrover yang memproteksi dari dunia luar. Menjadi pendosa telah membuatnya berevolusi menjadi wanita yang tak pernah kukenal sebelumnya. Gereja kini menjadi rumah keduanya. Alkitab dan Rosario telah menjadi kekasih barunya. Ia telah menyelingkuhiku dengan keimanannya. Kami jadi jarang bertemu dan aku tidak suka itu.

“Aku akan menjadi pelayan Tuhan,” ucapnya padaku. Bukankah Tuhan itu Maha Sempurna? Kenapa Ia harus dilayani? Ia bisa melakukan segalanya sendiri. Ia tak membutuhkan kita untuk membantunya. Apa kau mempercayai-Nya?

“Kamu yakin dengan itu?”

“Ya.”

Haluan hidupnya telah menghancurkan asaku. Kenapa kau lakukan itu padaku? Masih ingatkah saat kau berjanji akan menjalani hidup tanpa penyesalan denganku. Bagaimana dengan nasib rencana pernikahan kita? Bukankah kau sempat memikirkannya?

Ia memberiku sebuah pesan berharga. Keputusannya untuk menjadi wanita Katholik seutuhnya telah membuatku gila, ia mengungkapkan niatnya untuk pergi menjadi domba gembala-Nya. Ia pergi ke Lourdress, Prancis, tempat dimana Maria Magdalena dikabarkan dimakamkan di sana, untuk menjadi biarawati tanpa menemuiku terlebih dulu. Aku tak bisa mencegahnya.

“Tuhan telah memanggilku. Maafkan aku, hubungan ini sudah menemui jalan buntu,” pesannya padaku.

“Lalu bagaimana denganku? Kau tau aku tak bisa hidup tanpamu!”

Ia tersenyum melihat sisi melankolisku.

“Tuhan akan memberkatimu. Aku tahu itu.” Ia pun berlalu dan aku hanya bisa membatu tanpa bisa berbuat apa-apa.

* * * *

Layar monitor masih memberkatiku. Mengingat semua itu membuatku ngilu. Tuhan, dimanakah Kau berada? Apa esensi keimananku selama ini? Jika memang ada kehidupan setelah mati, kemanakah nyawaku saat tubuhku sudah tak bernapas lagi? Ruh adalah dimensi tak kasat mata yang mungkin bisa menjadi miliaran kode matriks Matematika. Kehidupanku bisa dilanjutkan dalam surga digital yang bisa kubuat sendiri. Tak ada setan, tak ada malaikat. Jiwaku telah terdigitalisasi. Aku tak peduli Tuhan dan Dania telah meninggalkanku. Sebotol racun sianida akan menemaniku. Aku percaya itu.

Thus spoke Zarathustra: Look, I teach you about Übermensch. Übermensch is the meaning of the world. Let your desire exclaimed!

Layar monitor komputer berkedip menyilaukan mataku. Kolase matriks telah tereksekusi dan tombol enter aku pijit dengan sisa ketenangan hati. Tapi lagi-lagi, aku dikhianati.

“Hey, pecundang! Tuhan telah meninggalkanmu di sini! Jaringan 3G sudah mati, pintu surga tidak akan terkoneksi!” ucap layar monitor sesaat setelah jantungku tak berdetak lagi. Dan aku pun lenyap. Mati.

* * * *

Iklan

image

“Namaku Agra. Higienis dan steril adalah dua kata yang sakral bagiku. Kotor adalah bencana dan jorok adalah malapetaka. Aku tak akan membiarkan benda asing menempeli tubuhku. Kebersihan badanku menempati kualitas tertinggi dalam kasta manusia.”

Itulah argumen mengenai hidup higien yang selalu kuagungkan selama ini. Higienis adalah segalanya bagiku. Virus, bakteri dan protozoa adalah musuh abadiku. Meski tubuh manusia dihuni oleh 10 ribu spesies mikroba, tapi aku tak mau diperbudak oleh mereka. Manusia adalah makhluk multiseluler paling sempurna. Tak ada alasan untuk disamakan dengan mikroorganisme sederhana macam mereka. Meski Charles Darwin bilang merekalah nenek moyang pertama spesies kita, tapi aku menolaknya. Teori evolusi terlalu ekstrim untuk ditelaah. Dan aku tak mau membuatnya jadi masalah.

Ada beberapa faktor krusial yang membuatku ekstra protektif terhadap higienitas seperti sekarang. Mungkin trauma masa kecilku jadi salah satu penyebab utamanya. Sewaktu aku duduk di kelas 5 SD, aku pernah terinfeksi virus H5N1 alias flu burung. Ya, aku pernah terinfeksi virus mematikan itu. Hampir selama sebulan aku diisolasi dari peradaban. Mengakrabi infus dan mimpi buruk akan kematian. Rasanya aku bisa gila kalau mengingat semua itu. Untunglah aku masih bisa disembuhkan.

Ibarat teori sebab-akibat, pengalaman itu telah mengubah pola pikirku akan definisi kata bersih dan sehat. Aku diberi pelajaran berharga bahwa kesehatan itu tak bisa dihitung oleh nilai eksakta. Sehat itu anugerah. Dan aku berjanji akan menjaganya meski harus dengan cara yang sedikit luar biasa. Mungkin ini terlalu berlebihan tapi itulah yang kini kulakukan.

Aku selalu cuci tangan setiap mau beraktifitas dengan membawa jel antiseptik kemana-mana. Mandi teratur, menjauhi tempat lembab dan kotor, meminimalisir aktifitas di luar ruangan, tidak makan sembarangan serta tidak minum dalam gelas yang sama untuk menghindari kontaminasi bakteri dan amoeba. Itulah hal-hal gila yang rutin kulakukan selama ini. Meski semua itu membuatku terkucilkan dari pergaulan, tapi aku tak peduli. Tak ada toleransi untuk patogen. Semua temanku tahu aku. Aku memang berteman dengan manusia, tapi maaf saja, aku tidak berteman dengan segala bentuk parasitisme dan penyakit.

“Agra tuh cuma mau bergaul dengan makhluk steril aja. Jangan harap dia mau main kotor-kotoran kayak kita!” begitulah canda teman-temanku. Aku tak pernah ikut mereka hangout di luar atau bermain bola. Saat pelajaran olahraga pun aku minta konpensasi agar tak ikut panas-panasan di lapangan atau di kolam renang. Untungnya guruku dapat memakluminya sehingga aku bisa terbebas dari kuman yang berkeliaran.

Aku melenceng dari pergaulan remaja, itu sudah pasti. Tapi suatu hari, aku dipaksa untuk kembali lebur dalam realita saat teman-temanku mengajakku berlibur di taman air kota.

“Lo udah gila ya? Lo ngajak gue berenang di taman air kota?” seruku begitu Beni datang dengan ajakannya.

“Ayolah Gra! Semua teman sekelas ikut, masa lo nggak?”

“Lo tau sendiri kalo di kolam renang itu ada triliunan bakteri dan amoeba. Maaf saja, tapi gue gak mau berenang bareng mereka.”

“Lo itu lebay banget deh, Gra! Lo tau gak, Tista juga ikut tau!”

“Tista?” Pemikiranku tergoda. Beni tahu kalau aku sangat suka Tista sejak kami masih duduk di bangku SMP. Dan di kelas 2 SMA ini kebetulan kami sekelas. “Ayo, Gra! Kapan lagi lo liat Tista pake baju renang? Kalo lo gak ikut, lo bakalan nyesel seumur hidup!”

Baiklah aku ikut. Kehadiran Tista telah mengubah pikiranku. Ia seperti magnet bagiku. Ia memakai baju renang seperti yang Beni bilang. Baju renang one piece warna hitam menempeli tubuh mulusnya. Sungguh cantik dan seksi. Sempurna! Di tengah kerumunan orang yang berenang, dia tampak seperti mutiara yang sulit tersamarkan. Tak menyesal aku datang. Dia memang pantas untuk ku pandang.

Ini pertama kalinya aku ke kolam renang setelah hampir 7 tahun kering kerontang dari dunia basah-basahan. Aku cuma duduk-duduk di pinggir kolam. Tak ada niat untuk berenang. Sebagai makhluk bertulang belakang yang hidup di daratan, tak ada keharusan bagiku untuk mencicipi kehidupan perairan. Teman-temanku boleh saja menjadi amfibi sesekali, tapi aku mamalia darat murni. Air hanya kugunakan sebagai media pembersih, bukan malah untuk memperkotor diri.

Beni dan beberapa temanku tiba-tiba keluar dari kolam. Mereka mengajakku berenang tapi aku tak mau. Sudah kubilang aku bukan ikan atau amfibi! Kenapa mereka tidak mengerti? Ternyata ajakan mereka bukan isapan jempol belaka. Tiba-tiba, mereka mengangkat tubuhku. Aku kaget. Secara brutal, tubuhku diceburkan ke kolam. Aku basah. Tangan dan kaki meronta. Oh tidak, ternyata kolam ini lumayan dalam. Mungkin sekitar 3 meteran lebih. Aku tenggelam.

Dari bawah air kulihat refleksi kaki para pengunjung yang berenang di kolam bagai kerumunan kuman, bakteri dan amoeba yang hendak memangsa. Bersama triliunan jasad renik aku berontak. Napasku terengah-engah. Aku melayang. Kesadaranku hilang ditelan air kolam.

* * *

Aku terbangun. Kepala ini pusing luar biasa. Kudapati diriku terbaring di pinggir kolam. Teman-teman dan beberapa pengunjung mengeremuniku seperti plankton yang mengerumuni karang.

“Lo gak apa-apa kan, Gra?” tanya Beni cemas.

Aku masih meresapi napasku yang hampir putus. Untuk yang kedua kali, nyawaku nyaris hilang.

“Lo mau bunuh gue ya? Lo kan tau gue gak bisa berenang!” bentakku, marah.

“Maafin kita Gra, tadi kita cuma bercanda…”

“Bercanda? Gue hampir mati! Lo pikir itu lucu?” Teman-temanku terdiam. Mereka merasa bersalah.

“Maafin kita Gra! Kita ngaku salah. Tapi syukurlah lo gak apa-apa.”

“Kalian pikir nyawa gue segampang itu!”

“Udah deh Gra, lo jangan lebay! Yang penting lo selamat. Beruntung lo masih kita selamatin juga” Beni jadi emosi.

“Lo itu belagu banget sih! Emang lo anggap nyawa gue ini apaan hah! Kalian tuh anjing tau!”

“Setan lo! Salah sendiri kenapa gak pernah ikut pelajaran renang. Bego banget gue punya temen kayak lo! Sudah, gue mending pulang aja! Di sini udah gak asyik!”

Beni berlalu. Teman-temanku yang lain ikutan bubar meninggalkanku. Mereka semua pergi kecuali Tista. Entah kenapa ia belum beranjak. Ia malah duduk mendekatiku.

“Kamu gak apa-apa kan, Gra?” tanyanya lembut. “Seharusnya kamu maafin mereka. Aku tau mereka bersalah. Tapi mereka tuh cuma bercanda.”

“Mereka emang bercanda. Tapi bercandanya udah kelewatan.”
Tista terdiam. Ia menghela napas panjang. “Bukannya kamu takut bakteri dan amoeba. Dalam kehidupan ini ada banyak hal yang lebih menakutkan dari mereka dan yang kamu alami barusan itu cuma salah satunya aja!”

Aku mematung dalam kelimbungan. Ucapannya membuatku terasing dalam kehampaan.

“Sudah lebih baik kita cepet pulang, sepertinya sebentar lagi akan hujan. Bukankah kuman juga ada dalam air hujan?”

Seperti amoeba yang terjebak dalam lingkungan tak bersahabat, membran hatiku mengkista. Aku seperti organisme bersel satu yang hidup menyepi di tengah habitat alam. Tista telah membuatku menjadi protozoa nyata. Hujan pun membasahiku. Mungkin sebentar lagi aku akan mencair menjadi protoplasma.

* * *