Komitmen Finansial? Apa Perlu?

Posted: 18 Agustus 2012 in Personal
Tag:, , , , , , , , , , ,
image

Money, I need you!

Menjelang Lebaran, keuangan berada di titik rawan. Saldo ATM amblas, gaji ludes, THR pas-pasan, dompet kering kerontang. Apalagi coba! Semua “aset” saya sudah dihabiskan. Bagaimana ini? Padahal kan belum Lebaran, gimana kalo udah lebaran? Mati deh gue! Rasanya sangat naif kalo cuma nyalahin momen Lebaran, kemudahan saya dalam mengeluarkan uang rasanya lebih pas buat dikambinghitamkan. Oke, berapa uang yang sudah saya habiskan? Berapa ya? Saya lupa haha…

Belanja, beli pulsa bulanan, jajan ini itu, hangout bareng teman, ongkos, jatah ortu dan sebagainya udah menelanjangi dompet saya secara membabibuta. Well, well, well, jadi gimana nasib dompet saya sekarang? Sekarat. Dan mungkin dalam beberapa hari lagi akan mati. Tidaaak!!!!

Boros! Boros! Boros! Itulah penyebab utamanya. Saya gak pernah bisa memanage uang secara sempurna. Apa yang udah dikonsep di awal bulan harus menyerah melawan godaan. Padahal saya udah rencanakan sebelumnya apa aja yang harus saya beli dan saya butuhkan. Masalahnya adalah mindset saya yang masih bisa diobrak-abrik oleh keinginan sesaat. Masih ingat dibenak saya saat beberapa hari lalu saya kalap berbelanja di swalayan. Oh my God, saat itu saya seperti singa gila yang mengobrak-abrik hutan. Dan itu sangat sangat sangat sebanding dengan rupiah yang harus saya keluarkan. Itulah salah satu kebodohan saya di bulan ini. Patut diapresiasi? Tentu saja jika anda mau melempari saya dengan lembaran struk panjang dan setumpuk tagihan.

Sebagai pemuda 20 tahunan yang sedang mencoba untuk hidup mandiri, apa perlakuan saya terhadap uang sudah keterlaluan? Okay.. okay… ini memang 100 persen salah saya! Lalu apa yang harus saya lakukan? Bisakah saya hidup hemat di masa mendatang? Hemat, cermat dan tidak laknat dalam mengambil keputusan keuangan?

Tadi saya udah nyoba-nyoba browsing cara-cara memanage keuangan. Secara teori mungkin saya bisa, tapi prakteknya bagaimana? Saya memang bukan pakar finansial yang bisa merencanakan keuangan secara tepat dan gamblang. Tapi gimanapun saya selalu berhubungan dengan uang (“Karena sesungguhnya manusia dan uang itu bersaudara.” -Al Rosmen ayat 501). Dan uang itu harus digunakan melalui perencanaan agar nggak berkeliaran sembarang.

So, darimana saya memulai ini semua? Setiap perubahan pasti membutuhkan komitmen untuk berubah. Komitmen keuangan, itulah langkah pertama yang harus saya lakukan. Komitmen keuangan macam apa yang harus saya komitmenkan? Komitmen untuk tidak diperbudak oleh uang! Kita itu manusia dan uang itu hanya nominal harga. Maka kita harus mempunyai otoritas penuh untuk mengaturnya. Rp 1.000,- akan menjadi Rp 0,- bila kita tidak bisa mengaturnya. Dan Rp 1.000,- mungkin aja bisa menjadi Rp 500,- atau Rp 900,- bila kita mampu mengaturnya. Jadi, pada dasarnya otoritas kitalah yang jadi faktor utamanya. Do you agree? Of course, cause I see. Jika ada uang Rp 1.000,- di saku saya, maka itu adalah pemberian Tuhan yang harus saya gunakan berdasarkan cara yang telah dianjurkan-Nya. Tentunya dengan cara-Nya, saya akan tahu sejauh mana otoritas finansial saya.

“UANG ADALAH KEDAULATANKU. AKU BERDAULAT PENUH ATAS UANGKU DAN AKU TIDAK AKAN DIPERBUDAK OLEH UANGKU,” camkan itu!

Saya akan lebih serius lagi mengikuti saran pakar keuangan. Komitmen itu harus jadi pedoman keuangan saya. Ingatlah, saya sudah banting tulang bekerja untuk mencarinya. Masa dihabiskan gitu aja sih, kan gak sepadan. Seperti saat kita menjalin komitmen dengan pacar, saya juga harus berkomitmen dengan rencana keuangan. Jangan sampai kita melanggar komitmen dan memutuskan hubungan. Ketahuilah kawan, jadi jomblo itu sungguh tidak menyenangkan (kok jadi curcol sih?). Galau karena putus cinta memang menyedihkan, tapi galau karena gak punya uang sungguhlah mematikan. Banyak orang yang mati karena gak punya uang. Kemiskinan dan kelaparan serta terjerat hutang akan semakin mendekatkan kita pada liang lahat. Bersyukurlah saya masih punya pekerjaan. Ingatlah masa-masa saat saya masih pengangguran. Saat itu hidup sungguh menyakitkan. Jangankan bisa hangout makan-makan, beli pulsa pun gak kesampean. Saya harus selalu mengingat hal itu karena dengan mengingatnya, saya akan kembali diingatkan bagaimana kerasnya perjuangan mencari uang.

Am I the only one getting tired?
Why is everybody so obsessed?
Money can’t buy us happiness
Can we all slow down
And enjoy right now
Guarantee we’ll be feeling alright

Begitulah kata Jessie J dalam lirik lagu Price Tag-nya. Okay, money can’t buy us happiness but without money we can’t guarantee that we can always be happy. Can you guarantee that? Ayolah! Yang harus saya lakukan adalah berdamai dengan keinginan dan mengefisensi kebutuhan. Kebutuhan tidak sama dengan keinginan. Keinginan spontan tidak lebih penting dari kebutuhan.

DESIRE ≠ REQUIREMENT

Notice me that! Tak ada keinginan yang lebih penting dari kebutuhan. Itu adalah sebuah hukum alam. Menekan keinginan dan mempriotaskan kebutuhan adalah harga mati. Uang tidak tahu mana keinginan mana kebutuhan. Dan sesungguhnya hanya saya yang seharusnya tahu akan hal itu.

Perlu saya tekankan lagi tentang uang dan superioritas pemiliknya. Begini rumusnya,

MONEY ≠ ME

Kita tidak lebih rendah dari uang yang kita miliki. Maka berkurang tidaknya uang yang kita miliki tergantung dari mindset kita sendiri. Money is not same with me! Yup, that’s the conclusion! Money can be a poison or a honey but I’m still a human, buddy! How much your money in the pocket doesn’t mean anything. Your thought is the important thing to buy something. So, just be efficient and saving. That’s a good thing.

Baiklah, sekarang saya harus menghitung berapa uang yang masih tersisa di dompet saya. Saya punya otoritas dan tanggung jawab penuh untuk menggunakannya.

Ck… ck… cckk….
Oh my Gosss, uangku mana? Ternyata dompetnya kosong! What the hell is going on??? I need my fuckin MONEEEY!!!!!

Kalo kere gini sih apa yang musti dihemat… Ah dasar bangke!!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s