Riasan Malam

Posted: 7 Juli 2011 in Fiction
Tag:, , , ,

Spons bedak menyusuri lekuk wajah yang bening temaram. Tak cukup sekali poles untuk menutupi lebam di kening. Tapi Karni tahu apa yang harus dilakukan. Sebagai penata rias berpengalaman, guratan biru demikian tentu bukan halangan. Ia selalu bisa menjadi angsa. Tak peduli seberapa luka di wajahnya.

8 tahun sudah karni merajut biduk rumah tangga, selama itulah lebam menyertai setiap malamnya. Baginya, itu sudah biasa, sebiasa ia berdandan menunggu sang suami pulang kerja.

Malam ini, suami Karni sudah pulang, bahkan sudah terlelap nyenyak di peraduan. Karni mendekatinya perlahan. Ia tatap ngilu wajahnya. Darah masih melumuri kepala suami tercinta tapi goresan lipstik sudah mendarat manis di bibirnya. “Kamu selalu menyuruhku untuk berdandan. Kini, giliranku untuk mendandanimu, sayang,” ucap Karni lirih.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s