Sumber: Wikipedia

Sebenernya saya sudah lama banget ingin menulis tulisan tentang Game of Thrones ini. Saya rasa ini sudah jadi hal lumrah bagi para para penggemar Game of Thrones yang hobi ngeblog. Tiap blogger fans GoT pasti punya salah satu postingan blognya tentang Game of Thrones. Sudah harap dimaklum.

Berhubung semakin mendekati season terakhir jadi saya tergoda kembali untuk membahas serial TV paling paripurna ini. Sebelumnya saya emang suka banget sama serial luar kaya gini sejak masih kecil. Saat SD saya suka nonton, Conan, Hercules sama Xena. Beranjak SMP saya mulai demen banget serial Lost, True Calling dan Sex and The City ( Gile masih SMP tontonannya Sex and The City! Haha). Saat SMA saya suka banget nonton Heroes, Angel, Glee sama Gossip Girl (Ehmm… gak apa-apa dong laki suka Gossip Girl, habis gaya penceritaannya lumayan unik buat saya di waktu itu hehe). Setelah gede saya sempet suka Spartacus, tapi ceritanya makin geje dan mulai ngebosenin.  Saya pertama kali nonton Game of Thrones baru tahun 2015 lalu. Padahal serial ini sudah tayang dari tahun 2011 lho! Kudet ya gue hehe. Jadi boleh dibilang saya ini masih newbie. Saya maraton nonton serial ini dari season 1-5 hingga membuat saya ketagihan sampe akhirnya terjebak di season 6. Dan harus saya akui, gak pernah ada serial TV sebelumnya yang bikin saya bener-bener excited tingkat dewa Neptunus selain Game of Thrones. Nagih terus bos!

Game of Thrones adalah sebuah serial TV kreasi om David Benioff dan om D. B. Weiss yang diangkat dari novel seri A Song of Ice and Fire karya eyang George R. R. Martin. Berlatarbelakang abad pertengahan dengan setting dunia fantasi di benua fiksi Westeros dan Essos. Sama seperti judulnya, inti cerita Game of Thrones itu adalah tentang perebutan tahta kekuasaan di sebuah kerajaan yang bernama Seven Kingdoms. Perebutan kekuasaan? Sesederhana itukah? Tentu saja tidak.

Serial ini begitu populer dan berhasil memikat jutaan pemirsa di seluruh dunia termasuk saya yang sudah overdosis dengan sinetron yang selalu ditonton emak-babeh saya. Come on Mak, Tukang Bubur is dead but Jon Snow is alive!

Penggemar Game of Thrones memiliki komunitas tersendiri yang tersebar di seantero planet bumi. Salah satu ciri fans GoT fanatik adalah super ngeselin. Soalnya kalo lagi ngebahas GoT, postingan GoT akan langsung memenuhi akun social media fans tersebut yang terkadang bikin kesel temennya yang lain. Dan inilah salah satu alasan saya menulis artikel ini. Ya itung-itung sebagai bentuk klarifikasi dan penjelasan untuk teman-teman saya yang sering merasa terganggu akibat postingan saya tentang GoT yang bejibun di media sosial hehe. 

Why do I fucking love Game of Thrones? Kenapa saya suka Game of Thrones? Kayanya tiap fans GoT bakal kebingungan kalau ditanya begitu, bingung mau ngejelasinnya gimana karena takut dibilang terlalu lebay atau berlebihan sehingga terkadang perlu tulisan panjang seperti yang saya tulis ini. Lebay? Yup. Mungkin sih, tapi enggak juga. Habis Game of Thrones itu rumit untuk dijelasinnya. Serumit kenapa jutaan manusia masih suka stalking Instagram mantan padahal tahu kalau hal itu rasanya sungguh nyesek dan menyakitkan. Please Men, don’t be motherfuckin alay! Ok, maaf gak perlu dipikirin hehe. So kenapa saya suka Game of Thrones? Berikut telah saya simpulkan beberapa alasannya;


1. Jalan cerita yang kompleks

Sumber: Google

Ketika kamu ngomongin cerita Game of Thrones, maka kamu akan cukup bingung karena Game of Thrones terdiri dari beberapa cerita yang mungkin terkesan gak nyambung satu sama lain. Kisah perebutan kekuasaan dikemas sedemikian ngejelimet tapi elegan. Tiap cerita berlatar tempat yang berbeda. Ada cerita tentang intrik internal kerajaan di ibukota, King’s Landing, ada tentang perjuangan pasukan Night’s Watch menjaga tembok perbatasan di utara yang dingin, ada tentang perjalanan seorang ratu outlander dengan naga-naga dan pasukan barbarnya di bagian benua timur, dan masih banyak sub cerita lainnya yang mungkin terkesan gak nyambung tapi lama kelamaan benang merah cerita-cerita tersebut akan muncul seiring berjalannya waktu.
Game of Thrones bukan hanya sekedar kisah perebutan tahta di abad pertengahan. Game of Thrones penuh dengan unsur politik, moralitas, darah, perang, kekerasan, konflik fanatisme agama, filosofi, legenda mistik dan sihir, skandal, seks dan masih banyak lagi. Rasanya cukup bisa mewakili semua aspek kehidupan.

Emang lumayan rumit sih, tapi justru itu asyiknya. Sang kreator selalu sukses menyajikan cerita yang unpredictable dan gak tanggung-tanggung. Di season pertama aja, sang tokoh utama malah dipenggal boss! (spoiler!), terus beberapa jagoan yang kita elu-elukan malah dibantai gitu aja tanpa ampun. Mau yang jahat mau yang baik, semua bisa mati kapan saja. Di Game of Thrones menyadarkan kita kalau yang baik itu gak selalu menang. Terkadang kita harus nerima kalau yang jahat justru yang berhasil memenangkan pertarungan. Ngehe sih, tapi justru itulah kerennya game of thrones. Siap-siap sakit hati aja ya! Cerita khas sinetron “Anak Jalanan Naik Haji Balik Lagi Naik Moge Buatan Italy” sama sekali gak berlaku di GoT!

2. Karakter yang beragam dan manusiawi

Sumber: Google

Saat pertama nonton serial ini, kita bakalan dibingungan sama karakter yang buju busyet banyak banget bos! Apalagi dengan nama-nama karakternya yang mungkin masih asing di telinga. Di Game of Thrones gak ada yang namanya tokoh utama. Cukup membingungkan memang. Tiap karakter seperti punya cerita tersendiri. Salah satu yang saya sukai dari tokoh serial ini adalah para karakternya yang manusiawi, baik itu protagonis atau antagonis semua punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Seperti tokoh Tyrion Lannister yang mungkin secara moral bejad banget ternyata punya skill politik yang luar biasa. Jon Snow mungkin sosok leader berjiwa ksatria yang menjadi panutan, tapi terkadang dia ceroboh dan kurang berhati-hati dalam membuat keputusan sehingga sering kali ia sendiri yang malah dirugikan. Daenarys Targaryen yang mungkin dikenal sebagai ratu yang adil ternyata punya sifat yang sedikit temperamen. Atau mungkin si ratu licik Cersei Lannister yang dibalik segala sikap licik manipulatifnya ternyata hanyalah seorang ibu yang selalu berusaha melindungi anak-anaknya.

Ada juga karakter rumit macam Petyr Baelish dan Varys, dua orang cerdas yang mungkin paling manipulatif dalam dunia perpolitikan Game of Thrones dikarenakan sikap mereka yang terkesan netral ambigu tapi punya motif masing-masing yang misterius. 

Selain itu, salah satu hal keren lainnya dalam Game of Thrones adalah pengembangan karakternya yang ciamik. Tiap karakter berevolusi secara perlahan. Seperti tokoh Jaime Lannister yang dulunya adalah ksatria arogan tapi setelah melewati berbagai fase hidupnya perlahan menjadi orang yang lebih baik, Theon Greyjoy yang dulu tengil dan culas tapi setelah melewati berbagai peristiwa dan penyiksaan yang panjang berubah menjadi lebih dewasa meski masih dihantui oleh trauma penyiksaan psychotic yang dideritanya, atau ada pula Sansa Stark yang dulunya hanya seorang gadis manja nan naif mirip puteri-puteri Disney, perlahan berubah jadi wanita tangguh dan mulai lihai bersiasat, dan masih banyak lagi karakter lainnya yang berkembang secara elegan tapi manusiawi. Gak kaya sinetron indonesia dimana tokoh utama digambarkan sempurna luar biasa, cantik/ganteng, sholeh/sholeha dan berhati malaikat sedangkan tokoh jahat digambarkan jahat sejahat-jahatnya tapi gak masuk akal.

Emang ada tokoh-tokoh Game of Thrones yang jahatnya kebangetan. Kaya King Joffrey Baratheon yang egois, narsistik dan kejam abis atau Ramsay Bolton yang psycho tapi jenius dan manipulatif. Tapi semua tokoh jahat itu lebih kepada gangguan kejiwaan dan tidak terjadi begitu saja, semua ada penyebabnya. Joffrey yang dimanja sejak kecil oleh ibunya sehingga tumbuh jadi raja yang zholim, sedangkan Ramsay seorang anak haram yang tumbuh atas didikan keras ayahnya yang seorang panglima perang yang kejam. Tiap orang bisa jadi baik atau jahat tergantung dari pengaruh orang-orang di sekitar mereka. That’s logic! And I will never forget you, Hodor!

3. Relevan dengan kehidupan zaman sekarang

Meski bertema fantasi dan bersetting abad pertengahan, cerita GoT penuh dengan kritikan dan sindiran yang relevan dengan kehidupan sekarang. Game of Thrones hidup dalam ranah ambigu moralitas seperti apa yang kita alami saat ini. Tiap orang penuh dengan kebohongan dan kepalsuan demi sebuah pencitraan. Banyak hal yang disindir serial ini tentang dunia kita sekarang.

Intrik politik kerajaaan bisa merefleksikan kehidupan politik kita di zaman yang sudah serba instan. Tiap house & klan ibarat partai politik yang saling bersekutu atau berkhianat demi kepentingan masing-masing dalam suatu koalisi pemerintahan. Kesenjangan status sosial antara orang kaya dan miskin. Konflik pemerintah dengan doktrinasi lembaga agama. Realita manusia dengan berbagai ketabuan seksualitas, seperti homoseksualitas, biseksualitas dan praktik incest. Skeptisme tentang keadilan dan kebijaksanaan yang semu. Kehampaan arti pernikahan dan kehidupan berkeluarga di tengah dunia yang penuh konspirasi dan materialisme (ehmm… berat bos).

Game of Thrones sukses menyajikan kisah kompleksitas tingkah polah manusia dari berbagai sudut pandang. Dan sampai sekarang, baru serial ini saja yang kompleksitasnya bener-benar kebangetan. Rasanya serial lain sulit nyaingin deh!

4. Dialog yang cerdas tapi apa adanya

Kata-kata kasar dan vulgar sudah menjadi sajian normal Game of Thrones. Meski begitu kita juga sering dihibur oleh dialog sarkatis dan humor cerdas yang menjadi daya tarik tersendiri. Terpujilah Tyrion Lannister dengan mulut sarkatisnya yang sering mengeluarkan kutipan satir yang elegan nan badass. Ada juga si nenek cerewet Lady Olenna Tyrell yang kata-katanya pedes banget sepedes cabe rawit 5 kilo. Jangan lupakan pula si bengis The Hound yang selalu straight to the point dengan ungkapan kasarnya. Fuck the king! Meski kadang2 suka aneh sendiri ngedenger Neng Dany ngomong bahasa Dothraki dan High Valyrian yang menurut saya kaya nonton cewek cantik ngomong bahasa Thailand.

Dialog dalam GoT emang selalu menarik untuk disimak. Kalo menurut saya sendiri lebih afdol kalo pake subtitel bahasa Inggris, lebih berasa aja “feel” -nya. Meski sepertinya bukan saran yang kurang bagus untuk yang lagi belajar bahasa Inggris, habis vulgar banget boss! Haha..

5. Visualisasi yang super keren

Sumber: Google

Salah satu point plus Game of Thrones adalah selalu menyajikan visualisasi yang mumpuni. Naga-naga, zombie, dan pertempuran dengan special effect yang gak bisa dipandang sebelah mata. Detail yang disajikan juga gak tanggung-tanggung, seperti detail kostum dan akaesoris yang dipakai karakternya. Tiap House punya patern sendiri di tiap pakaian yang dipakainya.

Kadang di beberapa episode berasa kaya nonton film blockbuster Hollywood berbudget ratusan juta dollar. Coba nonton aja episode “Hardhome” di season 5 atau “Battle of The Bastards” di season 6. Keren banget boss! Adegan perangnya bener gila dan bahkan kadang terlalu sadis karena gak segan-segan nampilin kebrutalan dengan penuh darah tanpa sensor. Mungkin KPI cuma bisa geleng-geleng kepala menyaksikan serial ini. Mustahil bisa lulus sensor haha.

Kayanya sulit nyari serial TV sejenis yang berani jor-joran kaya GoT. Terpujilah HBO yang mau memvisualisasikan kemegahan serial ini untuk kita. Tambang uang juga sih buat HBO!

6. Musik yang super epik

Theme song Game of Thrones mungkin jadi salah satu hal yang memorable dalam sejarah dunia pertelevisian. Semua fans GoT pasti mengamininya. Hayo ngaku siapa yang suka gak sadar humming opening theme song GoT? Salah satunya saya.

Ramin Djawadi emang jadi pilihan yang tepat dalam menangani musikalitas Game of Thrones. Tiap musik latar GoT selalu memberi nuansa tersendiri di hati penggemarnya. Coba dengerin aja “Light of The Seven” yang super epic atau “The Rains of Castamere” yang selalu bikin gregetan karena keinget tragedi The Red Wedding.

Bahkan karena saking tingginya antusiasme terhadap musik Game of Thrones, sang komposer pun sempet ngadain tur konser di beberapa kota di Amerika Utara. Untuk kelas TV series, rasanya cuma musik Game of Thrones yang bisa begini.

7. Theories and spoilers are everywhere!

Cerita Game of Thrones selalu menjadi bahan perbincangan yang asyik di kalangan penggemarnya, entah itu bagi yang sudah baca bukunya atau enggak. Berbagai forum internet selalu dijadikan media diskusi tentang apa saja yang bakal terjadi di serial ini. Semua punya teori masing-masing yang kadang jadi bikin perdebatan. Tapi justru itulah serunya bro! Suka senyum sendiri kalo para fans lagi serius ngomongin teori-teori dan konspirasi di Game of Thrones, berasa kaya ngomongin konflik politik Timur Tengah yang musingin dan gak abis-abis. Kok serial TV sampe gini-gini amat ya? Haha.

Beberapa fan-site yang wajib diikuti penggemar serial ini diantaranya  watchersonthewall.com dan winteriscoming.net  Semua hal tentang Game of Thrones dibahas lengkap di situs-situs ini. Siap-siap aja kena godaan spoiller. 

8. Ehmm.. sex dan nudity-nya berlimpah!

Untuk kaum adam, ini bisa jadi point pertama hehe. Kayanya cuma sedikit episode Game of Thrones yang gak nayangin adegan seks dan ketelanjangan. Adegan telanjang dalam GoT bukan cuma fan-service doang, adegan telanjang dalam GoT bener-bener 100% telanjang. Ada suatu ungkapan kalo GoT itu seperti campuran antara game online RPG, film porno, The Lord of The Rings, serial House of Cards-nya Netflix, Saw dan The Walking Dead series. Semuanya ada! Dan GoT sepertinya gak malu buat nayangin adegan seks apa adanya.

Adegan seks orgy dan ketelanjangan para pelacur Petyr Baelish yang sering nongol memamerkan kemolekan tubuh mereka sudah jadi hal biasa. Beberapa bintang porno beneran bahkan pernah mampir jadi beberapa pemain pendukung demi dapet totalitas cerita. Tapi adegan telanjang paling favorit kalo menurut saya sejauh ini ada 3. Pertama pas Neng Dany keluar dari api dengan naga-naganya di season 1, Walk of Shame-nya Queen Cersei di season 5 dan adegan Tante Melissandre nunjukin wujud aslinya di Season 6. So epic and sexy as fuck!

Itulah beberapa alasan kenapa saya tergila-gila Game of Thrones sehingga saya tak bosan-bosannya menyebarkan virus GoT ini ke teman-teman saya yang lain. Mungkin belum bisa mewakili semuanya sih tapi minimal bisa jadi sedikit gambaran. Sayang sekali serial ini cuma menyisakan 1 musim lagi di musim ke-8. Entah apa jadinya bila dunia tanpa Game of Thrones? Hiks.. (lebay…). Tapi bagaimana pun juga Game of Thrones akan selalu menjadi serial TV terbaik sepanjang masa yang tak akan pernah bisa tergantikan di hati para penggemarnya.

When you play game of Thrones, you win or die.

Valar morghulis.

Valar dohaeris 


Iklan

Sumber: IMDB


Pernahkah diantara kamu yang pernah kepikiran buat bunuh diri?

Pertanyaan yang cukup ekstrim memang. Tunggu dulu bentar bro, kok ini tiba-tiba malah ngomongin bunuh diri ya? Hehe maaf. Semua ini gara-gara saya habis nonton serial TV yang lagi happening beberapa belakangan ini. Yup, 13 Reasons Why! Awalnya saya gak terlalu tertarik dengan serial ini. Saya pikir saya ini terlalu tua buat nonton serial remaja kayak gini. Tapi berkat pemberitaan tentang serial ini di sosmed serta atas dasar rekomendasi teman-teman di forum Fans-Game of Thrones, saya akhirnya tertarik buat nonton serial ini. Ya, itung-itung sebagai selingan sambil nunggu Game of Thrones season 7 yang bakal tayang pertengahan Juli 2017 nanti. Selain karena beberapa hal yang telah saya sebutkan tadi, sebenarnya subject yang menjadi inti cerita serial 13 Reasons Why ini cukup membuat saya tertarik, meski mengundang kontroversi, yakni fenomena bunuh diri di kalangan remaja. Tema yang cukup suram untuk ukuran serial TV remaja memang.

Serial 13 Reasons Why diangkat dari sebuah buku best seller berjudul sama karya Jay Asher (sayangnya saya belum baca versi bukunya hmm..), menceritakan tentang seorang gadis SMA bernama Hannah Baker yang memutuskan untuk mengakhiri nyawanya sendiri. Setelah melakukan bunuh diri, neng Hannah ini meninggalkan “warisan” berupa 7 buah kaset berisi 13 rekaman alasan mengapa ia melakukan bunuh diri. Kaset tersebut disebarkan secara estafet kepada beberapa temannya yang namanya ia sebut dalam rekaman, yang ia anggap sebagai “penyebab” ia melakukan bunuh diri. 

Tersebutlah Clay Jensen, salah seorang teman Hannah yang juga menerima rekaman kaset tersebut. Berbeda dengan beberapa temannya yang tidak terlalu serius menanggapi kaset-kaset tersebut,  Clay yang emang belum move on suka sama Hannah ini malah secara tak sadar mendengarkan kaset-kaset itu terlalu sentimentil. Dari sosok Clay Jensen inilah misteri kehidupan Hannah sebelum mengakhiri nyawanya akan terungkap satu per satu mulai dari intimidasi, cyber-bullying, intrik pergaulan remaja, body shaming, stalking, sampai pelecehan seksual dan pemerkosaan. Di lain pihak, orangtua Hannah tetap bersikukuh membawa kasus bunuh diri puterinya melalui jalur hukum sehingga menimbulkan konflik dengan pihak sekolah.

Untuk ukuran serial remaja, mungkin tema 13 Reasons Why memang cukup kelam dan berat. Di serial ini akan ditampilkan secara eksplisit detik-detik bagaimana seorang Hannah Baker mengakhiri hidupnya dengan silet yang menyayat kedua lengannya (spoiler alert!). Menurut saya, scene ini sangat WTF banget!! Selain itu, adegan pemerkosaan dalam serial ini juga cukup disturbing untuk ukuran young adults. Ini serial remaja lho bro! Hadeuuhh… tapi karena adegan-adegan WTF itulah, Netflix terpaksa memberi rating 18+ untuk serial ini. Wajar memang.

Sumber: IMDB

Sejak tayang akhir Maret lalu, serial yang juga diproduseri neng Selena Gomez ini langsung jadi bahan pembicaraan dimana-mana. Banyak yang memuji serial ini sebagai suatu bentuk awareness bunuh diri di kalangan remaja, tapi banyak juga yang mengkritisi karena ditakutkan bakal menjadi suatu model glorifikasi bunuh diri di kalangan anak muda. Serial ini pun kini semakin disorot ketika sebuah permainan online yang bernama Blue Whale Challenge menyeruak karena dikabarkan sama-sama mendorong pemainnya untuk bunuh diri. Dikabarkan banyak pemain game tersebut yang bunuh diri karena terinspirasi serial 13 Reasons Why. Meski memang sampai sekarang berita ini belum dikonfirmasi.

Bunuh diri memang masih menjadi obrolan tabu di masyarakat. Bukan cuma di negeri kita, tapi juga di negara-negara lain kayak di US dan Europe sono yang notabenenya lebih liberal. Meski begitu, bunuh diri juga telah menjadi suatu budaya di beberapa negara seperti di Jepang dan Korea Selatan. Sebagian kalangan berpendapat bahwa mengakhiri nyawa sendiri adalah hak pribadi. Maka gak salah kalau di Eropa sana, tepatnya di Swiss muncul sebuah klinik yang bernama klinik Dignitas yang menawarkan bantuan untuk mengakhiri nyawa secara legal bagi orang-orang yang sudah putus asa dalam hidupnya. Sangat gila memang! Well, tapi presepsi tiap orang toh pasti beda-beda. Bagi orang religius, jelas bunuh diri itu dilarang oleh agama. Sedangkan sebagian lagi menganggap bunuh diri sebagai suatu tindakan yang egois. Dan terlepas dari semua itu, kita pasti setuju kalau bunuh diri itu adalah suatu tindakan yang salah.

Saya teringat dengan salah satu scene di 13 Reasons Why di episode terakhir sesaat setelah Hannah mengakhiri nyawanya (Spoiler alert lagi ya..). Reaksi orangtua Hannah, terutama ibunya begitu melihat anaknya sudah tak bernyawa menurut saya sangat heartbreaking sekaleee! Sesungguhnya yang paling menderita itu adalah orang-orang terdekat yang ditinggalkan. Jadi, benarkah bila bunuh diri itu termasuk tindakan egois? Saya kira, kita jangan dulu buru-buru mengambil kesimpulan. Orang-orang yang menyayangi kamu akan menderita, ya itu pasti. Malah tak menutup kemungkinan kalau orang-orang yang menyayangi kamu tersebut juga akan masuk ke dalam kubangan defresif berkepanjangan yang juga bahkan dapat mengarah kepada tindakan bunuh diri berikutnya bila ia juga punya kecenderungan depresi. Meski begitu, saya juga ingin menggarisbawahi tentang sikap masyarakat terhadap “korban atau pelaku bunuh” diri ini. Saya sungguh menyayangkan tentang judgement masyarakat kita tentang korban bunuh diri ini. Mereka mengganggap korban bunuh diri ini sebagai seseorang yang telah dilaknat. Oke, mungkin dari sisi religi bisa dibenarkan. Tapi menurut saya ini kurang tepat. Mungkin tindakan mereka untuk bunuh diri memang salah. Tapi menghakimi individu yang melakukan bunuh diri tersebut tidaklah tepat. Seharusnya korban pelaku bunuh diri bisa dijadikan sebagai bentuk awareness bagi kita kalau masih banyak orang yang membutuhkan pertolongan. Faktor bunuh diri memang macam-macam, mulai dari faktor ekonomi, tekanan sosial, psikologis atau kejiwaan. Faktor psikologis dan kejiwaan memang banyak menyumbang peranan yang cukup besar dalam perilaku bunuh diri.

Tiap orang menanggapi suatu masalah secara berbeda. Mungkin suatu masalah bisa dianggap kecil oleh seorang individu tapi bagi individu lain bisa saja masalah itu berdampak besar. Seperti yang pernah neng Hannah Baker katakan dalam episode pertama 13 Reasons Why, “masalah besar dan kecil itu sama pentingnya”. Kondisi kesehatan mental seseorang yang melalukan bunuh diri harus diperhitungkan sebelum kamu menghakimi tindakannya. Bagi seseorang yang mengalami gangguan mental seperti depresi, tentu itu bukanlah hal yang sepele untuk diatasi. Jadi kita tidak bisa menilai tindakan bunuh diri sebagai bentuk keegoisan semata.

Apalagi jika ditambah dengan faktor-faktor lain seperti ekonomi, sosial, lingkungan dan sebagainya, kecenderungan seseorang yang depresi untuk melakukan bunuh diri akan semakin besar karena depresi sendiri bukanlah rasa sedih biasa.

Menurut Dean Burnett, seorang pakar neurologi dari Cardiff University menyatakan, tidaklah tepat membandingkan pengalaman seseorang yang menderita depresi karena gangguan mental dengan orang mengalami kesedihan lalu bisa melaluinya (Kompas.com, September 2014). “Jika Anda tak memiliki gangguan jiwa, maka Anda tak berhak mengabaikan mereka yang memilikinya,” kata Burnett dalam tulisannya di The Guardian.

Jangan pernah menganggap orang yang bunuh diri atau yang pernah melakukan percobaan bunuh diri sebagai orang yang lemah. Kita tidak akan pernah mengerti keadaaan seseorang  kecuali jika kita menjadi orang tersebut. Seorang penderita gangguan mental atau mereka yang mengalami depresi tidak akan mampu berpikir logis ketika dihadapkan suatu keruwetan karena mereka tidak bisa berpikir secara normal. Jadi bila kita mengatakan bahwa aksi bunuh sebagai bentuk keegoisan, sebenarnya pernyataan kita itu merupakan bentuk keegoisan itu sendiri. Kita egois karena tidak mau mencoba untuk mengerti mereka.

“Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya… hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.” – Harper Lee dalam buku To Kill a Mockingbird

Don’t ever judge people if we don’t know who they are! 

Menangkal perilaku bunuh diri bukanlah tindakan yang mudah karena bersifat subjektif. Penyebab seseorang bunuh diri tidak dapat disebut hanya satu penyebab karena merupakan interaksi kompleks dari berbagai faktor (Nationalgeographic.co.id edisi November 2015). Bagi orang-orang religius, mungkin bisa melalui pendekatan agama. Hampir semua agama pasti melarang yang namanya bunuh diri. Tapi saya pikir ini tidaklah cukup, seperti yang saya bilang tadi, orang-orang yang mempunyai kecenderungan depresi tidak akan mampu berpikir rasional sehingga pendekatan psikologis akan terasa lebih tepat. Kita tidak akan tahu bagaimana memberi pertolongan pada mereka, kecuali kita faham dengan kondisi psikologis mereka. Semua masalah pasti ada solusinya dan jangan biarkan bunuh diri menjadi solusi yang akan mereka pilih.

Berawal dari 13 Reasons Why, saya jadi antusias ngomongin tentang permasalahan bunuh diri. Saya pribadi menganggap serial ini cukup positif sebagai pemecah ketabuan masalah bunuh diri, khususnya di kalangan generasi muda. Bunuh diri memang tindakan yang salah, tapi itu bukanlah alasan untuk menyalakan pelaku bunuh diri tersebut. Serial ini juga bisa dijadikan sebagai momentum untuk menyadarkan kita akan pentingnya kesehatan mental dan spiritual serta interaksi sosial yang sehat. 

Berdasarkan data WHO, 39 persen dari total kasus bunuh diri di dunia disumbang oleh negara-negara Asia Tenggara. Di Indonesia sendiri kasus bunuh diri mencapai 3,7 persen per 100.000 penduduk. Memang presentase tersebut masih rendah dibanding negara-negara Asia lain. Tapi dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 258 juta penduduk, berarti ada 10.000 bunuh diri di Indonesia tiap tahun atau satu orang per jam. Angka yang cukup fantastis memang.

Sumber: Google

Mungkin kita tidak bisa berbuat banyak untuk mengatasi bunuh diri. Tapi setidaknya hal ini bisa dijadikan renungan bagi kita khususnya dalam hal berinteraksi dengan sesama. Terutama dengan maraknya social media di zaman sekarang. Komentar kebencian, intimidasi dan cyber-bullying sering kita saksikan di berbagai laman sosial media. Kita tidak akan pernah tau perasaan orang yang terintimidasi tersebut. Sudah saatnya kita lebih peka. Jangan sampai itu menjadi salah satu faktor orang lain untuk mengakhiri nyawanya. Tokoh Hannah Baker mungkin hanya sekedar fiksi, tapi ia bisa dijadikan gambaran korban intimidasi yang berujung bunuh diri.

Mungkin kamu punya berjuta alasan untuk bunuh diri, tapi ingatlah kamu selalu punya alasan untuk hidup. Serapuh apapun jiwamu, ingatlah dengan hidup yang akan menguatkanmu. Hidup ini cuma sekali guys! Jangan sia-siakan hidupmu. Masih banyak miliaran kemungkinan di luar sana. Suicide is not an answer. 
It’s not even an option. Ok, sometimes we feel so damn weak but it’s not a reason to cut our neck. Just love your life. 

Sumber: Google

Suicide can be prevented! 

(Sumber Gambar : Google)

Sepertinya kali ini saya ingin membicarakan sesuatu yang cukup serius, bahkan boleh dibilang sangat serius. Tiba-tiba saya teringat sebuah trailer film hasil karya anak negeri yang saya lihat tahun lalu. Sebuah trailer dari film yang berjudul Bulan Terbelah di Langit Amerika. Saya langsung tergelitik begitu mendengar salah satu kutipan film tersebut.

“Apakah dunia akan lebih baik tanpa Islam?”

Dan sontak saja saya langsung menjawab TIDAK. Dunia BUTUH Islam, sama halnya dengan dunia butuh Kristen, Buddha, Yahudi, Hindu, Ateisme, Agnostisme, Sekularisme dan agama serta faham ideologi lainnya.

Dunia butuh keberagaman akan agama, ideologi, budaya dan pola pikir yg membuat manusia hidup dalam hakikat indahnya keberagamaan peradaban. Dunia tentu akan berbeda dengan apa yang kita lihat sekarang jika tanpa Islam atau agama lainnya. Gak kebayang jika dunia hanya ada satu agama, maka peradaban manusia tentu akan sangat membosankan. Manusia bakal hidup dalam satu kebudayaan yang monoton dan pola pikir yang seragam. Mendadak saya jadi teringat dengan film The Giver yang dibintangi Merryl Streep yang sempat saya tonton tahun lalu. Filmnya gak terlalu bagus sih. Film itu menggambarkan kalau manusia hidup dalam satu peradaban yang monoton. Kalau menurut saya hal itu cukup mengerikan. Itu sangat bertentangan dengan kodrat manusia. Tiap individu manusia itu berbeda satu dan lainnya. Isi kepala kita berbeda begitu pula dengan masing-masing jalan hidup kita. Menyeragamkan pola pikir manusia sama saja dengan menentang hakikat alamiah manusia sebagai makhluk individual dengan kepribadian yang sangat beragam. Dan ini bisa jadi malapetaka.

Saya dilahirkan sebagai seorang Muslim. Orang tua, keluarga dan lingkungan tempat tinggal saya juga muslim. Saya diajarkan sholat, mengaji dan mengikuti peribadatan dengan tata cara muslim. Saya bersyukur dengan hal itu meski sejak beberapa tahun ke belakang, saya memutuskan untuk meninggalkan semua kehidupan religius saya itu. Semua teman dan rekan-rekan saya menganggap saya gila tapi itu benar adanya. Keputusan saya untuk hidup tanpa dilabeli agama adalah keputusan yang sudah saya pikirkan sejak jauh-jauh hari, bahkan sejak saya duduk di bangku SMP dan SMA. Saya rasa teman-teman sekolah saya tahu akan hal itu.

Ada sejuta pertanyaan esensial yang selalu menggelitk hati saya sejak saya kecil. Dan itu semakin membuncah saat saya beranjak dewasa. Hingga akhirnya saya tidak mau membohongi diri saya lagi dan membuka diri pada orang lain kalau saya hidup tanpa agama. Dan saya sangat lega dengan hal itu. Saya tidak mau menyebut saya Atheis atau Agnostik. Saya tidak mau melabeli diri saya dengan faham-faham itu. Saya tidak mau ikut agama atau faham terentu karena saya ingin terbuka dengan pemikiran baru yang akan selalu datang setiap waktu. Lalu apa saya percaya Tuhan? Mungkin iya. Saya percaya akan suatu kekuatan besar di luar batas pikiran kita yang menyebabkan semua kehidupan di alam semesta. Mungkin saja itu Tuhan, atau mungkin saja itu sesuatu yang berbeda. Apa saya percaya sesuatu yang ghaib? Bisa ya bisa tidak. Segala kemungkinan bisa saja terjadi dan seperti yang saya bilang, saya sangat terbuka dengan segala kemungkinan tersebut.
Saya merasa tidak nyaman jika saya disangkutpautkan dengan identitas faham ideologis, spiritual atau agama tertentu. Saya ingin bebas secara spiritual dari segala doktrin dan menyerap serta mempelajari ide spiritual apapun. Saya tidak tahu akan segala kemungkinan yang bakal terjadi. Bisa saja ada pemikiran baru yang membuat saya tertarik dan saya tidak mau menutup kemungkinan itu. Tapi bukan berarti saya tidak punya pendirian tetap. Open minded punya pengertian yang luas dan inilah prinsip pemikiran hidup saya.

Saya akui saya hidup dalam lingkungan budaya dan negara yang religius. Saya tidak bisa mengosongkan status agama saya di KTP. Kita selalu butuh identitas agama dalam keseharian kita. Saat kita sekolah, kita harus mengisi identitas agama begitu pun dalam dunia kerja dan sosial masyarakat. Dan oleh karena itu secara hukum dan budaya saya masihlah seorang Muslim. Terkadang saya juga membutuhkan waktu untuk beradaptasi di lingkungan baru dimana saya harus menunjukkan sisi religius saya sebagai salah satu syarat agar dapat diterima di lingkungan baru saya itu. Ini memang cukup melelahkan dan terkadang cukup menyiksa batin saya, tetapi bagaimana pun saya harus melakukan itu agar tidak mau dijauhi yang lain. Sungguh miris memang.

Saya hanya segelintir dari miliaran manusia lainnya di dunia. Ada banyak miliaran manusia lain yang mungkin bahkan punya pandangan yang jauh berbeda. Kehidupan spiritual manusia teramat kompleks. Bersyukurlah karena manusia dikarunia kenikmatan spiritual yang tidak dimiliki makhluk hidup lain. Pernahkan kalian melihat kucing menyembah duri ikan? Atau para semut yang mengerumuni berhala gula?  Ataupun anjing yang berdoa untuk dewa tulang belulang? Tak ada satupun makhluk di planet ini yang memiliki kehidupan spiritual seperti manusia. Saya tidak tahu dengan makhluk planet lain. Mungkin mereka punya kehidupan spiritual tersendiri yang jauh berbeda. Lihatlah Piramida-piramida Mesir atau piramida-piramida suku Inca, Kuil-kuil Yunani, Ka’bah, Masjidil Haram, Biara-biara para biksu Buddha, Kuil Dewa Dewi di China, Kathedral Vatikan, Candi-candi megah di negeri kita atau pun batu-batu besar megalitik peninggalan zaman prasejarah. Semua maha karya megah tersebut tercipta karena adanya kehidupan spiritual manusia. Spiritualitas dan norma religius merupakan salah satu penggerak peradaban kita. Tanpa kehidupan spiritual dan norma religius dari nenek moyang kita, mungkin sejarah akan jauh berbeda. Tapi terkadang kehidupan religius bisa bersifat destruktif. Well, sesuatu yang berlebihan akan selalu berdampak tidak baik, bukan? Begitu pun dengan sikap religius yang berlebihan.

Sungguh prihatin dengan isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan) yang tengah berkembang dalam kehidupan bermasyarakat kita akhir-akhir ini. Sekelompok agama yang dalam hal ini ormas-ormas Islam melaporkan seorang pejabat negara karena dituduh melakukan penistaan agama Islam sehingga menimbulkan aksi massa besar-besaran. Dan sekarang, tengah terjadi pula pelaporan sebaliknya tentang seorang petinggi agama Islam yang dituduh menistakan agama Kristen dan Katholik dalam dakwahnya. Agama satu melaporkan agama lainnya, begitu pula sebaliknya. Sungguh mengerikan. Apa yang terjadi pada bangsa ini? Seakan semua pihak mengaggungkan egonya masing-masing. Entah apa yang terjadi dengan pola pikir masyarakat kita. Tidakkah semua gesekan ini bisa diselesaikan dengan cara damai?

Isu-isu SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar golongan) yang tersebar di media masa dan media sosial seakan mudah berkembang menjadi virus-virus kebencian yang mengkhawatirkan. Bisa kita ambil salah satu contohya, jika anda membaca sebuah postingan berbau SARA ( bahkah terkadang yang tidak ada sangkut pautnya dengan SARA), lihatlah komentar-komentar dibawahnya. Maka yang ada lihat adalah adu argumen tentang SARA yang sering membuat saya tersenyum miris melihatnya. Semua orang merasa paling benar. Semua orang merasa menjadi malaikat paling sempurna. Gila! Sudah separah itukah egoisme dalam masyarakat kita? Sudah sekronis itukah virus kebencian dalam generasi kita? Di saat bangsa lain sudah berpikir tentang ekspedisi ilmiah ke planet Mars, bangsa kita masih berkutat pada konflik sempit agama. Tidak heran kalau bangsa ini masih kalah bersaing dengan bangsa lain.

Saya juga ingin menyoroti istilah “kafir” yang sepertinya menjadi “tren” saat ini. Begitu mudahnya orang menyebut kafir pada orang lain. Bahkan anak-anak usia belia dengan ringannya menyebut kafir pada teman sebaya mereka yang berbeda agama. Kafir menurut Islam berarti orang yang bukan Islam. Saya jadi teringat dengan sebuah tulisan blog yang saya baca di MojokDotCom yang membahas kontroversi penyebutan kafir. Berdasarkan pengertian kafir tersebut, menyebut orang yang beda agama dengan sebutan kafir memang tidaklah salah. Tapi jika anda menyebut kafir dengan begitu mudahnya kepada orang lain tentu ada sesuatu yang salah dengan nurani anda. Ibarat anda menyebut “orang cacat” secara frontal kepada orang cacat yang kehilangan salah satu bagian tubuhnya. (Ini hanya analogi semata tidak ada maksud untuk menyamakan orang kafir dengan orang cacat).  Orang cacat memang adalah orang cacat. Pernyebutan orang cacat untuk orang yang telah kehilangan salah satu bagian tubuhnya memang  sebuah pernyataan yang benar. Tapi sebegitu tegakah kita mengatakan hal tersebut secara vulgar. Bagaimana kalau orang yang cacat itu sakit hati. Bukankah menyakiti hati orang lain termasuk salah satu dosa dalam agama? Hal demikian juga terjadi bila anda secara frontal menyebut kafir kepada orang yang beda agama. Apakah anda tahu kalau orang yang anda sebut kafir itu sakit hati atau tidak? Bagaimana kalau sakit hati? Malah dalam beberapa kasus bisa berkembang ke arah pem-bully-an. Dimanakah nurani anda? Anda tentu juga punya hati? Anda tentu manusia? Kejujuran memang terkadang menyakitkan tapi agama apapun tentunya tidak akan membenarkan bila anda menyakiti hati orang lain. Memprihatinkan memang. Nurani seakan tertutup oleh egoisme buta.

Saya akui saya hanya seorang warga biasa yang tidak mempunyai kontribusi berarti bagi negara. Saya hanya sedang menggunakan hak saya untuk bebas berpendapat sebagai warga negara.
Apa yang terjadi dengan konflik horizontal yang terjadi dalam masyarakat belakangan ini membuat saya menjadi semakin skeptis dengan agama dan segala kehidupan religius di dalamnya. Tapi di balik semua itu, saya merasa sangat bersyukur dengan prinsip hidup saya yang tidak mau dilabeli agama. Harus saya akui, saya merasa lebih bahagia daripada tahun-tahun sebelumnya. Sampai di titik ini, saya merasa mantap kalau saya tidak perlu norma agama untuk bisa menjadi manusia beradab. Saya tidak terlalu memperdulikan judgement dari orang lain tentang saya. Saya melakukan segala sesuatu berdasarkan nurani saya. Berbuat baik pada siapa saja tanpa perlu memikirkan pahala. Menjauhi segala sesuatu yang buruk dengan akal sehat saya. Saya merasa menjadi manusia sebenarnya dan berada pada titik nyaman kehidupan batiniah saya.

Zero Spiritual Identity, mungkin itulah istilah yang tepat untuk menggambarkan konsep kehidupan spiritual saya. Istilah ini memang istilah baru yang saya buat sendiri tapi makna yang terkandung di dalamnya bisa mewakili konsep kehidupan spiritual saya saat ini. Zero berarti nol atau tidak ada, Spiritual berarti kehidupan spiritual atau spiritualitas, dan Identity berarti  identitas. Jadi, Zero Spiritual Identity  bisa diartikan sebagai ketiadaan identitas spiritual dalam diri seseorang. Yup, itulah saya. Dan saya merasa bahagia dengan pilihan hidup saya ini.

Agama merupakan suatu konsep kehidupan spiritual. Sebagian besar orang mungkin masih butuh agama sebagai pedoman hidup mereka. Tiap agama mengajarkan kebaikan, setidaknya itulah yang saya yakini. Jangan sampai segala kebaikan ini tertutupi oleh sikap egoisme kepentingan golongan. Jangan sampai konsep pedoman hidup ke arah yang lebih baik dalam agama malah berubah menjadi sesuatu yang destruktif karena anda menganggap agama anda yang paling benar, dan yang lain salah. Anda mungkin benar, tapi yang lain belum tentu salah. Anda hanya belum melihat sisi lain dari kehidupan yang dilihat orang lain. Kebenaran tergantung dari perspektif masing-masing. Tapi kebenaran yang paling hakiki ada dalam nurani anda masing-masing. Jangan bohongi nurani anda hanya ingin dianggap paling benar.

Bagaimanapun tulisan ini hanya sekedar pandangan pribadi saya tanpa keinginan untuk menyinggung siapapun. Semoga dunia ini akan mencapai kedamaian paling hakiki. Semoga..  ya semoga saja itu terjadi. Semoga kita menjadi manusia yang lebih baik lagi…

image

Gak terasa tahun 2016 udah nongol aja. Melihat postingan saya yang terakhir, rasanya sudah berabad-abad lamanya saya tidak menggauli dashboard blog ini. Setelah menonton sebuah TV series keren yang berjudul Mr. Robot, tiba-tiba saya dapet ilham buat nulis postingan ini. Bukan karena saya mau mereview TV series atau ngebahas dunia hacking yang jadi jalan cerita utama serial itu. Saya gak bisa hacking, saya bisanya cuma wanking alias masturbasi masbro hehe. Ups.. bukan maksud saya buat ngomongin jorok ya! Just kidding. Well, saya jadi terinspirasi nulis tulisan ini karena si tokoh utamanya mempunyai kemiripan psikologis seperti saya. Eliot, sang tokoh utama, ternyata dia seorang introvert yang sering terjebak dalam kecemasan sosial. Ia punya semacam alter ego dalam dirinya yang sering ia ajak bicara. Ia punya semacam teman atau tokoh khalayan yang selalu ada dalam kepalanya. Damn! That’s me bitch! Haha

Apakah kamu punya sesosok lain dalam diri kamu yang sering kamu ajak bicara meski cuman dalam hati. Atau paling tidak kamu suka ngomong sendiri sama pikiran kamu? Itulah yang saya alami sepanjang hidup saya. Saya punya semacam kebiasaan aneh yang selalu menemani keseharian saya. Kepala saya selalu ramai oleh suara-suara geje yang saling bersahutan. Mungkin ada dari kamu yang juga punya kebiasaan yang sama seperti saya. Manusia selalu bicara dengan dirinya sendiri, cuma bedanya ada yang cuma sesekali, ada juga yang tingkatnya udah paripurna kaya saya. Tapi bukan gila ya! Amit-amit bro hihi..

Tiap manusia sudah ditakdirkan untuk bisa berdialog dengan dirinya sendiri. Bolehlah kita sebut sebagai anugerah. Saya tidak tahu gimana dengan makhluk hidup lain. Bagi saya, bicara pada diri sendiri sudah jadi tradisi pribadi. Ketika susah, senang, bosan, I always talk with my self. Sepertinya orang-orang yang ada di rumah sudah akrab dengan habits saya yang ganjil ini. Sudah sering ibu saya memergoki saat saya sedang bicara sendiri sambil jalan bolak-balik di kamar meskipun kebanyakan saya cuma bicara dalam hati. Pun begitu dengan bapak saya. Sepertinya ia sudah tahu kalau anaknya emang sedikit gila hehe. Mereka sudah tahu kebiasaan saya ini sejak lahir. Saya suka ngomong sendiri hao hakeng sewaktu masih bayi. Ya iyalah… semua orang juga gitu keles!! Di saat anak lain sibuk main dengan teman-teman sebaya, saya suka asyik bermain sendiri di halaman belakang dengan segudang imajinasi absurd di kepala saya. Halaman belakang ibarat panggung teater bagi saya. Aciye.. teater! Lebay banget bos! Hehe tapi emang bener sih, saya bisa bermain seharian berbagai macam peran seorang diri. Ketika saya tidak puas dengan jalan cerita sebuah film atau kartun yang sudah saya tonton, saya akan membuat jalan cerita lain dan memerankannya seorang diri di halaman belakang saya yang sempit. Terkadang saya sampai lupa waktu untuk main dengan teman-teman saya yang lain. Bermain ngomong sendiri dengan berbagai macam kepribadian memang sangat menyenangkan waktu itu. Mungkin seharusnya saya jadi aktor Hollywood. Bisa nyaingin Johnny Depp nih! Wuihhh.. mantap! But well, ada kalanya saya berpikir kalau saya mungkin saja beneran gila. Saya takut mengidap salah satu gejala skizofreinia. Amit-amit ya ahli kubur. Saya bersumpah masih waras. Saya masih bisa membedakan mana jus stroberi, mana sambel terasi. Saya masih punya rasa malu buat telanjang bulat jalan santai kaya model catwalk sambil ketawa-ketiwi mekimeki hihihi. Saya pastikan otak saya masih normal, meski kadang geser dikit sesekali. Saya juga sempat khawatir kalau saya punya semacam bipolar disorder karena saya sering kali mendapati diri saya terbagi dalam dua emosi yang cukup signifikan sewaktu lagi ngomong sendiri. Tapi saya akui saya sangat menyukai kebiasaan saya ini. Saya jadi gak pernah ngerasa kesepian. Cukup ngefek buat saya. Apalagi buat para single yang sudah terbiasa hidup sendiri menahun selama beratus-ratus tahun seperti saya ini (Ehm.. gak usah curhat kali ya!).

Well, ibarat cowok single yang kadang butuh masturbasi untuk memuaskan diri, bicara pada diri sendiri juga punya efek yang sama. Bukannya saya ngeles karena gak mau dibilang gila, tapi ini emang bener adanya. Karena saya tertarik untuk ngebahas soal ngomong sendiri, saya jadi tertarik buat nyari berbagai informasi mengenai #SelfTalk ini. Menurut beberapa sumber yang saya baca, telaah dan saya telanjangi, ternyata ngomong sendiri itu cukup bermanfaat juga lho. Berikut adalah beberapa sisi positif dari Self Talk.

1. Self talk bisa membuat otak bekerja lebih efisien.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam Quarterly Journal of Experimental Psychology menunjukkan bahwa orang yang mengulang nama benda yang sedang mereka cari bisa membuat apa yang dicari lebih cepat ditemukan daripada yang diam saja. OMG bener banget! Meski kadang benda itu ketemunya belakangan hehe. Studi tersebut menjelaskan kalau mengulangi kata-kata dengan suara keras memercikan memori mengenai benda yang dikenal, membuat mereka lebih mudah terlihat dan ditemukan. Cukup logis juga sih. Meski nyari barang yang hilang itu bener-bener menyebalkan. Apalagi nyari cinta yang hilang? Fuck men… udah deh 😦

2. Pembelajaran anak-anak.
Ok, mungkin saya bukan anak kecil lagi tapi saat masa anak-anak, khususnya balita adalah masa di mana mereka lagi asyik-asyiknya bicara. Mereka suka niru orang dewasa bicara. Meski nggak selamanya bagus, seperti saya yang sudah tahu kata-kata kotor sejak berumur 5 tahun (Ironis ya bro!), namun dari aktivitas tersebut mereka bisa belajar infeksi vokal, kosakata, dan sintaks dengan mendengarkan dan mengulangi apa yang orang katakan. Hmm ok juga…

3. Mengorganisir pikiran.
Terkadang dalam keadaan tertentu atau dalam mobilitas tinggi, membuat pikiran kita dipaksa pula untuk kerja cepat. Jika dibiarkan, isi pikiran yang campur aduk di dalam kepala bisa menjadi nasi goreng campur nasi uduk di tambah mi tek tek sambel terasi cabe busuk. Yaik! Tapi dengan bicara pada diri sendiri diyakini bisa membantu kita memprioritaskan “big things” yang berpengaruh dalam setiap permasalahan yang sering kita temui dalam hidup. Hal ini juga membantumu menyadari hal-hal kecil namun signifikan bagi hidup kamu. Kamu bisa dengan leluasa membicarakan pemikiran-pemikiran yang ada di kepala kamu sehingga kamu bisa lebih memahami dunia sekitar dan bisa berpikir lebih bijak.

4. Membuatmu mencapai tujuan.
Bicara sendiri terkadang membuatmu berpikir kritis terhadap apa yang akan kamu lakukan. Terkadang sebelum melakukan sesuatu, saya bicara pada sendiri dulu dan menaksir apa maksud dan tujuan dari apa yang saya lakukan itu. Mungkin bisa dibilang banyak mikir hehe. Tapi itu cukup membantu. Saya jadi faham apa yang harus saya lakukan serta memahami tujuannya sehingga saya bisa berusaha semaksimal mungkin agar tujuan itu tercapai. Meski sering ujung-ujungnya gagal sih. Huff….

5. Meringankan stres.
Oh yes, stress! Ketika lagi stress, saya cenderung lebih banyak bicara pada diri sendiri. Dan ini ada sisi positifnya. Dengan self talk bisa memungkinkan kamu untuk mengatur pikiran dan memprioritaskan kewajiban yang harus kamu kerjakan, sehingga pikiranmu nggak menumpuk, dan berusaha menaksir apakah waktu yang kamu punya cukup untuk menyelesaikan semua stresmu itu. Kamu bisa jadi lebih rileks dan mampu mengikuti arus hidup yang terus berjalan. Selain itu, berbicara kepada diri sendiri akan membantumu mempersiapkan diri untuk masa-masa sulit dalam hidup dengan keberanian dan kepercayaan diri. Cuma kamu yang tahu gimana caranya menghilangkan stressmu. Ingat itu!

6. Membangun kemandirian.
Bicara pada diri sendiri membuatmu lebih bijak dalam pemecahan masalah. Yeap! Saya harap ini benar! Jika orang lain saat ada masalah pergi ke teman untuk bercerita, orang-orang yang suka bicara sendiri dianggap mampu menganalisis situasi dan memiliki kesimpulan tanpa arahan dari orang lain. Berbicara kepada diri kita sendiri, membuat kita mendengarkan suara hati, dan menemukan apa yang benar-benar inginkan. Hmmm bener gak ya? Tapi bener juga sih. Saya ini termasuk orang yang tertutup sehingga sangat mustahil bagi saya untuk mengeluarkan uneg-uneg saya kepada orang lain. So #selftalk works for me 🙂

7. Menjadi motivator pribadi
Yes, ini bener banget. Terutama jika kamu menggunakan kata ‘kamu’ kepada diri sendiri, misalnya ‘Kamu pasti bisa bitch! Hehe’. Dr. Sanda Dolcos, peneliti dari University of Illinois di Urbana-Champaign mengatakan, “Bicara dengan diri sendiri menggunakan kata kamu membuka pikiran seseorang terhadap perspektif yang lebih luas, seolah-olah ada orang lain yang ikut bicara menyemangati Anda.” We are the great motivators of our self!! Sorry ya Om Mario Teguh.

8. Imajinatif
Yep, salah satu faktor kenapa saya suka self talk adalah imajinasi yang ada di kepala saya. Menurut beberapa sumber. imajinasi memang sangat penting bagi otak. Meskipun terkadang imajinasi saya absurd, tapi karena imajinasi saya jadi merasa tidak sendiri. Saya suka bercakap dalam hati ketika dihadapkan pada segala sesuatu di depan saya dan terkadang hal itu bisa menjadi imajinatif. Dunia terasa sangat menyenangkan ketika kita melihat segala sesuatu secara berbeda. Saya juga harus berterimakasih terhadap imajinasi saya itu. Karena imajinasilah saya jadi suka lama nongkrong di kamar mandi. Ngapain aja hayoh di kamar mandi? Hehehe….

9. Mengeksplorasi Kreativitas
Bisa jadi! Imajinasi dan kreativitas tak bisa dipisahkan. Harus diakui ketika saya punya suatu ide, saya selalu bicara pada diri dan mengolah ide tersebut agar bisa diaplikasikan secara sempurna. Terkadang saya harus berdebat dulu untuk mengaplikasikannya. Suara-suara di kepala saya ini sangat membantu ketika saya dihadapkan pada suatu masalah yang menuntut kreativitas sebagai penyelesaiannya.

10. Indikasi kecerdasan
Mmm kalau yang ini kayanya kurang tepat buat saya… meski katanya bicara sendiri merupakan indikasi IQ tinggi. Saya pikir IQ saya biasa-biasa aja sih. Gak bodo-bodo amat, gak printer-pinter amat. Mungkin bodonya lebih dikit sih hehe. Tapi gak apa-apa sih. Yang penting masih bisa ngitung 12 tambah 5 dan masih bisa berpikir cemerlang ngitung defisit gajian di akhir bulan yang kadang menyesakan hati dan kepala. Huff…

Well, itulah sebagian point-point positif dari self talk yang saya ambil dari berbagai sumber. Cukup keren kan? Lumayan juga sih.

Ketika kamu tak punya orang lain yang bisa dijadikan teman untuk bersandar, kamu masih punya diri kamu sendiri. Teringat akan dongeng Puteri Salju dengan si Ratu Jahat yang suka bicara sendiri dengan cermin ajaib. Persetan dengan cermin ajaib! Kamu punya cermin dalam diri kamu sendiri. Hidup ini seperti masturbasi (Masturbasi lagi.. masturbasi lagi… gak ada analogi lain apa?) hanya kamu yang bisa memuaskan dirimu sendiri ketika orang lain hanya bisa meremehkanmu, menjudge dan mencaci maki. Aciye.. bener banget mekimeki!

So buat kamu yang suka ngomong sendiri, kamu gak sendiri. Kamu bebas bicara apa aja dengan diri sendiri. Isi kepala kita lebih luas dari alam semesta dan kamu bisa mengeksplornya sesukamu. Dan buat kamu yang jarang ngomong sama diri kamu sendiri, tak ada salahnya mencoba sesekali. Anggap saja itu sebagai terapi. Menelaah diri sendiri, mencoba menanyakan secara personal sambil bertanya, “sebenarnya kamu ini siapa sih?”. Bertanya pada diri sendiri mempunyai efek spiritual, psikologis dan filosofis. Filsuf legendaris seperti Plato, Aristoteles, Friedrich Nietzsche, Jean Paul Sartre dan sebagainya sering bicara pada diri sendiri dulu ketika membuat materi filsafat mereka. Begitu pun dengan para ilmuan handal seperti Albert Einstein, Sir Isaac Newton, Thomas Alva Edison, Stephen Hawking dan sebagainya. Mereka menghabiskan banyak waktu untuk berdialog dengan pikiran mereka demi menciptakan temuan dan teori sains terbaru. Saya pikir orang-orang yang sukses adalah orang-orang yang bisa berdialog dengan pemikirannya sendiri. Kita pun bisa mencobanya.

Seperti yang sudah saya bicarakan di atas, #SelfTalk bisa dijadikan sarana introspeksi diri. Menanyakan apa saja kekurangan dan kelebihanmu, berusaha lebih giat lagi supaya dirimu lebih berarti minimal bagi diri kamu sendiri. Cuma kamu yang tahu siapa kamu sebenarnya. Cuma kamu yang bisa menginterogasi dirimu sendiri secara gamblang. Sampai kapanpun kamu gak akan pernah bisa berbohong dengan dirimu sendiri. Oh yes we are pretty liars, we can lie to anyone else but we can’t lie to our self. That’s a fact! Just don’t be stupid because of your self 🙂

So let’s self talk and take a great walk! Jangan pernah takut untuk bicara pada dirimu sendiri. Ingat kamu tidaklah benar-benar sendiri dalam tubuh kamu sendiri. Tiap orang pasti punya sisi bijak dalam diri mereka. Talk whatever you want to talk. Keep talking and be who you are 😉

Status  —  Posted: 17 Januari 2016 in Personal
Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

surga 35

“Heaven is under our feet as well as over our heads.” ― Henry David Thoreau, Walden

Aku akan keliling dunia dan menemukan surga. Lihat saja.

Namaku Arka. Seorang pemuda yang selama 27 tahun hidupnya selalu dihantui thalasemia. Thalasemia? Ya, penyakit kelainan darah itu sudah mendarah daging dalam tubuhku. Tak ada kepastian sembuh bagiku. Hidupku bergantung pada tranfusi darah yang harus dilakukan setiap bulannya, aku juga harus mendapat suntikan desferal selama 10 jam setiap malam. Bukankah itu sungguh keterlaluan? Semua ini benar-benar melelahkan. Rasanya aku ingin mati saja. Seluruh biaya pengobatanku bergantung pada asuransi kesehatan yang didaftarkan oleh mendiang ayahku. Ya, ayahku juga begitu. Karena thalasemialah ia meninggal 10 tahun lalu. Tak pernah kusangka aku akan mewarisi apa yang telah membunuhnya itu. Penyakitku ini lebih parah darinya. Aku bisa mati kapan saja karena thalasemia akut yang menyerang setiap harinya. Beberapa bagian tubuhku membengkak karena komplikasi getah limpa. Aku sudah seperti boneka yang tak bernyawa. Thalasemia telah merenggut kehidupan masa mudaku secara nyata.

Itulah aku.

Aku adalah aku. Aku jelas berbeda dengan Arya, adikku. Ia adalah satu-satunya saudara kandungku, satu-satunya keluarga yang kupunya selain Ibu. Usianya setahun lebih muda dariku. Kami terlahir dari gen yang sama, tapi secara lahiriah, kami berbeda. Kami bagai bumi dan langit. Semacam paradoks yang berlainan satu sama lain. Arya adalah pemuda luar biasa. Tak ada kelainan pada fisiknya, ia terlahir sehat tanpa warisan penyakit dari Ayah. Arya adalah kebalikan dari diriku. Ia pemuda yang aktif dan selalu tertarik pada hal baru. Jiwa petualang dalam dirinya amatlah besar. Ia telah mendapatkan semua hal yang diinginkan setiap manusia belia. Memiliki banyak kawan, aktif dalam pergaulan dan mendapat pendidikan yang layak di salah satu universitas ternama.

Aku dan Arya memang berbeda. Selain persamaan struktur DNA, hanya ada satu hal yang membuat kami sama, yakni seni. Kami berdua sama-sama terobsesi dengan seni. Kurasa ini tidak ada hubungannya dengan faktor keturunan atau silsilah keluarga. Seni telah menyatukan kami. Aku seni lukis, dan ia fotografi. Hobinya dalam fotografi berbanding lurus dengan hasrat petualangnya yang tinggi. Ia senang berpetualang dengan kamera DSLR-nya. Ia selalu menenteng kamera itu kemana-mana. Dua tahun lalu, aku memberikan kamera itu. Aku membelinya dari hasil penjualan beberapa karya lukisanku. Kamera itu telah menjadi bagian dari dirinya, bahkan menjadi salah satu modal dari proyek ambisiusnya.

Semua ini bermula saat setahun lalu, saat ia pertama kali menceritakan proyek gilanya. Secara mengejutkan, ia ungkapkan keinginan untuk cuti sejenak dari kuliah ekonominya. Ada sebuah proyek besar yang tiba-tiba mengubah haluan hidupnya, sebuah proyek irasional yang mungkin akan membuat siapa saja terbelalak begitu mendengarnya.

“Aku akan keliling dunia untuk thalasemia!” begitu katanya, penuh semangat. Percakapan kami di ujung senja berubah menjadi kejutan absurd yang sulit dipercaya. “Kakak dan Ibu tak perlu khawatir. Ada banyak sponsor yang akan mendanai proyek ini. Aku akan melakukan perjalanan dengan sepeda. Aku akan keliling dunia!”

Itu adalah hal tergila yang pernah aku dengar. Adikku akan bersepeda sendiri keliling dunia demi proyek amal untuk para penderita thalasemia. Siapa yang sudah mencuci otak adikku ini? Kurasa ia terlalu banyak menonton tayangan Travel Channel. Dunia begitu luas. Roda sepeda tak akan mungkin mampu menaklukannya.

“Thalasemia dan surga, hanya itulah alasanku melakukan semua ini.”

“Surga?”‘

“Ya, surga. Ini adalah sebuah misi suci. Akan kubuat dunia mengerti apa itu thalasemia. Ini semua demi Kakak, mendiang ayah kita, dan seluruh penderita thalasemia yang ada di seluruh dunia.”

“Jangan bicara tentang surga. Bagimu, surga itu hanya sebesar 35 milimeter ukuran diameter lensa kamera. Janganlah kamu berbuat gila! Dunia tak seindah yang terpotret dalam lensa. Dunia tak seperti yang kamu kira.”

“Aku akan menunjukkannya, Kak! Aku akan melakukannya!”

Obsesi absurd Arya benar-benar terlaksana. Aku benar-benar tak percaya. Hari Kamis, tanggal 5 Mei, tepat di Hari Thalasemia Sedunia, ia memulai titik nol kilometernya dari Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta. Bersama iring-iringan sponsor dan ratusan penderita thalasemia, aku dan Ibu melepasnya. Ia berhasil menggaet beberapa sponsor untuk mendukung aksinya, diantaranya ada Yayasan Thalasemia Indonesia dan sebuah LSM internasional asal Amerika. Ia dibekali berbagai perlengkapan memadai untuk menunjang penjelajahannya. Ia melakukan semua ini bukan untuk memecahkan rekor dunia, tapi untuk membuktikan kalau kami ada: penderita thalasemia.

Seribu kilometer lebih telah ia tempuh selama 19 hari untuk sampai di Medan. Selat Malaka dilewati, negeri jiran disusuri hingga negeri Takshin Shinawatra pun dijejaki. Ia masuk Thailand lewat Pattani, kota rawan konflik yang untungnya sedang dalam kondisi aman terkendali. Di negeri gajah putih, ia mulai merasakan perbedaan budaya yang cukup signifikan. Ia bahkan sempat bertemu dengan seorang anak penderita thalasemia di Rumah Sakit Bumrungrad di Bangkok. Sebuah momen penuh haru pun sempat ia abadikan.

“Love for Nathon Nakshucay! Bocah manis yang berjuang dari keganasan thalasemia di Thailand. Usianya baru menginjak delapan, tapi semangatnya untuk bertahan hidup tak akan pernah bisa terpatahkan!”

Begitu bunyi keterangan foto yang ia unggah ke halaman Facebook dan Twitter-nya. Empati adalah sebuah bahasa universal yang bisa menembus semua batas budaya. Lebih dari separuh kasus thalasemia terjadi di Asia. Thailand hanya salah satu contohnya. Aksi Arya telah membuat kami membuka mata. Ternyata perjuangan ini bukan milik kami saja.

Thailand-Laos-Vietnam mampu dilewatinya dalam waktu 3 bulan. Waktu terasa begitu cepat berlalu sampai aku sadar ia sudah menembus China. Tak lupa ia selalu bagikan setiap momen berharga lewat email, blog, dan berbagai jejaring sosial miliknya. Ia tak pernah berhenti menyajikan foto-foto indah. Mulai dari fotonya di sungai Mekong, suasana perbatasan tiga negara di Golden Triangle, pose di gerbang Patuxai di kota Vientiane, sampai ikut tari caping di salah satu desa di Vietnam. Ia masuk China lewat kota Lang Son di Vietnam Utara. Dari China, ia akan memulai perjalanan mengikuti jalur sutera.

“Halo semuanya! Aku sudah berada di China. Thalasemia masih sangat asing di sini, tapi aku akan berusaha untuk tetap mengkampanyekannya,” ucap Arya dalam status Facebook-nya. Ia selalu berusaha untuk terhubung dengan kami sekeluarga, entah itu lewat email, sambungan telepon international ataupun lewat video chat. Ia cerita kalau ia sempat kehilangan sepedanya di salah satu desa di Ciang Rai, Thailand. Bahkan ia pun hampir kecopetan saat tersesat di di sebuah pasar di Laos Selatan.

China-Kazakhstan ditempuhnya selama dua bulan setengah dengan melewati terjalnya daratan dan pegunungan. Panas, hujan, bahkan badai, datang silih berganti. Siang dan malam hanya sekedar efek rotasi bumi. Dari dataran tinggi Yunan hingga Kwen Lun, dari Xinjiang hingga Alma Ata. Berbagai jenis orang telah ia temui. Dari etnis Han yang mendominasi, etnis Uyghur yang masih terdiskriminasi hingga etnis Kirgiz dan Kazakh yang sedang mencoba mencicipi modernisasi. Jantung Asia sudah dilewati. Kini benua biru sudah menanti.

Aku masih belum bisa percaya kalau adikku melakukan semua ini. Kami belajar sepeda 17 tahun lalu dan ia sudah mengayuh pedal sejauh itu.

“Kamu selalu membonceng Kakak saat pergi ke sekolah, dan sekarang kamu membonceng harapan para penderita thalasemia yang ada di seluruh Indonesia, bahkan dunia,” kataku dalam sebuah videochat via Skype pada tanggal 15 November. Saat itu Ia sedang bersantai di sebuah motel di Astana, ibukota Kazakhstan. Aku dan Ibu takjub melihat sosoknya terpampang di monitor komputer.

“Ah, Kakak bisa saja!” Ia tertawa. “Kakak dan Ibu sudah lihat foto-foto terbaruku, kan? Semuanya benar-benar luar biasa!”

“Iya, Ibu sudah lihat. Jaga selalu kesehatanmu! Ibu selalu mendoakanmu di sini.”

“Iya, Bu, aku selalu mengingat kata-kata Ibu. Doakan aku agar aku bisa cepat menyelesaikan misi ini. Sebentar lagi aku akan sampai di Rusia. Mungkin untuk beberapa lama aku tak akan bisa menghubungi Ibu dan Kakak. Aku akan melanjutkan perjalanan menuju danau Ural dengan melewati pangkalan roket luar angkasa Baikonur di selatan Kazakhstan. Katanya sinyal internet di sana sangat jelek.”

“Ibu dan Kakakmu mengerti. Tapi kalau memungkinkan, usahakan untuk tetap menghubungi kami.” Naluri Ibu tengah bersuara. Kami berjarak puluhan ribu kilometer jauhnya, tapi tak ada batasan geografi jika batin seorang ibu telah bicara.

“Iya, Bu, aku akan usahakan. Aku sayang Ibu.”

Arya melanjutkan perjalanan sucinya dengan menembus segala rintangan iklim dan cuaca. Aku selalu menunggu kabar darinya. Bagaimana mungkin kami terpisah selama 2 minggu lamanya. Setelah dari danau Ural, ia akan lanjut ke arah timur laut menuju Rusia, tapi aku belum mendapat satu kabarpun darinya. Ini aneh.

Sebulan telah berlalu. November telah berganti Desember. Musim gugur telah berganti menjadi musim dingin. Tak ada yang berubah kecuali resah yang terus membuncah. Kami sangat mengkhawatirkannya. Pihak sponsor yang turut serta memberangkatkannya berusaha mencari keberadaannya. Kemanakah ia kayuh sepedanya? Apa yang telah terjadi padanya? Sinyal GPS tak memberikan tanda. Jangan katakan kalau adik kecilku telah hilang. Terkadang ia memang bisa menjadi orang yang sangat menyebalkan. Terkadang ia terlalu asyik dengan dunianya sendiri hingga melupakan peradaban. Aku yakin ia akan segera menghubungi kami. Ini hanya soal waktu.

* * * *

Aku perlihatkan senyum untuk menyamarkan bentuk tulang wajahku yang tak biasa. Aku memandang lensa kamera. Latar belakang dinding ruang tamu yang bewarna putih terlihat kontras dengan kaos hitamku. Sekelibat kilatan lampu lensa menyilaukan mata. Arya langsung melihat hasil jepretan dari LCD kameranya.

“Tumben Kakak mau difoto. Emangnya buat apa, sih?” Ia ulangi lagi pertanyaan yang tadi belum sempat kujawab.

Aku tersenyum.

“Ini cuma buat jaga-jaga aja.”

“Jaga-jaga buat apa?”

“Jaga-jaga kalau sewaktu-waktu kamu butuh foto untuk kolom obituari…”

* * * *

Aku masih dirawat di rumah sakit dan Ibu masih menemaniku di sini. Cairan infus sudah menjadi teman sejati, senyum dokter sudah menjadi hal basi. Aku hanya tinggal menunggu terbitnya kolom obituari.

Sebentar lagi seseorang akan datang kemari. Katanya, ia akan menyerahkan sesuatu yang mungkin selama ini kami cari. Apakah itu? Aku tak mau terlalu berekspektasi. Bagiku ini hanya bagian dari mimpi. Aku tak mau berandai-andai lagi. Biarkan saja semua berjalan sesuai kendali.

Orang itu telah tiba. Ia adalah salah seorang staf kementerian luar negeri yang ditugaskan secara khusus untuk menemui kami. Kami sudah siap dengan segala kemungkinan yang terjadi. Apapun yang dikatakannya takkan kami ingkari. Kami sudah lama menantikan ini.

“Kami datang untuk menyerahkan ini,” kata seorang pria berbatik seraya memberikan sebuah kotak berukuran 50 kali 30 sentimeter. Aku yang masih duduk terbaring segera membuka kotak itu. Ada topi, jurnal ekspedisi, dan sebuah kamera yang beberapa bagiannya sudah tak lengkap lagi. “Semua ini punya Arya. Kami menemukannya di perbatasan Kazakhstan-Rusia beberapa waktu lalu.”

Batinku berontak, dan aku yakin kalau batin Ibu lebih berontak lagi. Aku coba lunakan emosi. Kuambil kamera yang sudah menemani adikku selama 2 tahun belakangan ini. Sulit dipercaya, ternyata kameranya masih berfungsi. Kucoba periksa beberapa folder yang tersimpan di memori kamera itu. Dari layar LCD 3 inchinya, aku dan Ibu memperhatikan setiap gambar yang berhasil terabadikan olehnya.

Foto-foto perjalanannya berhasil terabadikan dengan sempurna. Fotonya saat bersantai di dekat danau Ural, fotonya saat di area pangkalan roket luar angkasa Baikonur, dan masih banyak foto menakjubkan lainnya. Dan aku dibuat berhenti bernapas ketika melihat foto terakhirnya. Ia berpose di salah satu area di pegunungan Ural bersama sebuah spanduk bertuliskan “Love for Thalassemia”. Tapi bukan itu yang membuatku berhenti bernapas untuk sementara. Ia memakai kaos putih yang bertuliskan namaku di dadanya. A R K A, kelima huruf yang membentuk namaku itu ditulis dalam warna merah menyala. Aku tersenyum dibuatnya.

Aku tak tahu dimana kini kau berada, tapi aku yakin kau baik-baik saja. Tertulis jarak 35.603 kilometer dalam jurnal ekspedisimu. Kau sudah mengayuh sepeda terlalu jauh, adikku. Kami sungguh bangga padamu. Perjalananmu telah terabadikan dalam surga 35 milimetermu. Terima kasih atas segala perjuanganmu. Lekaslah pulang! Kami di sini menunggu ceritamu…

Pulanglah! Secepatnya…

* * * *

Sumber gambar: Google

Cerpen ini pernah dimuat di Annida Online edisi Desember 2013

Klik gambar

Klik gambar ini 🙂

gone-girl-poster

Sebenarnya saya agak males buat mereview sebuah film, tapi entah kenapa saya langsung ngebet ingin mereview setelah menonton film ini, film yang katanya jadi salah satu film yang paling dibicarakan di tahun 2014 lalu. I’m going to review the Gone Girl, film arahan David Fincher yang diangkat dari novel best seller karya Gillian Flynn. Dibintangi oleh si cantik Rosamund Pike dan si bongsor Ben Affleck, film ini sempet happening banget di dunia maya petengahan Oktober lalu dan mendapat pujian dari banyak kritikus film. Gak heran kalau film ini mendapat rating yang tinggi di Rotten Tomatoes. Inilah yang menyebabkan saya ingin nonton film bergenre thriller ini sejak penghujung tahun lalu. But unfortunately, film ini gagal tayang di Indonesia. Mungkin karena gak lulus sensor kali ya. Habis film ini emang lumayan banyak adegan erotisnya sih. Saya akui itu hehe. Dan thank God, baru-baru ini Gone Girl udah nongol di Ganool dengan kualitas Bluray. Jangan sahalin saya karena udah download film secara illegal. Habis film ini emang gak tak tayang di sini sih. Salah satu alternatif buat nonton ya dengan mendownloadnya secara gratisan hehehe.

Directed by David Fincher
Produced by
Screenplay by Gillian Flynn
Based on Gone Girl
by Gillian Flynn
Starring
Music by
Cinematography Jeff Cronenweth
Edited by Kirk Baxter
Production
company
Distributed by 20th Century Fox
Release dates
  • September 26, 2014 (NYFF)[1]
  • October 3, 2014 (United States)[1]
Running time
149 minutes[2]
Country United States
Language English
Budget $61 million[3]
Box office $365.3 million[3]

Oke, gak perlu banyak cingcong lagi, saya bakal langsung ngereview film ini. Film ini bercerita tentang sepasang suami isteri, Nick dan Amy Dunne. Mereka memiliki kehidupan yang sempurna di kota New York sampai suatu hari mereka harus pindah ke kota kecil di Missouri -kampung halaman Nick- di tengah masa resesi. Nick dan Amy bekerja sebagai penulis, tapi mereka bekerja di majalah yang berbeda, tapi setelah pindah ke Missouri, Nick beralih profesi dengan membuka sebuah bar dan Amy menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya.

“When two people love each other and they can’t make that work, that’s the real tragedy.” – Amy Dunne

Kehidupan mereka terlihat normal sampai suatu pagi di hari ulang tahun pernikahan mereka yang kelima, Nick mendapati kalau istrinya telah hilang secara misterius di rumahnya. Hilangnya Amy langsung menjadi berita besar. Seluruh warga kota tempat Nick tinggal ikut berpartisipasi dalam pencarian Amy. Dan setelah pers mulai meliput kasus hilangnya Amy, kasus ini pun langsung menjadi berita nasional. Satu-per satu misteri mulai bermunculan dan kehidupan rumah tangga Nick dan sang isteri yang hilang pun mulai menjadi santapan media. Semua orang mencari Amy tapi bukti demi bukti mulai mengarah ke Nick, sang suami. Publik mulai curiga kalau Nick ikut andil dalam tragedi hilangnya Amy. Bahkan publik, media dan polisi mulai mencurigai kalau Amy telah dibunuh Nick. Apalagi setelah ditemukan buku diari Amy yang berisi tentang catatan hariannya selama menikah dengan Nick. Amy menggambarkan dalam diarinya kalau Nick telah berubah menjadi sosok yang temperamental dan sering memperlakukannya secara kasar. Dalam diarinya pula dituliskan kalau Amy merasa terancam oleh suaminya , bahkan ia takut kalau sang suami akan membunuhnya. Kasus pun mulai semakin pelik setelah skandal perselingkuhan Nick dengan seorang gadis belia mulai menyeruak ke halayak publik dan Nick semakin menjadi bulan-bulanan media.

gone-girl-DF-01826cc_rgb.jpg

image

Hari demi hari, Nick mulai merasakan banyak kejanggalan dalam kasus menghilangnya sang isteri. Ia curiga kalau sang isteri masih hidup dan semua ini hanya rekayasa sang isteri agar dirinya masuk penjara lalu dihukum mati. Dan kecurigaan Nick pun benar, di pertengahan film mulailah diceritakan keberadaan Amy. Ternyata Amy-lah yang merekayasa semuanya. Ia telah merencanakan semua ini secara detail dari jauh-jauh hari. Ia bahkan menulis diari palsu itu. Tapi ditengah “kebebasannya”, Amy ketiban sial. Semua uangnya dirampas saat dirinya tengah menikmati masa-masa persembunyiannya di sebuah coutage. Karena putus asa, Amy pun menghubungi mantan pacarnya, Desi Collings yang diperankan oleh Neil Patrick Harris. Desi sudah lama terobsesi dengan Amy. Bahkan meski Amy sudah menikah, ia tetap menulis surat untuknya secara intens. Well well well, and the shit was going to be happened. Amy bilang pada Desi kalau ia tengah lari dari suaminya yang psycho dan Desi pun menawarinya untuk tinggal di rumah danaunya. Sementara itu, media mulai semakin gencar menyudutkan Nick, dan polisi mulai menaikan statusnya menjadi tersangka.

“When I think of my wife, I always think of the back of her head. I picture cracking her lovely skull, unspooling her brain, trying to get answers. The primal questions of a marriage: What are you thinking? How are you feeling? What have we done to each other? What will we do?” – Nick Dunne

Pada suatu hari, pengacara Nick menawarinya untuk tampil di salah satu acara talkshow TV kabel nasional. Di acara itu Nick mengungkapkan segala uneg-unegnya dan meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan yang selama ini ia buat selama berumah tangga dengan Amy, termasuk skandal perselingkuhannya. Nick hanya ingin isterinya kembali. Amy yang juga ikut menonton acara talkshow itu mulai bimbang, apalagi Desi mulai bersikap semakin overposessive terhadapnya. Amy tergerak untuk kembali ke pelukan sang suami. Amy mulai merencanakan rencana gila untuk lari dari Desi. Dan salah satu adegan paling what the fuck pun terjadi. Amy menebas leher Desi saat mereka sedang bercinta. Darah muncrat kemana-mana dan Amy pun pulang ke rumahnya.

Nick yang sudah tahu akal busuk Amy terpaksa menerima kedatangan Amy. Tapi dengan banyaknya sorotan media dan akting Amy yang seolah menjadi korban pennculikan sang pacar di depan pers dan polisi, Nick pun tidak bisa bisa berkutik.

Nick Dunne: You fucking cunt!
Amy Dunne: I’m the cunt you married. The only time you liked yourself was when you were trying to be someone this cunt might like. I’m not a quitter, I’m that cunt. I killed for you; who else can say that? You think you’d be happy with a nice Midwestern girl? No way, baby! I’m it.
Nick Dunne: Fuck. You’re delusional. I mean, you’re insane, why would you even want this? Yes, I loved you and then all we did was resent each other, try to control each other. We caused each other pain.
Amy Dunne: That’s marriage.

Salah satu dialog paling memorable yang ada di film ini.

Film pun berakhir dengan sebuah adegan talkshow TV yang menampilkan mereka berdua tengah diwawancarai. Mereka mengabarkan berita bahagia. Mereka mengumumkan pada publik kalau mereka tengah berbahagia karena Amy sedang mengandung anak pertamanya dengan Nick. Well, ending yang sungguh ironis memang.

gonegirl-rep

Film ini telah berhasil memuaskan rasa penasaran saya. Cukup wajar bila film ini gagal tayang di bioskop Indonesia karena seperti yang saya udah bilang di atas, film ini banyak banget muatan seksnya seperti beberapa sex scene, topless, dan frontal nudity. Salah satu adegan paling hot adalah saat Nick tengah bercumbu dengan selingkuhannya di sofa. Si ceweknya bener-bener topless bos! Haha. Dan satunya lagi pas adegan Nick dan Amy sedang berada di kamar mandi. Si Ben Affleck bener-bener nude, I thought I’ve seen his penis a lil bit tapi sayang si tante Rosamund Pike cuma disorot dari belakang. Alhasil kita cuma bisa liat punggungnya yang semampai nan aduhai. But the most WTF scene is when Amy killing Desi during sex! Diawali dengan adegan oral sex yang super vulgar, adegan berlanjut ke atas ranjang and damn! Amy suddenly slashed Desi’s neck, dan adegan bercinta pun berubah jadi adegan penuh darah. What a damn creepy scene!

Akting Ben Afflek dan Rosamund Pike memang patut diacungi jempol. Tapi menurut saya, si Rosamund Pike-lah yang layak mendapat applause tertinggi. Gila, aktingnya bener-bener gokil! Dari seorang isteri serba sempurna, smart dan elegan yang bernama Amy Dunne, ternyata dia punya sisi lain sebagai wanita licik, delusional, manipulatif dan tidak segan-segan membunuh untuk memuluskan rencananya. She was absolutely a bitch! Everyone would confess about that! Maka gak heran kalau tante Rosamund Pike ini dapet nominasi Golden Globe tahun ini dan saya gak bakalan heran kalau ia bakal dapet nominasi Oscar juga cause her acting was really God damn awesome!

Dari segi music score, musik latar dalam film ini bakalan lansung membangun imaji suspense sejak adegan pertama . Tangan dingin David Fincher bener-bener juara. The Social Network adalah satu film arahan David Fincher favorit saya dan Gone Girl sepertinya akan masuk juga dalam list saya.

Adegan-adegan sejam pertama mungkin agak sedikit monoton dan membosankan tapi itu yang membuat saya semakin penasaran. Dan pada akhirnya bikin saya tetep betah mantengin layar sampe akhir cerita.Well, gak ada gading yang gak gak retak, begitu juga dengan film Gone Girl ini. Salah satu adegan paling silly adalah ketika si Amy pulang dari rumah sakit dengan tubuh yang masih berlumuran darah. Setahu saya, tiap rumah sakit gak akan mungkin memulangkan pasiennya ketika masih berlumuran darah. Pastinya bakal dibersihin sama bu susternya lah. Agak doesn’t make sense memang. Tapi mungkin seperti itulah adegan yang juga tertulis dalam novelnya –saya belum baca sih. Mungkin biar lebih keliatan dramatis kali ya hehe.

Over all, menurut saya Gone Girl memang sangat layak mendapat predikat salah satu film terbaik di tahun 2014. Dari skala satu sampe lima bintang, saya bakal kasihin empat. It means this movie is really awesome! Congrats buat David Fincher yang kembali membuat saya tercengang dengan karya terbarunya. Semoga bisa Berjaya di ajang Academy Awards tahun ini. I really love this movie, worth it banget buat ditonton! Tapi saya ingatkan kembali, film ini hanya boleh ditonton buat kamu yang sudah berusia 18 ke atas karena beberapa adegan seksnya bakal bikin kamu goyang dumang hehehe.

Sekian review dari saya. Sebenernya banyak banget film yang saya tonton belakangan ini, tapi cuma film ini yang baru sempet dibikin reviewnya. Semoga next time bisa bikin review film-film yang lain 🙂

Sumber gambar: Google

"PAPERMAN"

(sumber gambar: Google, Disney’s Paperman edited by @rosmensucks)

Setelah sekian lama berhibernasi, akhirnya saya dapat hidayah buat ngeblog lagi. Well, it’s not bad. Sebenarnya tulisan ini bukanlah sebuah tulisan istimewa. Mungkin bisa dibilang sebagai curhatan kali ya. Yang jelas sih masih seputar dunia pria, khususnya bagi pria-pria muda usia 20an kaya saya gitu deh. So, yang merasa pria dengan kategori tersebut, saya sarankan untuk baca tulisan saya ini.

Gimana sih rasanya jadi pria di usia 20an? We’re happy, free, confused, and lonely at the same time. It’s miserable and magical. Oh yeah!! –mengutip lirik lagu 22 yang dinyanyikan Taylor Swift, sungguh referensi yang agak feminim memang. Well everyman loves Taylor Swift, right? Hehe. Ketika seorang pria menginjak usia 20an, maka ia bisa dibilang telah cukup dewasa dalam soal angka. Usia 20an bisa disebut sebagai fase paling produktif seorang manusia. Pada fase ini, manusia dalam kondisi lagi bagus-bagusnya. Fisik masih oke, kesehatan masih belum bermasalah, semangat masih on fire tapi pikiran dituntut untuk berpikir lebih kompleks. Ibaratnya otak kita sedang dalam ujian kenaikan kelas. Lulus enggaknya itu tergantung kita. Mau berjalan dinamis atau tetep konstan? We’re not fucking teenager anymore, Dudes! We gotta make up our mind! Yup, kita bukan remaja usia belasan lagi. Kita sudah dalam perjalanan menjadi pria yang seutuhnya. Jadi pria sejati! Ciyeee gayanya sok maskulin hehe. Well, saya tidak hanya sedang membicarakan soal seksualias pria dewasa. Maksud pria sejati di sini adalah dalam arti luas. Jadi, bukan cuma soal durasi ereksi atau ketahanan ejakulasi. Everyman knows it!

Seperti yang sudah saya bilang di atas, fase 20an adalah fase paling kompleks bagi seorang pria. Isi otak pria di usia ini mulai kompleks sekompleks luasnya alam semesta. Hihihi lebay.. so are you curious? Sebenernya apa aja sih isi pikiran pria usia 20an itu? Okay, mari saya jabarkan satu per satu. Yang akan saya sebutkan di sini cuma garis besarnya saja ya. Saya pikir, isi kepala pria usia 20an akan berkutat pada 5 poin berikut: carrier, love, sex, spiritual, financial. Kok cuma 5 poin sih? Katanya kompleks! Hey, 5 poin ini mencakup hal yang lebih kompleks lho! Let me explain them…

  1. CARRIER

Sebagian besar pria sudah menuntaskan pendidikannya di usia 20an, entah itu sampai jenjang kuliah atau SMA. Otomatis sesudah itu kita butuh kerja. Emang mau disuplai terus sama orang tua? Kalau ortu kamu kaya sih ya ra popo. Tapi kalau ortu kamu bukan orang berada, emang gak kasihan minta dikelonin mulu sama mereka. Mandiri dong bro! Yang pasti usia 20an adalah gerbang pertama kita dalam memasuki dunia kerja. Dan hal pertama yang harus kamu lakukan adalah kamu harus tentuin dulu pekerjaan impian kamu. Mau jadi apakah kamu? Mau jadi bos, dokter, seniman, pengusaha atau jadi pembantu? Hehe. Oke mungkin terkadang pekerjaanmu  gak sesuai dengan yang kamu impikan. But it’s alright, terkadang pengalaman itu memang pahit. Anggap saja itu sebagai test drive yang akan menuntun kamu ke jenjang berikutnya. Mungkin kalau ada kesempatan, kamu bisa mewujudkan karir impianmu suatu hari nanti. Terlebih kalau kamu memang sudah punya bakat, skill atau basic pendidikan yang sesuai dengan karir impianmu. Yakinlah kalau sudah berusaha, Tuhan pun akan memberikan jalan.

Dunia kerja bagaikan dunia rimba. Ini bukan omong kosong lho! Ini berdasarkan pengalaman saya pribadi. Saat kamu memasuki dunia kerja, kamu tidak hanya berhubungan dengan pekerjaan kamu, tapi kamu juga otomatis berhubungan dengan orang-orang yang ada dalam pekerjaanmu itu. Ada atasan, rekan kerja, klien, konsumen dan sebagainya. Setiap profesi tentu berhubungan dengan masing-masing orang yang berbeda. Misalnya saya ini, yang notabenenya hanya karyawan swasta biasa. Saya tentunya akan selalu berhubungan dengan atasan atau rekan-rekan kerja saya. Dan tentunya atasan atau rekan-rekan kerja saya itu memiliki karakter yang berbeda-beda. Semua orang itu tentu gak akan selalu baik semua. Mungkin kamu akan ketemu sama atasan yang galak, rekan kerja yang mau enak sendiri atau rekan kerja yang suka cari muka. Sadarlah orang-orang seperti itu memang benar-benar ada. Kalau kamu tidak mempersiapkan diri sebelum memasuki dunia kerja, mungkin kamu akan langsung mental duluan. Kamu harus memiliki semacam antibody dalam menghadapi orang-orang seperti ini.  Jangan biarkan dunia kerja membutakan dirimu sehingga kamu menjadi orang yang sama sekali bukan dirimu. Well, niat kita bekerja bukanlah buat cari musuh, tapi buat cari uang. Kalau mau cari musuh mah tinggal gebukin tetangga sebelah aja. Oke, setiap orang mungkin punya ambisi. Tapi ambisi juga gak harus sampe segitunya juga kali! Masa cuma mau naik jabatan aja sampe gontok-gontokan sama rekan kerja, emang kamu gak yakin sama kualitas kerja kamu sendiri. Kalau kamu sudah berusaha bekerja sebaik yang kamu bisa, saya rasa kamu akan mendapat imbalan yang setimpal. Gak perlu cari muka di depan atasan atau berkompetisi secara gila-gilaan dengan rekan kerja. Dunia kerja memang seperti rimba, tapi ingat kamu ini manusia, bukan singa. Bekerjalah secara manusiawi dan tidak perlu saling memangsa. Pahami tujuanmu kenapa kamu harus kerja. Tentu kamu gak mau kehilangan pekerjaanmu hanya gara-gara pola pikirmu yang terlalu buas. Nyari kerja itu susah lho, gak sesusah nyari dosa hehe. Jadi, siapkanlah dirimu secara matang. Bekerja tidaklah selalu dengan otak atau tenaga, tapi juga dengan nurani, bukan dengan Nuraeni yah aha! Cuma kamu yang bisa menentukan karirmu. Ini demi masa depan kamu juga lho. Ingat, karir merupakan modal dasar utama seorang pria. Kalau kamu cuma berleha-leha, dijamin kamu gak akan bisa hidup lama.

“A carrier with a venereal disease can have many partners, but only those whose mental and physical immune systems are weak will be susceptible to it.” — Louise L. Hay

  1. LOVE

Well, everyone knows about this? Cinta. Yup. We need love. Ketika menginjak usia dua puluhan, tentunya kita harus lebih dewasa dalam membina suatu hubungan. Bagi yang single, tentu harus lebih selektif dalam mencari pasangan yang tepat. Kita sudah bukan anak remaja lagi. Gak ada lagi yang namanya cinta monyet. Seperti apa yang dikatakan Kakek Charles Darwin, monyet (atau kera) telah berevolusi jadi manusia hahaha. Begitu pun dengan cinta. Cinta merupakan sesuatu yang sangat ilmiah. Setiap otak kita perlu apa yang disebut sebagai hormon oksitosin, semacam hormon kebahagian yang akan disekresi ketika kita sedang jatuh cinta. Meski sama-sama melepas oksitosin, jatuh cinta dan orgasme jelas berbeda. Jatuh cinta dan hubungan percintaan tentu bukan hanya soal urusan fisikal. Dan saya akui, memiliki pasangan merupakan suatu cara untuk bahagia. Siapa sih yang gak ingin dicinta dan mencintai. Ini sangat alamiah sekali. Dan tujuan utama kita memiliki pasangan adalah untuk bahagia. Tapi tentu kita tahu, 100% bahagia dalam asmara itu sangat mustahil sekali.

 “We accept the love we think we deserve.” ― The Perks of Being a Wallflower

Ok, saat kita jatuh cinta, kita berpikir kita berhak mendapatkan cinta tersebut. Tapi seperti yang sudah saya katakan tadi, cinta merupakan suatu hal yang ilmiah, tapi cinta juga bukanlah suatu hal yang bisa dinilai secara eksakta. Hukum aksi reaksi seperti yang dikemukakan oleh Isaac Newton tidak berlaku dalam sebuah hubungan asmara. Gak semua rasa cinta kamu bakal dibalas dengan cinta juga. Isn’t it fair? Yup, we know it. Dan di umur yang sudah makin dewasa ini, kamu harus semakin faham akan segala konsekuensinya. Well, relationship is a beautiful bullshit. Menjalani sebuah hubungan adalah satu-satunya cara untuk memahami arti hubungan itu sendiri. Saya pikir proses pendewasaan hubungan percintaan itu bisa dilakukan hanya dengan menjalani proses hubungan percintaan itu sendiri. Jadi, jalani saja bro!

Dibutuhkan keseriusan lebih dalam membina suatu hubungan percintaan. Gak cuma asal nembak terus putus, broken heart and then galau. Sudah cukup untuk bereksperimen dengan hati wanita. Hati wanita itu bukan ati empela! Dan sepertinya kita pun dituntut untuk lebih mengerti akan mereka.

Wanita, ya wanita. Bagaimana pun memang sangat sulit untuk memahami makhuk penghasil estrogen itu. All the girls  always have a mystery, and sometimes the boys don’t understand about them. Wanita itu memang istimewa, tapi terkadang kita tak tahu banyak tentang dunia mereka.

Beberapa diantara kita banyak yang membina hubungan lebih baik saat menginjak usia 20an daripada saat remaja. Beberapa di antaranya bahkan sudah berani membuat keputusan untuk menikah, membina rumah tangga dan menjadi ayah. Oke, saya gak akan bicara soal pernikahan sekarang. Pernikahan merupakan sesuatu yang rumit dan saya belum seratus persen faham tentang hal itu. Saya rasa, wanita pada usia ini juga akan berpikir kompleks sama seperti kita. Mereka mengharapkan suatu hubungan yang lebih dari sekedar cinta-cintaan atau sayang-sayangan. Mereka butuh komitmen yang jelas. Dan pertanyaannya adalah, apa kita mampu memenuhi komitmen itu? Hmm.. is it hard? Maybe yes, maybe not. Or maybe we don’t know about that shit. Kebanyakan pria lebih memilih bersikap santai mengenai hal ini. Mereka lebih memilih menjalani suatu hubungan tanpa beban. Well, sebenarnya ini bagus. Tapi suatu hubungan memerlukan tujuan. That’s right.

Berpasangan adalah suatu hal yang naluriah. Setiap manusia dikodratkan untuk jauh dari kata sempurana. Setiap manusia diciptakan untuk saling melengkapi, dan inilah fungsi utama pasangan. Ada suatu kaidah yang berbeda antara istilah pacar dan pasangan, girlfriend or partner. Saya pribadi lebih nyaman dengan istilah pasangan. Menurut saya istilah itu terkesan lebih dewasa. Ini cuma pendapat saya pribadi lho. So, buat para pria single seperti saya, mari kita mencari pasangan yang tepat untuk kita.  We need a partner to share our heart and our life. Someone who can understand who the hell we are, someone special. Can we find her?

“In my opinion the best thing you can you do is find a person who loves you for exactly what you are. Good mood, bad mood, ugly, pretty, handsome, what have you, the right person will still think the sun shines out of your ass. That’s the kind of person that’s worth sticking with.” — Juno

Sebuah kutipan kocak dari salah satu film favorit saya, Juno. Tapi kutipan itu bener banget. Someone who you love must know anything you hate. Seseorang yang akan selalu mencintaimu bahkan saat saat kamu sedang bad mood atau saat kamu sedang kena bisul di pantat. So sudahkah kamu bertemu dengan pasangan hatimu? Let us find love!

  1. SEX

Yup sex! Oh come on, tidak perlu munafik! Kita tahu seks akan selalu ada dalam kepala pria muda seperti kita-kita ini. Menginjak umur 20an merupakan suatu tolak ukur kalau kita telah matang secara seksual. And we need sex! Yeah everybody knows, but it’s just in our mind. Sex bukanlah hal yang tabu selama kita membicarakannya dalam koridor ilmiah. Sex is a scientific thing. And we need to educate ourself about it.

Seks bagai semacam doping di otak kita. Tidaklah heran kalau banyak pria di usia ini yang ngebet pengen nikah muda. Kalau sudah siap, ya gak apa-apa sih. Tapi gimana dengan pria single atau pria yang sudah berpasangan tapi belum hendak menikah. Well, saya tidak menganjurkan free sex untuk kamu-kamu semua. Sebagai bangsa yang berbudaya timur, saya rasa free sex bukanlah solusi yang tepat untuk kita. So what about masturbating, fetish, jerking off or wanking? Hahaha those are so funny! Saya tidak menganjurkan ataupun menolak. Itu terserah kamu. Yang pasti seks harus dilakukan secara bertanggung jawab.  Bagaimanapun seks itu merupakan salah satu anugerah terindah yang diberikan Tuhan untuk manusia. Ya, manusia. Dan manusia beda dengan hewan. Camkan itu!

So, terus kita harus bagaimana? Sebenarnya ini merupakan sesuatu yang sangat mendasar. Kita harus melakukan apa yang disebut sebagai manajemen hormonal. Oh come on, our life is not only about sex right? Selain kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual, kamu juga harus memiliki kecerdasan seksual. Kamu harus mengenal dan bertanggung jawab terhadap tubuh kamu sendiri. Kamu harus bisa menaklukan naluri birahi kamu sendiri. Salah satu alasan kenapa banyaknya fenomena kehamilan di luar nikah di usia muda adalah karena mereka menganggap seks hanya sebagai insting dan spontanitas. Mereka tidak berpikir kalau seks adalah sesuatu yang sangat ilmiah. Ingat gak sama pelajaran Matematika tentang peluang dan kemungkinan? Dari sekian juta sel sperma yang meluncur menuju ovarium, kemungkinan besar beberapa diantaranya berhasil berpapasan dengan ovum. Besar kemungkinan kehamilan dalam setiap hubungan seks itu sangat tinggi sekali. Apalagi di masa-masa usia produktif seperti kita-kita ini. Fahami resikonya dong bro, jangan cuma asal enak aja. Remember! We’re not fucking animal! Kita ini bukan hewan yang bisa melakukan have sex sesukanya saat musim kawin tiba. Educate your self and educate your penis! LOL! Jangan cuma asal tembak saja. Setiap akibat pasti ada pula sebabnya. Kalau kamu gak mau acara kencan kamu menjurus ke arah hubungan seksual, ya jangan ngelakuin hal-hal yang bisa menjuruskanmu ke arah sana. Pacaran sewajarnya saja. Cukup pegangan tangan, jangan pegangan pangkal paha. Boleh ciuman sesekali, asal jangan ciuman sambil menggerayami. Boleh duduk berdekatan, asal jangan kebablasan. Berkencanlah secara bijak. Jangan biarkan otakmu dibajak. Dan bila kamu masih terus berpikir tentang seks? Just take some activities! Lakukanlah kegiatan posistif daripada sekedar berimajinasi soal Miyabi, Sasha Grey atau Asa Akira. Lho mereka itu siapa ya? Hehe. Lakukan kegiatan berguna seperti manjat pohon kelapa atau mengembala domba misalnya. Enggak deng bercanda hehe. Pada dasarnya sisi erotis dalam diri kita itu tergantung kitanya juga. Oke, kamu mungkin boleh bergaul dengan pornografi sesekali. Well it’s not really bad. Tapi jangan keseringan! Bergaul dengan pornografi itu sungguh sangat tidak keren bro! Inget efek sampingnya! Seorang pria sejati bukan hanya sekedar makhluk penghasil sperma. Seorang pria sejati adalah seorang pria yang nyaman dengan seksualitasnya dan tahu cara menggunakan serta mengontrolnya. Sadarlah, hormon testosteron akan selalu ada dalam tubuh kita sampai kita mati. Dan libido akan selalu datang bagai tukang bakso yang selalu berdagang keliling kampung setiap hari. Berdamailah dengan seksualitas yang ada dalam diri kamu. Jangan anggap hal itu sebagai sebuah beban utama. You don’t have to get an orgasm to lift your life up. Just take it easy! Sex isn’t terrible, so just thinking simple.

“Sex is a part of nature. I go along with nature.” — Marilyn Monroe

  1. SPIRITUALITAS

Sebenarnya poin ini harusnya ada di posisi utama. Tapi saya sadar materi adalah hal yang paling banyak memenuhi otak pria. Bahkan terkadang menyisihkan apa yang disebut sebagai sisi spiritual yang seharusnya mendapat porsi lebih di otak kita. Spiritualitas yang saya bicarakan di sini bukanlah hanya soal agama. Saya tidak menyuruh kamu buat jadi orang religius. Toh saya juga bukan orang religius kok. Saya bicara spiritualitas dalam arti universal. Spiritualitas adalah sebuah tatanan pikiran, sebuah pedoman hidup yang akan menuntunmu ke arah yang lebih baik. Semacam lampu pijar yang ada di kepala kamu yang akan menuntun jalan hidupmu. Oleh karena itu kita perlu spiritualitas sebagai pegangan hidup kita. Seseorang yang dewasa adalah seseorang yang tahu akan sisi spiritual dalam dirinya. Dia tahu apa arti eksistensi dirinya saat hidup di dunia. Dia sadar akan tujuan hidupnya, apa yang harus ia lakukan, bagaimana cara berinteraksi dengan sesama, membedakan mana yang baik dan yang buruk dan definisi kaidah-kaidah hidup lainnya. Jadi, inilah yang harus kita cari! Spiritualitas! Inilah saatnya kamu menggunakan kecerdasan spiritualmu. Untuk kamu yang religius mungkin bisa mencarinya dalam agama yang kamu anut, untuk yang merasa tidak religius, kamu bisa mencarinya secara bebas dalam kaidah kehidupanmu sehari-hari. Sepertinya terdengar abstrak, tapi memang itulah spiritualitas. Spiritualitas bukan hanya sekedar hubungan kita dengan Sang Pencipta. Spiritualitas bukanlah sesuatu yang mistis. Spritualitas bukan hanya membicarakan keimanan atau kehidupan di akhirat kelak. Spiritualitas bukan hanya soal ritual peribadatan.

Seperti yang saya bilang, saya bukanlah sosok yang terlalu religius. Jadi orang religius emang oke, tapi gak semua orang religius bisa bersikap kece. Mentang-mentang religius lalu kamu bisa menjudge orang sesukamu. Mencampuri urusan orang yang tentu saja bukan urusanmu. Berlagak kalau kepercayaan yang kamu anutlah yang paling benar dan semua orang yang “berbeda” menurut kriteriamu lalu dijudge salah. Hmm… sebenarnya kamu ini manusia bukan sih? Gak nyadar kalau setiap manusia itu berbeda? Mentang-mentang kamu merasa benar lalu kamu bisa dengan mudahnya menyalahkan orang lain. Hey, hidup ini bukan cuma untuk kamu doang! Semua orang di sekitarmu juga hidup dan mereka memiliki isi pikiran yang berbeda-beda. Jangan diseragamkan! Oke, setiap orang tua mungkin menginginkan anaknya supaya jadi orang sholeh. Orang sholeh diibaratkan sebagai orang sempurna yang punya kecerdasan spiritual tinggi. Terus kalau gak sholeh bagaimana? Apa jadi orang yang “tidak sholeh” itu salah? (mohon maaf bila ada pembaca yang bernama Sholeh, saya sama sekali tidak berniat menyinggung anda hehe). Hey, hidup ini gak selalu harus mainstream kali! Ada banyak sekali orang baik di dunia ini dan mereka tidak memenuhi kriteria sebagai orang sholeh. Tapi anehnya mereka mampu bersikap sama bijaksana atau bahkan lebih bijaksana dari orang sholeh. Alright, mungkin orang yang sholeh atau religius akan selalu dianggap memiliki kehidupan spiritual yang mapan, tapi jangan anggap kalau orang-orang yang tidak memenuhi kriteria sholeh tidak memiliki kehidupan spiritual yang sama mapan. Everyone can take the lead of their soul.

“Enlightened leadership is spiritual if we understand spirituality not as some kind of religious dogma or ideology but as the domain of awareness where we experience values like truth, goodness, beauty, love and compassion, and also intuition, creativity, insight and focused attention.” — Deepak Chopra

Seseorang yang punya kehidupan spiritual yang mapan tentu akan memiliki pola pikir yang lebih dewasa. Ia tentu akan bisa menghadapi setiap masalah hidupnya dengan lebih bijaksana. Setiap masalah gak bisa diselesaikan hanya dengan adu bacot atau adu otot. Mentang-mentang mau dibilang perkasa, terus kamu bisa adu otot sesukanya. Emang kamu ini Mike Tyson? Ayolah, kamu punya otak kan? Kamu bisa berpikir dengan kepala dingin. Sikap emosinal atau temperamental bukanlah hal yang patut kamu pamerkan. Ingatlah kalau setiap orang akan selalu menilai sikapmu. Tapi bukan berarti pula kamu harus jaga image melulu. Kamu hanya perlu mengontrol diri. Hidup gak akan selalu lurus. Kita tahu itu. Ada kalanya kita hepi, ada kalanya kita marah, sedih atau bahkan galau. Kalau kamu bisa mengontrol diri dan sudah faham dengan sisi spiritual kamu, saya rasa kamu akan tahu cara yang tentunya lebih baik dalam menghadapi naik-turunnya hidup kamu. Well, life is a timeless learning. Ketika kita menyadari arti diri secara batiniah, maka kita sudah menaikan kualitas dunia spiritual kita. Merenungi diri secara kritis dan memahaminya sebagai suatu kesatuan individual yang kompleks akan membuatmu lebih tenang dalam menentukan haluan hidupmu. Berusahalah untuk selalu bersikap bijak. Benar-benar bijak bukan hanya sok bijak atau berlagak bijak lewat meng-copy paste kutipan bijak di social media.

“Happiness cannot be traveled to, owned, earned, worn or consumed. Happiness is the spiritual experience of living every minute with love, grace, and gratitude.” — Denis Waitley

  1. FINANCIAL

Ngomongin financial, pastinya ngomongin duit. Tiap manusia butuh duit, termasuk pria-pria muda kayak kita ini. Saat kita sudah memasuki dunia kerja, tentu kita sudah punya penghasilan sendiri. Yup kita sudah bisa menghasilkan uang a.k.a, duit. Makin nambah usia, makin nambah pula kebutuhan hidup. Sebagai pria lajang yang masih belum nikah, tentu kamu belum punya tanggungan sebesar pria-pria yang sudah menikah. Tapi anehnya, entah kenapa justru pria-pria lajang yang cenderung lebih boros. Oke mungkin untuk pria yang sudah menikah, mereka punya isteri yang sekaligus bisa jadi manajer keuangan pribadi. Tapi tetap saja bro, kebutuhan mereka itu lebih gede. Beli kebutuhan sembako, bayar tagihan listrik, beli susu dan lain-lain. Sedangkan kita, apa coba? Mungkin ada sebagian pria lajang yang juga menjadi tulang punggung keluarganya. Mungkin kita bisa kesampingkan hal itu. Tapi banyak pula pria lajang yang hidup mandiri tanpa tanggungan, tapi boros dalam soal keuangan. Apakah kamu termasuk salah satunya? Hmm.. tidak tahu kenapa, hal macam ini memang selalu ada. Pria-pria usia 20an cenderung belum bisa mengatur keuangannya secara bijaksana. Saya akui itu. Ok, di usia 20an seperti kita ini adalah masa yang tepat untuk memuaskan diri. Ingin beli itulah, beli inilah. Ingin main ke sana ke mari. Pokonya puas-puasin diri sepuasnya. Saya akui hal ini sebagai gejolak kawula muda. Tapi kita gak akan selamanya muda lho! Emangnya kita ini vampir? (langsung berlaga sok cool ala Edward Culen hehe).

Jangan Cuma bisa ngabisin uang sesukamu. Ingat masa depanmu bro! Emangnya kamu ingin nelangsa di hari nanti. Kamu harus bisa mengatur keuanganmu pribadi. Tapi bukan berarti pelit lho. Cowok pelit kelaut aja masbro! Ingatlah, kamu telah bekerja keras untuk mendapatkan uangmu itu. Terus apa kamu gak sayang ngabisin uangmu sampe kerak-keraknya. Kamu gak perlu berkonsultasi sama ahli keuangan profesional. Menurut saya, setiap manusia sudah berevolusi sejak zaman purba menjadi ahli keuangan secara naluriah. Tak ada satupun manusia modern di dunia ini yang tidak pernah bersentuhan dengan uang. Maka kita dituntut harus bisa mengaturnya. Dan kita bisa mengaturnya sendiri tanpa perlu bantuan orang lain.

Dari sekian banyak kebutuhan kita, pasti ada beberapa kebutuhan yang menjadi prioritas. Kalau bisa, ya emang seharusnya bisa sih. Kalau bisa sisihkan penghasilanmu untuk ditabung. Atau kalau kamu emang bener-bener serius sama finansial masa depanmu, kamu bisa mulai belajar berinvestasi secara kecil-kecilan. Yang pasti kamu harus menyisihkan sebagian penghasilanmu. Kamu punya impian masa depan kan? Ada yang pengen nikah, beli rumah, ngelanjutin kuliah atau mungkin pengen buka usaha. Kamu juga gak selamanya dalam keadaan sehat. Adakalanya kamu sakit atau kena musibah, seperti kecelakaan misalnya. Well, semua itu bisa terjadi secara tak terduga dan semua itu membutuhkan biaya. Minta sama orang tua aja! Emang gak malu? Kamu itu sudah gede masbro. Gak malu sama buah jakun segede bola pingpong di lehermu? Masa apa-apa langsung ngibarin bendera putih sama ortu. Kamu juga gak mau kan pinjam sana-sini demi menutupi biaya-biaya tak terduga ini. Bisa-bisa kamu bangkrut. Inilah gunanya kalau kamu bisa menyisihkan penghasilan. Meskipun mungkin gak sebesar seperti yang diharapkan, tapi minimal bisa menutupi sebagian dari biaya kondisi-kondisi ungent seperti di atas.

Jangan mau diperbudak uang. Kamu yang menghasilkan uang, maka kamu sendiri yang mempunyai otoritas penuh atas uangmu (silakan cek postingan lama blog saya yang menjelaskan hal ini). Kita ini masih muda bro. Hidup kita masih panjang –anggap aja memang begitu. Jangan sia-siakan begitu saja rupiah yang kamu hasilkan dari jeri payahmu. Kamu harus bisa menaklukan isi dompetmu. Otakmu adalah sebuah kalkulator alamiah. Gunakanlah otakmu untuk mengatur kehidupan finansialmu.

“Greed is not a financial issue. It’s a heart issue.” — Andy Stanley

 

Okay, that’s all! Itulah 5 poin penting yang selalu ada dalam kehidupan pria-pria umur 20an seperti kita. Carrier, love, sex, spiritual and financial. Kompleks dan penuh lika-liku memang, tapi ya emang beginilah adanya. There’s a lot of thing inside of our head. Ada banyak hal yang harus kita jalani dan pelajari. Ada jutaan ekspektasi, ribuan mimpi dan miliaran masalah yang akan datang silih berganti. Ada suka, duka, canda, tawa tapi saya harap kamu tidak cengeng karena kamu ini seorang pria. Jadi sekarang tergantung kamu masbro! Bisakah kamu memenuhi poin-poin di atas itu? Well, gak usah terlalu terburu-buru juga sih. Enjoy aja, jangan merasa terbebani. Enjoy tapi terarah ya! Nikmati masa mudamu dengan bijaksana. Hidup Cuma sekali, muda juga sekali. Kamu gak akan ketemu sama masa mudamu lagi. Marilah mulai belajar menjadi pria dewasa, bukannya malah jadi pria yang hobi nonton film dewasa. Berumur dua puluhan bukanlah soal nilai angka. Twenties is not about 20s. We’re always growing up. And all grown up absolutely! So grow your brain and your heart too, young gentlemen! You are 20 young gun!! You’re not 20 young dumb! 🙂