image

Sudah hampir dua minggu sejak Lana memutuskannya, tapi Hildan masih belum bisa melupakannya. Ia masih belum percaya kalau hubungan yang sudah setahun lebih ini mereka rajut harus berakhir di tengah jalan.

“Dan, sebaiknya hubungan ini kita akhiri aja,” ucap gadis manis berambut sebahu itu yang langsung meremukan hati Hildan. Dua mangkuk mi ayam Abang Romli jadi saksi malam minggu terakhirnya yang kelabu.

“Maksud kamu apa, Na?” tanya Hildan kaget.

“Aku udah lelah. Hubungan ini emang gak bisa dilanjutin lagi. Kita udah saling gak cocok. Udah terlalu banyak konflik dalam hubungan kita, Dan!”

Hildan terdiam seribu bahasa. Mendengar ucapannya, hati Hildan seakan diiris pedang para ksatria.

Ya, begitulah cara Lana menghancurkan hatinya. Ia masih belum mengerti apa alasan di balik semua itu. Baginya, semua terasa begitu cepat sehingga ia belum sempat menerima keputusan sepihak Lana.

Secara logika, sungguh sulit baginya untuk melupakan Lana. Mereka sama-sama belajar di sekolah yang sama. Mereka pun masih sering bertemu di gedung aula sekolah saat latihan drama. Mereka berdua ikut berperan dalam drama musikal dongeng Puteri Salju untuk acara malam perpisahan sekolah. Puteri Salju? Sebenarnya Hildan kurang setuju dengan pementasan drama itu. Cerita drama itu kurang sesuai dengan anak SMA seusianya. Terlalu kekanak-kanakan, begitu katanya. Tapi tak apalah karena Pak Ardi, sang guru Bahasa Inggris yang didaulat menjadi sutradara drama, sudah berjanji akan membuat kisah klasik ini jadi lebih meremaja.

Bisa berpartisipasi dalam sebuah pementasan drama mungkin sepertinya menyenangkan. Tapi, Hildan merasa tersiksa. Ia tak mendapat peran utama. Ia jadi salah satu kurcaci, sedangkan Lana jadi Puteri Salju-nya. Dan tebak siapa yang berperan jadi pangerannya? Dia adalah Rafin, cowok belagu yang paling Hildan benci di planet ini. Dia playboy kampung yang suka gonta-ganti cewek. Dia sok ganteng, sok kaya dan lain sebagainya. Pokoknya Hildan gak suka banget sama dia.

Melihat akting lebaynya bikin Hildan gila. Lana dan Rafin semakin dekat saja. Sulit dibedakan mana yang akting mana yang tidak. Semua itu bikin Hildan makin tambah muak saja.

Gosip menyebar begitu cepat. Banyak orang yang bilang kalau mereka sudah jadian. Banyak pula teman Hildan yang mengiyakan kabar itu padanya. Telinga Hildan bagai disumpal bara. Jelas ia tak terima. Mereka baru putus dua minggu dan Lana sudah menemukan pengganti yang baru. Ini sungguh keji. Skenario macam apa ini?

Bertemu mereka setiap hari tak jarang membuat Hildan emosi. Untung Hildan selalu berhasil mengendalikannya sehingga bola panas tak jadi menggelinding membabi buta. Tapi suatu waktu, benteng pertahanannya runtuh juga. Ia tak bisa lagi menyembunyikan rasa sebalnya pada Rafin. Berawal dari protesnya pada Pak Ardi, ketegangan pun bermula.

“Pak, bukannya pangeran itu cuma ada pas adegan terakhirnya aja? Tapi, kenapa dari awal sudah masuk dalam cerita?”

Pak Ardi cuma mengernyitkan dahi, tapi Rafin sudah tahu arti sindiran dalam ucapan Hildan. Genderang perang sudah mulai dibunyikan. Dua ksatria sudah siap saling menyerang.

“Maksud lo apa, Dan?” sentak Rafin, nyolot.

“Nggak, gue cuma ingin pentas drama ini lebih efektif aja,” jawab Hildan enteng.

“Jadi maksud lo, peran gue gak efektif?”

“Ya, baguslah kalo lo ngerti.”

Pertengkaran tak bisa terelakan. Bahkan adu jotos pun tak bisa terbendung lagi. Panggung mendadak jadi arena tinju. Drama Puteri Salju berubah menjadi ajang bela diri dua jagoan belagu. Semua orang di tempat itu tentu tahu, bukan cerita Puteri Salju yang jadi penyebab perseteruan ini. Lana-lah satu-satunya alasan kenapa Hildan berani melemparkan tinju.

Perkelahian berlangsung sekejap. Setelah Pak Ardi dan teman-teman yang lain melerai, adu jotos pun terhenti.

Lana berjalan ke arah Hildan dan Rafin. Jangan tanya seberapa panas api amarah di hatinya. Perkelahian ini jelas tak bisa ditolerir. Magma seakan ingin keluar dari mulutnya.

“Kalian ini apa-apaan sih!” Pandangan nanar langsung ia tujukan ke arah Hildan. Bagai sebuah kutukan, sebuah kalimat sakti segera keluar dari bibir manisnya. “Aku kecewa banget sama kamu, Dan.” Ucapannya menusuk. Hildan hanya bisa membatu.

Kekisruhan ini jelas mengancam eksistensinya sebagai sebagai kurcaci. Beruntung, Pak Ardi masih memberikan toleransi. Mungkin karena waktu pementasan yang sudah sangat mepet sehingga sangat tidak dimungkinkan untuk mencari pemain yang baru.

Peran Hildan dalam drama masih bisa terselamatkan. Tapi, bagaimana dengan Lana? Apakah ia masih sudi memaafkannya? Tanggal 29 Mei nanti, drama itu akan dipentaskan. Tepat dengan hari ulang tahun Lana yang ke 18. Hanya segelintir orang yang tahu akan hari istimewanya itu. Salah satunya Hildan. Maka akan ia jadikan momen spesial itu sebagai saat yang tepat untuk menyampaikan permintaan maafnya.

Lalu, apa hadiah yang akan ia berikan pada Lana? Sebuah benda bulat berwarna merah langsung terlintas di kepala Hildan. Apel! Ya, apel. Buah yang dipercaya banyak orang sebagai jelmaan buah khuldi yang menyebabkan Adam dan Hawa terlempar dari surga. Buah bernutrisi yang terkadang disamakan dengan buah simalakama, si pembawa malapetaka. Lana sangat menyukai apel. Ia sangat suka dengan benda-benda yang berhubungan dengan apel. Seperti Puteri Salju yang tak kuasa tergoda oleh ranumnya apel nenek sihir, begitu pun dengan Lana. Ia tak pernah menolak berbagai hadiah yang berhiaskan buah apel. Tentu Hildan masih ingat bagaimana senangnya Lana saat ia berikan tas bermotif apel di ultahnya tahun lalu. Meski tas itu kini tak pernah dipakai lagi, tapi dengan mengingat raut wajah Lana di waktu itu sudah cukup memberikan secercah harapan baru baginya.

Sebuah bando cantik berhiaskan apel merah keemasan telah ia pilihkan untuk Lana. Meski ia tak yakin Lana akan memaafkannya, tapi paling tidak, Lana masih mau menerima hadiah pemberiannya.

Warna-warni kostum kurcaci membungkus tubuh Hildan. Ia menunggu Lana di belakang panggung dengan harap-harap cemas. Lana keluar dari ruang ganti. Tidak, dia bukan Lana. Dia Puteri Salju. Gaun cantik yang ia kenakan semakin membuatnya tambah jelita. Lebih dari puteri Disney, dia puteri fantasi yang selama ini Hildan cari. Dia berhasil mempesona banyak pasang mata. Dan dengan jantung yang berdegup kencang, Hildan pun mencoba mendekatinya.

“Na, aku punya sesuatu buat kamu,” ucap Hildan sambil mengeluarkan bando cantik itu.

“Selamat ulang tahun ya, Na! Anggap aja ini sebagai permintaan maafku.”

Lana menghela napas. Ia diam dalam sorot matanya yang masih nanar.

“Udah deh, Dan! Hubungan kita tuh udah berakhir! Kita gak bisa perbaiki semua ini. Maaf, aku gak bisa nerima hadiah dari kamu.”

Lana segera berlalu menuju panggung. Jiwa Hildan serasa dihempas badai salju. Bukan ucapan Lana yang membuat hatinya hancur tak bersisa. Sepasang anting perak berbentuk apel menempel di kedua telinganya. Baru kali ini ia lihat Lana memakai benda seperti itu. Siapa yang memberi anting-anting itu padanya?

Ia lihat pangeran gadungan tersenyum di belakangnya. Dengan sinis, Rafin menunjukan arogansinya. Segera hampalah batinnya. Hildan telah kalah. Mantera sihir telah meluluhkan semua asanya.

*Cerpen ini sempat dimuat di Tabloid KEREN BEKEN edisi 12
13-26 Juni 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s