Arsip untuk Juli, 2012

sumber: VIVAnews


2050, tepat di tahun itu, negeri ini sudah genap berusia seabad lebih 5 tahun. Saat itu, saya sudah renta. Saya mungkin sudah menjadi kakek uzur yang hampir memfosil terbungkus keriput. Dari celoteh anak cucu, saya mendengar berbagai cerita tentang kondisi bangsa. Tentang perubahan dan proses metamorfosis panjang para manusia nusantara. Apakah negeri ini akan semakin maju atau semakin bobrok? Siapakah orang yang paling banyak menghuni negeri ini? Para pemenang atau malah para pecundangkah? Entahlah, saya tidak tahu. Saya tidak tahu apa 40 tahun lagi saya masih hidup di dunia. Saya bahkan tak tahu apa negeri yang saya cintai ini masih ada atau tidak.

Nalar saya langsung terpancing ketika membaca sebuah artikel berjudul “40 Tahun Mendatang, Penduduk Indonesia Naik 2 Kali Lipat” di situs VOA Indonesia tanggal 19 Juli 2012 lalu. Dengan jumlah penduduk sekarang saja yang sudah 237,6 juta jiwa, berbagai permasalahan sudah ruwet memperkeruh berbagai aspek kehidupan bangsa, apalagi kalau 2 kali lipatnya atau sekitar 400 juta lebih. Entah bagaimana negeri ini jadinya. Dengan pertumbuhan penduduk yang mencapai 1,49 persen per tahun, Indonesia menempati posisi kelima sebagai negara terbesar penyumbang pertumbuhan penduduk dunia setelah India, China, Nigeria dan Pakistan. Dan provinsi yang menjadi penyumbang angka pertumbuhan penduduk terbesar di Indonesia adalah Jawa Barat ( 43,053 juta jiwa), provinsi dimana saya lahir dan tinggal sekarang.

Penduduk dunia diramalkan akan menjadi 10 miliar pada tahun 2050 nanti. 10 miliar? Ya, 10 miliar manusia akan menghuni planet mungil yang sudah semakin tua. Lalu, dimanakah posisi Indonesia? Sebagai negara berpenduduk terbesar keempat, laju pertumbuhan penduduk Indonesia jelas sangat diantisipasi dunia. Bisa dibayangkan jumlah miliaran manusia seperti yang telah disebutkan di atas. Jumlahnya semakin menyamai jumlah sel yang membentuk tubuh kita. Kita hidup dalam bumi yang semakin menua. Sumber daya alam semakin langka. Haruskah kita eksodus ke planet lain seperti cerita James Cameron dalam film Avatar-nya?

Mungkin sikap saya terlalu berlebihan, tapi sebagai salah satu generasi muda yang akan menjadi aktor utama masa depan, saya dan jutaan pemuda Indonesia lainnya patut was-was. Program Milenium Development Goals yang selama ini digalang pemerintah dan PBB tidak akan berhasil kalau pertambahan penduduknya tetap stagnan pada angka yang masif. Sejuta masalah yang akan menghadang sudah tidak perlu saya jelaskan lagi. Jutaan warga miskin indonesia akan semakin bertambah. Menurut data BPS tahun 2011, ada sekitar 29,13 juta warga miskin di Indonesia. Tapi banyak sumber lain yang mengeluarkan hasil berbeda. Menurut parameter kemiskinan yang digunakan oleh Asian Development Bank (ADB), seseorang bisa disebut miskin bila berpenghasilan di bawah US$ 1,25 per hari. Sedangkan menurut parameter Bank Dunia yang berpedoman pada metode Purchasing Power Parity (PPP), penduduk miskin adalah mereka yang memiliki pengeluaran per hari U$ 2 atau kurang. Kalau begini kriterianya, maka jumlah penduduk miskin Indonesia bisa lebih besar dari jumlah yang dikeluarkan BPS. Wah, bagaimana ini? Pengangguran, krisis ekonomi, ketahanan pangan, ketersediaan fasilitas pendidikan dan kesehatan serta segudang problema lainnya tidak mungkin terelakan. Program KB yang selama ini menjadi andalan belum menyentuh semua lapisan. Kontrasepsi dan pengendalian reproduksi akan menjadi sesuatu yang tidak berguna bila tidak ada keberlanjutan yang berarti. Dalam Index Negara Gagal (Failed State Index (FSI) 2012 yang dipublikasikan lembaga Fund For Peace (FFP) di Washington DC, Amerika Serikat, Indonesia menempati posisi 63 dari 178 negara. Indonesia dianggap memenuhi kriteria negara-negara dalam bahaya (in danger) menuju negara gagal. Tahun lalu, Indonesia menempati peringkat ke-64 dari 177 negara. Maka dapat diartikan kondisi Indonesia sepanjang satu tahun terakhir dipandang memburuk dibandingkan tahun sebelumnya. Apa benar Indonesia adalah negara gagal? Apakah kita harus pesimis menghadapi semua ini? Apa kita cuma bisa diam saja melihat bangsa ini terseok-seok di tengah peradaban dunia? Tentu saja tidak. Jangan sampai itu terjadi.

sumber: antarafoto.com


Indonesia adalah negara besar. Coba tebak siapa negara Next Eleven selanjutnya. Di tahun 2050 nanti, Indonesia sudah menargetkan diri menjadi lima besar kekuatan ekonomi dunia. PDB indonesia diperkirakan akan menjadi US$ 13,93 triliun dengan pendapatan perkapita mencapai US$ 23.000 per tahunnya. Penduduk kelas menengah menengah Indonesia mengalami peningkatan yang fantastis. Bank Dunia telah memproyeksikan pertumbuhan kelas menengah Indonesia ke depan akan maju pesat bila pendapatan per kapita dipercepat dan dipertahankan dengan asumsi pertumbuhan PDB riil 7,5% per tahun (sumber: inilah.com). Mayoritas lembaga keuangan dunia berduyun-duyun melaporkan perekonomian Indonesia dalam kondisi positif. Menurut survey Global Advisor Wave 29 yang dilakukan Ipsos, Indonesia adalah negara dengan persentase tertinggi dunia dimana penduduknya memilih menjadi lebih kreatif daripada lebih pintar (sumber: GNFI). Indonesia pun masuk dalam jajaran negara yang diminati para pengusaha untuk membuka usaha. Hasil survey Standard Chartered beberapa waktu lalu menyebutkan pengusaha Indonesia adalah yang paling optimis di Asia di tengah gonjang-ganjing ekonomi dunia. Alangkah luar biasanya semua itu bukan? Untuk mencapai cita-cita itu, beberapa asumsi harus bisa tercapai, yaitu pertumbuhan ekonomi riil rata-rata harus 7,62% persen, laju inflasi 4,95% dan pertumbuhan penduduk rata-rata hanya 1,12 % per tahun. Mustahilkah semua itu terjadi? Ini tanggung jawab kita bersama. Peradaban masa depan terus menantang. Dan kita harus konkrit melakukan aksi yang matang.

Pembangunan ekonomi, pertumbuhan penduduk dan pendidikan merupakan aspek penting dalam meningkatkan kualitas penduduk. Pertumbuhan ekonomi bukan cuma soal angka. Pemerintah juga diminta fokus pada upaya pemerataan ekonomi dan redistribusi pendapatan. Data BPS menyebutkan, pendapatan golongan ekonomi bawah hanya meningkat 2,75%. Sedangkan golongan menengah tumbuh 6,62%. Jangan sampai pertumbuhan ekonomi hanya dinikmati oleh golongan kaya saja. Seluruh warga Indonesia harus merasakannya pula. Kita tidak bisa terus dalam paradigma pembangunan ekonomi yang berbasis eksploitasi sumber daya alam. Kita juga harus tengok sumber daya manusianya. Dengan pertumbuhan penduduk yang sebegitu tingginya, Indeks Pembangunan Manusia Indonesia hanya menempati urutan ke 124 dari 187 negara. Ironis memang. Menurut United Nations Development Program (UNDP), nilai IPM Indonesia tahun 2011 hanya 0,617. Peringkat ini turun dari peringkat 108 di tahun 2010 lalu. Indonesia bahkan tertinggal dari negara tetangga, seperti Singapura dengan nilai 0,866, Brunei dengan nilai 0,838, Malaysia (0,761), Thailand (0,682,) dan Filipina (0,644). Indonesia hanya unggul dari Vietnam yang memiliki nilai IPM 0,593, Laos dengan nilai IPM 0,524, Kamboja dengan nilai IPM 0,523 dan Myanmar dengan nilai IPM 0,483. Harus diakui kalau sistem pendidikan kita masih bersifat pragmatis. Anggaran pendidikan sebesar 20% seperti yang diamanatkan konstitusi tampaknya masih belum mampu mengenjot nilai IPM secara drastis.

Ibarat kita punya segudang pisau tumpul untuk memotong daging. Sebanyak apapun pisau yang kita punya, daging tidak akan terpotong dengan sempurna karena pisau itu tumpul. Pisau itu harus diasah terlebih dahulu. Dan agar pisau bisa diasah, kita butuh kemauan, tenaga dan tentunya media pengasah. Begitu pun dalam hal kependudukan. Sebanyak apapun penduduk suatu bangsa, tak akan berarti apa-apa bila kualitasnya semenjana. Tapi bayangkan kalau penduduk yang berlimpah itu berkualitas semua, betapa majunya peradaban bangsa tersebut. Tentunya untuk mewujudkan semua itu diperlukan modal yang besar. Tapi dampak positif yang diberikan pun tidak kalah besarnya.

sumber: depsos.go.id


Sebagai salah seorang tunas bangsa, saya sangat mendukung penerapan pendidikan berbasis kualitas penduduk. Ratusan juta penduduk Indonesia itu tidak sama. Setiap orang memiliki bakat dan keahlian yang berbeda. Apa jadinya bila setiap bakat dan keahlian itu diasah dan dimaksimalkan dalam kehidupan nyata. Kualitas penduduk Indonesia jelas akan semakin diakui dunia. Dengan meningkatnya kualitas penduduk, maka berbagai aspek masalah kependudukan bisa diantisipasi sesegera mungkin, seperti ketahanan pangan, kesehatan, kesejahteraan dan gejolak krisis ekonomi. Apabila tingkat pendidikan penduduk semakin tinggi, maka kesadaran untuk melaksanakan KB pun akan semakin tinggi. Ledakan populasi bisa dicegah. Masa depan bangsa jadi terarah.

Rasanya kita tak perlu jauh-jauh eksodus ke planet Pandora. Indonesia adalah kotak pandora yang tidak ternilai harganya. Negara ini baru saja memasuki momentum bagus. Jangan sampai ledakan penduduk meleburkan semua kesempatan emas itu.

Masih ada 38 tahun lagi untuk membenahi negeri ini. Omong kosong tidak akan membuat negeri ini maju. Generasi muda akan selalu berada di garda paling depan peradaban negeri. Dengan optimisme tinggi sekaligus segudang aksi yang terkoodinir secara rapi dan presisi, maka tidaklah mustahil kemajuan negeri ini akan melesat menembus ekspektasi. Masa depan bangsa yang cerah siap untuk dijajaki, 2050 telah menanti dengan harapan pasti.

Sumber:
http://www.voaindonesia.com
http://www.vivanews.com
http://www.kompas.com
http://www.depsos.go.id
http://www.bps.go.id
http://www.goodnewsfromindonesia.org
http://www.inilah.com
http://www.wikipedia.org
http://www.antara.com