Arsip untuk Juni, 2012

image

Absurd dan absurditas, apa yang ada di benak kamu begitu mendengar dua kata ajaib itu? Absurditas bisa diartikan sebagai keanehan, keganjilan atau ketidaknormalan yang berbeda dari pandangan kebanyakan orang. Absurditas adalah padanan lain dari abnormalitas. Banyak orang yang menganggap keabsurditasan sebagai suatu bentuk penentangan terhadap norma yang berlaku di masyarakat. Maka jangan salah bila banyak pemikiran absurd dianggap sebagai suatu bentuk pemberontakan yang mengganggu stabilitas fatwa “kenormalan”. Padahal keabsurditasan adalah sebuah identitas. Absurd itu beda. Dan setiap orang itu beda.

Banyak tokoh dunia yang dikenal karena pemikiran absurd mereka. Siapa yang tak mengenal Albert Einstein yang menggemparkan dunia dengan teori relatifitasnya. Nicolaus Corpenicus sempat dianggap aneh oleh gereja Katholik Roma karena pandangan Heliosentrisnya. Gusdur, Abraham Lincoln dan Mahatma Gandhi pun tak luput dari label miring masyarakat yang menganggap mereka gila dengan pendapat pendapatnya. Charlie Chaplin dan Mr. Bean mungkin tak akan dikenal kalau penampilan mereka di depan publik biasa-biasa saja. Lady Gaga dan Madonna mungkin cuma wanita biasa kalau tanpa embel-embel kontroversi penampilan nyentrik mereka. So, what the shit is absurdity?

Bagi mereka yang bangga dengan kenormalan, mereka akan dengan mudah menjudge siapa saja yang berbeda faham dengan mereka. Apakah kenormalan itu layak diagungkan? Apakah Tuhan benar-benar menciptakan kenormalan dengan yang senormal-normal hingga menyangsikan keabsurditasan? Saya kira tidak. Jika kita menengok cerita para nabi, maka kita pun tak akan bisa terhindar dari keabsurditasan. Ajakan mereka untuk mengarahkan manusia pada jalan kebaikan sering dianggap absurd oleh masyarakat yang hidup di zamannya. Nabi Ibrahim As. sempat dianggap pemberontak oleh kaumnya karena menghancurkan berhala. Nabi Isa As. dianggap aneh karena bisa dilahirkan ke dunia tanpa kehadiran seorang bapak. Begitu pun dengan Nabi Muhammad Saw. Beliau sempat dianggap gila karena melakukan Isra Mi’raj yang menurut sebagian besar orang sebagai suatu kemustahilan. Bukankah semua itu absurd? Bukankah semua itu bukti keabsurditasan Tuhan yang telah dilimpahkan pada umat-Nya. Semua keabsurditasan itu hanya bisa dijawab dengan keimanan. Semua absurditas itu akan menimbulkan konflik yang berkepanjangan bila tidak dicerna dengan hati lapang. Dan apabila kita masih dengan sombongnya menghakimi pemikiran absurd seseorang, apakah kita tak sadar kalau kita juga berasal dari keabsurditasan?

Tak akan ada kenormalan bila tak ada keabsurditasan. Normal bermula dari absurd dan absurd adalah cikal bakal kenormalan. Keabsurditasan adalah suatu komoditas yang ada dalam diri setiap orang. Absurditas adalah komoditas individu untuk berkarya secara berbeda. Manusia itu sungguhlah absurd karena Tuhan juga menciptakan mereka dalam keadaan absurd. So, are you still thinking that you so absolutely normal? Please don’t intimidate me cause God makes us absurd, baby!

image

Sudah hampir dua minggu sejak Lana memutuskannya, tapi Hildan masih belum bisa melupakannya. Ia masih belum percaya kalau hubungan yang sudah setahun lebih ini mereka rajut harus berakhir di tengah jalan.

“Dan, sebaiknya hubungan ini kita akhiri aja,” ucap gadis manis berambut sebahu itu yang langsung meremukan hati Hildan. Dua mangkuk mi ayam Abang Romli jadi saksi malam minggu terakhirnya yang kelabu.

“Maksud kamu apa, Na?” tanya Hildan kaget.

“Aku udah lelah. Hubungan ini emang gak bisa dilanjutin lagi. Kita udah saling gak cocok. Udah terlalu banyak konflik dalam hubungan kita, Dan!”

Hildan terdiam seribu bahasa. Mendengar ucapannya, hati Hildan seakan diiris pedang para ksatria.

Ya, begitulah cara Lana menghancurkan hatinya. Ia masih belum mengerti apa alasan di balik semua itu. Baginya, semua terasa begitu cepat sehingga ia belum sempat menerima keputusan sepihak Lana.

Secara logika, sungguh sulit baginya untuk melupakan Lana. Mereka sama-sama belajar di sekolah yang sama. Mereka pun masih sering bertemu di gedung aula sekolah saat latihan drama. Mereka berdua ikut berperan dalam drama musikal dongeng Puteri Salju untuk acara malam perpisahan sekolah. Puteri Salju? Sebenarnya Hildan kurang setuju dengan pementasan drama itu. Cerita drama itu kurang sesuai dengan anak SMA seusianya. Terlalu kekanak-kanakan, begitu katanya. Tapi tak apalah karena Pak Ardi, sang guru Bahasa Inggris yang didaulat menjadi sutradara drama, sudah berjanji akan membuat kisah klasik ini jadi lebih meremaja.

Bisa berpartisipasi dalam sebuah pementasan drama mungkin sepertinya menyenangkan. Tapi, Hildan merasa tersiksa. Ia tak mendapat peran utama. Ia jadi salah satu kurcaci, sedangkan Lana jadi Puteri Salju-nya. Dan tebak siapa yang berperan jadi pangerannya? Dia adalah Rafin, cowok belagu yang paling Hildan benci di planet ini. Dia playboy kampung yang suka gonta-ganti cewek. Dia sok ganteng, sok kaya dan lain sebagainya. Pokoknya Hildan gak suka banget sama dia.

Melihat akting lebaynya bikin Hildan gila. Lana dan Rafin semakin dekat saja. Sulit dibedakan mana yang akting mana yang tidak. Semua itu bikin Hildan makin tambah muak saja.

Gosip menyebar begitu cepat. Banyak orang yang bilang kalau mereka sudah jadian. Banyak pula teman Hildan yang mengiyakan kabar itu padanya. Telinga Hildan bagai disumpal bara. Jelas ia tak terima. Mereka baru putus dua minggu dan Lana sudah menemukan pengganti yang baru. Ini sungguh keji. Skenario macam apa ini?

Bertemu mereka setiap hari tak jarang membuat Hildan emosi. Untung Hildan selalu berhasil mengendalikannya sehingga bola panas tak jadi menggelinding membabi buta. Tapi suatu waktu, benteng pertahanannya runtuh juga. Ia tak bisa lagi menyembunyikan rasa sebalnya pada Rafin. Berawal dari protesnya pada Pak Ardi, ketegangan pun bermula.

“Pak, bukannya pangeran itu cuma ada pas adegan terakhirnya aja? Tapi, kenapa dari awal sudah masuk dalam cerita?”

Pak Ardi cuma mengernyitkan dahi, tapi Rafin sudah tahu arti sindiran dalam ucapan Hildan. Genderang perang sudah mulai dibunyikan. Dua ksatria sudah siap saling menyerang.

“Maksud lo apa, Dan?” sentak Rafin, nyolot.

“Nggak, gue cuma ingin pentas drama ini lebih efektif aja,” jawab Hildan enteng.

“Jadi maksud lo, peran gue gak efektif?”

“Ya, baguslah kalo lo ngerti.”

Pertengkaran tak bisa terelakan. Bahkan adu jotos pun tak bisa terbendung lagi. Panggung mendadak jadi arena tinju. Drama Puteri Salju berubah menjadi ajang bela diri dua jagoan belagu. Semua orang di tempat itu tentu tahu, bukan cerita Puteri Salju yang jadi penyebab perseteruan ini. Lana-lah satu-satunya alasan kenapa Hildan berani melemparkan tinju.

Perkelahian berlangsung sekejap. Setelah Pak Ardi dan teman-teman yang lain melerai, adu jotos pun terhenti.

Lana berjalan ke arah Hildan dan Rafin. Jangan tanya seberapa panas api amarah di hatinya. Perkelahian ini jelas tak bisa ditolerir. Magma seakan ingin keluar dari mulutnya.

“Kalian ini apa-apaan sih!” Pandangan nanar langsung ia tujukan ke arah Hildan. Bagai sebuah kutukan, sebuah kalimat sakti segera keluar dari bibir manisnya. “Aku kecewa banget sama kamu, Dan.” Ucapannya menusuk. Hildan hanya bisa membatu.

Kekisruhan ini jelas mengancam eksistensinya sebagai sebagai kurcaci. Beruntung, Pak Ardi masih memberikan toleransi. Mungkin karena waktu pementasan yang sudah sangat mepet sehingga sangat tidak dimungkinkan untuk mencari pemain yang baru.

Peran Hildan dalam drama masih bisa terselamatkan. Tapi, bagaimana dengan Lana? Apakah ia masih sudi memaafkannya? Tanggal 29 Mei nanti, drama itu akan dipentaskan. Tepat dengan hari ulang tahun Lana yang ke 18. Hanya segelintir orang yang tahu akan hari istimewanya itu. Salah satunya Hildan. Maka akan ia jadikan momen spesial itu sebagai saat yang tepat untuk menyampaikan permintaan maafnya.

Lalu, apa hadiah yang akan ia berikan pada Lana? Sebuah benda bulat berwarna merah langsung terlintas di kepala Hildan. Apel! Ya, apel. Buah yang dipercaya banyak orang sebagai jelmaan buah khuldi yang menyebabkan Adam dan Hawa terlempar dari surga. Buah bernutrisi yang terkadang disamakan dengan buah simalakama, si pembawa malapetaka. Lana sangat menyukai apel. Ia sangat suka dengan benda-benda yang berhubungan dengan apel. Seperti Puteri Salju yang tak kuasa tergoda oleh ranumnya apel nenek sihir, begitu pun dengan Lana. Ia tak pernah menolak berbagai hadiah yang berhiaskan buah apel. Tentu Hildan masih ingat bagaimana senangnya Lana saat ia berikan tas bermotif apel di ultahnya tahun lalu. Meski tas itu kini tak pernah dipakai lagi, tapi dengan mengingat raut wajah Lana di waktu itu sudah cukup memberikan secercah harapan baru baginya.

Sebuah bando cantik berhiaskan apel merah keemasan telah ia pilihkan untuk Lana. Meski ia tak yakin Lana akan memaafkannya, tapi paling tidak, Lana masih mau menerima hadiah pemberiannya.

Warna-warni kostum kurcaci membungkus tubuh Hildan. Ia menunggu Lana di belakang panggung dengan harap-harap cemas. Lana keluar dari ruang ganti. Tidak, dia bukan Lana. Dia Puteri Salju. Gaun cantik yang ia kenakan semakin membuatnya tambah jelita. Lebih dari puteri Disney, dia puteri fantasi yang selama ini Hildan cari. Dia berhasil mempesona banyak pasang mata. Dan dengan jantung yang berdegup kencang, Hildan pun mencoba mendekatinya.

“Na, aku punya sesuatu buat kamu,” ucap Hildan sambil mengeluarkan bando cantik itu.

“Selamat ulang tahun ya, Na! Anggap aja ini sebagai permintaan maafku.”

Lana menghela napas. Ia diam dalam sorot matanya yang masih nanar.

“Udah deh, Dan! Hubungan kita tuh udah berakhir! Kita gak bisa perbaiki semua ini. Maaf, aku gak bisa nerima hadiah dari kamu.”

Lana segera berlalu menuju panggung. Jiwa Hildan serasa dihempas badai salju. Bukan ucapan Lana yang membuat hatinya hancur tak bersisa. Sepasang anting perak berbentuk apel menempel di kedua telinganya. Baru kali ini ia lihat Lana memakai benda seperti itu. Siapa yang memberi anting-anting itu padanya?

Ia lihat pangeran gadungan tersenyum di belakangnya. Dengan sinis, Rafin menunjukan arogansinya. Segera hampalah batinnya. Hildan telah kalah. Mantera sihir telah meluluhkan semua asanya.

*Cerpen ini sempat dimuat di Tabloid KEREN BEKEN edisi 12
13-26 Juni 2012

image

Dari judul tulisannya tampak gak penting banget ya? Haha… it really sucks! Sock!!! Yeah, I’m gonna tell you about this! Are you ready to read this shit? Hopely you’re not hahaha…

Saya bakal ngomongin sebuah kaos kaki yang amazing banget buat saya. Kaos kaki ini saya beli sekitar 4 tahun lalu, sekitar pertengahan November 2008, tepatnya saat saya masih duduk di kelas 3 SMA. Saya beli kaos kaki ini dengan harga Rp 8.000, 00 dari uang arisan kelas yang saya menangin waktu itu. Warna kaos kakinya hitam. Ukurannya panjang. Dan saya merasa nyaman ketika memakainya di berbagai kesempatan.

Kenapa saya niat banget buat ngebahas kaos kaki hitam “laknat” ini? Karena kaos kaki ini merupakan benda setia yang telah menemani lika-liku langkah kaki saya selama 4 tahun belakangan ini. Jadi, anggap saja ini sebagai bentuk apresiasi. Apresiasi untuk sebuah kaos kaki.

Entah berapa ratus kilometer yang telah saya lewati bersama kaos kaki ini. Mulai dari saya masih sekolah sampai sekarang. Mulai saat jadi sales yang setiap harinya harus jalan berkilo-kilo meter sampai saat berkelana ke Jakarta sebagai pengangguran alias job seeker. Semuanya telah saya tapaki. Sampai detik ini, saya masih selalu memakai kaos kaki ini. 8 thousands rupiahs! Really really worth it! Meski di beberapa bagian udah bolong dan kendor, but overall it’s still good to use! Tapi maaf, saya gak posting fotonya. Habis sudah gak terlalu estetis sih! Kaos kaki ini juga gak terlalu bau soalnya saya selalu mencucinya rutin, jadi segala bau-bauan pun otomatis menjauh. Sebenernya kalo urusan bau kaos kaki sih itu tergantung aroma original kaki masing-masing. Kalo kakinya gampang bau, ya kaos kaki yang dipake pun ikut bau. Kalo kakinya gak bau, ya bau kaos kaki pun dijamin gak akan mengganggu.

Saya punya banyak kaos kaki lain selain ini, tapi yang paling sering dipake, ya yang satu ini. Banyak kawan yang nyaranin buat ngebuang kaos kaki ini, tapi gak saya turuti. Come on, it’s just a sock and you can buy as more as you can! Haha… that’s right! But to dispose this fuckin sock, it’s my mothafuckin right! Do yo understand?

Entah sampai kapan kaos kaki ini bertahan membungkus kaki saya yang lenjang ini. Nobody knows that! I just can wear and wear it till it can’t be used. This is my suckin socks confession and I’ll promise to do its mission to walking on all the session!

This is Rosmen and the socks must go on!