Arsip untuk Juli, 2011

Sudah 3 hari ini saya gak buka Twitter. Bukan karena bosen ngetweet, tapi karena akses GPRS di hape saya emang lagi ngadat. Jadinya saya baru ngetweet beberapa jam yang lalu. Sengaja saya buka Twitter Mobile biar tau trending topic terbaru. Soalnya kalo pake Twitter Client agak repot karena harus mijit ikon tertentu buat tau TT terbaru.

Taraa… jejeran Tweet di Timeline langsung menyapa. Tagline “Apa yang sedang terjadi?” langsung menyambut saya. Lho, kenapa bukan “What’s happening?”. Saya coba mereload halaman Twitter saya karena takut error. Tapi, halaman Twitter saya udah bener kok. Ya, Twitter saya kini berbahasa Indonesia. Ikon-ikon khas Twitter kayak Home, Mention, Favorite dan Message diganti jadi Beranda, Sebutan, Favorit dan Pesan. Saya coba ngecek versi desktopnya, ternyata juga sama. Profile diganti jadi Profil (huruf E di belakang dibuang) dan ikon-ikon lain pun juga diganti jadi berbahasa Indonesia. Cuma ada satu ikon yang belum diganti, yakni ikon Tweet. Mungkin ikon Tweet emang udah jadi merek dagang Twitter sehingga kalau diterjemahkan ke bahasa lain ditakutkan bakal mendegradasi kepopuleran istilah Tweet itu sendiri.

Bahasa Indonesia sudah resmi menjadi salah satu bahasa baru di Twitter bersama bahasa Belanda. Sebelumnya, di Twitter sudah ada 10 bahasa, yakni bahasa Inggris, Jepang, Prancis, Spanyol, Italia, Portugis, Jerman, Korea, Rusia dan Turki. Tapi kini kita patut bergembira karena bahasa kita sudah masuk ke dalamnya.

Twitter sepertinya sudah memperhitungkan Indonesia. Jelas saja, kita kan pengguna Twitter terbesar ke-3 di dunia. Masak diabaikan sih….

Perjuangan kita meramaikan TT Worldwide dengan bahasa Indonesia akhirnya terjawab sudah. Meski bahasa Indonesia saya masih campur aduk kayak lotek dan gado-gado. Tapi sebagai orang asli Indonesia, jelas saya sangat bangga.

Bahasa kita sudah diakui dunia. Kini tinggal kitanya yang harus melestarikannya. Mari mulai dari Twitter dulu, kita ngetweet pake bahasa Indonesia yuk! Selamat datang Twitternesia! Saya tak akan pernah berhenti berkicau di galaksi linimasamu…

Oke, aku lanjutin soal Google+ -nya. Selain Stream dan Circle, ada juga fitur hangout (semacam video call conference) dan Spark (Semacam tautan yang memberikan aliran informasi relevan bagi pengguna). Dua fitur itu emang lumayan kece, tapi kalo menurutku yang paling menonjol dari G+ sih fitur intregitasnya. Kita bisa mengintregasikan G+ dengan hampir semua produk google, kayak Gmail, search engine, Buzz, Blogger, Picasa dan sebagainya. Alhasil, kita pun gak perlu buka halaman baru buat buka layanan Google yang lain.

Selain versi desktopnya, aku juga nyoba buka versi mobile-nya. Aku pikir koneknya bakal lemot, tapi ternyata enggak lho. Malah bisa dibilang lebih cepet dari FB dan Twitter, padahal browser hapeku kan udah lumayan agak jadul. Hmm… patut diacungin jempol deh!

Tampilan versi mobile-nya jauh
lebih sederhana (kalo gak mau dibilang lebih miskin dari FB dan Twitter). Mungkin inilah yang menyebabkan koneksinya gak lemot. Tapi lumayanlah kalo sekedar buat men-circle atau ngupdate status, meski gak terlalu canggih-canggih amat.

Well, setelah dicoba-coba, ternyata G+ itu gak terlalu istimewa juga (ini cuma pendapat aku sebagai orang yang masih awam soal IT, jangan dijadiin referensi!). Mungkin cuma setingkat lebih tipis di atas Facebook. Kalo aku boleh nilai dikisaran 1-10, palin cuman mentok dikisaran 7 atau 7,5. Not bad but not really good (sekali lagi aku ingatin, jangan dijadiin referensi!). Tapi meski begitu, Google+ tetap patut untuk dicoba. Bisakah G+ melahap ranah jejaring sosial yang ada? We’ll see. Biarlah waktu yang akan menjawabnya.

(Oh ya, ada yang lupa. Bagi kamu yang udah punya akun Google+, jangan lupa circle aku ya, Rosmen Rosmansyah) hehe 😀

Beberapa waktu lalu, aku dapet undangan Google+ (baca: Google Plus) dari seseorang di akun Gmail-ku. Rasa penasaranku langsung menggeliat. Gimana gak menggeliat, si G+ ini kan lagi rame diomongin di dunia maya. Rasanya kalo gak ngintip dikit sayang banget deh.

Untuk daftar di Google+ emang susah-susah gampang karena kita harus diundang dulu sama orang yang udah daftar di sana. Jadi beruntunglah aku karena sudah mendapat undangan meski aku gak tahu siapa yang mengundangku.

Setelah aku dapet undangan, aku langsung daftar di G+. Caranya mudah banget. Kita cuma ngisi beberapa data penting dan mengupload foto profil kita. Tapi aku sempet agak brigidig waktu ngisi from jenis kelamin. Soalnya selain ada pilihan laki-laki dan perempuan, ternyata ada pilihan ‘lainnya’ juga lho. Wah, patut dipertanyakan nih apa maksud ‘lainnya’ ini?

Habis itu, kita langsung melenggang ke halaman utama. Jauh dari ekspetasi, ternyata tampilan Google+ itu terlihat biasa-biasa aja. Dengan background warna putih, tata letak menu-menunya hampir sama dengan Facebook. Bahkan bisa dibilang lebih sederhana dari Facebook, cuma istilahnya aja yang beda. Seperti Stream, misalnya, sama dengan update status di FB atau tweet di Twitter. Kayak di FB, kita juga bisa menautkan foto atau video ke dalam postingan kita. Bedanya, kita bisa mengatur apa postingan kita itu mau dipublish secara terbuka atau cuma sama orang-orang tertentu aja. Tapi kalo menurutku sih yang paling menarik itu fitur posting editingnya. Kadang-kadang kita suka bete kalo status atau tweet kita ada yang salah ketik. Kalo mau diganti, ya terpaksa harus dihapus. Tapi kalo disi kita gak usah khawatir. Meski status kita udah diposting, kita masih bisa mengeditnya tanpa harus menghapusnya terlebih dahulu. Meski inovasinya sederhana, tapi cukup inovatif juga bukan!

Selain Stream, ada juga fitur Circle atau lingkaran. Sebenernya sih sama aja kayak jaringan teman di Facebook. Cuma disini kita bisa mengelompokannya ke dalam beberapa grup seperti, keluarga, teman, kenalan atau mengikuti/pengikut. Jadi, Circle itu ibarat gabungan Twitter dan Facebook. Ada add as a friend-nya, tapi ada follow-followannya juga. Tapi karena berhubung aku masih baru, jadi aku cuma men-circle beberapa orang aja sebagai teman koneksiku.

Bersambung…..

 cokelat on Twitpic

Cokelat Ayam Jago ternyata belum punah. Cokelat legendaris itu kembali muncul di warung mamih. Mungkin aku agak ketinggalan zaman karena memang cokelat itu belum berhenti di produksi. Tapi untuk menemukannya sekarang memang sudah agak jarang.

Dinamain cokelat Ayam Jago karena di kemasan cokelat ntu ada cap ayam jagonya. Cokelat dengan panjang kurang lebih 11 cm itu sempet populer di tahun 90-an. Tepatnya saat aku pertama kali masuk SD, saat Britney Spears, Backstreet Boys dan Boyzone masih mendominasi layar kaca.

Setiap jajan ke warung, cokelat berbungkus merah itu pasti selalu dibeli. Entah itu di warung Mang Pepen, Bi Nunung atau Bi Neneng, coklat itu gak pernah raib dari daftar absensi. Saat itu harganya masih di bawah Rp 300,-. Sekarang sudah melonjak jadi Rp 500,-. Tapi gak apalah, masih terjangkau kok.

 cokelat1 on Twitpic

Rasanya masih sama. Manis. Kalo nyangkut di gigi bisa langsung sakit gigi. Mungkin gara-gara cokelat inilah gigi susuku rontok satu per satu.

Makan cokelat Ayam Jago jadi kepengen nyemplung ke masa kanak-kanak lagi. Banyak kenangan yang aku lalui bersama cokelat yang satu ini.

Terima kasih cokelat Ayam Jago. Teruslah berkokok. Tebarkanlah manismu untuk para bocah di negeri ini. By the way, ngelahap satu batang aja kayaknya gak cukup. Mumpung warung mamih lagi sepi, aku nyolong cokelatnya satu lagi ah!

 cokelat2 on Twitpic

Love this f*cking taste. Cokelat Ayam Jago, here I go!

Upilicious

Posted: 23 Juli 2011 in Personal
Tag:, , ,

Mata bor meliuk-liuk nembus lubang galian. Sedikit demi sedikit, emas terkorek dari langit-langit dan dinding lubang. Setelah emas didapat, buru-buru bor pun kembali keluar dari dalam lubang.

Haha… ngupil itu emang asyik ya! Yang namanya “memasukan” itu emang selalu nikmat. Semakin dimasukin, semakin mantap. Mau kering, basah atau lengket, upil selalu layak untuk dikorek, iya gak? Kenapa sih ngupil itu dibilang jorok! Padahal kan setiap orang perlu ngupil. Gak kebayang kalo upil menumpuk sampai berhari-hari, berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Entah bagaimana hidung ini mampu bertahan melawan kerasnya kehidupan (luebaay…).

 ngupil on Twitpic

Aku pernah ngalamin pengalaman memalukan tentang upil ini. Saat SMA, aku pernah dijuluki si upil sama kakak senior gara-gara aku kepergok ngupil pas upacara pelantikan OSIS. Di tengah terik matahari, dengan bodohnya aku ngupil tanpa dosa. Habis aku gak kuat, upilnya terus meronta-ronta pengen diraba.

Atau masih ingat gak sama anggota DPR, Roy Suryo, yang kepergok ngupil pas rapat paripurna tahun lalu? Twitter dan Facebook jadi geger karena peristiwa yang dianggap ‘gak sopan’ itu.

Well, Roy Suryo juga manusia, termasuk juga aku (ngeles…). Setiap orang bebas mengeksplorasi jarinya untuk melakukan apa aja, termasuk ngupil. Itu sangat manusiawi.

Hmm… tadi aku coba iseng-iseng googling tentang ipul, eh upil. Ternyata upil itu ada manfaatnya juga lho, selain bikin plong tentunya. Peneliti dari Boston University Medical Center menemukan mengupil sebagai metode baru untuk mendeteksi kanker paru-paru. What? Yap, ini beneran, bukan boongan. Bahkan para peneliti itu menjamin efektifitas keakuratannya. Wah, hebring gila nih! Ayo masih pada jaim buat ngupil gak?

Upil mungkin hanyalah upil, tapi upil tetap layak untuk dikoreki. Selama manusia masih berupil, selama itu pulalah upil akan selalu digali. Ayo siapin jari lentikmu, mari kita ngupil lebih dalam lagi!

Judas

Posted: 22 Juli 2011 in Fiction
Tag:, , , , , , , ,

Mata masih lemas memandang dua buah benda suci dalam genggaman. Al-Qur’an di tangan kananku, Alkitab di tangan kiriku. Satu kisah telah kubaca dalam dua versi berbeda, tentang Yahuza atau yang bisa kusebut juga sebagai Judas.

Judas, sejahat itukah ia hingga Tuhan tega menghukumnya. Entah itu disalib dan diserupakan dengan Isa dalam versi Islam atau gantung diri seperti dalam versi Nasrani. Bukan keinginannya untuk berkhianat pada Isa. Setanlah biang keladinya. Setanlah yang seharusnya disalahkan, bukannya dia.

Bagaimanapun, seperti itu pulalah keadaanku sekarang. Jangan salahkan aku bila Lena satu selimut denganku. Mungkin kau bisa katakan aku mengkhianati isteri. Tapi kuingatkan sekali lagi, jangan coba menyalahkanku. Setanlah yang memulai semua itu.

Sekarang ini zamannya Google. Apa aja bisa dicari sama mesin pencari bikinan Sergey Brin dan Lawrence Page ini. Atau istilah kerennya: googling.

Kalo buat nyari informasi atau konten dewasa sih biasa (ketahuan hayo!), tapi pernah gak kamu nyoba googling diri kamu sendiri. Iseng-iseng, tadi aku nyoba bernarsis-narsis ria browsing nama dan usernameku (Rosmen Rosmansyah dan RosmenStation). Jeng.. jeng… nongol deh semua info aktifitas dunia mayaku. Mulai dari blog, Facebook, Twitter, MySpace, e-mail dan tentunya foto-foto unyuku (untung gak ada foto yang enggak-enggak hehe). Ternyata aku cukup eksis juga ya. Gimana kalo aku jadi seleb, bisa-bisa eksistensiku bakal menggeser popularitas Justin Bieber dan Lady Gaga (lebaaay…).

Memang kedengerennya agak aneh. Tapi, lumayan seru juga lho. Daripada ngebayangin yang enggak-enggak, entar jatohnya malah browsing yang enggak-enggak pula lagi!

Ada beberapa konten lama yang kembali aku liat lagi. Ada blog yang kutulis saat SMA, status Facebook-ku yang udah lawas sampe yang bikin shock adalah tweet aneh yang aku tulis setahun lalu dalam Bahasa Sunda. Busyet daah, aku udah lupa. Ternyata tweet ntu masih ada. Bunyi tweet-nya kayak gini nih,

“Taranjangan badan, bajuan ku kahadean. Dandanan iman, dempul ku kasaean. Hayu dulur, urang silih mikaheman bulan Ramadhan sareng Ujang Rosman.” (Telanjangi badan, pakaikan kebaikan. Dandani iman, dempul dengan kebajikan. Ayo saudaraku, mari kita saling mengasihi bulan Ramadhan bersama Ujang Rosman).

Wkwkwk… tweet-nya gak penting banget deh! It’s really odd and foolish. Wahahaaaa…..

Yup.. yup… googling my self ternyata cukup menyenangkan juga. Selain bisa menyalurkan naluri narsisku, aku juga dapet pelajaran untuk selalu berhati-hati beraktifitas di dunia maya. Habis si Google ini suka ngintip. Ia tahu aja apa yang udah aku lakuin. Kalo gak hati-hati, gak mustahil ia bakal bongkar semua rahasia kita. Tapi meski begitu, googling your self tetap patut dicoba.

Googling me, googling a part of dignity.
It’s fun but sometimes make you feell odd and freaky.
So, are you ready to googling your self? 😀