Arsip untuk April, 2011

Filosofi “Moro” Layangan

Posted: 25 April 2011 in Inspiration

Musim kemarau sudah tiba. Adik saya dan anak-anak kampung lainnya mulai kembali dibaptis menjadi anak layangan –atau dalam istilah gaulnya: Alay. Mereka kembali berpanas-panas ria. Bahkan saking seringnya main layangan, saya sampai enggak bisa mengenali adik saya lagi. Kulitnya hitam legam kayak terasi gosong karena nonstop dijemur matahari.

Ya, itulah akibatnya kalau demam layangan sudah datang menerjang. Layangan bermacam motif dan warna berseliweran di langit kampung. Anak-anak standby di lapang sambil nyengir kayak ikan teri yang lagi diasinin. Kalau ada layangan yang kalah, buru-buru mereka berlarian mengejarnya (atau dalam istilah Sunda disebut “moro”). Mereka saling berebut. Berlomba-lomba memastikan layangan keok itu jatuh ke tangan mereka. Layangan itu akan selalu dikejar meski harus ke gunung, sawah, jalan raya, nyangkut di pohon kelapa atau numpang nangkring di genteng tetangga. Dan kalau layangannya berhasil didapat, senengnya bukan main. Kayak nemuin harta karun bernilai ratusan juta rupiah. Sebanding dapet hadiah undian mobiL BMW seharga Rp. 1 Miliar (lebaay…). Pokoknya seneng banget deh!

Jika ditilik dalam kacamata logika, sebenernya moro layangan ini sangat enggak masuk akal banget. Kok mau-maunya sih bocah-bocah itu capek-capek ngejar layangan? Dasar bocah, kenapa enggak beli yang baru aja? Toh harganya juga enggak seberapa. Paling cuma gope atau yang besaran dikit paling Rp. 1.000, 00 atau Rp. 2.000, 00. Belum lagi kondisinya juga jauh lebih bagus. Enggak kayak layangan bekas yang udah lecek, bahkan banyak yang udah sobek dan ditambal –kalaupun masih bagus, ya pasti masih bagusan yang baru lah! Tapi kenapa bocah-bocah itu tetep ngotot memilih moro ketimbang beli? Kenapa layangan hasil buruan itu begitu berarti?

Kepuasan. Itulah jawabannya. Tak peduli capek, terjatuh, layangannya jelek dan bla bla bla, tetep aja layangan itu diburu juga. Ada satu kepuasan tersendiri ketika berhasil dapet layangan buruan. Kepuasan karena layangan itu diperoleh dari hasil kerja keras sendiri. Bukan karena nyuri atau minta dari orang tua.

Ya, apapun itu, kalau dikerjain sendiri dengan bersusah payah jelas berbeda dengan ngedapetin sesuatu secara instan. It’s a very different thing. Kerja keras membuat hasil yang kita dapatkan menjadi jauh lebih memuaskan. Kerja keras membuat kita faham akan pengorbanan (dalem nih!).

Pasti beda banget rasanya dapet nilai bagus karena nyontek sama dapet nilai jelek tapi hasil belajar sendiri (pengalaman ye?). Kerja keras merupakan proses perjuangan. Dan dengan nakalnya, bocah-bocah alay itu membuat proses ini menjadi menyenangkan. Walaupun hasilnya jauh dari ekspetasi atau nihil sekalipun, toh mereka masih hepi-hepi aja.

Kebanyakan orang, termasuk saya, menganggap kerja keras sebagai sesuatu yang melelahkan. Ya, iyalah! Wong namanya kerja ya pasti melelahkan. Apalagi ada embel-embel “keras”-nya, dijamin lelahnya bakal berkali-kali lipat. Well, tapi dibalik rasa lelah itu pasti ada nilai lebihnya. There’s more a little bit value that we can get in hardwork.

Keringat sendiri adalah obat mujarab untuk mencapai kepuasan pribadi. Ingatlah, tak ada jalan pintas -yang bener-bener pintas- dalam kehidupan ini. Semua membutuhkan proses dan terkadang dalam proses tersebut banyak rintangan yang menghadang seperti kerikil terjal yang terinjak saat moro layangan.

Moro layangan mungkin cuma “mainan” bocah-bocah ingusan. Moro layangan mungkin cuma sekedar aktifitas serampangan pengisi waktu luang. Tapi moro layangan bisa dijadikan sebagai cerminan tentang makna kerja keras dan kepuasan. Kepuasan hakiki yang tentunya hanya bisa diukur oleh hati.

Ya, pada akhirnya saya jadi tergoda untuk tercebur kembali ke masa kanak-kanak. Daripada moro kembang desa yang tak tahu kapan dapetnya, mending moro layangan dulu ah! Hehe… 🙂

follow me on
Twitter: http://www.twitter.com/RosmenStation
Facebook: http://www.facebook.com/rosmen.rosmansyah
MySpace: http://www.myspace.com/rosmenstation
and also visit my other personal blog at: http://www.rosmenstation.blogspot.com