Sapi Vs TKI

Posted: 21 Juni 2011 in Social Politic

Hari ini aku lagi pengen ngomongin hal yang serius nih. Aku lagi pengen nimrung berita yang sekarang lagi happening di TV.

Akhir-akhir ini media lagi heboh-hebohnya ngebahas Ruyati, TKI yang dihukum pancung karena membunuh majikannya di Arab Saudi. Antara jengah, marah dan miris. Permasalahan TKI memang nggak pernah berhenti. Penyiksaanlah, deportasilah dan lain sebagainya. Aku jadi kebelenger mendengarnya.

Kasihan banget Bu Ruyati. Ia dianiaya, disiksa lalu dihadapkan dengan vonis hukuman paling kejam di dunia. Huah, aku hanya bisa menghela napas. Nggak kebayang kalau itu terjadi sama ibuku. Mikirinnya juga nggak tega. Terlalu ngeri.

Selain soal Ruyati, media kita juga sempet diramaikan oleh berita pemberhentian ekspor sapi yang dilakukan oleh pemerintah Australia. Australia geram setelah melihat video penyiksaan sapi di rumah potong hewan di beberapa daerah di Indonesia. Australia nggak terima sapi mereka diperlakukan semena-mena. Mereka pun akhirnya menyetop ekspor sapinya ke Indonesia. Padahal Indonesia sendiri adalah pasar utama ekspor sapi asal Australia. Sekitar 80% ekspor sapi mereka dikirim ke negara kita.

Ngebahas 2 berita barusan bikin bulu kuduk merinding. Dua-duanya ngebahas soal penyiksaan. Yang satu terhadap manusia dan yang satu lagi terhadap hewan. Wuih, serem ya! Meski sama-sama kasus penyiksaan, tapi dua kasus ini memiliki akhir kisah yang berbeda.

Australia dengan sigap memberhentikan ekspor sapinya setelah mengetahui penyiksaan keji yang terjadi di sebagian rumah jagal di Indonesia. Sedangkan pemerintah kita, sudah tahu TKI-nya sering mendapat siksa, bahkan mungkin lebih sadis dari penyiksaan sapi Australia, tetap saja ekspor TKI-nya belum diberhentiin juga. Kalau begini apa bedanya TKI dengan sapi Australia?

Jika ditilik dari segi jumlah, jumlah TKI yang diekspor Indonesia jelas lebih besar dari sapi yang diekspor Australia. Bandingkan pula devisa yang dihasilkan oleh keduanya. Australia mendapat US$ 967 juta dari ekspor sapinya sedangkan Indonesia mendapat lebih dari Rp 6 miliar dari ekspor TKI-nya. Jumlah yang sangat mencengangkan bukan? Mungkin inilah yang menyebabkan pemerintah kita enggan menghentikan pengirman TKI.

Betapa beruntungnya sapi Australia. Setelah mendapat siksaan semena-mena, mereka pun akhirnya mendapat perlindungan dari negara. Tapi betapa malangnya TKI kita, meski kerap kali mendapat siksa, perlindungan bagi mereka sepertinya masih jauh di depan mata.

follow me on
Twitter: http://www.twitter.com/RosmenStation
Facebook: http://www.facebook.com/rosmen.rosmansyah
MySpace: http://www.myspace.com/rosmenstation
also visit my other personal blog at:
http://www.rosmenstation.blogspot.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s