Arsip untuk Agustus, 2011

“Revolusi sudah di tangan kami sekarang. Dan kami memerintahkan Bung! Kalau Bung tidak memulai revolusi malam ini, maka kami akan…” teriak Soekarni, salah seorang tokoh pemuda pada Bung Karno.

“Akan apa?” teriak Bung Karno sambil beranjak dari kursinya. Semua terkejut, seisi ruangan mendadak sunyi.

Bung Karno kembali duduk. Setelah tenang, ia kembali berbicara, “Yang penting dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang tepat. Di Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan pada tanggal 17.”

Soekarni menyela, “Mengapa justru diambil tanggal 17, mengapa tidak sekarang saja atau tanggal 16?”

Dengan tenang, Bung Karno pun menjawab, “Saya adalah seorang yang percaya mistik. Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan bagi saya. Akan tetapi, saya merasakan di dalam kalbu bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci.

Pertama-tama kita sedang berada dalam Ramadhan, waktu kita semua berpuasa. Ini berarti saat yang paling suci bagi kita. Tanggal 17 besok hari Jumat. Hari Jumat itu Jumat Legi. Jumat yang berbahagia, Jumat yang suci. Alquran diturunkan pada tanggal 17. Orang Islam sembahyang 17 rakaat. Oleh karena itu, angka 17 bukanlah sesuatu yang dibuat oleh manusia.”

Begitulah kutipan perdebatan sengit Soekarni dengan Soekarno sehari sebelum proklamasi 66 tahun lalu (Lasmidjah Hardi 1984:61, dengan beberapa perubahan). Soekarno telah menentukan tanggal 17 Agustus 1945 sebagai hari proklamasi atas dasar pertimbangan religius dan kematangan yang murni.

Dirgahayu negeriku! Aku akan selalu berusaha menjaga kesucianmu agar selalu murni!

Back To 90s

Posted: 14 Agustus 2011 in Personal
Tag:, , , , ,

Sehabis mendownload beberapa lagu Nirvana, Metallica, Oasis dan Madonna, tiba-tiba saya jadi ingin terlempar ke era 90an, ke era dimana saya masih belum mengenal dunia yang sebenarnya, ke era dimana mp3 dan internet masih terlalu asing di telinga. Era 90an itu emang era yang ajip ya. Meski saat itu saya masih kanak-kanak (bahkan bisa dibilang masih balita karena belum masuk sekolah), tapi saya sudah akrab dengan lagu-lagu grunge dan pop klasik ala musisi lokal dan dunia.

Ketika itu, lagu Nike Ardila dan Madonna begitu akrab di telinga. Berlanjut dengan demam boyband dan Britney Spears yang menjangkiti khasanah musik dunia.

TV berwarna menjadi salah satu produk tercanggih di masa itu. Keenam stasiun TV negara dan swasta sangat getol menawarkan budaya populer dan acara-acara seru.

Masih ingat dengan kuis Piramida atau Kata Berkait? Ingat pula gak sama telenovela Marimar, Rosalinda, Esperansa plus sinetron Si Doel, Keluarga Cemara, Jin dan Jun serta Gerhana? Wah, pada ngangenin kan?

Lagu dan film anak-anak serta serial animasi turut memberi cerita. Siapa yang gak tau Joshua, Agnes Monica, Trio Wek Wek dan Cindy Cenora? Lalu gimana pula dengan film Saint Seiya, Saillormoon, Jiban, Ksatria Baja Hitam dan Power Ranger? It’s so classical and fenomenal.

Masa 90an memang menyenangkan. Tapi jangan lupa, masa 90an juga penuh dengan kekisruhan dan kekacauan. Masa kanak-kanak saya harus dilewati dengan berbagai tayangan chaos dan kerusuhan di periode awal reformasi. Krisis moneter membabi buta, gelolak politik, keamanan dan ekonomi menjadi hiburan tersendiri bagi anak ingusan seperti saya. Dan era 90an pun harus dhakhiri dengan isu menggemparkan ihwal kiamat di tanggal 9 September 1999. Sekolah diliburkan dan saya ngumpet di rumah menunggu momen menegangkan yang sama sekali tak pernah terbukti kebenarannya.

With the lights out, it’s less dangerous
Here we are now, entertain us
I feel stupid and contagious
Here we are now, entertain us

Petikan lagu Smells Like Teen Spirit Nirvana di atas mengakhiri flashback era 90an saya. Yup, it was the most entertaining era but contagious too. Era 90an memang ngangenin. Meski terkadang kita harus sedikit mengernyitkan dahi untuk mengingatnya.

Jarum jam hampir menunjukkan pukul 6 sore, tapi adzan Magrib belum kunjung berkumandang. Boro-boro mau adzan, wong pengeras suara di masjidnya aja gak hidup karena listrik mati.

Akhir-akhir ini, PLN emang lagi rajin-rajinnya matiin listrik di kampung kami. Sebenernya udah dari dulu sih. Tapi entah kenapa kok di bulan puasa malah makin menjadi-jadi. Dalam seminggu, bisa 4 sampe 6 kali. Durasinya pun bisa berjam-jam, bahkan bisa sampe seharian atau semaleman. Nggak asyik banget deh! Mentang-mentang puasa lalu layanan istrik pun bisa puasa seenaknya. Kalo kita yang puasa sih, imsak sama bukanya jelas. Kalo PLN yang puasa, imsak sama bukanya gak tau waktu. Keseringan lagi! Ngebetein!

Kepada Bapak Ibu petinggi PLN, tolong berikan pelayanan yang mumpuni. Kami selalu bayar tagihan listrik tepat waktu kok. Dan kami rasa, kami pun sudah cukup berhemat memakai listrik selama ini. Kami gak punya AC, pemanas air atau televisi LCD 32 inchi. Kami cuma pake angin sepoi-sepoi, tungku kayu bakar buat manasin air sama televisi jadul yang dibeli pas zaman presiden Pak BJ Habibie. Nggak ada peralatan elektronik keren di rumah kami. Nyuci baju masih sering di batu kali. Kadang-kadang nyetrika pun masih suka pake setrika arang peninggalan aki nini.

Saya harap PLN masih menjadi Perusahaan Listrik Negara, bukan Perusahaan Listrik Nelangsa. PLN tidaklah kami benci. Kami cuma ingin PLN mengerti. Kami butuh listrik. Listrik membuat ibu bisa menanak nasi. Listrik membuat bapa bisa nonton sinetron lagi (lho kok?)

Saya berharap di bulan puasa ini PLN mau berbesar hati. Jangan keseringan puasanya. Jangan pula bolong-bolong pelayanannya. Cepatlah berbenah diri. Agar di malam takbiran nanti, kami gak perlu obor buat keliling kampung mengumandangkan takbir Ilahi.

Mulai was-was hati ini. Lampu kamar mulai meredup kembali. Saya harus cepat-cepat mengakhiri tulisan ini sebelum koneksi internet keburu oleng karena listrik mati (lagi).

Beberapa hari ini koneksi internet di gadget saya lagi error. Dimulai sejak tanggal 1 Agustus lalu atau tepat di hari pertama puasa Ramadhan. Sejak saat itu, selain harus puasa makan minum serta mengendalikan hawa nafsu, saya juga harus puasa browsing, ngetweet, ngeblog dan update status. Tiga hari pertama puasa saya harus dilalui tanpa koneksi internet.

Apa itu berat? Untuk seorang pecandu internet kayak saya, jelas aja berat. Rasanya saya seperti terlempar ke masa lalu, ke zaman prasejarah dimana cuma ada batu bisu dan teman-teman Homo Erectus yang cemberut karena mulutnya lagi bau. Emang ada bagusnya sih. Saya jadi bisa lebih fokus beribadah. Tapi kalo dipikir-pikir, gak ada fokus-fokusnya juga. Lha wong waktu sholat aja masih sempet-sempetnya mikirin timeline, gimana mau fokus, Pak? Hehe…

Rasanya sayang banget hari-hari pertama puasa saya gak bisa tershare ke alam maya (bukan alam gaib ya!). Waktu ngabuburit pun cuma dihabisin main Angry Birds dan keluyuran di perempatan jalan (Ngapain hayoh? Bukannya ngaji dan tadarusan).

It should be the greatest fasting day ever, but I feel so empty. No Google, Facebook, Blog, Twitter and all of the ‘internet creatures’. This ain’t the day that I want. Uhm, is God giving a lesson for me? I don’t know, but maybe it’s true.

Selama ini saya memang gak pernah bisa lepas dari yang namanya internetan. Dan mungkin Tuhan sedang memberi peringatan buat saya untuk terjeda sejenak dari dunia semu yang diciptakan manusia ini. Setiap rutinitas pasti membutuhkan jeda. Tapi sepertinya Tuhan tahu kalau saya tidak bisa terjeda terlalu lama dari aktifitas dunia maya. Buktinya, sekarang saya bisa ngeblog lagi hehe…

Saya tidak mau menuhankan teknologi karena sesungguhnya teknologi juga termasuk ciptaan-Nya. Teknologi tak boleh meninabobokan saya hingga lupa pada Dzat Yang Maha Sempurna. Segala doa telah kupanjatkan. Ya Tuhan, tebalkanlah imanku, lancarkanlah puasa dan koneksi internetku! 😀

Anjing!

Posted: 4 Agustus 2011 in Fiction
Tag:, , , , ,

Kulahap sepiring sisa makan siang yang sengaja ia berikan padaku. Berharap bisa enyahkan rasa lapar yang sudah mengaung sejak dua hari lalu.

“Makannya agak cepetan ya!” seru bocah yang baru duduk di kelas satu SD itu sambil mengelus-ngelus bulu hitamku. Aku tahu ia menyayangiku, meski tak bisa kupungkiri sering pula ia menyiksaku dengan tendangan atau lemparan batu. Tapi aku tak menyalahkannya. Toh itu juga karena salahku. Aku terlalu lancang masuk ke halaman rumah hingga tak jarang ibunya ikut keluar menyiramkan air panas ke tubuhku.

Aku cuma bisa melongok dari balik pagar. Mengintip jauh ia dan keluarganya yang bahagia meski terkadang suara tangis dan pecahan kaca kerap terdengar dari balik jendela.

Setiap hari, aku ikuti langkah kecilnya. Memastikannya sampai di gerbang sekolah. Kuikuti dia dari belakang. Kutunggui ia hingga bel sekolah menjerit meluapkan seruan pulang. Tak kubiarkan ia menyadari kehadiranku. Bagiku sudah cukup melihatnya begitu. Melihatnya pulang selamat tanpa gangguan teman-temannya yang belagu.

Belum habis sisa makanan itu kujilati, ia sudah buru-buru merenggut piring dari hadapanku.

“Udah dulu ya. Kalau ketahuan ibu, bisa-bisa ia memarahiku,” ucapnya seraya bergegas masuk pagar lalu berlari menuju pintu.

Kuhela napas dalam-dalam. Sejenak hatiku termenung. Entah kapan ia akan memanggilku ibu. Tidakkah ia tahu, akulah yang pertama kali memungutnya dari tong sampah 6 tahun lalu.