Geli

Posted: 11 Juli 2011 in Fiction
Tag:, , ,

Kacamata kuno bergagang cangkang penyu sudah menempel di depan kedua bola mata. Sambil duduk santai di kursi teras, aku baca Kompas edisi hari ini. Ya, itulah kebiasaanku setiap pagi, meski pagi ini tak ada secangkir kopi ataupun roti yang biasa disajikan isteriku, Lastri.

Aku buka lembar demi lembar halaman koran. Bukan berita politik yang kucari, apalagi berita ekonomi. Aku cuma ingin melihat iklan racun tikus yang suka bikin bulu kuduk berdiri. Aku suka jadi merinding geli. Tapi sepertinya bukan cuma iklan racun tikus saja yang bikin aku geli. Ada iklan lain di halaman 31 yang bikin tawa kecilku mendadak bunyi.

“Kok fotoku bisa muncul di kolom obituari, sih?” tanyaku senyum sendiri.

uduk santai di kursi teras, aku baca Kompas edisi hari ini. Ya, itulah kebiasaanku setiap pagi, meski pagi ini tak ada secangkir kopi ataupun roti yang biasa disajikan isteriku, Lastri.

Aku buka lembar demi lembar halaman koran. Bukan berita politik yang kucari, apalagi berita ekonomi. Aku cuma ingin melihat iklan racun tikus yang suka bikin bulu kuduk berdiri. Aku suka jadi merinding geli. Tapi sepertinya bukan cuma iklan racun tikus saja yang bikin aku geli. Ada iklan lain di halaman 31 yang bikin tawa kecilku mendadak bunyi.

“Kok fotoku bisa muncul di kolom obituari, sih?” tanyaku senyum sendiri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s