Clif, Where Are You?

Posted: 28 Juni 2011 in Pet
Tag:, , , , ,

Sudah hampir seminggu si Clif enggak keliatan batang hidungnya. Kucing jantan berbulu hitam itu sudah menghilang sejak hari Rabu tanggal 23 Juni 2011 lalu. Clif adalah teman si Wanda, kucing betinaku yang warna bulunya serupa: hitam putih. Mereka suka main bareng sedari kecil. Mereka udah kayak kembaran meski sebenarnya usia mereka lumayan terpaut jauh. Inilah yang menyebabkan ia dinamai Clif, diambil dari nama suami mendiang Suzana –sang ratu film horor Indonesia– yang usianya juga terpaut cukup jauh.

Clif bukanlah nama sebenarnya, nama aslinya Pussy. Dulunya ia dan saudaranya Si Bolotot –dinamai demikian karena matanya yang bener-bener besar kayak burung hantu– dipelihara oleh salah seorang tetangga. Tapi ketika udah bosan, mereka ditelantarin gitu aja. Mereka pun jadi sering nebeng numpang main, makan dan tidur di rumahku. Aku jadi berasa punya kucing tiga.

Si Bolotot mati 2 bulan lalu karena keracunan racun tikus di atap rumah Pak RT. Tinggal si Clif-lah yang tersisa. Dia dan kucingku jadi semakin akrab. Mereka udah kayak sepasang kekasih. Gemes banget kalau ngeliat mereka udah saling jilat dan peluk-pelukan. Dan ngeselin banget kalo ngeliat mereka udah maen kejar-kejaran di dalem rumah. hebohnya minta ampun! Kalau aku lagi jalan-jalan pagi, mereka sering ngikutin aku. Orang-orang sering ngetawain aku. Katanya aku kaya ‘ngangon’ kucing. Ya, itu memang bener. Kalau dipikir-pikir, aku memang kayak anak gembala kambing, bedanya aku ngegembalain kucing.

Hari senin lalu, si Wanda sempet nggak pulang semaleman. Si Clif mengeong-ngeong kesepian. Aku sempet khawatir, tapi untungnya Wanda kembali pulang.

Selasa lalu, tepat sehari sebelum hilang, dia sempet jalan-jalan sama aku karena saat itu si Wanda lagi gak ada. Dia manja sekali. Kayaknya ia sudah menganggapku sebagai majikannya. Dan aku pikir juga begitu, tak ada salahnya mengadopsi dia jadi anakku. Toh dia juga baik sama kucingku.

Aku tak menyangka hari itu adalah hari terakhirku bersenang-senang dengan si Clif. Keesokan harinya, ia tak terlihat lagi. Biasanya kalau pagi-pagi, ia sudah stand by di luar pintu –karena ia tidur di luar, tapi hari itu dia enggak ada. Kemarin siangnya aku sempet liat dia mengeong-ngeong ngebising genteng tetangga. Dari suaranya, aku tau ia lagi pengen kawin. Pasti banyak tetangga yang bakalan komplen. Tapi aku gak nyangka bakal begini jadinya.
Clif menghilang tanpa jejak. Entahlah, mungkin dia sudah mati atau dibuang sama tetangga yang marah sama dia. Aku merasa bersalah karena suka pilih kasih padanya. Aku sering ngatain dia pemalas karena saking seringnya ia tidur pules sampe 20 jam. Sayang sekali aku belum sempet ngambil fotonya. Padahal aku udah ngerencanain bakal motoin dia bareng si Wanda.

Mungkin dia cuma kucing liar yang suka maling makanan dan ngebisingin tidur tetangga, tapi bagiku dia cuma kucing mungil yang tak berdosa. Maaf selama ini aku telah mengabaikanmu. Kuharap kamu bahagia dengan dunia barumu, entah itu di surga atau masih di dunia.

Semenjak si Clif hilang, si Wanda jadi sering mengeong-ngeong kesepian. Seorang (seekor) sahabat setia telah meninggalkannya untuk waktu yang lama atau bahkan selamanya.

Clif, where are you! We’re waitin’ for U here. We really miss U!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s