Arsip untuk Oktober, 2010

Monster

Posted: 18 Oktober 2010 in Inspiration

Monster adalah sebuah istilah yang tentunya sangat familiar di telinga kita. Monster, monstre (bahasa Prancis), monstrum (Latin), monstruo (Spanyol), mostro (Italia), diartikan dalam bahasa apapun makna monster pasti sama, yaitu sosok makhluk fiktif yang tampilan fisiknya menyeramkan. Monster sering diidentikan sebagai sumber dari segala keburukan. Ia jahat, jelek, rakus, kejam, menakutkan dan berbagai sifat yang tidak diinginkan lainnya. Ia adalah poros negatif. Sosok antagonis yang hampir selalu ada di setiap dongeng, cerita atau legenda. Maka tak salah kalau banyak perumpamaan buruk dilemparkan pada sosoknya.

Seorang pembunuh, monster. Penjabat yang rakus, monster. Koruptor, penganiaya, perampok, pemerkosa, dan semua pelaku kriminal lainnya tak luput dari julukan monster. Saya yakin tak ada satu pun dari kita yang mau dibilang monster.

Sosok fiktif itu memang tidak diharapkan tapi kadang pula dirindukan. Beberapa film Hollywood yang menjadikan monster sebagai tokoh utamanya –atau tepatnya korban utamanya– hampir selalu mendapat respon bagus dari masyarakat. Sebut saja Godzila, monster raksasa asal Jepang yang sempat dibuat dalam versi Hollywood. Kingkong, kera raksasa yang terkenal karena memanjat puncak Empire Street Building. Atau pun makhluk asing semacam Alien dan Predator yang tak segan-segan menjadikan manusia sebagai mangsanya.

Dalam setiap kisahnya, monster selalu jadi objek pelampiasan tokoh utama. Monster pantas dibenci dan dibasmi. Ia layak untuk dieliminasi. Tapi, apakah semua monster semenyebalkan itu? Apa benar ia cuma hama yang tak berguna?

Ternyata tak semua monster layak diperlakukan seperti itu. Sherk, karakter monster hijau keluaran Dreamworks ini mampu menghancurkan anggapan bahwa untuk menjadi baik itu tak harus tampan atau enak dilihat. Sherk sangat mensyukuri keadaan dirinya. Meskipun sering kali ia didiskriminasi, Sherk telah meretas kisah dongeng-dongeng klasik yang selalu dihiasi oleh para puteri dan pangeran yang cantik dan tampan.

Sherk tak sendiri, ada pula Sulley dan Boo, dua monster keluaran Disney-Pixar, Monster Inc. Sulley dan Boo adalah dua monster yang selalu menakut-nakuti anak-anak yang pada akhirnya memilih bersahabat dengan mereka. Mereka berhasil membuat monster lain sadar bahwa menakut-nakuti manusia adalah sesuatu yang tak berguna.

Dan berikutnya adalah Megamind, film animasi yg dirilis tahun lalu –yang lagi-lagi oleh Dreamworks. Megamind adalah monster alien jahat yang ingin sekali menguasai dunia. Dreamworks berhasil menggambarkan sisi manusiawi dari seorang penjahat kelas kakap. Seorang penjahat pun bisa menjadi orang baik karena pada dasarnya tak ada seorang pun yg terlahir jahat.

Film dengan embel-embel monster –terutama film animasi– ternyata tak selalu menakutkan. Pokemon dan Digimon, dua anime populer ini malah menyuguhkan karakter monster yang lucu-lucu karena memang tak ada gambaran eksak yang bisa dijadikan patokan wujud “seorang” monster.

Lady Gaga, ia mungkin satu dari sedikit orang yang bangga disebut monster. Penyanyi kontroversial yang berpenampilan super nyentrik ini telah mengubah paradigma mengenai sosok monster yang kita runut selama ini. Bagi Lady Gaga, monster adalah sosok kreatif yang berani menunjukan diri sebagai sesuatu yang beda dan tak biasa. Baginya, monster adalah sosok haus obsesi yang sangat menjunjung tinggi kebebasan berekspresi. Monster itu unik.

Seorang monster sangat mensyukuri apa yang ada dalam dirinya karena ia bangga terlahir dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Maka tak salah jika Lady Gaga menjuluki fans-nya sebagai little monster.

Tidak semua monster itu buruk. Dan tidak semua hal buruk itu adalah monster. Ia bisa jahat bisa pula tidak, tergantung bagaimana tindak-tanduk dan perangainya. Ia bisa dibenci ataupun dikagumi. Maka jangan buru-buru marah jika ada seseorang yang memanggil kamu monster. Tanyai dulu diri kamu, what kinda monster are you? 🙂

Iklan